SFBDBS_05

<<kembali ke SFBdBS-04 | lanjut ke SFBdBS-06 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 30 Agustus 2011 at 00:01  Comments (388)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs_05/trackback/

RSS feed for comments on this post.

388 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugeng enjing kadang Padepokan sedoyo
    Pulang saking Jakarta sampun ndalu, langsung bablas turu…….

    Ba’da subuh ini setelah zikiran…..menunggu si Ilham bangun hehehe (tertawa pendek enggak bergema)

  2. Raden Darmamula telah meningkatkan ilmunya menggulung Mahesa Amping dengan serangan keris besarnya. Dan Mahesa Amping terpaksa harus mengimbanginya. Dan pertempuranpun menjadi kian seru dan menegangkan.

    Raden Darmamula sudah mencapai ilmu puncaknya, serangannya terlihat begitu cepat dan mengerikan. Keris ditangannya seperti bara yang menyala. Hawa panaspun terasa telah menyelimuti setiap sisi pertempuran. Untungnya Mahesa Amping telah dilindungi oleh daya kepekaan kekuatan yang ada didalam kekuatan bawah sadarnya, langsung bekerja dengan sendirinya memberikan daya tolak atas apa yang akan datang membahayakan dirinya. Hawa dingin meneyentak keluar dari tubuh Mahesa Amping meredam hawa panas yang dikeluarkan lewat ilmu puncak Raden Darmamula.

    Dua kekuatan dan kecepatan saling menggulung dan saling balas menyerang. Mata wadag sudah sangat sukar sekali mengikuti pertempuran mereka. Yang terlihat seperti dua bayangan hitam saling melesat begitu cepat, sukar sekali untuk menentukan siapa Mahesa Amping dan yang mana Raden Darmamula.Sekali-kali terdengar suara dua senjata beradu.

    Baru kali ini Raden Darmamula harus menguras seluruh kekuatan ilmunya, diam-diam secara pribadi mengagumi pemuda yang menjadi lawannya ini.

    “Ragasuci tidak salah pilih”, berkata Darmamula dalam hatinya sambil terus berusaha melakukan penekanan.

    “Aji Braja Geni !!”, berucap Mahesa Amping sambil melenting menghindari sebuah kilatan api berasal dari telapak tangan kiri Raden Darmamula.

    “Pengetahuannmu ternyata sangat luas anak muda”, berkata Raden Darmamula sambil tertawa kembali mengeluarkan ilmu simpanannya aji braja geni menyambar tubuh Mahesa Amping yang tengah melenting.

    Kembali Mahesa Amping harus berhindar dari serangan kilatan api. Sasaranpun kembali luput nyaris menghantam sebuah pohon besar yang langsung terbakar. Beberapa penonton yang hadir menyaksikan pertempuran itupun berlarian menjauh, takut terkena salah sasaran ilmu Braja Geni Raden Darmamula yang begitu menggrigiskan itu.

    Mahesa Amping dalam posisi tertekan dan terancam, sambaran kilat sepertinya terus mengejarnya. Namun tidak terlihat sedikit kecemasan dalam raut wajahnya. Mahesa Amping penuh ketenangan menghadapi setiap serangan. Hingga akhirnya Mahesa Amping terpaksa mengeluarkan ilmu andalannya. Mengungkap kekuatan yang bersembunyi dari sorot matanya.

    Sambil melenting menghindari kilatan cahaya yang menyambar kearah dirinya, tiba-tiba saja keluar kilatan cahaya dari sorot mata Mahesa Amping dalam kendali dan pengekangan naluri yang tajam sebagai ungkapan jiwa yang telah diliputi kesifatan Maha Kasih dan Maha halus penuh kelembutan. Cahaya kilat dari sorot mata Mahesa Amping telah menyambar dengan cepat mengarah kesatu tempurung kaki Raden Darmamula.

    • Dimana….dimana ….kucari….(terdengar sang sinden bersenandung sambil mengedipkan matanya tersenyum menatap Den Kompor)
      hehehe 3 x bergema 1000x

      • sekedar menatap BOLEHlah….tapi hati ni sinden tetep BUAT
        kang GEMBLEH yeee….

    • menggrigiskan ( mungkin maksud Ki kompor = nggegirisi bahasa jawa).

  3. KAMSIA YEEE……MATUR NUWUN YEEE…..TRIMS YEEE

  4. Sinar yang melesat dari sorot mata Mahesa Amping memang begitu cepat seperti sekedipan mata, langsung menyambar tempurung kaki kiri Raden Darmamula yang tidak dapat segera mengelak. Terlihat Raden Darmamula jatuh tidak kuat menahan rasa sakit pada tempurung kakinya yang terlihat hangus terbakar. Kaki sebelah kirinya terasa lumpuh.

    Pertempuranpun sepertinya terhenti, semua mata tertuju kepada Raden Darmamula yang tengah duduk tidak mampu berdiri.

    Terlihat Mahesa Amping perlahan mendekati Raden Darmamula.

    “Maaf, aku terpaksa melakukannya”, berkata Mahesa Amping yang melihat Raden Darmamula tengah merintih menahan rasa sakit yang terbakar di tempurung kakinya.

    “Kenapa kamu tidak langsung menyerang jantungku”, berkata Darmamula yang telah mengakui kedahsyatan kekuatan sorot mata Mahesa Amping.

    “Aku bukan seorang pembunuh”, berkata Mahesa Amping memandang Raden Darmamula dengan sorot mata penuh kasih, seakan didepannya bukan lagi seorang lawan. Dan sorot mata itu seperti air dingin menyentuh masuk lewat tatapan mata Raden Darmamula.

    “Jiwamu begitu bersih, jiwamu penuh kasih”, berkata Raden Darmamula yang merasakan seperti ditelanjangi oleh tatapan mata Mahesa Amping yang tenang penuh kasih. Raden Darmamula tidak tahan menatap mata itu, terlihat menunduk seperti tengah melihat kekotoran dirinya yang penuh kecongkakan dan keangkuhan merasa dapat melakukan dan berbuat apapun atas ketinggian ilmu yang telah diraih dalam kebanggaan yang tersesat.

    “Masih ada hari lain untuk berbuat yang lain”, berbisik Mahesa Amping sambil berjongkok memeberikat sebuah obat penawar. “Telanlah obat ini, mudah-mudahan akan mengurangi rasa sakit Paman”, berkata Mahesa Amping.

    Raden Darmamula kembali menatap wajah Mahesa Amping, kembali rasa malu bergejolak didalam hatinya. Entah mengapa sorot mata itu dilihatnya penuh kejujuran, dan ia tidak menolak pemberian obat dari Mahesa Amping.

    Raden Darmamula telah menelan butiran obat yang diberikan oleh Mahesa Amping. Benar apa yang dikatakan Mahesa Amping, rasa sakit dikakinya terasa memudar. Namun Raden Darmamula tidak dapat lagi mengerakkan kaki kirinya yang ternyata sudah lumpuh itu.

    “Terima kasih anak muda, kamu telah menyisakan sebuah kaki untukku, dan juga sisa umurku yang mungkin akan dapat kuisi dengan sikap dan suasana baru”, berkata Raden Darmamula dengan senyum penuh tulus.

    “Sekarang terserah Baginda Raja, aku pasrah atas apapun hukuman yang diberikan kepadaku”, kembali Raden Darmamula berkata sepertinya telah pasrah atas apa yang akan diterima.

    • Dimana…dimana …dimana….
      Tinggalnya …sekarang..dimana….

      Tarik terus Kangmas………………….

      • Dimana…dimana …dimana….
        Tadi pagi …aku..dimana….

        he he he ….
        kok baru tahu kalau dalange mbeber wayang di pagi hari
        telat deh…..

        • Kemana….kemana….kemana….ku harus mencari kemana,

          tarik terus pak DALANG…..

    • Nopo Ki Dalang dereng kepanggih kalih Raden Tumenggung Ilham kok masih dicari terus?

  5. “Aku tidak akan memberikan hukuman apapun atas diri Pamanda, Aku memaafkan Pamanda. Bukankah Pamanda satu-satunya adik ibuku yang masih ada ?”, berkata Ragasuci sepertinya tidak merasa sebagai seorang raja, tapi sebagai seorang anak kemenakan.

    Raden Darmamula menatap haru Ragasuci, terbayang Ragasuci kecil yang dulu sering berada diatas punggungnya bermain kuda-kudaan. Raden Darmamula seperti menemukan dirinya kembali. Tangis haru kebahagiaan terlihat manakala paman dan kemenakan itu saling berpelukan. Sepertinya mereka sudah lama tidak berjumpa dan baru hari itu mereka menemukan diri masing-masing. Rasa permusuhan telah lama memisahkan mereka, menjauhkan mereka. Dan sekarang, rasa kasih kembali mempertemukan mereka, menghilangkan jarak diantara mereka, sebagai saudara sedarah, sebagai paman dan kemenakannya.

    “Dimana Patih Manohara”, berkata Ragasuci sambil menyapu pandangannya berkeliling, namun Patih Manohara yang dicari tidak juga ditemukan.
    Ternyata Patih Manohara diam-diam telah melarikan diri. Mungkin ia tahu akan mendapatkan hukuman berat karena telah berhianat atas rencananya untuk melenyapkan Ragasuci.

    Angin semilir bertiup disekitar halaman rumah singgah itu. Sementara senja masih jauh untuk ditunggui. Terlihat rombongan Ragasuci tengah bersiap untuk meninggalkan tepi hutan Kranggan itu dikawal para pasukan berkuda.

    Selang tidak terlalu lama, Bango Samparan dan para anak buahnya ikut meninggalkan tepi hutan Kranggan itu. Dan Rumah singgah itu terlihat menjadi sunyi sebagaimana hari-hari sebelumnya.

    Dan senjapun akhirnya telah berlalu. Hari telah memasuki pertengahan malam manakala Ragasuci dan rombongannya telah sampai di pintu gerbang istana.

    “Terima kasih,Kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan baik”, berkata Ragasuci memberikan ucapan selamat dan terima kasih kepada Ki Lurah Gembleh yang menyambutnya di muka pintu gerbang istana.

    “Tugas yang kami lakukan sangat ringan dibandingkan kecemasan yang kami rasakan”, berkata Ki Lurah Gembleh menyampaikan kekecewaannya tidak disertakan ikut berperan di hutan Kranggan.

    “Istana tanpa raja bukan suatu kekhawatiran dibandingkan istana tanpa penjaga”, berkata Ragasuci memberi penjelasan mengapa para pengawal istana dilarang meninggalkan istana. Dan sepertinya Ki Lurah Gembleh dapat menerimanya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

    Dan malampun semakin dalam menyelimuti istana Saunggaluh. Suara angin bercanda dengan daun dan dahan kadang mengisi kesunyian malam. Beberapa pengawal istana kadang terlihat berkeliling melakukan ronda malam dri lorong kelorong memastikan tidak ada hal gangguan apapun, dan istana dalam keadaan aman terkendali.

    Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya yang ditempatkan di pesanggrahan khusus untuk para tamu agung nampaknya sudah terlelap dalam mimpi.

    • masih sore…..cari angin dulu ach…..

      Kemana..kemana..kemana….

      • Masih sore….. masih ada harapan dapat tambahan………

        • sudah malem…..tetep ada harapan dapat tambahan………

          tarik …..Ni Sinden………!!!!!!

  6. matur nuwun

    • nunut Ki Bancak…..kamsiaaaaaa……!!!!!!!

      • ngandol ki Gembleh…..kamsiaaaaaa……!!!!!!!

  7. Si Ilham belum bangun ya
    ya sudah….., bobo lagi

    • Si Ilham siap mechunggul lagi sabtu malam,
      siap-siap glontoran rontal keng pak DALANGe

      kamsia….langsung sarapan sik,

  8. sugeng siang, pak dalang sawek madosi waranggono sing anyar

    • betol ki, yang kemaren disingidKE ki Gembleh…!!??

      • yang tak singidke itu yang kemarin dulu,
        lha yang kemarin kan langsung buat “bancak’an”…????

        he…he…he…
        sugeng dalu.

  9. Pagi itu, suasana pasar di Kotaraja Kawali sudah begitu ramai. Dara Jingga dan Dara Petak sebagaimana umumnya para wanita sangat senang sekali berkeliling sekitar pasar Kotaraja, terutama melihat berbagai corak kain dan perhiasan.

    “kalian belum membeli apapun ?”, berkata Dara Jingga kepada Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    “Aku belum mendapatkan apa yang kubutuhkan”, berkata Lawe

    “Apa yang kamu butuhkan ?”, bertanya Dara Jingga

    “Itulah yang belum aku pikirkan”, berkata Lawe sekenanya membuat Mahesa Amping dan Raden Wijaya tersenyum, diam-diam mereka mengakui sebagaimana Lawe, tidak ada yang dibutuhkan.

    Matahari terus merayap naik,suasana pasarpun menjadi semakin ramai.

    “Minuman dawet itu sepertinya enak sekali”, berkata Dara Petak ketika mereka melewati pedagang minuman Dawet.

    “Kami pesan minumannya, Paman”, berkata Lawe kepada pedagang Dawet itu yang terlihat sudah sangat tua.
    Dengan cepat orang tua itu telah menyiapkan lima buah minuman untuk mereka.

    Namun ketika mereka menikmati minuman dawet itu, datanglah seorang yang berwajah bringasan menghampiri pedagang dawet itu.

    “Hari ini aku tidak mau lagi makan janji”, berkata orang itu kepada pedagang dawet.

    “Sepekan ini hujan tidak pernah surut, daganganku tidak banyak laku”, berkata pedagang itu.

    “Pekan lalu encokmu sering kumat, sekarang kamu salahkan hujan”, berkata orang itu dengan suara keras.

    “Seperti itulah kenyataannya, aku tidak berbohong”, berkata pedagang itu dengan wajah begitu memelas.

    “Bohong, jangan sembunyi dibelakang wajah memelasmu”, berkata orang itu sambil mencengkeram leher pedagang tua itu.

    “Maaf kisanak, berapa hutang Paman ini ?”, berkata Raden Wijaya tidak tega melihat perlakuan kasar dari orang yang baru datang itu.
    Orang itupun melepaskan cengkeramannya, memandang raden Wijaya dari atas sampai kebawah.

    “Ternyata ada tuan muda yang berbaik hati untuk menjadi pahlawan penolong”, berkata orang itu kepada Raden Wijaya.

    • KAMSIA…..he-hee

      • Ha…..!?!?%#@%$# (kaget)
        “seorang yang berwajah bringasan” itu ternyata Ki Gundul
        hadu……..
        dikasih berapa Ki sama Raden Wijaya?
        he he he …, mblayu…..

    • eh…, lupa…
      kamsiiaaaa,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

      • sepertinya masih ada yang gonda-gandul, tetapi disenggrek kok gak bisa
        blom mateng rupanya

  10. “Aku hanya bertanya, berapa hutang paman ini”, berkata kembali raden Wijaya.

    “Sebulan yang lalu hutangnya tiga karung jagung, apakah kamu ingin membantu melunasinya ?”, bertanya orang itu kepada Raden Wijaya.

    “Sekeping emas ini berharga lebih dari tiga karung jagung, berikan sisa karung jagung untuk paman ini”, berkata Raden Wijaya sambil memberikan sekeping emas kepada orang itu.

    Orang itu langsung menerimanya dengan tertawa menyeringai.

    “Hutangmu sudah lunas, kelebihannya akan aku antar beberapa karung jagung kepadamu”, berkata orang itu yang kemudian hendak pergi meninggalkan pedagang tua itu.

    “Aku tidak perlu kelebihan apapun, aku akan membawa putriku kembali kerumahku”, berkata pedagang tua itu.

    “Akan kusampaikan pada Tuanku”, berkata orang itu sambil berbalik badan berjalan pergi menninggalkan pedagang tua itu.

    “Terima kasih anak muda, sekarang aku yang berhutang kepadamu”, berkata pedagang tua itu.

    “Paman tidak usah merasa berhutang kepadaku, anggap saja ini hadiah dariku”, berkata Raden Wijaya.

    “Bolehkah aku mengetahui siapa nama tuan muda ?”, bertanya pedagang tua itu.

    “Namaku Sanggrama”, berkata Raden Wijaya sambil sedikit tersenyum.

    “Sanggrama putra Dyah lembu Tal, cucu Paduka Gurusuci Darmasiksa”, kembali pedagang tua itu bertanya.

    “Paman benar, ayahku Lembu Tal, kakekku Gurusuci Darmasiksa”, berkata Raden Wijaya penasaran dari mana pedagang tua itu mengetahui dirinya.

    “Gusti Yang Maha Agung, ternyata tuan muda putra tuanku Dyah Lembu Tal”, berkata Pedagang tua itu sepertinya penuh kegembiraan.

    “Paman sepertinya telah mengenal ayahku”, berkata Raden Wijaya penuh ingin tahu.

    “Dulu aku pernah bertugas di istana, sebagai pekatik ayahmu”, berkata pedagang tua itu sepertinya setengah melamun mengenang masa mudanya.
    “Siapa nama Paman, biar kelak bertemu ayahku akan kuceritakan pertemuan kita ini”, berkata Raden Wijaya.

    “Namaku Sungut, ayahmu pasti mengenalnya”, berkata pedagang tua itu yang menyebut namanya sebagai Sungut.

    “Kenapa paman tidak bekerja lagi sebagai pekatik ?”bertanya Lawe tertarik mendengar pembicaraan Raden Wijaya dan Sungut pedagang tua itu.

    Sungut memandang Lawe, dan tersenyum. “Ketika tuanku Dyah Lembu tal meninggalkan istana, beliau banyak memberikan bekal kepadaku, pesannya agar aku bisa merubah nasib menjadi seorang saudagar”, berkata Sungut sedikit bercerita.”Tapi dasar aku pemalas, bekal dari ayahmu kuhabiskan dengan hidup berpoya-poya sampai habis tak tersisa”, berkata Sungut sambil sedikit tersenyum getir.

    “Dan siapa orang tadi yang menagih hutang kepada Paman”, bertanya Raden Wijaya merasa bertambah kasihan kepada Sungut.

    “Itulah buruknya nasibku, sebulan yang lalu aku jatuh sakit. Dengan terpaksa aku berhutang sekarung jagung untuk membeli obat sekaligus sebagai bahan makanan, berharap dapat melunasi setelah aku sehat”, bercerita kembali sungut. Pekan lalu hutangku dilipatkan menjadi tiga karung dan Juragan Susatpam mengambil paksa putriku sebagai jaminan atas hutang yang belum dapat kulunasi”

    “Hutangmu sudah kulunasi lebih dari cukup, apakah Juragan itu akan melepaskan putrimu ?”, bertanya Raden Wijaya.

    “Itulah yang aku khawatirkan, Juragan itu yang kutahu sudah lama menginginkan putriku”, berkata Sungut penuh kekhatiran.

    “Aku dapat mengantar Paman kerumah Juragan itu”, berkata Raden wijaya.

    “Sifatmu sama persis dengan ayahmu, begitu peduli”, berkata Sungut kepada Raden Wijaya.

    “Kali ini aku mewakili ayahku untuk menolong sahabatnya”, berkata Raden Wijaya sambil memegang bahu Sungut.

    “Tuanku Dyah Lembu Tal adalah junjunganku”, berkata Sungut meluruskan ucapan “sahabat” dari Raden Wijaya.

    “Aku merasakan persahabatan diantara kalian”, berkata Raden Wijaya

    “Yang kamu katakan adalah kebenaran, tuanku Dyah Lembu Tal menyikapi diriku sebagai seorang sahabat ketimbang sebagai seorang pekatiknya, itulah yang aku rasakan”, berkata Sungut sambil menatap jauh kedepan, entah apa yang tengah direnungkan. Mungki masa-masa kenangan ketika ia masih sebagai seorang pekatik istana.

    Akhirnya Sungut tidak dapat menolak permintaan Raden Wijaya yang akan menemaninya mengantarnya kerumah Juragan Susatpam untuk mengambil putrinya yang sudah sepekan menjadi barang jaminan.

    Diputuskan Lawe ikut bersama Raden Wijaya, sementara Mahesa Amping masih bersama Dara Petak dan Dara Jingga kembali ke istana Saunggaluh.

    Sungutpun segera membenahi dagangannya. Bersama Raden Wijaya dan Lawe mereka berangkat ke Padukuhan tempat tinggal Sungut.

  11. Nama : SUSATPAM
    Tempat, tanggal Lahir : Saunggaluh, 30 September 1273
    Jabatan : Juragan Sapi
    Hobi : ngumpulin cewek cantik

    Maaf, Susatpam yang ini wajahnya keren abis……..

    • pada saat baca ceritanya, saya masih belum ngeh…. dengan Juragan Susatpam.
      setalah membaca komen Pak Lik “dalang” Kompor baru tahu aku.

      Hadu……
      dapat peran saja kok ya juragan sapi, terus tukang ngumpulin cewek, yang cantik lagi.
      seneng sih…., tapi….

      hadu…..
      nasib……..

      embuh ahhhh
      manut dalange wae

      • rontal berikut-nya…..peran ki keren kujang GUNDUL,
        akan di lanjutkan sama susatpam….he-hee-heeeeee

        • hayo….bledekan,

          berapa rontal pak DALANGe kasih peran ki susatpam…??

          • jan cespleng kamsiaaaa

          • kamsiaaaa jan cespleng

  12. Pak Satpam, Buku Sejarah Singosari Jilid 5 sampun kuandel tenan lho, nopo sampun bade tamat.

    • Sekedap malih ki

      • apa nunggu sampe ki Susatpam cari mangsa baru….hikss

        KAMSIA……..(tanpa bold dan italic)

  13. haduh….baru pulang dari bengkel..
    Selamat malam kadang sedoyo,
    Selamat malam sabtuan, sesok hari bisa tidur pagi lebih lama….hehehe

  14. Kasihaaaannn Pak Satpam, kebagian peran orang jahat.

    Ikut nebak, Ki Susatpam kelak akan menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar seperti Ki Kujang Gundul. Apa benar begitu Ki Kompor ? Mana lanjutnya…..!!!

  15. Padukuhan kroyak memang tidak begitu jauh, disitulah Sungut bermukim sejak masih menjadi seorang pekatik istana. Keberadaan rumahnya dapat bercerita bahwa dulu rumah itu mungkin sebuah rumah milik orang yang cukup berada. Rumah seorang pekatik istana.

    “Inilah rumahku”, berkata Sungut ketika mereka sampai dirumahnya.

    Tidak lama mereka berada dirumah itu, setelah meletakkan dan menyimpan barang dagangan, mereka langsung menuju rumah Juragan Susatpam yang hanya berjarak beberapa rumah.

    Empat orang pesuruh Juragan Susatpam terlihat turun dari pendapa ketika melihat Sungut, Raden Wijaya dan Lawe memasuki halaman muka Juragan Susatpam.

    “Mau apa kalian datang kemari”, berkata seorang yang sudah dikenal Raden Wijaya yang tadi dipasar menemui Sungut menagih hutang.

    “Aku datang untuk menjemput anakku”, berkata Sungut.

    “Anakmu tidak perlu dijemput, ia sudah merasa betah tinggal dirumah ini”, berkata orang itu.

    “Bohong, anakku pasti menderita tersiksa dirimu ini”, berkata Sungut dengan suara keras.
    “Sudah berani kamu berkata keras kepadaku ?”, berkata orang itu dengan mata mendelik.

    “Kisanak, bukankah hutang paman ini sudah dilunasi ?”, berkata Raden Wijaya mencoba mengingatkan orang itu.

    “Sekarang aku tidak bicara lagi tentang hutang, yang kukatakan bahwa anaknya sekarang sudah tidak mau pulang lagi kerumahnya”, berkata orang itu sepertinya hanya ingin memutar-mutar persoalan.

    “Jangan-jangan sekeping uang emasku tidak sampai ke tuanmu ?”, berkata Raden Wijaya kepada orang itu.

    “kalau itu memang benar, maumu apa ?”, berkata orang itu.

    “Aku akan memintanya kembali, dan langsung akan menyerahkannya kepada tuanmu”, berkata Raden Wijaya.

    “Dengan cara apa kamu meminta kepadaku ?”, berkata orang itu menantang

    “Cukup dengan kedua tanganku ini”, berkata Raden Wijaya.
    “Kamu mau menantangku ?”, berkata orang itu.

    “Dengan sangat terpaksa bila itu yang kamu inginkan”, berkata raden Wijaya penuh ketenangan.

    “kamu belum mengenalku anak muda”, berkata orang itu telah mempersiapkan dirinya. Sementara tiga orang kawannya memberi tempat agak bergeser kesamping.

    • hup…!!!
      Langsung dapet satu rontal

      • Kamsiaaa… !!!

        • He he he …
          kamsiaaaa …siaaaa….siaa…. (suaranya menggema sapai berkali-kali)

  16. “Aku mau mencoba mengenalmu”, berkata raden Wijaya yang ikut-ikutan pura-pura sepertinya tengah mempersiapkan dirinya.

    “Kamu akan menyesal setelah tahu siapa diriku”, berkata orang itu sambil langsung menerjang Raden Wijaya dengan sebuah tendangan meluncur.

    Raden Wijaya telah menggeser dirinya kesamping. Dan tendangan itupun menjadi luput.

    Dengan beringas orang itu mengejar Raden Wijaya dan langsung meninju dagu Raden Wijaya dengan pukulan dari bawah keatas. Kembali Raden Wijaya bergeser sedikit mundur. Tinju itupun hanya mengenai angin kosong.

    Mendpatkan dua serangannya kembali menemui tempat kosong, orang itupun langsung melepas senjatanya. Sebuah golok berukuran sedang melayang membabat arah pinggang Raden Wijaya.

    Sungut yang melihat hal itu terperanjat menahan napas, sekejab dirinya merasakan telah berbuat dosa telah membawa putra junjungannya masuk kedalam masalah pribadinya.

    Tapi Sungut dapat bernapas lega, Raden Wijaya dengan gesit menggeliat meliukkan badannya. Kembali serangan golok itu melewati ruang kosong.

    “Keluarkan senjatamu”, berkata orang itu penuh kemarahan karena serangannya selalu luput menemui tempat kosong.

    “Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan menghadapimu dengan kedua tanganku ini ?”, berkata raden Wijaya sambil tersenyum memandang orang itu yang terlihat sudah sangat marah.

    Melihat ketenangan Raden Wijaya, orang itu nampaknya sudah menjadi semakin marah.

    “jangan salahkan aku bila kamu akan binasa tercincang disini”, berkata orang itu sambil menerjang raden Wijaya dengan goloknya.
    Golok itupun seperti terbang mengejar leher Raden Wijaya.

    Kembali Sungut menahan nafasnya, ia masih meragukan apakah raden Wijaya dapat keluar dari serangan orang itu yang dikenal sebagai salah satu seorang pengawal Juragan Susatpam yang paling beringas, paling kejam. Semua orang di Padukuhan sudah mengenalnya dan tidak pernah berani berurusan apapun dengan orang itu.

    Lagi-lagi Sungut dapat bernafas lega, dilihatnya Raden Wijaya kembali dapat menghindari serangan orang itu dengan merendahkan dirinya. Dan kali ini Raden Wijaya bukan hanya menghindar, sambil merendahkan dirinya menghindari ayunan golok, kaki kanan raden Wijaya langsung menyodok perut orang itu yang langsung terlempar kebelakang.

    Ternyata Raden Wijaya hanya menggunakan sedikit kekuatannya, hanya sebatas kekuatan wadak. Namun akibatnya orang itu terlihat menahan sakit. Perutnya terasa mual dan sesak.

    • Hadu…juragan Susatpam kok belum keluar juga ya ???

      Sabarrrrrr….hehehe

      • Juragan Susatpam sudah tidur Ki
        begitu lihat si Ilham datang, langsung menuju ke peraduannya

    • Sekali lagi……. kamsiaaaa !!!

  17. kok belom pindah GANDOK….apa isih kurang uakeh pak Satpam,

    • nek kurang sak baris tok…..cantrik SIAP nambahi, hiksss

  18. Ayo ayo ajar terus.

  19. upper cut sudah keluar,…..setelah itu terserah Ki Pak Dalang

    • cap aper sudah keluar , menyusul swing kanan kiri duueeeeessssss, blep, kamsiiia

  20. Kata si Ilham,

    Juragan Susatpam mengintip dari pringgitan pertempuran anak buahnya melawan Raden Wijaya.

    Melihat anak buahnya menjadi bahan permainan Raden Wijaya, Juragan Susatpam menjadi gemetar ketakutan, Akhirnya melarikan diri lewat pintu butulan di belakang.
    Dia bermaksud bersembunyi di kedung sungai yang mengalir di dalam hutan. Sesampainya di sana ternyata ada orang yang sedang berendam di kedung itu, mengira bahwa orang itu adalah anak buahnya, Ki Juragan Susatpam langsung menghardik mengusir orang itu.

    Ketika orang yang sedang berendam memalingkan wajahnya, paras Juragan Susatpam berubah pucat pasi bagaikan kehabisan darah.
    Ternyata orang yang berendam adalah Ki Lurah Gembleh.
    Masih belum hilang bekas luka Juragan Susatpam akibat dihajar ajian BOLD dan italic oleh Ki Lurah Gembleh bulan lalu.
    Langsung balik badan, Juragan Susatpam lari sipat kuping menjauhi tepian kedung itu.

    Ki Lurah Gembleh nyengir sambil bergumam :
    ” Moga2 Juragan Susatpam tidak bertemu dengan Kujang Gumdul,
    pancen mesak’e tenan bocah siji kae….hikksss”

  21. “Hajar pemuda sombong ini”, berkata orang itu meminta ketiga kawannya membantu.

    “Biarkan kawanmu bermain sendiri”, berkata Lawe menghadang ketiga orang pengawal Juragan Susatpam yang terlihat akan bergerak untuk membantu kawannya.

    “Kalau begitu kamu dulu yang akan menjadi barang mainan kami”, berkata salah seorang dari ketiga pengawal itu langsung melayangkan tamparannya.

    Lawe bukan orang yang suka bermain-main. Maka sambil mengegoskan wajahnya miring sedikit menghindari tamparan itu, langsung tangannya membalas tamparan itu juga dengan sebuah tamparan yang sangat keras dan cepat. Akibatnya sangat fatal sekali, orang itu langsung tersungkur kesamping dengan pipi berwarna biru sembab. Bumi sepertinya terasa berputar, orang itu tidak bisa bangkit dan sepertinya langsung pingsan.

    “Ayo kalian berdua maju bersama”, berkata Lawe kepada dua orang pengawal yang memang tengah bersiap menyerangnya.

    Kedua orang itupun langsung menyerang Lawe bersama-sama. Sebuah golok terlihat mengayun kearah leher Lawe, golok lain tengah menyambar pinggangnya.

    Terlihat wajah Lawe tidak mengesankan kecemasan, dengan tenang merendahkan badannya sekaligus bergeser kesamping sambil kakinya menghentak kedada orang yang semula menyerang lehernya.

    Bukkk!!!

    Orang yang terkena tendangan itu terpental merasakan dadanya sesak dan jatuh dibumi sepertinya susah untuk berdiri kembali.

    Melihat kawannya jatuh dalam satu gebrakan, lawan Lawe menjadi sedikit gusar. Tapi golok ditangannya sudah terlanjur terlepas dari sarungnya, dan perasaan malunya yang membuat dirinya terpaksa harus terus kembali menyerang. Kali ini dengan setengah semangat menyerang kembali Lawe yang masih bertangan kosong.

    Lawe melihat kegusaran hati lawannya, maka serangan lawannya yang mengarah kepundaknya tidak dengan segera dihindarkan.

    Hampir saja orang itu merasa gembira bahwa serangannya akan berhasil melukai pundak Lawe. Namun hal tak terduga telah terjadi. Belum lagi golok itu menyentuh kulit pundak, Lawe dengan cepat bergeser setapak.

    Bersamaan dengan itu tangannya tepat menghantam pergelangan tangan lawannya. Maka yang terjadi golok ditangan orang itu terlempar tidak mampu dipertahankan lagi.

    Belum lagi lepas rasa terkejutnya, sebuah tamparan keras langsung menghantam rahangnya. Akibatnya sudah dapat diterka, orang itu langsung limbung tersungkur ketanah merasakan tamparan tangan Lawe yang sudah terlatih.

  22. Kok Juragan Susatpam masih belum denger ada keributan dihalaman rumahnya ?????

    Sabar…..heheheheheheheheheh

    • Dimana … dimana…
      Juragan Susatpam bersembunyi…..
      he he he ….

      • juragan suatpam sedang disentong tengah

        • sstt….., pun seru-seru ki

          • sstt….., pun saru-saru ki, eeh kleru ding…..hikss

  23. HADIR eiiitt…..KAMsia sebelom dan sesudahnya.

  24. Assalamu’alaikum wr wb, ………..
    Mengisi antrian sore hari buat Ki Kompor.

    • Waalaikum salam wr wb
      sugeng dalu Ki Truno

  25. Juragan Susatpam tidak peduli dengan keributan di halaman rumahnya karena sedang mabuk dikerumuni cewek-cewek cantik yang dikumpulkannya.

  26. sugeng dalu, nunggu karo nginjen mbok menowo ono kiriman sako pak dalang

  27. Hadir, nggoleki Ni Sinden..

  28. Si Ilham ketiduran rupanya

    hadu…
    nguantuq aku
    bobo ah…

  29. alhamdulillah, akhir-akhir ini koq gampang ngantukan.
    Sugeng dalu kadang sedoyo…….

  30. Sementara itu lawan Raden Wijaya telah kembali melakukan serangannya terlihat menjadi sangat penasaran, semua serangannya selalu dapat dihindarkan oleh Raden Wijaya dengan begitu mudahnya.

    Dan begitu belihat bahwa Lawe telah menyelesaikan permainannya, Raden Wijaya pun langsung ikutan ingin menyudahi permainannya.

    Maka ketika sebuah serangan yang mengayun nyaris mengincar dadanya, dengan kecepatan yang tidak terduga dan tidak bisa diikuti oleh pandangan wadag biasa. Tiba-tiba saja golok itu telah berpindah tangan.

    Bukan main kagetnya orang itu, golok ditangannya telah berpindah tangan.

    Belum lagi lepas rasa terkejutnya, sebuah tendangan telah menghajar perutnya.

    Bukk!!!!

    Orang itu meringsek menahan rasa sesak dan nyeri, isi perutnya terasa terbalik ingin muntah. Dan tiba-tiba saja senjata itu telah mengancam tuannya sendiri.

    “Berikan kembali sekeping emas milikku”, berkata Raden Wijaya sambil menempelkan golok tajam diatas kulit leher orang itu.

    Gemetar orang itu membayangkan senjatanya yang disadari sangat tajam dan telah diwarangi dengan sedikit racun itu akan melukai dirinya sendiri.
    Maka tanpa menunggu apapun, orang itu segera mengeluarkan sekeping emas dan memberikannya kepada Raden Wijaya.

    Ternyata apa yang terjadi di halaman telah disaksikan semuanya oleh Juragan Susatpam dari atas Pendapa rumah. Terkejut bahwa empat orang pengawalnya yang selama ini diupah untuk menjaga dan berlindung dibelakangnya telah dapat dikalahkan dengan begitu mudahnya.

    Dengan tubuh gemetar penuh rasa takut, dirinya seperti terpaku ditempat manakala Raden Wijaya, Sungut dan Lawe datang menghampirinya. Apalagi dilihatnya Raden Wijaya masih menggenggan sebuah golok telanjang.

    “Kami datang untuk membayar hutang, kembalikan putri Paman ini”, berkata Raden Wijaya ketika sudah mendekati Juragan Susatpam yang terlihat masih gemetar.

    “Tidak ada hutang lagi, ambilah apa yang kalian inginkan. Asal jangan menyakiti diriku”, berkata Juragan Susatpam yang ternyata punya nyali begitu kecil.

    “Hutang harus dibayar”, berkata raden Wijaya sambil melempar sekeping emas dihadapan Juragan Susatpam.

    Sementara itu Sungut sudah tidak sabar lagi, tahu apa yang harus dilakukannya langsung masuk kerumah itu untuk mengambil putrinya.

    Tidak lama berselang Sungut telah keluar dari pintu rumah sambil menggandeng seorang gadis yang ternyata anaknya yang selama ini disekap dirumah Juragan Susatpam.

    • Terpaksa deh……!

      • terpaksa gagal….maning !!??

  31. Kasian deh Ki Susatpam. Hil hiks

    • pak Susatpam tunggu lain kali lagi, masih panjang ceritany,a, KAMSIIIAAAAA PAK DALANG

      • Sabar saja pak Juragan, nanti kalau semua sudah kebagian tentu giliran Ki Juragan.

        KAMSIAAAA………..pak Dhalang.

  32. Tidak bisa dipungkiri, anak gadis Sungut ternyata seorang gadis yang berwajah cukup jelita.

    “Pantas Juragan Susatpam terpikat”, berkata Raden Wijaya ketika sempat melirik anak gadis Sungut yang cantik jelita.

    Tapi lirikan mata Raden Wijaya yang sekejab adalah sebuah malapetaka untuknya.
    Apa yang telah terjadi ????

    Ternyata sekejab itu telah dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh Juragan Susatpam yang dengan cepat dan tidak diduga dan diperhitungkan telah melemparkan tiga buah taji beracun dari jarak yang begitu dekat ketubuh Raden Wijaya.

    Setinggi apapun ilmu Raden Wijaya yang telah menguasai ilmu meringankan tubuh dan dapat bergerak dengan cepat tidak juga dapat mengelak dari sasaran.
    Raden Wijaya bukan main terkejutnya, tidak menyangka ada serangan yang begitu cepat kearahnya. Dua buah taji yang mengarah pada jantung dab dihindari lagi, langsung menancap di bahunya.

    Setelah melempar senjata rahasianya, terlihat Juragan Susatpam telah melenting jauh melompati pagar pendapa dan berdiri sambil tertawa keras merasa serangannya dapat mengenai sasarannya.

    “Kalian memang orang-orang bodoh yang mudah tertipu, aku bukan orang lemah seperti yang kalian sangka. Dan racun kelabang lorengku segera akan mengambil nyawamu”, berkata Jauragan Susatpam sambil tertawa ditengah halaman rumahnya.

    “Iblis keji”, berkata Lawe yang melihat semua itu langsung melompat kehalaman menerjang Juragan Susatpam dengan penuh kebencian.

    Ternyata Juragan Susatpam bukan orang lemah seperti yang diduga. Dengan sigap dapat mengelak dan berhindar dari serangan Lawe yang telah mengeluarkan dua buah belati senjata andalannya. Juragan Susatpam bahkan dapat melakukan serangan balik yang tidak kalah keras dan berbahayanya. Terlihat Juragan Susatpam telah menyerang Lawe dengan sebuah keris berlekuk Sembilan yang cukup panjang.

    Pertempuran terlihat begitu seru dan sangat menegangkan. Juragan Susatpam ternyata dapat mengimbangi ilmu Lawe.

    Sementara itu Raden Wijaya yang menyadari bahwa taji yang menancap dibahunya mengandung racun yang kuat langsung mencabut taji itu. Darah segar keluar dari bahunya. Raden Wijaya terlihat langsung duduk bersila sempurna. Mengerahkan tenaga murninya untuk menahan menjalarnya racun yang telah menyusup didalam aliran darahnya.

    “Jangan khawatirkan diriku, lekaslah ke istana untuk menemui kawanku yang bernama Mahesa Amping”, berkata Raden Wijaya yang tidak mengkhatirkan dirinya, tapi mengkhawatirkan Lawe yang tengah bertempur dengan Juragan Susatpam.

    Raden Wijaya meski dalam keadaan terluka masih dapat melihat kestaraan ilmu Juragan Susatpam yang ternyata berada beberapa lapis dari ilmu Lawe.

    • Ternyata dugaan semua orang tentang Juragan Susatpam melesettttt…………..!!!!!

      lumayan….kontrak lakone diperpanjang hehehe 3x (bergemaa)

      • satu rontal lagi plis….. !
        biar bisa dibundel

  33. Dengan bimbang terpaksa Sungut menuruti permintaan Raden Wijaya. Terlihat Sungut telah keluar dari gerbang halaman rumah Juragan Susatpam sambil menuntun anak gadisnya.

    “Kembalilah kerumah, aku akan segera ke istana”, berkata Sungut melepas anaknya pulang kerumah, sementara ia sendirii telah melangkah setengah berlari menuju istana.

    Ketika tiba di Istana, sebagai seorang yang pernah lama bekerja di Istana, Sungut tidak banyak menemui kesulitan dan tahu kemana harus bertanya.

    Kepada seorang pengawal, Sungut bercerita apa yang telah terjadi.

    “Tamu Baginda Raja terkena racun, dan sekarang Paman ingin bertemu dengan kawannya yang bernama Mahesa Amping”, bertanya pengawal itu menyimpulkan perkataan Sungut.

    “Benar, itulah maksud kedatanganku”, berkata Sungut membenarkan.

    “Mataku seperti tidak percaya melihat kau Sungut ada di istana ini”, berkata seorang pengalasan yang ternyata mengenal Sungut, seorang yang nampaknya sudah tua seumur Sungut sendiri.

    “Kalian ternyata sudah saling mengenal, kebetulan sekali tolong kamu antar paman ini”, berkata pengawal itu kepada orang yang telah mengenal Sungut memintanya membantu mengantar ke Pasanggrahan tempat yang biasa seorang tamu agung beristirahat dan menginap selama di Istana.

    Heran sekali Mahesa Amping ketika melihat Sungut yang ia tahu tadi siang telah pergi bersama Lawe dan Raden Wijaya. Panggritanya yang tajam sudah melihat sesuatu telah terjadi.
    Sungut pun dapat mengenali Mahesa Amping sebagai salah satu kawan Raden Wijaya.

    “Apakah kamu yang bernama Mahesa Amping ?”, bertanya Sungut mencoba meyakinkan dugaannya.

    “Benar, aku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping dengan cepat.

    Mengetahui bahwa orang yang akan ditemui adalah Mahesa Amping, maka Sungutpun langsung bercerita apa yang telah terjadi.

    “Antar aku kesana”, berkata Mahesa Amping kepada Sungut.
    Ketika mereka tengah mendekati pintu gerbang istana, seorang pengawal yang sebelumnya telah bertemu dengan Sungut menghampiri mereka.

    “Kami akan mengirim beberapa prajurit”, berkata pengawal itu.

    “Terima kasih”, berkata Mahesa Amping tanpa berhenti dan terus berjalan setengah berlari keluar dari pintu gerbang istana.

    Cerita tentang Raden Wijaya yang terluka terkena racun ternyata begitu cepat menjalar beritanya di Istana. Hingga akhirnya sampai ketelinga Baginda Raja Ragasuci.

    • Enggak terasa….sudah masuk gandhok anyer….

      ciat !!!, ciaaaaaat !!!
      wussssss !!!
      sebuah pukulan angin mencoba mengibas apapun yang ada digandhok anyer…..takut kalau ada racun kelabang loreng nempel di selarak …hehehe 3x bergema

      • Licik dan berbahaya juragan Susatpam.
        Jangan dilepaskan, hajar biar kapok !! ( He..he maaf pak Satpam).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: