SFBDBS_09

Bagian 1.

SFBDBS 09-215

Terlihat Mahesa Amping mengeluarkan sebuah bubu bambu yang selalu dibawanya dibalik ikat pinggangnya. Ternyata didalam bubu bambu kecil itu berisi bubuk racikan obat. Mahesa Amping terlihat tengah melarutkan bubuk racikan obat itu dengan air yang ada di mangkuk. Dan dengan tangannya meneteskan air itu ke bibir orang yang pingsan itu.

Tidak lama kemudian, terlihat wajah orang yang pingsan itu yang semula putih pucat terlihat sudah mulai berwarna memerah. Mahesa Amping terlihat memegang lengan orang itu.

“Denyut nadinya telah normal kembali”, berkata Mahesa Amping sambil menarik nafas lega sebagai tanda bahwa orang yang terkena bisa racun ular api itu dapat diselamatkan.

Melihat perubahan di wajah orang yang pingsan itu, beberapa orang yang ada di pendapa itu ikut menarik nafas lega, merasa kawannya akan sembuh dan dapat diselamatkan.

“Dimana aku?”, bertanya orang yang pingsan itu ketika membuka matanya melihat banyak orang di sekelingnya.

“Kamu baru saja selamat dari bisa racun ular api”, berkata Ki Sukasrana kepada orang yang baru siuman itu.

”Minumlah obat ini sampai habis”, berkata Mahesa Amping sambil memberikan mangkuk berisi obat racikannya kepada orang yang baru siuman itu yang sudah dapat duduk bersandar dinding kayu.

Terlihat orang itu meminum obat racikan di sebuah mangkuk yang diberikan Mahesa Amping dan kembali bersandar di dinding kayu, wajahnya terlihat semakin segar tidak pucat lagi sebagaimana sebelumnya.

“Terima kasih anak muda, kamu telah menyelamatkan anak buahku”, berkata K Sukasrana yang melihat anak buahnya sudah menjadi lebih segar dari sebelumnya.

“Diujung barat kampung ini kulihat ada hutan kecil, carilah jamur kayu merah di hutan itu, mudah-mudahan penyembuhannya akan menjadi lebih cepat lagi”, berkata Mahesa Amping sambil menyebut beberapa tumbuhan yang banyak tumbuh di sekitar perkampungan itu sebagai bahan campuran obat.

“Aku tidak menyangka bahwa teman mudaku ini adalah seorang tabib”, berkata Ki Ketut Areng

“Aku hanya punya sedikit ilmu”, berkata Mahesa Amping merendahkan dirinya.

“Antarlah Tole ke rumahnya, jangan lupa untuk mencarikan jamur kayu merah dan beberapa bahan tumbuhan untuk obat”, berkata Ki Sukasrana kepada keempat anak buahnya untuk mengantar Tole yang sudah dapat berdiri, meski masih sedikit lemas.

Sementara itu matahari diatas perkampungan nelayan itu sudah cepat naik ke puncaknya, untungnya di depan rumah Ki Sukasrana berdiri tumbuh sebuah pohon jamblang yang berdahan dan berdaun cukup lebat sehingga sinar matahari tidak langsung masuk menyengat kulit di siang hari itu.

“Kalian pasti sudah sangat lapar”, berkata Ki Sukasrana sambil berdiri tersenyum.

Ternyata Ki Sukasrana masuk kedalam untuk menengok Nyai Sukasrana yang sudah hampir selesai menyelesaikan beberapa masakan. Ki Sukasrana telah kembali ke pendapa menemani tamunya. Tidak lama berselang terdengar pintu pringgitan berderit dan muncul seorang perempuan yang ternyata adalah Nyai Sukasrana yang sekilas masih nampak sisa-sisa kecantikannya ketika masih muda dulu.

“Silahkan kisanak makan seadanya, hari ini kami Cuma memasak lawar, pepesan ayam dan mangut lele”, berkata Nyai Sukasrana kepada Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng.

“Terima kasih, kami telah merepotkan nyai”, berkata Ki Ketut Areng kepada nyai Sukasrana yang hanya tersenyum dan kembali lagi masuk kedalam menghilang dibalik pintu pringgitan.

Dan sang waktu ternyata begitu cepat berlalu, tidak terasa matahari sudah rebah turun sedikit ke barat. “Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian”, berkata Ki Sukasrana mengantar Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng menuruni tangga pendapanya.

“Semoga di pertemuan berikutnya, buah jamblang itu sudah banyak yang masak”, berkata Mahesa Amping menunjuk ke arah pohon jamblang di depan rumah Ki Sukasrana.

“Semoga tidak ada hambatan dalam perjalanan kalian”, berkata Ki Sukasrana dari atas pendapanya.

Demikianlah Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng telah kembali ke Bandar kecil itu. Bahtera yang mereka tumpangi masih terlihat merapat di sebuah dermaga.

Ketika matahari sudah berbaring diujung barat bumi, di batas senja bahtera itu telah bertolak meninggalkan Bandar Tanah sempit-sempit.

Sang malam terlihat begitu kelam mewarnai langit laut selat Bali, tapi masih ada beberapa bintang sebagai tanda bahwa hari tidak akan turun hujan.

Bahtera itu berlayar diatas hamparan laut sunyi. Kadang terlihat kerlap-kerlip lampu centing bergoyang diatas jukung berlayar tunggal nelayan yang tengah mencari ikan, mereka memang terlahir sebagai nelayan, hidup berkeluarga dan beranak pinak melahirkan para nelayan muda di masa yang akan datang. Sebuah kehidupan malam di tengah lautan yang begitu sunyi, menjaring ikan untuk kehidupan keluarganya. Dan mereka tidak pernah jemu untuk melakoninya. Adalah sebuah kebahagiaan tak terkira manakala pulang dari melaut membawa banyak ikan di kaping bambu. Itulah kebahagiaan yang tidak dapat dibeli, sebagaimana seorang petani melihat panen jagungnya.

“Besok menjelang pagi kita sudah tiba di Bandar Buleleng”, berkata Ki Ketut Areng kepada Mahesa Amping yang tengah melihat dua orang lelaki diatas jukungnya terapung di tengah laut malam.

Sementara itu angin bertiup begitu dingin, tidak terasa bahtera telah melewati selat Bali. Di sebelah kanan bahtera membujur gundukan tanah hitam. Itulah Balidwipa disaat malam kelam seperti bayi raksasa yang tengah tertidur.

———-oOo———-

SFBDBS 09-216

“Ketika bertolak dari Bandar Cangu, aku tidak merasakan apapun. Namun manakala Bahtera sudah mulai menyentuh pesisir Bali, hati ini seperti tersentak-sentak, ingin rasanya aku terjun berenang ketepian dan berlari pulang”, berkata Ki Ketut Areng sambil menatap pesisir tepian pantai Bali yang terlihat masih menghitam, hanya terlihat kerlip beberapa lampu-lampu kecil berasal dari lampu lenting rumah penduduk di tepi pantai seperti melihat gundukan tanah hitam bertabur bintang-bintang.

“Mari duduk bersandar, malam masih sangat panjang”, berkata Mahesa Amping kepada ki Ketut Areng yang masih berdiri memandang jauh ke tepi pesisir pantai.Tidak lama kemudian Ki ketut Areng telah mengikutiMahesa Amping bersandar didinding geladak.

Malam diatas kepala mereka seperti payung langit raksasa, dalam kekerdilannya, bahtera sepertinya tidak bergerak. Dan Ki Ketut Areng tidak terasa telah bergeser rebah berbaring dan akhirnya telah tertidur. Tinggalah Mahesa Amping yang masih terjaga bersandar di dinding geladak. Dan tidak terasa Mahesa Amping telah bergeser berbaring dan akhirnya ikut tertidur.

Terkejut Mahesa Amping ketika membuka matanya, langit diatas bahtera sudah terang, ternyata sang pagi sudah datang menjelang.

“Hari sudah pagi”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Ketut Areng yang juga telah ikut terbangun.

Setelah merapikan pakaian dan ikat kepalanya, terlihat Mahesa Amping berdiri dipinggir geladak bersama Ki Ketut Areng memandang tak jemu pulau Bali yang hijau terbungkus pohon-pohon hutan yang besar, tinggi dan kerap rapat.

Bahtera semakin merapat ke pantai mendekati tepian. Diujung timur terlihat tiang-tiang layar bahtera berjajar. Ke arah itulah bahtera yang ditumpangi Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng bergerak menghampirinya.

Bahtera itu telah hampir merapat di sebuah dermaga kayu yang panjang, seorang lelaki terlihat dengan beraninya melompat dari geladak sambil membawa tambang besar. Dan ketika kakinya telah menyentuh lantai geladak, dengan cekatan mengikat tali di sebuah tonggak kayu.

Bahtera telah merapat dan bersandar di Bandar Buleleng yang cukup ramai sebagaimana suasana di Bandar-bandar besar di tanah jawa.

“Terima kasih untuk tumpangannya”, berkata mahesa Amping kepada saudagar pemilik bahtera. “Tunggulah bahtera kami bilamana kamu akan kembali ke tanah Jawa”, berkata saudagar itu kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng telah menginjakkan kakinya di dermaga. Terlihat beberapa orang tengah membawa kuda yang akan diangkut berlayar, mungkin kesebuah tempat yang jauh.

“Rumahku tidak begitu jauh dari sini”, berkata ki Ketut Areng dengan wajah begitu ceria merasakan udara kampung halamannya sendiri. Ternyata rumah Ki Ketut Areng memang tidak begitu jauh dari Bandar Buleleng, hanya terpisah dengan sebuah hutan kecil.

Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng sudah mendekati sebuah regol gerbang Kademangan Kabukbuk. Sebuah Kademangan yang paling dekat dengan Bandar Buleleng.

Tidaklah aneh bila Kademangan itu cukup ramai menjadi tempat persinggahan orang-orang Bali pedalaman yang akan membawa berbagai dagangannya ke Bandar Buleleng diantaranya adalah ternak kuda sebagaimana yang mereka lihat tengah diangkut berlayar di Bandar buleleng.

Di pintu regol, Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng disambut gembira oleh seorang gadis yang ternyata putri tunggal Ki Ketut Areng.

“Ibu masih belum pulang kepasar”, berkata gadis itu kepada ayahnya Ki Ketut Areng.

Mahesa Amping dipersilahkan bersih-bersih di pakiwan. Setelah itu Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng terlihat beritirahat bercakap-cakap di rumah bambu, sebuah bangunan yang bertiang bambu terbuka dan terpisah dari bangunan utama.

Rumah Ki Ketut Areng memang terlihat asri, ada beberapa tanamam bunga yang terawatt apik di halaman dan tiga buah pohon jepung merah berdiri disisi kiri pagar dinding batu.

Tidak lama kemudian datanglah dari regol pintu halaman seorang wanita sambil menjungjung keranjang diatas kepalanya yang ternyata adalah Nyai Ketut Areng yang baru pulang dari pasar.

Ki Ketut Areng memperkenalkan Mahesa Amping kepada istrinya. Dan hari itu keluarga Ki Ketut Areng sepertinya merayakan kebahagiaannya dengan memasak berbagai hidangan.

Hari itu Mahesa Amping bermalam dirumah Ki Ketut Areng, sudah menjadi kebiasaan Mahesa Amping bangun di awal pagi.

“Wanita bali memang terbiasa melakukan kerja keras seperti membajak sawah dan mencangkul”, berkata Ki Ketut Areng yang dapat membaca keheranan Mahesa Amping melihat istri dan putrid Ki Ketut Areng pagi-pagi sudah keluar rumah membawa pacul dan arit ke sawah.

“Apa kerja laki-laki Bali?”, bertanya Mahesa Amping.

“Berjudi menyabung ayam”, berkata Ki Ketut Areng sambil membelai leher ayam kesayangannya yang sudah lama ditinggalkannya.

“Nikmat sekali terlahir sebagai pria Bali”, berkata mahesa Amping sambil tersenyum.

Hari itu Ki Ketut Areng mengajak mahesa Amping ke rumah kenalannya seorang pedagang kuda, Mahesa Amping memang sengaja meminta Ki Ketut Areng mencarikannya seekor kuda yang baik.

“Kuda ini asli Sumbawa, beruntung aku belum membawanya kepasar”, berkata kenalan Ki Ketut Areng seorang pedagang kuda.

———-oOo———-

SFBDBS 09-217

Malam itu bulan bersinar bulat penuh menyinari halaman rumah Ki Ketut Areng. Semilir angin menggoyangkan bunga dan daun kemboja di sudut halaman rumah. Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng terlihat masih berbincang-bincang seputar rencana perjalanan mahesa Amping ke Puri Besakih.

“Puri Besakih hanya berjarak dua hari perjalanan berkuda”, berkata Ki Ketut Areng memberikan gambaran arah menuju Puri Besakih. Sebagai seorang pedagang batu aji, pengenalan Ki ketut Areng tentang berbagai daerah di Tanah bali memang cukup luas.

“Puri Besakih terletak dilereng Gunung Agung, berjalanlah mengambil arah matahari terbit disebelah kananmu”, berkata Ki Ketut Areng menambahi penjelasanya.

Sementara itu angin didepan halaman Ki Ketut Areng semakin dingin, bunga-bunga kemboja merah terlihat banyak berserakan.

“Saatnya beristirahat”, berkata Ki Ketut Areng mengajak Mahesa Amping beristirahat karena esok hari akan melakukan perjalanan panjang.

Malam diatas rumah Ki Ketut Areng berlalu dalam sunyi, hanya suara gemeriaicik air yang terdengar tiada henti berasal dari sungai kecil disebelah rumah Ki Ketut Areng.

Dan disaat pagi sudah terang bumi, Mahesa Amping pamit diri untuk melanjutkan perjalanannya.

“Aku berdoa untukmu, semoga tidak ada halangan dan hambatan diperjalananmu”, berkata Ki Ketut Areng melepas keberangkatan Mahesa Amping.

Terlihat Mahesa Amping menuntun kudanya keluar dari regol pintu halaman Ki Ketut Areng.Dan dengan lincahnya telah melompat diatas kudanya.

“Kuda yang baik”, berkata Mahesa Amping sambil menepuk perut kudanya. Mendapat perintah dari tuan barunya kuda itu seperti mengerti telah melangkahkan kakinya berjalan perlahan.

“Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu”, berkata Ki Ketut Areng sambil melambaikan tangannya.

Mahesa Amping berkuda diatas jalan Kademangan yang sudah ramai orang berlalu lalang untuk pergi ke sawah atau pergi ke pasar.Ketika telah keluar dari regol pintu gerbang Kademangan Kabukbuk, terlihat Mahesa Amping mengambil arah kekanan menyusuri jalan yang sepertinya sudah mengeras, sebagai tanda sering dilewati gerobak kuda memuat barang penuh muatan.Sementara itu Matahari pagi mengintip dari sela-sela daun dan dahan pokok-pokok pohon kayu yang tinggi menjulang disepanjang perjalanannya. Harum tanah hutan basah yang tertiup angin begitu menyegarkan.

“Aku ingin mencoba sejauh mana kekuatan nafasmu”, berkata mahesa Amping kepada kuda barunya sambil menjejakkan kakinya keperut kudanya.

Ternyata kuda itu adalah kuda yang pintar, tahu perintah tuannya. Maka terlihat kuda itu telah berlari begitu cepatnya.

“Kuda pintar”, berkata Mahesa Amping yang merasa gembira dibawa kudanya berlari cepat.

Diatas puncak bukit tanah datar yang dipenuhi ilalang, Mahesa Amping memperlambat laju kudanya. Dihadapannya nun jauh disana terlihat sebuah gunung berkabut di puncaknya dan berwarna biru terlihat dari jauh.

“Itulah Gunung Batur sebagaimana yang dikatakan Ki Ketut Areng”, berkata Mahesa Amping dalam hati melihat sebuah gunung membujur tinggi dihadapannya.

Sementara itu Matahari diatas puncak bukit tanah datar sudah berada dipuncak langit, terang menyengat kulit.

“Mari kita mencari tempat teduh”, berkata Mahesa Amping sambil menjejakkan kakinya di perut kudanya. Dan kuda itu pun kembali menghentakkan empat kakinya berlari ke arah yang diinginkan Mahesa Amping, berlari ke arah gerumbulan hutan hijau.

Terlihat Mahesa Amping bersama kudanya seperti membelah padang ilalang yang luas berlari menuruni bukit ilalang. Dihadapannya menanti hutan hijau menjanjikan keteduhan.

Dan Mahesa Amping bersama kudanya terlihat sudah memasuki hutan hijau itu, sengatan matahari di siang itu telah berganti dengan kesejukan suasana hutan hijau bersama harum angin segar membawa wewangian daun-daun muda.

Mahesa Amping memperlambat laju kudanya, mencoba menikmati suasana segar didalam kerindangan hutan hijau yang lebat dipenuhi pohon-pohon kayu besar yang menjulang tinggi.

Namun pendengaran Mahesa Amping yang tajam telah mendengar sesuatu yang aneh, sebuah suara dua senjata beradu tidak jauh darinya. Maka Mahesa Amping segera mempercepat lari kudanya, keingintahuannya begitu besar untuk mengetahui apa yang telah terjadi di balik tikungan jalan di tengah hutan itu.

Denting suara senjata beradu sudah semakin dekat, ternyata ada sebuah pertempuran, tapi Mahesa Amping tidak dapat membedakan siapa lawan dan siapa kawan diantara orang-orang yang tengah bertempur.

Namun lama kelamaan Mahesa Amping dapat membedakan dua kelompok yang sedang bertempur itu dari pakaiannya. Satu kelompok memakai kain poleng menutupi bagian pinggangnya, sementara kelompaok lainnya hanya menyelendangkan kain poleng itu dileher atau melintang antara leher dan dada.

Mahesa Amping melihat kelompok yang memakai kain poleng dipinggangnya kalah jumlah, mereka hanya sepuluh orang lelaki menghadapi sekitar lima belas orang lawannya.

Mahesa Amping melihat dua orang kelompok kain poleng di pinggang telah keluar dari pertempuran karena terluka cukup parah. Sebagai seorang yang mempunyai perasaan halus, Mahesa Amping merasa kasihan kepada kelompok berpakaian poleng dipinggangnya yang kewalahan menghadapi kelompok yang lebih banyak. Namun Mahesa Amping masih takut salah bertindak.

———-oOo———-

SFBDBS 09-218

Ketika seorang lagi dari kelompok kain poleng dipinggang terlempar dan terluka cukup parah, akhirnya Mahesa Amping telah menemukan cara menghentikan pertempuran itu.

Terlihat Mahesa Amping turun dari kudanya dan mengikat kudanya di sebuah batang pohon yang tersembunyi. Mahesa Amping melangkahkan kakinya mendekati pertempuran itu.

Ternyata diam-diam Mahesa Amping telah merapalkan salah satu kesaktiannya, sejenis ajian ilmu Kawah aji ari-ari. Sebuah ilmu yang dapat merebut pikiran banyak orang.

Ternyata ajian sakti Mahesa Amping kali ini hanya tertuju kepada orang-orang yang berpakaian poleng melilit dilehernya.

“Hentikan pertempuran !!!”, berkata Mahesa Amping dengan suara yang dilambari tenaga sakti menjadi seperti menggema dan terasa menghentak dada siapapun yang mendengarnya.

Seketika pertempuran itu menjadi terhenti, semua orang menatap arah suara, menatap Mahesa Amping yang tengah melangkah mendekati pertempuran yang terhenti.
Orang-orang yang berpakaian poleng di pinggangnya telah melihat Mahesa Amping sebagai seorang pemuda biasa, namun kegentaran mengisi hati mereka manakala menangkap sorot mata yang tajam penuh ketenangan.

Sementara orang-orang yang berpakaian poleng di leher dan seadanya terlihat melotot seperti melihat sesosok hantu yang menakutkan.

Ternyata mereka memang melihat hantu sebenarnya, di hadapan mereka tengah berjalan menghampiri sesosok hantu yang berbadan tinggi sekitar dua kali orang dewasa dengan wajah mayat pucat menakutkan ditumbuhi dua buah gigi caling yang keluar menakutkan dari sela-sela bibirnya.

“Hantu leak !!!!”

“Hantu Leak !!!!”

Berteriak beberapa orang berpakaian poleng di lehernya sambil berlari sekencang-kencangnya hingga tidak terdengar lagi suara langkah mereka.

Sementara itu orang-orang berpakaian poleng di pinggangnya merasa heran, mengapa tiba-tiba saja semua lawannya telah berlari dengan wajah penuh ketakutan sambil berteriak hantu leak, sebuah hantu yang memang paling ditakuti di tanah Bali.

“Terima kasih, kedatangan anak muda telah menyelamatkan kami dari kekalahan yang sia-sia”, berkata seorang diantara mereka yang ternyata adalah pimpinan dari kelompoknya, ”namun kami heran mengapa mereka lari dalam keadaan takut”, berkata kembali orang itu penuh rasa penasaran.

“Mungkin mereka takut melihat hantu sebenarnya, hantu yang cuma mereka yang melihatnya”, berkata Mahesa Amping sekenanya sambil tersenyum.

Pemimpin orang-orang itu tidak mendesak Mahesa Amping mengatakan yang sebenarnya, namun di hati kecilnya pasti anak muda itu telah melakukan sesuatu yang membuat lawannya berlarian meninggalkan pertempuran.

“Apapun yang anak muda telah lakukan, kami sebagai orang berbudi tidak lupa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga”, berkata pimpinan itu.”Bolehkah kami mengetahui namamu wahai anak muda”, berkata kembali pimpinan orang-orang itu.

Mahesa Amping dapat mengukur seseorang lewat tutur katanya, dan Mahesa Amping merasa berhadapan dengan orang-orang dari golongan baik dan berbudi.

“Namaku Mahesa Amping, kebetulan aku lewat hutan ini ketika kalian sedang bertempur”, berkata Mahesa Amping menyampaikan jati dirinya.

“Pasti anak muda bukan orang asli Bali, karena semua orang telah mengenal kami sebagai rombongan kesenian Jagur, orang-orang Bali memanggilku dengan sebutan Ki Dalang Bancak”, berkata pimpinan orang-orang itu memperkenalkan dirinya bernama Ki Dalang Bancak.

Mahesa Amping termangu-mangu, baru menyadari bahwa dirinya berhadapan dengan sebuah rombongan kesenian dan memang melihat ada seperangkat alat gamelan di sekitar mereka.

Sementara itu dari sebuah gerumbul semak-semak keluar dua orang gadis dengan wajah masih diliputi sisa-sisa ketakutan.

“Mereka adalah dua orang putri kami”, berkata Ki Dalang kepada Mahesa Amping yang memandang sebentar kedua gadis itu yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.

“Bolehkah aku memeriksa tiga orang kawan kalian yang terluka?”, berkata Mahesa Amping sambil melangkah mendekati tiga orang yang terluka yang sedang dipapah oleh beberapa orang.

“Silahkan”, berkata Ki Dalang Bancak sambil mengiringi Mahesa Amping.

“Kebetulan aku membawa obat pemampat darah, bubuhkanlah bubuk obat ini di tempat yang terluka”, berkata Mahesa Amping kepada salah seorang anak buah Ki Dalang Bancak.

Ternyata obot bubuk pemberian Mahesa Amping sangan manjur, luka-luka dari ketiga orang itu dalam waktu cepat sudah tidak mengeluarkan darah lagi.

“Ternyata anak muda adalah seorang tabib”, berkata Ki Dalang Bancak kepada Mahesa Amping.

“Aku bukan seorang tabib, hanya punya sedikit pengetahuan tentang pengobatan”, berkata Mahesa Amping merendah.

“Anak muda pasti seorang pengembara dari tempat yang jauh, sebentar lagi malam akan menjelang. Sebuah kebahagiaan bilamana anak muda mampir bermalam di Padukuhan kami yang tidak jauh dari hutan ini”, berkata Ki Dalang bancak menawarkan kepada Mahesa Amping untuk singgah di Padukuhannya..

———-oOo———-

SFBDBS 09-219

“Hari memang akan menjelang malam, tawaran ki Dalang Bancak sebuah kehormatan, aku tidak berani menolaknya”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Dalang Bancak.

Ki Dalang Bancak diam-diam mengagumi Mahesa Amping, “Seorang anak muda yang santun”, berkata Ki Dalang Bancak didalam hatinya melihat dan tutur kata Mahesa Amping yang teratur dan santun.

Terlihat sebuah iring-iringan kecil menyusuri jalan hutan di penghujung senja itu. Mahesa Amping terlihat menuntun kudanya berjalan beriringan dengan Ki Dalang Bancak.

Sambil berjalan, Ki Dalang bancak bercerita asal muasal terjadinya pertempuran. Diceritakan oleh Ki Dalang Bancak bahwa mereka baru saja pulang dari sebuah acara potong gigi di sebuah padukuhan Buleleng.

“Orang-orang yang menyerang kami adalah anak buahnya saudagar Made Ontrak yang kaya raya namun tidak pernah puas dengan seorang istri. Beberapa hari yang lalu telah mengutus anak buahnya melamar salah seorang putriku, namun dengan tegas kutolak lamarannya. Karena kami punya adat istiadat yang berbeda, beristri lebih dari satu wanita adalah sebuah perbuatan tabu”, berkata Ki Dalang Bancak bercerita sepanjang perjalanannya.

“Jadi hari ini anak buah Made Ontrak bermaksud membawa pergi putri putrid Ki Dalang?”, berkata mahesa Amping yang sudah mulai mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Dalang Bancak, Padukuhan mereka memang tidak jauh lagi dari hutan tempat dimana mereka bertempur.

Terlihat iring-iringan itu telah memasuki gerbang padukuhan, berjalan di atas jalan tanah yang rata. Terlihat rumah-rumah penduduk dipadukuhan itu yang berjejer rapi, terbuat dari kayu jati yang sudah dihaluskan. Di halaman muka mereka masing-masing mempunyai sebuah pura pemujaan dan dapat dipastikan setiap halaman menanam dua atau tiga pohon jipun.

“Inilah gubukku”, berkata Ki Bancak berhenti dimuka sebuah rumah yang sangat berbeda dibandingkan rumah-rumah yang ada disekitarnya, rumah itu Nampak lebih luas, disisi kanannya terlihat sebuah sanggar dengan empat buah tiang terukir dan sebagai bangunan terbuka.

Beberapa orang berpamit diri untuk kembali kerumahnya masing-masing.

“Besok aku akan kerumah tiga orang kawanmu yang sakit, ada beberapa racikan yang akan kuberikan kepada mereka”, berkata Mahesa Amping kepada orang-orang yang berpamit kepada Ki Dalang Bancak untuk kembali kerumah mereka.

“Silahkan masuk kerumah kami”, berkata Ki Dalang Bancak mempersilahkan Mahesa Amping masuk ke rumahnya.
Sementara itu hari sudah menjelang malam ketika Mahesa Amping bersama Ki Dalang Bancak dan kedua putrinya memasuki regol halaman muka.

“Pura Besakih adalah pancer dari Sembilan pura yang ada di tanah bali ini.Jadi penguasa pura Bali adalah penguasa Tanah Bali”, berkata Ki Dalang Bancak bercerita tentang Pura Besakih ketika Mahesa Amping mengatakan tujuannya ke Bali kali ini mengarang cerita telah ditugaskan oleh gurunya melakukan pendarmaannya di Pura Besakih.

“Penguasa Pura Besakih memperlakukan diri sebagai paramasiwa”, berkata Mahesa Amping menanggapi cerita Ki Dalang Bancak.

“Nenek moyang kami mempunyai kepercayaan bahwa pusat bumi ada di bali”, berkata Ki Dalang Bancak. Mendengar penyataan terakhir dari Ki Dalang Bancak, pikiran Mahesa Amping jauh melambung, didalam hatinya mengagumi nalar budi Maharaja Kertanegara tentang Tanah Bali.

“Ternyata Maharaja Kertanegara mempunyai pandangan yang jauh, kekuatan dan kepercayaan warga tanah Bali adalah sebuah ancaman bagi perkembangan Singasari di masa yang akan datang”, berkata Mahesa Amping dalam hati menyatukan cerita Ki Dalang Bancak dengan tugas yang diemban dari Maharaja Singasari.

“Orang luar tidak ada yang menyadari kekuatan Tanah Bali bila bersatu padu, bayangkan sebuah bala prajurit yang besar dengan cepat dapat terwujud bilamana seluruh pecalang disetiap padukuhan dikumpulkan”, berkata Ki Dalang Bancak menyampaikan rahasia kekuatan Tanah Bali yang sebenarnya.

“Berapa orang pecalang disetiap padukuhan ?”, bertanya Mahesa Amping

“Bisa mencapai tiga puluh orang, bahkan bisa lebih tergantung jumlah warga disetiap padukuhan”, berkata Ki Dalang menjawab pertanyaan Mahesa Amping.

“Akan menjadi sebuah kekuatan yang besar bila seluruh pecalang bersatu di Tanah Bali ini”, berkata Mahesa Amping membenarkan ucapan Ki Dalang Bancak.

“Menghindari pertempuran terbuka”, berkata Mahesa Amping dalam hati yang diam-diam membuat sebuah rancangan bagaimana seharusnya menguasai Tanah Bali.

“Empat hari lagi adalah bulan purnama sasih kedasa, semua penduduk tanah Bali akan berduyun-duyun menyampaikan sujud baktinya pada Tuhan di Pura Besakih dalam upacara Batara turun Kabeh”, berkata Ki Dalang Bancak kepada Mahesa Amping.

“Artinya kita dapat bertemu kembali di Pura Besakih”, berkata mahesa Amping.

“Bila kamu mengundurkan sehari dua hari perjalananmu, kita dapat berangkat bersama ke pura Besakih”, berkata Ki Dalang bancak.

“Kebetulan aku punya keperluan lain, harus berangkat esok pagi”, berkata mahesa Amping berusaha mengelak untuk pergi bersama untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari, terutama berkaitan dengan tugas delik sandinya yang seharusnya menghindari hubungan langsung dengan orang kebanyakan.

———-oOo———-

SFBDBS 09-220

Sementara itu terdengar pintu pringgitan berdenyit, terlihat salah seorang putri Ki dalang Bancak keluar dari pintu pringgitan itu sambil membawa sebuah kendi tanah liat.

“Masih ada sisa minuman brem untuk menghangatkan pembicaraan kalian”, berkata gadis itu sambil tersenyum dan kembali lagi menghilang dibalik pintu pringgitan.

“Istriku sudah lama meninggal, di rumah ini kami Cuma bertiga”, berkata Ki Dalang Bancak yang sepertinya dapat membaca pikiran Mahesa Amping yang sejak kedatangannya tidak melihat adanya seorang ibu dirumah itu.

“Jadi Ki Dalang Bancak seorang duda?”, berkata Mahesa Amping.

“Khusus di Kademangan ini kami memegang adat untuk tidak beristri lebih dari satu, kami hanya melakukan upacara perkawinan satu kali untuk seumur hidup”, berkata Ki Dalang Bancak menjelaskan tentang hukum adat istiadatnya.

“Apakah ada hukuman bilamana melanggar adat itu?”, bertanya Mahesa Amping.

“Kami punya tempat khusus, sebuah tempat pengasingan untuk mereka yang melanggar aturan adat itu”, berkata Ki Dalang Bancak menjawab pertanyaan Mahesa Amping.

Sementara itu seteguk demi seteguk brem didalam kendi tanah liat itu tidak terasa sudah semakin tiris, bersama dengan surutnya cahaya bulan yang masih belum bulat sempurna bergeser ke barat.

“Saatnya beristirahat, tidak terasa malam sudah jauh larut”, berkata Ki Dalang bancak menawarkan Mahesa Amping untuk beristirahat.

Demikianlah akhirnya Mahesa Amping bermalam di bilik yang telah disediakan. Dipembaringan pikiran Mahesa Amping terus berpikir, terutama tentang pecalang yang terdapat di setiap Padukuhan sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Dalang Bancak.

“Mungkinkah penguasa Bali diam-diam telah membangun sebuah kekuatan?”, bertanya Mahesa Amping dalam hati.

Mahesa Amping masih juga belum dapat memejamkan matanya, pikirannya semakin jauh, terbayang beberapa peperangan yang pernah disaksikannya, suara senjata beradu, teriakan kasar,darah berceceran dimana-mana, suara rintihan memilukan.

“Dalam suasana perang, manusia seperti lupa akan persaudaraan, lupa sebagai sesama makhluk yang seharusnya saling menyayangi, rasa kasih telah hilang menjadi rasa dendam dan haus darah. Dalam Susana peperangan manusia seperti binatang buas dihutan, bahkan lebih buas dari binatang buas sekalipun”, berkata Mahesa Amping dalam hati ketika bayangan peperangan telah muncul kembali menemui alam pikirannya.

“Sri Maharaja Singasari bertekat memperluas kerajaannya sebagai pendarmaan siwa budha, sementara penguasa Bali merasa berdiri sebagai pusat bumi sebagai paramasiwa”, berkata Mahesa Amping dalam hati sambil tersenyum.

“Puji syukur kehadiratmu wahai Gusti sang Hyiang Jagat bumi yang selalu menjaga hati ini, telah kau cerahkan hati ini dari kesalahan yang terkecil, pengakuan atas diri ini”, berkata Mahesa Amping dalam hati yang telah menemukan sebuah hakekat hati, Dewata nawa sanga adalah pekerjaan hati, milik Sang Hyiang Jagat Raya, tersesatlah jalan para yogi yang mencari nirwana didalam dunia fana.

Akhirnya Mahesa Amping telah kembali dalam kesadaran pikirannya, menghadirkan dan menyatukan akal budinya, menyerahkan hatinya kepada Gusti Sang Maha Karsa yang membawanya kedalam alam ketiadaan, alam kesunyatan. Terlihat nafasnya begitu teratur, nyaris tak terdengar.

Akhirnya, sang pagi telah datang. Ditandai dengan suara kokok ayam jantan yang terdengar sayup-sayup dari tempat yang sangat jauh saling bersahutan hingga akhirnya begitu jelas terdengar dari belakang rumah Ki Dalang bancak.

Sebagaimana yang dijanjikan, Mahesa Amping pagi itu diantar sendiri oleh Ki Dalang Bancak menemui tiga orang yang kemarin terluka. Mahesa Amping telah memberikan mereka obat dari beberapa tetumbuhan yang ada disekitar Padukuhan itu.

“Racikan obat ini berguna untuk pemulihan”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Dalang bancak ketika mengunjungi salah satu dari orang yang terluka.

Ketika hari telah terang bumi, matahari sudah merayap diatas cakrawala, Mahesa Amping mohon pamit diri untuk melanjutkan perjalanannya.

“Senang berkenalan dengan kalian”, berkata Mahesa Amping sambil melompat diatas kudanya.

“Pintu rumahku selalu terbuka untukmu anak muda”, berkata Ki Dalang Bancak melepas keberangkatan Mahesa Amping yang telah berada diatas kudanya.

“Aku akan merindukan brem hangat Ki Dalang Bancak”, berkata Mahesa Amping sambil menepuk perut kudanya.

Terlihat kuda Mahesa Amping perlahan berjalan di sepanjang jalan Padukuhan diiringi tatap mata Ki Dalang dan dua orang putrinya sampai akhirnya Mahesa Amping dan kudanya menghilang disebuah tikungan jalan.

“Menurut ayah, apakah pemuda itu masih layang?”,bertanya putri tertua dari Ki Dalang Bancak.

“Aku lupa menanyakannya”, berkata Ki Dalang Bancak tidak tahu maksud dan arah pertanyaan putrinya.

“Kenapa ayah tidak menanyakannya?”, berkata sang putri kembali

“Bila bertemu kembali, pasti kutanyakan”, berkata Ki Dalang tersenyum mulai menangkap maksud dan arah pertanyaan putrinya.

———-oOo———-

SFBDBS 09-221

Sementara itu Mahesa Amping bersama kudanya telah keluar dari regol gerbang padukuhan, melewati bulakan panjang dan hutan bambu.

Segerombolan burung manyar terlihat bermain diatas sebuah rumpun bambu, mungkin dibatang-batang bambu itu banyak serangganya. Sementara itu seekor kadal berlari terusik langkah kaki kudanya.

Langit diatas hutan bambu itu begitu cerah, bergerumbul awan berwarna kapas dilangit biru dalam cahaya matahari yang terus mendaki merayap diatas cakrawala.

Gemericik suara air dari sungai kecil di hutan bambu itu sepertinya memanggilnya, Mahesa Amping terlihat telah turun dari kudanya, memberikan kesempatan kudanya beristirahat meneguk sepuasnya air jernih yang mengalir di sungai berbatu di hutan bambu itu dan membiarkan kudanya memamah rerumputan yang tumbuh di sepanjang sungai kecil itu.

Matahari sudah berada diatas puncak cakrawala, namun kerimbunan hutan bambu dan semilir angin di siang itu telah memberikan keteduhan. Di sebuah batu besar Mahesa Amping terlihat bersandar menunggu kudanya yang masih terus memamah rumput-rumput muda yang segar.

Namun tiba-tiba saja Mahesa Amping mencium sebuah harum daging bakar yang sangat menggoda.

Keingintahuannya telah memaksanya berdiri dan berjalan menghampiri kudanya. Terlihat Mahesa Amping telah berjalan menuntun kudanya tengah mencari sumber aroma daging bakar yang begitu menggoda.

Mahesa Amping telah menemukan sumber aroma itu, dihadapannya terlihat seorang tua tengah memanggang dua ekor ayam hutan.

Terperanjat Mahesa Amping melihat wajah orang tua itu, sebuah wajah yang sangat dikenalinya.

“Empu Nada!!”, berteriak Mahesa Amping merasa gembira di tempat yang asing ini dapat bertemu dengan orang yang dikenalnya.

Orang tua yang dipanggil Empu Nada itu mengangkat wajahnya, menatap Mahesa Amping penuh selidik. “Orang yang kamu sebut itu adalah saudaraku, bahagia diriku mendengar kembali nama saudaraku yang telah lama tidak kuketahui rimbanya”, berkata orang tua itu.

Mahesa Amping menatap wajah orang tua itu dengan lebih teliti, memang sangat mirip dengan Empu Nada yang dikenalnya. “Apakah orang tua dihadapanku saudara kembar Empu Nada yang bernama Empu Dangka?”, bertanya Mahesa Amping penuh kehati-hatian takut salah mengenal orang.

“Ternyata saudara kembarku telah bercerita tentang diriku kepadamu, pasti kamu sangat dekat dengannya. Benar Anakmas, namaku adalah Bratadangkadewa, saudara kembar orang yang anakmas kenal yang bernama Bratanadadewa”, berkata orang tua itu yang ternyata adalah Empu Dangka.

“Namaku Mahesa Amping, senang dapat berjumpa dengan saudara kembar Empu Nada”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan dirinya.

“Mari duduk bersama, seekor ayam hutan ini memang untukmu”, berkata Empu Dangka penuh senyum keramahan.

“Jadi Empu Dangka memang sengaja menungguku disini?”, bertanya mahesa Amping.

“Benar, aku sudah melihat bagaimana kamu menakut-nakuti orang-orang yang tengah bertempur”, berkata Empu Dangka sambil menyerahkan seekor ayam panggang yang sudah matang kepada Mahesa Amping.

“Terima kasih”, berkata Mahesa Amping sambil menerima ayam panggangnya.

Maka kedua orang yang baru bertemu itu terlihat tengah menikmati ayam hutan bakar.

“Ayam bakar yang nikmat”, berkata Mahesa Amping.

“Rasa laparlah yang membuat kenikmatan ayam bakar itu”, berkata Empu Dangka.

Ketika mereka telah menyelesaikan makan siang yang nikmat itu, Mahesa Amping memulai pertanyaannya.

“Ketika kami pulang dari Tanah Madhura bersama Pangeran Kertanegara, kami tidak menemui Empu Dangka di Hutan Porong, kemanakah Empuh ketika itu?, bertanya Mahesa Amping.

“Aku memang tidak pernah betah hidup dalam satu tempat, ketika itu aku telah melanglang buana mengikuti langkah kaki, ternyata langkah kakiku membawaku ke Balidwipa ini”, berkata Empu Dangka menjelaskan kemana dirinya setelah dari hutan Porong tempat terakhirnya bersama Pangeran Kertanegara.

“Ada berita gembira, Pangeran Kertanegara telah menjadi Maharaja Singasari”, berkata Mahesa Amping diam sebentar melihat kegembiraan diwajah Empu Dangka. “Berita yang lebih menggembirakan lagi adalah bahwa Empu Bratanaddewa telah dikukuhkan oleh Sri baginda Maharaja Kertanegara untuk menjadi Gurusuci pendeta istana”, berkata Mahesa Amping melanjutkan.

“Sebuah berita yang sangat menggembirakan”, berkata Empu Dangka sepertinya merasa bahagia mendengar dua kabar yang sangat membahagiakannya itu.

“Ternyata Empu Dangka tidak pernah keluar dari Balidwipa ini hingga ketinggalan kabar tentang perkembangan Singasari”, berkata mahesa Amping.

“Benar, di Balidwipa ini hatiku ini seperti telah kepincut, aku seperti telah menemukan rumahku sendiri”, berkata Empu Dangka menyampaikan perasaan hatinya tentang pulau Dewata.

“Aku baru beberapa hari di Balidwipa ini, apa yang membuat Empu Dangka kerasan di Balidwipa ini”, berkata dan bertanya Mahesa Amping.

———-oOo———-

SFBDBS 09-222

“Para pendahulu, penetap pertama di Balidwipa ini ternyata telah menata Balidwipa dengan apiknya”, berkata Empu Dangka. “pengembaraan jiwaku sepertinya tidak pernah terpuaskan, setiap saat jiwaku sepertinya telah meneguk pengetahuan baru, mengenal alam baru setiap kali mendaki setiap pura yang ada di bali Dwipa ini yang ternyata ditata begitu apik dan serasinya mengikuti alam dan tempatnya berdiri berdasarkan tuntunan Dewata Nawa Sanga, Sembilan penguasa disetiap penjuru angin dengan satu pancer di pura Pusering Jagad“, berkata Empu Dangka.

“Jadi yang menjadi pancer adalah Pura Pusering Jagad, bukan Pura Besakih?”, bertanya Mahesa Amping.

“Itulah yang amat kusayangkan, penguasa di Pura Besakih telah mencoba menggeser kedudukan pancer yang sudah ditetapkan oleh pendahulunya”, berkata Empu Dangka.

“Dampak apa yang dapat terjadi bilamana pergeseran dan perubahan tempat itu terjadi?”, bertanya Mahesa Amping

“Keserasian dan keselarasan di bumi ini akan terganggu, akan timbul berbagai kekacauan yang berujung kepada peperangan antara para penguasa Pura”, berkata Empu dangka.

“Balidwipa ini begitu dekat dengan Kerajaan Singasari, kekakacauan di balidwipa akan mempengaruhi tatanan dan kemapanan di Tanah Singasari”, berkata Mahesa Amping mencoba menilai dan mengungkapkan wawasannya.

“Anakmas benar, kekacauan di Balidwipa dapat mempengaruhi kemapanan Singasari”, berkata Empu Dangka membenarkan pandangan Mahesa Amping.

“Apakah ada usaha dari para penguasa selain penguasa pura Besakih untuk mengingatkannya?”, bertanya Mahesa Amping.

“Mereka merasa tidak mampu menandingi kesaktian penguasa Pura Besakih yang bernama Adidewa Lamcana”, berkata Empu dangka.

Sebagai seorang yang tengah bertugas sebagai seorang delik sandi, Mahesa Amping memang sangat berhati-hati. Mahesa Amping telah dapat membaca di pihak mana Empu Dangka berada. Maka akhirnya Mahesa Amping bercerita tentang rencana dan tugas yang tengah diembannya saat ini dari Sri Baginda Maharaja Kertanegara.

“Aku berpihak kepada junjunganmu Sri Baginda Maharaja Kertanegara, semoga pencerahan hatinya terus bercahaya, memuliakan keinginnya mengembalikan tatanan dan keserasian Balidwipa”, berkata Empu Dangka menyampaikan persetujuannya.

“Aku yang muda mohon petunjuk dari Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping.

“Dengan senang hati”, berkata Empu Dangka penuh senyum.

“Dimana Empu Dangka bertempat tinggal selama di Balidwipa ini?”, bertanya Mahesa Amping.

“Dibawah cakrawala langit, dihamparan bumi yang luas”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum.

“Pengembara sejati”, berkata Mahesa Amping.

“Mengikuti kemana langkah kaki”, berkata Empu Dangka.

“Termasuk juga mengikuti dan menunggu kehadiranku disini”, berkata Mahesa Amping.

“Aku hanya ingin mengenal seorang pemuda yang telah menguasai ajian Kawah aji ari-ari”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum.

“Artinya semalaman Empu Dangka menungguku di hutan bambu ini”, berkata mahesa Amping.

“Sekedar mengikuti kata hati, mengenalmu lebih dekat”, berkata Empu Dangka menyampaikan perasaannya saat itu.

“Kata hati itulah yang telah mempertemukan kita”, berkata Mahesa Amping.

Sementara itu tidak terasa matahari telah beranjak bergeser kebarat mengintip dari sela-sela batang dan daun bambu.

“Kita menanti hari upacara Dewata Turun Kabeh di tempat yang paling dekat, diperkampungan para pemburu”, berkata Empu Dangka setelah mendengar rencana Mahesa Amping untuk mengunjungi Pura Besakih.

“Kupercayakan diri ini bersama pemandu terbaik di pulau dewata”, berkata Mahesa Amping sambil menuntun kudanya mengikuti langkah kaki Empu Dangka.

“Dihadapan kita adalah hutan Trunyam, perkampungan para pemburu ada ditengah hutan Trunyam itu”, berkata Empu Dangka sambil menunjuk sebuah hutan lebat dihadapan mereka.

Hutan Trunyam yang lebat itu dibatasi padang ilalang yang luas yang kadang diselingi batu karang gundul berkapur yang dipenuhi lumut dan jamur.

Diujung senja Mahesa Amping dan Empu Dangka baru sampai di bibir hutan Trunyam itu. Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka telah masuk kedalam hutan Trunyam itu menghilang ditelan kegelapan hutan diujung senja saat sinar matahari begitu lemah cahayanya tidak mampu menembusi lorong-lorong gerumbul pepohonan yang kerap dan lebat di hutan Trunyam itu.

“Orang di Tanah Jawa takut berjalan dimalam Jum’at Kliwon, sementara itu di Balidwipa yang ditakuti adalah malam Rabu Wage”, berkata Empu Dangka ketika mereka telah masuk lebih dalam lagi di kegelapan hutan Trunyam.

“Bukankah hari ini adalah Malam Rabu Wage?”, berkata mahesa Amping yang menyadari bahwa hari itu adalah malam Rabu Wage.

“Apakah hatimu telah diliputi perasaan takut?”, bertanya Empu Dangka.

———-oOo———-

SFBDBS 09-223

“Urat takutku sudah putus, apalagi berjalan bersama Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping yang tersenyum, namun senyumnya tidak terlihat tertutup keremangan hutan Trunyam.

Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka telah memasuki hutan Trunyam lebih dalam lagi. Ternyata Empu Dangka sepertinya telah mengenal jalan-jalan setapak di hutan itu. Sambil menuntun kudanya Mahesa Amping mengikuti langkah kaki Empu Dangka.

Sementara itu hari telah menjadi malam, suasana didalam hutan itu menjadi begitu gelap.

“Apakah kamu mencium bau kemenyan?”,bertanya Empu Dangka

“Benar, bau kemenyan itu semakin sangat dan keras”, berkata Mahesa Amping.

“Bau kemenyan itu berasal dari pohon menyan yang banyak tumbuh dihutan ini, terutama di tempat pemakaman para suku Trunyam itu”, berkata Empu Dangka menjelaskan sumber bau kemenyan itu yang ternyata berasal dari pohon menyan yang banyak tumbuh di hutan itu.”Kepercayaan mereka berbeda dengan penduduk umumnya di Tanah Bali ini, dan mereka tidak mengabukan jenasah saudaranya, tapi meletakkannya secara utuh di pemakaman khusus dibawah pohon kemenyan yang banyak tumbuh dihutan ini”, berkata kembali Empu Dangka yang sepertinya begitu mengenal kehidupan para suku Trunyam.

“Meletakkan begitu saja sebuah mayat?”, bertanya Mahesa Amping tidak mengerti dan baru mendengar sebuah cara pemakaman yang aneh.

“Kelak kamu akan menyaksikannya sendiri”, berkata Empu Dangka yang terus melangkah berjalan.

Kita tinggalkan dulu Mahesa Amping dan Empu Dangka yang tengah berjalan didalam hutan Trunyam. Kita mendahului mereka melihat dari dekat keadaan perkampungan suku Trunyam.

Suku Trunyam umumnya adalah para pemburu, mereka menggantungkan kehidupan mereka di hutan Trunyam secara turun temurun, merekalah penduduk asli Balidwipa sebenarnya.

Pada saat itu mereka hanya terdiri dari tujuh puluh kepala keluarga yang tinggal di hutan Trunyam, beberapa orang asli suku trunyam ada juga yang telah keluar dan membaur dengan penduduk luar menjadi petani atau sebagai pedagang sebagaimana umumnya penduduk Balidwipa.

Rumah-rumah mereka sangat sederhana dari kayu yang masih kasar dengan atap yang terbuat dari alang-alang kering. Namun kerukunan dan keguyupan diantara mereka sangat mengagumkan, mereka seperti keluarga besar yang saling tolong menolong. Mereka mempunyai lumbung bersama dan juga berburu bersama untuk dinikmati dan dimakan bersama.

Sudah dua pekan ini para warga suku Trunyam merasakan kegelisahan dan kegundahan. Dua pekan lalu warga suku Trunyam ini geger dengan hilangnya sebuah mayat dari salah satu saudara wanita yang mati secara tidak wajar, mati gantung diri.

Kejadiannya bertepatan di malam Rabu Wage atau malam buda cemeng, sebuah malam yang sangat dikeramatkan oleh orang Bali pada umumnya sebagaimana orang jawa mengkramatkan Malam Jumaat Kliwon. Malam itu hari belum larut malam, beberapa lelaki suku Trunyam masih belum tidur diluar rumah mereka.

Terjadilah sebuah pemandangan yang begitu menakutkan, mereka melihat dengan mata kepala sendiri sebuah keranda berjalan sendiri, seperti melayang terbang terbawa angin. Mereka umumnya adalah para lelaki pemberani, tapi melihat sebuah keranda yang berjalan sendiri telah menggugurkan keberanian mereka, dua dari lima orang lelaki yang tengah berbincang-bincang diluar rumahnya itu seperti tidak bisa bergerak, tubuhnya seperti kaku dengan perasaan penuh ketakutan yang sangat.
Sementara seorang lelaki lainnya bukan hanya tidak bisa bergerak, tapi juga langsung terkencing-kencing membasahi pakaian bawahnya.

Pada keesokan harinya terjadi kegemparan melanda para suku Trunyam, mereka telah kehilangan mayat perempuan yang telah meninggal dua hari yang lalu, mati dalam ketidakwajaran, mati dengan jalan bunuh diri. Mereka pun telah menyatukan kehilangan mayat itu dengan cerita tentang sebuah keranda bambu yang berjalan terbang sendiri.

“Mungkin hantu Leak yang membawa pergi Wariga Alit”, berkata salah seorang suku Trunyam menyebut hantu Leak dan nama mayat gadis yang hilang itu.

Semua orang akhirnya berpikir sama, mempercayai bahwa Wariga Alit dibawa Hantu Leak. Dan sejak itu warga suku Trunyam merasa gelisah, takut bila hantu Leak itu akan datang mengambil mayat lainnya, mayat saudara mereka yang diletakkan begitu saja dibawah pohon Menyan.

Dan hari ini adalah malam Rabu Wage, malam buda cemeng, hari dua pekan yang lalu mereka kehilangan mayat saudara perempuan mereka.

Malam itu memang sangat dingin, cahaya bulan yang belum bulat penuh meremangi malam gelap di perkampungan suku Trunyam. Suara srigala terdengar mengaung panjang sayup menambah keseraman dan kegelisahan orang-orang suku Trunyam yang masih belum dapat memejamkan mata meski dari awal malam sudah naik kepembaringannya.

Tidak ada satupun lelaki suku Trunyam yang keluar rumah dimalam itu, namun ternyata masih ada satu lelaki yang tidak percaya dengan cerita keranda yang ter serbang meluncur sendiri.

Lelaki itu bernama Ki Tolu Cemeng, kepala Suku Trunyam ayah Wariga Alit, mayat gadis yang hilang itu.

Terlihat Ki Tolu Cemeng tengah bersembunyi diatas sebuah pohon ambon didepan rumahnya yang berbatang besar dan bercabang banyak. Sejak awal malam Ki Tolu Cemeng sudah berada diatas pohon itu. Firasatnya mengatakan di malam itu akan menemui kembali keranda mayat yang menghebohkan warganya itu.

Ternyata firasat Ki Tolu Cemeng sangat kuat, yang sangat dinantikannya itu ternyata datang kembali.

———-oOo———-

SFBDBS 09-224

Bersambung ke bagian 2

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 25 Desember 2011 at 00:01  Comments (276)  

276 KomentarTinggalkan komentar

  1. sugeng enjang kadang padepokan pak DALANG-e,

    • sugeng enjang ugi Ki

  2. Diam-diam Empu Dangka mengagumi pemuda disebelahnya ini yang telah mampu menggunakan mata bathinnya, sebuah pertanda orang bersangkutan telah berada dalam tingkat kesempurnaan ilmu yang tinggi.

    “Manusia Leak itu dari tataran tingkat utama”, berkata Empu Dangka yang sepertinya sangat mengenal tingkat dan tataran kedua orang yang tengah bertempur itu.”Aku pernah melihat manusia Liya-ak dari tataran tingkat utama bertempur dengan manusia Leak yang juga ada di tingkat tataran ilmu yang sama”, berkata kembali Empu Dangka sambil terus mengawasi jalannya pertempuran.

    “Aku juga melihat orang itu itu telah menjadi bulan-bulanan manusia Leak”, berkata Mahesa Amping yang juga menghawatirkan nasib lawan manusia Leak.

    “Kita tidak dapat datang membantu, pertempuran mereka adalah perkelahian hidup dan mati yang telah berlangsung ratusan tahun diantara dua perguruan yang telah saling bermusuhan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang masih mengkhawatirkan lawan manusia Leak yang terlihat sudah semakin tersudut kewalahan menghadapi serangan manusia Leak yang semakin gencar dan telah berada dipuncak tataran ilmunya.

    “Bagaimana bila ada yang datang membantu ?”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

    “Aku belum pernah melihat ada orang luar yang datang melerai pertempuran mereka, atau membantu salah satu pihak”, berkata Empu Dangka.

    “Aku akan datang membantu”, berkata Mahesa Amping yang langsung meloncat mendekati arah pertempuran.
    Empu Dangka menarik nafas panjang, disebelahnya jasad wadag Mahesa Amping masih duduk bersila.

    “Biarlah aku yang menyelesaikan pertempuran yang sudah tidak seimbangini”, berkata Mahesa Amping kepada orang tua yang terlihat hampir saja terkalahkan menghadapi serangan-serangan gencar dan berbahaya dari Manusia Leak.

    “Kamu yang akan menggantikan takdirnya ?”, berkata Manusia Leak menatap tajam Mahesa Amping.

    “Anak muda, kenapa kamu menggantikan takdirku ini ?”, bertanya orang tua itu kepada Mahesa Amping.

    “Takdir milik yang Maha Kuasa Sang Hyiang Widi”, berkata Mahesa Amping penuh ketenangan.”Menyingkirlah, aku yang akan menghadapinya”, berkata kembali Mahesa Amping kepada orang tua itu.

    Maka orang tua itu telah menyingkir bergabung dengan kelompoknya empat orang pemuda. Entah kenapa melihat tatapan mata Mahesa Amping dirinya telah langsung mempercayainya.

    Ternyata kepercayaan orang tua itu terhadap Mahesa Amping tidak sia-sia. Terlihat Mahesa Amping telah dapat mengimbangi serangan-serangan manusia Leak yang sangat berbahaya.

  3. Bukan main geramnya manusia Leak itu yang baru pertama kali bertemu dengan lawan tanding yang begitu tangguh. Tidak satupun ditemui celah yang dapat ditembus, sebaliknya beberapa pukulan telah bersarang dibeberapa tubuhnya.

    Manusia Leak itu terlihat semakin putus asa, maka diterapkannya ilmu simpanannya yang jarang sekali dipergunakan, sebuah aji yang sangat menyeramkan.

    “Aji sekati nyawa”, berkata Empu Dangka yang melihat bagaimana manusia Leak telah mengterapkan aji simpanannya. Timbul kekhawatirannya terhadap Mahesa Amping, dapatkah pemuda itu menghadapi ajian ilmu purba yang selama ini hanya pernah didengar dari orang-orang tua jaman dulu.

    Siapapun yang menyaksikan apa yang dilihat dihadapannya akan terbungkam sepertinya tidak mempercayai apa yang terjadi.

    Apa sebenarnya yang terlihat dan terjadi ???
    Yang tengah terjadi adalah putusnya dua tangan dan dua kaki serta kepala dari tubuh manusia Leak. Yang sangat meyeramkan adalah kelima anggota tubuh yang terlepas itu secara bersamaan menyerang Mahesa Amping.

    Untungnya Mahesa Amping telah dapat menguasai ilmu meringankan tubuh kelas tinggi dan nyaris telah sampai ditataran puncak kesempurnaaannya. Maka tidak satupun serangan yang dapat langsung mengenai tubuh Mahesa Amping.

    “Ilmu meringankan tubuh yang sempurna”, berkata Empu Dangka kepada dirinya sendiri manakala melihat tubuh Mahesa Amping melenting kesana kemari seperti belalang kecil melesat menghindari setiap serangan lima buah anggota badan manusia Leak yang terpisah namun serentak melakukan serangan.

    Kembali manusia Leak itu menggeram, tidak satupun serangannya mengenai tubuh lawannya, bahkan setahap demi setahap Mahesa Amping telah menguasai pertandingan terlihat balas melakukan serangan yang tidak kalah berbahayanya.

    Sementara senja diatas hutan belantara itu telah datang menyelimuti bumi. Kegelapan telah mengelilingi pandangan mata. Namun pertandingan yang tidak memerlukan mata wadag antara manusia Leak dan Mahesa Amping masih terus berlangsung.

    Manusia Leak itu sepertinya sudah begitu geram, segala tenaga dikerahkan namun tak satupun serangan dapat mengenai tubuh Mahesa Amping yang begitu cepat menghindar melenting dan balas menyerang. Beberapa pukulan Mahesa Amping telah bersarang diberbagai anggota badan yang terpisah itu.

    Mahesa Amping diam-diam mengagumi semangat tempur dari manusia Leak yang tidak mengenal rasa putus asa. Maka diam-diam telah menerapkan ilmu simpanannya yang jarang sekali dipergunakan, hanya dalam keadaan terpaksa.

    • matur suwun

      beberapa hari ini sulit monitor padepokan, Koneksi putus-nyambung.

      • putus-nyambung….putus-nyambung, kayak lagu aja Ki Arema,
        he-hee5x, sami kok Ki….dikampung saya malah lemot puooLL

  4. sugeng dalu…..selamat malam,

  5. Dalam sebuah serangan kepungan yang cepat dari lima anggota tubuh manusia Leak, Mahesa Amping melenting keudara.

    Masih dalam keadaan melenting diudara, terlihat sebuah seleret cahaya keluar dari sorot mata Mahesa Amping.

    Ternyata sinar kilat cahaya yang begitu cepat datangnya dari sorot mata Mahesa Amping tertuju kesebuah salah satu lengan manusia Leak.

    Akibatnya membuat siapapun yang melihatnya akan terperanjat menahan nafas tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

    Sebuah lengan manusia Leak hangus terbakar tergeletak diatas tanah.

    “Apakah kamu masih menunggu satu persatu anggota tubuhmu hangus terbakar ?”berkata Mahesa Amping dihadapan sebuah kepala yang terpisah.

    “Ternyata kisanak belum mengetahui aturan dari pertempuran di alam tak terbatas ini. Kuakui ketinggian ilmu kisanak melampaui tataran ilmuku, untuk itu sesuai aturan pertempuran ambillah nyawaku kapanpun engkau mau”, berkata kepala yang terpisah itu sepertinya telah mengakui kekalahannya.

    Dan tiba-tiba saja seluruh anggota badan manusia Leak itu menghilang. Ternyata manusia Leak itu telah kembali ke jasad kasarnya.

    Bersamaan dengan itu pula Mahesa Amping telah kembali ke jasad kasarnya yang masih duduk bersila disebelah Empu Dangka.

    Terlihat Mahesa Amping berdiri dan melangkah mendekati Manusia Leak yang tengah tertunduk menanti tindakan Mahesa Amping untuk melepas nyawanya.

    “Aku tidak akan mengambil nyawamu, nyawamu bukan milikku, dialah Sang Hyiang Widi pemilik segala yang hidup”, berkata Mahesa Amping kepada Manusia Leak dihadapannya yang masih tertunduk pasrah.

    “Ajaran kami kekalahan adalah kematian”, berkata manusia Leak itu perlahan.

    “Itulah ajaran kegelapan, lihatlah dunia disekelilingmu, lihatlah kehidupan yang tercurah yang diberikan oleh Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih, yang telah menjadikan alam ini penuh dengan kedamaiannya. Jadilah manusia yang berarti itulah kehidupan yang sebenarnya”, berkata Mahesa Amping kepada manusia Leak.

    “Bila aku punya arti bagi kehidupan ini, itukah pertanda aku punya kehidupan?”, bertanya manusia Leak itu mengangkat wajahnya perlahan kepada mahesa Amping.

    “Manusia yang tidak punya arti dalam kehidupannya adalah manusia yang telah lama mati meski masih bernyawa”, berkata Mahesa Amping.

    • nambah lagi………buat malam mingguan…

  6. “Sang kegelapan telah mengisi seluruh benakku dengan kekuasaan yang tak terbatas, menjadikan tangan ini sebagai pencabut nyawa demi keinginan segala dendam. Tapi hati ini sedikitpun tidak merasakan kebahagiaan. Semakin meluaskan segenap kebencian keseluruh bumi, semakin jiwa ini tak pernah terpuaskan. Namun manakala tuan berkata tentang Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih, jiwa ini sepertinya telah terkubur. Kulihat sedikit cahaya dalam kegelapan di rongga hati ini yang sepertinya memberikan sedikit pengharapan sebuah kebahagiaan yang belum pernah kurasakan, sebuah rasa yang baru kali ini datang, sebuah rasa yang bukan kepuasan, kegembiraan, tapi sebuah ketenangan jiwa, merasakan ada di dalam genggaman Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih”, berkata manusia Leak perlahan kepada Mahesa Amping.

    “Pergilah kemanapun kamu pergi, Yang Maha Hidup ada dimanapun kamu berada, disaat pagi dan petang, dalam keadaan kamu berdiri, duduk dan berbaring. Dia Yang Maha Hidup akan berlari kepadamu manakala kamu berjalan menghadapnya”, berkata Mahesa Amping kepada manusia Leak.

    “Tuan telah memberikan kepada hamba sebuah tuntunan yang belum pernah sekalipun kudengar, kupersembahkan jiwa ini berbakti selamanya kepada tuan”, berkata manusia Leak itu sambil bersujud dihadapan Mahesa Amping.

    “bangkitlah, mulai hari ini kita bersaudara”, berkata Mahesa Amping sambil mencoba mengangkat tubuh manusia Leak untuk berdiri.

    Bukan main gembiranya manusia Leak itu mendengar perkataan Mahesa Amping.

    “namaku Jaran Waha, benarkah tuan mengangkat hamba ini sebagai saudara ?”, berkata manusia Leak itu yang telah memperkenalkan dirinya bernama Jaran Waha.

    “namaku Mahesa Amping, mulai hari ini kita bersaudara”, berkata mahesa Amping mengulang perkataannya sepertinya meyakinkan kepada Jaran Waha atas apa yang diucapkannya.

    “Terima kasih, sebuah kebahagiaan menjadi saudaramu”, berkata Jaran Waha sambil memeluk tubuh Mahesa Amping penuh kegembiraan.

    Orang tua dan empat orang pemuda yang bersamanya telah mendengar dan menyaksikan apa yang telah terjadi menjadi merasa terharu.

    “Wahai anak muda, pemahamanmu mengenai kebenaran begitu tinggi, kami menjadi malu pada diri sendiri, selama ini kami hanya mengenal membasmi kejahatan adalah sebuah pembunuhan, ternyata kebenaran sejati adalah menghidupkan kehidupan itu sendiri “, berkata orang tua itu.”Perkenalkan kami dari perguruan Panca Agni, namaku Ki Arya Sidi. Dan keempat pemuda yang bersamaku adalah para muridku empat orang Pangeran muda putra Raja Puri Pusering Jagad di Pejeng”, berkata orang tua itu memperkenalkan dirinya dan keempat muridnya.

    “Bahagia diri ini dapat berkenalan dengan seorang guru dari perguruan Panca Agni dan juga keempat muridnya”, berkata Mahesa Amping menjura penuh hormat.

    • hari ini berexperimen, nambahin kopi sama coklat batangan, ternyata enaknya poaalll istilahnya Ki Widura (kangen sama ki Widura ronda semalaman suntuk)

  7. “Kami berhutang budi padamu anak muda, semoga kami dapat membalasnya”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

    “Hutang budi itu kuanggap telah selesai manakala tidak ada permusuhan lagi antara perguruanmu dengan saudaraku ini”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

    “Aku juga akan mengikat persaudaraan denganmu anak muda, apakah dirimu berkenan ?”, bertanya Ki Arya Sidi menunggu jawaban dari Mahesa Amping.

    “Dengan tangan terbuka dan wajah kebahagiaan menerima Ki Arya Sidi sebagai saudara. Itu artinya kita bertiga telah terikat tali persaudaraan”, berkata Mahesa Amping sambil memeluk Ki Arya Sidi dengan penuh kegembiraan.

    “Mari Ki Jaran Waha, kita bertiga adalah saudara”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang langsung mendekat.

    Maka terlihat mereka bertiga saling berpelukan sebagaimana saudara yang disaksikan oleh keempat pemuda para murid Ki Arya Sidi dan juga tentunya Empu Dangka yang masih duduk ditempatnya.

    “Aku lupa memperkenalkan sahabat perjalananku”, berkata Mahesa Amping yang telah memperkenalkan Empu Dangka kepada semua yang ada dihutan itu.
    Sementara itu suasana di hutan itu sudah begitu gelap, sang malam telah menyelimuti bumi.

    “Tempat tinggalku tidak jauh dari sini, mudah-mudahan kalian berkenan mampir ditempatku yang sederhana”, berkata Ki Jaran Waha menawarkan semua yang ada untuk singgah ditempat tinggalnya.

    “Maafkan kami saudaraku Ki Jaran Waha, Pejeng sudah tidak begitu jauh lagi, biarlah kami melanjutkan perjalanan kami dimalam hari ini”, berkata Ki Arya Sidi. “Bila kalian ada disekitar Pejeng, datang singgahlah ke Padepokan kami”, berkata kembali Ki Arya Sidi.

    “Kami akan berkunjung ke Padepokan Panca Agni, karena kebetulan kami akan melewati Pejeng”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi.

    “Terima kasih, kami akan menunggu kedatangan kalian”, berkata Ki Arya Sidi sambil berpamitan bersama keempat muridnya melanjutkan perjalanannya.
    Demikianlah, akhirnya Mahesa Amping dan Empu Dangka mengikuti Ki Jaran Waha berjalan kearah tempat tinggalnya.

    Setelah mereka berjalan menyusuri hutan yang gelap, sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Jaran Waha bahwa tempat tinggalnya memang tidak begitu jauh.

    Akhirnya mereka telah sampai di kediaman Ki Jaran Waha.

    Ternyata kediaman Ki Jaran Waha adalah sebuah goa yang ada didalam hutan itu sendiri. Bila saja datang tidak bersama Ki Jaran Waha, tidak seorangpun dapat menemui goa itu.

    • konfirmasi dulu sama ki Arema, kurang berapa rontal lagi untuk melejid ke gandhok sepuluh ?????

      • mulai siang tadi koneksi putus nyambung, tidak bisa masuk padepokan.
        Ini baru saya bundel, sedang saya baca. Sebentar lagi mungkin baru dapat informasi apakah sudah cukup untuk masuk ke gandok 10

        • okelah kalo begitu, ditunggu putus nyambungnya…hehehe

        • Wedaran terakhir, pas jadi akhir bundel SFBDBS-09.
          Wedaran selanjutnya tunggu dibukanya gandok SFBDBS-10.
          Insya Allah, besok pagi.
          beberapa kali coba upload gambar sampul tidak berhasil.
          sudah mengantuk, diteruskan besok pagi

          nuwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: