SFBDBS_09

Bagian 3

SFBDBS 09-232

“Kamu juga memusuhi orang Kademangan Rendang?”, bertanya Mahesa Amping

“Benar, aku senang melihat mereka susah”, berkata orang itu.

“Apa yang telah kamu lakukan?”, bertanya lagi Mahesa Amping.

“Kutaburkan sungai mereka dengan bulu daun pulus, kemarin sore aku sudah baru melihat tiga orang yang telah menjadi korban. Sore ini aku akan kembali melakukannya”, berkata orang itu sambil tertawa bangga.

“Kenapa kamu tidak membunuh mereka satu persatu?”, bertanya kembali Mahesa Amping.

“Bodoh, membunuh mereka sangat mudah, tapi aku ingin menyiksa mereka”,berkata orang itu.

“Apakah kamu membenci orang Kademangan Rendang karena mereka menolak permintaan sedekah?”, bertanya Mahesa Amping

“Aku bukan pengemis sepertimu, yang kubenci bukan orang Kademangan, tapi Demangnya yang sangat sombong”, berkata Orang itu.

“Apa yang disombongkan Ki Demang terhadapmu?”, bertanya Mahesa Amping.

“Demang sombong itu tidak mengakui diriku adalah saudaranya”, berkata orang itu sambil memukul-mukulkan tangannya dengan kepalan tangannya sendiri.

“Jadi kamu bukan orang Kademangan Rendang?”, bertanya Mahesa Amping memancing.

“Berapa kali kukatakan bahwa aku bukan orang Kademangan Rendang!?”, berkata orang itu dengan mata melotot seperti hendak menelan bulat-bulat wajah Mahesa Amping.

“Aku akan kembali ke Kademangan Rendang, membunuh mereka satu persatu”, berkata Mahesa Amping berdiri dan memungut kembali pisau belatinya yang terjatuh.

“Dengan caramu, kamu tidak dapat membunuh satupun orang Kademangan Rendang”, berkata orang itu sepertinya mengejek Mahesa Amping yang diketahui tidak mengerti sedikit pun jurus kanuragan.

“Aku akan memilih anak-anak kecil”, berkata Mahesa Amping sambil berjalan meninggalkan orang itu yang terlihat bertolak pinggang menganggap Mahesa Amping sebagai pemuda bodoh dan kurang waras.

Ketika merasa sudah jauh dari orang itu, mahesa Amping berbelok arah kembali ke tepi sungai tempat dimana Empu Dangka dan Ki Jagaraga tengah bersembunyi.

“Ki Jagaraga sebaiknya kembali ke Kademangan, biarlah kami berdua yang berjaga”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jagaraga.

“Baiklah, aku kembali ke Kademangan, perutku memang sudah terasa berbunyi kukuruyuk”, berkata Ki Jagaraga sambil turun dari atas pohon tempat mereka bersembunyi.

Setelah Ki Jagaraga sudah tidak kelihatan, Mahesa Amping bercerita kepada Empu Dangka apa yang telah ditemui dan dialaminya.

“Ternyata kamu berotak encer”, berkata Empu Dangka setelah mendengar cerita Mahesa Amping.

“Masih ada waktu untuk menyiapkan sebuah siasat baru”, berkata Mahesa Amping sambil menjelaskan kepada Empu Dangka apa yang akan dilakukannya untuk menjebak orang yang telah menebarkan bulu daun pulus di sungai.

“Semoga usaha kita berhasil”, berkata Empu Dangka ketika Mahesa Amping yang bermaksud kembali ke kademangan Rendang.

Matahari di siang itu telah menerangi sungai jernih berbatu disebuah hutan perbatasan Kademangan Rendang.
Di tempat persembunyiannya, diatas sebuah pohon besar Empu Dangka menunggu kedatangan Mahesa Amping.
Dan yang ditunggu akhirnya datang juga. Mahesa Amping telah datang kembali bersama Ki Demang.

“Aku takut Ki Demang tidak menyetujui rencana kami”, berkata Empu Dangka kepada Ki Demang yang telah datang bersama Mahesa Amping.

“Aku percaya kepada kalian”, berkata Ki Demang sambil tersenyum.

“Maaf, aku harus mengikat Ki Demang”, berkata Mahesa Amping yang telah menyiapkan sebuah tali temali dari kulit kayu yang kuat, mengikat Ki Demang ke sebuah pohon.

“Aku akan kembali keatas pohon sebagai pengintai”, berkata Empu Dangka sambil naik kembali keatas sebuah pohon sebagai pengintai bila saja orang yang mereka tunggu datang ketempat itu.

Waktu terus berlalu, tidak terasa matahari telah bergeser kebarat. Cahaya matahari diatas sungai itu telah menjadi teduh karena terhalang ranting dan daun yang rindang. Suara gemericik air sungai yang mengalir menabrak batu-batu besar yang berserakan sepanjang sungai terus berbunyi tidak pernah putus. Kadang juga terdengar suara burung liar terdengar silih berganti di hutan tepian sungai itu. Terlihat juga dua ekor tupai berekor panjang saling berkejaran.

Mahesa Amping terlihat duduk bersandar disebuah pohon tempat dimana Ki Demang terikat sepanjang tubuhnya. Tidak ada satupun suara yang terlepas dari pendengaran Mahesa Amping. Bahkan suara kadal yang merayap ditanah tidak luput dari perhatian dan pendengaran Mahesa Amping yang peka dan tajam.

Sementara itu diatas pohon, Empu Dangka masih terus mengintai, siap memberi tanda kepada Mahesa Amping manakala orang yang ditunggu sudah terlihat.

Akhirnya penantian panjang mereka memang harus berakhir.

———-oOo———-

SFBDBS 09-233

Berawal ditandai dengan sebuah ranting yang jatuh tepat dihadapan Mahesa Amping.

Terlihat Mahesa Amping dengan belati ditangannya tengah mengancam Ki Demang yang terikat di sebuah pohon.

“Berbicaralah dengan keras”, berbisik Mahesa Amping kepada Ki Demang.

“Dasar anak gendeng, kau kira aku takut mati?”, berteriak Ki Demang sepertinya memaki-maki Mahesa Amping.

“Terlalu enak untukmu mati dengan cepat, aku akan menyayat tubuhmu dan memeraskan jeruk limau agar kamu merasakan kepedihan yang sangat”, berkata Mahesa Amping cukup keras.

“Hentikan!!”

Tiba-tiba saja ada suara dari seberang sungai.

Ternyata orang itu telah datang langsung meminta Mahesa Amping berhenti melakukan penyiksaan yang kejam kepada Ki Demang. Dan dengan cekatan melompat dari batu-kebatu menyeberangi sungai. Terlihat ditangannya menggenggam tiga tangkai ranting daun pulus.

Orang itu melempar begitu saja daun pulus dan langsung mendekati Mahesa Amping.

“Kenapa kamu memintaku untuk berhenti?”, bertanya Mahesa Amping. “Bukankah kamu sangat membenci orang ini?”, bertanya kembali Mahesa Amping kepada orang itu.

“Aku memang membencinya, tapi tidak bermaksud membunuhnya, hanya sekedar menyakiti hatinya”, berkata orang itu.

“Bila aku yang membunuhnya, apa urusanmu?, berkata Mahesa Amping sambil bermaksud melakukan sayatan di leher Ki Demang.

“Hentikan, bila kamu melukainya, kamu akan kubunuh”, berkata orang itu kembali meminta Mahesa Amping untuk tidak melakukan apapun kepada Ki Demang.

“Apa urusanmu melarangku?”, bertanya Mahesa Amping sambil menatap tajam orang itu.

“Tidak ada urusan”, berkata orang itu sambil tangannya sudah menjulur bermaksud memegang tangan Mahesa Amping untuk ditarik menjauh dari Ki Demang.

Namun Mahesa Amping tidak memberikan tangannya dengan mudah, terlihat Mahesa Amping bergeser kesamping.

Melihat tangannya tidak berhasil merenggut tangan Mahesa Amping, maka tangan sebelahnya telah menyerang Mahesa Amping dengan sebuah tamparan.

Kembali Mahesa Amping tidak membiarkan tangan orang itu menampar wajahnya, maka dengan sedikit merunduk, tamparan itu lepas diatas kepalanya menemui tempat kosong.

———-oOo———-

Sebagai seorang yang ahli dalam kanuragan, dua kali serangannya dapat dihindari oleh Mahesa Amping membuat dirinya sangat penasaran, maka orang itu telah kembali membuat sebuah serangan yang lebih cepat dan keras dengan sebuah tendangan tajam tertuju ke tubuh Mahesa Amping.

Kembali Mahesa Amping dapat lolos dari serangan keras dan tajam itu dengan melompat kesamping.

“Anak ini bisa jadi telah kesambat hantu penunggu hutan ini”, berkata orang itu merasa heran kepada Mahesa Amping yang selalu dapat menghindari serangannya, sementara pagi tadi dengan mudah dirinya menghajar anak itu.

Orang itu dengan penuh penasaran telah meningkatkan tataran ilmu dan kecepatan geraknya kembali menyerang Mahesa Amping dengan pukulan dan tendangan yang beruntun.

Lagi-lagi Mahesa Amping dengan mudah melesat kesana-kemari, tidak ada satu pun tendangan dan pukulan orang itu yang mengenai tubuhnya.

“Ternyata dirimu telah disambat penunggu hutan ini”, berkata Orang itu dengan wajah keheranan bercampur penasaran.

Mahesa Amping tidak menjawab, dengan senyum geli telah bersiap menghadapi serangan orang itu yang terlihat telah mempersiapkan dirinya lebih matang lagi menganggap Mahesa Amping bukan pemuda yang tadi pagi telah dengan mudah dihajarnya. “Biarlah orang itu menganggap diriku telah kena sambat hantu penunggu hutan ini”, berkata Mahesa Amping sambil terus berjaga menghadapi serangan selanjutnya.

Ternyata yang diperhitungkan Mahesa Amping tidak meleset jauh, orang itu kembali melakukan serangannya kearah Mahesa Amping dengan serangan yang luar biasa berupa tendangan dan pukulan yang beruntun tajam dan penuh dengan segala tipuan yang berbahaya.

Mahesa Amping tidak dapat lagi hanya dengan menghindar, menghadapi serangan yang gencar penuh dengan tipuan itu harus dihadapinya dengan balas menyerang.

Maka perkelahian itu telah terjadi begitu seru dan menegangkan, saling menyerang dan balas menyerang. Tempat perkelahian merekapun telah bergeser tidak lagi di tepian sungai yang sempit itu, tapi meluas ketengah sungai berbatu itu. Melompat dari satu batu besar ke batu besar lainnya.

Ki Demang yang melihat pertempuran diatas sungai berbatu sangat tegang dan kagum, ternyata kedua orang yang bertempur itu adalah dua orang ahli kanuragan. Sebagai seorang yang juga telah mempelajari kanuragan, melihat pertempuran itu seperti disuguhi sebuah tontonan yang seru yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Begitu banyak gerak tipu dari kedua pihak yang membuatnya kadang menarik napas panjang, akhirnya meresa lega karena salah satu lawan dapat keluar dari sebuah terjangan serangan yang begitu keras dan cepat.

Sementara itu Empu Dangka dari atas pohon tempat persembunyiannya juga menyaksikan pertempuran yang seru itu.

———-oOo———-

SFBDBS 09-234

“Ternyata Mahesa Amping bukan cuma bisa menjadi hantu Leak, dalam kanuragan dapat juga diandalkan”, berkata Empu Dangka memperhatikan perkelahian yang seru dari atas pohon persembunyiannya.

“Kamu benar-benar kesambat hutan alas ini”, berkata orang itu sambil terus meningkatkan tataran ilmunya karena Mahesa Amping tidak dengan mudah ditundukkannya.

“Kamu benar, akulah hantu alas ini”, berkata Mahesa Amping sekenanya sambil menghindar dan balas menyerang.

Dan pertempuran sudah menjadi semakin seru, masing-masing telah meningkatkan tataran ilmunya ditingkat puncaknya. Gerak mereka sudah semakin cepat hingga sepertinya tidak mampu lagi dilihat dengan pandangan wadag. Mereka seperti bayangan yang terbang melenting dari satu bongkah batu ke batu lainnya diatas sungai yang jernih dan dangkal.

“Aku jadi tidak sabaran”, berkata Empu Dangka yang telah turun dari pohon persembunyiannya.

Mahesa Amping yang mendengar ucapan Empu Dangka sempat menoleh ke arah Empu Dangka, merasa bahwa Empu Dangka telah keluar dari pakem sandiwara yang telah direncanakannya bersama.

“Tanganku sudah gatal untuk membunuh dua orang bersaudara yang mudah ditipu”, berkata Empu Dangka sambil mendekati arah pertempuran.

“Ternyata kalian pengecut, bukalah ikatanku dan kita bertempur secara lelaki”, berkata Ki Demang berteriak.
Mahesa Amping yang mendengar teriakan Ki Demang cukup terkejut, dengan sekali hentakan telah berdiri dihadapan Empu Dangka.

“Aku jadi tidak mengerti apa yang akan Empu Dangka lakukan”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Ini semua adalah rencanaku, membunuh para putra Ki Sumangkar”, berkata Empu Dangka dengan suara yang keras.

“Empu Dangka telah melibatkan aku dalam rencana yang busuk ini?”, berkata Mahesa Amping yang merasa dibohongi.

“Kamu menyingkirlah, biarlah aku sendiri yang menundukkan putra Ki Sumangkar seorang ini”, berkata Empu Dangka sambil mengedipkan sebuah matanya memberi tanda kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping baru tersadar setelah menerima tanda dari Empu Dangka, ternyata Empu Dangka masih dalam sandiwara meski diluar pakem rencana semula.

Terlihat Empu Dangka telah mengurai cambuknya yang telah dilepasnya tersembunyi melingkar di pinggangnya.

“Wahai Ki Sumangkar, meski aku tidak sempat membunuhmu, tapi dendamku hari ini telah terpenuhi, membunuh dua orang putramu sekaligus”, berteriak Empu Dangka dengan suara bergema memenuhi udara di sekitar tepian sungai didalam hutan itu.

“Siapa kamu orang tua, dan apa kesalahan ayah kami sehingga kamu begitu bernafsu untuk membunuh kami”, bertanya orang itu yang sangat penasaran bahwa Empu Dangka telah menyebut nama ayahnya.

“Itu bukan urusanmu, bersiaplah untuk mati hari ini”, berkata Empu Dangka sambil bersiap diri melakukan sesuatu dengan cambuknya.

Tiba-tiba saja Empu Dangka tanpa berucap apapun telah menghentakkan cambuknya di udara.

Gelegar !!!!!!!!!

Terdengar suara mirip halilintar bergema memekakkan telinga, langit sepertinya telah runtuh menggoncang bumi, sekejab suasana ditepian sungai itu menjadi gelap gulita.

Ketika suasana kembali normal, Mahesa Amping melihat Empu Dangka tengah berdiri sambil memegang ujung cambuknya.

“Anakmas telah mampu menghadapi aji cambuk halilintarku”, berkata Empu Dangka memandang kagum kepada Mahesa Amping yang masih berdiri tegak tidak tergoncang sedikitpun.

Ternyata tenaga tersembunyi yang ada didalam tubuh Mahesa Amping telah bekerja dengan sendirinya melindungi dirinya.

Sementara itu apa yang terjadi dengan Ki Demang dan saudaranya itu ?

Mahesa Amping telah melihat orang itu telah tergeletak di pinggir sungai, sementara itu Ki Demang dalam keadaan terikat di sebuah pohon terlihat kepalanya terkulai lemah tak bergerak.

“Jangan khawatir, mereka hanya pingsan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Segera Mahesa Amping mendekati orang itu, ternyata sebagaimana yang dikatakan oleh Empu Dangka, tubuh orang itu masih hangat sebagai tanda bahwa orang itu Cuma pingsan.

Mahesa Amping juga memeriksa keadaan Ki Demang, ternyata Ki Demang juga mendapatkan keadaan yang sama dengan saudaranya, masih terkulai pingsan.

Terlihat Mahesa Amping menarik nafas lega, diam-diam mengagumi aji cambuk halilintar yang dilontarkan lewat tangan Empu Dangka.

“Mungkin Empu Dangka telah melontarkan sepersepuluh kuatannya”, berkata Mahesa Amping dalam hati.

“Maaf, aku telah keluar pakem”, berkata Empu Dangka penuh senyum kepada Mahesa Amping.

———-oOo———-

 

SFBDBS 09-235

“Untuk selanjutnya kuserahkan peran dalang kepada Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping yang merasa bahwa Empu Dangka telah mempunyai sebuah rencana tersendiri.

“Tolong ikat kaki tangan saudara ki Demang itu, dekatkan dibawah pohon dekat Ki Demang.”

Sambil mengikat kaki tangan orang itu, Mahesa Amping merasa penasaran darimana Empu Dangka mengenal nama orang tua mereka.

“Aku dapat mengenal jurus mereka, itulah jurus Ki Sumangkar sahabatku”, berkata Empu Dangka menerangkan tentang sahabatnya yang bernama Sumangkar yang pernah bercerita kepadanya bahwa telah mempunyai dua orang istri di Bali dan Di Jawa dan juga sama-sama melahirkan dua orang lelaki. Dan dua keluarganya itu memang tidak pernah tahu keadaan masing-masing karena Ki Sumangkar telah merahasiakannya.

“Kita tunggu mereka berdua siuman”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping ketika telah meletakkan saudara Ki Demang berdekatan dengannya.

Diam-diam Mahesa Amping memperhatikan silih berganti kedua saudara lain ibu itu, ternyata mereka punya banyak kesamaan. Akhirnya keduanya telah terlihat siuman, telah sadar kembali.

“Harusnya Empu Dangka bersikap adil, satu nyawa dibayar satu nyawa, pilihlah satu diantara mereka”, berkata Mahesa Amping yang telah memulai sandiwaranya dalam kendali Empu Dangka tentunya.

“Kamu benar, satu nyawa untuk satu nyawa, aku akan memilih siapa diantara mereka yang akan kubunuh menebus hutang saudaraku yang terbunuh oleh Ki Sumangkar”, berkata Empu Dangka sambil menggenggam pisau belati milik Mahesa Amping yang dipinjamnya.

“Orang tua, pilihlah aku, biarlah saudaraku tetap hidup”, berkata saudara Ki Demang.

“Mengapa kamu rela menjadi banten untuk saudaramu?”, bertanya Empu Dangka kepada Saudara Ki Demang.

“Karena aku Cuma sebatang kara, sementara saudaraku telah mempunyai istri dan keturunan”, berkata Saudara Ki Demang.

“Amararaja, ternyata hatimu begitu mulia. Maafkan bila beberapa hari yang telah lewat aku tidak mengakui dirimu sebagai saudaraku. Pada saat itu aku masih kaget dan belum dapat menerima bahwa ayahku mempunyai pendamping lain selain ibuku”, berkata Ki Demang merasa terharu menyaksikan sikap saudaranya yang memilih berkorban demi dirinya.

“Terima kasih atas pengakuannmu, jauh dari pengembaraanku ke tanah Bali ini adalah melihat bahwa didunia ini aku masih punya seorang saudara. Hari ini bila aku mati, aku akan mati bahagia telah mendapatkan pengakuan darimu”, berkata orang itu yang ternyata bernama Amararaja.

“Jadi Ki Demang telah mengakui bahwa orang ini adalah saudara sedarah dari Ki Demang?”, bertanya Empu Dangka kepada Ki Demang.

“Hari ini aku merasa bahagia, ternyata saudara sedarahku telah rela menjadi banten untuk diriku. Aku telah banyak mendapatkan kemanisan hidup ini, biarlah kamu pilih aku yang akan melunasi hutang nyawa saudaramu”, berkata Ki Demang pasrah.

“Amararatu, aku ini sebatang kara, tidak ada yang mencari dan menangisi nyawaku”, berkata Amararaja kepada saudaranya Amararatu.

“Saudaraku, aku sudah puas menjalani hidup dan kehidupan ini, aku rela berbagi nyawa untukmu”, berkata Ki Demang.

“Orang tua, cepat kamu bunuh aku”, berkata Amararaja.

Tiba-tiba saja Empu Dangka tertawa. Suara tawa Empu Dangka yang dilambari tenaga dalam itu sepertinya bergema memenuhi udara di sekitarnya.

“Hari ini dua jiwa sedarah telah dipertemukan. Kalian telah mendapatkan perasaan persaudaraan yang sejati, perasaan untuk melindungi, perasaan untuk saling berkorban yang dilandasi kecintaan sejati”, berkata Empu Dangka.

Terlihat Amararaja dan ki Demang saling berpandangan, merasakan apa yang diucapkan oleh Empu Dangka adalah benar adanya sebagaimana yang mereka saat itu.

Ki Demang dan Amararaja semakin tidak mengerti manakala belati Empu Dangka telah membuka tali ikatan mereka.

“Mengapa orang tua tidak membunuhku?”, bertanya Amararaja kepada Empu Dangka.

“Tanyakanlah kepada anak muda ini, kenapa aku tidak jadi membunuhmu”, berkata Empu Dangka.

“Maafkan kami, semua yang kami lakukan adalah cuma sebuah sandiwara”, berkata Mahesa Amping penuh senyum.

Terlihat Ki Dalang menarik nafas lega, ternyata semua ini adalah sebuah sandiwara meski berlanjut dalam pakem berbeda dari awal rencana semula.

“Ternyata kalian adalah pemain watak”, berkata Ki Dalang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sementara itu langit diatas sungai jernih berbatu di hutan itu telah tenggelam diujung senja. Suara gemericik air sungai sepertinya telah membelah kesunyian, membelah dan mencairkan kecanggungan dua saudara sedarah seayah itu.

Terlihat empat sosok lelaki di keremangan sandikala tengah menyusuri sungai berjalan ke hilir menuju Kademangan Rendang. Kadang suara tawa mereka telah menggema mengisi keredupan malam yang sebentar lagi akan turun menyelimuti bumi.

———-oOo———-

 

SFBDBS 09-236

“Perkenalkan, ini saudaraku”, berkata Ki Demang memperkenalkan Amararaja kepada Ki Jagaraga ketika mereka bertemu di Banjar Desa.

“Para kerabatku biasa memanggilku sebagai Ki Amararaja”, berkata Ki Amararaja memperkenalkan dirinya kepada Ki Jagaraga.

“Aku melihat semua urusan telah dapat diselesai dengan baik, kubaca dari keceriaan wajah kalian”,berkata Ki Jagaraga melihat keceriaan wajah keempat orang yang ditemuinya.

“Besok akan kuceritakan semuanya, saat ini kami ingin beristirahat dulu”, berkata Ki Demang mohon diri kepada Ki Jagaraga.

Ketika mereka memasuki lawang pintu halaman rumah Ki Demang, dua orang wanita menyambut kedatangan mereka.

Ternyata mereka adalah Nyi Demang dan putrinya yang seharian gelisah menunggu Ki Demang yang lama tidak cepat kembali.

“Nyai ingat orang yang dua hari yang lalu datang kemari?”, berkata Ki Demang kepada istrinya sambil memberi jalan kepada Ki Amararaja agar istrinya melihat jelas wajahnya.

“Aku ingat, dua hari yang lalu datang kerumah ini”, berkata Nyi Demang mengingatnya.

“Perkenalkan saudaraku bernama Ki Amararaja”, berkata Ki Demang memperkenalkan saudaranya Ki Amararaja kepada istrinya.

“Ternyata aku punya keponakan yang cantik”, berkata Ki Amararaja ketika melihat gadis cantik putri Ki Demang.

“Ini putriku, namanya Ni Wayan Aolani”, berkata Ki Demang memperkenalkan putrinya kepada saudaranya Ki Amararaja, juga kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Wajah paman Amararaja lebih muda dan lebih ganteng dibandingkan ayah”, berkata Ni Wayan Aolani membandingkan wajah ayah dan pamannya.

“Mungkin ayahmu terlalu banyak berpikir”, berkata Ki Amararaja merasa bangga dikatakan lebih muda dan lebih ganteng.

“Ayahmu lebih ganteng sedikit”, berkata Empu Dangka ikut bicara.

“Maksudnya ayahmu sedikit gantengnya”, berkata Ki Demang merendah yang disambut tawa gembira dari semua yang ada di rumah itu.

Akhirnya Ki Demang mempersilahkan Ki Amararaja, Mahesa Amping dan Empu Dangka bersih-bersih diri bergantian di pringgitan.

Sementara itu sang dewi malam telah bergantungan di puncak pohon Kemboja yang menari tertiup angin malam yang genit dipojok halaman rumah Ki Demang.

Terlihat Mahesa Amping, Ki Amararaja, Empu Dangka dan Ki Demang telah berkumpul di Saung Bambu sebelah kiri halaman rumah.

“Maaf, kami masak terburu-buru, mungkin bebek betutunya masih alot”, berkata Nyi Demang sambil meletakkan hidangan malam kepada para tamunya.

“Masih ada persediaan brem ketan hitam, semoga dapat menghangatkan malam yang dingin”, berkata Ni Wayan Aolani sambil meletakkan minuman brem dan sebakul nasi putih hangat.

“Kenapa cuma dipandang?”, berkata Ki Demang ketika Nyi Demang dan Putrinya telah masuk kembali kedalam rumah mempersilahkan ketiga tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

“Anggap saja di rumah sendiri”, berkata kembali Ki Demang memberi semangat kepada ketiga tamunya yang mulai menyiduk nasi putih hangat dan bebek betutu yang sangat menggoda selera itu.

Ketika hari terus merangkak perlahan mengikis malam, mereka masih berada di saung depan halaman rumah, bercakap-cakap sambil memandang bintang yang bertebaran di langit.

“Aku baru melihat ada kunang-kunang terbang setinggi pohon kelapa”, berkata Ki Amararaja sambil menunjuk jauh kedepan.

Yang dilihat oleh Ki Amararaja adalah lima buah cahaya kerlap-kerlip berjalan setinggi pohon kelapa menjadi perhatian semua yang ada di saung bambu itu.

“Itu bukan kunang-kunang biasa, mereka adalah para manusia Liya-ak yang tengah menikmati keindahan suasana malam”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum.

“Aku terlahir di tanah Bali ini, baru tahu ada manusia Liya-ak yang dapat berujud sebagai kunang-kunang. Apakah mereka yang juga disebut sebagai manusia Leak?”, bertanya Ki Demang yang merasa tertarik tentang Manusia Liya-ak yang dikatakan oleh Empu Dangka.

“Keduanya berasal dari aliran ilmu yang berbeda, manusia Liya-ak telah melepaskan segala amarah yang menyelimuti jiwanya hingga menemukan anugerah pencerminan wajah dan sifat sang Hyiang Tunggal. Sementara itu para manusia Leak adalah para pemuja kegelapan”, berkata Empu Dangka kepada Ki Demang.

“Dalam kehidupan sehari-hari, apakah ada tanda yang dapat membedakan kehadiran mereka?”, bertanya Ki Demang.

“Tidak ada perbedaannya, mereka tetap butuh makan nasi jagung sebagaimana kita”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum.

Sementara itu lima buah cahaya seperti kunang-kunang telah menghilang dari pandangan mereka. Dan malam telah merangkak jauh dipenghujung malam.

———-oOo———-

SFBDBS 09-237

Pagi itu langit begitu bening diatas bumi Kademangan Rendang. Mentari belum muncul, hanya selembar cahaya merahnya menguas warna awan menjadi kuning kemerahan di ujung timur bumi, warna daun dan rerumputan menjadi begitu jelas kehijauannya, alam semesta pagi yang bening dan jernih itu begitu elok rupawan bagai perawan wangi keluar dari sungai setelah mandi.

“Kademangan Rendang ini akan merindukan kalian”, berkata Ki Demang mengantar Empu Dangka dan Mahesa Amping keluar dari regol rumah.

“Semoga dalam pengembaraanku dapat berjumpa kembali dengan kalian”, berkata Ki Amararaja yang juga ikut mengantar.

“Terima kasih untuk segala kehangatan yang kami rasakan di rumah ini”, berkata Empu Dangka kepada Ki Demang dan Ki Amararaja.

Ki Demang dan Ki Amararaja masih terus memandang kearah Empu Dangka dan Mahesa Amping yang telah melangkah di jalan tanah Kademangan yang sudah mulai ramai. Di sebuah kelokan jalan Empu Dangka dan Mahesa Amping akhirnya menghilang tidak terlihat lagi.

“Mereka adalah para pengembara sejati, terbang bebas merdeka seperti elang di langit luas”, berkata Ki Demang ketika Empu Dangka dan Mahesa Amping sudah menghilang di kelokan jalan.

Sementara itu langit pagi sudah terang disinari cahaya mentari yang hangat. Terlihat dua orang lelaki melangkahkan kakinya begitu ringan menyusuri jalan setapak. Langkah kaki mereka sepertinya berayun bebas, tidak perlahan namun juga tidak melaju terburu-buru. Mereka adalah Empu Dangka dan Mahesa Amping yang berjalan sambil menikmati alam pemandangan yang elok di daratan Balidwipa. Kadang terlihat mereka diantara jalan pematang sawah pegunungan hijau yang luas berundak seperti tangga alam pendakian raksasa menuju puncak gunung. Kadang juga langkah kaki mereka harus merambat perlahan menembus sebuah hutan pegunungan yang lebat jauh dari keramaian manusia.

Matahari sudah cukup tinggi diatas cakrawala langit, namun cahayanya redup terhalang kerimbunan dahan dan daun hutan kayu yang lebat. Tanah dihutan itu sepertinya tidak pernah tersentuh cahaya sepanjang hari. Sementara hembusan angin yang masuk diantara dedaunan membawa semerbak harum tanah hutan yang lembab.

“Ternyata begitu mudah mengundang kalian”, berkata seorang tua yang tiba-tiba saja datang menghadang langkah kaki Mahesa Amping dan Empu Dangka.

Empu Dangka dan Mahesa Amping terperanjat, namun mereka dengan cepat dapat menguasai perasaan hatinya.

Di belakang orang tua itu bermunculan empat orang pemuda yang berpakaian cukup rapih.

“Siapakah kalian dan apa keperluan kalian menghadang perjalanan kami?”, berkata Empu Dangka penuh ketenangan.

“Jangan berpura-pura, pasti kalian para pemuja kegelapan yang tengah mencari kami”, berkata orang tua itu sambil tersenyum.

“Kami Cuma pengembara yang kebetulan lewat hutan ini”, berkata Empu Dangka dengan penuh ketenangan memandang wajah orang tua di depannya.

Selintas Empu Dangka dan orang tua itu saling pandang. Tidak sedikit pun terlihat kegarangan diwajah orang tua itu.

“Maaf, aku telah salah menerka kalian”, berkata orang tua itu percaya dengan apa yang dikatakan Empu Dangka.

Namun tiba-tiba saja terasa angin di sekitar hutan itu bergulung-gulung, beberapa daun kering beterbangan.

“Sudah kuduga, penampakan lima buah cahaya di Kademangan Rendang sebuah upaya memancing kehadiran kami”, terdengar suara entah dari mana sumbernya bercampur dengan suara tertawa tinggi yang menggetarkan dada. ”Wahai para manusia Liya-ak, saat ini kalianlah buruan kami”, kembali terdengar suara dari berbagai arah.

“Lekas nampakkan wujudmu, kami tidak sabar untuk membasmi manusia Leak di bumi ini”, berkata orang tua itu dengan suara yang tidak kalah tingginya menggetarkan suasana di sekelilingnya.

“Aku juga sudah tidak sabar untuk memakan hati manusia Liya-ak”, berkata seseorang yang entah dari mana datangnya sudah ada dibawah pohon kayu besar. Melihat penampilannya yang memakai pakaian terusan yang kotor dengan wajah yang juga kotor membuat siapapun yang memandangnya akan meninggalkan perasaan seram.Sementara matanya berkilat bercahaya seperti mata yang begitu kejam dan penuh kebengisan.

“Jangan takut kami akan mengeroyok, mari kita lakukan tradisi perkelahian yang jujur sebagaimana para buyut kita”, berkata orang tua itu yang disebut manusia Liya-ak mendekati seseorang yang ternyata adalah manusia Leak.

“Memakan jantung manusia Liya-ak akan menambah kekuatan”, berkata Manusia Leak sambil mengusap air liurnya yang tidak terasa keluar menetes bersama lidahnya yang sepertinya sengaja dijulur-julurkan, sebuah tingkah laku yang sangat menjijikkan.

“Membunuh manusia Leak adalah sepuluh kebajikan”, berkata manusia Liya-ak dengan mata penuh kebencian memandang manusia Leak dihadapannya.
Ternyata manusia Leak telah melakukan apa yang dikatakannya, tiba-tiba saja seperti terbang meluncur dengan kepala didepan menyambar ke arah dada manusia Liya-ak.

Nyaris dada orang tua itu terkoyak sambaran dan terkaman manusia Leak dengan ketajaman giginya bila saja dengan gerakan yang cekatan meloncat terbang ke samping sambil menjulurkan kakinya balas menyerang manusia Leak.

———-oOo———-

SFBDBS 09-238

Sepertinya manusia Leak itu sudah membaca apa yang dilakukan musuhnya, masih dalam keadaan terbang belum lagi menjejakkan kakinya dibumi, seperti ular besut tubuhnya begitu liat langsung berubah arah meluncur menerkam leher orang tua itu.

Kembali orang tua itu melenting ke samping sambil membalas menyerang ke arah tubuh manusia Leak dengan begitu cepat dan tidak kalah bahayanya.

Demikianlah dua orang dari dua aliran ilmu yang saling bermusuhan entah sejak kapan di daratan Bali itu telah saling menyerang dan balas menyerang. Semakin lama semakin cepat dan begitu menegangkan.

Sementara itu Empu Dangka menarik tangan Mahesa Amping bergeser agak menjauh. Tidak terasa dada mereka berdua agak berdebar menyaksikan dua kekuatan ilmu yang berbeda meski berasal dari tempat yang sama yaitu sebuah negeri yang sangat jauh dari Tanah Hindu.

Sebagaimana Empu Dangka dan Mahesa Amping, keempat pemuda yang mengiringi orang tua itu juga telah bergeser menjauh. Mereka juga dengan wajah yang tegang menyaksikan pertempuran itu.

Tiba-tiba saja manusia Leak itu telah melenting kebelakang sekitar sepuluh langkah. Terlihat manusis Leak telah dalam keadaan duduk bersila dengan lengan rebah diatas paha dan telapak tangan terbuka keatas. Ternyata orang tua yang dikatakan sebagai manusia Liya-ak juga melakukan yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh manusia Leak.

“Mari kita lanjutkan pertemburan ini di alam tak terbatas”, berkata Manusia Leak yang tiba-tiba saja keluar dari ubun-ubunnya sebuah cahaya bulat bersinar berwarna kemerahan.

Berbarengan keluarnya cahaya kemerahan dari ubun-ubun manusia Leak, dari mulut orang tua itu juga telah keluar sebuah cahaya bulat bersinar kehijauan. Yang terjadi kemudian adalah sebuah pemandangan yang luar biasa, dua buah cahaya bulat saling berkejar diudara, yang satu bersinar kemerahan sementara yang lainnya bersinar kehijauan. Bahkan kadang dua cahaya itu saling bertabrakan menimbulkan suara yang berdentam keras seperti suara guntur mengguncang bumi.

Sementara dua cahaya saling bertempur, keempat pemuda yang menjadi pengikut manusia Liya-ak telah melakukan hal yang sama sebagaimana orang tua dan manusia Leak. Mereka berjejer duduk bersila. Rupanya mereka telah mengosongkan dirinya, terlihat empat buah cahaya bulat bersinar kehijauan diatas kepala masing-masing.

“Mereka telah keluar dari rangka jasadnya”, berkata Mahesa Amping yang diam-diam telah mengendapkan segala akal budinya, melihat dengan mata bathinnya. Yang dilihatnya saat itu adalah sebagaimana pertempuran sebelumnya ketika mereka beradu ilmu dengan jasad mereka. Ternyata mata wadag hanya mampu melihat cahaya bulat yang saling menyerang, sementara dengan mata bathin, Mahesa Amping dapat melihat mereka bertempur sebagaimana jasad kasar bertempur.

Diam-diam Empu Dangka mengagumi pemuda disebelahnya ini yang telah mampu menggunakan mata bathinnya, sebuah pertanda orang bersangkutan telah berada dalam tingkat kesempurnaan ilmu yang tinggi.

“Manusia Leak itu dari tataran tingkat utama”, berkata Empu Dangka yang sepertinya sangat mengenal tingkat dan tataran kedua orang yang tengah bertempur itu. ”Aku pernah melihat manusia Liya-ak dari tataran tingkat utama bertempur dengan manusia Leak yang juga ada di tingkat tataran ilmu yang sama”, berkata kembali Empu Dangka sambil terus mengawasi jalannya pertempuran.

“Aku juga melihat orang itu itu telah menjadi bulan-bulanan manusia Leak”, berkata Mahesa Amping yang juga menghawatirkan nasib lawan manusia Leak.

“Kita tidak dapat datang membantu, pertempuran mereka adalah perkelahian hidup dan mati yang telah berlangsung ratusan tahun diantara dua perguruan yang telah saling bermusuhan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang masih mengkhawatirkan lawan manusia Leak yang terlihat sudah semakin tersudut kewalahan menghadapi serangan manusia Leak yang semakin gencar dan telah berada dipuncak tataran ilmunya.

“Bagaimana bila ada yang datang membantu?”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Aku belum pernah melihat ada orang luar yang datang melerai pertempuran mereka, atau membantu salah satu pihak”, berkata Empu Dangka.

“Aku akan datang membantu”, berkata Mahesa Amping yang langsung meloncat mendekati arah pertempuran.
Empu Dangka menarik nafas panjang, disebelahnya jasad wadag Mahesa Amping masih duduk bersila.

“Biarlah aku yang menyelesaikan pertempuran yang sudah tidak seimbang ini”, berkata Mahesa Amping kepada orang tua yang terlihat hampir saja terkalahkan menghadapi serangan-serangan gencar dan berbahaya dari Manusia Leak.

“Kamu yang akan menggantikan takdirnya?”, berkata Manusia Leak menatap tajam Mahesa Amping.

“Anak muda, kenapa kamu menggantikan takdirku ini?”, bertanya orang tua itu kepada Mahesa Amping.

“Takdir milik yang Maha Kuasa Sang Hyiang Widi”, berkata Mahesa Amping penuh ketenangan. ”Menyingkirlah, aku yang akan menghadapinya”, berkata kembali Mahesa Amping kepada orang tua itu.

Maka orang tua itu telah menyingkir bergabung dengan kelompoknya empat orang pemuda. Entah kenapa melihat tatapan mata Mahesa Amping dirinya telah langsung mempercayainya.

Ternyata kepercayaan orang tua itu terhadap Mahesa Amping tidak sia-sia. Terlihat Mahesa Amping telah dapat mengimbangi serangan-serangan manusia Leak yang sangat berbahaya.

———-oOo———-

SFBDBS 09-239

Bukan main geramnya manusia Leak itu yang baru pertama kali bertemu dengan lawan tanding yang begitu tangguh. Tidak satupun ditemui celah yang dapat ditembus, sebaliknya beberapa pukulan telah bersarang di beberapa tubuhnya.

Manusia Leak itu terlihat semakin putus asa, maka diterapkannya ilmu simpanannya yang jarang sekali dipergunakan, sebuah aji yang sangat menyeramkan.

“Aji sekati nyawa”, berkata Empu Dangka yang melihat bagaimana manusia Leak telah mengetrapkan aji simpanannya. Timbul kekhawatirannya terhadap Mahesa Amping, dapatkah pemuda itu menghadapi ajian ilmu purba yang selama ini hanya pernah didengar dari orang-orang tua jaman dulu.

Siapapun yang menyaksikan apa yang dilihat dihadapannya akan terbungkam sepertinya tidak mempercayai apa yang terjadi.

Apa sebenarnya yang terlihat dan terjadi???
Yang tengah terjadi adalah putusnya dua tangan dan dua kaki serta kepala dari tubuh manusia Leak. Yang sangat meyeramkan adalah kelima anggota tubuh yang terlepas itu secara bersamaan menyerang Mahesa Amping.

Untungnya Mahesa Amping telah dapat menguasai ilmu meringankan tubuh kelas tinggi dan nyaris telah sampai ditataran puncak kesempurnaaannya. Maka tidak satupun serangan yang dapat langsung mengenai tubuh Mahesa Amping.

“Ilmu meringankan tubuh yang sempurna”, berkata Empu Dangka kepada dirinya sendiri manakala melihat tubuh Mahesa Amping melenting kesana kemari seperti belalang kecil melesat menghindari setiap serangan lima buah anggota badan manusia Leak yang terpisah namun serentak melakukan serangan.

Kembali manusia Leak itu menggeram, tidak satu pun serangannya mengenai tubuh lawannya, bahkan setahap demi setahap Mahesa Amping telah menguasai pertandingan terlihat balas melakukan serangan yang tidak kalah berbahayanya.

Sementara senja diatas hutan belantara itu telah datang menyelimuti bumi. Kegelapan telah mengelilingi pandangan mata. Namun pertandingan yang tidak memerlukan mata wadag antara manusia Leak dan Mahesa Amping masih terus berlangsung.

Manusia Leak itu sepertinya sudah begitu geram, segala tenaga dikerahkan namun tak satupun serangan dapat mengenai tubuh Mahesa Amping yang begitu cepat menghindar melenting dan balas menyerang. Beberapa pukulan Mahesa Amping telah bersarang di berbagai anggota badan yang terpisah itu.

Mahesa Amping diam-diam mengagumi semangat tempur dari manusia Leak yang tidak mengenal rasa putus asa. Maka diam-diam telah menerapkan ilmu simpanannya yang jarang sekali dipergunakan, hanya dalam keadaan terpaksa.

Dalam sebuah serangan kepungan yang cepat dari lima anggota tubuh manusia Leak, Mahesa Amping melenting ke udara.

Masih dalam keadaan melenting diudara, terlihat sebuah seleret cahaya keluar dari sorot mata Mahesa Amping.

Ternyata sinar kilat cahaya yang begitu cepat datangnya dari sorot mata Mahesa Amping tertuju kesebuah salah satu lengan manusia Leak.

Akibatnya membuat siapapun yang melihatnya akan terperanjat menahan nafas tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sebuah lengan manusia Leak hangus terbakar tergeletak diatas tanah.

“Apakah kamu masih menunggu satu persatu anggota tubuhmu hangus terbakar?” berkata Mahesa Amping dihadapan sebuah kepala yang terpisah.

“Ternyata kisanak belum mengetahui aturan dari pertempuran di alam tak terbatas ini. Kuakui ketinggian ilmu kisanak melampaui tataran ilmuku, untuk itu sesuai aturan pertempuran ambillah nyawaku kapanpun engkau mau”, berkata kepala yang terpisah itu sepertinya telah mengakui kekalahannya.

Dan tiba-tiba saja seluruh anggota badan manusia Leak itu menghilang. Ternyata manusia Leak itu telah kembali ke jasad kasarnya.

Bersamaan dengan itu pula Mahesa Amping telah kembali ke jasad kasarnya yang masih duduk bersila di sebelah Empu Dangka.

Terlihat Mahesa Amping berdiri dan melangkah mendekati Manusia Leak yang tengah tertunduk menanti tindakan Mahesa Amping untuk melepas nyawanya.

“Aku tidak akan mengambil nyawamu, nyawamu bukan milikku, dialah Sang Hyiang Widi pemilik segala yang hidup”, berkata Mahesa Amping kepada Manusia Leak dihadapannya yang masih tertunduk pasrah.

“Ajaran kami kekalahan adalah kematian”, berkata manusia Leak itu perlahan.

“Itulah ajaran kegelapan, lihatlah dunia di sekelilingmu, lihatlah kehidupan yang tercurah yang diberikan oleh Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih, yang telah menjadikan alam ini penuh dengan kedamaiannya. Jadilah manusia yang berarti itulah kehidupan yang sebenarnya”, berkata Mahesa Amping kepada manusia Leak.

“Bila aku punya arti bagi kehidupan ini, itukah pertanda aku punya kehidupan?”, bertanya manusia Leak itu mengangkat wajahnya perlahan kepada mahesa Amping.

“Manusia yang tidak punya arti dalam kehidupannya adalah manusia yang telah lama mati meski masih bernyawa”, berkata Mahesa Amping.

———-oOo———-

SFBDBS 09-240

“Sang kegelapan telah mengisi seluruh benakku dengan kekuasaan yang tak terbatas, menjadikan tangan ini sebagai pencabut nyawa demi keinginan segala dendam. Tapi hati ini sedikit pun tidak merasakan kebahagiaan. Semakin meluaskan segenap kebencian keseluruh bumi, semakin jiwa ini tak pernah terpuaskan. Namun manakala tuan berkata tentang Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih, jiwa ini sepertinya telah terkubur. Kulihat sedikit cahaya dalam kegelapan di rongga hati ini yang sepertinya memberikan sedikit pengharapan sebuah kebahagiaan yang belum pernah kurasakan, sebuah rasa yang baru kali ini datang, sebuah rasa yang bukan kepuasan, kegembiraan, tapi sebuah ketenangan jiwa, merasakan ada di dalam genggaman Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih”, berkata manusia Leak perlahan kepada Mahesa Amping.

“Pergilah kemanapun kamu pergi, Yang Maha Hidup ada dimanapun kamu berada, disaat pagi dan petang, dalam keadaan kamu berdiri, duduk dan berbaring. Dia Yang Maha Hidup akan berlari kepadamu manakala kamu berjalan menghadapnya”, berkata Mahesa Amping kepada manusia Leak.

“Tuan telah memberikan kepada hamba sebuah tuntunan yang belum pernah sekalipun kudengar, kupersembahkan jiwa ini berbakti selamanya kepada tuan”, berkata manusia Leak itu sambil bersujud dihadapan Mahesa Amping.

“Bangkitlah, mulai hari ini kita bersaudara”, berkata Mahesa Amping sambil mencoba mengangkat tubuh manusia Leak untuk berdiri.

Bukan main gembiranya manusia Leak itu mendengar perkataan Mahesa Amping.

“Namaku Jaran Waha, benarkah tuan mengangkat hamba ini sebagai saudara?”, berkata manusia Leak itu yang telah memperkenalkan dirinya bernama Jaran Waha.

“Namaku Mahesa Amping, mulai hari ini kita bersaudara”, berkata mahesa Amping mengulang perkataannya sepertinya meyakinkan kepada Jaran Waha atas apa yang diucapkannya.

“Terima kasih, sebuah kebahagiaan menjadi saudaramu”, berkata Jaran Waha sambil memeluk tubuh Mahesa Amping penuh kegembiraan.

Orang tua dan empat orang pemuda yang bersamanya telah mendengar dan menyaksikan apa yang telah terjadi menjadi merasa terharu.

“Wahai anak muda, pemahamanmu mengenai kebenaran begitu tinggi, kami menjadi malu pada diri sendiri, selama ini kami hanya mengenal membasmi kejahatan adalah sebuah pembunuhan, ternyata kebenaran sejati adalah menghidupkan kehidupan itu sendiri “, berkata orang tua itu.”Perkenalkan kami dari perguruan Panca Agni, namaku Ki Arya Sidi. Dan keempat pemuda yang bersamaku adalah para muridku empat orang Pangeran muda putra Raja Puri Pusering Jagad di Pejeng”, berkata orang tua itu memperkenalkan dirinya dan keempat muridnya.

“Bahagia diri ini dapat berkenalan dengan seorang guru dari perguruan Panca Agni dan juga keempat muridnya”, berkata Mahesa Amping menjura penuh hormat.

“Kami berhutang budi padamu anak muda, semoga kami dapat membalasnya”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

“Hutang budi itu kuanggap telah selesai manakala tidak ada permusuhan lagi antara perguruanmu dengan saudaraku ini”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

“Aku juga akan mengikat persaudaraan denganmu anak muda, apakah dirimu berkenan?”, bertanya Ki Arya Sidi menunggu jawaban dari Mahesa Amping.

“Dengan tangan terbuka dan wajah kebahagiaan menerima Ki Arya Sidi sebagai saudara. Itu artinya kita bertiga telah terikat tali persaudaraan”, berkata Mahesa Amping sambil memeluk Ki Arya Sidi dengan penuh kegembiraan.

“Mari Ki Jaran Waha, kita bertiga adalah saudara”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang langsung mendekat.

Maka terlihat mereka bertiga saling berpelukan sebagaimana saudara yang disaksikan oleh keempat pemuda para murid Ki Arya Sidi dan juga tentunya Empu Dangka yang masih duduk di tempatnya.

“Aku lupa memperkenalkan sahabat perjalananku”, berkata Mahesa Amping yang telah memperkenalkan Empu Dangka kepada semua yang ada dihutan itu.

Sementara itu suasana di hutan itu sudah begitu gelap, sang malam telah menyelimuti bumi.

“Tempat tinggalku tidak jauh dari sini, mudah-mudahan kalian berkenan mampir ditempatku yang sederhana”, berkata Ki Jaran Waha menawarkan semua yang ada untuk singgah di tempat tinggalnya.

“Maafkan kami saudaraku Ki Jaran Waha, Pejeng sudah tidak begitu jauh lagi, biarlah kami melanjutkan perjalanan kami dimalam hari ini”, berkata Ki Arya Sidi. “Bila kalian ada di sekitar Pejeng, datang singgahlah ke Padepokan kami”, berkata kembali Ki Arya Sidi.

“Kami akan berkunjung ke Padepokan Panca Agni, karena kebetulan kami akan melewati Pejeng”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi.

“Terima kasih, kami akan menunggu kedatangan kalian”, berkata Ki Arya Sidi sambil berpamitan bersama keempat muridnya melanjutkan perjalanannya.

Demikianlah, akhirnya Mahesa Amping dan Empu Dangka mengikuti Ki Jaran Waha berjalan kearah tempat tinggalnya.

Setelah mereka berjalan menyusuri hutan yang gelap, sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Jaran Waha bahwa tempat tinggalnya memang tidak begitu jauh.

Akhirnya mereka telah sampai di kediaman Ki Jaran Waha. Ternyata kediaman Ki Jaran Waha adalah sebuah goa yang ada didalam hutan itu sendiri. Bila saja datang tidak bersama Ki Jaran Waha, tidak seorangpun dapat menemui goa itu.

———-oOo———-

SFBDBS 09-241, bersambung ke SFBDBS-10

 


Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 25 Desember 2011 at 00:01  Comments (276)  

276 KomentarTinggalkan komentar

  1. sugeng enjang kadang padepokan pak DALANG-e,

    • sugeng enjang ugi Ki

  2. Diam-diam Empu Dangka mengagumi pemuda disebelahnya ini yang telah mampu menggunakan mata bathinnya, sebuah pertanda orang bersangkutan telah berada dalam tingkat kesempurnaan ilmu yang tinggi.

    “Manusia Leak itu dari tataran tingkat utama”, berkata Empu Dangka yang sepertinya sangat mengenal tingkat dan tataran kedua orang yang tengah bertempur itu.”Aku pernah melihat manusia Liya-ak dari tataran tingkat utama bertempur dengan manusia Leak yang juga ada di tingkat tataran ilmu yang sama”, berkata kembali Empu Dangka sambil terus mengawasi jalannya pertempuran.

    “Aku juga melihat orang itu itu telah menjadi bulan-bulanan manusia Leak”, berkata Mahesa Amping yang juga menghawatirkan nasib lawan manusia Leak.

    “Kita tidak dapat datang membantu, pertempuran mereka adalah perkelahian hidup dan mati yang telah berlangsung ratusan tahun diantara dua perguruan yang telah saling bermusuhan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang masih mengkhawatirkan lawan manusia Leak yang terlihat sudah semakin tersudut kewalahan menghadapi serangan manusia Leak yang semakin gencar dan telah berada dipuncak tataran ilmunya.

    “Bagaimana bila ada yang datang membantu ?”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

    “Aku belum pernah melihat ada orang luar yang datang melerai pertempuran mereka, atau membantu salah satu pihak”, berkata Empu Dangka.

    “Aku akan datang membantu”, berkata Mahesa Amping yang langsung meloncat mendekati arah pertempuran.
    Empu Dangka menarik nafas panjang, disebelahnya jasad wadag Mahesa Amping masih duduk bersila.

    “Biarlah aku yang menyelesaikan pertempuran yang sudah tidak seimbangini”, berkata Mahesa Amping kepada orang tua yang terlihat hampir saja terkalahkan menghadapi serangan-serangan gencar dan berbahaya dari Manusia Leak.

    “Kamu yang akan menggantikan takdirnya ?”, berkata Manusia Leak menatap tajam Mahesa Amping.

    “Anak muda, kenapa kamu menggantikan takdirku ini ?”, bertanya orang tua itu kepada Mahesa Amping.

    “Takdir milik yang Maha Kuasa Sang Hyiang Widi”, berkata Mahesa Amping penuh ketenangan.”Menyingkirlah, aku yang akan menghadapinya”, berkata kembali Mahesa Amping kepada orang tua itu.

    Maka orang tua itu telah menyingkir bergabung dengan kelompoknya empat orang pemuda. Entah kenapa melihat tatapan mata Mahesa Amping dirinya telah langsung mempercayainya.

    Ternyata kepercayaan orang tua itu terhadap Mahesa Amping tidak sia-sia. Terlihat Mahesa Amping telah dapat mengimbangi serangan-serangan manusia Leak yang sangat berbahaya.

  3. Bukan main geramnya manusia Leak itu yang baru pertama kali bertemu dengan lawan tanding yang begitu tangguh. Tidak satupun ditemui celah yang dapat ditembus, sebaliknya beberapa pukulan telah bersarang dibeberapa tubuhnya.

    Manusia Leak itu terlihat semakin putus asa, maka diterapkannya ilmu simpanannya yang jarang sekali dipergunakan, sebuah aji yang sangat menyeramkan.

    “Aji sekati nyawa”, berkata Empu Dangka yang melihat bagaimana manusia Leak telah mengterapkan aji simpanannya. Timbul kekhawatirannya terhadap Mahesa Amping, dapatkah pemuda itu menghadapi ajian ilmu purba yang selama ini hanya pernah didengar dari orang-orang tua jaman dulu.

    Siapapun yang menyaksikan apa yang dilihat dihadapannya akan terbungkam sepertinya tidak mempercayai apa yang terjadi.

    Apa sebenarnya yang terlihat dan terjadi ???
    Yang tengah terjadi adalah putusnya dua tangan dan dua kaki serta kepala dari tubuh manusia Leak. Yang sangat meyeramkan adalah kelima anggota tubuh yang terlepas itu secara bersamaan menyerang Mahesa Amping.

    Untungnya Mahesa Amping telah dapat menguasai ilmu meringankan tubuh kelas tinggi dan nyaris telah sampai ditataran puncak kesempurnaaannya. Maka tidak satupun serangan yang dapat langsung mengenai tubuh Mahesa Amping.

    “Ilmu meringankan tubuh yang sempurna”, berkata Empu Dangka kepada dirinya sendiri manakala melihat tubuh Mahesa Amping melenting kesana kemari seperti belalang kecil melesat menghindari setiap serangan lima buah anggota badan manusia Leak yang terpisah namun serentak melakukan serangan.

    Kembali manusia Leak itu menggeram, tidak satupun serangannya mengenai tubuh lawannya, bahkan setahap demi setahap Mahesa Amping telah menguasai pertandingan terlihat balas melakukan serangan yang tidak kalah berbahayanya.

    Sementara senja diatas hutan belantara itu telah datang menyelimuti bumi. Kegelapan telah mengelilingi pandangan mata. Namun pertandingan yang tidak memerlukan mata wadag antara manusia Leak dan Mahesa Amping masih terus berlangsung.

    Manusia Leak itu sepertinya sudah begitu geram, segala tenaga dikerahkan namun tak satupun serangan dapat mengenai tubuh Mahesa Amping yang begitu cepat menghindar melenting dan balas menyerang. Beberapa pukulan Mahesa Amping telah bersarang diberbagai anggota badan yang terpisah itu.

    Mahesa Amping diam-diam mengagumi semangat tempur dari manusia Leak yang tidak mengenal rasa putus asa. Maka diam-diam telah menerapkan ilmu simpanannya yang jarang sekali dipergunakan, hanya dalam keadaan terpaksa.

    • matur suwun

      beberapa hari ini sulit monitor padepokan, Koneksi putus-nyambung.

      • putus-nyambung….putus-nyambung, kayak lagu aja Ki Arema,
        he-hee5x, sami kok Ki….dikampung saya malah lemot puooLL

  4. sugeng dalu…..selamat malam,

  5. Dalam sebuah serangan kepungan yang cepat dari lima anggota tubuh manusia Leak, Mahesa Amping melenting keudara.

    Masih dalam keadaan melenting diudara, terlihat sebuah seleret cahaya keluar dari sorot mata Mahesa Amping.

    Ternyata sinar kilat cahaya yang begitu cepat datangnya dari sorot mata Mahesa Amping tertuju kesebuah salah satu lengan manusia Leak.

    Akibatnya membuat siapapun yang melihatnya akan terperanjat menahan nafas tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

    Sebuah lengan manusia Leak hangus terbakar tergeletak diatas tanah.

    “Apakah kamu masih menunggu satu persatu anggota tubuhmu hangus terbakar ?”berkata Mahesa Amping dihadapan sebuah kepala yang terpisah.

    “Ternyata kisanak belum mengetahui aturan dari pertempuran di alam tak terbatas ini. Kuakui ketinggian ilmu kisanak melampaui tataran ilmuku, untuk itu sesuai aturan pertempuran ambillah nyawaku kapanpun engkau mau”, berkata kepala yang terpisah itu sepertinya telah mengakui kekalahannya.

    Dan tiba-tiba saja seluruh anggota badan manusia Leak itu menghilang. Ternyata manusia Leak itu telah kembali ke jasad kasarnya.

    Bersamaan dengan itu pula Mahesa Amping telah kembali ke jasad kasarnya yang masih duduk bersila disebelah Empu Dangka.

    Terlihat Mahesa Amping berdiri dan melangkah mendekati Manusia Leak yang tengah tertunduk menanti tindakan Mahesa Amping untuk melepas nyawanya.

    “Aku tidak akan mengambil nyawamu, nyawamu bukan milikku, dialah Sang Hyiang Widi pemilik segala yang hidup”, berkata Mahesa Amping kepada Manusia Leak dihadapannya yang masih tertunduk pasrah.

    “Ajaran kami kekalahan adalah kematian”, berkata manusia Leak itu perlahan.

    “Itulah ajaran kegelapan, lihatlah dunia disekelilingmu, lihatlah kehidupan yang tercurah yang diberikan oleh Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih, yang telah menjadikan alam ini penuh dengan kedamaiannya. Jadilah manusia yang berarti itulah kehidupan yang sebenarnya”, berkata Mahesa Amping kepada manusia Leak.

    “Bila aku punya arti bagi kehidupan ini, itukah pertanda aku punya kehidupan?”, bertanya manusia Leak itu mengangkat wajahnya perlahan kepada mahesa Amping.

    “Manusia yang tidak punya arti dalam kehidupannya adalah manusia yang telah lama mati meski masih bernyawa”, berkata Mahesa Amping.

    • nambah lagi………buat malam mingguan…

  6. “Sang kegelapan telah mengisi seluruh benakku dengan kekuasaan yang tak terbatas, menjadikan tangan ini sebagai pencabut nyawa demi keinginan segala dendam. Tapi hati ini sedikitpun tidak merasakan kebahagiaan. Semakin meluaskan segenap kebencian keseluruh bumi, semakin jiwa ini tak pernah terpuaskan. Namun manakala tuan berkata tentang Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih, jiwa ini sepertinya telah terkubur. Kulihat sedikit cahaya dalam kegelapan di rongga hati ini yang sepertinya memberikan sedikit pengharapan sebuah kebahagiaan yang belum pernah kurasakan, sebuah rasa yang baru kali ini datang, sebuah rasa yang bukan kepuasan, kegembiraan, tapi sebuah ketenangan jiwa, merasakan ada di dalam genggaman Yang Maha Hidup, Yang Maha Kasih”, berkata manusia Leak perlahan kepada Mahesa Amping.

    “Pergilah kemanapun kamu pergi, Yang Maha Hidup ada dimanapun kamu berada, disaat pagi dan petang, dalam keadaan kamu berdiri, duduk dan berbaring. Dia Yang Maha Hidup akan berlari kepadamu manakala kamu berjalan menghadapnya”, berkata Mahesa Amping kepada manusia Leak.

    “Tuan telah memberikan kepada hamba sebuah tuntunan yang belum pernah sekalipun kudengar, kupersembahkan jiwa ini berbakti selamanya kepada tuan”, berkata manusia Leak itu sambil bersujud dihadapan Mahesa Amping.

    “bangkitlah, mulai hari ini kita bersaudara”, berkata Mahesa Amping sambil mencoba mengangkat tubuh manusia Leak untuk berdiri.

    Bukan main gembiranya manusia Leak itu mendengar perkataan Mahesa Amping.

    “namaku Jaran Waha, benarkah tuan mengangkat hamba ini sebagai saudara ?”, berkata manusia Leak itu yang telah memperkenalkan dirinya bernama Jaran Waha.

    “namaku Mahesa Amping, mulai hari ini kita bersaudara”, berkata mahesa Amping mengulang perkataannya sepertinya meyakinkan kepada Jaran Waha atas apa yang diucapkannya.

    “Terima kasih, sebuah kebahagiaan menjadi saudaramu”, berkata Jaran Waha sambil memeluk tubuh Mahesa Amping penuh kegembiraan.

    Orang tua dan empat orang pemuda yang bersamanya telah mendengar dan menyaksikan apa yang telah terjadi menjadi merasa terharu.

    “Wahai anak muda, pemahamanmu mengenai kebenaran begitu tinggi, kami menjadi malu pada diri sendiri, selama ini kami hanya mengenal membasmi kejahatan adalah sebuah pembunuhan, ternyata kebenaran sejati adalah menghidupkan kehidupan itu sendiri “, berkata orang tua itu.”Perkenalkan kami dari perguruan Panca Agni, namaku Ki Arya Sidi. Dan keempat pemuda yang bersamaku adalah para muridku empat orang Pangeran muda putra Raja Puri Pusering Jagad di Pejeng”, berkata orang tua itu memperkenalkan dirinya dan keempat muridnya.

    “Bahagia diri ini dapat berkenalan dengan seorang guru dari perguruan Panca Agni dan juga keempat muridnya”, berkata Mahesa Amping menjura penuh hormat.

    • hari ini berexperimen, nambahin kopi sama coklat batangan, ternyata enaknya poaalll istilahnya Ki Widura (kangen sama ki Widura ronda semalaman suntuk)

  7. “Kami berhutang budi padamu anak muda, semoga kami dapat membalasnya”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

    “Hutang budi itu kuanggap telah selesai manakala tidak ada permusuhan lagi antara perguruanmu dengan saudaraku ini”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

    “Aku juga akan mengikat persaudaraan denganmu anak muda, apakah dirimu berkenan ?”, bertanya Ki Arya Sidi menunggu jawaban dari Mahesa Amping.

    “Dengan tangan terbuka dan wajah kebahagiaan menerima Ki Arya Sidi sebagai saudara. Itu artinya kita bertiga telah terikat tali persaudaraan”, berkata Mahesa Amping sambil memeluk Ki Arya Sidi dengan penuh kegembiraan.

    “Mari Ki Jaran Waha, kita bertiga adalah saudara”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang langsung mendekat.

    Maka terlihat mereka bertiga saling berpelukan sebagaimana saudara yang disaksikan oleh keempat pemuda para murid Ki Arya Sidi dan juga tentunya Empu Dangka yang masih duduk ditempatnya.

    “Aku lupa memperkenalkan sahabat perjalananku”, berkata Mahesa Amping yang telah memperkenalkan Empu Dangka kepada semua yang ada dihutan itu.
    Sementara itu suasana di hutan itu sudah begitu gelap, sang malam telah menyelimuti bumi.

    “Tempat tinggalku tidak jauh dari sini, mudah-mudahan kalian berkenan mampir ditempatku yang sederhana”, berkata Ki Jaran Waha menawarkan semua yang ada untuk singgah ditempat tinggalnya.

    “Maafkan kami saudaraku Ki Jaran Waha, Pejeng sudah tidak begitu jauh lagi, biarlah kami melanjutkan perjalanan kami dimalam hari ini”, berkata Ki Arya Sidi. “Bila kalian ada disekitar Pejeng, datang singgahlah ke Padepokan kami”, berkata kembali Ki Arya Sidi.

    “Kami akan berkunjung ke Padepokan Panca Agni, karena kebetulan kami akan melewati Pejeng”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi.

    “Terima kasih, kami akan menunggu kedatangan kalian”, berkata Ki Arya Sidi sambil berpamitan bersama keempat muridnya melanjutkan perjalanannya.
    Demikianlah, akhirnya Mahesa Amping dan Empu Dangka mengikuti Ki Jaran Waha berjalan kearah tempat tinggalnya.

    Setelah mereka berjalan menyusuri hutan yang gelap, sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Jaran Waha bahwa tempat tinggalnya memang tidak begitu jauh.

    Akhirnya mereka telah sampai di kediaman Ki Jaran Waha.

    Ternyata kediaman Ki Jaran Waha adalah sebuah goa yang ada didalam hutan itu sendiri. Bila saja datang tidak bersama Ki Jaran Waha, tidak seorangpun dapat menemui goa itu.

    • konfirmasi dulu sama ki Arema, kurang berapa rontal lagi untuk melejid ke gandhok sepuluh ?????

      • mulai siang tadi koneksi putus nyambung, tidak bisa masuk padepokan.
        Ini baru saya bundel, sedang saya baca. Sebentar lagi mungkin baru dapat informasi apakah sudah cukup untuk masuk ke gandok 10

        • okelah kalo begitu, ditunggu putus nyambungnya…hehehe

        • Wedaran terakhir, pas jadi akhir bundel SFBDBS-09.
          Wedaran selanjutnya tunggu dibukanya gandok SFBDBS-10.
          Insya Allah, besok pagi.
          beberapa kali coba upload gambar sampul tidak berhasil.
          sudah mengantuk, diteruskan besok pagi

          nuwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: