SFBDBS_09

<<kembali ke SFBdBS-08 | lanjut ke SFBdBS-10 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 25 Desember 2011 at 00:01  Comments (276)  

276 KomentarTinggalkan komentar

  1. 😥 😥 😥

    Innalillahi wainailillahi raji’un

    Selamat jalan Bu Lik Murni

    Doa kami menyertaimu

    semoga, meskipun hanya “selangkah” dapat membantu perjalanan Bu Lik.

    semoga, meskipun hanya “seringan kapas” dapat mengurangi beban kesalahan yang pernah Bu Lik lakukan selama hidup di dunia

    semoga, meskipun hanya “sejumput” dapat menambah pahala yang pernah Bu Lik kumpulkan selama hidup di dunia.

    Untuk Pak Lik Kompor,
    semoga Pak Lik tabah menerima cobaan ini
    untuk sementara Pak Lik istirahat dulu, menata ulang hidup bersama putra/putri tercinta.

    Kami akan mengiringi doa yang Ki Kompor panjatkan ke hadirat Allah SWT.

    hua………
    😥 😥 😥
    sungguh….., satpam menulis ini sambil menyaksikan satu persatu air mata menetes di keyboard
    jika tidak jauh, dan bersamaan dengan waktu “pendadaran”, satpam tentu sudah lari ke kediaman Ki Kompor untuk mengiringi kepergian Bu Lik Murni

    • Ki Kompor, justru saat ini Ki harus sangat berbahagia dengan kepergian isteri tercinta. Inilah rencana yang paling baik dari Tuhan kita, DIA menyembuhkan kesakitan Nyi Kompor dengan cara-Nya. Saya pernah posting, bahwa rencana Tuhan itu memberikan damai sejahtera dan kekuatan bagi umat yang percaya kepada-Nya walaupun mungkin sangat pahit bagi kita. Tapi disini lah kita diuji apakah kita hanya ingin mengutamakan ke-aku-an kita, atau belajar mengerti kehendak Tuhan.
      Ki Kompor, percayalah dengan iman Ki, bahwa saat ini Nyi Kompor telah memperoleh kesembuhan abadi dan berada bersama DIA, tempat dimana tidak ada lagi keluh-kesah dan airmata, tidak ada lagi angkara-murka … yang ada adalah sukacita yang tidak bisa kita bayangkan bagaimana; tapi pasti kita juga akan mengalami ketika saatnya tiba.
      Ki Kompor, Tuhan memberi kekuatan dan penghiburan kepada seluruh keluarga besar Ki Kompor. Amin!

  2. Innalillahi wainailillahi raji’un

    Wangsa Bayuaji, ikut berbela-sungkawa atas wafatnya Ibu Murni, istri Ki Arief ‘Sandikala’ Sudjana.

    Semoga Allah SWT mengampuni semua kesalahan beliau, Meluaskan kuburnya, dan digolongkan olehNya sebagai ahli-jannah.

    Kepada Kang Arief, sekeluarga. Semoga mendapatkan keteguhan hati dalam kesabaran.

    Aamin.

    Nuwun

    cantrik bayuaji sekeluarga

    • Innalillahi wainailillahi raji’un

      Wangsa Bayuaji, ikut berbela-sungkawa atas wafatnya Ibu Murni, istri Ki Arief ‘Sandikala’ Sudjana.

      Semoga Allah SWT mengampuni semua kesalahan beliau, Meluaskan kuburnya, dan digolongkan olehNya sebagai ahli-jannah.

      Kepada Kang Arief, sekeluarga. Semoga mendapatkan keteguhan hati dalam kesabaran.

      Aamin.

      Nuwun

      cantrik yudha sekeluarga

      • Innalillahi wainailillahi raji’un

        Wangsa Bayuaji, ikut berbela-sungkawa atas wafatnya Ibu Murni, istri Ki Arief ‘Sandikala’ Sudjana.

        Semoga Allah SWT mengampuni semua kesalahan beliau, Meluaskan kuburnya, dan digolongkan olehNya sebagai ahli-jannah.

        Kepada Kang Arief, sekeluarga. Semoga mendapatkan keteguhan hati dalam kesabaran.

        Aamin.

        Nuwun

        cantrik kartojudo sekeluarga

  3. Amien, ya Allah kabulkanlah doa kami ini semua, amiiiieeeen

  4. Innalillhi wa inna ilaihi rojiun,

    Turut berbelasungkawa untuk Ki Arief Sujana sekeluarga,
    Semoga almarhumah Istri tercinta diterima disisi Allah SWT,
    diterima amal-amal kebaikan dan keluarga diberikan keikhlasan
    Amin ya robbal alamin,

    cantrik sklrga,

  5. Inna lillahi wainna ilaihi roji’un

    Ikut berduka cita sedalam-dalamnya atas wafatnya Ibu Murni isteri Ki Kompor Sandikala Arief Sujana. Semoga arwah beliau diterima di sisi- Nya, diterima semua amal ibadahnya, diampuni segala dosanya dan keluarga yang ditinggalkan diberi katabahan dan keikhlasan, Amin ya robbal alamin.

  6. sugeng enjang

    • turut berduka, semoga ki DALANG diberi ketabahan dan keikhlasan, Amin ya robbal alamin.

  7. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un, semoga amal beliau diterima di sisi-Nya, diampuni segala kesalahannya dan keluarga yang ditinggalkan diberi keikhlasan dan tambah keimanannya. Amiiin.

  8. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un
    Turut berdukacita kepada keluarga Ki Kompor Sandikala….

  9. sugeng sonten

  10. turut berduka cita, …
    semoga almarhumah mendapat tempat yang layak, …
    semoga yang ditinggalkan tetap tabah, …

  11. innalillahi wainailillahi raji’un…..
    Dari lubuk hati yang paling dalam, Gembleh sekeluarga ikut menghaturkan bela sungkawa yang sedalam dalamnya kepada Adimas Arief Sujana.
    Semoga almarhumah mendapat tempat yang layak di sisiNYA dan Allah memberikan ketabahan kepada keluarga Adimas semua.

    (mohon maaf karena terlambat)

  12. Baru membuka situs setelah sekian lama off air baru tahu ada berita duka.

    Saya sekeluarga ikut berdukacita sedalam dalamnya kepada Bpk. Arief Sujana sekeluarga. Semoga almarhumah mendapat tempat yang layak didiNya dan Allah memberikan ketabahan kepada Bpk. Arief sekeluarga.

    Sekali lagi sama dengan Ki Gembleh mohon maaf atas keterlambatan ini. )

  13. SUGENG SIANG SEDEREK SEDOYO

  14. Assalamulaikum Wr Wb,
    ALHAMDULLIALAH
    Terima kasih atas dukungan sahabat kadang sedoyo,hingga telah memberikan kekuatan kami sekeluarga, memeberikan semangat kepada kami sekeluarga,hingga sampai detik ini kami sekeluarga masih tetap tegar menghadapi hidup dan kehidupan ini.
    HARI INI, saya terpaksa “libur” tidak masuk kerja, memulai dan melanjutkan kehidupan yang belum selesai, mencoba merangkap “jabatan”, sebagai ayah sekaligus sebagai ibu yang baik.
    Ada yang sangat saya banggakan, anak saya yang masih kelas 5 SD ternyata begitu kuat, terlihat ketika ikut memandikan jenajah sampai dengan memakaikan kapan ibunya, tangannya yang kecil terlihat begitu telaten membasuh tubuh ibunya serta “memoles” wajah ibunya.
    TERIMA KASIH telah mengutus seorang wanita MISNONA, telah datang membesuk sangpermaisuri hanya dengan bermodal semangat, bermodal nama rumah sakit dan “PLN”.Ada hikmah yang dapat saya ambil, ternyata sebuah semangat dapat membuat apapun bisa terjadi.
    Terima kasih untuk semua dan segalanya,
    GAMBARU
    GAMBARU
    GAMBARU

  15. Sugêng sontên andungkap surup

    || Mugi sadåyå umat tansah manggihi karaharjan, sih katrésnan Gusti Ingkang Måhå Wikan ||

    • Aamiin.

  16. Subhahanallah

  17. selamat sore merambat SORE,

    • cantrik HADIiiiir,

      • cantrik HADIiiiir…….juga lho…!!!!

  18. cantrik HADIiiiir

  19. ||Sugêng énjang||

    • ||Sugêng siyang||

  20. ||Sugêng dalu||

  21. ||Sugêng dalu dari Tambun||

    • Monggo Ki Djojosm, katuran pinarak.

  22. ||Sugeng dalu dari Lendhut Benter||.

    • Sugêng ndungkap enjang saking tlatah Sengkaling

      • Sugêng ndungkap siyang, saking tlatah Sengkaling sisi Wetan

  23. ||Selamat Siang kadang Padepokan ki Mahesa Kompor||

  24. sugeng siang kadang sedoyo

  25. <i.Nuwun
    ||Sugêng sontên andungkap surup||

    sandhé jabung sampun ing surup amasang sandhé.

    [sandyakala saat rembang petang, matahari menjelang terbenam, ketika pelita-pelita telah dinyalakan pada tempatnya]

    Candik Ayu dan Candik Ålå yang kadang datang bergantian di senja hari hidupmu.

    Candik Ayu adalah suasana hati yang riang, kecantikan yang indah, senja yang tenteram. cerah, dedaunan nampak menjadi lebih hijau cemerlang, bunga-bunga terlihat begitu indah mempesona.

    Langit bersih, tapi tidak selalu tanpa awan, burung-burung bernyanyi riang mengiringi.

    Sang Bagaskårå turun menuju ke peraduannya, keindahannya dapat dirasakan.

    Tetapi yang muncul sesaat kemudian langit berangsur berubah warna.

    Sinar jingga-kuningnya menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut silih berganti, kuning, jingga, merah.

    Semburat merahnya menyiram seluruh muka bumi.
    Merah dan semakin merah.
    Merah darah, kelabu hitam kelabu dan muram.

    Candik Ålå.

    Kelelawar beterbangan keluar sarang
    mencari mangsa di awal petang.

    Pohon-pohon menunjukkan kekuasaan bayangan keangkuhan.

    Sepertinya akan ada keburukan,
    petaka yang akan merenggut semua kebahagiaan.

    Candik Ålå.

    Kala wayah surup. Sandyakala saat rembang petang,
    matahari menjelang terbenam,
    ketika pelita-pelita telah dinyalakan pada tempatnya.

    Waktu siang hampir hilang.

    Waktu malam menjelang datang.

    Berlangsung pergantian antara terang dan kegelapan.

    Akan ada padanya kebingungan atau jiwa yang tertekan.

    Ruh menjadi rentan,
    dekat dengan kegilaan.

    Bahkan lebih dekat lagi dengan kematian.

    Candik Ålå, sindhung riwut. wanciné udan tumibå.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur nuwun Ki Bayu.

      di radio aku dengar orang mendoakan temannya semoga tetap SEHAT dan WARAS.
      sebab konon, katanya, banyak orang sehat tapi kurang waras.

      (isih begja wong kang eling lan waspada….kah..??)

  26. candik ala, waktunya sore, biarpun tidak cantik, kalau keluar sore, nampak cantik (habis mandi dan bersolek0
    candik ayu, waktunya pagi hari, biarpun cantik kalau waktu pagi nampak jelek karena belum mandi dan bersolek
    ngapunten Ki

  27. Swasti Astu
    ||Rahajêng wêngi||

    Malêm Jêmuwah Pôn Sukrå Jênêan Sêngårå, Kulawu; 24 Sapar 1945 – Wawu 04; 25 Safar 1433 (H) 06.

    Awignam astu namas sidam [Mugi linupútnå ing rêridhu]

    indriyanam jaye yogam
    samatistheddivanisam.
    jitendriyo hi saknoti.
    vagesthapayitumprajah

    (Manawa Dharmasastra, VII.44).

    Atur Pambukå:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

    Pårå sanak kadang sutrêsnå padépokanpelangisingosariingkang dahat kinurmatan.

    Pårå murid kang nêmbé ngangsu kawruh kautaman gêsang dumateng pårå mursyid.

    Katur Ki Arema
    Katur Ki Arief ‘Sandikala’

    Dalam kesempatan ini. Saya Cantrik Bayuaji, ingin membagi kawruh sejarah Jagad Bali kepada sanak kadang sutrêsnå padépokan “pelangisingosari”.

    Wedaran Dongeng Arkeologi & Antropologi Jagad Bali di gandhok SFBdBS ini, semata-mata hanya hendak “mengikuti” Mahisa Amping di dalam melakukan “operasi sandhi-yudha” Kerajaan Singasari untuk menaklukkan Tanah Bali, sehubungan dengan muhibah perjalanan Mahesa Amping from Singasari telah sampai di Pulau Para Dewa itu.

    Ki Arief ‘Sandikala’ Sudjana, meramu pakem sang fajar di bumi singasarinya besama para pahlawan-pahlawannya mengajak sanak kadang ikut berdarmawisata ke banjar-banjar, melihat upacara-upacara adat, dan hamparan pemandangan alam yang eksotik di Balidwipa.

    Dalam pada itu Mahesa Amping telah menjelajah hampir ke seluruh sudut-sudut Nusantara tercinta ini, dari Singasari Jawadwipa, ke Daratan Swarnadwipa, kemudian ke Tanah Maluku Tanah Seribu Pulau, dan kini sampai ke Pulau Seribu Pura.

    Tentunya membaca karya Ki Arief dengan Mahesa Ampingnya, dalam lakon sang fajar di bumi singasarinya sungguh-sungguh kita sampaikan salam hormat: “kamsiaaaaaaaaa……” (kedua telapak tangan dikepalkan dalam sikap menjura sambil badan dibungkukkan dalam-dalam).

    Sembari menanti kelanjutan diwedarnya pakem SFBdBS anggitan Ki Arief ‘Sandikala’ Sudjana, maka saya mengajak sanak kadang menelisik latar belakang sejarah keterkaitan raja-raja Bali masa lalu dengan raja-raja Jawa, terutama era Kalingga, Mataram Lama Medhang Kamulan, Kadhiri, Singasari hingga Majapahit.

    Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya siapkan, yakni ketika menulis Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit, dan baru kali ini sempat diwedar.

    Mahesa Amping, tokoh unhistory, adalah salah satu têlik-sandhi dari pasukan khusus sandhiyudha dalam jajaran ketentaraan Kerajaan Singasari, “mendapat perintah” Sinuwun Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa, yang selanjutnya sebagai raja Singasari yang berkedudukan di Kotaraja, Jawadwipa bergelar Śrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa Shri Jnyanabadreshwara, untuk mencari sisik-mêlik di Pulau Para Dewa itu.

    Singasari menyerang Bali?.
    Jawabnya: ya

    Kerajaan Singasari pada jaman pemerintahan Prabu Kertanegara mencapai masa keemasannya. Diantara Raja-raja Singasari, Prabu Kertanagaralah yang pertama-tama melepaskan pandangan ke luar Jawa.

    Prabu Kertanagara ingin mendobrak politik tradisional yang hanya berkisar pada Janggala-Panjalu-Kadhiri dan ingin mempunyai kerajaan yang lebih luas dan lebih besar daripada wilayah tersebut yang merupakan warisan dari Sri Prabu Airlangga.

    Maha Prabu Kertanegara, raja Singasari di Nusantara pada abad ke-13 itu, yang dikenal sebagai pencetus ide cakrawala mandala nusantara, sebagai upaya untuk membendung kekuatan asing yang hendak menguasai Nusantara, dan bermaksud mempersatukan Nusantara di bawah duli Kemaharajaan Singasari, yang menjadi inspirasi bagi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada dari Imperium Majapahit, dan menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia sekarang ini.

    Adalah Ekspedisi Pamalayu yang pertama, yang merupakan manifestasi gagasan cakrawala mandala raja Kertanagara, sebagai bumper atas hegemoni Kubilai Khan di Asia Tenggara.

    Empu Prapanca dalam Rontal Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh XLI : 5 mengabarkan pengiriman tentara oleh Kertanagara untuk menaklukkan Melayu pada tahun 1197 Çaka atau tahun 1275 Masehi.

    kathakena muwah narendra krtanagaranghilangaken katungka kujana
    manama cayaraja sirnna rikana sakabda bhujagosasiksaya pejah
    nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu
    lewes mara bhayanya sangka rika dewamurti nira nguni kalaha nika

    [Tersebut Sri Baginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat,
    Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Çaka Bhujagosasiksaya (1192Ç),
    Tahun Çaka Nagasyabhawa (1197Ç) Baginda menyuruh tundukkan Melayu,
    Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu saja]

    Kemudian yang kedua adalah Ekspedisi Bali, wilayah timur Pulau Jawa yang berdekatan dengan kerajaan Singasari menjadi salah satu wilayah yang harus dikuasai untuk mewujudkan cita-cita mempersatukan Nusantara.

    Oleh karena itu setelah Ekspedisi Pamalayu berhasil dengan gemilang maka ekspedisi ke Pulau Bali menjadi target berikutnya. Maka pada tahun 1206 Çaka dikirimlah sejumlah pasukan Singasari.

    Pada pupuh XLII : 1 Nāgarakṛtāgama menyebutkan pengiriman tentara Singasari atas perintah Kertanagara untuk menaklukkan Bali. Ekspedisi kedua ini berhasil dan raja Bali ditahan sebagai tawanan perang.

    sakabda yamasunyasuryya diwasa nrpati muwah amati durjjana
    ikang mahisa rangkah atyaya katungka nika pinaleh ing sanagara
    ring anggawiyatarkka saka sira motusan kana ri bali curnnitan
    ndatandwa kawenang ratunya kahanang teka marek i narendra sakrama.

    [Tahun Çaka yamasunyasuryya (1202Ç) Baginda raja memberantas penjahat,
    Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh negara,
    Tahun Çaka anggawiyatarkka (1206Ç) mengirim utusan menghancurkan Bali,
    Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai orang tawanan.]

    Dalam kropak Jagad Bali disebutkan pendaratan pasukan Singasari terjadi pada tahun 1206 Çaka / 1284 Masehi di Pantai Timur Buleleng. Tepatnya di desa Kubutambahan, Ini ditandai dengan didirikan pura bernama Purâ Pule Kŗtanagara. dan satu pura lagi, yaitu Pura Kebo Edan.

    Dinamai “kebo edan” karena diambil dari dua arca kerbau yang terdapat di sebelah kanan-kiri Arca Bhairawa yang berfungsi sebagai penjaga arca tersebut.

    Arca ini melukiskan ajaran Bhairawa Bima Sakti, yakni pertemuan antara ajaran Bhairawa dan ajaran Siwa. Bhairawa Siva, Bhairawa yang tergolong aliran Tantrayana Prawrtti, karena cenderung mengikuti indria dalam usaha mencapai kebebasan atau kepuasan duniawi tanpa pengakuan indria, suatu keyakinan yang dianut oleh Sri Baginda Prabu Kertanegara, yang menyebar sampai ke Bali.

    indriyanam jaye yogam
    samatistheddivanisam.
    jitendriyo hi saknoti.
    vagesthapayitumprajah

    (Manawa Dharmasastra, VII.44).

    [Siang dan malam seorang pemimpin atau penguasa harus terus berusaha mengendalikan indrianya dengan sekuat tenaga. Kalau pemimpin berhasil menundukkan nafsu indrianya sendiri maka pemimpin itu akan dapat menjadikan rakyatnya taat pada kepemimpinannya.]

    Setiap orang hendaknya mengamalkan ajaran agamanya ke dalam dirinya sendiri dan untuk bekal mengabdi pada sesama. Yang tertinggi ajaran dalam agama itu untuk dijadikan pegangan berbakti kepada Yang Maha Agung. Apalagi bagi seorang yang berkedudukan sebagai penguasa atau pemimpin.

    Sebelum bertugas mengendalikan pemerintahannya seorang penguasa harus berusaha siang malam mengendalikan indrianya agar patuh pada arahan pikiran dan kesadaran budinya. Suatu ajaran yang patut menjadi pegangan hidup setiap pemimpin.

    ***

    Dalam pada itu, siapa pemimpin pasukan pendaratan di Bali? Mahisa Amping?
    Tentu bukan. Apa Prabu Kertanegara sendiri?

    Lalu, siapa penguasa Bali pada waktu itu yang dibawa ke Singasari menghadap Sri Baginda Kertanegara sebagai tawanan.

    Bagaimana sejarah membaca peristiwa ini?

    Insya Allah. Cantrik Bayuaji akan memulai mendongeng:
    Dongeng Arkeologi & Antropologi Jagad Bali
    “mendampingi” Mahisa Amping dkk, menjelajah Pulau Bali.

    Swasti Astu

    cantrik bayuaji

    • Matur suwun Ki Bayu

      Ngantos lingsir wengi Ki Bayu taksih dereng sare.

      • Jaga gandhok, nglanglang padépokan, dan menemani Ki Arema lèk-lèkan malêm Jèêmuwah Ki, :).

        • Monggo Ki, dipun sêkécaakên.
          Ngapunten taksih dèrèng sagêd mindah rontal Ki Bayu, kersanipun P. Satpam ingkang mindah. Insya Allah akhir pekan punikâ sampun sagêd pikèt malih.
          menawi badé sambang SBB-22, gêmbok sampun dipun bikak.

          • Matur nuwun Ki

  28. Matur nuwun Ki

  29. ||SUGENG DALU||

  30. Swasti Astu
    ||Rahajêng wêngi||

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

    Waosan kaping I.Wedaran kaping-01
    PARA PENGUASA BALI

    — dari Wangsa Sanjaya (sekitar tahun 804Ç/882M) ke Wangsa Warmadewa (835Ç / 913M sd 1041Ç / 1119M), hingga Penyerbuan Kerajaan Singasari (1206 Ç / 1284M) —

    I. Wangsa Sanjaya

    1. Bali, sekitar tahun 804 Ç / 882 M.

    Menelisik sejarah Kerajaan Bali Kuno, berdasarkan temuan bukti-bukti sejarah, bahwa kerajaan tertua di Bali yang tercatat dalam sejarah adalah Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang yang didirikan sekitar tahun 804 Ç / 882 M.

    Kerajaan ini terletak di sekitar Batur. Keberadaannya dikukuhkan melalui 15 prasasti yang berangka tahun 804 M. Dalam prasasti itu disebutkan raja Singamandawa adalah Ugrasena dari Wangsa Sanjaya.

    Sanjaya adalah raja dari sebuah kerajaan tua di Jawa Bagian Tengah yaitu Kerajaan Mataram Lama. Dalam Purana, Usana, Babad sering disebut dengan nama Kerajaan Keling. Raja Sanjaya adalah pendiri dinasti Sanjaya dengan gelar Sanjayawamsa.

    II. Wangsa Warmadewa

    2. Bali 835 Ç / 913 M sd 846 Ç / 924 M. Kerajaan Singadwala Kahuripan. Sri Kesariwarmadewa. Wangsa Warmadewa.

    Setelah jatuhnya Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang dari wangsa Sanjaya akibat peperangan dengan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan maka mulailah kekuasaan Wangsa Warmadewa di Pulau Bali.

    Sri Kesariwarmadewa adalah raja pertama di Bali dari Dinasti Warmadewa yang mendirikan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan lokasi Kerajaan di sekitar Besakih. Beliau merupakan keturunan wangsa Warmadewa yang berasal dari Kerajaan Kutai. yaitu sekitar 914 Masehi.

    Ini diketahui dari sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Blanjong Sanur. Prasasti itu berangka tahun 836 Çaka yang menyebutkan nama rajanya “Khesari Warmadewa” memiliki istana yang ada di Singhadwala.

    3. Bali 837 Ç sd 964 Ç / 915M sd 942M. Kerajaan Singadwala Kahuripan. Sri Ugrasena Warmadewa. Wangsa Warmadewa.

    Setelah Raja Kesari Warmadewa wafat pada tahun Çaka 837 / 915 M, maka putra beliau Sri Ugrasena Warmadewa menggantikan kedudukan sebagai Raja di Bali.

    Beliau terkenal akan kebijaksanaannya dan kewibawaanya sehingga menjadikan Pulau Bali aman dan sentosa.

    Para pendeta Siwa Budha dan Rsi, Empu, para agamawan datang dari pulau Jawa dan Hindu (India) semuanya bersama memuja kebesaran Ida Sanghyang Widhi dengan para dewa, tapi pemujaan disesuaikan dengan desa kala patra.

    Itu yang menyebabkan tepat disebut Bhinneka Tunggal Ika. Kerajaan berpusat di Singhamandawa didaerah sekitar Batur. Setelah meninggal, Abu dari jenasah dari raja Ugrasena dicandikan di Air Madatu.

    4. Bali 864 Ç / 942 M sd 877 Ç / 955M

    Kekosogan raja, atau tidak ditemukan data sejarah yang lengkap (?)

    5. Bali 877 Ç / 955M sd 889 Ç / 967M

    Pada periode ini diketahui sejumlah raja yang pernah memerintah Bali, tetapi belum ditemukan nama ibu kota yang menjadi pusat pemerintahannya.

    Raja pertama pada periode ini adalah Sang Ratu Sri Aji Tabanendra Warmadewa yang memerintah bersama-sama dengan permaisurinya, yaitu Sri Subhadrika Dharmadewi, tahun 877sd 889 Çaka (955 M sd 967 M)

    6. Bali 882 Ç / 960M sd 897 Ç / 975M

    Pengganti Tabanendra Warmadewa adalah raja Jayasingha Warmadewa. Raja ini dapat diketahui dari sebuah prasasti, yaitu prasasti Manukaya (882 Çaka).

    Dalam prasasti itu dimuat perintah raja untuk memugar Tirtha di (Air) Mpul (sekarang Tirtha Empul di Tampaksiring) yang setiap tahun mengalami kerusakan akibat derasnya aliran air.

    7. Bali 897 Ç / 975M sd 905 Ç / 983M

    Pada tahun 897 Çaka muncul raja yang bergelar Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa. Gelar ini terbaca dalam prasasti Sembiran A II (897 Çaka). Itulah satu-satunya prasasti atas nama baginda.

    Prasasti tersebut kembali mengenai desa Julah kuno. Menurut prasasti itu, penduduk Julah yang kembali dari pengungsiannya diizinkan memperbaharui isi prasastinya.

    8. Bali 905 Ç / 983M sd 911 Ç / 989M

    Pemerintahan kerajaan Bali selanjutnya dipimpin oleh seorang ratu. Ratu ini bergelar Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi dengan sistem pemerintahan sesuai dengan sistem pemerintahan di Jawa.

    Susunan dan nama-nama jabatan pemerintah yang biasa berlaku di Jawa di pergunakan di Bali. Beliau memerintah pada tahun 905 Çaka atau 983 Masehi. Beberapa ahli memperkirakan ratu ini adalah putri dari Mpu Sindok dari kerajaan Mataram Kuno.

    9. Bali 911 Ç sd 933 Ç (989 M sd 1011 M)

    Kerajaan Bali diperintah oleh Sri Dharma Udayana Warmadewa. Beliau termasyur akan kewibawaan dan kebesarannya sebagai penguasa tunggal, dipuji dan dihormati oleh para pendeta dan para raja, sampai ke Pulau Jawa.

    Baginda mempersunting putri raja dari Medang Kemulan, yang sangat utama, putri Sri Makuta Wangsa Wardhani raja wanita yang bersuamikan Sri Makuta Wangsa Wardhana, bernama Gunapriayadharmapatni Mahendradatta.

    Dalam Sejarah Jawa, Gunapriayadharmapatni Mahendradatta ini adalah adik dari Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tunggadewa

    Dari perkawinannya ini, Prabu Udayana beliau mempunyai tiga orang anak yaitu: Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Kemudian Airlangga menikah dengan putri Raja Dharmawangsa.

    Baginda Prabu Udayana menjadi jungjungan rakyat Bali. Belaia wafat dan abu jenazahnya dicandikan di Banu Wka.

    10. Bali 938 Ç / 1016 M

    Berdasarkan prassati Sembiran A-III, pada tahun 1016M, disebutkan ada seorang ratu yang memerintah Bali, yaitu Ratu Sri Ajnadewi, namun sampai kini belum terdapat petunjuk jelas mengenai hubungan ratu ini dengan pendahulunya, begitu pula hubungannya dengan tokoh lain.

    11. Bali 944 Ç sd 971 Ç (1022 M sd 1049 M)

    Setelah Udayana wafat, putranya yang bernama Marakatapangkaja naik tahta sebagai raja. Marakata bergelar Paduka Aji Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa.

    Putra kedua Udayana ini menjadi raja Bali berikutnya karena putra mahkota Airlangga menjadi raja Medang Kemulan.

    Marakatapangkaja sangat menaruh perhatian pada kesejahteraan rakyatnya. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah yang luas termasuk Gianjar, Buleleng. Tampaksiring dan Bwahan (Danau Batur).

    Beliau disegani rakyatnya, ia membangun bangunan suci di Gunung Kawi, Tampak Siring Bali.

    12. Bali 971 Ç sd 999 Ç (1049M sd 1077 M)

    Pengganti raja Marakatapangkaja adalah adiknya sendiri yang bernama Anak Wungsu. Ia mengeluarkan 28 buah prasasti yang menunjukkan kegiatan pemerintahannya.

    Anak Wungsu, mengaku penjelmaan Wisnu yang masa pemerintahannya dibantu 10 senopati. Rakyat hidup dari bertani, binatang yang berharga adalah kuda. Untuk golongan pedagang laki-laki disebut Wanigrama dan untuk perempuan disebut Wanigrami.

    Anak Wungsu memerintah selama 28 tahun. Selama pemerintahannya, keadaan negara aman tenteram. Anak Wungsu tidak memiliki keturunan dan meninggal tahun 1077 dan didharmakan di Gunung Kawi dekat Tampak Siring Gianyar Bali.

    13. Bali 1000 Ç sd 1010 Ç / 1078M sd 1088M

    Raja Anak Wungsu diganti oleh Sri Walaprabhu yang memerintah tahun 1001-1010 Çaka ( 1078-1088) dengan Gelar Sri Maharaja Sri Walaprabhu, terbaca dalam prasasti Babahan II. Prasasti Ababi A dan Klandis, adalah juga dikeluarkan oleh raja Walaprabhu.

    Perlu diperhatikan bahwa raja-raja Bali Kuno, raja inilah yang pertama menggunakan gelar maharaja setelah ratu Sri Wijaya Mahadewi.

    Setelah Anak Wungsu meninggal, Kerajaan di Bali tetap mengadakan hubungan dengan raja-raja di Jawa.

    14. Bali 1010 Ç sd 1037 Ç / 1088 M sd 1115 M

    Disebutkan ada seorang raja pengganti raja Anak Wungsu benama Sakalendu Kirana.

    Sangat disayangkan belum ditemukan satu bukti sejarah berupa prasasti, yang secara pasti yang menyebutkan keberadaan raja Bali yang satu ini.

    15. Bali 1037 sd 1041 Ç / 1115M sd 1119M

    Baginda Sri Suradhipa berkuasa tahun 1037 sd 1041 Çaka (1115 M sd 1119 M) dengan mengeluarkan prasasti-prasasti Gobleg, Pura Desa III (1037 Çaka), Angsari B (1041 Çaka), Ababi, Tengkulak D dan Prasasti Tamblingan, Pura Endek III.24 Sebagian di antara prasasti-prasasti itu sudah aus dan tidak terbaca lagi.

    Berdasarkan permohonan wakil-wakil pamong dharma (sejenis bangunan suci) di Air Tabar dapat diketahui bahwa raja memberikan izin kepada mereka memperbaharui (umanari) prasastinya.

    Izin itu diberikan karena prasasti semula yang tertulis pada daun rontal (ripta) telah rusak dan tidak terbaca lagi (awuk munggwing ripta tan wnang winaca).

    Setelah berakhir masa pemerintahan raja Suradhipa, secara beruntun raja-raja yang memerintah Bali menggunakan unsur jaya dalam gelarnya.

    III. Wangsa Jaya

    16. Bali 1055 Ç sd 1126 Ç / 1133 M sd 1204 M

    Setelah berakhir masa pemerintahan raja Suradhipa, secara beruntun beberapa raja yang memerintah di Bali, menggunakan unsur jaya dalam gelarnya.

    1. Paduka Sri Maharaja Sri Jayasakti tahun 1055-1072 Çaka (1133M sd 1150M)

    2. Paduka Sri Maharaja Sri Ragajaya tahun 1077 Çaka (1155M)

    3. Paduka Sri Maharaja Aji Jayapangus tahun 1099-1103 Çaka (1178M sd 1181M).

    Selama masa pemerintahan Aji Jayapangus, disebutkan bahwa keamanan terjamin dan ajaran agama berkembang dengan pesat. Masa pemerintahan beliau hanya empat tahun dan beliau wafat pada tahun 1181M. Jenasahnya dimakamkan di Dharma Anyar.
    Putra Baginda dua orang: Sri Hikajaya dan Sri Danadiraja.

    4. Paduka Sri Maharaja Sri Hikajaya hingga tahun Çaka 1122 (tahun 1200 Masehi).
    Pura dan agama tidak mendapat perhatian.

    5. Sri Danadiraja hingga tahun Çaka 1126 (1204 Masehi).
    Agama juga tidak mendapat perhatian.

    6. Sri Danaraja digantikan oleh putranya yang bergelar Sri Jaya Kasunu, baginda melakukan samadi untuk memperoleh restu dewata agar mengadakan perbaikan pada Pura dengan aci-acinya terutama di Besakih: Juga agar melaksanakan kembali tata upacara Hari Galungan. Baginda bergelar Bhatara Sri Parameswara.

    Pulau Bali kembali aman dan tentram. Baginda berputra (buncing) yang laki bernama Sri Masula dan adiknya bernama Sri Masuli.

    7. Paduka Sri Maharaja Aji Ekajayalancana beserta ibunya yaitu Paduka Sri Maharaja Sri Arjaryya Dengjayaketana yang mengeluarkan prasastinya pada tahun 1122 Çaka (1200M sd 1204M).

    IV. Bali 1206 Ç / 1284M – Penyerbuan Singasari ke Bali, Bali di bawah kekuasan Kerajaan Singasari.

    Antara Raja Sri Wirama (1126 Çaka) dan raja berikutnya, yaitu Bhatara Parameswara Hyang ning Hyang Adidewalancana (1182 Çaka) terdapat masa kosong selama tidak kurang dari 56 tahun. Belum terdapat petunjuk yang jelas mengapa hal itu terjadi.

    Tidak banyak dapat dikemukakan mengenai raja Adidewalancana. Baginda mengeluarkan sebuah prasasti, yaitu prasasti Bulihan B (1182 Çaka), yang dianugrahkan kepada wakil-wakil desa Bulihan (karaman i bulihan). Selain itu beliau juga mengeluarkan prasasti Pangsan yang dianugrahkan kepada pariman i nungnung.

    Setelah masa pemerintahan raja Adidewalancana, terdapat lagi masa tanpa raja selama lebih kurang 64 tahun, yakni tahun 1182-1246 Çaka (1260-1324).

    Pada periode itu terbit hanya dua buah prasasti, yaitu prasasti Pengotan E (1218 Çaka) dan Sukawana D (1222 Çaka), atas nama Kbo Parud (putra Ken Demung Sasabungalan). Tokoh itu berkedudukan sebagai rajapatih, bukan sebagai raja.

    Keadaan ini kemungkinan besar ada kaitannya dengan keterangan yang dapat disimak isi pupuh XLII : 1 Nāgarakṛtāgama. Di sana dikatakan bahwa pada tahun 1206 Çaka (1284) Raja Krtanagara dari Singasari berhasil menaklukkan Bali serta menawan raja Bali dan ditahan sebagai tawanan perang.

    sakabda yamasunyasuryya diwasa nrpati muwah amati durjjana
    ikang mahisa rangkah atyaya katungka nika pinaleh ing sanagara
    ring anggawiyatarkka saka sira motusan kana ri bali curnnitan
    ndatandwa kawenang ratunya kahanang teka marek i narendra sakrama.

    [Tahun Çaka yamasunyasuryya (1202Ç) Baginda raja memberantas penjahat,
    Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh negara,
    Tahun Çaka anggawiyatarkka (1206Ç) mengirim utusan menghancurkan Bali,
    Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai orang tawanan.]

    Dalam sumber itu tidak disebutkan nama atau gelar raja Bali yang ditawan. Dengan alasan yang kurang jelas, namun dapat diduga bahwa raja itu adalah Adidewalancana.

    Swasti Astu
    matur suksma,

    cantrik bayuaji

  31. Selamat Tanggap warso Mas Arief Sujono, semoga dilimpahi ketabahan, kesabaran dan hidayahnya, Hari-hari yang berlalu semoga berkah dan yang akan datang berlimpah rahmatNya. Amiin

  32. waduh….., kok tidak tahu saya (terima kasih Ki BP)

    SELAMAT ULANG TAHUN

    Ki Arief “Kompor/sandikala” Sujana

    semoga dilimpahi ketabahan, kesabaran dan hidayahNya. Hari-hari yang berlalu semoga berkah dan yang akan datang berlimpah rahmatNya

  33. SELAMAT ULANG TAHUN buat Adhimas Kompor.

    Dua dua Januari……kita berjanji……….
    coba saling mengerti…..apa di dalam hati……..

    Ane ngarti ente misih berduka karena kepulangan Sang Permaisuri, namun ane harap ente tetep tabah dan mensyukuri semua karunia yang dilimpahkan ALLAH.SWT.
    Tetap semangat dan jaga anak2 dengan baik..

    • SELAMAT ULANG TAHUN buat ki MAHESA KOMPOR.

  34. SELAMAT ULANG TAHUN

  35. Assalamu’alaikum, selamat ulang tahun Ki Arief “Kompor” Sudjana…
    Semoga selalu mendapatkan rahmat dan hidayah dari ALLAH SWT,
    dan tetap semangat mengurus dan merawat putra-putrinya…
    Amin.

  36. selamat pagi semuanya

  37. HADIR lagi…..hampir 3 hari cantrik absen singgah padepokan,
    sampe2 cantrik paling buncit mengucapkan selamat ULTAH
    pada ki Mahesa Kompor.

    “tetap semangat”…..sekali lagi SEMANGAT,

    • “semangat tetap”……SEMANGATsekali lagi.

      • semangat tetap

  38. Assalamualaikum, sahabat sedhoyo.
    Hari ini baru buka gandhok,
    Terima kasih Ki Bayu, makin bertambah sangu untuk mahesa Amping “menelusuri”bali.
    Kamsia untuk sahabat semua atas ucapan “ultah” genap 1/2 abad di dunia yang indah ini….hehehe…ternyata sudah cukup tua…perasaan baru kemarin basah-basahan telanjang bugil saat hujan turun bersama teman2…..
    KAMSIA
    KAMSIA

    • Waduh…..
      Ki Sandikala sudah hadir lagi
      monggo Ki, pakeliran sudah siap menyambut kehadiran pak Dhalang lagi.
      Sementara P. satpam masih istirahat, sampai akhir minggu saya sendiri yang jadi Satpamnya.
      monggo

    • Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,

      Sampurasun,
      Wilujêng sumping deui, Sugêng rawuh Ki Arief ‘Sandikala’ Sudjana.

      Sudah kangen terhadap åntåwacånå dan gojéganKi Dhalang ‘Kompor”.

      Insya Allah dongengku akan hadir di sini ‘menemani’ si Mahesa Amping di Pulau Dewata (menemani atau ngrecokin).

      Mangga dilanjut Ki.

      Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

      Nuhun

      cantrik bayuaji

  39. ||Selamat malam semuanya||

  40. Sementara itu sang dewi malam telah bergantungan di puncak pohon Kemboja yang menari tertiup angin malam yang genit dipojok halaman rumah Ki Demang.

    Terlihat Mahesa Amping, Ki Amararaja, Empu Dangka dan Ki Demang telah berkumpul di Saung Bambu sebelah kiri halaman rumah.

    “Maaf, kami masak terburu-buru, mungkin bebek betutunya masih alot”, berkata Nyi Demang sambil meletakkan hidangan malam kepada para tamunya.

    “Masih ada persediaan brem ketan hitam, semoga dapat menghangatkan malam yang dingin”, berkata Ni Wayan Aolani sambil meletakkan minuman brem dan sebakul nasi putih hangat.

    “Kenapa cuma dipandang ?”, berkata Ki Demang ketika Nyi Demang dan Putrinya telah masuk kembali kedalam rumah mempersilahkan ketiga tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

    “Anggap saja dirumah sendiri”, berkata kembali Ki Demang memberi semangat kepada ketiga tamunya yang mulai menyiduk nasi putih hangat dan bebek betutu yang sangat menggoda selera itu.

    Ketika hari terus merangkak perlahan mengikis malam, mereka masih berada di saung depan halaman rumah, bercakap-cakap sambil memandang bintang yang bertebaran dilangit.

    “Aku baru melihat ada kunang-kunang terbang setinggi pohon kelapa”, berkata Ki Amararaja sambil menunjuk jauh kedepan.

    Yang dilihat oleh Ki Amararaja adalah lima buah cahaya kerlap-kerlip berjalan setinggi pohon kelapa menjadi perhatian semua yang ada di saung bambu itu.

    “Itu bukan kunang-kunang biasa, mereka adalah para manusia Liya-ak yang tengah menikmati keindahan suasana malam”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum.

    “Aku terlahir di tanah Bali ini, baru tahu ada manusia Liya-ak yang dapat berujud sebagai kunang-kunang. Apakah mereka yang juga disebut sebagai manusia Leak ?”, bertanya Ki Demang yang merasa tertarik tentang Manusia Liya-ak yang dikatakan oleh Empu Dangka.

    “Keduanya berasal dari aliran ilmu yang berbeda, manusia Liya-ak telah melepaskan segala amarah yang menyelimuti jiwanya hingga menemukan anugerah pencerminan wajah dan sifat sang Hyiang Tunggal. Sementara itu para manusia Leak adalah para pemuja kegelapan”, berkata Empu Dangka kepada Ki Demang.

    “Dalam kehidupan sehari-hari, apakah ada tanda yang dapat membedakan kehadiran mereka?”, bertanya Ki Demang.

    “Tidak ada perbedaannya, mereka tetap butuh makan nasi jagung sebagaimana kita”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum.

    Sementara itu lima buah cahaya seperti kunang-kunang telah menghilang dari pandangan mereka. Dan malam telah merangkak jauh dipenghujung malam.

  41. Swasti Astu
    ||Rahajêng sêmêngan, Sugêng énjang||

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

    Waosan kaping I.Wedaran kaping-02
    PARA PENGUASA BALI

    Pada wedaran kali ini, kita baca satu demi satu peran raja-raja para penguasa Bali sejak berdirinya Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang, semasa wangsa Sanjaya, hingga masuknya imperium Majapahit ke Balidwipa.

    Telisik satu persatu ini tentunya berdasarkan data bukti sejarah yang sempat ditemukan dan dicatat, serta diuji validitas datanya.

    I. Wangsa Sanjaya

    Bali, sekitar tahun 804 Ç / 882 M.

    Menelisik sejarah Kerajaan Bali Kuno, berdasarkan temuan bukti-bukti sejarah, bahwa kerajaan tertua di Bali yang tercatat dalam sejarah adalah Kerajaan Singamandawa (yang didirikan sekitar tahun 804 Ç / 882 M), dan berlanjut Kerajaan Balingkang (mulai tahun 1103 Ç atau 1181 M).

    Kerajaan Singamandawa ini terletak di sekitar Batur, di tanah Bangli, yakni sekitar Kintamani. Keberadaannya dikukuhkan melalui 15 prasasti yang berangka tahun 804 M.

    Dalam prasasti itu disebutkan raja Singamandawa adalah Ugrasena dari Wangsa Sanjaya.

    Sanjaya adalah raja dari sebuah kerajaan tua di Jawa Tengah yaitu Kerajaan Mataram Kuno. Dalam Purana, Usana, Babad sering disebut dengan nama Kerajaan Keling.

    Raja Sanjaya adalah pendiri dinasti Sanjaya dengan gelar Sanjayawamsa. Kerajaan Mataram Kuno adalah merupakan kelanjutan dari Kerajaan Kalingga di Jawa Barat yang telah ada tahun 414 M, yang menurut penuturan seoarang peziarah China yang bernama Fa Hian menyebut nama Kalingga dengan nama Holing.

    Asal usul Kerajaan Kalingga ini adalah dari India Selatan yang karena terdesak di wilayah India maka Raja Kalinga beserta keluarganya hijrah ke Indonesia dan terdampar di Jawa Barat.

    Di Jawa Barat Raja Kalingga dan para pengikutnya kemudian mendirikan Kerajaan Kalingga. Sebagai Raja di Kerajaan Kalingga dikenal 2 orang yaitu Raja Sannaha dan Ratu Simmo (Ratu Sima).

    Setelah pemerintahan Ratu Sima tidak terdengar lagi raja penggantinya sampai tahun 732 M muncul kerajaan baru di Jawa Tengah dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Medang.

    Para ahli sejarah menduga Kerajaan Mataram Kuno ini adalah kelanjutan dari kerajaan Kalingga.

    Adapun kepindahannya dari Jawa Barat ke Jawa tengah diperkirakan karena terdesak oleh munculnya Kerajaan Tarumanegara pada abad ke 6 dengan Rajanya Purnawarman dari wangsa Warma.

    Kerajaan Mataram Kuno ini melebarkan kekuasaanya sampai ke Jawa Timur dan Bali. Di Jawa Timur dikenal adanya kerajaan Kanjuruhan (Kerajaan yang berada di daerah Malang, sebelum berdirinya Kerajaan Singasari), berdasarkan prasasti Dinoyo tahun 760 M dan di Bali terdapat kerajaan Singamandawa berdasarkan prasasti Sikawana A tahun 882 M.

    Catatan:

    Kanjuruhan adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Timur, yang pusatnya berada di dekat kota Malang sekarang. Kanjuruhan diduga telah berdiri pada abad ke-6 M, sezaman dengan Kerajaan Tarumanegara, Bekasi – Bogor sekarang. Bukti tertulis mengenai kerajaan Kanjuruha ini adalah Prasasti Dinoyo. Rajanya yang terkenal adalah Gajayana. Peninggalan lainnya adalah Candi Badut dan Candi Wurung.

    Besar kemungkinan raja dari kerajaan tersebut adalah dari keluarga Sanjaya atau Sanjayawamsa karena kesamaan prasasti-prasasti Canggal 732 M dan Prasasti Dinoyo 760 M dan Prasasti Sukawana 882 M dalam bidang keagamaan yang dianut.

    Adapun nama balingkang berasal dari kata “bali + ing + kang“. Secara tuturan dan bukti tertulis, ini dikaitkan dengan pernikahan Raja Jaya Pangus Harkajalancana yang memerintah pada tahun 1103 Ç sd 1191 Ç atau 1181 M sd 1269 M.

    Raja Jaya Pangus punya dua permaisuri, Paduka Bhatari Sri Parameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Cacangkaja Cihna — (Cihna, merujuk pada kata Cina).

    Dalam cerita rakyat yang berkembang disebut, istri Cinanya bernama Kang Ci Wi, putri Tuan Subandar (mungkin yang dimaksud adalah Syahbandar atau Saudagar) pedagang dari Cina. Maka digabunglah Bali-Ing-Kang menjadi Balingkang.

    Kelak ketika terjadi penyerbuan Bali oleh pasukan tentara Majapahit dalam rangka mewujudkan Sumpah Maha Patih Gajah Mada, yang dikenal dengan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, Masyarakat Bali Kuno di sekitar Danau dan Gunung Batur tercatat amat sulit ditundukkan oleh Raja Sri Kresna Kepakisan sebagai wakil mahkota Majapahit di Bali yang ditempatkan oleh Maha Patih Gajah Mada.

    Dalam upacara-upacara keagamaan, bahkan hingga kini, Masyarakat Bali di sekitar Danau dan Gunung Batur belum mau menggunakan Ida Pedanda sebagai Sang Trininya, mereka tetap menggunakan Jro Mangku dan Jro Kebayan dengan upacara podgala atau mewinten pang solas.

    Masyarakat Bali Mula di sekitar Danau Batur menyebut dirinya dengan Gebog Domas (Kelompok Delapan Ratus). Kelompok ini dibagi jadi empat bagian Gebog Satak (Dua Ratus) Sukawana, Kintamani, Selulung dan Bantang. Kelompok ini memiliki Tri Kahyangan yakni:

    (1) Pura Pucak Panarajon sebagai pusatnya terletak di Sukawana, Kintamani, dengan tiga tingkatan pura yang disebut Gunung Kahuripan. Tingkatannya, Pura Panarajon (Ida Bhatara Siwa Sakti), Pucak Panulisan (sejajar dengan pusat pemerintahan — dulu sebagai keraton Raja Jaya Pangus), dan Pucak Wangun Hurip (simbol membangun kehidupan).

    (2) Pura Bale Agung di Sukawana dengan Ida Bhatara Ratu Sakti Kentel Gumi, setara dengan Bhatara Brahma,

    (3) Pura Pusering Jagat — Pura Puseh Panjingan di Desa Les-Penuktukan, Tejakula, Buleleng, berstana Ida Ratu Sakti Pusering Jagat setara dengan Bhatara Wisnu, dan

    (4) Pura Dalem Balingkang berstana Ida Dalem Kepogan (Dalem Balingkang) setara dengan Dewa Siwa.

    ***

    Kerajaan Singamandawa, seperti telah disebutkan di atas sebagai kerajaan Hindu tertua di Bali yang diperkirakan berada di tanah Bangli, yakni sekitar Kintamani.

    Demikian pula Dinasti Warmadewa dan Dinasti Kediri yang kemudian menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Jika dirunut asal usulnya, mereka berasal dari Tanah Bangli.

    Sesungguhnya Bangli tidak hanya menjadi kelahiran peradaban Bali tetapi juga kelahiran Peradaban Nusantara.

    Dikisahkan, bahwa di tahun 1284 M, Kebo Parud yang telah menaklukan Bali membawa Putri Bangli bernama Parameswara Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lencana ke Jawa sebagai persembahan kepada Prabu Kertanegara. Ratu Parameswara Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lencana ke Jawa bersama dengan putrinya yang masih kecil bernama Tri Bhuana. Putri ini kemudian diangkat anak oleh Sri Baginda Kertanegara.

    Siapa Kebo Parud?. Nanti akan didongengkan tersendiri.

    Setelah Singasari runtuh, akibat serbuan Jayakatwang, Tri Bhuana menikah dengan Raden Wijaya, pendiri Majapahit.

    Menurut Prasasti Balawi dan Prasasti Sukamerta (angka tahun 1296 M) dan Pujasastra Nāgarakṛtāgama, Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanegara, salah satunya adalah Dyah Sri Tribhūwaneśwari, yang dijadikan permaisuri dengan gelar Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari..

    Dalam Nāgarakṛtāgama nama Tribhuwaneswari sering disingkat Tribhuwana atau Tri Bhuana. Nāgarakṛtāgama menyebutkan sebagai putri sulung Kertanegara.

    Tri Bhuana kemudian menurunkan seorang putri bernama Dyah Gitarja, kelak setelah Raja Jayanegara tewas, Dyah Gitarja menduduki tahta Majapahit, dan sebagai Maharani Majapahit memiliki nama abhiseka Çri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

    Putri inilah yang menikah dengan Bhre Tumapel Kertawardhana, dan melahirkan Hayam Wuruk, kelak adalah raja besar di Majapahit.

    ***

    Bangli juga mencatat sejarah sebagai basis pertahanan atas penjajahan peradaban luar Bali yang pernah dengan massif melakukan penaklukan. Songan, Abang, Trunyan dan banyak lagi desa-desa kuno di tanah Bangli adalah pusat-pusat perlawanan manusia Bali Aga atas ekspansi imperium Majapahit.

    Kekuatan bertahan atas serbuan peradaban Majapahit pernah membuat pusat kekuasaan di tanah Jawa tersebut harus menerapkan strategi-strategi yang tidak cukup hanya dengan kekuatan angkatan perang.

    Pemberontakan fisik mungkin bisa diredam, namun demikian perlawanan terhadap penjajahan peradaban tanah Jawa hingga kini masih bisa dilihat misalnya dengan sistem ritual perlakuan terhadap jenazah di Desa Trunyan.

    ***

    Dalam struktur kerajaan lama, Raja-raja Bali dibantu oleh badan penasehat yang disebut “Pakirakiran I Jro Makabehan” yang terdiri dari beberapa Senapati dan Pendeta Syiwa yang bergelar “Dang Acaryya” dan Pendeta Buddha yang bergelar “Dhang Upadhyaya”.

    Raja didampingi oleh badan kerajaan yang disebut “Pasamuan Agung” yang tugasnya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada raja mengenai jalannya pemerintahan. Raja juga dibantu oleh Patih, Prebekel, dan Punggawa-punggawa.

    Ratu Ugrasena merupakan keturunan Wangsa Keling atau Kalingga atau dikenal dengan nama Wangsa Sanjaya yang berasal dari India Selatan. Pada jaman ini agama Budha mulai masuk ke Bali setelah terlebih dahulu berkembang di Jawa.

    Pada tahun 913 M muncul Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan rajanya Kesari Warmadewa yang merupakan keturunan wangsa Warmadewa yang berasal dari Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur) dan Sriwijaya (Sumatera Selatan).

    Munculnya kerajaan ini tidak terlepas dari persaingan antara wangsa Sanjaya dengan wangsa Warma di Jawa Barat pada abad ke-6.

    Kedua Kerajaan bersaing untuk menguasai daerah yang lebih luas sehingga kedua kerajaan akhirnya terlibat dalam peperangan secara terus menerus.

    Di Bali Kerajaan Singamandawa terdesak sehingga hanya bertahan di pegunungan Kintamani dan Buleleng sedangkan Wangsa Warma telah menguasai wilayah yang lebih luas yang dibuktikan dengan prasasti berupa pahatan batu di Penataran Gede Malet dan Pura Panempaan Manukaya.

    Setelah tahun 888 Ç tidak terdengar lagi raja raja Singamandawa karena prasasti prasasti yang dikeluarkan semuanya dari raja raja Warmadewa sehingga diperkirakan Kerajaan-kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang jatuh ketangan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan jalan damai karena salah satu Raja keturunan wangsa Warmadewa yaitu Raja Tabanendra Warmadewa sangat menghormati Sang Ratu Ugrasena yang diuraikan dalam prasati Kintamani A yang menyebutkan “Sang Ratu Sang Sinddha Dewata Sang Lumah di Air Madatu.

    Dengan ini maka berakhir pula masa kedinastian Wangsa Sanjaya di Bali dan digantikan oleh Wangsa Warmadewa. Lalu kemanakah keturunan keluarga Ugrasena tersebut?

    Menurut tradisi dari kerajaan kerajaan kuno bilamana ada kerajaan yang dikalahkan maka keluarga raja yang ditaklukkan tersebut diserahi tugas dalam pemerintahan oleh Raja yang berkuasa sebagai patih atau pejabat kerajaan lainnya, apa lagi penaklukannya dilakukan dengan cara damai.

    Kalau pendapat ini benar maka keturunan Ratu Ugrasena pada jaman pemerintahan wangsa Warmadewa yaitu Sri Astasura Ratna Bumi Banten menduduki jabatan menteri menteri kerajaan diantaranya:
    1. Pangeran Tambyak
    2. Ki Kalung Singkal dari Taro
    3. Ki Tunjung Tutur dari Desa Tenganan
    4. Ki Tunjung Biru dari Tianyar
    5. Pangeran Kopang dari Seraya
    6. Ki Buahan di Batur
    7. Rakriyan Girimana di Ularan
    8. Pangeran Tangkas Pangeran Mas
    9. Perdana Menteri Ki Pasung Grigis di Tengkulak
    10. Ki Kebo Iwa di Blahbatuh.

    Demikianlah keturunan Wangsa Sanjaya yang menduduki jabatan pemerintahan pada jaman Raja Sri Ratna Bumi Banten pada saat ekspedisi Majapahit ke Bali untuk menaklukan kerajaan Bedulu.

    Di antara mereka yang dapat dicari keturunannya sampai sekarang hanyalah Rakriyan Girikmana dari Ularan Singaraja yang menjabat sebagai panglima perang pasukan Dulang Mangap Kerajaan Gelgel yang bergelar Jelantik. Beliau berhasil menaklukan Kerajaan Blambangan.

    Kryan Ularan panglima Dulang Mangap mempunyai anak yang bernama Jelantik Bongol yang dijuluki demikian karena beliau mengamuk di medan perang Bali-Pasuruan tanpa memakai senjata sebagai penebusan terhadap dosa ayahnya yang ingkar atas perintah Dalem.

    Swasti Astu
    matur suksma,

    cantrik bayuaji

  42. selamat HADIR kembali ning padepokan siNI ki MAHESA Kompor,

    • 1/2 abad belom terlalu TUA…..malah ki Gembleh bilang
      ibarat buah 1/2 abad sedang ranum2nya.

      saestu 110 % berguyon kok ki,

  43. selamat bergabung kembali Ki, matur nuwun

    • sami-sami ki,

      • kula nggih nDerek sami-sami Ki,

  44. Pagi itu langit begitu bening diatas bumi Kademangan Rendang. Mentari belum muncul, hanya selembar cahaya merahnya menguas warna awan menjadi kuning kemerahan diujung timur bumi, warna daun dan rerumputan menjadi begitu jelas kehijauannya, alam semesta pagi yang bening dan jernih itu begitu elok rupawan bagai perawan wangi keluar dari sungai setelah mandi.

    “Kademangan Rendang ini akan merindukan kalian”, berkata Ki Demang mengantar Empu Dangka dan Mahesa Amping keluar dari regol rumah.

    “Semoga dalam pengembaraanku dapat berjumpa kembali dengan kalian”, berkata Ki Amararaja yang juga ikut mengantar.

    “Terima kasih untuk segala kehangatan yang kami rasakan dirumah ini”, berkata Empu Dangka kepada Ki Demang dan Ki Amararaja.

    Ki Demang dan Ki Amararaja masih terus memandang kearah Empu Dangka dan Mahesa Amping yang telah melangkah di jalan tanah Kademangan yang sudah mulai ramai. Disebuah kelokan jalan Empu Dangka dan Mahesa Amping akhirnya menghilang tidak terlihat lagi.

    “Mereka adalah para pengembara sejati, terbang bebas merdeka seperti elang dilangit luas”, berkata Ki Demang ketika Empu Dangka dan Mahesa Amping sudah menghilang di kelokan jalan.

    Sementara itu langit pagi sudah terang disinari cahaya mentari yang hangat. Terlihat dua orang lelaki melangkahkan kakinya begitu ringan menyusuri jalan setapak. Langkah kaki mereka sepertinya berayun bebas, tidak perlahan namun juga tidak melaju terburu-buru. Mereka adalah Empu Dangka dan Mahesa Amping yang berjalan sambil menikmati alam pemandangan yang elok di daratan Balidwipa. Kadang terlihat mereka diantara jalan pematang sawah pegunungan hijau yang luas berundak seperti tangga alam pendakian raksasa menuju puncak gunung. Kadang juga langkah kaki mereka harus merambat perlahan menembus sebuah hutan pegunungan yang lebat jauh dari keramaian manusia.

    Matahari sudah cukup tinggi diatas cakrawala langit, namun cahayanya redup terhalang kerimbunan dahan dan daun hutan kayu yang lebat. Tanah dihutan itu sepertinya tidak pernah tersentuh cahaya sepanjang hari. Sementara hembusan angin yang masuk diantara dedaunan membawa semerbak harum tanah hutan yang lembab.

    “Ternyata begitu mudah mengundang kalian”, berkata seorang tua yang tiba-tiba saja datang menghadang langkah kaki Mahesa Amping dan Empu Dangka.

    Empu Dangka dan Mahesa Amping terperanjat, namun mereka dengan cepat dapat menguasai perasaan hatinya.

    Dibelakang orang tua itu bermunculan empat orang pemuda yang berpakaian cukup rapih.

    “Siapakah kalian dan apa keperluan kalian menghadang perjalanan kami ?”, berkata Empu Dangka penuh ketenangan.

    “jangan berpura-pura, pasti kalian para pemuja kegelapan yang tengah mencari kami”, berkata orang tua itu sambil tersenyum.

    • kamsia pak DALANG,

      selamat pagi, selamat beraktifas kembali…..semoga SUKSES,

      • HADIR di pagi hari…..siapa IKUT,

  45. mampir sebentar…..cantrik ada acara sore ini,

    sugeng dalu,

  46. //Sugêng dalu\\

  47. sugeng dalu, matur nuwun

    • tak nunut Ki Bancak,
      sugeng dalu, matur nuwun.

  48. “kami Cuma pengembara yang kebetulan lewat hutan ini”, berkata Empu Dangka dengan penuh ketenangan memandang wajah orang tua didepannya.

    Selintas Empu Dangka dan orang tua itu saling pandang. Tidak sedikitpun terlihat kegarangan diwajah orang tua itu.

    “Maaf, aku telah salah menerka kalian”, berkata orang tua itu percaya dengan apa yang dikatakan Empu Dangka.

    Namun tiba-tiba saja terasa angin disekitar hutan itu bergulung-gulung, beberapa daun kering beterbangan.

    “Sudah kuduga, penampakan lima buah cahaya di Kademangan Rendang sebuah upaya memancing kehadiran kami”, terdengar suara entah dari mana sumbernya bercampur dengan suara tertawa tinggi yang menggetarkan dada.”Wahai para manusia Liya-ak, saat ini kalianlah buruan kami”, kembali terdengar suara dari berbagai arah.

    “Lekas nampakkan wujudmu, kami tidak sabar untuk membasmi manusia Leak di bumi ini”, berkata orang tua itu dengan suara yang tidak kalah tingginya menggetarkan suasana disekelilingnya.

    “Aku juga sudah tidak sabar untuk memakan hati manusia Liya-ak”, berkata seseorang yang entah dari mana datangnya sudah ada dibawah pohon kayu besar. Melihat penampilannya yang memakai pakaian terusan yang kotor dengan wajah yang juga kotor membuat siapapun yang memandangnya akan meninggalkan perasaan seram.Sementara matanya berkilat bercahaya seperti mata yang begitu kejam dan penuh kebengisan.

    “Jangan takut kami akan mengeroyok, mari kita lakukan tradisi perkelahian yang jujur sebagaimana para buyut kita”, berkata orang tua itu yang disebut manusia Liya-ak mendekati seseorang yang ternyata adalah manusia Leak.

    “Memakan jantung manusia Liya-ak akan menambah kekuatan”, berkata Manusia Leak sambil mengusap air liurnya yang tidak terasa keluar menetes bersama lidahnya yang sepertinya sengaja dijulur-julurkan, sebuah tingkah laku yang sangat menjijikkan.

    “Membunuh manusia Leak adalah sepuluh kebajikan”, berkata manusia Liya-ak dengan mata penuh kebencian memandang manusia Leak dihadapannya.
    Ternyata manusia Leak telah melakukan apa yang dikatakannya, tiba-tiba saja seperti terbang meluncur dengan kepala didepan menyambar kearah dada manusia Liya-ak.

    Nyaris dada orang tua itu terkoyak sambaran dan terkaman manusia Leak dengan ketajaman giginya bila saja dengan gerakan yang cekatan meloncat terbang kesamping sambil menjulurkan kakinya balas menyerang manusia Leak.

    • Kaamsssiiiiiiiiiiaaaaaa…..!!!!!!!

  49. sarapan pagi, matur nuwun

  50. Sepertinya manusia Leak itu sudah membaca apa yang dilakukan musuhnya, masih dalam keadaan terbang belum lagi menjejakkan kakinya dibumi, seperti ular besut tubuhnya begitu liat langsung berubah arah meluncur menerkam leher orang tua itu.

    Kembali orang tua itu melenting kesamping sambil membalas menyerang kearah tubuh manusia Leak dengan begitu cepat dan tidak kalah bahayanya.

    Demikianlah dua orang dari dua aliran ilmu yang saling bermusuhan entah sejak kapan di daratan Bali itu telah saling menyerang dan balas menyerang.
    Semakin lama semakin cepat dan begitu menegangkan.

    Sementara itu Empu Dangka menarik tangan Mahesa Amping bergeser agak menjauh. Tidak terasa dada mereka berdua agak berdebar menyaksikan dua kekuatan ilmu yang berbeda meski berasal dari tempat yang sama yaitu sebuah negeri yang sangat jauh dari Tanah Hindu.

    Sebagaimana Empu Dangka dan Mahesa Amping, keempat pemuda yang mengiringi orang tua itu juga telah bergeser menjauh. Mereka juga dengan wajah yang tegang menyaksikan pertempuran itu.

    Tiba-tiba saja manusia Leak itu telah melenting kebelakang sekitar sepuluh langkah. Terlihat manusis Leak telah dalam keadaan duduk bersila dengan lengan rebah diatas paha dan telapak tangan terbuka keatas.
    Ternyata orang tua yang dikatakan sebagai manusia Liya-ak juga melakukan yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh manusia Leak.

    “Mari kita lanjutkan pertemburan ini di alam tak terbatas”, berkata Manusia Leak yang tiba-tiba saja keluar dari ubun-ubunnya sebuah cahaya bulat bersinar berwarna kemerahan.

    Berbarengan keluarnya cahaya kemerahan dari ubun-ubun manusia Leak, dari mulut orang tua itu juga telah keluar sebuah cahaya bulat bersinar kehijauan.
    Yang terjadi kemudian adalah sebuah pemandangan yang luar biasa, dua buah cahaya bulat saling berkejar diudara, yang satu bersinar kemerahan sementara yang lainnya bersinar kehijauan. Bahkan kadang dua cahaya itu saling bertabrakan menimbulkan suara yang berdentam keras seperti suara guntur mengguncang bumi.

    Sementara dua cahaya saling bertempur, keempat pemuda yang menjadi pengikut manusia Liya-ak telah melakukan hal yang sama sebagaimana orang tua dan manusia Leak. Mereka berjejer duduk bersila. Rupanya mereka telah mengosongkan dirinya, terlihat empat buah cahaya bulat bersinar kehijauan diatas kepala masing-masing.

    “Mereka telah keluar dari rangka jasadnya”, berkata Mahesa Amping yang diam-diam telah mengendapkan segala akal budinya, melihat dengan mata bathinnya. Yang dilihatnya saat itu adalah sebagaimana pertempuran sebelumnya ketika mereka beradu ilmu dengan jasad mereka. Ternyata mata wadag hanya mampu melihat cahaya bulat yang saling menyerang, sementara dengan mata bathin, Mahesa Amping dapat melihat mereka bertempur sebagaimana jasad kasar bertempur.

    • monggo…….mengisi libur sabtuan….

      • 5 hari diribeti tugas2 cangkulan….libur 2 hari
        bisa untuk melupakan sejenak kepenatan.

        KAMSIA ki MAHESA, suguhan pagi sampun
        cantrik sruput duluan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: