SFBDBS_05

<<kembali ke SFBdBS-04 | lanjut ke SFBdBS-06 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 30 Agustus 2011 at 00:01  Comments (389)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs_05/trackback/

RSS feed for comments on this post.

389 KomentarTinggalkan komentar

  1. sugeng enjing, matur nuwun

  2. wah….
    pendopo sudah penuh, halaman depan penuh,
    sekarang penonton sudah meluber ke halaman samping kanan
    hmm…..
    padahal baru sedikit lewat tengah malam

  3. Selamat pagi, selamat liburan sabtu.

  4. Hari memang sudah diujung malam, semburat warna merah sudah muncul mencuat diujung timur. Tidak ada semilir angin dan bumi masih terlihat remang dalam kegelapannya.

    Terlihat kuda Ki Mantul telah keluar dari gerbang Kotaraja. Kuda itu seperetinya sudah mengenal setiap tapak yang dilalui. Menyusuri jalan tanah yang panjang, kadang memotong arah jalan singkat di bulakan panjang dan padang ilalang.

    Barulah disaat matahari sudah naik tinggi kuda Ki Mantul sudah hampir mendekati tepian hutan Ranggan, nama sebuah hutan tempat Raja dan para bangsawan Saunggaluh biasa berburu.
    “Syukurlah Ki Mantul telah kembali tanpa halangan apapun”, berkata Ragasuci setelah mendengar laporan dari Ki mantul yang baru kembali dari Kotaraja.
    “Semula Ki Lurah Gembleh akan mengirim para prajurit pengawal istana, tapi Patih Manohara telah mengambil alih urusan ini”, berkata Ki Mantul bercerita tentang rencana semula dari Ki Lurah Gembleh.
    “Mungkin Patih Manohara mempunyai perhitungan sendiri”, berkata ragasuci tanpa prasangka apapun.
    Namun ketika hari sudah mendekati senja di hutan Ranggan, prajurit yang ditunggu tidak jua datang.
    “Harusnya mereka sudah sampai di hutan ini”, berkata Ki mantul merasa tidak enak hati takut disangka tidak melakukan tugas dengan baik.

    “Ada sesuatu yang aneh”, berkata ragasuci sambil memberi tanda kepada semua yang ada di pendapa itu.
    Dan ketika hari telah melewati senja, para prajurit yang diharapkan datang tidak juga terlihat.

    Malampun telah menyelimuti hutan Kranggan. Ki Mantul telah menerangi panggung Pendapa dengan lampu klenting menempel disudut tiang pendapa. Dua buah oncor dari minyak jarak juga dipasang didua sudut kolong panggung dimana para tawanan terikat di tiang-tiang penyangganya bersesakan.

    Rumah singgah itu nampak begitu sepi, penghuninya sudah masuk semua dibiliknya masing-masing. Suara daun kering yang tertiup angin dihalaman muka rumah panggung itu kadang mengisi kesepian malam diselingi derik suara binatang malam menjadikan rumah singgah di tepi hutan itu seperti sangat mencekam. Bunyi burung clepuk terdengar jelas dan masih terdengar sayup pergi semakin menjauh, mungkin tengah mencari anak-anak tikus yang tersasar terlepas dari induknya. Disudut hutan lain terdengar pekik kodok buduk yang perlahan masuk sedikit demi sedikit dimulut seekor ular dahan sebagai salah satu bunyi perangkap alam di kehidupan malam di hutan Kranggan.

    Sesosok bayangan dari kegelapan hutan terlihat merayap mendekati kolong panggung.

    “Dimana Bango Samparan !!”, berkata sesorang yang datang dari kegelapan hutan itu mengguncang membangunkan salah satu tawanan.

    “Carilah sendiri”, berkata tawanan itu dengan perasaan kesal.

    • kamsia dulu ach………(ngeduluin Paklek Satpam)

      • dulu kamsia ach………(Paklek ngeduluin Satpam)

        • kamsa ach dulu……… (Satpam ngeduluin Paklek)
          he he he ….

  5. selamat DATANG ki lurah GEMBLEH, selamat bergabung
    ning ronTAL persembahan ki dalang MAHESA.KOMPOR.

    • buat si ILHAM selamat berLIBUR sabtu-minggu….KAMSIA,

    • he he he …
      ki GundUL jadi iri nih
      Ki Gembleh baru datang sudah jadi lurah
      memang repot mencarikan peran ksatria dengan nama Ki Gundul,
      yang paling bisa itu penjahat, ha ha ha …. (ora pareng duko lho)
      seperti satpam juga tidak bisa dijadikan peran dalam cerita, masa jaman dulu sudah ada satpam?
      sehingga tidak ada kemungkinan mendapat peran penjahat.

      siapakah sesosok bayangan tersebut…?
      tunggu sebentar, Ki Kompor sedang menunggu si Ilham yang sedang ke pakiwan

      • hikss, bentol juga pak SATPAM….sesuk ae tak ganti
        jeneng Aaah,

        mung siji sing tak suwun, AJA di ceGAT, AJA di seneni

        • Menurut penerawangan batin saya, sesosok bayangan tersebut adalah Tumenggung Suro GundUL yang sedang mencari Ni Sinden Ken Woro Ciblon.
          Krena habis kesandung oyot rimang maka jadi kebingungan sendiri, malah mnanyakan Bango Samparan.
          (mungkin oyotnya dikira sesuketan)

          berhubung sudah lingsir wengi maka,
          Asli tanpa bold atawa italic babarblas.

  6. Hadiirrr…..!!
    Setia menunggu wedarnnya Ki Kompor.

    • idem dito.

      • haddiiiiirrr , idem ditunggu

        • Oiii Ki Bancak, ditunggu Ki Kompor.
          apa pak Modin sudah datang….????

          he…he…he…
          selamat sore.

          • modine sawek ngumpulke tonggo tepalih, mbok bilih wonten ingkang tepang kaliyan foto ingkang dipampangaken pak Polri

  7. MINGGU pagi…..hadir siTIK terus bablas lagi,

    ( tanpa bold tanpa italic )

    • Minggu sore…..hadir sitik terus bablas lagi,

      (isih wedi karo pak Satpam, rung wani ngebold apa ngitalic)

  8. Ki Honggopati…………
    harak inggih sawi wilujeng to Ki….????

    • O…, iya ya….
      Ki Honggopati juga sudah lama tidak terlihat hadir di padepokan
      hmm…..
      mudah-mudahan sehat-sehat saja.

  9. hup…..baru pulang dari rumah mertua,
    siap-siap menuntaskan “sesosok bayangan” hehehe 1000x (bergema)

    • Oke … oke … oke …

  10. “Warangan keris ini sangat kuat, katakan atau kamu mati sia-sia”, berkata orang itu sambil menempelkan sebilah kerisnya dileher tawanan itu.

    Keringat dingin terlihat keluar dari dahi tawanan itu membayangkan sedikit goresan melukai kulit lehernya.

    “Kakang Bango Samparan dibawa keatas”, berkata tawanan itu.

    Orang itupun meninggalkan tawanan itu berjalan menuju tangga panggung pendapa.
    Namun baru saja kakinya melangkah pada anak tangga pertama, ada suara menegurnya dari belakang.
    “Orang yang kau cari ada diatas dijaga oleh dua orang kawanku”, berkata orang dibelakang yang tidak lain adalah Mahesa Amping.
    Ternyata setelah menunggu para prajurit yang akan datang untuk membawa para tawanan hingga sampai lewat senja tidak juga muncul, maka semua telah sepakat ada sesuatu yang harus diwaspadai. Itulah sebabnya Bango Samparan sebagai mata rantai yang sangat penting itu dibawa keatas panggung dimasukkan disalah satu bilik dan dijaga ketat oleh Raden Wijaya dan Lawe. Sementara itu Mahesa Amping ditugaskan mengamati para tawanan bersembunyi dikegelapan malam. Hingga akhirnya yang ditunggu datang juga. Mahesa Amping melihat jelas mulai orang itu menyelinap diantara para tawanan, mengancam seorang tawanan dan ketika akan naik ke atas rumah panggung.

    Bukan main kagetnya orang itu, sedikitpun ia tidak mendengar langkah apapun. Langsung dirinya menebak bahwa orang dibelakangnya pasti mempunyai ilmu yang tinggi.

    Namun ketika dirinya berbalik badan, keberniannya kembali berkembang, karena orang dibelakangnya itu ternyata hanya seorang pemuda.

    “Terpaksa aku harus membungkam dirimu anak muda”, berkata orang itu sambil menggenggam kerisnya lebih kuat lagi.

    “Sebelum kamu bungkamku, dirimu akan kuringkus terlebih dahulu”, berkata Mahesa Amping sambil menyungginggak senyumnya.

    “Besar sekali nyalimu anak muda”, berkata orang itu heran melihat tidak ada rasa takut sedikitpun diwajah Mahesa Amping bahkan dapat dikatakan sangat penuh ketenangan dan percaya diri penuh.”Sayang umurmu Cuma sampai dimalam ini”, berkata kembali orang itu sambil menerjang dengan kerisnya kearah dada Mahesa Amping.

    Tapi Mahesa Amping sudah siap sejak semula. Dengan cepat telah melenting kesamping. “hanya Gusti Agung yang menentukan umurku”, berkata Mahesa Amping ketika dirinya terlepas dari serangan orang itu. Cahaya lampu klenting dan oncor dibawah panggung sedikit menerangi halaman rumah singgah itu. Sekilas Mahesa Amping dapat melihat jelas wajah orang itu yang ternyata sudah cukup berumur. Namun sosok tubuhnya masih terlihat gagah sebagai tanda bahwa orang itu cukup banyak terlatih semasa mudanya.

    • Hadir sebentar, cuma mau pamitan, sebentar lagi berangkat ke Jakarta. Sampai jumpa rabu malam.

      Kamsiaaaaaaaaaa……. !!!

      • sugeng tindak ki….semoga lancar di perjalanan
        sampe ketemu lagi hari rabu.

    • kelingan lagunE mas IwaN,

      Pak tua sudahlah,
      Engkau sudah terlihat lelah oh ya
      Pak tua sudahlah,
      Kami mampu untuk bekerja oh ya

      • Tua tua keladi,

        mengaku bujangan, kepada setiap wanita
        ternyata ILMUnya segudang.

        he….he….he…..
        sugeng dalu.

  11. On 25 September 2011 at 17:28 gembleh said:

    Ki Honggopati…………
    harak inggih sawi wilujeng to Ki….????

    hampir sebulan lebih ki Honggopati ra singgah ning
    padepokan ki MAHESA, padepokan SENGKALING
    maupun padepokan GagakSeta…..!!??

  12. “Keriskulah yang akan mengambil nyawamu”, berkata orang itu sambil langsung mengayunkan kerisnya.

    “Gusti Agung telah menyelamatkan diriku”, berkata Mahesa Amping sambil mundur sedikit menghindari ayunan keris dari orang itu yang mengayun begitu cepat.

    Bukan main penasarannya bahwa Mahesa Amping dapat kembali lolos dari serangannya yang menurutnya telah dilakukan dengan begitu cepat, dan Mahesa Amping dapat mengimbangi kecepatannya.

    Dengan penuh penasaran orang itu kembali menyerang Mahesa Amping, kali ini dengan menghujamkannya langsung masuk agak miring kebawah tertuju pinggang Mahesa Amping.

    Kaget sekali Mahesa Amping melihat gerakan yang tidak terduga itu. Tapi bukan Mahesa Amping bila tidak dapat lolos dari serangan itu.

    Kali ini Mahesa Amping tidak menghindar lagi sebagaimana sebelumnya, tapi kali ini Mahesa Amping menangkis hujaman keris orang itu yang meluncur cepat dengan sebuah tangkisan belati kecilnya.

    Trangggg !!!

    Terdengar dua buah senjata beradu dengan kerasnya.
    Bukan main kagetnya orang itu merasakan tangannya seperti panas, keris ditangannya hampir saja terlepas dari genggamannya yang langsung melompat mundur sambil melihat tangannya dengan wajah tidak percaya.

    “Baru kali ini aku mendapat lawan setangguh dirimu anak muda”, berkata orang itu sepertinya seorang yang biasa berkata jujur apa adanya dan tidak menyembunyikan perasaannya.

    “Kalau boleh tahu siapakah gerangan Paman yang dengan susah payah datang kemari hanya untuk melenyapkan seorang Bango Samparan”, berkata Mahesa Amping berharap orang dihadapannya dapat berkata jujur.

    “Namaku Kujang Gundul dari lereng Gunung Salak, mengenai Bango Samparan itu adalah urusanku”, berkata orang itu yang mengaku bernama Kujang Gundul dari lereng Gunung Salak.
    “Urusanmu pada Bango Samparan adalah urusanku juga, karena ia adalah tawananku”, berkata Mahesa Amping.

    “Kutinggalkan lereng Gunung Salak hanya untuk menjajaki ilmuku, baru kali ini aku mendapat lawan setanguh dirimu”, berkata Kujang Gundul sambil menatap tajam Mahesa Amping. “Lupakan urusan Bango Samparan, seleraku saat ini hanya ingin menjajaki ilmu kita”, berkata Kujang Gundul melanjutkan.

    Mahesa Amping berkerut keningnya mendengar ucapan orang itu, baru kali ini ada orang yang punya kesukaan menjajagi ilmu sebagai sebuah kesenangan.

    • untuk yang masih melekan…..,
      Selamat datang di jakarta untuk Ki Arga, cuaca di jakarta sudah lama tidak turun hujan, mudah-mudahan kedatangan Ki Arga dapat merubah awan di atas kota ini menjadi mendung.
      Ane pesen hujannya jangan kelewat lebat, sedang-sedang saja…hehehe 1000x (bergema plus eho)

      • Kamsia……………….
        ane pesen mie rebus dua, kaga pake kol.

        he…..he…..he…….
        (pak Satpam’e tak disiki)

        • sstt….,
          Sementara Kujang Gundul duel sama Mahisa Amping.
          Ki Dalang sedang mencari ilham, untuk duel Ki Gembleh dengan Ki Kujang Gundul….

      • lha…., ada Kujang Gundul
        ha ha ha …..
        ini jahat apa gak ta? kok agak misterius
        sepertinya penjahat…., tapi kok gak begitu….
        embuh ah, terserah dalange

        memang…, bagi yang masih melek, masih ada tutuge ta Ki Dalang?

        • HORE-horeeee, gunDUL dapet PERAN…..!!???

          melalui perjuangan tak kenal LELAH, apalagi putus ASA
          seCUIL lobang cilik,,,,akhirnya munCUL jua si GunDUL.

          • ASIK….ra sah ganti JENENG, pak SATPAM ra pareng…he-he-heee

          • pak SATPAM ra pareng ILI….hikss,

          • selamat ki Gudul dapat peran, kaaaaaaammssiiiiiiaaaaa

  13. bisanya sih…..jam segini kiprah Kujang Gundul sudah dimulai.
    Pak Dhalang…..kok belon ade lanjutanye…?

  14. “Kalau itu yang paman inginkan, mari kita bermain-main”, berkata Mahesa Amping dengan sikap seperti seseorang yang tengah mempersiapkan diri memulai perkelahian.

    Kujang Gundul pun nampaknya telah mempersiapkan dirinya. Kali ini terlihat penuh hati-hati dan tidak lagi meremehkan anak muda yang menjadi lawannya.

    Maka terjadilah pertempuran seru antara Mahesa Amping dan Kujang Gundul.

    Seperti biasa Mahesa Amping tidak pernah meremehkan siapapun lawannya. Penuh kehatia-hatian dalam setiap langkahnya. Setingkat demi setingkat Mahesa Amping terus mengimbangi lawannya.

    Semakin lama bertempur, Kujang Gundul semakin mengagumi ilmu Mahesa Amping. Baru kali ini ia mendapatkan lawan tangguh. Kujang Gundul seperti anak kecil mendapatkan mainan baru. Setahap demi setahap telah meningkatkan ilmunya.

    Ratusan jurus telah dikeluarkan oleh Kujang Gundul untuk melumpuhkan lawannya. Tapi Mahesa Amping bukan lawan yang lemah tidak mudah dikalahkan.
    Diam-diam Kujang Gundul mengeluarkan ilmu andalannya yang bernama ajian Panguncen, sejenis ilmu yang akan membuat lawan kaku tidak bergerak.

    Tapi Mahesa Amping adalah seorang pemuda yang waskita, dengan cepat menyadari ada getaran tidak lumrah lewat angin sambaran tangan Kujang Gundul. Tanpa disadari kepekaan dirinya telah melambari dengan sendirinya tameng penawar.

    “Semuda dirimu sudah dapat menawarkan ilmuku”, berkata Kujang Gundul dengan jujurnya ketika usahanya untuk mengunci gerakan Mahesa Amping tidak juga pernah berhasil.

    “Gusti yang Maha Agung telah melindungiku paman”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

    “Aku ingin melihat sampai dimana kekuatannmu”, berkata Kujang Gundul sambil mengayunkan kerisnya.
    Sungguh meneganggan, sebuah cahaya merah keluar dari keris itu menyambar kearah Mahesa Amping. Untungnya Mahesa Amping dengan ilmu meringankan tubuhnya yang nyaris sempurna telah dapat melinting kesana kemari menghindari setiap kilatan yang keluar dari ujung keris itu.

    Hingga akhirnya pada saat yang sangat terjepit, Mahesa Amping tidak mungkin lagi melenting menghindar. Dengan sangat terpaksa Mahesa Amping mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang jarang sekali dikeluarkan hanya dalam keadaan terpaksa.

    Sebuah cahaya keluar dari dua mata Mahesa Amping menghantam kilatan merah yang berasal dari ujung keris Kujang Gundul.

    Akibatnya memang luar biasa !!!!!

    Duarrrrrrrrr

    • buat yang masih melekan hehehe 1000x (bergema)

      • Duar……
        ngantukpun hilang
        kamsiiaaaa………………

    • tamatlah oh riwayatnya………
      Ki Dhalang, mBok jangan cepet2 dimatiin peran Kujang Gundul.
      bolehlah ditambah beberapa alinea lagi.

      Kamsia.

      • belum ki
        paling hanya lemes saja
        masih dicari akal untuk duel dengan Lurah Prajurit Gembleh

  15. Terdengar sebuah ledakan yang dahsyat dengan bertemunya dua kekuatan ilmu.

    Terlihat tubuh Kujang Gundul terlempar beberapa langkah kebelakang. Matanya tidak percaya dengan apa yang terjadi, kerisnya telah hancur berkeping keeping dan dirinya seperti terhantam benda berat dan besar tanpa wujud langsung menyesakkan dadanya. Kujang Gundul berbaring ditanah tanpa mampu bangkit berdiri.

    Perlahan Mahesa Amping mendekati Kujang Gundul.

    “Katakan Paman, siapakah yang menentukan umurmu, belati ini atau Gusti yang Maha Agung”, berkata Mahesa Amping meletakkan belatinya dileher Kujang Gundul.

    Kujang Gundul masih berbaring tanpa dapat menggerakkan badannya merasakan tubuhnya seperti mati gerak. Sementara dilehernya merasakan dingin menyentuh kulitnya sebuah belati yang sangat tajam. Tiba-tiba teringat puluhan orang yang harus mati ditangannya. Dan kali ini dirinyalah yang akan sebentar lagi mengalami sebuah kematian.

    “katakan Paman, siapa yang menentukan umurmu”, kembali Mahesa Amping berkata kepada Kujang Gundul.

    “Engkaulah yang menentukan umurku”, berkata Kujang Gundul pasrah berdebar menunggu saat kematian yang menurutnya sebentar lagi akan ditemuinya.

    “Aku tidak punya kuasa, Yang Maha Agung lah kekuasaan itu”, berkata Mahesa Amping.

    “Bukankah dengan sedikit gerakan, belatimu dapat memutuskan urat leherku ?”, berkata Kujang Gundul perlahan masih dengan perasaan putus asa.

    “Tanganku adalah bagian kekuasaan dan kekuatan Gusti yang Maha Agung”, kembali Mahesa Amping berkata.

    “Gusti yang Maha Agung ??”, bertanya Kujang Gundul sambil tersenyum memandang Mahesa Amping.”hari ini aku melihat Gusti yang Maha Agung sepertinya tengah menungguku untuk menghukumku atas apa yang telah kuperbuat selama ini, membunuh, memperkosa dan merampas harta orang-orang yang tidak berdaya”berkata Kujang Gundul perlahan.

    “Jadi hari ini kamu telah melihat kekuasaanNYA ?, bertanya Mahesa Amping.

    “Aku melihatnya sebagai wajah penghukum”, berkata Kujang Gundul perlahan.

    “Gusti yang Maha Agung adalah pengasih dan penerima tobat”, berkata Mahesa Amping masih menepelkan belatinya di ujung kulit leher Kujang Gundul.

    “Dosaku sudah menggunung, apakah Gusti yang Maha Agung dapat menerima tobatku ?”, bertanya Kujang Gundul.

    “Gusti yang Maha Agung menerima setiap tobat selama hambanya benar-benar menunjukan rasa tobatnya”, berkata Mahesa Amping.

    “Aku menyadari atas semua apa yang telah kuperbuat, aku melihat-NYA”, berkata Kujang Gundul

    “Apa yang kau lihat ?”, bertanya Mahesa Amping.

    “Gusti yang Maha Agung ternyata ada, dan aku melihat-NYA”, kembali Kujang Gundul berkata.

    “Apa yang kamu rasakan”, bertanya Mahesa Amping.

    “Aku tidak mampu mengungkap apa yang aku rasakan, sepertinya diriku penuh diliputi kebahagiaan”, berkata Kujang Gundul.

    “Katakan Paman, siapa yang menentukan umurmu?”, bertanya Mahesa Amping.

    “Gusti yang Maha Agung, Gusti yang Maha Pengampun, Gusti yang penuh kasih”, berkata Kujang Gundul seperti kepada dirinya sendiri.

    “Gusti yang Maha Agung telah memperpanjang sisa hidupmu Paman”, berkata Mahesa Amping sambil menjauhkan belatinya dari ujung kulit leher Kujang Gundul.

    “Terima kasih anak muda, kamu telah membunuh masa laluku, hari ini aku merasa terlahir sebagai orang baru”, berkata Kujang Gundul sambil tersenyum menatap Mahesa Amping penuh rasa terima kasih.

    “Gusti yang Maha Agung telah mempertemukan kita, disini”, berkata Mahesa Amping sambil berdiri menarik nafasnya dalam-dalam. Dilihatnya dari atas panggung pendapa Ragasuci dan Ki Mentul tengah turun dan menghampirinya.

    “Aku membawa obat pemulih tubuh, mudah-mudahan Paman akan cepat pulih dan sehat kembali”, berkata Mahesa Amping sambil mengeluarkan beberapa butir obat dalam bentuk butiran kecil sebesar telur cecak dan memberikannya langsung kemulut Kujang Gundul.

    “Sebentar lagi Paman ini dapat berjalan sendiri”, berkata Mahesa Amping kepada Ragasuci dan Ki mantul yang sudah mendekatinya yang telah juga melihat dan mendengar apa yang telah terjadi.

    Apa yang dikatakan Mahesa Amping ternyata tidak meleset. Tidak begitu lama Kujang Gundul dapat bangkit berdiri dan merasakan tubuhnya segar kembali.

    “Mari Paman, kita bicara diatas panggung pendapa”, berkata Mahesa Amping mengajak Kujang Gundul berjalan ke panggung pendapa.

    “Panggil Lawe dan raden Wijaya untuk membawa Bango Samparan kemari”, berkata Ragasuci kepada Ki Mantul ketika mereka sudah berada diatas panggung pendapa.

    • Untung….
      Ki Kujang GundUL sudah sadar
      kalau tidak…,
      hadu……

      • he-hee55x…..ha-lah kalo gak SADAR2 kan tinggal
        panggil si MITA buat menYADARkan.

        • Eeeh kleru ding, mangsud-e memBANGUN-kan….!!??
          (tanpa BOLD ato ITALIC)

  16. dua lontar masih untuk peran Ki Kujang Gundul…..hehehehe 1000x (bergema)

    • ASIK….masih ada peran di rontal pak DALANG,
      he-he-heeee 1001x (bergema tanpa eha-eho)

      • jangan2 kujang gunDUL cuma nama SAMARan…!!??

        HIIKKS,….(bergema plus eho)

        • Ki Kujang Gundhul akhirnya taubatan nasuha dan berganti nama Ki Yudha

        • Wah ketahuan dong siapa dibalik persekongkolan mencelakai Ragasuci. Jangan-jangan, …………….

  17. Ki Mantul –pun segera masuk kedalam untuk memanggil Lawe dan raden Wijaya untuk membawa Bango Samparan.

    Bukan main kagetnya Bango Samparan ketika muncul dari ruang dalam melihat ada Kujang Gundul di Pendapa.

    “Aku yakin kalian sudah saling mengenal”, berkata Ragasuci yang diam-diam memperhatikan Bango Samparan dan Kujang Gundul. “Bukankah begitu Bango Samparan ?”, berkata Ragasuci tertuju kepada Bango Samparan yang telah duduk bersama mereka di Pendapa.

    “Ya, kami memang sudah saling mengenal”, berkata Bango Samparan sambil menganggukkan kepalanya.

    “tahukah engkau bila saat ini ada orang yang menginginkan kematianmu ?”, berkata Ragasuci kepada Bango Samparan seperti orang yang tidak percaya apa yang telah didengarnya tentang dirinya.

    “Sekarang giliran Kujang Gundul untuk menceritakan yang sebenarnya”, berkata Ragasuci yang kali ini tertuju kepada Kujang Gundul.
    Terlihat Kujang Gundul menarik nafas panjang.

    “Awalnya aku hanya ditugaskan membakar perasaan para orang Pasir Muncang”, berkata Kujang Gundul. “Sebuah pekerjaan yang kuanggap sangat ringan”, berkata kembali Kujang Gundul.”Hingga akhirnya kembali aku mendapatkan tugas dengan imbalan dua kali lipat dari sebelumnya……”, Kujang Gundul berhenti sebentar sambil menundukkan wajahnya. “Tugasku hanya mengambil nyawa Bango Samparan”, berkata Kujang Gundul sepertinya tidak sanggup mengangkat wajahnya.

    “Sekarang kamu sudah mendengar sendiri, ada yang menginginkan nyawamu”, berkata Ragasuci sambil menelitik apa tanggapan Bango Sa Bango Samparan.

    “Teganya”, hanya itu yang keluar dari bibir amparan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

    “Aku menawarkan pengampunan pada kalian, namun ada syaratnya”, berkata Ragasuci kepada Bango Samparan dan Kujang Gundul.

    “Kelapangan tuanku adalah budi yang tak terhingga, syarat apakah yang dapat kami jalani”, berkata Bango Samparan tidak menyangka Ragasuci telah menawarkan pengampunan kepada mereka.

    “Hari ini mata hati hamba telah terbuka oleh anak muda ini, hamba pasrah atas segala hukuman atas apa yang telah hamba perbuat. Bila syarat itu sebagai ganti pengampunan, hamba siap menjunjung apapun syarat yang baginda raja inginkan”, berkata Kujang Gundul.

    “Tidak ada syarat yang akan memberatkan kalian, yang kuminta Cuma satu,tunjukkan kepadaku siapa orang dibalik semua ini, terutama orang yang telah memberi upah kepada kalian”, berkata Ragasuci.

    • persekongkolan pun akhirnya terungkap sebagaimana yang diprediksi oleh Ki TP.

      Kujang Gundul dan Bango Samparan adalah tokoh yang tidak berdiri sendiri.
      Perlu sebuah keberanian dari Ragasuci sebagai “kepala negara” untuk membersihkan kerajaan dari para “perongrong”.
      mungkin salah satunya adalah sahabatnya, kerabatnya, besannya, atau saudaranya sendiri………….

      SIAPAKAH TOKOH INTELEKTUAL DIBALIK SEMUA INI ?????
      Ternyata Ragasuci tidak pernah tebang pilih, semua dibabat sampai keakar-akarnya.

      • Maaf Pak Dalang
        semalam cuapeeek dan nguantuuuk…..sekali
        tidak sempat menunggu beberan lakon Pak Dalang

        hmm…..
        siapa ya dalang dari semua itu
        jangan-jangan ….
        embuh ah…..
        aku menunggu lakon ki dalang nanti malam !

        • HADIR….tanpa tembang pilih ato pilih2 tembang,

          HIKSSSS,

        • Kulo nyuwun lagunipun Koes Slup, ……. Kapan-Kapan.

          Ki Suro Bengok kayaknya kehabisan tembang.

          Soegeng sonten Ki Suro!

  18. On 6 September 2011 at 08:46 cantrik bayuaji said:

    Sugêng énjang
    Telah beberapa lama tidak sambang padepokan untuk mendongeng, saya berharap semoga sanak kadang sepadepokan dan keluarga senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat, dalam rahmat dan berkah Tuhan.
    Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit dalam beberapa wedaran ke depan juga akan tancêp kayon, sekaligus sebagai penutup rangkaian dongeng-dongeng saya di gandhok-gandhok padepokan pelangisingosari.
    Sumånggå,
    Cantrik Bayuaji

    Alhamdulillah, saya punya lengkap dongengan Ki Bayuaji hingga waosan ke 48, walopun belum dibaca seluruhnya.
    Tapi kalo hanya sampai kisah Mojopahit kemudian Tancep Kayon, kayaknya ada sekuwen yang penting yaitu hadirnya kerajaan islam, yang ditulis oleh arkeolog islam, sehingga penyesatan2 informasi seperti selama ini, …… contoh : Apa iya Mojopahit Hindu runtuh gara2 diserbu oleh Raden Patah yang Islam. Memang di waosan 48 menurut Kronik China, …….. Kertabumi (Brawijaya V) diserang oleh Jin Bun (R Patah), dan kemudian beliau dibawa ke Demak Bintoro. Ada versi lain yang mengatakan bahwa Majapahit era Brawijaya V diserbu oleh Raja Girindrawardhana dari Kediri, …… kemudian ia tinggalkan dan dipindahkanlah Ibukota Majapahit dari Trowulan ke (Kedir????)i. Sementara Brawijaya V melarikan diri. Nah mudah2an kebingungan ini bisa dicerahkan oleh Ki Bayuaji dengan dongengan lanjutan ke Jaman Kerajaan Islam.
    Nuwun.
    Cantrik Truno

  19. Sudah selesai bacanya.
    Mana lanjutnya Ki Kompor ?

    • Sabar…..dipun rantos sakwetawis Ki Arga,
      adatipun menawi sampun wayah lingsir wengi Ki Dhalang enggal2 medhar carios tutugipun.

      sugeng dalu.

  20. “Biarlah aku yang mewakili Bango Samparan”, berkata Kujang Gundul dan diam sebentar sambil menarik napas panjang.”Yang memberi upah kepada kami untuk semua ini adalah Patih Manohara”, berkata Kujang Gundul melanjutkan kata-katanya.

    “Sejak semula aku sudah menduga”, berkata Ki Mantul ikut memberikan tanggapan.

    “Mungkinkah masih ada pucuk diatas Patih Manohara ?”, berkata Raden Wijaya.

    “Memegang ular memang harus kepalanya”, berkata Ragasuci sepertinya telah mempunyai sebuah rencana yang besar sambil mengarahkan pandangan matanya kepada Kujang Gundul.

    “Aku memerlukan dirimu”, berkata Ragasuci kepada Kujang Gundul

    “Bila Baginda Raja mempercayai hamba”, berkata Kujang Gundul penuh hormat.
    Sementara itu hari telah jauh diujung malam, Ragasuci telah menyampaikan beberapa rencana besarnya untuk membersihkan lingkungan istananya dari para penghianat.

    Demikianlah, pagi-pagi sekali terlihat dua ekor kuda keluar dan terus menjauh dari hutan Kranggan. Ternyata dua orang penunggangnya adalah Kujang Gundul dan Ki Mantul. Arah yang mereka tuju sepertinya menuju arah Kotaraja Kawali.

    Ketika kuda-kuda mereka telah mendekati gerbang kota, merekapun berpisah untuk mengatur jarak. Ki Mantul terlihat semakin menjauh kedepan meninggalkan Kujang Gundul.

    Terlihat Ki mantul sudah memasuki gerbang Kota disaat matahari telah bergeser sedikit dari puncaknya.Tujuan Ki Mantul ternyata bukan ke Istana Raja, melainkan kesebuah rumah yang tidak jauh dari pasar yang berada ditengah kota raja. Rumah itu tidak terlalu megah bila dibandingkan dengan beberapa rumah di Kota Raja. Hanya sebuah rumah yang sederhana. Ada beberapa pohon buah dihalaman rumah itu yang terlihat bersih. Nampaknya penghuninya sangat rajin membersihkannya setiap pagi. Terlihat Ki mantul telah masuk kehalaman lewat pintu regol yang terbuka sambil menuntun kudanya. Seorang lelaki yang masih belia yang melihat kedatangan Ki Mantul datang menghampirinya.

    “Selamat datang Ki Mantul”, berkata lelaki belia itu menyapa Ki Mantul, nampaknya sudah sangat mengenal Ki Mantul.

    “Apakah Ki Lurah Gembleh ada dirumah ?”, bertanya Ki Mantul kepada anak itu.

    “Ki Lurah baru saja datang dari Istana, semalam Ki Lurah tidak pulang”, berkata anak itu sambil mengambil tali kuda Ki Mantul.

    “Terima kasih”, berkata Ki mantul kepada anak itu yang terlihat membawa kuda Ki Mantul mendekati sebuah pohon kecapi untuk mengikat tali kuda di batang pohon itu. Anak itupun terlihat berlari kedalam rumah yang diikuti pandangan mata Ki mantul.

    “Naiklah keatas Ki Mantul”, berkata Ki Lurah Gembleh yang sudah muncul bersama anak itu dari dalam rumah.

    • koq hari ini ngantuk berat….sambil nunggu si Ilham, tiduran dulu dech………

      • waduh…..
        ini pasti akan direncanakan Ki Kujang Gundul ketemu dengan Manohara. he he he …., asiikkk…..

        • pertarungan segiTIGA….gundul manohara gembleh
          embuh sopo sing oleh tengah2e,

          waduh-duh…..cantrik laen ora keduman babar-BLAS

          • Yen jaman mBiyen mesti ana jawaban
            …..hikss……..

  21. SORE

  22. Sore juga Mas Gun, …………….
    Mas Gun, ……….. ternyata minum dikit demi dikit rasanya kurang nikmat ya, ………. malah tambah haus.
    Mendingan kita tahan rasa haus kita, ……………… sambil nunggu Ki Kompor menari-narikan jarinya di atas keyboard sampai beberapa hari, ………………..baru di minum, ……………. srupuuuuuut, ………. suwegeeeeeerrrrrr.
    Tulllll gak seh?

    • MALEM KI TRUNO, KALO NUNGGU NGUMPUL SE-KENDI
      KULO KUWATIR MANGKE PAS NYRUPUT….KEWAREG-EN
      NJUR GLEGEKen KI,

      LHA NJIH TO KI GEMBLEH….LHO2 NING ENDI KI GEMBLEH
      HADU CILAKA CANTRIK DI TINGGAL DEWE-AN.

    • Lha ujar kulo mesakaken juru masak kepunthal-punthal ngarcik bumbu, menawi diuber2 Cantrik sa’padepokan.

  23. sugeng dalu, matur nuwun

  24. Pak Dhalang……
    apakah malem ini rontalnya akan didoblein…..?

  25. hadu….
    nguantuke rek……
    bobo dulu ah…..

    • MALEM JUM’AT….ORA OLEH TURU SORE2, MASAK KALAH
      MASA PAK DALANGe

      • aku gak kuwat….
        aku gak kuwat….
        aku gak kuwat

        ngantuk…
        ngantuk…
        ngantuk…

        (pakai gayanya 7icon)

        he he he …, lha wong nguantuke puol ki, trus Pak dalange gak rawuh-rawuh.

        terpaksa……

  26. hup….baru pulang ngaji…..

    • nggih……

    • Sangspyo suwe sangsoyo ndaluuuuuu,………….. ooooh

  27. Menunggu oh menunggu

    • tetep pake gaya bang Haji

      • kok gak makai gaya bold atawa italic ?

        • AJRIH MANGKE DI SETRAP KI SENO-ne

          • gak pake bold atau italic
            lha malah pakai KAPITAL
            hadu……

  28. Nunggu wedarannya Ki Kompor.

    • sama dengan di atas.

  29. Hadir lagiiii…… nengok barangkali sudah diwedar.
    Oo… ternyata belum, kemana ya Ki Kompor ?
    Ya sudah…. pamit saja, sudah ngantuk, selamat malam.

  30. hup….!

    mbeber kelir sik ah…, sebelum bobo..
    siapa tahu Ki Dalan Kompor segera hadir, mbeber lakon Manohara Ngamuk.
    wayang wis siap kabeh.
    Ki Kujang Gundul…., Ki Lurah Gembleh…., Ki Mantul…., Ki Patih Manohara…., Manohara…., terus…, siapa lagi ya..?!

    embuh ah, biar Pak Dalang saja yang menyiapken wayangnya.

    nuwun

  31. kemarin…tidur tiduran eh bablas ketiduran,
    ternyata….si ilham itu aneh…kadang dateng kayak air mengalir….ech…kadang seret banget

    • Lha gitu memang sipat-siput si ilham pak dalang,
      Kadang mechunggul tanpa di undang….kadang
      Mendelep tanpa peduli masih pake pakaian.

      • Ki gembleh bilang….malam nanti apa pak dalang
        Kirim rontal malam mingguan,

        Cantrik beri jawaban begini :
        “ya embuh-lah….tergantung banyaknya pesanan”

        • Tapi kata si Ilhm, dia pesen banyak suekali.

  32. Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing. Ki Mantul langsung bercerita apa yang terjadi di rumah singgah di tepi hutan Kranggan.

    “Akhirnya kecurigaanku terbukti”, berkata Ki Lurah Gembleh setelah mendengar penjelasan Ki Mantul tentang Keikut sertaan Patih Manohara dalam upaya mencelakai Baginda Raja Ragasuci.

    “Patih Manohara tidak berdiri sendiri, Baginda Raja Ragasuci ingin membersihkan sampai kepucuknya”, berkata Ki Mantul.

    “Tugas apa yang dapat aku mainkan”, bertanya Ki Lurah Gembleh.

    “Menangkap semua ular di hutan Kranggan”, berkata Ki Mantul sambil menjelaskan beberapa hal sesuai rencana yang telah disepakati bersama Ragasuci.

    “Hari ini juga aku akan mempersiapkan orang-orang kepercayaanku untuk melakukan penyusupan”, berkata Ki Lurah Gembleh setelah memahami beberapa hal penjelasan dan Ki Mantul.

    “Akupun akan segera kembali ke hutan Kranggan”, berkata Ki mantul

    Sementara itu disebuah rumah yang masih tidak jauh dari Kotaraja, Kujang Gundul tengah berbicara dengan seseorang yang selama ini bertugas sebagai penghubung dan orang kepercayaan dari Patih Manohara.

    “Aku telah menyelesaikan tugasku melenyapkan Bango Samparan, sekarang aku meminta tambahan upah dari tuanmu karena aku telah melakukan pekerjaan tambah”, berkata Kujang Gundul.

    “Pekerjaan tambah apa yang kamu maksudkan ?”, bertanya orang kepercayaan Patih Manohara tidak mengerti.

    Kujang Gundul mengambil sesuatu dari balik kainnya, ternyata Kujang Gundul memperlihatkan sebuah cincin.

    “Lihat dan perhatikan”, berkata Kujang Gundul sambil memperlihatkan sebuah cincin ditangannya.

    Orang kepercayaan Patih Manohara bukanlah orang yang bodoh. Bukan main tercengangnya orang itu melihat cincin yang ditunjukkan Kijang Gundul. Cincin itu adalah tanda kebesaran Baginda Raja Ragasuci. Tidak akan diberikan kepada siapapun kecuali bila nyawa sudah terlepas dari badan.

    “Aku akan menyerahkan ini setelah kamu datang membawa tambahan upah untukku”, berkata Kujang Gundul tersenyum gembira melihat orang kepercayaan Patih Manohara terbelalak matanya.

    “Tunggulah disini, akan akan menyampaikannya kepada Patih Manohara”, berkata orang itu yang terus pergi keluar rumah, entah apa yang terpikirkan olehnya. Yang jelas baginya sebuah berita yang akan menggembirakan junjungannya Patih Manohara.

    “Akhirnya usaha kita melenyapkan Ragasuci berhasil”, berkata Patih Manohara kepada orang kepercayaannya.

  33. Bersamaan dengan perginya orang kepercayaannya itu, Patih Manohara keluar istana menuju rumah Raden Darmamula,salah seorang bangsawan yang cukup berpengaruh, masih paman dari Ragasuci.

    “Usaha kita berhasil”, berkata Patih Manohara kepada Raden Darmamula.

    “Kita harus mendapatkan kepastian”, berkata Raden Darmamula

    “Orangku sedang mengambil cicin kebesaran raja”, berkata Patih Manohara.

    “Tidak cukup itu, kita harus melihat langsung jenasahnya”, berkata Raden Darmamula.

    “Apa yang harus kita lakukan setelah Ragasuci memang benar telah binasa”, bertanya Patih Manohara.

    “Kita jadikan orang-orang Pasir Muncang sebagai gerombolan yang harus mempertanggung jawabkan semua ini”, berkata Raden Darmamula.

    “Menjadikan orang-orang Pasir Muncang sebagai kambing hitam ?”, bertanya Patih Manohara.

    “Dan sebagai tumbal”, berkata Raden Darmamula.
    Patih Manohara tidak bertanya lagi langsung mengerti apa yang dikatakan Raden Darmamula tentang tumbal itu.

    “Siapkan pasukan, besok pagi kita berangkat ke hutan Kranggan”, berkata Raden Darmamula.

    Demikianlah, Patih Manohara kembali ke istana untuk mempersiapkan pasukannya berangkat ke hutan Kranggan untuk melihat dan memastikan bahwa Ragasuci memang telah mati sekaligus menghancurkan orang-orang Pasir Muncang yang bersembunyi di hutan Cigugur.

    Rahasia inilah yang ditangkap oleh orang-orang kepercayaannya Ki Kurah Gembleh.

    “Secepatnya kamu harus sampai di Hutan Kranggan”, berkata Ki Lurah Gembleh kepada salah seorang anak buahnya untuk menyampaikan rahasia rencana Patih Manohara besok pagi.

    Sementara itu hari sudah masuk dipertengahan malam.
    Terlihat Kujang Gundul sudah keluar dari gerbang kota. Jalan diluar kota itu sudah begitu sunyi.

    “Berhenti !!”.

    Tiba-tiba saja menghadang dua orang dihadapan Kujang Gundul sambil membentak menyuruh Kujang Gundul berhenti dan turun dari kudanya.

    “Apa yang kalian inginkan dariku ?”, bertanya Kujang Gundul sambil turun dari kudanya.

    “Kami ingin meminta nyawamu”, berkata salah seorang yang menghadang Kujang Gundul.

    “Apakah nyawaku cukup berharga”, berkata Kujang Gundul.

  34. “Cukup berharga karena ada sepundi keping emas dibalik pakaianmu”, berkata kembali orang itu sambil tersenyum menyeringai.

    “Dari Mana kalian tahu”, bertanya Kujang Gundul

    “Itu bukan urusanmu”, berkata orang itu sambil melepas senjata golok dari sarungnya.
    Kujang Gundul tidak dapat berbuat lain kecuali mempersiapkan dirinya.

    “Serahkan lehermu agar pekerjaan kami menjadi mudah”, berkata orang itu yang langsung mengayunkan goloknya membabat leher Kujang Gundul.

    Dengan tenang Kujang Gundul merendahkan tubuhnya dan berbalik menyerang dengan tendangan kakinya.

    Mendapatkan serangan balik yang cepat, orang itu cukup terperanjat dan langsung mundur kebelakang. Bersamaan dengan itu kawannya yang selama ini hanya berdiam diri ikut membantu menyerang Kujang Gundul dari samping.

    Maka Kujang Gundul pun melompat kesamping menghindari serangan itu. Baru saja Kujang Gundul terhindar dari serangan itu, kembali serangan menyusul dihadapannya.

    Demikianlah pertempuran antara Kujang Gundul dengan dua orang yang tidak dikenal. Mendapatkan dua serangan dari dua orang pengeroyoknya yang tidak pernah terputus, sepertinya dua orang penyerangnya itu satu perguruan, terlihat dari serangannya yang beruntun dan sangat teratur seperti sudah terlatih dan tersusun begitu rapi. Serangannyapun sangat begitu dahsyat.

    Tapi Kujang Gundul bukan anak kemarin sore yang baru mengenal sejurus dua jurus. Sudah banyak pertempuran yang ia hadapi, dan Kujang Gundul mempunyai kesenangan unik, senang bertempur. Semakin tangguh lawannya, maka semakin gembira hatinya. Kujang Gundulpun melayani dua orang penyerangnya dengan penuh semangat.

    “Keluarkan semua jurus kalian”, berkata Kujang Gundul penuh semangat sambil mengeluarkan senjatanya yang bukan keris lagi karena sudah hancur oleh sinar mata Mahesa Amping. Senjata penggantinya adalah sebuah tombak pendek.. Meski bukan senjata andalannya, dengan tombal pendek itu Kujang Gundul masih terlihat sangat mahir menggunakannya.

    Croottttt !!!!

    Tombak pendek Kujang Gundul berhasil merobek urat pangkal salah seorang lawannya. Darah mengalir deras keluar dari daging yang robek. Orang itu tampak menahan rasa sakitnya tidak lagi melakukan penyerangan.

    Menghadapi seorang lawan, Kujang Gundul menjadi agak ringan. Sebaliknya lawannya terlihat menjadi sangat kewalahan. Tombak pendek Kujang Gundul yang bermata dua it uterus berputar-putar mengikuti dirinya.

    Srettttt !!!!

  35. horeeee !!!!
    Akhirnya si Ilham datang menyerahkan tiga rontal untuk malem mingguan…….

    crottttt !!!!

    Sretttt..srettt….bretttt !!!! (celana siapa yang robek ???)
    Hehehe 1000X bergema

    • Terimakasih…..
      Tambah lagi Ki Kompor !! (He..he… diwenehi ati ngrogoh rempelo).

    • Maksud hati mau nabung bacaan apa daya hati tak tahan. Sreeet sreeet sreeet, ……. tiga rontal amblas disruput.
      Jazakallah khairan katsira Ki Kompor!

    • Kamsiaaaaaaaaa……….!!!!!!

      (mendisiki Ki Menggung ro pak Satpam)

  36. hup..!!
    baru dateng, tapi nguantuuuuk….
    kliling padepokan dulu
    terus ke pakiwan..
    cuci kaki….
    bobo….

    • eh…., lupa….
      kamsiiiaaaaa…………………..

  37. Mata tombak pendek Kujang Gundul berhasil mengenai bahu kanan lawannya. Segaris darah segar terlihat keluar dari bahunya.

    “Apakah pertempuran ini masih harus dilanjutkan ?”, berkata Kujang Gundul sambil tersenyum.

    “Jangan besar kepala dulu”, berkata lawannya sambil memindahkan senjata goloknya ketangan sebelah kiri dan terus menyerang Kujang Gundul.

    Kujang Gundul tersenyum menghadapi lawannya. Serangan lawannya terlihat agak kaku karena kurang terbiasa menggunakan tangan kirinya.

    “Agar seimbang, aku akan berbuat yang sama”, berkata Kujang Gundul sambil memindahkan tombak pendeknya ketangan sebelah kirinya.

    Namun meski menggunakan tangan kirinya, terlihat kemahiran Kujang Gundul memainkan tombak pendeknya tidak berubah.
    Sret …sretttt !!!

    Kembali tombak pendek Kujang Gundul menemui dua sasaran sekaligus, dua pangkal paha lawannya tergores mata tombak pendek Kujang Gundul yang bergerak begitu cepat meski menggunakan tangan kirinya.

    Terlihat kedua kaki lawannya tidak mampu menopang tubuhnya lagi, hanya mampu berdiri diatas lututnya.

    “Dulu aku tidak pernah mengampuni lawanku, hari ini kubiarkan kalian hidup agar suatu saat kita masih dapat bermain lagi”, berkata Kujang Gundul kepada kedua lawannya.

    Kujang Gundulpun terlihat menghentakkan kakinya diperut kudanya berlalu pergi diiringi tatapan mata dua orang lawannya.

    Dan malampun terus merayap dalam gelisah berharap datangnya sang pagi untuk menggantikan tahta hari.

    “Semula aku berpikir kamu tidak akan datang kembali”, berkata Ki Mantul kepada Kujang Gundul ketika mereka bertemu disuatu tempat yang telah bersama mereka sepakati.

    “Ada sedikit hiburan diperjalananku”, berkata Kujang Gundul sambil menceritakan apa saja yang menghambat perjalanannya.

    “Syukurlah bila kamu sekarang dapat mengendalikan diri untuk tidak begitu mudah membunuh lawanmu”, berkata Ki Mantul setelah mendengar cerita Kujang Gundul sambil terus berjalan diatas kudanya.

    “hari-hari yang kujalani saat demi saat terasa begitu indah, bagaimana mungkin aku dapat merebut kehidupan orang lain, kematianku sendiri bukan lagi milikku”, berkata Kujang Gundul.

    • boeat yang masih beloem ngantoek

      • kamsiaaa…………………!

        • Kamsiaaaaaaa……………..!!!!

          • kamssssiiiiiaaaaaa

  38. Akhirnya, disaat malam telah jemu menjaga bumi dan menyerahkan sisa hari kepada sang pagi, Ki Mantul dan Kujang Gundul telah sampai ditepi hutan Kranggan.

    Tidak lama berselang, berselisih sepenginangan. Seorang utusan Ki Lurah Gembleh juga sudah sampai. Ternyata Ki Mantul telah mengenal utusan itu dengan baik.

    Utusan itupun langsung menyampaikan berita bahwa pagi ini ada sepasukan prajurit yang akan datang ke tepi hutan Kranggan serta rencana mereka untuk menggulung orang-orang Pasir Muncang yang akan dijadikan sebagai kambing hitam.

    “Raden Darmamula dan Patih Manohara ikut dalam pasukan itu”, berkata utusan itu.
    “Bagus, secepatnya kita buat blumbang agar ular-ular itu mudah tepancing”, berkata Ragasuci.

    “Ada satu lagi dosa yang masih mengganjal dihatiku”, berkata Kujang Gundul kepada semua yang hadir.Maka semua mata tertuju kepada Kujang Gundul.

    “Meluruskan kebenaran atas apa yang sebenarnya terjadi kepada orang-orang Pasir Muncang”, berkata Kujang Gundul.

    “Apakah kamu tidak takut bahwa kemarahan orang-orang Pasir Muncang akan berbalik arah kepadamu?”, bertanya Ki Mantul yang menghawatirkan Kujang Gundul.

    “Tidak perlu khawatir, aku dengan ketuanya pernah adu tanding dengan taruhan siapapun yang kalah akan tuntuk patuh. Dan untungnya akulah pemenangnya”, berkata Kujang Gudul sambil tersenyum dibarengi tarikan nafas lega dari semua yang hadir.

    “Tidak ada pilihan, aku akan menugaskanmu meluruskan semuanya, menyampaikan apa yang akan terjadi atas mereka. Sampaikan salamku atas nama Baginda Raja Saunggaluh”, berkata Ragasuci.

    “Hamba menjunjung titah Baginda, hamba mohon diri untuk segera berangkat ke Hutan Cigugur”, berkata Kujang Gundul penuh hormat dan langsung pamit diri untuk segera berangkat ke hutan Cigugur, tempat dimana orang-orang Pasir Muncang berlindung selama ini.

    Setelah Kujang Gundul berlalu, Ragasuci meminta Ki Mantul untuk menyiapkan rumah duka.

    “Ingat, ada dua jenasah dirumah ini”, berkata Ragasuci sambil melirik kepada Bango Samparan yang membalasnya juga dengan senyuman.

    “Sebelum menjadi mayat palsu, aku akan membukakan ikatan para anak buahku”, berkata Bango Samparan sambil bangkit berdiri dan turun kebawah untuk menemui para anak buahnya yang saat ini memang masih terikat sebagai tawanan.

    Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya mengikuti Bango samparan turunkebawah untuk membantu membuka ikatan para tawanan.

    • siipp………………
      kamsiiaaaa……………….!!!

    • Benar-benar menegangkan.
      Ayo lanjutkan Ki Kompor !!!

    • CROOOOTTTT !!!!…..SREEEEETTTT !!!!!

      HE-HEE50X…..KUJANG GUNDUL SEMAKIN MAHIR AJA,

  39. KAMSIA PAK DALANG…..HIKSS, KUJANG GUNDUL DAPAT
    BAYARAN GEDHE KAYAKNYA, LHA-LHA MULAI KEMAREN
    MUNCUL JE…..!!??

    KI KUJANG GUNDUL…..TRAKTIR DOOOOONNNNNGGGG

  40. Sementara itu diistana Saunggaluh, sebuah pasukan lengkap telah dipersiapkan. Mereka adalah pasukan khusus berkuda. Sebuah pasukan kerajaan saunggaluh yang sangat dibanggakan dan telah mempunyai banyak pengalaman berperang.

    “Baginda Raja memerintahkan kita untuk menjaga istana”, berkata Ki Lurah Gembleh merasa cukup cemas ketika melihat kesiapan pasukan berkuda yang telah keluar dari gerbang istana.

    “Kenapa Baginda Raja tidak memerintahkan pasukan kita membantunya ?”, bertanya salah seorang anak buahnya sambil berbisik.

    “Mungkin Baginda Raja punya perhitungan sendiri, setidaknya kitalah benteng terakhir”, berkata Ki Lurah mencoba melegakan hati sendiri yang masih ada rasa cemas, bila saja tidak ada perintah raja, mungkin sudah disiapkan pasukannya untuk membantu.

    Abu mengepul terbang dibelakang kuda-kuda yang berlari keluar dari gerbang kota.Hanya Ki Lurah Gembleh dan beberapa anak buah kepercayaannya yang mengetahui kemana tujuan pasukan berkuda itu sebenarnya.
    Ketika matahari telah bergeser turun dari puncaknya, pasukan berkuda itu telah sampai di tepi hutan Kranggan. Mereka langsung menuju ke rumah singgah.

    “Ampun tuanku, hamba tidak dapat melindungi Baginda Raja”, bersimpuh Ki Matul di hadapan Patih Manohara dan Raden Darmamula.

    “Ceritakan apa yang telah terjadi”, berkata Raden Darmamula

    Ki Mantul pun bercerita sebagaimana yang telah diatur sebelumnya. Dikatakan bahwa malam itu telah datang seseorang yang bukan hanya membunuh Bango Sampara, tapi juga masuk kedalam kamar Ragasuci yang tengah tertidur.

    “Tuanku baginda telah terbunuh disaat masih tertidur”, berkata Ki mantul menutup ceritanya.

    “Aku ingin melihat jenasah Baginda Raja”, berkata Patih Manohara tidak sabar lagi.

    Patih Manohara dan Raden Darmamula langsung masuk kedalam. Hatinya berdegap gembira melihat dua buah jenasah diruang tengah. Terlihat tiga orang gadis tengah menangisi sebuah jenasah.

    “Siapakah diantara kalian yang bernama Dara Puspa ?”, bertanya Raden Darmamula kepada tiga orang gadis yang masih terus menangis tersedu-sedu.

    “Akulah Dara Puspa”, berkata Dara Puspa menatap Raden Darmamula.

    “Aku turut berduka cita atas kematian suamimu”, berkata Raden Darmamula, sementara hatinya berdecak kagum melihat kecantikan Dara Puspa.

    Belum sempat Raden Darmamula menyingkap kain yang menutupi tubuh jenasah untuk memastikan apakah jenasah itu benar adanya Ragasuci, datang kepadanya seorang prajurit.

    • boeat yang masih melek….hehehe 1000x bergema

      • he he he …
        semalam ketiduran

  41. “Ampun Tuanku, orang-orang Muncang memaksa ingin masuk”, berkata prajurit itu.

    “Anjing mencari penggebuk”, berkata Patih Manohara sambil berjalan keluar diikuti oleh Raden Darmamula.

    “Apa yang kalian inginkan kemari”, bertanya Patih Manohara dihadapan orang-orang Pasir Muncang.

    “Kami ingin menyampaikan penghormatan yang terakhir”, berkata salah seorang diantaranya yang sepertinya pemimpin mereka.

    “Kalian adalah orang-orang terbuang dari tanah Pasundan, tidak layak memberikan penghormatan terakhir”, berkata Raden Darmamula.

    “Lebih layak mana, orang yang terbuang dari kampungnya dengan seorang penghianat bangsa”, berkata pemimpin itu.

    “Siapa yang kalian maksudkan sebagai penghianat bangsa”, berkata Patih Manohara.

    “Tidak perlu berpura-pura lagi, kalian berdualah penghianat bangsa itu”, berkata Kujang Gundul yang tiba-tiba saja keluar dari tengah-tengah kerumunan orang=orang Pasir Muncang.

    “Kujang Gundul !!”, berteriak kaget Patih Manohara.
    “Tuanku kaget melihat hamba masih hidup ?”, berkata Kujang Gundul dengan senyum khasnya.

    “Sebaliknya aku gembira, kamu datang sendiri mencari alat penggebuk”, berkata Patih Manohara menutupi rasa kagetnya.

    “Untuk membunuh seekor ular memang perlu alat penggebuk”, tiba-tiba ada suara lantang berasal dari atas panggung pendapa yang ternyata adalah Ragasuci yang sudah berdiri disitu, disampingnya berdiri Bango Samparan.

    Bukan main kagetnya Patih Manohara dan Raden Darmamula melihat Ragasuci ternyata masih hidup. Kekagetan mereka bertambah ketika dari bawah panggung rumah itu keluar para anak buah Bango Samparan yang mereka kira selama ini masih dalam keadaan terikat.

    “Maaf Paman, terima kasih atas perhatian Paman untuk menjengok jenasah keponakannya”, berkata Ragasuci yang melihat Raden Darmamula terkejut. “Paman telah datang dengan dua puluh pasukan berkuda, untuk itu aku telah menghadirkan lima puluh orang lebih yang setia berkorban untukku”, kembali Ragasuci berkata agar Raden Darmamula dapat memperhitungkan kekuatannya.

    “Kalian akan kami basmi sekalian disini”, berkata Raden Darmamula menutupi kegentarannya melihat jumlah orang-orang yang terlihat memang sudah rela berkorban dan setia kepada Ragasuci.

    “Apakah Paman dapat memerintahkan pasukan berkuda untuk membunuh Rajanya ?”berkata Ragasuci yang membuat para prajurit pasukan berkuda menjadi bimbang apa yang harus mereka lakukan, perintah siapa yang harus mereka taati.

    • Lumayan…si Ilham hari ini cukup royal….bangun tidur langsung ngasih satu rontal.

      • hmmmm…..
        perintah siapa ya yang harus ditaati?…..
        tentu perintah Ki Dalang….
        he he he …..
        sugeng enjing…..

    • Lho kok bisa ya???

      • kok bisa lho ya

    • kok lho ya bisa ???

      • Bisa kok lho ya.

    • Ternyata Patih Manohara dan Raden Darmamula sendiri yang ibarat ulo marani gebug, kuthuk marani sunduk.

  42. selamat siang kadang padepokan pak dalang KOMPOR,
    selamat menikmati rontal-rontal keng ki MAHESA.

  43. Kamsiaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!

    (telat ya ora apa2)

  44. Melihat wajah keraguan dari para prajurit pasukan berkuda, wajah Raden Darmamula seperti merah terbakar. Dirinya merasa sudah ada ditengah sebuah jebakan yang tidak mungkin dapat lolos lagi.

    “Aku akan menantangmu adu tanding”, berkata Raden Darmamula penuh keputus asaan berharap tantangannya akan diterima. Inilah jalan satu-satunya keluar dari segala tuntutan meski secara pribadi menyadari ketinggian ilmu Ragasuci yang menjadi murid tunggal yang terkasih Gurusuci Darmasiksa.

    “Aku terima tantangan Pamanda”, berkata Ragasuci.
    Bukan main gembiranya Raden Darmamula mendengar pernyataan Ragasuci, meski mengakui ketinggian ilmu Ragasuci, tapi menurutnya hanya selapis tipis dibandingkan dengan pengalaman dan umurnya.

    “Ijunkan hamba mewakili Baginda Raja”, berkata Mahesa Amping yang dapat membaca perasaan Ragasuci yang menjadi ragu harus berhadapan dengan pamannya sendiri.

    Mendengar permintaan Mahesa Amping, Ragasuci sepertinya mendapatkan sebuah jawaban.

    “Kupertaruhkan adu tanding ini atas kebebasan Pamanda dari segala tuntutan, kuwakilkan diriku ini kepada Mahesa Amping”, berkata Ragasuci dengan lantangnya seakan-akan sebagai pernyataan untuk didengar oleh semua yang hadir di halaman rumah singgah itu.

    Raden Darmamula sepertinya tidak percaya dengan apa yang didengarnya dan merasa bahwa Ragasuci telah melakukan kesalahan besar dengan mewakilkan dirinya kepada seorang pemuda yang tidak dikenal. Tapi Raden Darmamula tidak mengatakan apapun, baginya pernyataan Ragasuci adalah keuntungan baginya.

    Raden Darmamula melihat Mahesa Amping turun dari rumah panggung penuh dengan ketenangan dan kepercayaan yang tinggi, seperti tidak akan menghadapi sesuatu yang sangat mencemaskan.

    “Pemuda tolol yang merasa punya ilmu andalan”, berkata Raden Darmamula dalam hati menafsirkan ketenangan Mahesa Amping.

    Semua mata tertuju kepada dua orang lelaki yang saling berhadapan ditengah halaman rumah singgah yang luas. Banyak yang belum mengenal Mahesa Amping secara pribadi menghawatirkan pemuda ini dan menganggap pernyataan Ragasuci mewakilkan dirinya kepada anak muda ini adalah sebuah kecerobohan.

    Sementar itu Kujang Gundul yang telah merasakan sendiri kedahsyatan ilmu Mahesa Amping tersenyum gembira.

    “Raden Darmamula tidak menyadari bahwa lawannya memiliki ilmu setingkat dewa”, berkata Kujang Gundul dalam hati sambil matanya tidak pernah lepas ke arena pertandingan itu.

    • belum telat untuk mengirim satu rontal….hehehe 1000x bergema

      • Tentu saja belum telat….. Kamsiaaaaaaaaa…… !!!

      • On 3 Oktober 2011 at 22:30 kompor said:

        belum telat untuk mengirim satu rontal (lagi)….hehehe 1000x bergema

        hehehe 1000x bergema ………………………………………
        ditungggu lanjutannya

  45. “berbanggalah dirimu anak muda yang telah mewakili Baginda Raja, meski diriku masih sangsi, apakah dirimu layak menjadi lawan tandingku”, berkata Raden Darmamula kepada Mahesa Amping yang sudah berdiri dihadapannya.

    “Ternyata kita punya perasaan yang sama, akupun merasa sangsi apakan paman dapat mengalahkanku”, berkata Mahesa Amping sengaja memancing kemarahan Raden Darmamula.

    Ternyata pancingan Mahesa Amping mengenai sasaran, kata-kata Mahesa Amping terasa pedas lewat ditelinganya.

    “Keluarkan senjatamu !”, berkata Raden Darmamula yang langsung mengeluarkan sebuah keris besar yang tidak layak sebagaimana keris biasa karena bentuknya lebih besar dan lebih panjang dari keris kebanyakan.

    Mahesa Amping melihat pamor yang tidak biasa yang keluar dari aura keris Raden Darmamula sebagai isyarat bahwa dirinya harus berhati-hati menghadapinya. Maka dengan tenang penuh percaya diri Mahesa Amping menarik pisau belati senjata andalannya dari balik pakaiannya.

    Melihat Mahesa Amping hanya bersenjata belati, Raden Darmamula tersenyum menganggap anak muda didepannya ini terlalu dungu.

    “Kamu memang pantas bunuh diri”berkata Raden Darmamula sambil tidak sabar melihat kemenangannya langsung menerjang dengan kekuatan dan kecepatan yang sangat luar biasa.

    Bukan main kagetnya Darmamula mendapatkan Mahesa Amping sudah tidak ada ditempatnya lagi. Serangannya menembus tempat kosong.

    “Aku disini Paman”, berkata Mahesa Amping yang telah bergeser kesamping masih berdiri seperti tidak menerima serangan apapun.

    Diam-diam Raden Darmamula mengakui kecepatan gerak Mahesa Amping. Maka dengan kecepatan yang berlipat ganda kembali melakukan serangan, kali ini dengan sebuah ayunan ber kelebat keris raden Darmamula mengarah ke leher Mahesa Amping.

    Dengan cantiknya Mahes Amping merendahkan tubuhnya, ayunan keris hanya berjarak tipis lewat dikepalanya dan langsung melakukan serangan balik yang tidak diduga dengan sebuah tendangan kakinya meluncur mengancam perut Raden Darmamula.

    Kaget bukan kepalang Darmamula mendapatkan serangan balik yang tidak terduga dan dengan kecepatan yang luar biasa.

    “Gila !!”, berkata Raden Darmamula sambil mundur kebelakang. Matanya menatap Mahesa Amping seperti tidak percaya atas semua yang telah terjadi.
    Sejak saat itulah dirinya tidak lagi meremehkan Mahesa Amping dan bertindak menjadi sangat hati-hati.

    “Anak muda ini ternyata punya andalan”, berkata Raden Darmamula dalam hatinya.

    • Masih belum telat untuk pamit tidur, besok ada tugas ke Jakarta pagi-pagi.
      Permisi 1000X bergema

      • ha ha ha ….
        kamsiaa…………………..

      • Kamsiaaaa…!!

  46. kaammssssiiiiiaaaaaaa

  47. HADIR DULU…..BACANYA NANTI MALAM ae,

  48. hup…!
    tingak-tinguk…..

    bbrrr………..
    dinginnya malam ini, tidak seperti kemarin-kemarin
    hhmmm…………….
    sudah pakai jaket masih dingin juga
    semoga kuat menunggu kehadiran Pak Dalang

  49. Kam kam kam kam kam kam Kam kam kam kam kam kam ……………..
    si si si si si si si si si si si si si si si si si si si si si si si si si si ……………..
    ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ………………

    (Kamsiya seribu gema)

  50. KAMSIA…….KAMSIA…..KAMSIA NI CANTRIK ( BERGEMA 1000X)

    • Kamsiaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!

      (baru bergema sekali sudah mlebes)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: