SST-09

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 3 Mei 2012 at 00:01  Comments (40)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sst-09/trackback/

RSS feed for comments on this post.

40 KomentarTinggalkan komentar

  1. wah huebaattt lan wasis tenan mas Risang , ngerti yen saiki malem Jum’at mulo gandhok SST_09 wis dibukak biso nggo rewang melekan

    Matur nuwun mas Risang

    Ora pareng playon lho mengko ndhak kesandhung

    Nuwun ..

    • Ndherek melekan.
      Sugeng dalu………..

      • sumangga Ki Arga,
        mumpung padhang rembulane.

      • Sumonggo ki Arga .

        Mumpung padhang rembulane lan resik langite , mugi antuk berkahing Gusti kang Moho Agung .

        Nuwun .

  2. Umpama sliramu sekar melati,
    mas Risang kumbang nyidam sari
    umpama sliramu margi wong manis,
    mas Risang kang bakal ngliwati

    • wuih…..
      apa artinya tu….

      • ada deh…….!!!!!!!!
        mau tau aja……

        • halah…..
          pelit…..

          • Kalau g salah gini lo mas

            Seumpama dirimu bunga melati
            Mas Risang adalah kumbang yang ingin menghisap madu
            Seumpama dirimu jalan tol orang cantik
            Mas Risang yang akan menggelindingi ..
            Eh kleru dhing ……….. melewati

            Menopo leres ki Gembleh ???????

            Sugeng Dalu lan sugeng wungon .

            Nuwun ..

  3. Wanci ratri …

  4. Nuwun

    Lanjutan inventarisasi

    9. Emansiapsi Perempuan

    Dongeng kepahlawanan Ratu Kalinayamat, yang ketika dinobatkan menjadi penguasa Jepara yang ditandai dengan sengkalan tahun (candra sengkala) Trus Karya Tataning Bumi yang diperhitungkan sama dengan 10 April 1549.

    Penulis berkebangsaan Portugis Diego de Couto ketika berkelana ke Pulau Jawa di tahun 1549 menyebutnya sebagai:

    Kalinyamat Rainha da Japara, senhora paderosa e rica,
    [Kalinyamat, Perempuan Kaya lagi Berkuasa, dialah Ratu Jepara].

    Disebut juga sebagai: Kalinyamat de kranige dame [Kalinyamat, Sang Pemberani]

    10. Kasta dan Warisan

    Perkawinan Beda Kasta dan Pembagian Warisan.

    Kehidupan tata pemerintahan dan masyarakat pada masa-masa Kerajaan Kadiri, Singasari kemudian Majapahit, diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum, yang disebut: Kitab Kutaramanawa, berdasarkan Kitab Hukum Kutarasastra (lebih tua) dan Kitab Hukum Hindu Manawasastra.Semua tata pemerintahan dan kehidupan masyarakat dijalankan atas dasar peraturan yang termuat dalam undang-undang tersebut.

    11. Matah Ati dan Wanita (Wani di tata)

    Kisah mengenai Rubiyah yang lebih dikenal si Matah Ati ini sangat menarik. Adalah sebuah kisah nyata perjalanan cinta antara Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa, kelak adalah Pangeran Adipati Mangkunegara atau KGPAA Mangkunegara I, dan seorang kembang desa dari Wonogiri yang bernama Rubiyah.

    Raden Mas Said kemudian berhasil menjadi seorang raja dengan gelar Mangkunegara I. Rubiyah pun mendampinginya sebagai istri dengan gelar Raden Ayu Kusuma Patahan atau Raden Ayu Kusuma Matah Ati,

    Kisah Rubiyah ingin menunjukkan bukti bahwa perspektif kesetaraan gender telah berkembang dalam sejarah Jawa di abad ke-18. Raden Mas Said bersama-sama istrinya yaitu Rubiyah si Matah Ati itu ikut berperang gerilya.

    Tidak hanya menjadi pendamping, sang istri pun diangkat menjadi panglima bagi sekelompok pasukan tempur perempuan, yang dalam kitab Babad Tutur disebut Prajurit Estri, Ladrang Mangungkung dan Prajurit Estri, Jayengasta). Prajurit Estri bukanlah istri prajurit, tetapi benar-benar prajurit pasukan tempur (mungkin dapat disamakan dengan KOWAD, KOWAL atau WARA).

    Tetapi, adalah juga orang Jawa yang menempatkan peran wanita dalam formulasi “3 ah”, sesuai dengan sebutan traditional gender-based ideology yakni ‘neng omah, olah-olah, mlumah ngablah-ablah’, (di rumah, memasak, {maaf} menelentang seseksi mungkin); dan “2 ak, yaitu ‘macak lan manak’, berdandan secantik mungkin dan melahirkan anak.

    Maksudnya, supaya sinuwun sang suami menjadi sangat berkenan di hati. Posisi wanita dalam persepsi Jawa cuma bergerak antara dua kutub: budak lan klangenan (barang, supaya tidak bilang hewan, piaraan).

    Gagasan wanita ateges wani ditata, dan konsep ngunggah-unggahi atau suwita dan ejekan awan dadi theklek, bengine ganti dadi lemek jelas menggambarkan adanya ideologi penindasan pria atas wanita.

    Bahkan sampai saat ini anggapan tradisional tentang superioritas pria atas wanita belum tertumbangkan. Benar, wanita “dimahkotai” aneka sebutan: tiang masyarakat, surga di bawah telapak kaki ibu, atau dilambangkan sebagai bunga, dan ‘diluhurkan’ sebagai ratu.

    Gadis paling cantik di desa disebut kembang desa. Dan di kota-kota gadis cantik di kampus disebut kembang kampus. Media pertelevisian memberikan wadah, ada gadis cantik, gadis luwes, gadis tangkas, diberi gelar dengan sebutan aneka julukan: putri pariwisata, miss universe, ratu kecantikan sejagad, dan sebagainya.

    Ada petikan yang membuat gemas atau geram dari Serat Panitisastra mengenai perempuan:

    mungguh ing estri ingkang pinilih dening wong priya wanodya ingkang agemuh payudarane dadi sukaning kakung

    (perempuan yang menjadi pilihan pria ialah perempuan dengan payudara montok yang merupakan kegemaran para lelaki).

    Petikan itu mungkin bisa jadi alasan untuk perdebatan panjang dalam wacana gender dengan mengacu ke kepustakaan Jawa lama. Perempuan dalam teks sastra memang memiliki sejarah pinggiran yang terkadang melahirkan kutukan.

    Kalau dipikir-pikir, perlakuan istimewa bagi anak wanita dalam keluarga — misalnya anak wanita harus dijaga baik-baik — ternyata diam-diam mengandung “muatan” kepentingan seks buat laki-laki. Artinya, kalau ke mana saja anak dijaga, diharapkan tetap “murni” dan itu nantinya biar menyenangkan laki-laki (suaminya), karena keperawanannya masih terjaga.

    Pembakuan itu cenderung ideologis karena muncul dalam konstruksi sosial yang kerap memarginalkan perempuan. Inferioritas kerap jadi momok bagi perempuan karena dioperasionalkan melalui mekanisme sosial, kultural, dan kekuasaan. Sambungan keapesan perempuan terus mendapati fragmen-fragmen tragis.

    12. Jika Merapi sedang bersolek

    “Hijrahnya” Kerajaan Mataram Kuna dari Mdang ke Tamwlang
    Merapi memang sedang bersolek.

    Ketika hujan mengguyur memandikan tubuhnya. Merapi gemetaran menggigil kedinginan.
    Sesudah itu dengan genitnya Merapi memakai bedak pupur, maka putihlah wajahnya
    Sekitar dirinyapun berbedak putih.
    Jogja pun dibuatnya menjadi cantik. Putih berbedak.
    Tidak hanya Jogya, tetapi Jawadwipa dan juga Nusantara ikut pupuran.
    Lalu dia pakai gincu pemerah bibir, warna merah pun meleleh ‘dlewer’ dari mulutnya, dan pupurnya semakin melabur kemana-mana.
    Cantiknya dikau Merapi
    Merapi memang sedang “merapi”kan dirinya.

    Pada abad ke-10, Dyah Wawa raja Mataram pada waktu iru, mempersiapkan stategi suksesi Empu Sendok yang memiliki integritas dan moralitas sebagai calon pemimpin Mataram.

    Pada saat itulah pemerintahan Dyah Wawa mengalami kemunduran.
    Banyak perbuatan maksiat dan dosa dilakukan secara terang-terangan tanpa rasa malu, seperti suap dan korupsi, perzinahan, minum-minuman keras dan candu, yang mengundang peringatan dan azab melalui bencana alam yang datang bertubi-tubi di negeri tercinta itu.

    Diceritakan pada masa itu bahwa kawula Mataram di bawah pemerintahan Dyah Wawa, meskipun diberitakan kerajaan mengalami kejayaan. Roda perekonomian pada masa pemerintahannya berjalan dengan pesat.

    Tanah-tanah pertanian subur. Tetapi prasasti lain membuktikan sebaliknya:
    Kawula kerajaan digambarkan sering mengalami kesulitan hidup, sedih karena beratnya menyangga beban hidup, yang seakan tak pernah berakhir. Harta dan nyawa yang hilang ketrajang banjir yang terlalu sering, tertimbun tanah longsor yang terlalu kerep), puso (kerep banget), sawah pategalan kering, gempa bumi (juga sering), Juga kasus-kasus penegakan hukum, kasus-kasus suap, pemerasan, penyuapan, penggelapan pajak, adalah sedikit dari kasus penegakan hukum yang tercatat, termasuk juga penghilangan nyawa orang.

    Dari sekian berita di atas, anehnya berita-berita itu seolah hendak memberikan isyarat bahwa betapa bobroknya lahir (banjir, gempa bumi,) dan batin (perzinahan, nyolong, suap, pemerasan, pembunuhan, dan seterusnya, dan seterusnya) negeri Mataram pada waktu itu.

    Maka azab Hyang Wisesa Tuhan Yang Maha Esa turun berupa meletusnya Gunung Merapi yang dalam sejarahnya merupakan bencana yang terhebat.

    Kerajaan Mataram pun porak poranda, dan ini salah satu penyebab pindahnya ibu kota kerajaan Mataram (kota Medhang atau Medang atau Mdang) dari Jawa Tengah ke Jawa Timur yang disebabkan oleh meletusnya gunung Merapi secara tiba-tiba itu.

    Letusan itu sedemikian dahsyatnya, berdasarkan catatan geologis sebagian besar puncaknya lenyap dan terjadi pergeseran lapisan tanah ke aah barat daya sehingga terjadi lipatan yang antara lain membentuk gunung Gendol, karena pergerakan tanah itu terbentur pada lempengan-lempengan pegunungan bukit Menoreh.

    Sudah barang tentu letusan itu disertai gempa bumi, awan panas, banjir lahar, hujan abu dan bebatuan panas,yang sangat megerikan
    Bencana alam ini merusak kota Mdhang Ibu Kota Kerjaan Mataram, dan juga daerah pemukiman di Jawa Tengah, sehingga oleh para kawula dirasakan sebagai pralaya atau kehancuran dunia.

    Masih berlanjut.

    Nuwun

    Punakawan

    • Matur nuwun ki Punakawan II ( manut anggitane ki Gembleh ) , dongeng candhakipun kulo tansah neggo .

      Nuwun .

      • Kleru dhing ( tansah kulo tenggo )

        Nuwun .

    • Matur nuwun Ki Puna II,
      MASIH BERLANJUTANYA SELALU DITUNGGU.

      • sugeng enjang sadayanya,

        ki PUNA II cantrik dherek tepang, ki Gembleh dherek kenalanipun, mas Risang cantrik dherek malMing,

        • MalMing mlaku neng Tunjungan ……

  5. Nuwun

    Lanjutan inventarisasi Dongeng Arkeologi & Antropologi:

    D. Penyebaran Islam di Tanah Jawa

    Wedaran Dongeng Arkeologi & Antropologi Pentebaran Islam di Nusantara:

    a. Muballighot dari Leran: Fatimah binti Maimun bin Hibatu’llah, muballighot pertama di Pulau Jawa] (Tertulis pada permukaan batu nisannya tahun 475 H atau 1082 M).

    b. Kiprah para Wali Sanga di dalam menyebarkan Agama Islam di Tanah Jawa.

    E. Dongeng tentang Pitutur – Pitutud dan Wewaler:

    1. Pemahaman Tuhan
    2. Gusti Ora Sare (Pengantar)
    3. Gusti Ora Sare
    4. Laku Utama
    5. nDonya lan Kadonyan
    6. Laku Budi lan Kautaman Batin
    7. Eling lan Waspada
    8. nJumenengi Ratri amrih caket ing Gusti
    9. Ajaran Budi pada Masyarakat Pasundan
    10. Namaku Izrail
    11. Aja dumeh, aja kagetan lan aja gumunan
    12. Hukum tranfusi darah
    13. Agama (bagian pertama)
    14. Wayang I
    15. Wayang II
    16. Wayang III
    17. Agama (bagian II)
    18. Tahun Baru Jawa
    19. Agama (Bagian III)
    20. Pemimpin & Kepemimpinan

    Penulisan Dongeng Arkeologi & Antropologi seri Pitutur – Pituduh dan Wewaler bermaksud menyelami sejarah kebudayaan filosofi Jawa.

    ‘Agama asli’ penduduk Jawa Dwipa pada dasarnya adalah kebudayaan asli Jawa, karena ajaran ini adalah murni berasal dari Tanah Jawa sendiri. Ajaran ‘agama asli’ ini sejak lama ada dan berkembang di Tanah Jawa, sebelum ajaran-ajaran agama “impor” yang kita kenal sekarang ini, yaitu Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Nasrani dan Islam masuk ke Nusantara.

    Ajaran asli Tanah Jawa ini mengajarkan arti kehidupan, hakekat hidup, dan keselarasan dan kesimbangan alam, disebut “ajaran budi”. Ajaran budi ini menjunjung tinggi tata-krama, kasusilan, jujur, sabar, andap-asor, lan budi pakerti luhur, terhadap siapa saja bahkan kepada alam sekitar tempat manusia hidup ini yaitu dunia dan isinya.

    Oleh para sejarahwan dan para peneliti ajaran-ajaran agama “modern”, dengan mengambil rumusan arti agama dari sudut pandang yang sangat sempit, telah menempatkan ajaran agama asli ini sebagai suatu kepercayaan animisme/dinamisme, dan digolongan sebagai suatu bentuk ajaran filsafat atau aliran kepercayaan atau kebatinan saja, bahkan ada yang menyebutnya sebagai penyembah berhala.

    Padahal dari temuan-temuan arkeologis dan budaya, tidak satupun ditemukan bahwa manusia Jawa pada masa itu sebagai penyembah berhala. Mereka percaya pada adanya Keuasaan Yang Maha Agung sebagai Penyebab Pertama (Causa Prima) bagi segala sesuatu dan Dialah Penguasa langit dan bumi, Manusia Jawa telah mengenal adanya Satu Tuhan yang dalam khasanah perpustakaan modern disebut monotheisme azali.

    Memahami Filosofi Jawa ini, khususnya tentang Ketuhanan, harus dipahami secara utuh, tidak sepotong-potong, dan hendaklah bersikap hati-hati, berfikir secara matang dan dewasa, berlandaskan iman yang kokoh, yang kesemuanya itu dapat dirangkum dalam satu kalimat pendek, yakni harus memiliki kecerdasan spiritual.

    Tuhan menurut pemahaman orang Jawa adalah “Sangkan Paraning Dumadi”, maka Tuhan adalah Sang Sangkan Dumadi sekaligus Sang Paran Dumadi, karena itu juga disebut “Sang Hyang Sangkan Paran”. adalah Sang Maha Berasal dan Sang Maha Akhir. Ia hanya satu, tanpa kembaran, dalam bahasa Jawa dikatakan “Pangeran iku mung sajuga, tan kinembari” (Tuhan itu Esa, tidak ada satupun yang menyamaiNya)

    Dia tidak terwakili oleh gambaran apa pun, sedang wujudNya pun tak tergambarkan, karena akal pikiran manusia tak mampu mencapaiNya dan kata-kata tak dapat menerangkanNya.

    Mendefinisikan pun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk akal pikiran manusia yang dangkal sehingga tidak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenaranNya. Karena itu Wong Jawa menyebutnya “tan kena kinaya ngapa” Dia tak dapat disepertikan, Dia tak dapat diumpamakan.

    Terhadap Tuhan, manusia (Jawa) hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan peranNya. Karena itu kepadaNya diberikan banyak sebutan misalnya: Gusti Kang Akarya Jagad (Sang Maha Pencipta Alam Semesta), Gusti Kang Agawe Urip (Sang Maha Pembuat Kehidupan), Gusti Kang Murbeng Dumadi (Yang Maha Penentu Kejadian), Gusti Kang Maha Wikan (Yang Maha Mengetahui); Gusti Kang Maha Agung (Yang Maha Besar), dan lain-lain.

    Sira aja padha manembah marang kang dudu mesthine sinembah, aja padha mangeran marang kang dudu mesthine pinangeran. Sing sapa manembah marang kang dudu mesthine sinembah, iku kleru, jalaran kang sinembah iku uga titah kaya manungsa, kang ora keduga paweh kanugrahan lan paukuman. kaya dene Pangeranira.

    [Janganlah menyembah kepada yang tidak semestinya disembah, janganlah bertuhan kepada siapapun yang bukan Tuhan. Siapa yang menyembah kepada yang seharusnya tidak patut disembah, itu tindakan keliru, sebab yang disembah itu, adalah makhluk juga seperti manusia, yang tidak dapat memberikan anugrah dan hukuman, seperti halnya Tuhan].

    Gusti Ora Sare, Gusti tansah midangetake panjelihe para kawula kang nandhang papa cintraka.
    Panjenengan Piyambak Kang Sugeng sarta Jumeneng Pribadi. Pajenengan Gusti ora nate ngantuk, lan Pajenengan Gusti Ora Sare……”

    Dengan demikian, patut dipertanyakan kembali, adakah pemahaman Wong Jawa terhadap Tuhan, yang oleh “para ahli” direka-reka bahwa Wong Jawa pada masa itu adalah penganut faham animisme/dinamisme???

    Demikian halnya juga bagi para penganut agama asli dari masing-masing suku bangsa pribumi pada waktu itu.
    Sebut saja:

    1. Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur;
    2. Sedulur Sikep di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama daerah Blora, Grobogan, Pati, Tuban, Bojonegoro, dan Madiun.
    3. Sunda Wiwitan, yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten;
    4. Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur (Karuhun) di Cigugur Kuningan Jawa Barat;
    5. Buhun di Jawa Barat;
    6. Parmalim, agama asli suku Batak.
    7. Kaharingan di Kalimantan;
    8. Tonaas Walian di Minahasa, Sulawesi Utara;
    9. Tolottang di Sulawesi Selatan;
    10. Aluk Ta’ Dolo di Toraja;
    11. Wetu Telu di Lombok;
    12. Naurus di Pulau Seram di Propinsi Maluku,
    dan masih banyak lagi.

    Penganut agama-agama azali itu percaya kepada adanya Satu Kekuasan Yang Maha Tak Terbatas.

    Masih berlanjut.

    Nuwun

    Punakawan

  6. Nuwun

    Hari ini, 6 Mei 2012, Saudara-saudaraku umat Budha memperingati Hari Tri Suci Waisak.

    Waisak atau Waisaka (Pali; Sanskrit: Vaiśākha) merupakan hari suci agama Budha. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima atau Saga Dawa, atau Vesak, atau Visakha Bucha. Nama ini diambil dari Bahasa Pali “Wesakha”, yang pada gilirannya juga terkait dengan “Waishakha” dari Bahasa Sanskerta. Di beberapa tempat disebut juga sebagai “hari Buddha”.

    Dirayakan dalam bulan Mei pada waktu purnama sidhi (terang bulan purnama penuh) untuk memperingati tiga peristiwa penting, yaitu :

    1. Lahirnya Pangeran Sidharta di Taman Lumbini pada tahun 623 SM,
    2. Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Budha di Buddha-Gaya Bodhgaya pada usia 35 tahun pada tahun 588 SM
    3. Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusniara pada usia 80 tahun pada tahun 543 SM.
    maka peringatan itu sering disebut Hari Tri Suci Waisak.

    Kepada Saudara-saudaraku umat Budha:

    Selamat merayakan hari Waisak ke 2556 BE yang jatuh pada tanggal 06 Mei 2012

    “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta” – Semoga Semua Mahkluk Berbahagia

    Nuwun

    Punakawan

    Cacatan:

    Lacak artikel tentang Supermoon — atau bulan purnama terbesar sepanjang tahun.
    Pada saat ‘Supermoon’ terjadi, Bulan akan sangat dekat dari Bumi sehingga tampak 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang. Fenomena ini pernah terjadi pada 2011 dan akan berulang lagi tahun ini, tepat pada malam peringatan hari waisak, yang lebih dikenal dengan malam purnama sidhi

    • Bulan keemasan, kuning berkilauan
      terdengar suara seruling bambu,
      merayap ke langit, menikam bumi
      bergetar seluruh jagad raya ini
      (he….he….he…..ingat syairnya mas Ebiet)

      maturnuwun Ki Puna II,
      sugeng dalu.

      • Koq nJur kelingan lagune Pattie Bersaudara, di tahun 1960an.

        Cinta Pertama

        Bulan indah berkilauan
        Namun lebih indah warnamu
        …….

        he he he he

        Sugeng dalu Ki Gembleh

        • wah, periode 60an…????
          temtu Ki Menggung yang termasuk di edisi ini.

          • Lir ilir lir ilir tandure wus sumilir
            Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar ,

            Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi ,
            Lunyu-lunyu yo peneken kanggo mbasuh dodot iro

            Dodot iro dodot iro kumitir bedhah ing pinggir ,
            Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore ,

            Mumpung padhang rembulane ,
            mumpung jembar kalangane
            Yo surako surak hore .

            Sugeng dalu .

            Nuwun !

  7. Nuwun,

    Sugeng enjang para sanak kadang padepokan pelangisingasari.
    Sugeng tepang Ki Haryo Mangkubumi.

    Sungguh sangat indah didengar, di pagi yang sangat cerah setelah di sepertiga malam terakhir, Jakarta disiram gerimis.
    Memang malam Purnama Sidhi telah lewat, dan matahari pagi ini trontong-trontong mulai menerangi permukaan bumi, dan kita dengar Ki Haryo Mangkubumi sedang nembang kidung Ilir-ilir.

    Lir ilir, lir ilir. Tanduré wis sêmilir, tak ijo royo-royo, tak sêngguh têmanten anyar. Cah angon, cah angon. pénékno blimbing kuwi, lunyu-lunyu pénékno kanggo mbasuh dodot iro. dodot iro-dodot iro, kumitir bêdahing pinggir, dondomånå jlumatånå, kanggo sébå mêngko soré, mumpung padhang rêmbulané, mumpung jêmbar kalangané, yå surak å..å..å surak horé.”

    Apa yang dimaksud dengan ilir-ilir?

    Lir-ilir, lir ilir bermakna “nglilirå”.
    Bangunlah engkau hai orang yang berselimut (tidur). Bangkitlah kamu dari nyenyak tidur panjangmu.

    Bukankah ini terjemahan bebas dari Al Qur’an surah ke-74 Al Muddatstsir (Yang Berselimut). Ayat 1.
    Hai orang yang berselimut (tidur), bangunlah, [Q.S. Al Mudatstsir (74) : 1].

    Tanduré wis sêmilir, tak ijo royo-royo, tak sêngguh têmantén anyar.
    Tanaman (ajaran agama) baru (Islam) menghijau (bersemi) laksana pengantin baru.

    Cah angon, cah angon.
    Bocah Angon. Siapa yang dimaksud dengan Bocah Angon?
    Bocah angon adalah pengembala, dan pengembala itu adalah kita, dan kita di sini adalah siapa saja, rakyat jelata, pegawai pemerintahan, pejabat negara, pemimpin, karyawan, buruh, pedagang, atau siapapun.
    Dan siapapun itu harus memiliki jiwa bocah angon, yakni jiwa yang pandai ngemong, jiwa yang éman, jiwa yang melindungi, jiwa yang sabar, amanah, bijak, ikhlas dan tawakal.

    Pénékno blimbing kuwi, lunyu-lunyu pénékno.
    Sang Bocah Angon, diperintahkan untuk memanjat pohon blimbing yang sangat licin. Pohon blimbing yang buahnya berlingir lima. Pohon blimbing yang sangat licin yang buahnya berlingir lima itu adalah suatu sistem tata nilai. Dan sistem tata nilai itu adalah lima rukun Islam.
    Bocah angon yang memiliki jiwa yang pandai ngemong, eman, jiwa yang melindungi, jiwa yang sabar, amanah, bijak, ikhlas dan tawakal tadi, harus mekaksanakan tugas memanjat pohon blimbing yang licin. Pohon blimbing yang buahnya berlingir lima yang sangat licin itu?.

    Lunyu-lunyu penekno.
    Maksudnya: Tugas itu penuh kesukaran, penuh godaan, hambatan, gangguan, ancaman dan tantangan. Tetapi meskipun “lunyu-lunyu”, Sang Bocah Angon harus memanjat juga. Kendati sulit, tetaplah harus dilaksanakan.

    Kanggo mbasuh dodot iro.
    Dodot iro adalah kain panjang seperti kêmbên, pakaian penutup aurat.
    Pakaian adalah lambang jiwa, martabat, harkat, dan harga diri sebagai manusia.

    Saripati air blimbing yang berlingir lima kita pakai untuk membasuh jiwa harkat, martabat dan harga diri sebagai manusia.

    Bukankah ini terjemahan bebas dari Kitab Suci Al Qur’an:
    Dan bersihkanlah pakaianmu [Q.S. Al Mudatstsir (74) : 4].

    Dodot iro-dodot iro, kumitir bêdahing pinggir
    Jiwa, harkat, martabat dan harga diri kita sebagai manusia compang-camping, bedah dan sobek, aurat kita terbuka kumitir bêdahing pinggir.

    Dondomånå jlumatånå,
    Jahitlah dan tisiklah. Jiwa yang yang kehilangan harkat, martabat dan harga diri sebagai manusia hendaknya kita perbaiki. Kita sucikan dan kita kembalikan kepada fitrahnya sebagai manusia.

    Kanggo sêba mêngko sorê.
    Untuk sêba menghadap Sang Maha Khalik mêngko sorê yakni kelak di saat senja hari usia kita.

    Mumpung padhang rêmbulané, mumpung jêmbar kalangané.
    Mumpung masih ada cahaya, padhang rêmbulan. Mumpung masih ada kesempatan yang sangat jêmbar kalanganê dan kita masih diberi waktu. Saat yang sangat pendek yang diberikan oleh Yang Maha Rahman dan Maha Rahim.

    Yå surak å..å..å surak horé
    Kita bergembira, kita bersyukur karena rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

    Tetapi yang terjadi kemudian adalah:

    Kita tak lagi pernah dapat menikmati Tanduré wis sêmilir, dan yang tak ijo royo-royo lagi.

    Mengapa? karena banyak di antara kita tidak pernah nglilir. Tidak pernah gêmrégah bangun dari nyenyak tidur panjang.
    Di antara kita, yakni mereka ternyata enak-enak tidur, acuh tak acuh, cuek terhadap lingkungan di mana mereka berada, cuek terhadap nasib bangsa secara keseluruhan.

    Mereka sudah tidak perduli terhadap sesama bangsa, mereka lebih mementingkan kepentingan diri mereka sendiri dan golongannya.

    Mereka tidur berkepanjangan, dan masih sempat menggerogoti kekayaan negeri, dan menikmati hasilnya.

    Berkali-kali mereka diminta untuk nglilir, bangun dan berjaga, tetapi mereka sudah tuli.

    Bocah Angon?

    Masih adakah Sang Bocah Angon? Sang Pengembala, Sang Bocah Angon Si Penggembala yang memiliki jiwa pandai ngemong, jiwa yang éman, jiwa yang melindungi, jiwa yang sabar, amanah, bijak, ikhlas dan tawakal, yang dengan sepenuh jiwa raga ménék wit blimbing yang lunyu.

    Masih adakah Sang Bocah Angon mau melaksanakan tugas yang penuh dengan kesukaran, penuh godaan, hambatan, gangguan, ancaman dan tantangan, yang digambarkan sebagai pohon blimbing yang lunyu ?

    Dodot iro-dodot iro, kumitir bêdahing pinggir

    Jiwa, harkat, martabat dan harga diri kita sebagai manusia, sebagai bnagsa compang-camping, bedah dan sobek, aurat kita terbuka “kumitir bêdahing pinggir”.

    Tengoklah. Kebohongan dan kemunafikan sedemikian dominannya hingga membuat orang-orang yang masih jujur menjadi terpinggirkan, kesepian dan rendah diri.

    Rasa malu yang menjadi ciri utama pemimpin dan panutan agung Rasulullah Muhammad SAW dan para shahabatnya, tergusur dari kehidupan oleh kepentingan-kepentingan terselubung dan ketamakan.

    Disiplin yang dididik agama seperti adzan pada waktunya, shalat pada watunya, haji pada waktunya, dan sebagainya, tidak sanggup mengubah perangai ngawur dan melecehkan waktu dalam kehidupan kaum beragama.

    Plakat-plakat bertuliskan dengan terjemahan jelas “Kebersihan adalah bagian dari iman”, diejek oleh kekumuhan, tumpukan sampah, dan kekotoran hati di mana-mana.

    Kesungguhan yang diajarkan Al Qur’an dan dicontohkan Kanjeng Nabi tak mampu mempengaruhi tabiat malas dan suka mengambil jalan pintas.

    Di atas, korupsi merajalela. Sementara di bawah, nyolong dan jambret merebak di mana-mana.

    Jumlah orang miskin dan pengangguran seolah-olah berlomba dengan jumlah koruptor dan mereka yang naik haji setiap tahun.

    Nasib hukum juga tidak kalah mengenaskan. Tak perlulah kita capek terus bicara soal mafia peradilan dan banyaknya vonis hukum yang melukai sanubari publik untuk membuktikan buruknya kondisi penegakan hukum di negeri ini.

    Penegak-penegak keadilan sering kali justru melecehkan keadilan. Penegak kebenaran justru sering kali berlaku tidak benar.

    Maniak kekuasaan menghinggapi mereka yang pantas dan yang tidak pantas. Mereka berebut kekuasaan seolah-olah kekuasaan merupakan baju all size yang patut dipakai oleh siapa saja yang kepingin, tidak peduli potongan dan bentuk badannya.

    Jiwa, harkat, martabat dan harga diri kita sebagai manusia, sebagai bangsa compang-camping, bedah dan sobek, aurat kita terbuka kumitir bêdahing pinggir.

    Lalu kapan mereka sempatkan waktu untuk mbasuh dodot iro, untuk membasuh jiwa harkat, martabat dan harga diri sebagai manusia yang compang-camping itu.

    Kapan ada waktu bagi mereka, untuk dondomånå jlumatånå,
    Menjahit dan menisik jiwa yang telah kehilangan harkat, martabat dan harga diri sebagai manusia dan bangsa.

    Kapan mereka sucikan, dan kembali kepada fitrahnya sebagai manusia.

    Dan bila saatnya tiba sêba mêngko sorê.
    Bagi mereka sudah tidak ada lagi mumpung padhang rêmbulané, mumpung jêmbar kalangané.

    Sudah tertutup bagi mereka cahaya, tertutup kesempatan yang sangat jêmbar kalanganê saat yang sangat pendek yang diberikan oleh Yang Maha Rahman dan Maha Rahim.

    Dan mereka tidak diijinkan untuk yå surak å..å..å surak horé.

    Naudzubillah tsumma naudzubillah min dzalik

    Nuwun

    Punakawan

    • matur nuwun Ki Puna II

    • Sugeng dalu ki Puna II lan poro kadang padepokan sedoyo .

      Sugeng tetepangan ki Puna II , lan matur nembah nuwun sanget dumateng ki Puna II ingkang kerso anjlentrehaken isi soho artosipun tembang ilir-ilir puniko saenggo saged kangge pitedah kito sedoyo , salebeting gesang meniko amung mampir ngombe .

      Nuwun .

      • dherek NUWUN,

        tak sengaja cantrik pasang bledehan diganDOK sebelah,
        Mas Risang mesti wes ngerti jawaban-e.

        • SUGENG DALU SADAYA KADANG GANDOK SST

        • Mesthi kemawon ki Gundul lha MAs Risang meniko piyantun ( kera Ngalam ) he..he…he…

          Ngalam ipun pundi Mas Risang ????

          Sugeng siang ki Gundul , Mas Risang , ki Puna II lan kadang padhepokan sedoyo .

          Nuwun !

          • Malangipun malang melintang

          • sugeng dalu ki Haryo, ki Gembleh

            “Malangipun malang melintang”
            tiap malem tugas keliling jaga padepokan
            sapa tau ada mentrik AYU kesasar jalan

            “tugas mas Risang menunjukan jalan”
            jalan menuju tempat tuJUAN, bukan jalan
            menuju ke gandok ki GunduL menanti
            sasar-an……he-heeee, hikssssssssssss

          • sasarane gandhok 10,
            pak Satpame isih
            mengambek.

  8. Sluku-sluku bathok , bathoke ela-elo .
    Si Romo menyang Solo , leh olehe payung motha .
    Pak jenthit loloba , uwong mati ora obah .
    Yen obah medeni bocah , yen urip goleko ………….

    Sugeng dalu ki Gembleh , ki Gundul ki Puna II , Mas Risang neng Malang melintang cedhak karo Malang-malang Putung ning ora pareng Sangkal njih …
    lan poro sutresno gandhok ADBM .

    Nuwun ..

    • Ngenteni SST_10 ah …..
      Sesuk wis dino Kamis lho mas ….

      • Mas Risang van padhepokan Sangkalin,
        itu lho Ki HaryoM sudah mengantu antu
        bukaknya gandhok 10.

        • he he he …
          pun nguantuk niki, ngedite dereng rampung
          sabar njih……

          • mewakili Ki HaryoM,
            inggih Mas Risang.

          • injih…, monggo…

          • Oye , mengko bengi tak nginjen maneh ..

          • jam seGINI….gandok-10 isih rapet-PET !!??

            sugeng dalu ki Haryo dalah kadang sadaya

          • Sugeng dalu ki Gundul .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: