SFBDBS_05

Bagian 1.

SFBDBS 05-112

BHAYA menghentak kudanya agar berlari lebih cepat lagi. Terlihat kuda Bhaya seperti terbang di kegelapan malam menapaki jalan panjang. Ketika harus memasuki sebuah Padukuhan, maka dicarinya jalan melingkar menghindari para peronda.

Demikianlah perjalanan malam dilakukan Bhaya tanpa ada halangan yang berarti hingga datangnya pagi. Dibeberapa tempat terpaksa berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kudanya untuk beristirahat.

Diujung senja akhirnya Bhaya sampai juga di Benteng Cangu.

“Penyelesaian seperti itukah yang diinginkan oleh Raja Muda Kertanegara?”, berkata Mahesa Pukat setelah Bhaya menceritakan apa yang di pesan oleh Kertanegara.

“Berperan sebagai Panglima Angsa Putih yang melindungi Rajanya”, berkata Kebo Arema sambil tersenyum.

“Hitung-hitung untuk mengendorkan kembali tulang-tulang tua kita yang sudah semakin kaku”, berkata Mahesa Pukat sambil menyesalkan bahwa sampai saat ini belum ada kabar tentang keadaan dari Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe yang tengah melaksanakan tugas sandinya di Tanah Melayu.

Daerah Kediri cukup luas, perlu tiga orang agar peran Panglima Angsa putih dapat dilaksanakan sesuai keinginan Raja Muda Kertanegara”, berkata Kebo Arema memberikan pendapatnya.

“Kakang Mahesa Murti mungkin dapat kita ajak bermain”, berkata Mahesa Pukat

“Aku setuju, beberapa cantrik di Padepokan Bajra Seta mungkin dapat dimanfaatkan”, berkata Kebo Arema.

Demikianlah, dikegelapan malam Bhaya telah kembali ke Kediri dengan menukar kuda yang masih segar di Benteng Cangu untuk melaporkan bahwa pesan Kertanegara telah disampaikan.

“Mari kita bersiap berangkat ke Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Pukat ketika melihat Bhaya telah menghilang keluar dari Benteng Cangu.

Malam itu juga Mahesa Pukat dan Kebo Arema telah berangkat ke Padepokan Bajra Seta untuk menemui Mahesa Murti.

Dua ekor kuda telah memacu kudanya dikegelapan malam menyusuri jalan panjang. Tidak seperti Bhaya yang menghindari jalan Padukuhan, Mahesa Pukat dan Kebo Arema terus memacu kudanya di jalan Padukuhan yang masih lengang.

“Kami prajurit Singasari”, berkata Mahesa Pukat kepada seorang peronda yang mencoba menghentikan perjalanan mereka.

“Maafkan kami, silahkan tuanku melanjutkan perjalanan”, berkata peronda itu penuh hormat ketika Mahesa Pukat menunjukkan pertanda jati dirinya.

“Untungnya aku berjalan bersama seorang Senapati”, berkata Kebo Arema ketika mereka sudah agak jauh dari peronda yang menghentikan mereka.

Semburat warna merah telah menutupi hampir seluruh cakrawala langit dipenghujung malam yang segera akan berganti pagi. Mahesa Pukat dan Kebo Arema masih tetap tidak menghentikan perjalanannya. Untungnya kuda-kuda mereka adalah kuda terbaik yang kuat yang telah biasa menempuh perjalanan jauh.

Ketika pagi menjelang, matahari sudah terlihat penuh tersembul dari ujung bumi menerangi seluruh dataran tanah. Barulah Mahesa Pukat dan Kebo Arema mengurangi kecepatan lari kuda mereka. Padepokan Bajra Seta sudah semakin mendekat.

Akhirnya mereka telah sampai di pintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Seorang cantrik mendekati mereka.

“Selamat datang tuan Senapati”, berkata cantrik itu yang ternyata masih mengenal Mahesa Pukat sebagai salah seorang yang pernah membangun Padepokan Bajra Seta.

Mahesa Pukat dan Kebo Arema langsung menuju ke Pendapa. Mahesa Murti dengan wajah gembira menyambut kedatangan mereka.

Setelah menanyakan beberapa hal tentang keselamatan masing-masing, akhirnya Mahesa Pukat langsung bercerita tentang maksud kedatangan mereka di Padepokan Bajra Seta.

“Sebuah permainan yang menyenangkan”, berkata Mahesa Murti setelah mendengar penjelasan dari Mahesa Pukat.

Dengan penuh semangat mereka bersama telah membuat beberapa siasat yang diperlukan. Sebagai tiga orang yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam berbagai pertempuran, akhirnya dengan cepat mereka telah membuat beberapa kesepakatan.

“Kita perlu tiga puluh orang cantrik yang bertugas sebagai pasukan caraka di tiga wilayah yang sudah kita tentukan”, berkata Kebo Arema.
Pada saat itu juga Mahesa Murti telah mengumpulkan tiga puluh orang cantriknya.

“Tugas kalian adalah menjaring berita dengan kepastian, dimana kerusuhan akan terjadi”, berkata Mahesa Murti memberikan beberapa penjelasan kepada ketiga puluh cantriknya yang akan diikutkan membantu tugas rahasia di Kediri sesuai amanat dari Raja Muda Kertanegara.

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk perbekalan yang diperlukan, beberapa cantrik terlihat telah keluar dari regol pintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Agar tidak menarik banyak perhatian, mereka keluar secara bertahap. Sepuluh orang pertama terlihat telah keluar dari Padepokan Bajra Seta bersama Mahesa Pukat.

Berselang tidak begitu lama, sepuluh orang kedua telah keluar bersama Kebo Arema. Diperjalanan mereka berjalan secara terpencar, berdua atau bertiga dan sepertinya tidak saling mengenal. Berbagai cara mereka lakukan untuk menyamarkan jati diri mereka. Ada yang menyamar sebagai pedagang, ada juga yang menyamar sebagai seorang pengembara, bahkan ada yang menyamar sebagai pengemis dengan pakaiannya yang compang-camping lusuh dan kotor.

———-oOo———-

SFBDBS 05-113

PASRAHKAN diri kita selalu kepada Gusti Sang Maha Karsa”, berkata Mahesa Murti kepada Padmita yang mengantarnya sampai di pintu regol halaman Padepokan bersama sepuluh orang cantrik sebagai kelompok terakhir yang akan melaksanakan perjalanan tugas rahasianya di Tanah Kediri.

Tiga puluh orang cantrik Padepokan Bajra Seta adalah orang-orang pilihan yang sudah terlatih. Dibawah bimbingan Mahesa Murti mereka telah terbina baik dalam ilmu kanuragan maupun dalam ilmu kajiwan. Namun dalam kesehariaan mereka adalah orang-orang yang sangat bersahaja.

Akhirnya, tiga puluh orang cantrik Padepokan Bajra Seta telah memasuki wilayah Kediri. Mereka tersebar di tiga wilayah yang telah ditentukan tanpa diketahui dan disadari berbaur diantara kehidupan dan keseharian penduduk Kediri.

Hingga malam yang mereka tunggu akhirnya datang juga.
Saudagar Mokar dan keluarganya masih tertidur nyenyak dibiliknya masing-masing. Saudagar Mokar adalah seorang saudagar kuda yang sangat kaya. Di Padukuhan Mekar tempatnya tinggal, rumahnya terlihat paling mencolok diantara rumah-rumah penduduk tetangganya, lebih besar dan terlihat lebih megah dengan dua buah pilar ukiran jati berdiri menopang anjungan pendapanya.

Sepuluh orang perampok dikegelapan malam telah berhasil masuk lewat dinding pagar halaman yang tidak begitu tinggi.

“Sayangi jiwamu”, berkata seorang perampok yang telah berhasil mendekati seorang penjaga yang tengah bersandar di pendapa.

Hilang rasa kantuk penjaga itu berganti dengan keterkejutan yang sangat menyadari dirinya dalam ancaman senjata yang berkilat tajam mengancam batang lehernya.

Dengan mudah penjaga itu membiarkan dirinya diikat di kayu pilar pendapa. Sementara itu beberapa perampok telah berhasil masuk.

“Jangan menangis !!”, berkata seorang perampok yang telah berhasil masuk kedalam bilik anak gadis Saudagar Mokar.

Sementara dibilik lain, seorang perempuan pelayan juga telah berhasil diamankan.

“Jangan sakiti kami”, berkata saudagar Mokar kepada tiga orang perampok yang telah masuk ke biliknya tengah mengancamnya dengan golok besar yang berkilat tajam.

“Suruh istrimu diam!!”, berkata seorang perampok sambil menjulurkan golok besarnya kearah istrinya yang menangis penuh ketakutan.

Akhirnya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Saudagar Mokar menuruti apapun yang diperintahkan para perampok, termasuk memberitahukan dimana harta perhiasan berharganya disimpan.

“Anak gadismu cukup jelita, tapi karena kamu sangat berbaik hati memberikan semua hartamu, biarlah anak gadismu tidak akan kubawa serta”, berkata seorang perampok dengan deretan gigi emasnya berjejer di atas bibirnya yang tebal setelah mengumpulkan seluruh penghuni rumah didalam satu bilik.

Terlihat sepuluh orang perampok telah menuruni pendapa satu persatu sambil tertawa bangga, merasakan tugas mereka dapat dilakukan dengan begitu mudah.

Tiba-tiba saja mata kesepuluh perampok itu seperti keluar dari batok kepalanya. Mereka sepertinya tengah melihat hantu yang menakutkan.

Kesepuluh perampok itu ternyata melihat seorang berkuda putih dihadapan mereka. Pakaian orang itu serba putih, wajahnya juga terlihat dibalut sebuah kain putih. Hanya wajahnya yang terlihat tajam mengawasi.

“Mengapa wajah kalian begitu penuh ketakutan”, berkata orang itu masih diatas kuda putihnya.

“Kukira dedemit, ternyata kamu manusia”, berkata seorang perampok yang sudah dapat menguasai dirinya tidak merasa takut lagi.

“Aku memang dedemit yang akan mengambil nyawa kalian”, bekata orang itu sambil melompat dari kudanya.

Kesepuluh perampok itu telah tahu apa yang harus dilakukan, mereka segera mengepung orang itu.

Entah dengan cara apa, kesepuluh perampok itu belum sempat mengangkat senjatanya masing-masing, merasakan tangan mereka seperti tergetar, dan dengan pandangan mata yang seperti tidak tahu apa yang terjadi, senjata mereka telah berpindah tangan.

“Ilmu iblis!!”, berkata salah seorang perampok yang sepertinya pimpinan para perampok itu.

Namun belum lagi berakhir ucapannya, tiba-tiba saja dirasakan batok kepalanya seperti ditampar dua kali dengan tamparan yang kuat. Seketika itu juga pemimpin perampok itu jatuh terhuyung pingsan.

Melihat pemimpin mereka begitu mudah dijatuhkan, kesembilan orang perampok itu nyalinya sudah langsung menciut. Terbesit di dalam pikiran mereka bahwa orang dihadapan mereka memang bukan manusia.

Belum lagi mereka untuk menguasai keadaan, sebuah sentuhan halus telah menyentuh anggota badan mereka. Seketika itu juga mereka merasakan tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga. Satu persatu telah jatuh lunglai di halaman rumah itu.

“Menyerahlah, atau nyawa kalian kucabut malam ini”, berkata orang berpakaian putih-putih itu.

“Ampuni jiwa kami”, berkata seorang perampok yang tidak dapat menguasai rasa takutnya.

Orang berpakaian serba putih itu tidak berkata apapun, terlihat berjalan menghampiri seorang penjaga yang masih terikat di kayu pilar penjaga.

———-oOo———-

SFBDBS 05-114

MASUKLAH kedalam, mungkin junjunganmu telah terkurung di dalam biliknya”, berkata orang itu setelah membuka ikatan tali seorang penjaga.

Setelah tali yang mengikat tubuhnya telah dilepaskan, penjaga itu langsung masuk kedalam rumah. Tidak lama kemudian telah muncul kembali bersama Saudagar Mokar yang terkejut melihat apa yang terjadi di muka halamannya. Kesepuluh perampok yang garang yang sebelumnya telah membuat dirinya dan keluarganya tidak berdaya dibawah ancaman, telah bergelimpangan berbaring di halaman rumahnya sepertinya tidak berdaya lagi.

Mata saudagar mokar terpaku kepada seorang yang sudah duduk diatas kuda putihnya.

“Aku adalah Panglima Angsa Putih, pelindung Raja Muda Kertanegara kekasih para dewa”, berkata orang berpakaian putih diatas kuda putihnya dengan suara yang bergema.

Orang yang memperkenalkan dirinya sebagai Panglima Angsa Putih itupun telah membalikkan arah kudanya berlalu sambil melambaikan tangannya keluar lewat pintu pagar halaman dan menghilang dikegelapan malam.

Gegerlah Padukuhan Mekar itu di pagi harinya. Warga Padukuhan Mekar seperti mendengar kembali dongeng yang selama ini mereka anggap sebuah cerita khayalan belaka para Brahmana tentang Panglima Angsa Putih yang selalu melindungi seorang Raja yang dikasihi para dewa dilangit.

“Ternyata Raja Muda kita adalah kekasih para dewa, Panglima Angsa Putih akan selalu melindungi rakyat Kediri”, berkata seorang petani kepada istrinya yang telah mendengar cerita perampokan semalam dirumah Saudagar Mokar tetangganya yang kaya raya itu.

Ternyata cerita tentang Panglima Angsa Putih itu seperti anging bertiup menjelajah dari satu padukuhan ke Padukuhan lainnya, dan menjadi pembicaraan yang hangat, di Banjar desa, dipasar dan dikedai.

“Semoga para perusuh dan perampok berpikir ulang melakukan perbuatannya di bumi Kediri ini”, berkata seorang lelaki di sebuah kedai setelah mendengar cerita dari pemilik kedai tentang Panglima Angsa Putih.

Ternyata lelaki itu adalah Senapati Mahesa Pukat, sambil tersenyum menghirup minuman wedang jahenya yang masih hangat.

“Sebuah tugas yang menyenangkan”, berkata Mahesa Pukat kepada dirinya sendiri sambil mengangkat kembali minuman hangatnya.

Dan cerita tentang Panglima Angsa Putih ternyata masih terus berlanjut, tentunya di tempat yang berbeda masih di wilayah Kediri.

Diawali dengan sebuah perampokan disiang bolong atas sekelompok pedagang di perjalanan mereka. Di kedemangan terdekat mereka melaporkan apa yang telah terjadi kepada Ki Jayaraga. Akhirnya didengar juga oleh para cantrik Padepokan Bajra Seta yang tengah melakukan tugas carakanya.

“Aku akan segera mengejar para perampok itu”, berkata Kebo Arema yang telah menerima laporan dari salah seorang cantrik.

Kebo Arema segera mendatangi tempat kejadian dan telah mendapatkan beberapa jejak kemana para perampok itu besembunyi.

Ternyata para perampok itu bersembunyi di sebuah hutan kecil yang jarang sekali didatangi oleh penduduk disekitarnya karena hutan kecil itu dikenal sebagai hutan yang angker, bila tidak ada kepentingan yang sangat mendesak, misalnya untuk mencari bahan obat yang hanya ada di hutan ini, barulah penduduk setempat dengan sangat terpaksa masuk ke hutan ini. Selain itu mereka bepikir dua kali untuk mendatanginya. Konon di hutan ini ada sebuah kejadian sepasang suami istri mati dengan jalan menggantungkan dirinya. Atas kejadian inilah penduduk setempat enggan datang kehutan ini.Mereka percaya bahwa orang yang mati bunuh diri arwahnya terus bergentayangan.

“Baru kali ini aku dapat upah ganda, diupah sebagai perampok dan mendapatkan hasil rampokan”, berkata salah seorang perampok kepada kawannya didepan sebuah perapian yang mereka buat.

“Merampok, berpoya-poya dan merampok lagi”, bekata kawannya menimpali

“Dan berpoya-poya lagi”, berkata kawan yang lainnya yang disambut tawa tergelak-gelak dari yang lainnya yang mendengarkan pembicaraan mereka.

Tiba-tiba saja tawa mereka berhenti, mereka mendengar suara tawa yang lebih keras lagi menggema berasal dari berbagai penjuru.

Para perampok itu seperti membeku ditempatnya masing-masing. Pikiran mereka sudah terbawa kedalam suasana yang menakutkan didalam hutan yang pekat itu. Dari cahaya perapian terlihat wajah mereka yang telah berubah pucat penuh kecemasan.

“Penunggu hutan ini tidak menyukai kehadiran kita”, berbisik seorang perampok kepada kawannya diantara suara tawa yang masih saja terus terdengar bergema.

Kembali mereka dikejutkan oleh sebuah penampakan yang datang dari kegelapan malam di hutan itu seorang yang berpakaian serba putih, wajahnya juga telah ditutupi sebuah kain putih hingga yang tersisa hanya pada bagian sisi kedua matanya yang terlihat tajam mengawasi mereka.

“Aku adalah Panglima Angsa Putih yang melindungi raja muda Kertanegara yang dikasihi para dewa”, berkata orang itu dari balik kain putih penutup wajahnya.

“Aku tidak percaya dengan dongeng itu, rasakan tajamnya pedangku”, berkata seorang perampok yang ternyata mempunyai ilmu yang paling tinggi diantara kawan-kawannya dengan garang menyerang orang yang memperkenalkan dirinya sebagai Panglima Angsa Putih.

Tapi apa yang terjadi ??

———-oOo———-

SFBDBS 05-115

PERAMPOK itu seperti terpental jatuh di tempat dimana pertama ia berdiri sambil sebuah tangannya memegang sebelah dadanya yang terasa sesak.

Ternyata orang yang memperkenalkan dirinya bernama Panglima Angsa Putih itu telah menghajar perampok itu dengan sebuah lecutan cambuk yang keras kearah dada. Terlihat orang itu masih berdiri tersenyum sambil menjurai sebuah cambuk pendek ditangannya.

Beberapa perampok sudah meraba senjatanya masing-masing siap menyerang orang yang mengaku bernama Panglima Angsa Putih.

“Majulah kalian bersama”, berkata Panglima Angsa Putih dengan sikap menantang.

Tujuh orang perampok maju bersamasama langsung menyerang Panglima Angsa Putih. Dan terjadilah sebagaimana yang terjadi pada perampok pertama.

Tujuh orang perampok terpental kembali ketempat awal mereka berdiri sambil sebuah tangannya menahan sebelah dadanya yang sesak.

Belum lagi rasa gentar mereka menghilang, sebuah kabut putih tiba-tiba saja datang menutupi seluruh penglihatan mereka.

Dalam kebingungan itu, sebuah tamparan keras dirasakan telah menghantam batok kepalanya. Delapan orang perampok itu terjungkal jatuh ditanah. Segaris Warna biru telah menandai masing-masing wajah mereka. Ternyata garis sabetan sebuah cambuk telah menandai wajah mereka.

“Siapa yang masih mengatakan Panglima Angsa Putih sebuah dongeng, kucabut nyawanya hari ini”, bekata Panglima Angsa putih dengan suaranya penuh wibawa terasa menghentak dada.

“Ampuni jiwa kami”, berkata beberapa perampok yang telah ciut keberaniannya merasa takut nyawanya akan segera dicabut.

“Cepat kalian menyerahkan diri ke Kademangan terdekat dan serahkan semua hasil rampokan kalian kepada pemiliknya”, berkata Panglima Angsa Putih dengan suara penuh tekanan yang kembali terasa menghentak dada mereka.

Kabut putih semakin menipis. Panglima Angsa Putih sudah tidak terlihat lagi.

Terlihat dengan wajah penuh ketakutan delapan perampok itu telah keluar hutan kecil berjalan menuju Kademangan terdekat.

Gegerlah beberapa orang dibanjar desa yang melihat kedatangan mereka.

“Mereka adalah orang-orang yang telah merampok kami”, berkata salah seorang pedagang yang ada di Banjar desa Kepada Ki Jayaraga.

“Kami menyerahkan diri”, berkata para perampok itu.

Ki Jayaraga dan orang-orang yang ada di Banjar desa masih belum yakin apa yang mereka dengar.

“Mereka tawanan kalian, perlakukanlah dengan baik”, berkata sesorang yang muncul dari kegelapan malam berkuda putih dan berpakaian putih.

“Panglima Angsa putih”, berbarengan Ki Jayaraga dan orang-orang di banjar desa itu menyebut sebuah nama.

Terlihat Panglima Angsa Putih tengah melambaikan tangannya kepada mereka dan membalikkan arah kudanya dan terus menghilang dikegelapan malam.

Dan keesokan harinya cerita tentang Panglima Angsa Putih kembali menggema menjadi pembicaraan yang hangat hampir di sepenjuru wilayah Kediri.

“Panglima Angsa Putih adalah prajurit para Dewa”, berkata seorang Brahmana menjelaskan tentang Panglima Angsa Putih.

“Apakah ini sebagai pertanda Raja Muda Kertanegara yang Agung di Kediri sebagai kekasih Dewa?”, bertanya seseorang kepada Sang Brahmana.

“Benar demikian, kasih Dewa hanya untuk para Raja yang telah mengenal Budha-Siwa didalam hatinya”, berkata Sang Brahmana.

Sementara itu di tempat yang berbeda, jauh dari wilayah Kediri, jiwa seorang raja penuh diliput panas amuk angkara. Dadanya seperti bergemuruh penuh kemarahan yang sangat. Dialah Raja Jayakatwang yang tengah menerima laporan dari seorang kepercayaannya tentang hadirnya Panglima Angsa Putih di Tanah Kediri.

“Kalian bodoh, Panglima Angsa putih adalah dongeng belaka!!!”, berkata Raja Jayakatwang yang tidak percaya tentang Panglima Angsa Putih.

Orang kepercayaannya tidak lagi berani banyak cakap, dia sangat mengenal sifat tuannya.

“Semua adalah muslihat dari Kertanegara yang cerdik, aku mengenal anak itu sejak dulu”, berkata Raja Jayakatwang sambil berpikir mencoba mencari sebuah cara untuk mengimbangi permainan Kertanegara.

“Aku punya cara membuka kedok Kertanegara yang bermain dengan utusan para Dewa itu”, berkata Raja Jayakatwang kepada orang kepercayaannya.

“Tuanku telah menemukan sebuah cara ?”, bertanya orang kepercayaannya itu.

“Kita lakukan gerakan serempak di tiga tempat berbeda”, berkata Raja Jayakatwang menyampaikan siasatnya seperti seorang anak kecil mendapatkan sebuah mainan baru.

“Tetapi Panglima Angsa Putih adalah orang sakti”, berkata orang kepercayaannya penuh keraguan.

———-oOo———-

SFBDBS 05-116

 “TETAPI tidak mempunyai kesaktian berada di tiga tempat bersamaan”, berkata Raja Jayakatwang penuh keyakinan.
Demikianlah, ketika perintah itu dijatuhkan, para perusuh telah mencari tiga tempat di Tanah Kediri sebagai sasaran kerusuhan mereka.

“Kita harus dapat menyergap mereka”, berkata Kebo Arema yang telah mendapatkan berita tentang rencana kegiatan para perusuh di suatu tempat.

“Kita sergap mereka sebelum melakukan apapun”, berkata Mahesa Pukat kepada seorang cantrik yang telah mencium rencana kegiatan mereka.

Demikian juga Mahesa Murti dan kelompoknya di tempat yang berbeda telah berhasil juga mencium rencana kegiatan para perusuh.

“Gila !!!”, berkata seorang perusuh di suatu malam melihat sebuah lumbung padi terbakar.

Di dua tempat yang sama beberapa perusuh terkejut melihat hal yang sama, sebuah lumbung padi terbakar.

“Ada yang mendahului pekerjaan kita”, berkata salah seorang perusuh ketika memasuki sebuah padakuhan.

Ternyata beberapa cantrik telah mendahului mereka, telah membakar sebuah lumbung padi yang isinya telah mereka kosongkan. Dengan kerja yang rapi tanpa membangunkan pemiliknya.

Namun kebakaran itu akhirnya telah membangunkan banyak orang.

Sementara itu para pesuruh masih bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba saja telah muncul Panglima Angsa Putih diatas kuda putih dihadapan mereka.

“Panglima Angsa Putih !!”, berkata salah seorang perusuh yang pernah mendengar tentang Panglima Angsa Putih telah berdiri dihadapan mereka.

“Menyerahlah”, berkata Panglima Angsa putih kepada sepuluh orang perusuh yang masih terkejut.

“Habisi orang itu, dia hanya sendiri”, berkata seorang perusuh yang sudah dapat menguasai dirinya.

Mendengar ucapan kawannya, beberapa perusuh menjadi tersadar. Kepercayaan mereka menjadi tumbuh kembali.

Sepuluh orang perusuh telah mengepung Panglima Angsa Putih.

Masih diatas kudanya, Panglima Angsa putih bertempur dikeroyok sepuluh orang perusuh. Dan hanya dalam satu gebrakan beberapa orang perusuh sudah jatuh bergelimpangan tidak berdaya pingsan.

“Ikat mereka!!”, berkata Panglima Angsa Putih kepada sepuluh orang cantrik yang diam-diam bersembunyi.

Gemparlah para penduduk, setelah mereka besama memadamkan lumbung yang terbakar, mereka menemukan sepuluh orang asing telah terikat dan tergeletak di Banjar Desa.

Semua orang berpendapat bahwa pasti semua itu tidak lain adalah sebuah perlindungan para dewa yang telah mengutus Panglima Angsa Putih untuk melindungi mereka.

“Kami tidak berbuat apapun” berkata seorang perusuh.
Tapi apapun perkataan mereka, para penduduk tetap menganggap merekalah yang bertanggung jawab atas kebakaran lumbung padi di Padukuhan mereka.

Sejak saat itu, Tanah Kediri menjadi daerah yang aman. Disiang hari maupun malam hari. Para perampok sungguhan berpikir dua kali untuk melakukan kejahatan mereka di Tanah Kediri. Mereka mempercayai bahwa Panglima Angsa Putih selalu mengawasi dan menjaga Tanah Kediri.

Sementara itu Raja Jayakatwang sudah demikian putus asa. Bermula berencana menghancurkan nama Raja Muda Kertanegara, berbalik melambungkan namanya sebagai Raja Muda yang dikasihi para Dewa.

Demikianlah Raja Muda Kertanegara telah memulai tugasnya di Tanah Kediri tanpa hambatan apapun. Diawali dengan kepercayaan warga Kediri bahwa Raja Muda mereka adalah orang yang dikasihi para Dewa. Raja Muda Kertanegara telah membangkitkan kembali Kediri yang sudah lama tertidur. Dan seluruh warga Kediri dengan penuh kepercayaan yang tulus merasakan bahwa Raja Muda Mereka adalah anugerah para Dewa yang diturunkan di Tanah Kediri.

Di pagi yang cerah dibangsal pribadi Raja Muda Kertanegara.

“Terima kasih untuk semua dan segalannya”, berkata Raja Muda Kertanegara kepada ketiga Panglima Angsa Putih yang berniat mengundurkan diri kembali ketempatnya masing-masing.

“Sebuah permainan yang menyenangkan”, berkata Kebo Arema sambil tersenyum

“Hamba siap kapanpun Baginda membutuhkan diri ini”, berkata Mahesa Murti

“Seluas tanah Singasari, seluas itulah pengabdian hamba sebagai prajurit”, berkata Mahesa Pukat.

“Berbahagialah Bumi Singasari yang telah mempunyai tiga orang Kstria sebagai penjaga dan pelindung yang setia”, berkata Raja Muda Kertanegara penuh haru atas jasa yang telah mereka perbuat.

“Kalau bukan titah Sri Maharaja Singasari, hamba akan senang berdekatan dengan tuanku”, berkata Kebo Arema kepada Raja Muda Kertanegara sahabatnya itu.

Akhirnya, Kebo Arema, Mahesa Murti dan Mahesa Amping mohon pamit diri. Dibawah pandangan Raja Muda Kertanegara, tiga orang sakti itu telah menghilang di tikungan lorong istana.

Dan Tiga ekor kuda telah melewati gerbang istana dibawah tatapan para pengawal yang tidak menyadari bahwa ketiga orang berkuda itulah yang selama ini berperan sebagai Panglima Angsa Putih.

———-oOo———-

SFBDBS 05-117

Sementara itu jauh dari Tanah Kediri, sebuah jung terlihat tengah berlayar di kegelapan malam dibawah cahaya rembulan dan kerlip jutaan bintang.

Angin berhembus genit mengurai rambut seorang gadis yang berdiri di anjungan. Lentera bahtera yang menggelantung menyinari wajahnya yang putih halus dan sebaris lukisan bibirnya yang selalu menggambarkan keceriaan.

“Memandang langit yang berhias bulan dan bintang adalah dahaga mata yang tak terpuaskan”, berkata seorang pemuda yang datang menghampiri berdiri disampingnya ikut memandang ke arah mata gadis itu memandang.

“Pemandangan malam diatas anjungan begitu indah”, berkata gadis itu yang ternyata adalah Dara Jingga menoleh sebentar sambil tersenyum kepada pemuda yang menghampirinya.

“Suasana hati adalah bingkai dari lukisan alam yang hidup”, berkata pemuda itu yang ternyata adalah Mahesa Amping sambil memandang jauh kedepan menikmati suasanan malam.

“Benar, manakala suasana hati bergembira, alam didepan mata kita Nampak begitu indah”, berkata Dara Jingga membenarkan perkataan Mahesa Amping.

“Hati sendiri adalah alam terdekat yang dapat kita lihat sepanjang hari”, berkata Mahesa Amping sambil memperhatikan wajah Dara Jingga, menilik apakah gadis ini mengerti apa yang diucapkannya.

“Menjaga hati, sebagaimana bejana yang kita bawa dengan penuh kehati-hatian”, berkata Dara Jingga sambil tersenyum kepada Mahesa Amping.

“Itulah rahasia menjaga hati, darimana kamu mendapatkan kata-kata itu ?”, bertanya Mahesa Amping merasa heran bahwa gadis seumur Dara Jingga mampu mengurai sebuah rahasia hati.

“Pendeta Istana selalu mengajarkan tentang hal itu”, berkata Dara Jingga sambil melagamkan sebuah puisi hati.

Aku jauh engkau jauh
Aku dekat engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala dan dosa berpadu

Tidak terasa Mahesa Amping ikut bersenandung bersama Dara Jingga. Suara mereka semakin merapat terbungkus gemuruh angin dan debur ombak. Biaslah segala pemisah hati bersatu dalam irama sontak kebahagiaan semerdu dewa dewi bersenandung di taman bunga berbaring di hamparan permadani alam rumput hijau yang lembut dalam tatanan kesempurnaan yang indah penuh keelokan.

Dan hari-hari indah pun tersulam diatas kain sutra putih kehidupan dalam bingkai hati yang terpaku sebagai hiasan lukisan abadi.

———-oOo———-

SFBDBS 05-118

Sang Senja telah bergayut diatas Bandar Muara Jati ketika sebuah jung merapat.

“Selamat datang tuanku, sembah sujud hamba”, berkata seorang syahbandar Muara Jati menyambut kedatangan Raja Ragasuci yang telah turun dari jung nya.

Seperti diketahui, Bandar Muara Jati pada saat itu masih dibawah kekuaraan Kerajaan Saunggaluh. Tidak heran bila kedatangan Raja Ragasuci mendapat kehormatan yang melimpah.

Malam itu Ragasuci dan rombongannya berkenan beristirahat di rumah Syahbandar Muara Jati yang besar tidak begitu jauh dari pantai. Sebuah pemanjaan yang menyenangkan setelah beberapa hari tersapu angin laut dalam pelayaran yang melelahkan.

Dan malam pun berlalu diatas Bandar Muara Jati dalam kerlap kerlip lampu kehidupan malam ditingkahi suara para wanita malam yang selalu mewarnai setiap sudut remang-remang tempat berlabuhnya para pengembara cinta.

“Empat pria dan tiga wanita”, berkata seseorang kepada kawannya sambil matanya tidak lepas tertuju ke rumah Syah Bandar.

“Terlalu percaya diri untuk seorang Raja”, berkata kawannya

“Besok ia akan menyesal mengapa tidak membawa pengawalan prajurit segelar sepapan”, berkata orang itu.

“Mari kita laporkan kepada sang ketua”, berkata kawannya.
Hujan gerimis mengguyur bumi Bandar Muara Jati diujung malam.

Keesokan harinya terlihat tujuh ekor kuda keluar dari rumah besar Syahbandar Muara Jati.

Sudah terbiasa Syahbandar Muara Jati melihat rajanya tanpa pengawalan dan iring-iringan tanda kebesaran Raja.

“Dengan cara ini aku dapat melihat rakyat Saunggaluh dari dekat”, berkata Ragasuci kepada Raden Wijaya ketika mereka sudah jauh dari Bandar Muara Jati.

Jalan yang mereka tempuh adalah jalan jalur yang biasa dilalui para pedagang. Dalam perjalanan mereka kadang bersisipan dengan pedati milik para pedagang.

“Jalan ini melingkari hutan Cigugur”, berkata Ragasuci kepada Raden Wijaya sambil menunjuk didepan mereka sebuah hutan lebat.

“Mengapa kita melingkari hutan itu?”, bertanya Raden Wijaya.

Ragasuci hanya tersenyum mendengar pertanyaan Raden Wijaya.

“Ada sebuah kepercayaan milik orang Pasundan, ditabukan untuk seorang Raja melintasi hutan Cigugur. Bila dilanggar Raja itu akan menanggung kesialan sepanjang hidupnya”, berkata Ragasuci.

 “Bagaimana bila yang melintasi hanya orang biasa”, bertanya Lawe yang mendengar percakapan tentang hutan Cigugur.

“Larangan itu hanya berlaku untuk seorang raja, tidak berlaku untuk seorang anak Raja Belang”, berkata Ragasuci sambil tersenyum kepada Lawe.

Lawe ikut tersenyum mengingat kembali tentang awal perjumpaan mereka bertemu dengan Datuk Belang dimana Lawe pada saat itu pernah mengaku sebagai putra Raja Belang.

Hari sudah menjelang siang, mereka masih berada di tepi hutan Cigugur. Penglihatan Mahesa Amping telah menangkap beberapa kelebat diantara pohon-pohon besar disisi mereka.

Dan kecurigaan Mahesa Amping ternyata menjadi kenyataan, muncul dari kerimbunan hutan Cigugur puluhan orang menghadang mereka.

“Menyingkirlah!!”, berkata Ragasuci penuh wibawa seorang Raja.

“Ternyata putra Darmasiksa tidak mengenal takut”, berkata seorang yang sepertinya pimpinannya sambil tertawa keras.

“Siapakah kalian?”, bertanya Ragasuci

“Kami orang-orang terbuang dari Pasir Muncang”, berkata orang itu.

“Ternyata kalian orang-orang yang tersesat itu”, berkata Ragasuci kepada orang itu yang ternyata orang-orang dari Pasir Muncang. Sebuah kelompok aliran sesat yang pernah dihancurkan oleh ayahnya Gurusuci Darmasiksa puluhan tahun yang lalu yang sering mencuri bayi-bayi tidak berdosa untuk persembahan mereka.

‘Habisi semuanya !!”, berkata orang itu sambil bersuit panjang sebagai tanda kepada pengikutnya untuk bergerak maju.

“Lindungi wanita sebagaimana pusaka”, berkata Ragasuci.
Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe menangkap apa yang dikatakan Ragasuci. Dengan cepat mereka telah membentuk lingkaran melindungi Dara Puspa, Dara Petak dan Dara Jingga.

Maka terjadilah sebuah pertempuran di tepi Hutan Cigugur itu. Empat orang lelaki di keroyok oleh puluhan orang dengan berbagai senjata.

Ternyata orang-orang yang mengaku dari Pasir Muncang ini sepertinya sebuah kelompok yang sangat terlatih. Serangannya sangat berbahaya dan sangat teratur seperti ombak bergulung menekan pertahanan Ragasuci dan kawan-kawan.

“Gila!!”, berkata pemimpin itu yang melihat kelompoknya seperti menghadapi batu karang, tidak satupun serangan yang dapat menembusnya.

———-oOo———-

SFBDBS 05-119

Rupanya pemimpin orang-orang pasir muncang itu bukan orang yang cepat putus asa. Ketika melihat kenyataan lawannya tidak mudah dilumatkan, sebagai orang yang berilmu tinggi langsung dapat mengukur satu persatu lawannya. Pemimpin itu sudah dapat menilai bahwa orang terlemah diantara empat orang lawannya adalah yang menggunakan dua buah belati yaitu Lawe.

Dengan beberapa petunjuk, serangan ditekankan tertuju ke Lawe.

Lawe memang terlihat agak kewalahan mendapatkan serangan yang keras dan sepertinya hanya tertuju kepadanya.

Untunglah Ragasuci cepat tanggap dan telah dapat membaca gerakan dan tujuan lawan yang ingin menghabisi Lawe terlebih dahulu.

“Cakra berputar!!”, berkata Ragasuci yang langsung dimengerti oleh Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya. Merekapun mengikuti apa yang diinginkan Ragasuci yaitu bergerak searah putaran.

Akibatnya memang luar biasa, siapapun yang mendekati mereka pasti terlempar terluka.

Lawe dengan dua buah belati andalannya banyak melukai orang-orang pasir muncang yang mendekat.

Sementara Mahesa Amping terlihat banyak menggunakan pisau belati pendeknya untuk menangkis senjata lawan, selebihnya menggunakan tangan dan kakinya merubuhkan lawan-lawannya. Namun meski dengan tangan kosong, pukulannya sudah dapat membuat lawannya langsung terlempar pingsan tidak bergerak lagi.

Apa yang dilakukan Mahesa Amping, juga dilakukan Raden Wijaya dan Ragasuci. Senjatanya hanya digunakan untuk menangkis lawan.

Terlihat Dara Petak, Dara Jingga dan Dara Puspa saling berpelukan penuh kecemasan melihat berbagai senjata saling beradu. Seluruh harapan mereka hanya tertumpu pada keempat orang lelaki yang tengah melindunginya.

Pertempuran sudah berlangsung begitu lama. Banyak sudah jatuh korban diantara para orang-orang Pasir Muncang. Pemimpin mereka cepat menyadari bahwa mereka sepertinya hanya menunggu waktu saja berada di pihak yang akan kalah.

Maka terlihat orang yang menjadi pimpinan itu bersuit tiga kali. Ternyata itu sebagai sebuah tanda bahwa secepatnya mereka mundur.

“Jangan kejar!!”, berkata Rgasuci kepada Lawe yang akan mengejar orang-orang Pasir Muncang yang berlari menghilang dibalik kerimbunan Hutan Cigugur.

“Secepatnya kita meninggalkan tempat ini”, berkata Ragasuci merasa khawatir mereka akan datang kembali. Yang dikhawatirkan Ragasuci sebenarnya adalah tiga orang wanita yang bersama mereka.

Untunglah kuda-kuda mereka masih ada ditempatnya. Maka mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu. Meninggalkan beberapa orang yang terluka dan pingsan tergeletak di jalan tanah.

 ———-oOo———-

SFBDBS 05-120

Ketika mereka merasa sudah agak jauh dari hutan Cigugur, barulah mereka memperlambat kuda-kuda mereka.

Sambil berjalan Ragasuci sekilas bercerita tentang orang-orang Pasir Muncang. Beberapa puluh tahun yang lalu, ketika ayahnya Darmasiksa masih menjadi raja telah memberi perintah untuk menumpas sekelompok aliran sesat. Sayangnya sepasukan prajurit telah bertindak melampaui batas. Hampir seluruh wanita dan anak-anak di Pasir Muncang tempat pusat kegiatan mereka ikut menjadi korban.

“Sejak kejadian itu ayahku lebih banyak mengasingkan dirinya, merasa bersalah hingga akhirnya telah memutuskan meninggalkan kerajaan menjadi Gurusuci di Puncak Galunggung”, berkata Ragasuci mengakhiri ceritanya.

Mahesa Amping tidak memberikan komentar apapun. Dirinya Nampak tengah merenung.

“Mana yang lebih tersesat, membunuh bayi-bayi yang tidak berdosa untuk sebuah persembahan, atau pembantaian para wanita dan anak-anak yang tidak mengerti dan tidak bersangkut paut dengan apa yang dilakukan orang tuanya”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri.

“Ternyata selama ini mereka bersembunyi dan menyusun kekuatan di hutan Cigugur”, berkata Ragasuci

“Apa yang Paman akan lakukan atas orang-orang itu”, bertanya Raden Wijaya.

“Mungkin aku akan menempatkan beberapa petugas untuk memantau sejauh mana kegiatan mereka”, berkata Ragasuci.

“Semoga mereka tidak lagi melakukan persembahan bayi ”, berkata Mahesa Amping

“Setidaknya hari ini pihak kerajaan harus mewaspadai bahwa ada kekuatan bersembunyi di hutan Cigugur”, berkata Lawe ikut bicara.

Sementara itu hari sudah terlihat menjelang senja.

“Didepan kita ada sebuah hutan perburuan. Ada pondokan tempat kami biasa bermalam ketika berburu”, berkata Ragasuci menunjuk kesebuah arah.

Akhirnya mereka telah sampai ditepi sebuah hutan. Ternyata apa yang dikatakan Ragasuci tentang sebuah pondokan memang benar adanya. Pondokan itu berupa rumah panggung yang cukup besar.

“Selamat datang tuanku”, berkata seorang pelayan tua yang ternyata seorang yang ditugaskan merawat dan melayani para bangsawan yang akan berburu di hutan itu.

“Selamat bertemu kembali Ki Mantul”, berkata Ragasuci penuh senyum sepertinya mereka sudah begitu akrab.

“Apakah tuanku akan berburu?”, bertanya pelayan itu yang dipanggil Ki Mantul oleh Ragasuci.

“Kami hanya singgah”, berkata Ragasuci pendek sambil naik keatas panggung pendapa.

———-oOo———-

SFBDBS 05-121

“Sudah dua hari ini hamba melihat banyak burung endonan berkeliaran di sekitar hutan”, berkata Ki Mantul sambil menyiapkan beberapa hidangan makanan dan minuman.
Ternyata perkataan Ki Mantul adalah sebuah isyarat.

“Terima kasih Ki Mantul”, berkata Ragasuci yang telah mengerti isyarat Ki Mantul.

“Setidaknya ada waktu untuk kita beristirahat sepanjang malam”, berkata Mahesa Amping yang juga menangkap makna perkataan Ki Mantul.

Ki Mantul dan Ragasuci sama-sama memandang kepada Mahesa Amping dengan sebuah senyuman. Diam-diam mengagumi ketajaman bathin dari pemuda itu.

Malam itu mereka beristirahat di pondokan tepi hutan itu.Namun Mahesa Amping telah meminta Lawe dan Raden Wijaya untuk selalu waspada. Seperti biasa mereka secara bergantian berjaga sepanjang malam.

Dan malam pun berlalu di hutan itu tanpa ada gangguan apapun, hanya terkadang ada suara anjing hutan membuat suasana malam menjadi begitu mencekam. Namun Dara Puspa, Dara Petak dan Dara Jingga sepertinya tidak mendengar semua itu karena sudah tertidur nyenyak. Mereka merasa ada didalam perlindungan empat orang lelaki yang berilmu tinggi. Mereka mempercayai itu dan merasakan diri seperti berada dalam perlindungan prajurit segelar sepapan, meskipun ditepian hutan yang sepi sekalipun.

Dan pagipun akhirnya datang jua. Ki Mantul sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.

“Ki Mantul pandai mengolah masakan”, berkata Lawe sambil mengunyah dendeng kijang muda.

“Hutan ini telah memberikan hidup dan kehidupan untuk dinikmati”, berkata Ki Mantul menanggapi perkataan Lawe.

Matahari sudah mulai memanjat naik. Cahayanya terlihat masuk lewat celah-celah ranting dan dahan pepohonan. Daun-daun kering yang berserak ditanah sudah mulai menghangat. Suasana hutan sudah terlihat jelas. Pohon-pohon kayu besar dan tinggi menjulang rapat mengelilingi pondokan itu memberikan keteduhan bersama suara burung hutan dalam berbagai kicau yang tak terputus. Sebuah wisata alam yang sangat berkesan terutama untuk Dapa Puspa, Dara Petak dan Dara Jingga yang untuk pertama kalinya datang di Tanah Pasundan.

Namun suasana itu sepertinya hilang berubah menjadi sebuah kecemasan yang menghentak mengejutkan manakala dari sisi-sisi pohon kayu besar itu muncul beberapa orang yang terlihat sangat garang dan berpakaian kasar dengan berbagai senjata telanjang di tangan-tangan mereka.

“Semalam kami telah memberikan kalian istirahat yang cukup, sayang bila hari ini adalah hari terakhir kalian menikmati cahaya matahari”, berkata seseorang dari bawah panggung pendapa sambil tertawa yang diikuti dengan tawa semua kawan-kawannya yang sudah terkumpul dengan senjata siap ditangan.

———-oOo———-

SFBDBS 05-122

“Ki Mantul aku tugaskan menjaga para wanita”, berkata Ragasuci kepada Ki Mantul dan langsung turun menuruni anak tangga diikuti di belakangnya Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe.

“Siapa kalian dan apa urusan dengan kami”, berkata Ragasuci setelah berhadapan dengan para gerombolan.

“Ditempat asalku di Gunung Pangrango, orang-orang biasa memanggilku Bango samparan”, berkata seseorang yang mengaku bernama Bango Samparan yang ternyata pimpinan para gerombolan yang baru datang mengepung rumah pondokan itu.

“Ternyata Bango Samparan yang terkenal itu cuma sebagai orang upahan untuk membuat kekacauan disini”, berkata Ragasuci penuh percaya diri

“Aku kagum berhadapan dengan seorang Raja yang tidak mengenal rasa takut, sayang tugasku kali ini hanya untuk membawa sebuah kepala raja tanpa tubuh yang utuh”, berkata Bango Samparan sambil bertolak pinggang.

“Ternyata harga kepalaku cukup bernilai sampai jauh-jauh dari Gunung Pangrango datang kemari”, berkata Ragasuci kali ini dengan senyum dikulum.

“Kutawarkan jalan yang mudah, julurkan lehermu di dekatku agar aku dapat memilih urat yang baik tanpa rasa sakit”, berkata Bango Samparan dengan wajah penuh jumawa.

“Sayangnya leherku sangat alot untuk senjata murahan yang kamu miliki”, berkata Ragasuci sambil menunjuk golok besar yang ada di tangan Bango Samparan.

Mendengar senjatanya dihina, darah Bango Samparan langsung naik sampai ke ubun-ubun.

“Kawan-kawan, habisi semua orang yang ada disini !!”, berkata Bango Samparan dengan suara bergetar tanda kemarahannya telah terbakar dibarengi dengan lompatan panjang menerjang Ragasuci dengan golok panjangnya yang terlihat bening berkilat tanda bukan senjata sembarangan.

Bersamaan dengan itu, kawan-kawannya langsung merubung Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya yang berjajar di bawah tangga panggung menjaga agar tidak seorangpun dapat naik ke atas pendapa.

Maka terjadilah dua kelompok pertempuran yang terpisah. Yaitu pertempuran antara Bango Samparan seorang diri tanpa ikut campur kawan-kawannya dengan Ragasuci. Sementara kelompok kedua adalah para gerombolan yang menyerang Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya yang sepertinya menjaga agar tidak ada yang dapat menerobos naik keatas panggung.

“Ternyata Baginda Raja bersama orang-orang yang dapat diandalkan, pantas aku Cuma diperintahkan sebagai penonton”, berkata Ki Mantul dalam hati sambil melihat pertempuran dari atas panggung pendapa. Dilihatnya Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya dengan mudah melempar siapapun yang datang mendekat dengan begitu mudahnya.

 ———-oOo———-

SFBDBS 05-123

bersambung ke bagian 2

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 30 Agustus 2011 at 00:01  Comments (389)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs_05/trackback/

RSS feed for comments on this post.

389 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugeng enjing kadang Padepokan sedoyo
    Pulang saking Jakarta sampun ndalu, langsung bablas turu…….

    Ba’da subuh ini setelah zikiran…..menunggu si Ilham bangun hehehe (tertawa pendek enggak bergema)

  2. Raden Darmamula telah meningkatkan ilmunya menggulung Mahesa Amping dengan serangan keris besarnya. Dan Mahesa Amping terpaksa harus mengimbanginya. Dan pertempuranpun menjadi kian seru dan menegangkan.

    Raden Darmamula sudah mencapai ilmu puncaknya, serangannya terlihat begitu cepat dan mengerikan. Keris ditangannya seperti bara yang menyala. Hawa panaspun terasa telah menyelimuti setiap sisi pertempuran. Untungnya Mahesa Amping telah dilindungi oleh daya kepekaan kekuatan yang ada didalam kekuatan bawah sadarnya, langsung bekerja dengan sendirinya memberikan daya tolak atas apa yang akan datang membahayakan dirinya. Hawa dingin meneyentak keluar dari tubuh Mahesa Amping meredam hawa panas yang dikeluarkan lewat ilmu puncak Raden Darmamula.

    Dua kekuatan dan kecepatan saling menggulung dan saling balas menyerang. Mata wadag sudah sangat sukar sekali mengikuti pertempuran mereka. Yang terlihat seperti dua bayangan hitam saling melesat begitu cepat, sukar sekali untuk menentukan siapa Mahesa Amping dan yang mana Raden Darmamula.Sekali-kali terdengar suara dua senjata beradu.

    Baru kali ini Raden Darmamula harus menguras seluruh kekuatan ilmunya, diam-diam secara pribadi mengagumi pemuda yang menjadi lawannya ini.

    “Ragasuci tidak salah pilih”, berkata Darmamula dalam hatinya sambil terus berusaha melakukan penekanan.

    “Aji Braja Geni !!”, berucap Mahesa Amping sambil melenting menghindari sebuah kilatan api berasal dari telapak tangan kiri Raden Darmamula.

    “Pengetahuannmu ternyata sangat luas anak muda”, berkata Raden Darmamula sambil tertawa kembali mengeluarkan ilmu simpanannya aji braja geni menyambar tubuh Mahesa Amping yang tengah melenting.

    Kembali Mahesa Amping harus berhindar dari serangan kilatan api. Sasaranpun kembali luput nyaris menghantam sebuah pohon besar yang langsung terbakar. Beberapa penonton yang hadir menyaksikan pertempuran itupun berlarian menjauh, takut terkena salah sasaran ilmu Braja Geni Raden Darmamula yang begitu menggrigiskan itu.

    Mahesa Amping dalam posisi tertekan dan terancam, sambaran kilat sepertinya terus mengejarnya. Namun tidak terlihat sedikit kecemasan dalam raut wajahnya. Mahesa Amping penuh ketenangan menghadapi setiap serangan. Hingga akhirnya Mahesa Amping terpaksa mengeluarkan ilmu andalannya. Mengungkap kekuatan yang bersembunyi dari sorot matanya.

    Sambil melenting menghindari kilatan cahaya yang menyambar kearah dirinya, tiba-tiba saja keluar kilatan cahaya dari sorot mata Mahesa Amping dalam kendali dan pengekangan naluri yang tajam sebagai ungkapan jiwa yang telah diliputi kesifatan Maha Kasih dan Maha halus penuh kelembutan. Cahaya kilat dari sorot mata Mahesa Amping telah menyambar dengan cepat mengarah kesatu tempurung kaki Raden Darmamula.

    • Dimana….dimana ….kucari….(terdengar sang sinden bersenandung sambil mengedipkan matanya tersenyum menatap Den Kompor)
      hehehe 3 x bergema 1000x

      • sekedar menatap BOLEHlah….tapi hati ni sinden tetep BUAT
        kang GEMBLEH yeee….

    • menggrigiskan ( mungkin maksud Ki kompor = nggegirisi bahasa jawa).

  3. KAMSIA YEEE……MATUR NUWUN YEEE…..TRIMS YEEE

  4. Sinar yang melesat dari sorot mata Mahesa Amping memang begitu cepat seperti sekedipan mata, langsung menyambar tempurung kaki kiri Raden Darmamula yang tidak dapat segera mengelak. Terlihat Raden Darmamula jatuh tidak kuat menahan rasa sakit pada tempurung kakinya yang terlihat hangus terbakar. Kaki sebelah kirinya terasa lumpuh.

    Pertempuranpun sepertinya terhenti, semua mata tertuju kepada Raden Darmamula yang tengah duduk tidak mampu berdiri.

    Terlihat Mahesa Amping perlahan mendekati Raden Darmamula.

    “Maaf, aku terpaksa melakukannya”, berkata Mahesa Amping yang melihat Raden Darmamula tengah merintih menahan rasa sakit yang terbakar di tempurung kakinya.

    “Kenapa kamu tidak langsung menyerang jantungku”, berkata Darmamula yang telah mengakui kedahsyatan kekuatan sorot mata Mahesa Amping.

    “Aku bukan seorang pembunuh”, berkata Mahesa Amping memandang Raden Darmamula dengan sorot mata penuh kasih, seakan didepannya bukan lagi seorang lawan. Dan sorot mata itu seperti air dingin menyentuh masuk lewat tatapan mata Raden Darmamula.

    “Jiwamu begitu bersih, jiwamu penuh kasih”, berkata Raden Darmamula yang merasakan seperti ditelanjangi oleh tatapan mata Mahesa Amping yang tenang penuh kasih. Raden Darmamula tidak tahan menatap mata itu, terlihat menunduk seperti tengah melihat kekotoran dirinya yang penuh kecongkakan dan keangkuhan merasa dapat melakukan dan berbuat apapun atas ketinggian ilmu yang telah diraih dalam kebanggaan yang tersesat.

    “Masih ada hari lain untuk berbuat yang lain”, berbisik Mahesa Amping sambil berjongkok memeberikat sebuah obat penawar. “Telanlah obat ini, mudah-mudahan akan mengurangi rasa sakit Paman”, berkata Mahesa Amping.

    Raden Darmamula kembali menatap wajah Mahesa Amping, kembali rasa malu bergejolak didalam hatinya. Entah mengapa sorot mata itu dilihatnya penuh kejujuran, dan ia tidak menolak pemberian obat dari Mahesa Amping.

    Raden Darmamula telah menelan butiran obat yang diberikan oleh Mahesa Amping. Benar apa yang dikatakan Mahesa Amping, rasa sakit dikakinya terasa memudar. Namun Raden Darmamula tidak dapat lagi mengerakkan kaki kirinya yang ternyata sudah lumpuh itu.

    “Terima kasih anak muda, kamu telah menyisakan sebuah kaki untukku, dan juga sisa umurku yang mungkin akan dapat kuisi dengan sikap dan suasana baru”, berkata Raden Darmamula dengan senyum penuh tulus.

    “Sekarang terserah Baginda Raja, aku pasrah atas apapun hukuman yang diberikan kepadaku”, kembali Raden Darmamula berkata sepertinya telah pasrah atas apa yang akan diterima.

    • Dimana…dimana …dimana….
      Tinggalnya …sekarang..dimana….

      Tarik terus Kangmas………………….

      • Dimana…dimana …dimana….
        Tadi pagi …aku..dimana….

        he he he ….
        kok baru tahu kalau dalange mbeber wayang di pagi hari
        telat deh…..

        • Kemana….kemana….kemana….ku harus mencari kemana,

          tarik terus pak DALANG…..

    • Nopo Ki Dalang dereng kepanggih kalih Raden Tumenggung Ilham kok masih dicari terus?

  5. “Aku tidak akan memberikan hukuman apapun atas diri Pamanda, Aku memaafkan Pamanda. Bukankah Pamanda satu-satunya adik ibuku yang masih ada ?”, berkata Ragasuci sepertinya tidak merasa sebagai seorang raja, tapi sebagai seorang anak kemenakan.

    Raden Darmamula menatap haru Ragasuci, terbayang Ragasuci kecil yang dulu sering berada diatas punggungnya bermain kuda-kudaan. Raden Darmamula seperti menemukan dirinya kembali. Tangis haru kebahagiaan terlihat manakala paman dan kemenakan itu saling berpelukan. Sepertinya mereka sudah lama tidak berjumpa dan baru hari itu mereka menemukan diri masing-masing. Rasa permusuhan telah lama memisahkan mereka, menjauhkan mereka. Dan sekarang, rasa kasih kembali mempertemukan mereka, menghilangkan jarak diantara mereka, sebagai saudara sedarah, sebagai paman dan kemenakannya.

    “Dimana Patih Manohara”, berkata Ragasuci sambil menyapu pandangannya berkeliling, namun Patih Manohara yang dicari tidak juga ditemukan.
    Ternyata Patih Manohara diam-diam telah melarikan diri. Mungkin ia tahu akan mendapatkan hukuman berat karena telah berhianat atas rencananya untuk melenyapkan Ragasuci.

    Angin semilir bertiup disekitar halaman rumah singgah itu. Sementara senja masih jauh untuk ditunggui. Terlihat rombongan Ragasuci tengah bersiap untuk meninggalkan tepi hutan Kranggan itu dikawal para pasukan berkuda.

    Selang tidak terlalu lama, Bango Samparan dan para anak buahnya ikut meninggalkan tepi hutan Kranggan itu. Dan Rumah singgah itu terlihat menjadi sunyi sebagaimana hari-hari sebelumnya.

    Dan senjapun akhirnya telah berlalu. Hari telah memasuki pertengahan malam manakala Ragasuci dan rombongannya telah sampai di pintu gerbang istana.

    “Terima kasih,Kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan baik”, berkata Ragasuci memberikan ucapan selamat dan terima kasih kepada Ki Lurah Gembleh yang menyambutnya di muka pintu gerbang istana.

    “Tugas yang kami lakukan sangat ringan dibandingkan kecemasan yang kami rasakan”, berkata Ki Lurah Gembleh menyampaikan kekecewaannya tidak disertakan ikut berperan di hutan Kranggan.

    “Istana tanpa raja bukan suatu kekhawatiran dibandingkan istana tanpa penjaga”, berkata Ragasuci memberi penjelasan mengapa para pengawal istana dilarang meninggalkan istana. Dan sepertinya Ki Lurah Gembleh dapat menerimanya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

    Dan malampun semakin dalam menyelimuti istana Saunggaluh. Suara angin bercanda dengan daun dan dahan kadang mengisi kesunyian malam. Beberapa pengawal istana kadang terlihat berkeliling melakukan ronda malam dri lorong kelorong memastikan tidak ada hal gangguan apapun, dan istana dalam keadaan aman terkendali.

    Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya yang ditempatkan di pesanggrahan khusus untuk para tamu agung nampaknya sudah terlelap dalam mimpi.

    • masih sore…..cari angin dulu ach…..

      Kemana..kemana..kemana….

      • Masih sore….. masih ada harapan dapat tambahan………

        • sudah malem…..tetep ada harapan dapat tambahan………

          tarik …..Ni Sinden………!!!!!!

  6. matur nuwun

    • nunut Ki Bancak…..kamsiaaaaaa……!!!!!!!

      • ngandol ki Gembleh…..kamsiaaaaaa……!!!!!!!

  7. Si Ilham belum bangun ya
    ya sudah….., bobo lagi

    • Si Ilham siap mechunggul lagi sabtu malam,
      siap-siap glontoran rontal keng pak DALANGe

      kamsia….langsung sarapan sik,

  8. sugeng siang, pak dalang sawek madosi waranggono sing anyar

    • betol ki, yang kemaren disingidKE ki Gembleh…!!??

      • yang tak singidke itu yang kemarin dulu,
        lha yang kemarin kan langsung buat “bancak’an”…????

        he…he…he…
        sugeng dalu.

  9. Pagi itu, suasana pasar di Kotaraja Kawali sudah begitu ramai. Dara Jingga dan Dara Petak sebagaimana umumnya para wanita sangat senang sekali berkeliling sekitar pasar Kotaraja, terutama melihat berbagai corak kain dan perhiasan.

    “kalian belum membeli apapun ?”, berkata Dara Jingga kepada Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    “Aku belum mendapatkan apa yang kubutuhkan”, berkata Lawe

    “Apa yang kamu butuhkan ?”, bertanya Dara Jingga

    “Itulah yang belum aku pikirkan”, berkata Lawe sekenanya membuat Mahesa Amping dan Raden Wijaya tersenyum, diam-diam mereka mengakui sebagaimana Lawe, tidak ada yang dibutuhkan.

    Matahari terus merayap naik,suasana pasarpun menjadi semakin ramai.

    “Minuman dawet itu sepertinya enak sekali”, berkata Dara Petak ketika mereka melewati pedagang minuman Dawet.

    “Kami pesan minumannya, Paman”, berkata Lawe kepada pedagang Dawet itu yang terlihat sudah sangat tua.
    Dengan cepat orang tua itu telah menyiapkan lima buah minuman untuk mereka.

    Namun ketika mereka menikmati minuman dawet itu, datanglah seorang yang berwajah bringasan menghampiri pedagang dawet itu.

    “Hari ini aku tidak mau lagi makan janji”, berkata orang itu kepada pedagang dawet.

    “Sepekan ini hujan tidak pernah surut, daganganku tidak banyak laku”, berkata pedagang itu.

    “Pekan lalu encokmu sering kumat, sekarang kamu salahkan hujan”, berkata orang itu dengan suara keras.

    “Seperti itulah kenyataannya, aku tidak berbohong”, berkata pedagang itu dengan wajah begitu memelas.

    “Bohong, jangan sembunyi dibelakang wajah memelasmu”, berkata orang itu sambil mencengkeram leher pedagang tua itu.

    “Maaf kisanak, berapa hutang Paman ini ?”, berkata Raden Wijaya tidak tega melihat perlakuan kasar dari orang yang baru datang itu.
    Orang itupun melepaskan cengkeramannya, memandang raden Wijaya dari atas sampai kebawah.

    “Ternyata ada tuan muda yang berbaik hati untuk menjadi pahlawan penolong”, berkata orang itu kepada Raden Wijaya.

    • KAMSIA…..he-hee

      • Ha…..!?!?%#@%$# (kaget)
        “seorang yang berwajah bringasan” itu ternyata Ki Gundul
        hadu……..
        dikasih berapa Ki sama Raden Wijaya?
        he he he …, mblayu…..

    • eh…, lupa…
      kamsiiaaaa,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

      • sepertinya masih ada yang gonda-gandul, tetapi disenggrek kok gak bisa
        blom mateng rupanya

  10. “Aku hanya bertanya, berapa hutang paman ini”, berkata kembali raden Wijaya.

    “Sebulan yang lalu hutangnya tiga karung jagung, apakah kamu ingin membantu melunasinya ?”, bertanya orang itu kepada Raden Wijaya.

    “Sekeping emas ini berharga lebih dari tiga karung jagung, berikan sisa karung jagung untuk paman ini”, berkata Raden Wijaya sambil memberikan sekeping emas kepada orang itu.

    Orang itu langsung menerimanya dengan tertawa menyeringai.

    “Hutangmu sudah lunas, kelebihannya akan aku antar beberapa karung jagung kepadamu”, berkata orang itu yang kemudian hendak pergi meninggalkan pedagang tua itu.

    “Aku tidak perlu kelebihan apapun, aku akan membawa putriku kembali kerumahku”, berkata pedagang tua itu.

    “Akan kusampaikan pada Tuanku”, berkata orang itu sambil berbalik badan berjalan pergi menninggalkan pedagang tua itu.

    “Terima kasih anak muda, sekarang aku yang berhutang kepadamu”, berkata pedagang tua itu.

    “Paman tidak usah merasa berhutang kepadaku, anggap saja ini hadiah dariku”, berkata Raden Wijaya.

    “Bolehkah aku mengetahui siapa nama tuan muda ?”, bertanya pedagang tua itu.

    “Namaku Sanggrama”, berkata Raden Wijaya sambil sedikit tersenyum.

    “Sanggrama putra Dyah lembu Tal, cucu Paduka Gurusuci Darmasiksa”, kembali pedagang tua itu bertanya.

    “Paman benar, ayahku Lembu Tal, kakekku Gurusuci Darmasiksa”, berkata Raden Wijaya penasaran dari mana pedagang tua itu mengetahui dirinya.

    “Gusti Yang Maha Agung, ternyata tuan muda putra tuanku Dyah Lembu Tal”, berkata Pedagang tua itu sepertinya penuh kegembiraan.

    “Paman sepertinya telah mengenal ayahku”, berkata Raden Wijaya penuh ingin tahu.

    “Dulu aku pernah bertugas di istana, sebagai pekatik ayahmu”, berkata pedagang tua itu sepertinya setengah melamun mengenang masa mudanya.
    “Siapa nama Paman, biar kelak bertemu ayahku akan kuceritakan pertemuan kita ini”, berkata Raden Wijaya.

    “Namaku Sungut, ayahmu pasti mengenalnya”, berkata pedagang tua itu yang menyebut namanya sebagai Sungut.

    “Kenapa paman tidak bekerja lagi sebagai pekatik ?”bertanya Lawe tertarik mendengar pembicaraan Raden Wijaya dan Sungut pedagang tua itu.

    Sungut memandang Lawe, dan tersenyum. “Ketika tuanku Dyah Lembu tal meninggalkan istana, beliau banyak memberikan bekal kepadaku, pesannya agar aku bisa merubah nasib menjadi seorang saudagar”, berkata Sungut sedikit bercerita.”Tapi dasar aku pemalas, bekal dari ayahmu kuhabiskan dengan hidup berpoya-poya sampai habis tak tersisa”, berkata Sungut sambil sedikit tersenyum getir.

    “Dan siapa orang tadi yang menagih hutang kepada Paman”, bertanya Raden Wijaya merasa bertambah kasihan kepada Sungut.

    “Itulah buruknya nasibku, sebulan yang lalu aku jatuh sakit. Dengan terpaksa aku berhutang sekarung jagung untuk membeli obat sekaligus sebagai bahan makanan, berharap dapat melunasi setelah aku sehat”, bercerita kembali sungut. Pekan lalu hutangku dilipatkan menjadi tiga karung dan Juragan Susatpam mengambil paksa putriku sebagai jaminan atas hutang yang belum dapat kulunasi”

    “Hutangmu sudah kulunasi lebih dari cukup, apakah Juragan itu akan melepaskan putrimu ?”, bertanya Raden Wijaya.

    “Itulah yang aku khawatirkan, Juragan itu yang kutahu sudah lama menginginkan putriku”, berkata Sungut penuh kekhatiran.

    “Aku dapat mengantar Paman kerumah Juragan itu”, berkata Raden wijaya.

    “Sifatmu sama persis dengan ayahmu, begitu peduli”, berkata Sungut kepada Raden Wijaya.

    “Kali ini aku mewakili ayahku untuk menolong sahabatnya”, berkata Raden Wijaya sambil memegang bahu Sungut.

    “Tuanku Dyah Lembu Tal adalah junjunganku”, berkata Sungut meluruskan ucapan “sahabat” dari Raden Wijaya.

    “Aku merasakan persahabatan diantara kalian”, berkata Raden Wijaya

    “Yang kamu katakan adalah kebenaran, tuanku Dyah Lembu Tal menyikapi diriku sebagai seorang sahabat ketimbang sebagai seorang pekatiknya, itulah yang aku rasakan”, berkata Sungut sambil menatap jauh kedepan, entah apa yang tengah direnungkan. Mungki masa-masa kenangan ketika ia masih sebagai seorang pekatik istana.

    Akhirnya Sungut tidak dapat menolak permintaan Raden Wijaya yang akan menemaninya mengantarnya kerumah Juragan Susatpam untuk mengambil putrinya yang sudah sepekan menjadi barang jaminan.

    Diputuskan Lawe ikut bersama Raden Wijaya, sementara Mahesa Amping masih bersama Dara Petak dan Dara Jingga kembali ke istana Saunggaluh.

    Sungutpun segera membenahi dagangannya. Bersama Raden Wijaya dan Lawe mereka berangkat ke Padukuhan tempat tinggal Sungut.

  11. Nama : SUSATPAM
    Tempat, tanggal Lahir : Saunggaluh, 30 September 1273
    Jabatan : Juragan Sapi
    Hobi : ngumpulin cewek cantik

    Maaf, Susatpam yang ini wajahnya keren abis……..

    • pada saat baca ceritanya, saya masih belum ngeh…. dengan Juragan Susatpam.
      setalah membaca komen Pak Lik “dalang” Kompor baru tahu aku.

      Hadu……
      dapat peran saja kok ya juragan sapi, terus tukang ngumpulin cewek, yang cantik lagi.
      seneng sih…., tapi….

      hadu…..
      nasib……..

      embuh ahhhh
      manut dalange wae

      • rontal berikut-nya…..peran ki keren kujang GUNDUL,
        akan di lanjutkan sama susatpam….he-hee-heeeeee

        • hayo….bledekan,

          berapa rontal pak DALANGe kasih peran ki susatpam…??

          • jan cespleng kamsiaaaa

          • kamsiaaaa jan cespleng

  12. Pak Satpam, Buku Sejarah Singosari Jilid 5 sampun kuandel tenan lho, nopo sampun bade tamat.

    • Sekedap malih ki

      • apa nunggu sampe ki Susatpam cari mangsa baru….hikss

        KAMSIA……..(tanpa bold dan italic)

  13. haduh….baru pulang dari bengkel..
    Selamat malam kadang sedoyo,
    Selamat malam sabtuan, sesok hari bisa tidur pagi lebih lama….hehehe

  14. Kasihaaaannn Pak Satpam, kebagian peran orang jahat.

    Ikut nebak, Ki Susatpam kelak akan menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar seperti Ki Kujang Gundul. Apa benar begitu Ki Kompor ? Mana lanjutnya…..!!!

  15. Padukuhan kroyak memang tidak begitu jauh, disitulah Sungut bermukim sejak masih menjadi seorang pekatik istana. Keberadaan rumahnya dapat bercerita bahwa dulu rumah itu mungkin sebuah rumah milik orang yang cukup berada. Rumah seorang pekatik istana.

    “Inilah rumahku”, berkata Sungut ketika mereka sampai dirumahnya.

    Tidak lama mereka berada dirumah itu, setelah meletakkan dan menyimpan barang dagangan, mereka langsung menuju rumah Juragan Susatpam yang hanya berjarak beberapa rumah.

    Empat orang pesuruh Juragan Susatpam terlihat turun dari pendapa ketika melihat Sungut, Raden Wijaya dan Lawe memasuki halaman muka Juragan Susatpam.

    “Mau apa kalian datang kemari”, berkata seorang yang sudah dikenal Raden Wijaya yang tadi dipasar menemui Sungut menagih hutang.

    “Aku datang untuk menjemput anakku”, berkata Sungut.

    “Anakmu tidak perlu dijemput, ia sudah merasa betah tinggal dirumah ini”, berkata orang itu.

    “Bohong, anakku pasti menderita tersiksa dirimu ini”, berkata Sungut dengan suara keras.
    “Sudah berani kamu berkata keras kepadaku ?”, berkata orang itu dengan mata mendelik.

    “Kisanak, bukankah hutang paman ini sudah dilunasi ?”, berkata Raden Wijaya mencoba mengingatkan orang itu.

    “Sekarang aku tidak bicara lagi tentang hutang, yang kukatakan bahwa anaknya sekarang sudah tidak mau pulang lagi kerumahnya”, berkata orang itu sepertinya hanya ingin memutar-mutar persoalan.

    “Jangan-jangan sekeping uang emasku tidak sampai ke tuanmu ?”, berkata Raden Wijaya kepada orang itu.

    “kalau itu memang benar, maumu apa ?”, berkata orang itu.

    “Aku akan memintanya kembali, dan langsung akan menyerahkannya kepada tuanmu”, berkata Raden Wijaya.

    “Dengan cara apa kamu meminta kepadaku ?”, berkata orang itu menantang

    “Cukup dengan kedua tanganku ini”, berkata Raden Wijaya.
    “Kamu mau menantangku ?”, berkata orang itu.

    “Dengan sangat terpaksa bila itu yang kamu inginkan”, berkata raden Wijaya penuh ketenangan.

    “kamu belum mengenalku anak muda”, berkata orang itu telah mempersiapkan dirinya. Sementara tiga orang kawannya memberi tempat agak bergeser kesamping.

    • hup…!!!
      Langsung dapet satu rontal

      • Kamsiaaa… !!!

        • He he he …
          kamsiaaaa …siaaaa….siaa…. (suaranya menggema sapai berkali-kali)

  16. “Aku mau mencoba mengenalmu”, berkata raden Wijaya yang ikut-ikutan pura-pura sepertinya tengah mempersiapkan dirinya.

    “Kamu akan menyesal setelah tahu siapa diriku”, berkata orang itu sambil langsung menerjang Raden Wijaya dengan sebuah tendangan meluncur.

    Raden Wijaya telah menggeser dirinya kesamping. Dan tendangan itupun menjadi luput.

    Dengan beringas orang itu mengejar Raden Wijaya dan langsung meninju dagu Raden Wijaya dengan pukulan dari bawah keatas. Kembali Raden Wijaya bergeser sedikit mundur. Tinju itupun hanya mengenai angin kosong.

    Mendpatkan dua serangannya kembali menemui tempat kosong, orang itupun langsung melepas senjatanya. Sebuah golok berukuran sedang melayang membabat arah pinggang Raden Wijaya.

    Sungut yang melihat hal itu terperanjat menahan napas, sekejab dirinya merasakan telah berbuat dosa telah membawa putra junjungannya masuk kedalam masalah pribadinya.

    Tapi Sungut dapat bernapas lega, Raden Wijaya dengan gesit menggeliat meliukkan badannya. Kembali serangan golok itu melewati ruang kosong.

    “Keluarkan senjatamu”, berkata orang itu penuh kemarahan karena serangannya selalu luput menemui tempat kosong.

    “Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan menghadapimu dengan kedua tanganku ini ?”, berkata raden Wijaya sambil tersenyum memandang orang itu yang terlihat sudah sangat marah.

    Melihat ketenangan Raden Wijaya, orang itu nampaknya sudah menjadi semakin marah.

    “jangan salahkan aku bila kamu akan binasa tercincang disini”, berkata orang itu sambil menerjang raden Wijaya dengan goloknya.
    Golok itupun seperti terbang mengejar leher Raden Wijaya.

    Kembali Sungut menahan nafasnya, ia masih meragukan apakah raden Wijaya dapat keluar dari serangan orang itu yang dikenal sebagai salah satu seorang pengawal Juragan Susatpam yang paling beringas, paling kejam. Semua orang di Padukuhan sudah mengenalnya dan tidak pernah berani berurusan apapun dengan orang itu.

    Lagi-lagi Sungut dapat bernafas lega, dilihatnya Raden Wijaya kembali dapat menghindari serangan orang itu dengan merendahkan dirinya. Dan kali ini Raden Wijaya bukan hanya menghindar, sambil merendahkan dirinya menghindari ayunan golok, kaki kanan raden Wijaya langsung menyodok perut orang itu yang langsung terlempar kebelakang.

    Ternyata Raden Wijaya hanya menggunakan sedikit kekuatannya, hanya sebatas kekuatan wadak. Namun akibatnya orang itu terlihat menahan sakit. Perutnya terasa mual dan sesak.

    • Hadu…juragan Susatpam kok belum keluar juga ya ???

      Sabarrrrrr….hehehe

      • Juragan Susatpam sudah tidur Ki
        begitu lihat si Ilham datang, langsung menuju ke peraduannya

    • Sekali lagi……. kamsiaaaa !!!

  17. kok belom pindah GANDOK….apa isih kurang uakeh pak Satpam,

    • nek kurang sak baris tok…..cantrik SIAP nambahi, hiksss

  18. Ayo ayo ajar terus.

  19. upper cut sudah keluar,…..setelah itu terserah Ki Pak Dalang

    • cap aper sudah keluar , menyusul swing kanan kiri duueeeeessssss, blep, kamsiiia

  20. Kata si Ilham,

    Juragan Susatpam mengintip dari pringgitan pertempuran anak buahnya melawan Raden Wijaya.

    Melihat anak buahnya menjadi bahan permainan Raden Wijaya, Juragan Susatpam menjadi gemetar ketakutan, Akhirnya melarikan diri lewat pintu butulan di belakang.
    Dia bermaksud bersembunyi di kedung sungai yang mengalir di dalam hutan. Sesampainya di sana ternyata ada orang yang sedang berendam di kedung itu, mengira bahwa orang itu adalah anak buahnya, Ki Juragan Susatpam langsung menghardik mengusir orang itu.

    Ketika orang yang sedang berendam memalingkan wajahnya, paras Juragan Susatpam berubah pucat pasi bagaikan kehabisan darah.
    Ternyata orang yang berendam adalah Ki Lurah Gembleh.
    Masih belum hilang bekas luka Juragan Susatpam akibat dihajar ajian BOLD dan italic oleh Ki Lurah Gembleh bulan lalu.
    Langsung balik badan, Juragan Susatpam lari sipat kuping menjauhi tepian kedung itu.

    Ki Lurah Gembleh nyengir sambil bergumam :
    ” Moga2 Juragan Susatpam tidak bertemu dengan Kujang Gumdul,
    pancen mesak’e tenan bocah siji kae….hikksss”

  21. “Hajar pemuda sombong ini”, berkata orang itu meminta ketiga kawannya membantu.

    “Biarkan kawanmu bermain sendiri”, berkata Lawe menghadang ketiga orang pengawal Juragan Susatpam yang terlihat akan bergerak untuk membantu kawannya.

    “Kalau begitu kamu dulu yang akan menjadi barang mainan kami”, berkata salah seorang dari ketiga pengawal itu langsung melayangkan tamparannya.

    Lawe bukan orang yang suka bermain-main. Maka sambil mengegoskan wajahnya miring sedikit menghindari tamparan itu, langsung tangannya membalas tamparan itu juga dengan sebuah tamparan yang sangat keras dan cepat. Akibatnya sangat fatal sekali, orang itu langsung tersungkur kesamping dengan pipi berwarna biru sembab. Bumi sepertinya terasa berputar, orang itu tidak bisa bangkit dan sepertinya langsung pingsan.

    “Ayo kalian berdua maju bersama”, berkata Lawe kepada dua orang pengawal yang memang tengah bersiap menyerangnya.

    Kedua orang itupun langsung menyerang Lawe bersama-sama. Sebuah golok terlihat mengayun kearah leher Lawe, golok lain tengah menyambar pinggangnya.

    Terlihat wajah Lawe tidak mengesankan kecemasan, dengan tenang merendahkan badannya sekaligus bergeser kesamping sambil kakinya menghentak kedada orang yang semula menyerang lehernya.

    Bukkk!!!

    Orang yang terkena tendangan itu terpental merasakan dadanya sesak dan jatuh dibumi sepertinya susah untuk berdiri kembali.

    Melihat kawannya jatuh dalam satu gebrakan, lawan Lawe menjadi sedikit gusar. Tapi golok ditangannya sudah terlanjur terlepas dari sarungnya, dan perasaan malunya yang membuat dirinya terpaksa harus terus kembali menyerang. Kali ini dengan setengah semangat menyerang kembali Lawe yang masih bertangan kosong.

    Lawe melihat kegusaran hati lawannya, maka serangan lawannya yang mengarah kepundaknya tidak dengan segera dihindarkan.

    Hampir saja orang itu merasa gembira bahwa serangannya akan berhasil melukai pundak Lawe. Namun hal tak terduga telah terjadi. Belum lagi golok itu menyentuh kulit pundak, Lawe dengan cepat bergeser setapak.

    Bersamaan dengan itu tangannya tepat menghantam pergelangan tangan lawannya. Maka yang terjadi golok ditangan orang itu terlempar tidak mampu dipertahankan lagi.

    Belum lagi lepas rasa terkejutnya, sebuah tamparan keras langsung menghantam rahangnya. Akibatnya sudah dapat diterka, orang itu langsung limbung tersungkur ketanah merasakan tamparan tangan Lawe yang sudah terlatih.

  22. Kok Juragan Susatpam masih belum denger ada keributan dihalaman rumahnya ?????

    Sabar…..heheheheheheheheheh

    • Dimana … dimana…
      Juragan Susatpam bersembunyi…..
      he he he ….

      • juragan suatpam sedang disentong tengah

        • sstt….., pun seru-seru ki

          • sstt….., pun saru-saru ki, eeh kleru ding…..hikss

  23. HADIR eiiitt…..KAMsia sebelom dan sesudahnya.

  24. Assalamu’alaikum wr wb, ………..
    Mengisi antrian sore hari buat Ki Kompor.

    • Waalaikum salam wr wb
      sugeng dalu Ki Truno

  25. Juragan Susatpam tidak peduli dengan keributan di halaman rumahnya karena sedang mabuk dikerumuni cewek-cewek cantik yang dikumpulkannya.

  26. sugeng dalu, nunggu karo nginjen mbok menowo ono kiriman sako pak dalang

  27. Hadir, nggoleki Ni Sinden..

  28. Si Ilham ketiduran rupanya

    hadu…
    nguantuq aku
    bobo ah…

  29. alhamdulillah, akhir-akhir ini koq gampang ngantukan.
    Sugeng dalu kadang sedoyo…….

  30. Sementara itu lawan Raden Wijaya telah kembali melakukan serangannya terlihat menjadi sangat penasaran, semua serangannya selalu dapat dihindarkan oleh Raden Wijaya dengan begitu mudahnya.

    Dan begitu belihat bahwa Lawe telah menyelesaikan permainannya, Raden Wijaya pun langsung ikutan ingin menyudahi permainannya.

    Maka ketika sebuah serangan yang mengayun nyaris mengincar dadanya, dengan kecepatan yang tidak terduga dan tidak bisa diikuti oleh pandangan wadag biasa. Tiba-tiba saja golok itu telah berpindah tangan.

    Bukan main kagetnya orang itu, golok ditangannya telah berpindah tangan.

    Belum lagi lepas rasa terkejutnya, sebuah tendangan telah menghajar perutnya.

    Bukk!!!!

    Orang itu meringsek menahan rasa sesak dan nyeri, isi perutnya terasa terbalik ingin muntah. Dan tiba-tiba saja senjata itu telah mengancam tuannya sendiri.

    “Berikan kembali sekeping emas milikku”, berkata Raden Wijaya sambil menempelkan golok tajam diatas kulit leher orang itu.

    Gemetar orang itu membayangkan senjatanya yang disadari sangat tajam dan telah diwarangi dengan sedikit racun itu akan melukai dirinya sendiri.
    Maka tanpa menunggu apapun, orang itu segera mengeluarkan sekeping emas dan memberikannya kepada Raden Wijaya.

    Ternyata apa yang terjadi di halaman telah disaksikan semuanya oleh Juragan Susatpam dari atas Pendapa rumah. Terkejut bahwa empat orang pengawalnya yang selama ini diupah untuk menjaga dan berlindung dibelakangnya telah dapat dikalahkan dengan begitu mudahnya.

    Dengan tubuh gemetar penuh rasa takut, dirinya seperti terpaku ditempat manakala Raden Wijaya, Sungut dan Lawe datang menghampirinya. Apalagi dilihatnya Raden Wijaya masih menggenggan sebuah golok telanjang.

    “Kami datang untuk membayar hutang, kembalikan putri Paman ini”, berkata Raden Wijaya ketika sudah mendekati Juragan Susatpam yang terlihat masih gemetar.

    “Tidak ada hutang lagi, ambilah apa yang kalian inginkan. Asal jangan menyakiti diriku”, berkata Juragan Susatpam yang ternyata punya nyali begitu kecil.

    “Hutang harus dibayar”, berkata raden Wijaya sambil melempar sekeping emas dihadapan Juragan Susatpam.

    Sementara itu Sungut sudah tidak sabar lagi, tahu apa yang harus dilakukannya langsung masuk kerumah itu untuk mengambil putrinya.

    Tidak lama berselang Sungut telah keluar dari pintu rumah sambil menggandeng seorang gadis yang ternyata anaknya yang selama ini disekap dirumah Juragan Susatpam.

    • Terpaksa deh……!

      • terpaksa gagal….maning !!??

  31. Kasian deh Ki Susatpam. Hil hiks

    • pak Susatpam tunggu lain kali lagi, masih panjang ceritany,a, KAMSIIIAAAAA PAK DALANG

      • Sabar saja pak Juragan, nanti kalau semua sudah kebagian tentu giliran Ki Juragan.

        KAMSIAAAA………..pak Dhalang.

  32. Tidak bisa dipungkiri, anak gadis Sungut ternyata seorang gadis yang berwajah cukup jelita.

    “Pantas Juragan Susatpam terpikat”, berkata Raden Wijaya ketika sempat melirik anak gadis Sungut yang cantik jelita.

    Tapi lirikan mata Raden Wijaya yang sekejab adalah sebuah malapetaka untuknya.
    Apa yang telah terjadi ????

    Ternyata sekejab itu telah dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh Juragan Susatpam yang dengan cepat dan tidak diduga dan diperhitungkan telah melemparkan tiga buah taji beracun dari jarak yang begitu dekat ketubuh Raden Wijaya.

    Setinggi apapun ilmu Raden Wijaya yang telah menguasai ilmu meringankan tubuh dan dapat bergerak dengan cepat tidak juga dapat mengelak dari sasaran.
    Raden Wijaya bukan main terkejutnya, tidak menyangka ada serangan yang begitu cepat kearahnya. Dua buah taji yang mengarah pada jantung dab dihindari lagi, langsung menancap di bahunya.

    Setelah melempar senjata rahasianya, terlihat Juragan Susatpam telah melenting jauh melompati pagar pendapa dan berdiri sambil tertawa keras merasa serangannya dapat mengenai sasarannya.

    “Kalian memang orang-orang bodoh yang mudah tertipu, aku bukan orang lemah seperti yang kalian sangka. Dan racun kelabang lorengku segera akan mengambil nyawamu”, berkata Jauragan Susatpam sambil tertawa ditengah halaman rumahnya.

    “Iblis keji”, berkata Lawe yang melihat semua itu langsung melompat kehalaman menerjang Juragan Susatpam dengan penuh kebencian.

    Ternyata Juragan Susatpam bukan orang lemah seperti yang diduga. Dengan sigap dapat mengelak dan berhindar dari serangan Lawe yang telah mengeluarkan dua buah belati senjata andalannya. Juragan Susatpam bahkan dapat melakukan serangan balik yang tidak kalah keras dan berbahayanya. Terlihat Juragan Susatpam telah menyerang Lawe dengan sebuah keris berlekuk Sembilan yang cukup panjang.

    Pertempuran terlihat begitu seru dan sangat menegangkan. Juragan Susatpam ternyata dapat mengimbangi ilmu Lawe.

    Sementara itu Raden Wijaya yang menyadari bahwa taji yang menancap dibahunya mengandung racun yang kuat langsung mencabut taji itu. Darah segar keluar dari bahunya. Raden Wijaya terlihat langsung duduk bersila sempurna. Mengerahkan tenaga murninya untuk menahan menjalarnya racun yang telah menyusup didalam aliran darahnya.

    “Jangan khawatirkan diriku, lekaslah ke istana untuk menemui kawanku yang bernama Mahesa Amping”, berkata Raden Wijaya yang tidak mengkhatirkan dirinya, tapi mengkhawatirkan Lawe yang tengah bertempur dengan Juragan Susatpam.

    Raden Wijaya meski dalam keadaan terluka masih dapat melihat kestaraan ilmu Juragan Susatpam yang ternyata berada beberapa lapis dari ilmu Lawe.

    • Ternyata dugaan semua orang tentang Juragan Susatpam melesettttt…………..!!!!!

      lumayan….kontrak lakone diperpanjang hehehe 3x (bergemaa)

      • satu rontal lagi plis….. !
        biar bisa dibundel

  33. Dengan bimbang terpaksa Sungut menuruti permintaan Raden Wijaya. Terlihat Sungut telah keluar dari gerbang halaman rumah Juragan Susatpam sambil menuntun anak gadisnya.

    “Kembalilah kerumah, aku akan segera ke istana”, berkata Sungut melepas anaknya pulang kerumah, sementara ia sendirii telah melangkah setengah berlari menuju istana.

    Ketika tiba di Istana, sebagai seorang yang pernah lama bekerja di Istana, Sungut tidak banyak menemui kesulitan dan tahu kemana harus bertanya.

    Kepada seorang pengawal, Sungut bercerita apa yang telah terjadi.

    “Tamu Baginda Raja terkena racun, dan sekarang Paman ingin bertemu dengan kawannya yang bernama Mahesa Amping”, bertanya pengawal itu menyimpulkan perkataan Sungut.

    “Benar, itulah maksud kedatanganku”, berkata Sungut membenarkan.

    “Mataku seperti tidak percaya melihat kau Sungut ada di istana ini”, berkata seorang pengalasan yang ternyata mengenal Sungut, seorang yang nampaknya sudah tua seumur Sungut sendiri.

    “Kalian ternyata sudah saling mengenal, kebetulan sekali tolong kamu antar paman ini”, berkata pengawal itu kepada orang yang telah mengenal Sungut memintanya membantu mengantar ke Pasanggrahan tempat yang biasa seorang tamu agung beristirahat dan menginap selama di Istana.

    Heran sekali Mahesa Amping ketika melihat Sungut yang ia tahu tadi siang telah pergi bersama Lawe dan Raden Wijaya. Panggritanya yang tajam sudah melihat sesuatu telah terjadi.
    Sungut pun dapat mengenali Mahesa Amping sebagai salah satu kawan Raden Wijaya.

    “Apakah kamu yang bernama Mahesa Amping ?”, bertanya Sungut mencoba meyakinkan dugaannya.

    “Benar, aku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping dengan cepat.

    Mengetahui bahwa orang yang akan ditemui adalah Mahesa Amping, maka Sungutpun langsung bercerita apa yang telah terjadi.

    “Antar aku kesana”, berkata Mahesa Amping kepada Sungut.
    Ketika mereka tengah mendekati pintu gerbang istana, seorang pengawal yang sebelumnya telah bertemu dengan Sungut menghampiri mereka.

    “Kami akan mengirim beberapa prajurit”, berkata pengawal itu.

    “Terima kasih”, berkata Mahesa Amping tanpa berhenti dan terus berjalan setengah berlari keluar dari pintu gerbang istana.

    Cerita tentang Raden Wijaya yang terluka terkena racun ternyata begitu cepat menjalar beritanya di Istana. Hingga akhirnya sampai ketelinga Baginda Raja Ragasuci.

    • Enggak terasa….sudah masuk gandhok anyer….

      ciat !!!, ciaaaaaat !!!
      wussssss !!!
      sebuah pukulan angin mencoba mengibas apapun yang ada digandhok anyer…..takut kalau ada racun kelabang loreng nempel di selarak …hehehe 3x bergema

      • Licik dan berbahaya juragan Susatpam.
        Jangan dilepaskan, hajar biar kapok !! ( He..he maaf pak Satpam).

  34. Sahabat alm Ki Arif Sujana semua,.

    Putri almarhum, besok Senin 26 Des 2016 akan menikah di Puspitek Serpong. Bagi sabar yang berkenan waktu dan kesempatan mohon bisa hadir.

    Berikut undangannya:

    “Bismillahirrahmaanirrahim,

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu

    Tanpa mengurangi rasa hormat, izinkan kami mengundang rekan-rekan dan sahabat untuk hadir dan memberikan doa restu pada acara pernikahan kami, kalian senang melihat kami senang, dan yg turut bahagia melihat kami behagia,

    (Mutiara Sufi & Dwi Giovani ).

    Hari : Senin,

    Tanggal : 26 Desember 2016.

    Waktu :
    AKAD : 08.00 – selesai ( outdoor dresscode : putih-putih ).
    Resepsi : 12.00 – 16.00 (indoor drescode : pich, peach, salem / coklat ).

    Tempat :
    “Balai Pertemuan PUSPITEK”
    Jl. Perum Puspitek No.3J, Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten 15314

    Link Maps :

    https://www.google.co.id/maps/place/Gedung+Pertemuan+PUSPIPTEK,+Jl.+Perum+Puspitek+No.3J,+Setu,+Kota+Tangerang+Selatan,+Banten+15314/@-6.3566281,106.6742044,13z/data=!4m2!3m1!1s0x2e69e44d138e3935:0x477c7e783d2c73de?hl=en

    Merupakan Suatu Kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara – Saudari dan sahabat berkenan hadir di acara pernikahan kami.

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    ( Mutiara Sufi & Dwi Giovani ).

    Note :
    ( AKAD NIKAH Outdoor, dresscode : putih-putih ).
    (RESEPSI Indoor, drescode : pich, peach, salem / coklat ).

    whatsapp / LINE admin
    penyelenggara acara : 085881964809

    Mohon di sebarkan ke group atau halaman terkait lainnya, mohon doa untuk kelancaran, semoga bahagia melihat kami berbahagia. Turut senang melihat kami senang. undangan real menyusul. Berkabar dan beri waktu balas chat bila ingin di kirimkan.. Terimakasih..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: