SFBDBS_09

Bagian 2

SFBDBS 09-224

Di keremangan malam yang sunyi, dari atas dahan pohon ambon, Ki Tolu Cemeng melihat sebuah keranda yang tertutup kain panjang seperti terbang meluncur sendiri tanpa ada yang mengusungnya.

Ketika keranda itu telah melewati pohon ambon, Ki Tolu Cemeng perlahan turun dari pohon langsung mengikuti dari belakang keranda yang meluncur sendiri. Tidak terlihat sedikit pun rasa takut diwajahnya, Ki Tolu Cemeng terus membuntuti keranda itu.

Ternyata keranda itu menuju ke arah pemakaman.

Suara burung celepuk yang terdengar semakin menjauh di keremangan malam yang sunyi menambah suasana seperti dipenuhi keangkeran yang mencekam. Tapi semua itu tidak membuat nyali Ki Tolu Cemeng surut, bahkan semakin membuat dirinya menjadi penuh gairah menyingkap keinginan tahuannya lebih jauh lagi.

“Seandainya yang membawa keranda itu hantu Leak, aku akan menantangnya berkelahi”, begitu tekad Ki Tolu Cemeng berkata sendiri didalam hatinya sambil terus membuntuti keranda itu.

Akhirnya keranda itu telah sampai di tanah pemakaman. Keranda itu sudah tidak bergerak lagi,

Bergerutuk suara gigi Ki Tolu Cemeng penuh kemarahan setelah melihat sendiri apa yang ada dihadapannya, namun Ki Tolu Cemeng berusaha menahan kesabarannya agar dapat mengetahui apa yang akan tejadi selanjutnya, maka Ki Tolu Cemeng telah memilih tempat yang sangat gelap untuk bersembunyi.

Ternyata dari balik kain penutup keranda keluar empat orang lelaki, merekalah empat hantu leak jadi-jadian. Mereka melempar begitu saja keranda di tanah dekat mereka.

“Hari ini kita telah membuat takut orang-orang suku liar itu”, berkata salah seorang dari keempat orang lelaki itu.

“Dua pekan lalu kita sudah membuat gundah gulana calon mertuamu yang angkuh itu”, berkata salah seorang yang lain dari keempat lelaki itu.

“Aku belum puas sebelum orang tua itu ikut bunuh diri”, berkata seorang yang paling muda diantara keempat lelaki itu.

“Bila tidak mati bunuh diri, kita akan mebunuhnya”, berkata seorang lelaki yang pertama kali bicara, sepertinya salah seorang pemimpin kelompok itu.

“Dengan sekali tepuk, dua pulau terlalui. Dendammu kepada kepala suku itu akan terlaksana, dan tugas mengusir suku Trunyam dari hutan ini juga akhirnya akan terlaksana”, berkata pemimpin mereka.

Sementara itu, di tempat yang terpisah, mahesa Amping dan Empu Dangka telah menyaksikan semuanya dari tempat yang tersembunyi. Mendengar pembicaraan empat orang yang bermain hantu-hantuan bahkan melihat dengan jelas Ki Tolu Cemeng yang tengah bersembunyi

“Apakah kamu melihat ada orang yang tengah mengintai empat hantu keranda itu?”, berbisik Empu Dangka kepada mahesa Amping.

Mahesa Amping tidak menjawab pertanyaan Empu Dangka, hanya menganggukkan kepalanya.

Sementara itu Ki Tolu Cemeng sudah tidak tahan lagi menguasai amarahnya yang sepertinya telah mengisi penuh rongga ddanya.

“Ketut Wuye, ternyata ini semua perbuatanmu!!”, berkata setengah berteriak melepas kemarahannya keluar dari persembunyiannya.

Bukan main kagetnya keempat hantu leak jadi-jadian itu.
Namun melihat hanya Ki Tolu Celeng seorang diri yang muncul dari persembunyiannya, keempat orang itu sepertinya telah menguasai dirinya kembali.

“Sangat kebetulan sekali, Ki Tolu datang menyerahkan nyawa”, berkata lelaki yang paling muda yang sudah dikenal oleh Ki Tolu Cemeng bernama Ketut Wuye.

“Aku bersyukur tidak jadi punya anak mantu lelaki sepertimu”, berkata Ki Tolu Cemeng penuh kebencian.

“Anak gadis Ki Tolu Cemeng mencintaiku”, berkata Ketut Wuye dengan senyum mengejek

“Kamu telah mengguna-gunainya”, berkata Ki Tolu Cemeng masih dengan penuh kebencian sambil tangannya telah melayang menyambar wajah pemuda itu.

Tapi ternyata pemuda itu bukan orang yang mudah dirobohkan hanya dalam satu gerakan, terlihat pemuda itu telah bergeser surut bersamaan dengan itu balas menyerang Ki Tolu Cemeng.

“Ternyata calon mertuaku sudah bosan hidup, ingin menyusul anak gadisnya”, berkata Ketut Wuye sambil melepaskan tendangannya.

Terjadilah pertempuran yang seru antara Ki Tolu Cemeng dengan Ketut Wuye. Saling hantam dan saling tending. Kadang Ki Tolu Cemeng terlempar menghantam batang pohon menyam yang banyak tumbuh disekitar perkelahian mereka, namun dalam serangan yang lain, Ketut Wuye yang jatuh menggelinding di tanah.

Sebuah perkelahian yang seimbang bila saja ketiga kawan Ketut Wuye tidak ikut campur membantu. Dan sepertinya tidak sabaran.

“Kita habisi orang tua ini”, berkata seorang lelaki yang nampaknya pemimpin kelompok ini memberI tanda kedua orang kawannya untuk mengeroyok Ki Tolu Cemeng.

Maka kasihan sekali melihat Ki Tolu Cemeng harus menghadapi empat orang sekaligus, beberapa pukulan telah berhasil menerobos beberapa bagian tubuhnya.

Namun Ki Tolu Cemeng tidak sedikit pun jera dan mundur, bahkan semakin pukulan datang bertubi-tubi menghantam tubuhnya, semangatnya semakin bertambah, tekadnya telah bulat berkelahi sampai habis tenaga di badan.

 ———-oOo———-

SFBDBS 09-225

“Hari ini aku bertemu empat ekor cecurut yang Cuma berani mengeroyok orang tua”, berkata Ki Dangka yang muncul keluar dari persembunyiannya merasa kasihan bahwa Ki Tolu Cemeng tidak dapat berbuat banyak menghadapi keempat pengeroyoknya.

Keempat orang pengeroyok Ki Tolu Cemeng sangat kaget melihat ada orang yang tiba-tiba datang mengatakan mereka sebagai empat orang cecurut. Perkelahian untuk sementara jadi terhenti.

Namun melihat yang datang hanya seorang tua renta yang lebih tua dari Ki Tolu Cemeng telah mengembalikan kekagetan mereka.

“Ternyata kita kedatangan macan ompong yang bosan hidup”, berkata salah seorang pimpinan mereka.

Belum habis orang itu berbicara, entah dengan cara apa yang jelas gerakan Empu Dangka tidak dapat diikuti oleh mata wadag. Sebuah tamparan yang keras menghantam wajah orang itu yang langsung tersungkur ke belakang dengan dua giginya langsung tanggal. Dari bibirnya terlihat keluar sedikit darah segar.

Ketiga kawannya merasa pemimpinnya salah langkah dan apa yang menimpanya hanya sebuah kebetulan. Maka ketiganya tanpa aba-aba telah langsung menyerang Empu Dangka dan meninggalkan Ki Tolu Cemeng seorang diri yang merasa ada kesempatan untuk sedikit beristirahat mengatur nafas.

Ternyata ketiga lelaki itu terlambat menyadari tengah berhadapan dengan siapa, sebagaimana pemimpinnya, kali ini mereka juga tanpa mengetahui bagaimana Empu Dangka memulainya, tiba-tiba saja merasakan sebuah tamparan yang keras menghantam wajah mereka yang langsung tersungkur kebelakang, masing-masing merasakan nyeri pada bagian dalam mulut mereka. Dan begitu mereka membuka mulut, dua buah gigi depan mereka telah tanggal copot dari akarnya bersama sedikit darah dari gusi yang robek terluka.

“Apakah kalian masih punya tenaga?”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum. “Apakah kalian masih ingin bermain dengan macan ompong?, berkata kembali Empu Dangka.

Keempat orang itu nampaknya langsung mengerti telah berhadapan dengan orang tua yang bukan orang sembarangan, karena dengan sekali gebrak tanpa diketahui dengan cara apa mereka sudah tersungkur dengan masing-masing telah tanggal gigi depan mereka.

“Ampuni kami tuan”, berkata pemimpim mereka mewakili kawan-kawannya dengan wajah penuh takut tidak berani menatap langsung Empu Dangka.

“Aku serahkan kepada Ki Tolu Cemeng, apakah dirinya mau memaafkan kalian”, berkata Empu Dangka yang ternyata sudah mengenal Ki Tolu Cemeng.

“Aku hanya ingin mereka mengembalikan mayat putriku”, berkata Ki Tolu Cemeng sambil menatap tajam keempat lelaki itu, terutama pemuda yang bernama Ketut Wuye.

“Kalian dengar sendiri, cepat kalian bawa kembali mayat yang telah kalian curi”, berkata Empu Dangka setengah membentak kepada keempat lelaki itu yang tidak berani mengangkat wajahnya.

“kami akan segera mengembalikannya”, berkata pemimpin mereka dengan penuh rasa takut.

Sementara itu terlihat Mahesa Amping telah keluar dari persembunyiannya, sambil menuntun kuda mendekati Empu Dangka.

Kehadiran Mahesa Amping awalnya sangat mengagetkan Ki Tolu Cemeng, tapi melihat sikap Empu Dangka yang tidak menunjukkan hal apapun, Ki Tolu Cemeng telah menyimpulkan bahwa Mahesa Amping adalah kawan Empu Dangka.

Singkat cerita, terlihatlah iring-iringan sebuah keranda yang dipikul empat orang lelaki diikuti di belakangnya Empu Dangka, Mahesa Amping dan Ki Tolu Cemeng menuju perkampungan suku Trunyam.

Malam sudah wayah sepi uwong ketika iring-iringan itu telah sampai di tengah kampong suku Trunyam. Ki Tolu Trunyam membangunkan beberapa warganya. Maka dalam waktu singkat seluruh warga suku Trunyam telah terbangun dan bergerumbul mengerumuni keempat lelaki bersama kerandanya.

“Ternyata keranda yang kita temui bukan hantu sungguhan”, berkata salah seorang lelaki yang dua pekan lalu basah kuyup pakaian bawahnya melihat hantu keranda.

Sebagaimana yang diminta oleh Ki Tolu Cemeng, keempat orang lelaki hantu jadi-jadian itu yang diiringi hampir semua lelaki dewasa suku Trunyam pada malam itu juga telah mengambil kembali mayat yang mereka curi disebuah tempat dan membawanya kembali ketempatnya semula di tanah pemakaman suku Trunyam.

Setelah mengembalikan mayat anak gadis Ki Tolu Cemeng, keempat orang lelaki itu telah diamankan disebuah tempat dan dijaga dengan ketat agar tidak dapat melarikan diri.

“Besok pagi baru kita tanyakan, siapakah dalang di belakang mereka”, berkata Empu Dangka kepada Ki Tolu Cemeng.

“Terima kasih, entah apa yang terjadi atasku bila saja Empu Dangka tidak datang membantu”, berkata Ki Tolu Cemeng menjura kepada Empu Dangka penuh rasa terima kasih.

“Sang Hyiang Widi telah melangkahkan kakiku ke Hutan Trunyam”, berkata Empu Dangka dengan sedikit senyumnya.

Sementara itu hari sudah sampai dipenghujung malam, langit diatas perkampungan Trunyam sudah berwarna kelabu kemerahan sebagai tanda sang pagi akan datang menjelang.

Terlihat Empu Dangka, Mahesa Amping dan Ki Tolu Cemeng tengah duduk diatas rumput basah di depan rumah Ki Tolu Cemeng karena rumah mereka tidak punya teras pendapa.

Mereka masih berbincang-bincang seputar kejadian tentang keranda jadi-jadian itu. Seorang lelaki terlihat membawa minuman hangat kepada mereka.

 ———-oOo———-

SFBDBS 09-226

Tanpa disadari langit diatas mereka sudah menjadi terang, sinar matahari pagi sudah datang menembus sela-sela dahan dan dedaunan yang rindang. Terlihat beberapa wanita membawa bumbung bambu diatas kepalanya menuju ke sebuah kedung, mungkin mereka akan mandi dan pulangnya membawa air didalam bumbung bambu untuk persediaan air dirumahnya.

“Kami bukan petani yang baik”, berkata Ki Tolu Cemeng ketika seorang lelaki membawakan mereka rebusan jagung yang masih hangat.

Terlihat mereka menikmati rebusan jagung yang masih hangat itu.

“Air putih yang sangat segar, terasa ada sedikt rasa manis”, berkata Mahesa Amping setelah meneguk sedikit air dari bejana bambu.

“Air itu kami sadap dari bambu tua, air itulah yang kami minum setiap pagi”, berkata Ki Tolu Cemeng sambil tersenyum kepada Mahesa Amping.

Sementara itu hari sudah terang tanah, sebagaimana yang telah mereka sepakati semula untuk menanyakan kepada keempat orang lelaki yang telah mereka amankan disebuah tempat yang dijaga dengan sangat ketat.

Ki Tolu Cemeng memerintahkan beberapa lelaki suku Trunyam untuk membawa satu persatu secara bergantian dari keempat orang yang telah menggelisahkan kehidupan suku Trunyam.

Dengan cara seperti itu akhirnya mereka dapat mengorek keterangan bahwa mereka sesungguhnya hanya seorang suruhan. Dalang dibelakang mereka ternyata seorang senapati Kuturan bernama Made Sangaran, seorang pejabat kepercayaan Raja Adidewa Lamcana penguasa Puri Besakih.

“Kita belum dapat mendakwa apa yang diperbuat oleh Senapati kuturan Made Sangarans itu sebagai perintah langsung penguasa Puri Besakih”, berkata Empu Dangka berpendapat.

“Apa yang dapat aku lakukan terhadap keempat orang suruhan itu?”, bertanya Ki Tolu Cemeng kepada Empu Dangka meminta pendapatnya.

“Melepaskannya”, berkata Empu Dangka

“Melepaskannya ?”, bertanya Ki Tolk Cemeng meminta penjelasan dari Empu Dangka.

“Dengan melepasnya, tidak ada alasan dari Penguasa Puri Besakih berbuat kekerasan terhadap suku Trunyam ini”, berkata Empu Dangka. “Sekaligus sebagai bukti bahwa orang-orang suku Trunyam sebagai manusia yang beradab, bukan suku liar sebagaimana tanggapan mereka”, berkata kembali Empu Dangka menjelaskan pertimbangannya mengapa harus melepaskan keempat tawanan mereka itu.

“Sebuah pertimbangan yang baik, kami akan melepaskan mereka hari ini juga”, berkata Ki Tolu Cemeng menyetujui usulan Empu Dangka.

Akhirnya pada hari itu juga mereka telah melepas keempat tawanan mereka.

 ———-oOo———-

SFBDBS 09-227

Sementara itu Mahesa Amping dan Empu Dangka masih di perkampungan Suku Trunyam. Dihari kedua mereka baru meninggalkan perkampungan suku Trunyam. Mahesa Amping menitipkan kudanya kepada Ki Tolu Cemeng.

“Kami akan singgah kembali”, berkata Empu Dangka kepada Ki Tolu Cemeng yang mengantar mereka sampai dimuka jalan setapak di depan rumahnya.

“Bila kalian tidak datang singgah, kuda itu menjadi milikku”, berkata Ki Tolu Trunyam bercanda.

Pada hari itu suasana pagi telah terang tanah, matahari pagi sudah bergeser naik menerangi perkampungan suku Trunyam. Mahesa Amping dan Empu Dangka sudah meninggalkan perkampungan suku Trunya. Terlihat mereka tengah menyusuri hutan Trunyam kearah selatan.

“Kita melambung ke Timur melewati pinggang Gunung Batur”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping

“Kupercayakan langkah kakiku kepada sang pemandu”, berkata Mahesa Amping sambil terus mengikuti langkah kaki Empu Dangka.

Di sebuah tanah tebing yang tinggi mereka berhenti sebentar, dibawah mereka terhampar luas Danau Batur yang indah dikelilingi gerumbul pepohonan yang rimbun menghijau. Sebuah pesona lukisan alam yang indah, membawa jiwa hanyut dalam ketentraman siapapun yang memandangnya.

“Sekarang aku baru mengerti, kenapa Empu Dangka tidak pernah kembali lagi ke Jawadwipa. Balidwipa seperti serpihan sorga yang jatuh di bumi”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang menanggapinya dengan senyum penuh arti.

“Bila ada yang bertanya dimana kampung halamanku, maka dengan bangga kukatakan Balidwipa sebagai kampung halamanku kedua”, berkata Empu Dangka sambil memandang jauh ke arah Danau Batur yang begitu mempesona.

Matahari telah turun ke arah barat ketika mereka menuruni lembah gunung Batur. Terlihat mereka telah memasuki sebuah hutan lembah yang kerap.

“Setelah melewati dua gundukan bukit itu, kita sudah ada dikaki Gunung Agung”, berkata Empu Dangka memberikan gambaran perjalanan mereka.

Demikianlah akhirnya mereka telah sampai dikaki Gunung Agung ketika hari sudah jatuh diujung senja. Terlihat mereka tengah memasuki sebuah padukuhan kecil dikaki Gunung Agung itu.

“Kelihatannya kalian datang dari tempat yang jauh”, berkata penjaga banjar kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Benar, kami dari tepian Buleleng bermaksud berjiarah di Pura Besakih”, berkata Empu Dangka.

“Besok kami juga akan ke Pura Besakih, mengikuti upacara Batara Turun Kabeh”, berkata penjaga Banjar itu.

Demikianlah, Maheasa Amping dan Empu Dangka malam itu bermalam disebuah padukuhan kecil di kaki Gunung Agung.

“Kebetulan kami baru panen ketela pohon”, berkata penjaga Banjar sambil meletakkan beberapa potong ketela rebus dan dua buah minuman hangat.

“Terima kasih, kami telah merepotkan”, berkata Mahesa Amping kepada penjaga Banjar itu yang tidak menjawab, hanya sedikit tersenyum sebagai arti bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kewajaran.

“Cuma ini yang dapat kami berikan”, berkata penjaga Banjar itu sambil mempersilahkan Mahesa Amping dan Empu Dangka menikmati hidangan yang telah disediakan. “Bila ada keperluan lain, jangan sungkan mengetuk pintu rumahku”, berkata penjaga Banjar itu ketika pamit kembali kerumahnya.

Malam itu bulan bersinar bulat penuh bagai sinar perawan yang siap ke pelaminan, begitulah orang-orang tua berkata tentang sinar bulan yang indah cemerlang di waktu purnama bulat penuh.

“Pergantian penguasa di Jawadwipa silih berganti, sementara di Balidwipa terjadi kelanggengan yang lama”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang masih belum mengantuk.

“Adakah sesuatu yang membuat perbedaan itu?”, bertanya Mahesa Amping

“Perbedaannya terletak pada tempat kekuasaan itu sendiri”, berkata Empu Dangka

“Aku yang bodoh ini belum dapat menangkap apa yang dimaksud dari perkataan Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping yang masih belum menangkap perkataan Empu Dangka.

“Kekuatan penguasa Di Jawadwipa terletak didalam istana, sementara kekuatan Balidwipa bersumber diluar istananya”, berkata Empu Dangka menjelaskan.

“Mungkinkah diluar pura ada sebuah kekuatan?”, bertanya Mahesa Amping

“Para pecalang adalah salah satu contoh kekuatan diluar pura”, berkata Empu Dangka.

“Aku baru dapat mengerti”, berkata Mahesa Amping.

“Penghuni Tanah Bali ini telah diikat jiwanya oleh sebuah keyakinan bahwa kehadiran sebuah pura merupakan sumber dan pusat segala kehidupan. Kelangsungan kehidupan sebuah pura adalah hidup dan matinya kehidupan mereka”, berkata Empu Dangka memberikan sebuah pandangan mengenai kehidupan masyarakat di Tanah Bali.

“Apakah Empu Dangka tengah menggambarkan sebuah kekuatan sarang lebah?”, berkata Mahesa Amping.

“Seperti itulah bila saja dapat digambarkan kekuasaan sebuah pura atas masyarakat di sekitarnya”, berkata Empu Dangka yang diam-diam mengagumi daya tangkap dan daya nalar dari pemuda dihadapannya itu.

Malam di Padukuhan kaki bukit Gunung Agung memang sangat dingin, ditandai dengan bulan purnama sasih kedasa yang turun sempurna satu tahun sekali.

Terlihat Empu Dangka telah mendahului tidur, sementara Mahesa Amping masih terlihat bersandar didinding Banjar berjaga secara bergantian menghindari hal-hal yang mungkin saja dapat terjadi. Namun sampai menjelang di ujung malam, tidak terjadi apapun yang mengganggu keberadaan mereka.

“Mengapa anakmas tidak membangunkan aku”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang masih bersandar di dinding Banjar.

“Kulihat Empu Dangka tidurnya begitu nyenyak”, berkata Mahesa Amping.

“Masih ada sisa malam untuk beristirahat meluruskan badan”, berkata Empu Dangka meminta Mahesa Amping untuk beristirahat.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Empu Dangka, malam memang masih tersisa. Terlihat Mahesa Amping telah meluruskan badannya, merasakan nikmatnya berbaring. Tidak begitu lama Mahesa Amping sudah tertidur nyenyak.

Sementara itu sambil bersandar di dinding Banjar Empu Dangka tersenyum melihat Mahesa Amping yang begitu cepatnya dan sangat mudah sudah tertidur nyenyak.

Namun ternyata Mahesa Amping tidak cukup lama tertidur, karena sang pagi akhirnya telah muncul mendatangi bumi yang ditandai suara ayam jantan terdengar sayup dari tempat yang begitu jauh saling bersahutan membangunkan Mahesa Amping.

Warna pagi saat itu memang masih gelap dan berembun, namun jalan didepan Banjar desa itu sudah terlihat mulai ramai dilalui beberapa orang. Hampir setiap wanita menjunjung bakul di kepalanya.

“Mereka akan berangkat ke Pura Besakih”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Demikianlah, setelah bersih-bersih diri, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah berbaur bersama semua orang Padukuhan berjalan kaki mendaki Gunung Agung menuju Pura Besakih. Rombongan pejalan kaki itu semakin lama semakin banyak bergabung dengan orang-orang dari berbagai Padukuhan lainnya. Berduyun-duyun ratusan orang menyusuri Jalan setapak menuju Pura Besakih itu sudah begitu padat dan mirip ular panjang yang tengah berjalan.

Kabut turun menghalangi pandangan mata, ratusan orang yang berjalan mendaki Pura Besakih tidak surut terus berjalan. Wajah-wajah mereka dipenuhi suasana kegembiraan.

Tidak terasa, akhirnya Mahesa Amping dan Empu Dangka yang berjalan bersama ratusan orang telah sampai di pelataran tanah datar. Dihadapan mereka berdiri Pura Besakih dengah megahnya diatas undakan tanah tinggi, ada undakan anak tangga dari batu yang tinggi untuk dapat sampai ke Pura Besakih.

“Sebuah benteng Istana yang elok”, berkata Mahesa Amping sambil memandang penuh kekaguman atas suasana pemandangan lukisan alam penuh kedamaian dalam sosok bangunan batu berundak dikelilingi kehijauan warna alam di sebuah lereng Gunung Agung.

“Prajurit Singasari akan datang menguasai pura agung ini”, berkata Mahesa Amping dalam hati masih menikmati keelokan pura Besakih yang berdiri tinggi dihadapannya.

“Pura Basuki adalah pura huluning jagat, berdiri diatas Gunung Agung yang tinggi. Semoga pasukan Maharaja Kertanegara dapat menghormati bangunan suci ini”, berkata Empu Dangka yang sepertinya dapat membaca apa yang tengah dipikirkan oleh Mahesa Amping.

Tidak terasa langkah kaki Mahesa Amping dan Empu Dangka telah terbawa oleh arus yang terus berlipat dari ratusan orang yang terus bergerak menapaki tangga batu menuju lawang batu di puncak anak tangga.

Akhirnya bersama kerumunan orang yang terus bergerak, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah sampai di puncak tangga dan melangkah melewati lawang pintu pura. Mereka telah sampai di Pura Penataran Agung, sebuah pura yang berada di tengah beberapa pura yang ada diatas tanah berbukit itu.

“Inilah istana Raja Adidewa Lancana”, berkata Empu Dangka ketika berada di pura Penataran Agung tempat semua umat sedharma melakukan upacara Batara Turun Kabeh.

Terlihat semua upakara yang dibawa dari berbagai padukuhan telah diletakkan di Bale Pasemuan. Satu persatu semua orang telah duduk meenghadap Bale Gajah. Dan mereka dengan penuh hidmat mendengar pitutur langsung dari Sang Ratu Agung, Raja Adidewa Lancana.

Sebagai puncak upacara Batara Turun Kabeh adalah pelaksanaan membawa berbagai upakara dan wewalungan kerbau yang akan ditawur di puncak Gunung Agung. Terlihat sebanyak empat puluh orang yang dipimpin oleh seorang Jero Mangku tengah berjalan menuju ke puncak Gunung Agung, ke puncak kepundan gunung tertinggi di Tanah Bali itu.

“Mereka membawa berbagai upakara dan wewalungan kerbau untuk ditawurkan di puncak kepundan Gunung Agung”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping. “Dimanakah istana Raja Adidewa Lencana”, bertanya Mahesa Amping ketika mereka tengah bermaksud meninggalkan Pura Penataran Agung.

Empu Dangka tidak menjawab, hanya memberi pertanda ke arah utara dari tempat mereka berdiri.

“Sebuah istana yang asri penuh ketenangan”, berkata Mahesa Amping memandang kepada sebuah pura yang dikelilingi dinding batu bersusun rapih serta diukir dan terlihat begitu agung berdiri diatas ketinggian sebuah tanah bukit.

“Pura ini menghadap arah timur laut, sebuah perlambang Dewa Sambhu salah satu penguasa sembilan penjuru mata angin”, berkata Empu Dangka ketika mereka tengah keluar meliwati lawang pintu Pura Besakih.

Sementara itu matahari telah mulai menaik, menyinari dan menghangatkan pagi di Pura Besakih. Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat bersama beberapa orang tengah menuruni jalan setapak di lereng pegunungan Gunung Agung yang masih teduh dalam kehijauan dan kerapatan hutan kayu.

———-oOo———-

SFBDBS 09-2128

“Bukankah harusnya kita berbelok kekanan?”, bertanya Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Kita harus melihat suasana kaki gunung Agung dari sisi yang lain”, berkata Empu Dangka menjelaskan arah perjalanan mereka.

“Jadi kita tidak kembali keperkampungan Trunyam?”, bertanya Mahesa Amping.

“Maaf, kuda anakmas memang harus direlakan”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum.

“Aku bertanya tentang arah, kenapa Empu Dangka menjawabnya tentang kuda?”, bertanya kembali Mahesa Amping.

“Aku hanya sekedar menerka-nerka”, berkata Empu Dangka sambil lalu.

“Kali ini tebakan Empu Dangka meleset jauh”, berkata Mahesa Amping sambil mengikuti langkah kaki Empu Dangka yang masih terus berjalan.

Semakin turun kebawah, iring-iringan orang yang pulang dari Pura Besakih semakin berkurang, satu persatu telah berbelok arah menuju Padukuhan mereka masing-masing. Hingga akhirnya di jalan setapak itu hanya tertinggal Mahesa Amping dan Empu Dangka berdua.

Sementara itu matahari diatas langit telah condong kebarat, Mahesa Amping Dan Empu Dangka masih terus menyusuri jalan setapak yang masih menurun ke bawah dikaki gunung Agung yang penuh tetumbuhan dan pepohonan yang lebat. Cahaya matahari tua yang semakin rebah kearah barat bumi sudah semakin redup.

Pandangan mata di hutan sekitar Mahesa Amping dan Empu Dangka sudah semakin tersamar dan menjadi semakin buram manakala kabut sore di kaki gunung Agung turun menutupi segenap pandangan mata.

“Di ujung senja kita sudah tiba di pintu lawang sebuah Kademangan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang terus mengikutinya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Empu Dangka, mereka telah melihat sebuah pintu lawang yang menjadi tanda batas antara hutan dan sebuah Kademangan.

“Kita memasuki Kademangan Rendang, sebuah Kademangan yang cukup besar”, bekata Empu Dangka ketika mereka melewati sebuah pintu lawang yang terbuat dari batu hitam yang tersusun rapih diukir dengan cara yang halus dan telaten berdiri dikiri dan kanan jalan.

Namun ketika mereka mendekati sebuah banjar desa, mereka melihat kerumunan orang di Banjar desa. Rasa keingintahuan mereka begitu tinggi, tidak terasa mereka sudah ada diantara kerumunan itu.

Terlihat dua orang wanita muda dan seorang wanita yang sudah berumur tengah duduk sambil menggaruk-garuk beberapa bagian tubuhnya yang terlihat sangat gatal menyakitkan.

Terlihat ketiga wanita itu beberapa bagian tubuhnya sudah berwarna merah karena digaruk dengan kerasnya dan berkali-kali.

“Ada apa dengan tiga orang wanita itu ?”, bertanya Empu Dangka kepada seorang pemuda didekatnya.

 “Sore tadi mereka turun mandi di sungai, selesai mandi mereka merasakan gatal yang sangat”, berkata pemuda itu.

“Apakah sudah ada tabib yang mengobati?”, bertanya kembali Empu Dangka

“Ki Tabib Jaran Wungu sejak pagi tadi telah berangkat ke Pura Besakih, sampai saat ini belum pulang, biasanya Ki Tabib menginap di rumah anaknya di padukuhan dekat Pura Besakih”, berkata pemuda itu.

“Mohon maaf, siapa kerabat terdekat dari ketiga wanita ini”, berkata Empu Dangka kepada beberapa orang yang berkerumun.

“Aku suami dan ayahnya”, berkata seorang lelaki yang sudah berumur.

“Aku mohon ijin, mudah-mudahan dapat mengobatinya”, berkata Empu Dangka kepada lelaki itu yang terlihat sudah sangat putus asa, terlihat dari wajahnya yang begitu putus asa.

“Silahkan, aku berterima kasih atas kesediaan kisanak”, berkata lelaki itu yang merasa ada sebuah harapan meski belum mengenal siapa Empu Dangka.

Empu Dangka langsung mendekati seorang wanita yang sudah berumur yang masih terus menggaruk badannya yang gatal tidak pernah hilang.

Ternyata penglihatan mata Empu Dangka sangat tajam, hanya sekali pandang sudah melihat keganjilan yang ada di tubuh wanita itu.

Terlihat Empu Dangka menggosok-gosokkan tangannya dengan sebuah tanah yang diambil didekatnya. Setelah sebagian tangannya telah merata dengan tanah merah, dengan hati-hati tangan Empu Dangka mengambil sesuatu benda halus yang menempel di tubuh wanita itu.

“Istri dan dua orang anakmu terkena bulu daun pulus”, berkata Empu Dangka sambil memperlihatkan sebuah bulu halus kepada seorang lelaki yang mengaku suami dan ayah dari ketiga wanita itu.

“Ditempat asalku, kami menyebutnya daun pulus, sementara di Tanah Bali ini beberapa orang menyebutnya sebagai daun Lateng.

“Kedua nama daun itu baru kali ini aku mendengarnya”, berkata lelaki itu yang baru mengenal dua nama daun yang disebutkan oleh Empu Dangka.

“Lumuri seluruh tubuh istri dan anakmu dengan tanah merah, setelah itu bersihkan dengan air bersih yang bukan berasal dari sungai tempat mereka mandi”, berkata Empu Dangka kepada lelaki itu.

Lelaki yang sudah putus asa itu langsung mengikuti semua petunjuk Empu Dangka dengan membawa istri dan anaknya ke rumahnya yang ternyata bersebelahan dengan banjar desa. Dua orang lelaki tetangga dekatnya terlihat mengumpulkan tanah merah dan membawanya kerumah keluarga yang kemalangan itu.

———-oOo———-

SFBDBS 09-229

Beberapa orang yang awalnya telah berkerumun di banjar desa itu terlihat menunggu hasil pengobatan yang dianjurkan oleh Empu Dangka. Hampir semua orang matanya tertuju ke arah lawang gerbang rumah keluarga yang kemalangan itu.

Akhirnya yang mereka tunggu ternyata datang juga, dari arah lawang gerbang rumah keluarga itu, seorang lelaki suami dan ayah para wanita itu telah datang dengan wajah terang, tidak lagi suram sebagaimana sebelumnya.

“Terima kasih, istri dn anak-anakku sudah hilang rasa gatalnya”, berkata lelaki itu sambil menyalami Empu Dangka penuh rasa terima kasih.

“Bersyukurlah kepada Sang Hyiang Widi yang telah membawa langkah kakiku ke Kademangan ini”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan lelaki itu yang telah terbebas dari rasa cemas dan kekhawatiran itu.

“Atas nama warga kademangan, aku menghaturkan terima kasih kepada tuan tabib”, berkata seorang yang berwajah bersih nampaknya sudah berumur namun dari gaya bahasanya sepertinya seorang yang terhormat.

“Aku bukan tabib, hanya sedikit mengenal beberapa tumbuhan”berkata Empu Dangka merendahkan dirinya.

“Aku Demang di sini, bolehkah aku mengenal nama orang tua?”, berkata orang itu.

“Ternyata aku berhadapan dengan Ki Demang, orang-orang memanggilku dengan sebutan Empu Dangka. Kebetulan sekali aku dan anakku melewati Kademangan ini”, berkata Empu Dangka kepada orang itu yang ternyata adalah Ki Demang.

“Kalian pasti datang dari tempat yang jauh, mari beristirahat dirumahku”, berkata Ki Demang mengajak Empu Dangka dan Mahesa Amping kerumahnya.

Beberapa orang nampak menjadi begitu hormat kepada Empu Dangka, mungkin ikut merasa berterima kasih telah berhasil menyembuhkan istri dan dua gadis anak tetangganya. Dengan penuh hormat mereka berpamit kepada Empu Dangka dan Ki Demang kembali kerumah mereka masing-masing.

“Sebaiknya kalian tidak mandi dulu di sungai, besok aku akan memeriksa keadaan sungai kalian”, berkata Empu Dangka kepada orang-orang itu.

“Mari ke rumahku”, berkata Ki Demang meminta Empu Dangka dan Mahesa Amping mengikutinya. Malam itu di Kademangan Rendang hujan turun rintik-rintik.

“Di Kademangan Rendang ini hampir setiap hari hujan, mungkin karena berada dikaki Gunung Agung”, berkata Ki Demang kepada Empu Dangka dan Mahesa Amping di bale tamu yang ada didepan teras rumahnya sebagaimana umumnya rumah yang ada di tanah Bali.

“Besok pagi aku akan memeriksa keadaan sungai”, berkata Empu Dangka

“Besok aku akan meminta Ki Jagaraga menemani kesungai”, berkata Ki Demang.

“Hanya orang yang sangat dengki dan sakit hati yang telah berbuat jahat menabur daun pulus di sungai”, berkata Mahesa Amping ikut berbicara.

“Kita harus menemukan orang itu agar tidak kembali menimbulkan korban”, berkata Ki Demang.

“Aku berkeyakinan bahwa pelakunya pasti bukan orang Kademangan ini”, berkata Empu Dangka memberikan pandangannya.

“Benar, warga kademangan ini begitu rukun dan saling menyayangi, mereka tidak mungkin sampai hati mencelakai keluarga dan kerabatnya sendiri”, berkata Ki Demang membenarkan pandangan Ki Dangka.

“Kalau begitu kita harus melakukan penyelidikan secara tersembunyi, siapa tahu kita dapat menangkap basah perbuatannya itu”, berkata Mahesa Amping.

Demikianlah, malam itu Mahesa Amping dan Empu Dangka bermalam dirumah Ki Demang.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali terlihat tiga orang lelaki keluar dari lawang pintu halaman Ki Demang. Mereka adalah Empu Dangka, Mahesa Amping dan Ki Jagaraga yang pagi itu telah dihubungi Ki Demang untuk menemani Empu Dangka memeriksa keadaan sungai.

Sungai itu ternyata tidak begitu jauh mengalir membelah Kademangan Rendang yang berasal dari beberapa mata air yang bersumber dari Gunung Agung. Sungai itu begitu jernih dan berbatu.Empu Dangka, Mahesa Amping dan Ki Jagaraga terlihat berjalan menyusuri sungai jernih berbatu itu. Kadang mereka harus melompat dari batu ke batu.

Masih belum begitu jauh mereka berjalan, disebuah tikungan sungai mereka menemukan tiga tangkai daun pulus dibenamkan didalam air dibawah sebuah batu.

“Dari sinilah orang itu telah menyebarkan bulu daun pulus itu”, berkata Empu Dangka sambil mengambil tiga tangkai daun pulus yang terbenam di dalam sungai.

“Apakah mungkin orang itu akan kembali melakukan kejahatannya”, bertanya Mahesa Amping.

“Orang itu mungkin masih ada di sekitar Kademangan ini, memasang telinganya menghitung jumlah korban”, berkata Empu Dangka.

“Mudah-mudahan orang itu belum puas melihat baru tiga orang yang menjadi korbannya”, berkata Ki Jagaraga.

“Kita berharap yang sama”, berkata Empu Dangka

“Sekarang apa yang harus kita perbuat?”, bertanya Ki Jagaraga.

“Bersembunyi disekitar sungai ini, menunggu kedatangannya”, berkata Mahesa Amping.

———-oOo———-

SFBDBS 09-230

Maka akhirnya mereka sepakat untuk bersembunyi disekitar sungai, ditempat yang tersembunyi yang tidak mudah terlihat.

Untuk memberi kesan bahwa perbuatannya belum diketahui, Empu Dangka mengembalikan tiga tangkai daun pulus ketempatnya semula.

Terlihat Mahesa Amping, Empu dangka dan Ki Jagaraga tengah mencari pohon yang tinggi. Akhirnya mereka menemukan sebuah pohon yang sangat cocok sebagai tempat bersembunyi namun dapat melihat dengan jelas keadaan di sekitarnya.

“Menunggu diatas pohon sampai sore hari sungguh melelahkan, kita perlu berjaga secara bergilir”, berkata Empu Dangka.

“Aku setuju, biarlah aku yang dapat giliran kedua. Aku akan datang disiang hari menggantikan kalian”, berkata Mahesa Amping.

Akhirnya sesuai kesepakatan, Mahesa Amping telah kembali Ke Kademangan, sementara itu Empu Dangka dan Ki Jagaraga mendapat giliran pertama naik keatas pohon sebagai tempat untuk melakukan pengintaian.

Mahesa Amping tidak menyusuri sungai sebagaimana berangkatnya, tapi ia sengaja berjalan masuk ke hutan di pinggir sungai itu.

Ternyata pernyataan Mahesa Amping untuk secara bergiliran berjaga diatas pohon hanya sebuah alasan untuk melindungi Ki Jagaraga. Yang sebenarnya adalah bahwa Mahesa Amping telah menemui sebuah jejak langkah.

Dengan langkah perlahan Mahesa Amping terus mengikui jejak langkah kaki itu yang ternyata menuju ke arah hutan dalam.

Sebagai seorang yang banyak belajar di dalam pengembaraannya, baik mengenal jejak dan arah, Mahesa Amping dapat membaca bahwa jejak langkah kaki itu hanya tertinggal satu hari, terlihat dari dahan semak kecil yang patah tidak lagi bergetah. Perlahan tapi pasti, Mahesa Amping seperti memegang tali tersembunyi yang tertinggal lewat jejak langkah kaki itu.

Mahesa Amping ternyata seorang pencari jejak yang ulung, dari jejak kaki ditanah basah dapat dibaca berat badan orang yang tengah dikuntitnya itu. Mahesa Amping juga dapat mengukur seberapa tinggi orang yang akan ditemuinya lewat sebuah dahan yang patah.

Mahesa Amping masih terus mengikuti jejak langkah kaki itu, baik lewat jejak tanah yang terinjak maupun semak yang rusak terkuak.

“Semoga tidak ada orang lain yang merusak jejak yang kuikuti ini”, berkata Mahesa Amping berharap jejak yang diikutinya itu tidak rusak oleh jejak orang lain.

Tapi Mahesa Amping berkeyakinan bahwa hutan di sisi sungai itu jarang sekali dilalui orang.

———-oOo———-

SFBDBS 09-231

Tiba-tiba saja langkah Mahesa Amping terhenti.

Tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri, terhalang semak dan batang pohon besar, Mahesa Amping melihat seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi meski belum dapat dikatakan sudah tua tengah bersandar di sebuah batu besar. Wajah dan pakaian orang itu begitu lusuh dan kotor.

“Orang ini sangat cocok sekali dengan gambaran jejak yang kuikuti, berbadan kokoh dan tinggi besar”, berkata Mahesa dalam hati memperhatikan seorang lelaki yang tidak begitu jauh darinya.

“Orang inikah yang telah membuat sebuah kesusahan menyebarkan bulu daun pulus?”, berpikir Mahesa Amping sambil mencari jalan bagaimana caranya menyibak dalang penyebar daun pulus itu.

Terlihat Mahesa Amping mengotori wajah dan pakaiannya.
Tiba-tiba saja Mahesa Amping mengambil pisau belatinya dari balik pakaiannya dan langsung melompat kearah orang itu yang tengah bersandar di sebuah batu besar. “Kamu pasti orang Kademangan Rendang, kamulah orang pertama yang kubunuh hari ini”, berteriak Mahesa Amping sambil menunjuk-nunjuk wajah lelaki itu dengan pisau belatinya.

“Setan alas, orang gila,baru datang sudah marah-marah tidak karuan”, berkata lelaki itu sambil berdiri tanpa sedikitpun terlihat rasa takut menghadapi Mahesa Amping yang memgang senjata belati tajam.

“Hari ini kamulah orang Kademangan Rendang yang pertama kubunuh”, berkata Mahesa Amping sambil tertawa mirip pemuda kurang waras.

“Aku bukan orang Kademangan Rendang!!”, berteriak orang itu lebih keras dari tawa Mahesa Amping.

“Bohong!!”, berkata Mahesa Amping lebih keras lagi. “Kamu berkata seperti itu karena takut kubunuh”, berkata kembali Mahesa Amping sambil menjulurkan belatinya kehadapan wajah orang itu.

“Terserah percaya atau tidak, aku bukan orang Kademangan Rendang”, berkata orang itu yang sepertinya telah kesal sekali melihat Mahesa Amping yang akan membunuhnya.

“Aku akan membunuhmu!!”, berteriak Mahesa Amping sampil menghujamkan belatinya ke arah leher orang itu.

“Orang gila!!”, berkata orang itu sambil mengelak sedikit merunduk dan bersamaan dengan itu kakinya telah melambung tepat bersarang diperut Mahesa Amping.

Ternyata Mahesa Amping diam-diam telah melambari tubuhnya dengan kekebalan. Meskipun terlihat perutnya terkena tendangan dari orang itu, dirinya tidak merasakan apapun. Namun meski begitu Mahesa Amping telah berpura-pura terlempar jatuh.

“Aku akan mencabik-cabik tubuhmu”, berkata Mahesa Amping sambil berdiri dengan wajah penuh murka.

Kembali Mahesa Amping menyerang orang itu dengan gerakan yang kasar dan brutal, menyerang kearah perut orang itu.

“Anak gila!!”, berkata orang itu sambil sedikit bergeser kesamping. Kembali sebuah tendangan yang lebih keras lagi dari sebelumnya langsung bersarang di pinggang Mahesa Amping.

Mahesa Amping terlihat seakan-akan terpelanting kesamping.

“Kusayat kulitmu sebelum mati”, berkata Mahesa Amping sambil bangkit berdiri.

Kembali Mahesa Amping mendekati orang itu dengan berlari sambil menyilangkan belatinya kearah tubuh orang itu.

“Anak gila!!”, berkata orang itu sambil tangannya menyambar pergelangan tangan Mahesa Amping yang tengah menggenggam belati.

Tangan orang itu terlihat begitu cepat, pergelangan tangan Mahesa Amping seperti dicengkerang sebuah tangan yang kuat, belati ditangan Mahesa Amping terlepas dan bersamaan dengan itu tiba-tiba saja dengan tenaga yang kuat melempar Mahesa Amping hingga terpelanting mencium tanah.

Terlihat orang itu mendekati Mahesa Amping yang masih tengkurap diatas tanah basah.

“Apa yang membuatmu begitu dendam dengan orang Kademangan Rendang”, berkata orang itu sambil tangannya mencengkeram leher Mahesa Amping.

“Lepaskan”, berkata Mahesa Amping berusaha memberontak.

Namun cekalan tangan orang itu begitu kuat, Mahesa Amping tidak dapat bergerak sedikitpun. “Cepat ceritakan!!”, berkata orang itu masih mencekal leher Mahesa Amping.

“Bagaimana aku bisa bicara, sementara mulutku tertutup tanah”, berkata Mahesa Amping yang memang masih menghadap tanah.

“Katakan, kenapa kamu begitu benci dengan orang Kademangan Rendang!!”, berkata orang itu sambil melepas cekalannya.

Mahesa Amping bebalik badan, duduk dengan wajah menghadap orang itu. “Aku benci orang Kademangan Rendang karena mereka kikir, bukannya memberikan sedekah makanan, mereka mencaci maki diriku dengan mengatakan diriku pemalas. Bahkan lebih kejam lagi mereka membiarkan anak-anak kecil melempari diriku dengan batu”, berkata Mahesa Amping dengan wajah penuh kesal.

Tiba-tiba saja orang itu tertawa panjang. “Wahai orang Kademangan Rendang, hari ini telah bertambah musuhmu”, berkata orang itu diujung tawanya.

———-oOo———-

SFBDBS 09-232

Bersambung ke bagian 3

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 25 Desember 2011 at 00:01  Comments (276)  

276 KomentarTinggalkan komentar

  1. sugeng enjang kadang padepokan pak DALANG-e,

    • sugeng enjang ugi Ki

  2. Diam-diam Empu Dangka mengagumi pemuda disebelahnya ini yang telah mampu menggunakan mata bathinnya, sebuah pertanda orang bersangkutan telah berada dalam tingkat kesempurnaan ilmu yang tinggi.

    “Manusia Leak itu dari tataran tingkat utama”, berkata Empu Dangka yang sepertinya sangat mengenal tingkat dan tataran kedua orang yang tengah bertempur itu.”Aku pernah melihat manusia Liya-ak dari tataran tingkat utama bertempur dengan manusia Leak yang juga ada di tingkat tataran ilmu yang sama”, berkata kembali Empu Dangka sambil terus mengawasi jalannya pertempuran.

    “Aku juga melihat orang itu itu telah menjadi bulan-bulanan manusia Leak”, berkata Mahesa Amping yang juga menghawatirkan nasib lawan manusia Leak.

    “Kita tidak dapat datang membantu, pertempuran mereka adalah perkelahian hidup dan mati yang telah berlangsung ratusan tahun diantara dua perguruan yang telah saling bermusuhan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang masih mengkhawatirkan lawan manusia Leak yang terlihat sudah semakin tersudut kewalahan menghadapi serangan manusia Leak yang semakin gencar dan telah berada dipuncak tataran ilmunya.

    “Bagaimana bila ada yang datang membantu ?”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

    “Aku belum pernah melihat ada orang luar yang datang melerai pertempuran mereka, atau membantu salah satu pihak”, berkata Empu Dangka.

    “Aku akan datang membantu”, berkata Mahesa Amping yang langsung meloncat mendekati arah pertempuran.
    Empu Dangka menarik nafas panjang, disebelahnya jasad wadag Mahesa Amping masih duduk bersila.

    “Biarlah aku yang menyelesaikan pertempuran yang sudah tidak seimbangini”, berkata Mahesa Amping kepada orang tua yang terlihat hampir saja terkalahkan menghadapi serangan-serangan gencar dan berbahaya dari Manusia Leak.

    “Kamu yang akan menggantikan takdirnya ?”, berkata Manusia Leak menatap tajam Mahesa Amping.

    “Anak muda, kenapa kamu menggantikan takdirku ini ?”, bertanya orang tua itu kepada Mahesa Amping.

    “Takdir milik yang Maha Kuasa Sang Hyiang Widi”, berkata Mahesa Amping penuh ketenangan.”Menyingkirlah, aku yang akan menghadapinya”, berkata kembali Mahesa Amping kepada orang tua itu.

    Maka orang tua itu telah menyingkir bergabung dengan kelompoknya empat orang pemuda. Entah kenapa melihat tatapan mata Mahesa Amping dirinya telah langsung mempercayainya.

    Ternyata kepercayaan orang tua itu terhadap Mahesa Amping tidak sia-sia. Terlihat Mahesa Amping telah dapat mengimbangi serangan-serangan manusia Leak yang sangat berbahaya.

  3. Bukan main geramnya manusia Leak itu yang baru pertama kali bertemu dengan lawan tanding yang begitu tangguh. Tidak satupun ditemui celah yang dapat ditembus, sebaliknya beberapa pukulan telah bersarang dibeberapa tubuhnya.

    Manusia Leak itu terlihat semakin putus asa, maka diterapkannya ilmu simpanannya yang jarang sekali dipergunakan, sebuah aji yang sangat menyeramkan.

    “Aji sekati nyawa”, berkata Empu Dangka yang melihat bagaimana manusia Leak telah mengterapkan aji simpanannya. Timbul kekhawatirannya terhadap Mahesa Amping, dapatkah pemuda itu menghadapi ajian ilmu purba yang selama ini hanya pernah didengar dari orang-orang tua jaman dulu.

    Siapapun yang menyaksikan apa yang dilihat dihadapannya akan terbungkam sepertinya tidak mempercayai apa yang terjadi.

    Apa sebenarnya yang terlihat dan terjadi ???
    Yang tengah terjadi adalah putusnya dua tangan dan dua kaki serta kepala dari tubuh manusia Leak. Yang sangat meyeramkan adalah kelima anggota tubuh yang terlepas itu secara bersamaan menyerang Mahesa Amping.

    Untungnya Mahesa Amping telah dapat menguasai ilmu meringankan tubuh kelas tinggi dan nyaris telah sampai ditataran puncak kesempurnaaannya. Maka tidak satupun serangan yang dapat langsung mengenai tubuh Mahesa Amping.

    “Ilmu meringankan tubuh yang sempurna”, berkata Empu Dangka kepada dirinya sendiri manakala melihat tubuh Mahesa Amping melenting kesana kemari seperti belalang kecil melesat menghindari setiap serangan lima buah anggota badan manusia Leak yang terpisah namun serentak melakukan serangan.

    Kembali manusia Leak itu menggeram, tidak satupun serangannya mengenai tubuh lawannya, bahkan setahap demi setahap Mahesa Amping telah menguasai pertandingan terlihat balas melakukan serangan yang tidak kalah berbahayanya.

    Sementara senja diatas hutan belantara itu telah datang menyelimuti bumi. Kegelapan telah mengelilingi pandangan mata. Namun pertandingan yang tidak memerlukan mata wadag antara manusia Leak dan Mahesa Amping masih terus berlangsung.

    Manusia Leak itu sepertinya sudah begitu geram, segala tenaga dikerahkan namun tak satupun serangan dapat mengenai tubuh Mahesa Amping yang begitu cepat menghindar melenting dan balas menyerang. Beberapa pukulan Mahesa Amping telah bersarang diberbagai anggota badan yang terpisah itu.

    Mahesa Amping diam-diam mengagumi semangat tempur dari manusia Leak yang tidak mengenal rasa putus asa. Maka diam-diam telah menerapkan ilmu simpanannya yang jarang sekali dipergunakan, hanya dalam keadaan terpaksa.

    • matur suwun

      beberapa hari ini sulit monitor padepokan, Koneksi putus-nyambung.

      • putus-nyambung….putus-nyambung, kayak lagu aja Ki Arema,
        he-hee5x, sami kok Ki….dikampung saya malah lemot puooLL

  4. sugeng dalu…..selamat malam,

  5. Dalam sebuah serangan kepungan yang cepat dari lima anggota tubuh manusia Leak, Mahesa Amping melenting keudara.

    Masih dalam keadaan melenting diudara, terlihat sebuah seleret cahaya keluar dari sorot mata Mahesa Amping.

    Ternyata sinar kilat cahaya yang begitu cepat datangnya dari sorot mata Mahesa Amping tertuju kesebuah salah satu lengan manusia Leak.

    Akibatnya membuat siapapun yang melihatnya akan terperanjat menahan nafas tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

    Sebuah lengan manusia Leak hangus terbakar tergeletak diatas tanah.

    “Apakah kamu masih menunggu satu persatu anggota tubuhmu hangus terbakar ?”berkata Mahesa Amping dihadapan sebuah kepala yang terpisah.

    “Ternyata kisanak belum mengetahui aturan dari pertempuran di alam tak terbatas ini. Kuakui ketinggian ilmu kisanak melampaui tataran ilmuku, untuk itu sesuai aturan pertempuran ambillah nyawaku kapanpun engkau mau”, berkata kepala yang terpisah itu sepertinya telah mengakui kekalahannya.

    Dan tiba-tiba saja seluruh anggota badan manusia Leak itu menghilang. Ternyata manusia Leak itu telah kembali ke jasad kasarnya.

    Bersamaan dengan itu pula Mahesa Amping telah kembali ke jasad kasarnya yang masih duduk bersila disebelah Empu Dangka.

    Terlihat Mahesa Amping berdiri dan melangkah mendekati Manusia Leak yang tengah tertunduk menanti tindakan Mahesa Amping untuk melepas nyawanya.

    “Aku tidak akan mengambil nyawamu, nyawamu bukan milikku, dialah Sang Hyiang Widi pemilik segala yang hidup”, berkata Mahesa Amping kepada Manusia Leak dihadapannya yang masih tertunduk pasrah.

    “Ajaran kami kekalahan adalah kematian”, berkata manusia Leak itu perlahan.

    “Itulah ajaran kegelapan, lihatlah dunia disekelilingmu, lihatlah kehidupan yang tercurah yang diberikan oleh Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih, yang telah menjadikan alam ini penuh dengan kedamaiannya. Jadilah manusia yang berarti itulah kehidupan yang sebenarnya”, berkata Mahesa Amping kepada manusia Leak.

    “Bila aku punya arti bagi kehidupan ini, itukah pertanda aku punya kehidupan?”, bertanya manusia Leak itu mengangkat wajahnya perlahan kepada mahesa Amping.

    “Manusia yang tidak punya arti dalam kehidupannya adalah manusia yang telah lama mati meski masih bernyawa”, berkata Mahesa Amping.

    • nambah lagi………buat malam mingguan…

  6. “Sang kegelapan telah mengisi seluruh benakku dengan kekuasaan yang tak terbatas, menjadikan tangan ini sebagai pencabut nyawa demi keinginan segala dendam. Tapi hati ini sedikitpun tidak merasakan kebahagiaan. Semakin meluaskan segenap kebencian keseluruh bumi, semakin jiwa ini tak pernah terpuaskan. Namun manakala tuan berkata tentang Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih, jiwa ini sepertinya telah terkubur. Kulihat sedikit cahaya dalam kegelapan di rongga hati ini yang sepertinya memberikan sedikit pengharapan sebuah kebahagiaan yang belum pernah kurasakan, sebuah rasa yang baru kali ini datang, sebuah rasa yang bukan kepuasan, kegembiraan, tapi sebuah ketenangan jiwa, merasakan ada di dalam genggaman Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih”, berkata manusia Leak perlahan kepada Mahesa Amping.

    “Pergilah kemanapun kamu pergi, Yang Maha Hidup ada dimanapun kamu berada, disaat pagi dan petang, dalam keadaan kamu berdiri, duduk dan berbaring. Dia Yang Maha Hidup akan berlari kepadamu manakala kamu berjalan menghadapnya”, berkata Mahesa Amping kepada manusia Leak.

    “Tuan telah memberikan kepada hamba sebuah tuntunan yang belum pernah sekalipun kudengar, kupersembahkan jiwa ini berbakti selamanya kepada tuan”, berkata manusia Leak itu sambil bersujud dihadapan Mahesa Amping.

    “bangkitlah, mulai hari ini kita bersaudara”, berkata Mahesa Amping sambil mencoba mengangkat tubuh manusia Leak untuk berdiri.

    Bukan main gembiranya manusia Leak itu mendengar perkataan Mahesa Amping.

    “namaku Jaran Waha, benarkah tuan mengangkat hamba ini sebagai saudara ?”, berkata manusia Leak itu yang telah memperkenalkan dirinya bernama Jaran Waha.

    “namaku Mahesa Amping, mulai hari ini kita bersaudara”, berkata mahesa Amping mengulang perkataannya sepertinya meyakinkan kepada Jaran Waha atas apa yang diucapkannya.

    “Terima kasih, sebuah kebahagiaan menjadi saudaramu”, berkata Jaran Waha sambil memeluk tubuh Mahesa Amping penuh kegembiraan.

    Orang tua dan empat orang pemuda yang bersamanya telah mendengar dan menyaksikan apa yang telah terjadi menjadi merasa terharu.

    “Wahai anak muda, pemahamanmu mengenai kebenaran begitu tinggi, kami menjadi malu pada diri sendiri, selama ini kami hanya mengenal membasmi kejahatan adalah sebuah pembunuhan, ternyata kebenaran sejati adalah menghidupkan kehidupan itu sendiri “, berkata orang tua itu.”Perkenalkan kami dari perguruan Panca Agni, namaku Ki Arya Sidi. Dan keempat pemuda yang bersamaku adalah para muridku empat orang Pangeran muda putra Raja Puri Pusering Jagad di Pejeng”, berkata orang tua itu memperkenalkan dirinya dan keempat muridnya.

    “Bahagia diri ini dapat berkenalan dengan seorang guru dari perguruan Panca Agni dan juga keempat muridnya”, berkata Mahesa Amping menjura penuh hormat.

    • hari ini berexperimen, nambahin kopi sama coklat batangan, ternyata enaknya poaalll istilahnya Ki Widura (kangen sama ki Widura ronda semalaman suntuk)

  7. “Kami berhutang budi padamu anak muda, semoga kami dapat membalasnya”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

    “Hutang budi itu kuanggap telah selesai manakala tidak ada permusuhan lagi antara perguruanmu dengan saudaraku ini”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

    “Aku juga akan mengikat persaudaraan denganmu anak muda, apakah dirimu berkenan ?”, bertanya Ki Arya Sidi menunggu jawaban dari Mahesa Amping.

    “Dengan tangan terbuka dan wajah kebahagiaan menerima Ki Arya Sidi sebagai saudara. Itu artinya kita bertiga telah terikat tali persaudaraan”, berkata Mahesa Amping sambil memeluk Ki Arya Sidi dengan penuh kegembiraan.

    “Mari Ki Jaran Waha, kita bertiga adalah saudara”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang langsung mendekat.

    Maka terlihat mereka bertiga saling berpelukan sebagaimana saudara yang disaksikan oleh keempat pemuda para murid Ki Arya Sidi dan juga tentunya Empu Dangka yang masih duduk ditempatnya.

    “Aku lupa memperkenalkan sahabat perjalananku”, berkata Mahesa Amping yang telah memperkenalkan Empu Dangka kepada semua yang ada dihutan itu.
    Sementara itu suasana di hutan itu sudah begitu gelap, sang malam telah menyelimuti bumi.

    “Tempat tinggalku tidak jauh dari sini, mudah-mudahan kalian berkenan mampir ditempatku yang sederhana”, berkata Ki Jaran Waha menawarkan semua yang ada untuk singgah ditempat tinggalnya.

    “Maafkan kami saudaraku Ki Jaran Waha, Pejeng sudah tidak begitu jauh lagi, biarlah kami melanjutkan perjalanan kami dimalam hari ini”, berkata Ki Arya Sidi. “Bila kalian ada disekitar Pejeng, datang singgahlah ke Padepokan kami”, berkata kembali Ki Arya Sidi.

    “Kami akan berkunjung ke Padepokan Panca Agni, karena kebetulan kami akan melewati Pejeng”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi.

    “Terima kasih, kami akan menunggu kedatangan kalian”, berkata Ki Arya Sidi sambil berpamitan bersama keempat muridnya melanjutkan perjalanannya.
    Demikianlah, akhirnya Mahesa Amping dan Empu Dangka mengikuti Ki Jaran Waha berjalan kearah tempat tinggalnya.

    Setelah mereka berjalan menyusuri hutan yang gelap, sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Jaran Waha bahwa tempat tinggalnya memang tidak begitu jauh.

    Akhirnya mereka telah sampai di kediaman Ki Jaran Waha.

    Ternyata kediaman Ki Jaran Waha adalah sebuah goa yang ada didalam hutan itu sendiri. Bila saja datang tidak bersama Ki Jaran Waha, tidak seorangpun dapat menemui goa itu.

    • konfirmasi dulu sama ki Arema, kurang berapa rontal lagi untuk melejid ke gandhok sepuluh ?????

      • mulai siang tadi koneksi putus nyambung, tidak bisa masuk padepokan.
        Ini baru saya bundel, sedang saya baca. Sebentar lagi mungkin baru dapat informasi apakah sudah cukup untuk masuk ke gandok 10

        • okelah kalo begitu, ditunggu putus nyambungnya…hehehe

        • Wedaran terakhir, pas jadi akhir bundel SFBDBS-09.
          Wedaran selanjutnya tunggu dibukanya gandok SFBDBS-10.
          Insya Allah, besok pagi.
          beberapa kali coba upload gambar sampul tidak berhasil.
          sudah mengantuk, diteruskan besok pagi

          nuwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: