SST-02

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 10 Maret 2012 at 00:31  Comments (27)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sst-02/trackback/

RSS feed for comments on this post.

27 KomentarTinggalkan komentar

  1. monggo……

  2. Sugêng énjang

  3. Sugeng enjang Ki Bayu soho sanak kadang sedoyo …….

  4. Sugeng dalu,
    Ki Seno
    pak Satpam
    Ki Bayuaji
    Ki HaryoM
    saha sanak kadhang sedaya,

    sugeng wiken lan wungon malem minggon.

    • Hayo bedane kadhang , kadang kaliyan kandang niku nopo ki Gembleh???????

      • Kleru dhing , maksude KANDHANG

        • Kadhang = kadhang2…kita berjumpa lagi..(lagune Koesplus).
          Kadang = kadang mBulan.
          Kandhang = Bunda kandhang, saudara kandhang

  5. ADBM seri 1 jilid 5 format djvu sudah ada di gandoknya: http://adbmcadangan.wordpress.com/2010/10/05/api-di-bukit-menoreh/

    • Tambah siip wae matur nuwun P Satpam …….

  6. sugeng siang

  7. sugeng pak slamet siang

  8. Nuwun

    Katur pårå sanak kadang padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat sinu darsono ing budi, såhå ingkang tansah marsudi ing rèh kautaman.

    ||Sugêng dalu||

    • Sugêng dalu Ki

      • Kasinggihan Ki Bayu,
        sugeng dalu ugi.

        • lho…, kulo sanes Ki Bayu

    • Kasinggihan ki Bayu , sugeng enjang.

  9. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM

    DANANG SUTÅWIJÅYÅ
    — de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå —

    Waosan kaping-8. Wedaran kaping-08
    KANJÊNG RATU KIDUL

    ANALISIS SEJARAH
    —beralihnya negara yang berbasis maritim dan dagang ke negara ‘kampung sawah’ yang berbasis agraris—

    Kanjêng Ratu Kidul, sosok kontroversial

    Kanjêng Ratu Kidul adalah sosok kontroversial. Keberadaan dan sosoknya yang misterius kerap dinafikan, tetapi sekaligus dicari-cari orang. Kontroversi ini disebabkan Kanjêng Ratu Kidul adalah makhluk halus yang hidup di alam limunan (gaib) sehingga sukar untuk membuktikanya secara ilmiah dan rasional.

    Meskipun demikian, bagi masyarakat Jawa, sosok Kanjêng Ratu Kidul merupakan simbol yang hidup di tengah-tengah budaya, yang dihidupkan dan dielu-elukan masyarakat Jawa hingga sosoknya begitu melegenda di tengah-tengah masyarakat Jawa pada umumya.

    Riwayat legendanya diteruskan dari generasi ke generasi seiring dengan perkembangan sejarah dan budaya Jawa. Banyak versi tentang kisah Kanjêng Ratu Kidul, yang umumya selalu diceritakan melalui cerita lisan. Seperti kisah pernikahan gaib Kanjêng Ratu Kidul dengan Panembahan Senopati hingga keturunan-keturunannya.

    Keyakinan beberapa kelompok masyarakat Jawa tentang keberadaan Kanjêng Ratu Kidul, selalu mengundang kontroversi, baik di kalangan orang Jawa sendiri, Penghayat Kejawen, Muslim Jawa, apalagi bila dikaitkan dengan aqidah.

    Kontroversi tersebut diawali dengan apakah Kanjêng Ratu Kidul itu sosok yang nyata atau hanya mitos belaka. Tergolong jenis makhluk apakah. Manusia atau Jin? Bagaimana asal mulanya, di mana tempat kediamannya.

    Kontroversi juga merambah kepada aspek keabsahan teks-teks babad, dan dongeng lisan cerita rakyat Kanjêng Ratu Kidul, kemudian sejak kapan keyakinan tersebut timbul, di kawasan mana saja terdapat kepercayaan tersebut.

    Kontroversi juga menyangkut persoalan, apakah keyakinan tersebut memiliki dampak bagi kehidupan manusia (Jawa terutama), masih relevankan keyakinan itu untuk masa sekarang, dan bagaimana pandangan agama, terutama agama Islam terhadap hal tersebut. Dalam beberapa hal dongeng inipun dapat menambah kontroversial, dan dapat memunculkan perkara-perkara yang sensitif.

    Keyakinan terhadap keberadaan dongeng Kanjêng Ratu Kidul (sudah tentu dengan patihnya yang bernama Nyi Rara Kidul), terkait dengan beberapa aspek, yaitu:

    a. aspek keberadaan Kerajaan Mataram (kini Kesultanan Nyayogyakartå Hadiningrat dan Kasunanan Surakartå Hadiningrat);

    b. aspek keyakinan dan wawasan “agama Jawa”, sejak zaman Medhang Mataram Lama;

    c. aspek kondisi geografis Nusantara, Jawa terutama yang dikelilingi Samudra.
    Citra manusia Jawa sekitar abad ke-8 sampai abad ke-17 terkenal pelaut yang disegani. (Lihat: Relief Perahu Jung Candi Borobudur. Ingat juga bagaimana peran Sang Maha Patih Gajah Mada dalam mempersatukan Nusantara di bawah kedaulatan Kerajaan Majapahit, dengan armada lautnya dibawah pimpinan Panglima Angkatan Laut Kerajaan Majapahit Senapati Sarwayala Nala. Simak juga sejarah pertempuran Armada Kesultanan Demak ketika berhadapan dengan Armada Portugis di perairan Malaka, pada tahun 1513).
    Ingat lagu “Nenek moyangku orang pelaut

    d. aspek ajaran tasawuf Islam;

    yang kesemuanya ikut andil terhadap perkembangan terhadap keberadaan Kanjêng Ratu Kidul.

    Dalam pandangan orang jawa, Kanjêng Ratu Kidul merupakan bentuk kesadaran tentang adanya kehidupan lain dibalik kehidupan jasmani.

    Oleh karenanya, keyakinan terhadap eksistensi dan posisnya oleh orang Jawa dihayati sebagai salah satu wujud keyakinan terhadap alam dan makhluk halus (gaib), sebagaimana keyakinan terhadap malaikat, jin, roh dan sebagainya.

    Kanjêng Ratu Kidul diyakini sebagai bagian dari entitas ruh suci, merupakan bagian dari fenomena alam gaib. Walaupun ia bukanlah satu-satunya makhluk gaib yang masuk dalam kerangka rukun keimanan bagi agama Islam, namun ia adalah salah satu dari eksistensi barzakhi serta ruhi yang termasuk dalam dimensi kegaiban, yang bukan golongan jin apalagi lêlêmbut, yang digolongkan sebagai al malaikah al hafadzah, yakni makhluk alam ruh dan malakuti para penjaga alam.

    Orang Jawa meyakini bahwa kawasan atau wilayah Indonesia bagian Laut Selatan adalah daerah kekuasaan Kanjêng Ratu Kidul. Sedangkan oleh kraton Yogyakarta, Kanjêng Ratu Kidul dijadikan sebagai ikon makhluk halus yang berperan serta dalam keberadaan dan kelangsungan kraton Yogyakarta.

    Hal ini terjadi karena konsep kraton Yogyakarta memang didasarkan pada pola perpaduan ajaran mistik Jawa dengan konsep kewalian dalam sufisme Islam. Kanjêng Ratu Kidul menjadi ikon dan representasi pencapaian tahapan makrifat dalam spiritualisme Islam Jawa.

    Berbagai aspek tentang eksistensi Kanjêng Ratu Kidul meliputi:
    a. aspek geneokologi keyakinan.

    b. asal-usul Kanjêng Ratu Kidul.

    c. perbedaan antara Kanjêng Ratu Kidul dan Nyi Rara Kidul.

    d. hubungan khusus antara Kanjêng Ratu Kidul dan para raja di Yogyakarta dan Surakarta.

    e. sejarah kraton Segara Sewu, istana Kanjêng Ratu Kidul di Laut Selatan.

    f. rahasia mistis dan makna spiritual yang dilaksanakan pihak kraton dan msayarakat yang dikaitkan dengan keberadaan Kanjêng Ratu Kidul.

    g. hubungan arsitektur kraton Yogyakarta, yang diilhami oleh ‘kraton’ Segara Sewu dengan aspek ajaran mistik dan makrifat, serta kaitan antara keyakinan terhadap Kanjêng Ratu Kidul dengan jalan mistik dan makrifat dalam kerangka syariat, thariqat, hakekat dan makrifat.

    Dapat dikatakan bahwa dalam konteks ikonografi, dan simbolisme spiritual, tokoh Kanjêng Ratu Kidul tidak terpisah dari pola ajaran kemakrifatan Manungaling Kawula Gusti dari kalangan muslim Jawa.

    Maka yang perlu dibenahi adalah konteks aplikasi dari keyakinannya yang membutuhkan kerja keagamaan untuk meluruskan beberapa hal yang masih bengkok dalam aspek keberagamaan.

    Misalnya, kerjasama dengan jin, menggunakan jasa dari jin dan roh yang sesat, jelas hal tersebut dilarang baik oleh agama maupun dalam sistem keyakinan orang Jawa.

    Tentu saja dalam beberapa hal tetap terdapat konteks yang menjadi kontroversi, terutama jika dilihat dalam perspektif keagamaan.

    Dalam hal ini, dibutuhkan kearifan dan saling penghargaan terhadap adanya perbedaan pendapat, keyakinan dan ekspresi keagamaan masing-masing. Jika dilihat dari perspektif sufisme, eksistensi Kanjêng Ratu Kidul adalah suatu hal yang biasa-biasa saja, yakni sebagai makhluk yang mendiami nomena dibalik alam yang kasat mata.

    Adapun untuk kalangan masyarakat Jawa yang masih “awam”, eksistensi Kanjêng Ratu Kidul merupakan salah satu bentuk keyakinan adanya dimensi alam halus, yang haru disikapi dengan cara “pergaulan yang sehat dan baik”, yakni sebagai wujud saling pengertian tentang eksistensi masing-masing, keduanya dalam kosmos ini.

    Menurut orang Jawa, jika keberadaan makhluk halus dihargai maka mereka juga akan menghargai eksistensi manusia serta merasa ikut mewujudkan kebaikan bagi alam dan eksistensi manusia.

    Adanya perkawinan antara Kanjêng Ratu Kidul dan para penguasa Mataram, yang diawali oleh Panêmbahan Sénåpati, mengandung makna simbolis bersatunya air (laut) dengan bumi (daratan/tanah).

    Kanjêng Ratu Kidul dilambangkan dengan air sedangkan raja Mataram dilambangkan dengan bumi. Makna simbolisnya adalah dengan bersatunya air dan bumi maka akan membawa kesuburan bagi kehidupan kerajaan Mataram yang akan datang.

    Danang Sutåwijåyå yang sangat cerdas memahami psiko sosial masyarakatnya. Ia pun menganyam serat-serat kehidupan yang dirajut dengan amat simbolik mistik berupa ‘kisah asmara’ dengan Penguasa Laut Selatan Kanjêng Ratu Kidul sehingga Danang Sutåwijåyå memperoleh dataran baru, daratan kemataraman. Sedangkan penguasa Gunung Merapi adalah abdi kinasih pêpatih dalêm. Penjaga Kraton Mataram.

    Sejak berpindahnya wahyu kraton dari Dêmak Bintårå ke Pajang dan akhirnya ke Mataram, kraton menjauhi perairan bebas, perdagangan antar pulau antar benua sebagai basis pendukung kekuatan perekonomiannya, dan beralih ke perekonomian berbasis pertanian semata. Bukankah leluhur Mataram, Ki Agêng Pâmanahan adalah seorang petani?

    Untuk mengembalikan atau paling tidak mengenang kejayaan masa lalu leluhurnya, Demak dan juga Majapahit, sebagai negara maritim (dalam kronika Jawa dikenal dengan sebutan dagang layar –pedagang dan pelaut– sebagai lawan among tani –petani– ), Danang Sutåwijåyå mengetahui hal itu, maka dikuasailah Laut Selatan melalui legenda Kanjêng Ratu Kidul.

    Perkawinan Danang Sutåwijåyå dan Kanjêng Ratu Kidul merupakan suatau kesepakatan bahwa Kanjêng Ratu Kidul akan membantu raja-raja Mataram turun-temurun, dan pada dasarnya adalah perkawinan yang strategis. Danang Sutåwijåyå memperoleh kedaulatan atas wilayah Mataram yang wilayahnya berdampingan dengan Laut Selatan yang tak terbatas, dan Gunung Merapi sebagai penyangganya.

    Dengan perkawinan tersebut, Danang Sutåwijåyå mampu untuk menguasai juga para lêlêmbut yang tak terbilang banyaknya sebab Kanjêng Ratu Kidul adalah ratuning pårå ratu lêlêmbut. Danang Sutåwijåyå oleh sebab itu mampu membangun sebuah kekuatan psikologis untuk memperkokoh legitimasi pemerintahannya.

    Dengan cerita tersebut praktis bawah sadar masyarakat pada waktu itu, termasuk para petinggi kerajaan-kerajaan kecil, para bekas bupati dari kerajaan sebelumnya, telah dikalahkan secara permanen. Karena Kanjêng Ratu Kidul juga merupakan istri bagi para raja Mataram berikutnya, dan Ki Juru Taman penghuni Merapi adalah penjaga kratonnya.

    Ketiga simbol kekuasaan telah berada di tangan Panêmbahan Sénåpati, yaitu gunung Merapi (perwujudan api), kraton Mataram (perwujudan udara), dan Laut Selatan (perwujudan air).

    Gunung Merapi melambangkan kekuasaan, Laut Selatan melambangkan kerakyatan, dan kraton Mataram melambangkan keseimbangan. Ketiga simbol kekuasaan Jawa tersebut mempunyai arti penting, karena kraton Mataram keberadaannya tidak bisa dipisahkan dengan Laut Selatan. dan Gunung Merapi.

    Jika Kanjêng Ratu Kidul adalah penguasa lautan dan Panêmbahan Sénåpati adalah penguasa daratan di Mataram, maka gunung Merapi adalah lambang menonjol bagi kekuatan di Mataram. Panêmbahan Sénåpati dianggap sakti karena mempunyai hubungan khusus dengan gunung Merapi dan Laut Selatan.

    Dan cerita tersebut sangat efektif untuk menghancurkan keinginan berontak awam Jawa terhadap penguasanya. Bagaimana mungkin awam Jawa akan berani berontak, jika jin dan para lêlêmbut, bahkan ratunya para lêlêmbut Kanjêng Ratu Kidul bersekutu di belakang penguasa. Bahkan dengan gelarnya yang Panåtågåmå Kalifatullah Tanah Jåwå,

    Panêmbahan Sénåpati, berkuasa untuk menentukan kebijakan hukum agama, dan telah berhasil menyatakan dirinya sebagai Pembawa Amanat dan Wakil Tuhan di Tanah Jawa.

    Penyatu-ragaan Panembahan Sénåpati dan Kanjêng Ratu Kidul merupakan konsp politik

    Sekitar tujuh kilometer arah selatan desa Pleret Kotagede, terletak desa Ngrasawuni. Di arah timur dan timur laut desa ini konon dahulu menjadi tempat Sang Sénåpati dan Kanjêng Ratu Kidul berkencan.

    Bekas bekas yang masih diingat dalam cerita tutur orang ialah: gua dan bukit yang disebut Gunung Payung. Di bukit ini terdapat dua makam. Yang satu makam kuda sembrani, kuda bersayap kendaraan Sénåpati, yang bekas telapaknya tercetak pada “batu gilang” di dekat situ. Yang lain “makam kama”, yaitu makam sperma Sénåpati yang menetes di atas tanah di bukit itu.

    Kesatu-ragaan Pandawa Pandu dengan Pandawa Lêlêmbut di Alas Wånåmartå sejatinya merupakan kesatu-ragaan politik. Begitu juga perkawinan Dyah Kanjêng Ratu Kidul dengan Panêmbahan Sénåpati pada dasarnya perkawinan politik. Sénåpati memperoleh kedaulatan atas wilayah Mataram, di samping Laut Selatan yang tak berbatas itu. Ini sekaligus merupakan satu deklarasi politik Sutåwijåyå di depan Adiwijåyå, ayah angkatnya.

    Deklarasi, bahwa Mataram bukan penerus Pajang, baik de facto maupun de jure. Dengan itu pula, sekaligus untuk “menggertak” lawan-lawannya, Sénåpati memamerkan kelebihan istrinya yang lêlêmbut itu di depan segenap makhluk halus yang tak terbilang banyaknya:

    Babad Nitik mengabarkan:
    Gung prå pêri pêrayangan êjim
    sumiwi Sang Sinom
    Prabu Rårå yêkti gêdhé dhéwé
    .

    seluruh makhluk halus jin
    bersembah pada Sang Ratu
    yang besar tak bertara

    Benteng juga jagang atau parit di sekeliling kraton Yogyakarta dan Solo, bukan sekedar sebagai barikade terhadap tentara musuh, tapi lebih merupakan pernyataan tentang garis batas antara “kråmå” dan “ngoko“, antara “priyagung” dan “wong cilik“.

    Walaupun begitu terdapat beda, yang seperti bumi dan langit, antara dasar konsepsi pada lakon carangan “Babad Alas Wånåmartå” dengan legenda “Babad Alas Mêntaok “.

    Jika pada yang pertama bersifat materiel, pada yang kedua bersifat immateriel. Yang pertama kenyataan dihadapi sebagai dan dengan kenyataan, yang kedua kenyataan dihadapi sebagai dan dengan impian.

    Maka dari itu dunia pedalangan ditutup dengan “Bråtåyudå Jåyå Binangun”, dan berakhir dengan kemenangan pihak Pandawa terlepas berapa besar pun korban yang harus jatuh.

    Sedangkan Babad Mataram, yang mungkin bisa dipandang sebagai “perwakilan Jawa” pada jamannya, sejak itu tidak pernah mengenal lagi perang untuk sesuatu nilai. Tidak pernah lagi berinisiatif ofensif.

    Impiannya pun impian lesu tentang Ratu Adil, yang tak berdarah dan tak berdaging, dan dibangun di atas seribu satu Ramalan Jåyåbåyå dan semacamnya, atau tafsir-tafsir yang dipaksakan atas Djåkå Lodang dan Kålåtidå dari Rånggåwarsitå.

    Tidak bisa lain, karena keagungan kerajaan Jawa memang sudah habis bersama dengan tahun candrasangkala jatuhnya Majapahit: sirnå hilang kêrtaning bumi (hilang lenyap keagungan negri).

    Mengusut latar belakang mitos

    Kita belum tahu siapa yang pertama-tama menjlêntrèhkênmitos Kanjêng Ratu Kidul itu. Namun yang pasti Sêrat “Wédåtåmå”, yasan Ngarsa Dalem K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) yang menembangkan keagungan Sénåpati berikut mitos Kanjêng Ratu Kidul.

    Berasal dari paro sampai perempat terakhir abad ke-19. Kira kira satu abad sebelumnya, tepatnya 11 November 1743, VOC memang telah menodong tanda tangan Paku Buwana II di pembaringan sakitnya.

    Dan dari surat todongan itu, didapatlah hasil hasil oleh VOC:
    (1). sepanjang pantai utara Jawa, dan wilayah sejauh 6 Km ke pedalaman dikuasai VOC;
    (2). semua Bupati pesisir utara Jawa, sebelum mulai berfungsi, harus bersumpah setia kepada VOC.
    Itulah angka tahun ketika kerajaan Jawa secara definitif kehilangan kekuasaannya atas laut utara.

    Dan tahun itu (1743), kira kira hanya selang dua dasawarsa saja dari “Babad Karangbolong”. Oleh karenanya sejak itu, orang mengadakan selamatan dan upacara, setiap kali sebelum turun ke gua, untuk mengutip sarang burung.

    Selamatan dan upacara yang dipersembah kan bagi Dewi Lampet. Upacara ini disertai dengan pergelaran wayang kulit yang mengambil lakon “Dewi Lampet”, sebuah nama dan versi lain dari tokoh Dewi Laut Selatan yang satu itu juga: Kanjêng Ratu Kidul.

    [Lihat: “Histoire de Dewi Lampet: Le Mythe de la Deesse de la Mer du Sud a Karang Bolong” , Claude Guillot; Archipel 24/1982; hal. 101-06].

    Tapi semuanya itu tentu tidak berarti bahwa mitos Kanjêng Ratu Kidul ini mulai (di)timbul(kan) pada sekitar tahun tahun tersebut. Jauh pada senja riwayat Kesultanan Demak, wawasan tentang keadaan dan pengarahan politik telah dibisikkan Sunan Kalijaga kepada Mas Karebet alias Djåkå Tingkir, kelak Sultan Adiwijaya di Pajang.

    Tanpa menyebut masalah armada dagang berikut ancaman meriam meriam Spanyol, Portugis, Belanda dan Gujarat di laut utara [tapi wali yang arif ini pasti mencatat di ingatannya dua kali pengalaman kekalahan Pati Unus di Malaka], diperintahnya Karebet:

    a. pertama, agar tidak mempertahankan Demak, tapi membangun
    pusat bakal kerajaannya di pedalaman; dan

    b. kedua, agar kerajaan nya kelak tidak bersandar pada para “dagang layar” di laut, tapi pada kaum “among tani”. “Carilah bakal pusat kerajaan mu itu di dekat Prambanan, di pinggir Kali Kuning sana!” Begitu kira kira nasihat Kalijaga pada Mas Karebet. Tinggal kan Laut Utara, mundur dan masuk ke pedalaman.

    Revaluasi atas wawasan situasi objektif, yang meninggalkan konsep wawasan nusantara bahari, diuji penjabarannya terutama oleh Sultan Agung Hanyåkråkusumå (1612-45). Tapi ternyata mengalami kegagalan.

    Dua kali ekspedisi ke Betawi dikirim (1628 dan 1629), dua kali pula gagal. Bukan saja sama sama dèdèl duwèl dengan VOC di Betawi (konon J.P. Coen berhasil dipenggal kepalanya oleh lasykar Mataram), tapi juga harus menghadapi pemberontakan “golongan ketiga” yang sedang tumbuh di pedalaman Mataram.

    Pemicu pemberontakan ini, agaknya, jika kita mencermati dongeng rakyat “Prånåcitrå – Rårå Mêndut”, akibat “terganggunya stabiltas perekonomian” yang dicoba hendak diatasi dengan ‘memperluas cakupan objek pajak” yang tujuannya memperbanyak jumlah Wajib Pajak, dan pada akhirnya menambah jumlah pembayar pajak.

    Begitu juga oleh sabotase besar besaran dari para “bupati pesisir”, sepanjang barat Semarang sampai Rengasdengklok.

    Lahir dari konsep defensif

    Mitos Dyah Ratu Kidul ini, dengan menghubungkannya dengan armada armada Spanyol, Portugis dan Belanda yang dalam masa itu sudah malang melintang di Laut Jawa. Baca: Mers Javanaises”; Archipel 24/1982, hal. 97-100.
    Kanjêng Ratu Kidul berbeda dengan Nyi Rara Kidul (sering disebut Nyai Lara Kidul).

    Namun demikian ini tentu saja tidak berarti, bahwa kepercayaan pada ruh penguasa laut belum ada di Jawa sebelum masa itu. Sebutan “nyai” atau Kanjêng Ratu itu sendiri, bentuk feminin untuk “kyai“, sejenis honorefik prefiks bagi orang tua yang dimuliakan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Termasuk dalam yang akhir ini, terutama yaitu arwah “bahureksa” yang di lain tempat disebut “pamali” , “danyang“, dan lain lain.

    Kanjêng Nyai Rara Kidul konon berparas cantik. Beda dengan Durga (Umayi) atau si Janda dari desa Girah, Calon Arang. Tapi wataknya? Jelas, tidak pernah melempar senyum barang secercah pada “kawulå cilik“.

    Lampor” nya bikin takut anak anak. Ia juga luar biasa pencemburu pada perempuan tani di desa. Jika gadis gadis desa dan gunung itu, satu kali setahun, pada kesempatan hari raya Lebaran ingin bergembira ria di laut, bukan main banyak pantangan mereka. Tidak boleh berbaju warna “gadung”, “gadung melati”, “jingga”, dan sebagainya; tidak boleh berkain “poleng alit”, “teluh watu” dan semacamnya.

    Juga pada penduduk desa umumnya. Ini terjadi sangat hebat, misalnya, di sekitar tahun 1956. Diamuknya rakyat Gunungkidul yang miskin tak berdaya itu. Gelombang Laut Selatan bergulung gulung menghempas pantai, sambil melepas berjuta-juta balatentara yang berupa tikus-tikus. Dan dimangsanya segala apa saja. Bukan saja tumbuhan dan hasil bumi, bahkan ternak dan bayi anak-anak manusia juga dimakan.

    Lalu, sekali lagi terjadi pada tahun 1946. Ketika itu Nyai Lara Kidul memerlukan tambahan balatentara, guna memerangi tentara Nica yang musuh Mataram, dan juga musuh Republik. Maka untuk menambah balatentara lêlêmbut itu, dibunuhinya
    rakyat dengan menyebar wabah pes tanpa ampun.

    Menghadapi mitos, legenda, saga dan sebangsanya, bukanlah “who’s who” nya yang penting. Tapi “mengapa” nya, lalu “bagaimana” nya. Di situlah soalnya. Maka itu, bukan soal beratus nama dan beribu versi penuturan yang masalah. Namun, karena terperangkap keasyikan mencari tahu “apa siapa” nya itu, orang terkadang lantas tergelincir berasyik masyuk di dalam “dichtung” kejadiannya saja.

    Bung Karno, dalam ceramah di Universitas Gajahmada (1954?) menyikapi legenda Nyai Lara Kidul ini dari konsep impian wawasan nusantara bahari. Juga di dalam “Sarinah”, diceritakannya tentang mitos laut bangsa bangsa Timur Tengah, yang mengandung kisah kisah perjuangan mereka dalam menundukkan laut.

    Demikian juga Bimå. Tak kurang gagah dan perkasanya pula tokoh idola Bung Karno itu. Ada satu kali ia memang kompromi dengan Någåråjå di Saptåpratålå. Tapi itu terjadi bukan lantaran Någåråjå berputri Någågini yang jelita, melainkan karena keadaan darurat. Bahwa ia harus menyelamatkan empat saudara saudaranya dan Kunti, ibunya, dari pengejaran Kuråwå, sesudah kegagalan usaha pembunuhan dalam peristiwa judi di Baé Sigålågålå itu.

    Selebihnya paling tidak tiga kali Bimå telah bertempur mati matian, dan berhasil mengalahkan tokoh tokoh bahureksa sakti: Hidimbå (Arimbå), raksasa penunggu pohon randu alas; dua raksasa kembar penunggu gunung; dan seekor naga laut dalam kisah “Déwåruci”.

    Konon kisah ” Déwåruci” berasal dari jaman Mamenang (Isyanawikrama alias Empu Sindok), sekitar enam abad lebih tua dari jaman Mataram Sénåpati.

    Kisah kisah perjuangan dan kemenangan anak manusia Jawa terhadap arwah bahureksa seperti itu, banyak terdapat baik dalam dunia wayang maupun dalam dongeng rakyat.

    Adanya berbagai versi penuturan mitos tentang laut, menandakan juga adanya berbagai tokoh bahureksa laut di berbagai daerah kebudayaan. Tapi, beda dengan mitologi Hindu yang memandang laut sebagai laki laki (Dewa Waruna), di Indonesia (seperti di Mesir) bahureksa laut mendapat bentuk sosok perempuan. Seperti halnya bumi, tanah dan air, laut merupakan unsur pengandung – pelahir – dan penyusui kehidupan.

    Rakyat Buru selain mengenal Ina Kabuki, ratu yang bertahta di dasar Teluk Kayeli, juga mempunyai tokoh Boki Ronja(ng), “pamali’ atau bahureksa sungai Wai Apu.

    Bentuk feminin itu barangkali juga karena, di hadapan langit, laut terletak di bawah. Dari dunia pedalangan sering kita dengar kata kata, diucapkan terhadap tokoh yang akan dikenai senjata pamungkas; “tumêngåå Båpå Angkåså, tumungkulå Babu Pêrtiwi” — tengadahlah pada Bapa Langit, dan tunduklah pada Ibu Bumi —

    Gagasan pemikiran demikian, bahwa “bapa” (laki laki) adalah langit, dan “ibu” (perempuan) adalah bumi, sesuai dengan konsep susunan bangunan lingga dan yoni.

    Kemanunggalan Mataram dan Laut Selatan adalah mutlak, karena Laut Utara tidak lagi memberi lebensraum. Kesatu-tubuhan Sénåpati – Kanjêng Ratu Kidul adalah mutlak, karena itu ialah kesatuannya antara langit dan bumi, antara lingga dan yoni.

    Mitos Kanjêng Ratu Kidul sebuah konsep yang mempunyai akar sejarah pada “Wahyu Majapahit”, mempunyai dasar ideologi pada dua aspek “gender” dalam satu tubuh (bandingkan dengan sesaji “ardanareswari” di Bali), dan merupakan antropomorfi dari
    wawasan bahari Kerajaan Mataram yang telah hilang.

    KEGAGALAN SUTÅWIJÅYÅ

    Saat Sutåwijåyå memilih membangun pusat kekuasaannya di pedalaman Alas Mentaok, Jawa sebagai sebuah konsep keagungan budaya, sosial dan militer sebenarnya sedang memasuki babak baru.

    Babak dimana penguasa pribumi Jawa berinisiatif membangun kembali kejayaan masa lalunya yang tenggelam bersama runtuhnya Majapahit. Bayang-bayang kejayaan Majapahit dimasa lalu inilah yang selalu menjadi hantu dibenak Sutåwijåyå saat mulai membangun kerajaan barunya.

    Sutåwijåyå bersama ayahnya, Pemanahan mendapat Alas Mentaok sebagai hadiah dari Sultan Hadiwijåyå penguasa di Pajang atas jasa mereka membasmi pemberontakan Adipati Jipang Panolan Arya Penangsang, sekaligus membunuhnya dalam sebuah pertempuran di Bengawan Sore.

    Alas Mentaok awalnya merupakan bekas sebuah kedaton kuno bernama Mataram. Yang unik, kedaton kuno itu justru lebih ”bercita-rasa” Majapahit dimasa lalu, dibanding matron atau tunduk pada Pajang atau Demak yang sedang berkuasa.

    Oleh Pemanahan, Alas Mentaok disulap menjadi tanah perdikan yang makmur dan bebas upeti. Tanah perdikan itu kemudian diberi nama Mataram, sama dengan nama kedaton yang “bercita-rasa” Majapahit itu. Ingat: Mataram Medhang, sebagai kerajaan ‘awal’ di Jawa. Kerajaan besar di masa itu.

    Semasa Pemanahan masih hidup, Mataram memang tak pernah terang-terang menunjukan ambisinya untuk menjadi penguasa Jawa. Baru sepeninggal Pemanahan ditahun 1575, Sutåwijåyå yang penuh energi mulai berani mengasah taring terhadap Pajang.

    Merasa dilindungi oleh ramalan sebagai pengemban “Wahyu Majapahit”, Sutåwijåyå kemudian maju menepuk dada. Mengproklamasikan bahwa dirinya adalah pemegang mandat penguasa pribumi atas Jawa dan berhak melanjutkan tradisi kejayaan Majapahit.

    Klaim sebagai penerus kejayaan Majapahit adalah maklumat perang. Maklumat perang pada para musuh dan calon musuhnya sekaligus.

    Musuhnya adalah kaum mapan Pajang serta sisa pengaruh Arab-Demak yang masih bercokol kokoh disepanjang pesisir Jawa dari Penarukan sampai Banten.

    Sehingga satu-satunya langkah yang paling masuk akal bagi Sutåwijåyå adalah membangun basis kekuatannya di pedalaman.

    Pilihan ini bukannya tak berbiaya. Menjadikan Mataram yang berada jauh di pedalaman sebagai basis kekuatannya, Sutåwijåyå harus rela minggir lebih ke selatan dan tentu saja kehilangan pengawasannya atas daerah pesisir utara yang dinamis.

    Sejak saat itu konstelasi politik di Jawa menjadi selatan ‘berkonfrontasi’ dengan utara. Di utara orang-orang asing bersatu dengan adipati pesisir dengan membentuk aliansi kerajaan-kerajaan pesisir ala Demak.

    Aliansi inilah yang dalam setiap kesempatan selalu menepuk dada membanggakan keberhasilannya “melumat” Majapahit -satu hal yang membuat orang-orang pedalaman di selatan dendam kesumat-.

    Sementara di selatan, orang-orang pedalaman yang terpinggirkan oleh semangat opresifnya ‘penerus’ tahta Demak, memilih bergabung dengan para pejuang dan pelarian Majapahit. Sambil menunggu momentum untuk membalas dendam. Dan Sutåwijåyå yang kemudian menyediakan momentum untuk bergerak dan membalas sakit hati pejuang Jawa.

    Alasan lain, mengapa Sutåwijåyå memilih mendirikan pusat kerajaan Mataram jauh di pedalaman, setidaknya harus dimaknai sebagai upaya prefentif menghindari musuh dan calon musuhnya sekaligus.

    Tapi yang paling utama keputusan itu didasarkan pada niat untuk memutuskan benang merah yang menghubungkan Mataram dengan Pajang-Demak-Aliansi Asing.

    Keputusan Sutåwijåyå memilih konsep negara kampung tak sepenuhnya bisa disalahkan. Sutåwijåyå tak lebih meneruskan apa yang pernah dilakukan Djåkå Tingkir, saat hendak mendirikan pusat pemerintahan Pajang. Djåkå Tingkir memilih mengamini nasihat Sunan Kalijaga agar masuk padalaman dan menjauhi pesisir utara.

    “Dirikanlah bakal pusat kerajaanmu itu dekat dengan Prambanan, pinggir Kali Kuning sana” mungkin begitu ucapan Kalijaga pada Karebet. Dengan latar belakang yang berbeda, nasehat sang wali setidaknya didasarkan pada dua kali pengalaman buruk Demak di bawah Trênggånå dan Patiunus.

    Mereka dikalahkan Portugis di Malaka. Tentu wali yang arif ini sudah mencium bahaya yang akan datang dari laut kelak dikemudian hari. Hanya masalah waktu saja bagi Portugis atau bangsa Eropa lainnya untuk bisa sampai di tanah Jawa.

    Perintah Sunan Kalijaga kepada Karebet jelas menyiratkan; pertama, agar ia tak lagi mempertahankan Demak yang berorientasi ke laut, tapi membangun bakal kerajaannya di pedalaman.

    Kedua, sebagaimana telah didongengkan, agar kerajaannya kelak tidak bersandar pada para “dagang layar” di laut, tapi pada kaum “among tani”.

    Sikap Djåkå Tingkir yang menelan mentah-mentah nasihat Sunan Kalijaga adalah kesalahan sejarah paling fatal. Begitu juga yang pilihan yang dilakukan Sutåwijåyå. Memang, pada awalnya Sutåwijåyå sukses membalas sakit hati “pejuang” Majapahit dengan mengalahkan aliansi Asing-Demak-Pajang.

    Tapi perubahan orientasi dari kerajaan dagang bahari menjadi kerajaan kampung agraris, akibat buruknya baru dirasakan oleh kerajaan-kerajaan penerus Mataram kelak dikemudian jaman.

    Dimasa-masa awal walau berbasis agraris Mataram bisa memantapkan dominasinya dengan menguasai nyaris seluruh tanah Jawa. Bahkan, beberapa daerah di Sumatera bisa dipaksa untuk mengakui kekuasaan Mataram dengan kekuatan senjata.

    Belakangan konsep kerajaan ‘kampung sawah’ ala Sutåwijåyå selalu gagal menjawab ujian jaman, bahkan ketika Mataram berada di puncak sinarnya. Dimasa Sultan Agung memerintah Mataram (1612-1645), merasa terganggu oleh kehadiran orang-orang Eropa, tercatat dua kali Sultan Agung mengirim pasukan untuk mengepung koloni Belanda di Batavia (1628 dan 1629).

    Walau penyerbuan tersebut kabarnya berhasil memenggal kepala JP Coen -seorang Jenderal Belanda- tetapi secara militer penyerbuan tersebut gagal total karena pengkhianatan. Siapa yang berkhianat?

    Siapa lagi kalau bukan musuh lama “satria jawa” yaitu aliansi adipati pesisir utara. Disaat Sultan Agung sedang memusatkan perhatiannya ke Batavia, para adipati itu mengibarkan bendera kraman di bagian timur pulau Jawa.

    Rupanya dua kali kegagalan menyerbu Batavia sudah cukup bagi Sultan Agung untuk kemudian tak lagi-lagi “mengusik” orang Eropa. Begitu juga para penerusnya, tak satupun yang berniat sungguh-sungguh mempersoalkan apalagi sampai menantang perang pendatang-pendatang asing yang pelan tapi pasti mulai menguasai pesisir-pesisir dan pelabuhan-pelabuhan strategis.

    Bisa dibilang, Jawa di era Mataram paska Sultan Agung adalah Jawa yang justru terkepung oleh kekuasaan asing di pedalamannya sendiri. Karena sebagian besar penerus Sultan Agung lebih memilih untuk “bersahabat” dengan Belanda dari pada berkonfrontasi.

    Kegagalan tersebut kemudian disempurnakan oleh Paku Buana II yang sakit-sakitan dan sedang sekarat di ranjangnya. Menurut Thomas Stanford Raffless dalam The History of Java, berharap dapat menyelamatkan suksesi untuk keluarganya Paku Buana II pasrah begitu saja ditodong tanda tangan oleh VOC untuk menggadaikan kedaulatannya. Yang bahkan dinyatakan dengan sebuah pernyataan formal.

    “Selama dirinya dan para warisnya turun dari tahta kerajaan, kekuasaan negeri ini, diberikan kepada Pemerintah Hindia Timur, dan menyerahkan kekuasaan kepada mereka untuk mengaturnya, dimasa depan, kekuasaan akan diserahkan kepada orang yang mempunyai kemampuan untuk memerintah dan untuk kebaikan bagi Kompeni dan juga bagi Jawa.”

    Setelah merekomendasikan anak-anaknya, dan terutama ahli warisnya, untuk mendapatkan perlindungan gubernur, monarki terakhir yang malang ini kehilangan kekuasaannya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 11 Desember 1749.

    Dilihat dari sisi tersebut, apa yang telah dilakukan Karebet dan kemudian dilanjutkan oleh Sutåwijåyå serta semua akibat turunannya memang menyedihkan. Laut kemudian dimaknai sebagai tempat dari mana kekacauan itu datang, dan Karebet maupun Sutåwijåyå memilih melarikan diri darinya.

    Satu hal yang harus dicatat. Bangsa Eropa dengan kapal-kapal bermeriamnya, bukanlah bangsa asing pertama yang datang melalui laut dan tak bisa dikalahkan oleh “satria” Jawa.

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur suwun
      meskipun semakin sepi, Ki Bayu masih tetap setia mendongeng di sini.

      • Matur nuwun Ki Bayu,
        matur nuwun ugi pak Satpam,

        Sugeng dalu.

    • Assalamu’alaikum wr wb.
      Alhamdulillah, aku masih bisa ketemu lagi sama Panembahan Bayuaji. Tadinya saya bingung mencarinya ke mana. Ki Bayu saya sedang baca Buku Perbendaharaan Lama Karya Prof Dr. Hamka. Wah banyak hal yang perlu saya diskusikan dengan Ki Bayuaji. Kalo berkenan, Ki Bayu kontak sms saya di 081398911268 nggih Ki.
      Nuwun.
      Wassalamu’alaikum wr wb.

    • Matur sembah nuwun Ki Bayu, kulo tenggo dongeng lajengipun.

  10. matur nuwun

  11. angenteni bukake gandhok anyar,

    sugeng dalu.

    • angen-angen , alon-alon klakon ora jepiping mojok udud merem melek , kapan yo lawang gandhok kae enggal mengo ………….
      ngapunten Ki

      karena banyak PR, sehingga editing SST-03 masih belum bisa diselesaikan
      sama Ki, alon-alon klakon, sehari dapat 10-20 halaman sesuai dengan waktu yang tersedia. Mudah-mudahan besok slesai dan langsung diupload, kalau tidak ya Sabtu, he he he…..

  12. hadu…..
    satpam tidak boleh/bisa masuk padepokannya sendiri, tidak tahu kenapa
    sementara pakai nama Risang saja, he he he …..

  13. Sugeng dalu Pak Risang……

  14. selamatsiang semuanya

    sungguh pusing, tidak bisa beri komen di padepokan sendiri.


    SST_03 telah diunggah
    Mohon jangan gunakan SST-03, karena akan mendapatkan gandok rusak yang tidak bisa diperbaiki.
    Risang/Satpam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: