SFBDBS_09

<<kembali ke SFBdBS-08 | lanjut ke SFBdBS-10 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 25 Desember 2011 at 00:01  Comments (276)  

276 KomentarTinggalkan komentar

  1. sugeng enjang kadang padepokan pak DALANG-e,

    • sugeng enjang ugi Ki

  2. Diam-diam Empu Dangka mengagumi pemuda disebelahnya ini yang telah mampu menggunakan mata bathinnya, sebuah pertanda orang bersangkutan telah berada dalam tingkat kesempurnaan ilmu yang tinggi.

    “Manusia Leak itu dari tataran tingkat utama”, berkata Empu Dangka yang sepertinya sangat mengenal tingkat dan tataran kedua orang yang tengah bertempur itu.”Aku pernah melihat manusia Liya-ak dari tataran tingkat utama bertempur dengan manusia Leak yang juga ada di tingkat tataran ilmu yang sama”, berkata kembali Empu Dangka sambil terus mengawasi jalannya pertempuran.

    “Aku juga melihat orang itu itu telah menjadi bulan-bulanan manusia Leak”, berkata Mahesa Amping yang juga menghawatirkan nasib lawan manusia Leak.

    “Kita tidak dapat datang membantu, pertempuran mereka adalah perkelahian hidup dan mati yang telah berlangsung ratusan tahun diantara dua perguruan yang telah saling bermusuhan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang masih mengkhawatirkan lawan manusia Leak yang terlihat sudah semakin tersudut kewalahan menghadapi serangan manusia Leak yang semakin gencar dan telah berada dipuncak tataran ilmunya.

    “Bagaimana bila ada yang datang membantu ?”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

    “Aku belum pernah melihat ada orang luar yang datang melerai pertempuran mereka, atau membantu salah satu pihak”, berkata Empu Dangka.

    “Aku akan datang membantu”, berkata Mahesa Amping yang langsung meloncat mendekati arah pertempuran.
    Empu Dangka menarik nafas panjang, disebelahnya jasad wadag Mahesa Amping masih duduk bersila.

    “Biarlah aku yang menyelesaikan pertempuran yang sudah tidak seimbangini”, berkata Mahesa Amping kepada orang tua yang terlihat hampir saja terkalahkan menghadapi serangan-serangan gencar dan berbahaya dari Manusia Leak.

    “Kamu yang akan menggantikan takdirnya ?”, berkata Manusia Leak menatap tajam Mahesa Amping.

    “Anak muda, kenapa kamu menggantikan takdirku ini ?”, bertanya orang tua itu kepada Mahesa Amping.

    “Takdir milik yang Maha Kuasa Sang Hyiang Widi”, berkata Mahesa Amping penuh ketenangan.”Menyingkirlah, aku yang akan menghadapinya”, berkata kembali Mahesa Amping kepada orang tua itu.

    Maka orang tua itu telah menyingkir bergabung dengan kelompoknya empat orang pemuda. Entah kenapa melihat tatapan mata Mahesa Amping dirinya telah langsung mempercayainya.

    Ternyata kepercayaan orang tua itu terhadap Mahesa Amping tidak sia-sia. Terlihat Mahesa Amping telah dapat mengimbangi serangan-serangan manusia Leak yang sangat berbahaya.

  3. Bukan main geramnya manusia Leak itu yang baru pertama kali bertemu dengan lawan tanding yang begitu tangguh. Tidak satupun ditemui celah yang dapat ditembus, sebaliknya beberapa pukulan telah bersarang dibeberapa tubuhnya.

    Manusia Leak itu terlihat semakin putus asa, maka diterapkannya ilmu simpanannya yang jarang sekali dipergunakan, sebuah aji yang sangat menyeramkan.

    “Aji sekati nyawa”, berkata Empu Dangka yang melihat bagaimana manusia Leak telah mengterapkan aji simpanannya. Timbul kekhawatirannya terhadap Mahesa Amping, dapatkah pemuda itu menghadapi ajian ilmu purba yang selama ini hanya pernah didengar dari orang-orang tua jaman dulu.

    Siapapun yang menyaksikan apa yang dilihat dihadapannya akan terbungkam sepertinya tidak mempercayai apa yang terjadi.

    Apa sebenarnya yang terlihat dan terjadi ???
    Yang tengah terjadi adalah putusnya dua tangan dan dua kaki serta kepala dari tubuh manusia Leak. Yang sangat meyeramkan adalah kelima anggota tubuh yang terlepas itu secara bersamaan menyerang Mahesa Amping.

    Untungnya Mahesa Amping telah dapat menguasai ilmu meringankan tubuh kelas tinggi dan nyaris telah sampai ditataran puncak kesempurnaaannya. Maka tidak satupun serangan yang dapat langsung mengenai tubuh Mahesa Amping.

    “Ilmu meringankan tubuh yang sempurna”, berkata Empu Dangka kepada dirinya sendiri manakala melihat tubuh Mahesa Amping melenting kesana kemari seperti belalang kecil melesat menghindari setiap serangan lima buah anggota badan manusia Leak yang terpisah namun serentak melakukan serangan.

    Kembali manusia Leak itu menggeram, tidak satupun serangannya mengenai tubuh lawannya, bahkan setahap demi setahap Mahesa Amping telah menguasai pertandingan terlihat balas melakukan serangan yang tidak kalah berbahayanya.

    Sementara senja diatas hutan belantara itu telah datang menyelimuti bumi. Kegelapan telah mengelilingi pandangan mata. Namun pertandingan yang tidak memerlukan mata wadag antara manusia Leak dan Mahesa Amping masih terus berlangsung.

    Manusia Leak itu sepertinya sudah begitu geram, segala tenaga dikerahkan namun tak satupun serangan dapat mengenai tubuh Mahesa Amping yang begitu cepat menghindar melenting dan balas menyerang. Beberapa pukulan Mahesa Amping telah bersarang diberbagai anggota badan yang terpisah itu.

    Mahesa Amping diam-diam mengagumi semangat tempur dari manusia Leak yang tidak mengenal rasa putus asa. Maka diam-diam telah menerapkan ilmu simpanannya yang jarang sekali dipergunakan, hanya dalam keadaan terpaksa.

    • matur suwun

      beberapa hari ini sulit monitor padepokan, Koneksi putus-nyambung.

      • putus-nyambung….putus-nyambung, kayak lagu aja Ki Arema,
        he-hee5x, sami kok Ki….dikampung saya malah lemot puooLL

  4. sugeng dalu…..selamat malam,

  5. Dalam sebuah serangan kepungan yang cepat dari lima anggota tubuh manusia Leak, Mahesa Amping melenting keudara.

    Masih dalam keadaan melenting diudara, terlihat sebuah seleret cahaya keluar dari sorot mata Mahesa Amping.

    Ternyata sinar kilat cahaya yang begitu cepat datangnya dari sorot mata Mahesa Amping tertuju kesebuah salah satu lengan manusia Leak.

    Akibatnya membuat siapapun yang melihatnya akan terperanjat menahan nafas tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

    Sebuah lengan manusia Leak hangus terbakar tergeletak diatas tanah.

    “Apakah kamu masih menunggu satu persatu anggota tubuhmu hangus terbakar ?”berkata Mahesa Amping dihadapan sebuah kepala yang terpisah.

    “Ternyata kisanak belum mengetahui aturan dari pertempuran di alam tak terbatas ini. Kuakui ketinggian ilmu kisanak melampaui tataran ilmuku, untuk itu sesuai aturan pertempuran ambillah nyawaku kapanpun engkau mau”, berkata kepala yang terpisah itu sepertinya telah mengakui kekalahannya.

    Dan tiba-tiba saja seluruh anggota badan manusia Leak itu menghilang. Ternyata manusia Leak itu telah kembali ke jasad kasarnya.

    Bersamaan dengan itu pula Mahesa Amping telah kembali ke jasad kasarnya yang masih duduk bersila disebelah Empu Dangka.

    Terlihat Mahesa Amping berdiri dan melangkah mendekati Manusia Leak yang tengah tertunduk menanti tindakan Mahesa Amping untuk melepas nyawanya.

    “Aku tidak akan mengambil nyawamu, nyawamu bukan milikku, dialah Sang Hyiang Widi pemilik segala yang hidup”, berkata Mahesa Amping kepada Manusia Leak dihadapannya yang masih tertunduk pasrah.

    “Ajaran kami kekalahan adalah kematian”, berkata manusia Leak itu perlahan.

    “Itulah ajaran kegelapan, lihatlah dunia disekelilingmu, lihatlah kehidupan yang tercurah yang diberikan oleh Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih, yang telah menjadikan alam ini penuh dengan kedamaiannya. Jadilah manusia yang berarti itulah kehidupan yang sebenarnya”, berkata Mahesa Amping kepada manusia Leak.

    “Bila aku punya arti bagi kehidupan ini, itukah pertanda aku punya kehidupan?”, bertanya manusia Leak itu mengangkat wajahnya perlahan kepada mahesa Amping.

    “Manusia yang tidak punya arti dalam kehidupannya adalah manusia yang telah lama mati meski masih bernyawa”, berkata Mahesa Amping.

    • nambah lagi………buat malam mingguan…

  6. “Sang kegelapan telah mengisi seluruh benakku dengan kekuasaan yang tak terbatas, menjadikan tangan ini sebagai pencabut nyawa demi keinginan segala dendam. Tapi hati ini sedikitpun tidak merasakan kebahagiaan. Semakin meluaskan segenap kebencian keseluruh bumi, semakin jiwa ini tak pernah terpuaskan. Namun manakala tuan berkata tentang Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih, jiwa ini sepertinya telah terkubur. Kulihat sedikit cahaya dalam kegelapan di rongga hati ini yang sepertinya memberikan sedikit pengharapan sebuah kebahagiaan yang belum pernah kurasakan, sebuah rasa yang baru kali ini datang, sebuah rasa yang bukan kepuasan, kegembiraan, tapi sebuah ketenangan jiwa, merasakan ada di dalam genggaman Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih”, berkata manusia Leak perlahan kepada Mahesa Amping.

    “Pergilah kemanapun kamu pergi, Yang Maha Hidup ada dimanapun kamu berada, disaat pagi dan petang, dalam keadaan kamu berdiri, duduk dan berbaring. Dia Yang Maha Hidup akan berlari kepadamu manakala kamu berjalan menghadapnya”, berkata Mahesa Amping kepada manusia Leak.

    “Tuan telah memberikan kepada hamba sebuah tuntunan yang belum pernah sekalipun kudengar, kupersembahkan jiwa ini berbakti selamanya kepada tuan”, berkata manusia Leak itu sambil bersujud dihadapan Mahesa Amping.

    “bangkitlah, mulai hari ini kita bersaudara”, berkata Mahesa Amping sambil mencoba mengangkat tubuh manusia Leak untuk berdiri.

    Bukan main gembiranya manusia Leak itu mendengar perkataan Mahesa Amping.

    “namaku Jaran Waha, benarkah tuan mengangkat hamba ini sebagai saudara ?”, berkata manusia Leak itu yang telah memperkenalkan dirinya bernama Jaran Waha.

    “namaku Mahesa Amping, mulai hari ini kita bersaudara”, berkata mahesa Amping mengulang perkataannya sepertinya meyakinkan kepada Jaran Waha atas apa yang diucapkannya.

    “Terima kasih, sebuah kebahagiaan menjadi saudaramu”, berkata Jaran Waha sambil memeluk tubuh Mahesa Amping penuh kegembiraan.

    Orang tua dan empat orang pemuda yang bersamanya telah mendengar dan menyaksikan apa yang telah terjadi menjadi merasa terharu.

    “Wahai anak muda, pemahamanmu mengenai kebenaran begitu tinggi, kami menjadi malu pada diri sendiri, selama ini kami hanya mengenal membasmi kejahatan adalah sebuah pembunuhan, ternyata kebenaran sejati adalah menghidupkan kehidupan itu sendiri “, berkata orang tua itu.”Perkenalkan kami dari perguruan Panca Agni, namaku Ki Arya Sidi. Dan keempat pemuda yang bersamaku adalah para muridku empat orang Pangeran muda putra Raja Puri Pusering Jagad di Pejeng”, berkata orang tua itu memperkenalkan dirinya dan keempat muridnya.

    “Bahagia diri ini dapat berkenalan dengan seorang guru dari perguruan Panca Agni dan juga keempat muridnya”, berkata Mahesa Amping menjura penuh hormat.

    • hari ini berexperimen, nambahin kopi sama coklat batangan, ternyata enaknya poaalll istilahnya Ki Widura (kangen sama ki Widura ronda semalaman suntuk)

  7. “Kami berhutang budi padamu anak muda, semoga kami dapat membalasnya”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

    “Hutang budi itu kuanggap telah selesai manakala tidak ada permusuhan lagi antara perguruanmu dengan saudaraku ini”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

    “Aku juga akan mengikat persaudaraan denganmu anak muda, apakah dirimu berkenan ?”, bertanya Ki Arya Sidi menunggu jawaban dari Mahesa Amping.

    “Dengan tangan terbuka dan wajah kebahagiaan menerima Ki Arya Sidi sebagai saudara. Itu artinya kita bertiga telah terikat tali persaudaraan”, berkata Mahesa Amping sambil memeluk Ki Arya Sidi dengan penuh kegembiraan.

    “Mari Ki Jaran Waha, kita bertiga adalah saudara”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang langsung mendekat.

    Maka terlihat mereka bertiga saling berpelukan sebagaimana saudara yang disaksikan oleh keempat pemuda para murid Ki Arya Sidi dan juga tentunya Empu Dangka yang masih duduk ditempatnya.

    “Aku lupa memperkenalkan sahabat perjalananku”, berkata Mahesa Amping yang telah memperkenalkan Empu Dangka kepada semua yang ada dihutan itu.
    Sementara itu suasana di hutan itu sudah begitu gelap, sang malam telah menyelimuti bumi.

    “Tempat tinggalku tidak jauh dari sini, mudah-mudahan kalian berkenan mampir ditempatku yang sederhana”, berkata Ki Jaran Waha menawarkan semua yang ada untuk singgah ditempat tinggalnya.

    “Maafkan kami saudaraku Ki Jaran Waha, Pejeng sudah tidak begitu jauh lagi, biarlah kami melanjutkan perjalanan kami dimalam hari ini”, berkata Ki Arya Sidi. “Bila kalian ada disekitar Pejeng, datang singgahlah ke Padepokan kami”, berkata kembali Ki Arya Sidi.

    “Kami akan berkunjung ke Padepokan Panca Agni, karena kebetulan kami akan melewati Pejeng”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi.

    “Terima kasih, kami akan menunggu kedatangan kalian”, berkata Ki Arya Sidi sambil berpamitan bersama keempat muridnya melanjutkan perjalanannya.
    Demikianlah, akhirnya Mahesa Amping dan Empu Dangka mengikuti Ki Jaran Waha berjalan kearah tempat tinggalnya.

    Setelah mereka berjalan menyusuri hutan yang gelap, sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Jaran Waha bahwa tempat tinggalnya memang tidak begitu jauh.

    Akhirnya mereka telah sampai di kediaman Ki Jaran Waha.

    Ternyata kediaman Ki Jaran Waha adalah sebuah goa yang ada didalam hutan itu sendiri. Bila saja datang tidak bersama Ki Jaran Waha, tidak seorangpun dapat menemui goa itu.

    • konfirmasi dulu sama ki Arema, kurang berapa rontal lagi untuk melejid ke gandhok sepuluh ?????

      • mulai siang tadi koneksi putus nyambung, tidak bisa masuk padepokan.
        Ini baru saya bundel, sedang saya baca. Sebentar lagi mungkin baru dapat informasi apakah sudah cukup untuk masuk ke gandok 10

        • okelah kalo begitu, ditunggu putus nyambungnya…hehehe

        • Wedaran terakhir, pas jadi akhir bundel SFBDBS-09.
          Wedaran selanjutnya tunggu dibukanya gandok SFBDBS-10.
          Insya Allah, besok pagi.
          beberapa kali coba upload gambar sampul tidak berhasil.
          sudah mengantuk, diteruskan besok pagi

          nuwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: