SST-11

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 17 Mei 2012 at 00:01  Comments (62)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sst-11/trackback/

RSS feed for comments on this post.

62 KomentarTinggalkan komentar

  1. BELAJAR ARIF DARI JARI JEMARI

    Entihik-entihik, patenono sitemunggul .
    ojo dhi ojo dhi, dulur tuwo malati .
    Bener-bener …. laler enak seger ????
    [Demikian narasi Ki Haryo Mangkubumi, dengan tembangnya.]

    Punakawan ingin juga melagukan ‘dongeng’ tembang dolanan lare ini:

    Once upon a time, Hing sawijinging dina. Konon di Negara Republik Jari-Jemari timbul huru-hara, dikarenakan adanya fitnah yang menyebar bahwa Si Temunggul Sang Jari Tengah hendak menguasai Jagad Perjarian, dihembus-hembuskan bahwa dialah yang paling tinggi kedudukannya dan yang paling berkuasa.

    Siapa penyebar fitnah itu? Tiada lain Si Tukang Tunjuk, Si Telunjuk. Sang Tukang Perintah.

    Dia memprovokasi Sang Enthik, Si Kelingking yang lemah di antara yang lain untuk melakukan pembunuhan terhadap Sang Penguasa, katanya: “Enthik-enthik, patenana si Temunggul!” Perintah Sang Telunjuk.

    Si Enthik Kelingking pun bertanya: “Si Temunggul dosane apa?
    Dosane ngungkul-ungkuli” jawab si Telunjuk.

    Tetapi, ternyata tidak semua penghuni Republik Jari-Jemari terpengaruh provokasi Si Tukang Perintah, maka mendengar percakapan itu, Sang Jari Manis menasehatinya, “Aja, Dhi! Aja, Dhi! Sedulur tuwa malati!

    Sang Jempol, Ibu Bangsa Penduduk Jari-Jemari meneguhkan pendapat arif dari Sang Jari Manis itu. Sang Jempol membenarkan, “Bener, bener, tahi laler enak seger!

    Cekikiiiik, cegiiiiir!” serentak Kelima Jari Jemari tangan bereaksi mengakhiri percakapan mereka, seraya bersendagurau dan bersyukur.

    Dari percakapan jari jemari tangan itu, kita diajari untuk arif melestarikan kehidupan, “Jangan menghasut!. Jangan membunuh!

    Melalui narasi turun menurun yang dituturkan oleh sesepuh kepada generasi ke generasi berikutnya, kita diminta belajar menghargai perbedaan.

    Jari jemari kita ini berbeda-beda, letaknya, ukurannya, fungsinya, dan pendapatnya.

    Falsafah lima jari, ketika Jari Telunjuk menyuruh dan memerintahkan agar Jari Kelingking membunuh Jari Tengah, karena dia dianggap yang paling unggul dan paling tinggi dan paling panjang di antara semua jari.

    Memperhatikan hal itu Jari Manis mengingatkan bahwa kita harus menghormati orang yang lebih “tua” daripada kita, dan Sang Ibu Jari memberikan pembenaran,

    Kelingking, adalah perwujudan si Lemah, Penurut, dan Pemaaf;
    Jari Manis adalah lambang Penyabar, Baik, Keindahan dan Teladan; bukankah jari manis tempat cincin ditempatkan.
    Jari Tengah, adalah lambang Pengusa, si Tertinggi di antara yang lain
    Telunjuk, si Tukang Perintah;
    Ibu Jari, Penyanjung dan Pembenar bagi Yang Benar, meskipun besar dan pendek, namun menunjukkan kematangan dan kehebatan yang membanggakan.

    Falsafah sederhana dengan analogi yang sederhana pula tentang bagaimana hidup dengan damai, di mana seringkali kita merasa iri dengan keunggulan orang lain, lalu timbul rasa iri dan dengki, dan menghasut orang lain untuk menebar benih kedengkian dan permusuhan.

    Sanak Kadang

    Pluralisme Indonesia adalah suatu keniscayaan. Kenyataannya Indonesia adalah plural, majemuk dalam budaya, agama, dan status sosial ekonomi.

    Setiap orang Indonesia berada dalam pluralitas tersebut. Karena itu, dialog merupakan cara dewasa menjadi Indonesia. Dengan demikian dialog bukan sekedar suatu pilihan, melainkan keharusan untuk membangun Indonesia. Dalam dialog sejati toleransi saja tidak cukup.

    Lebih dari toleransi perlu diupayakan mengembangkan sikap saling mengasihi, saling menghargai dan saling menghormati antar warga Indonesia yang beragam budaya, beraneka agama, dan berbagai status sosial ekonomi.

    Program inkulturasi budaya, kerukunan hidup beragama, dan pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir merupakan perwujudan dialog sebagai cara cerdas menjadi Indonesia.

    Bukankah kenyataan pluralitas Indonesia inilah yang dirumuskan oleh pujangga kita Mpu Tantular dengan “Bhinneka Tunggal Ika”.

    Tubuh kita satu, tetapi banyak anggota. Kalau seluruh tubuh adalah kepala, di manakah tangan? Kalau seluruh tubuh adalah tangan, di manakah kaki?

    Masing-masing anggota tubuh berbeda tempat dan fungsinya, tetapi semuanya terhubungkan satu sama lain, terjalin secara terpadu, berada bersama membangun satu tubuh.

    Kalau satu anggota tubuh terluka sakit, seluruh tubuh merasa sakit. Kalau satu anggota tubuh nyaman, seluruh tubuh merasa nyaman pula.

    Dalam komunikasi perbedaan merupakan potensi untuk menciptakan sinergi.

    Nuwun
    Wilujeng enjang

    Punakawan

    • Matur nuwun Ki Puna II.

      sugeng siang.

      • Sugeng sonten andungkap wengi

        • sugeng sonten……MATUR NUWUN

    • Maturnuwun Ki Punakawan, kulo tenggo dongeng/tembang dolanan sanesipun.

  2. selamat berLIBUR kadang padepokan sadaya

  3. $%#&^%$#@? (ngintip)
    bertanya dalam hati: “kok sepi ya, ya sudah pamit lagi”

    • Hadiiiirrrrr……….

  4. Hari kebangkitan Nasional,

    Ayoooo Ki Menggung….. Bangkitkan !!!!!!!!!

    Bangkit = Menchungul….?????

    • Bangkit = Tegak-kan…..!!!!!

      • Kebangkitan = (bisa juga) MeneGak-kan….Asik,

        • si pesimis akan ngomong,
          ternyata susah membangkitkan.

          si optimis akan ngomong,
          ternyata belum berhasil
          untuk MeneGak-kan.

          asyik juga……

      • Hiikkssss,
        awas lho mengko diwaos Ki Menggung KartoJ,

        Bangkit = Di9berdiriken.

  5. Nuwun
    Sugeng dalu

    Mengenang Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2012

    NAIREM, KI BAGUS SERIT. di SUBUH SUNYI. 17 NOVEMBER 1818
    [Serpihan suara sunyi cikal bakal nasionalisme Indonesia]

    Sejarah Nasional Indonesia mungkin melupakan dua tokoh ini, Nairem dan Ki Bagus Serit, dua orang santri desa Kedondong Cerbon yang gugur di tiang gantungan.

    Meski singkat, gaung perlawanan mengendap pada relung ritus kultural yang substansial. Dua tokoh “pemberontak” Sang Guru Ngaji Ki Bagus Serit dan santri Nairem, tertatih-tatih digiring menuju tiang gantungan, untuk dieksekusi mati di Subuh di pagi sunyi di tengah hutan jati Plered Cirebon, pada hari Selasa tangak 17 November 1818.

    Ki Bagus Serit dan Nairem ditangkap Ferdinand P. Vermeulen Krieger Komandan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) resor Cerbon. atas perintah Residen Cherbon W.N. Servatius dan informasi dari antek-antek Belanda di lingkungan Kesultanan Cerbon.

    Detik-detik sunyi hutan Jati Plered Cerbon di Subuh pagi Selasa, 17 November 1818 berselimutkan kabut. Gerimis tipis di awal pagi jatuh semakin membasahi tanah hutan jati. Hujan baru saja reda.

    Kaki-kaki kedua “pemberontak” dirantai, namun keduanya tersenyum. Bibir dan jari-jemari mereka zikirkan kalimat-kalimat tauhid. Kedua mata Nariem yang tajam memandang lengkung langit yang bertabur bintang-bintang. Ada bulat sabit pucat di balik awan.

    Nairem mencari Bintang Jauhari di sela-sela rimbun daun jati. Dia melihat kilau cahaya gilang gemilang. Lintang Jauhari.
    Ketika itulah sebuah sentakan keras tali eksekusi menjerat leher Nairem. Di detik itulah kedua Santri Kedondong Cerbon di pepohonan hutan jati alirkan Kiser Pengantar Ruh Cerbon Pegat

    Kiser Pengantar Ruh Cerbon Pegat

    Sun besuk mariya eman.
    Yen wonten grananing sasi.
    Srengenge kembar lelima.
    Lintang alit gumilar sing
    sawiji tan hana urip.
    Mung sira kelawan isun.
    Matiya mungging suwarga.

    Esok, bila diriku dipisahkan dengan kasih sayang
    Saat gerhana bulan
    Matahari kembar lima
    Terhampar bintang bercahaya
    tak satupun ada yang hidup
    Hanya kamu dan aku
    Mati mendaki langit surga

    Bait-bait Cerbon Pegat ditembangkan tanpa tetabuhan gamelan. Hanya cengkok pedih suara pesinden.

    Perlawanan keduanya adalah garis linier antara Menusa Cerbon, Gentong Cerbon, dan pemberontakan Santri Cerbon 1818 tidak bersifat eksklusif, tetapi bergerak dalam lingkaran antarmahkota kultural itu.

    Serpihan suara sunyi cikal bakal nasionalisme Indonesia itu kelak menginspirasikan Santri Tegal Rejo dalam Perang Dipanegara 1825 – 1830, sulit dilupakan oleh Menusa Cerbon.

    Bermula dari sinilah kesadaran sufistis pun mencahayai lelaku Menusa CerbonManusia tercipta dari tanah dan kembali ke tanah” menjadi idiom sufistis khas santri Kedondong Cerbon yang diamalkan dengan membuat gerabah gentong wadasan.

    Gentong wadasan di alam jiwa manusia. Cerbon adalah tempat menyimpan air yang terbuat dari tanah liat bernama gentong wadasan dan pendaringan.

    Kalbu menusa Cerbon diejahwantahkan dalam simbol pendaringan sementara gentong wadasan ditakwil para pemahat kultural sebagai simbol kesucian jasadi. Tak aneh manakala menusa Cerbon setiap kali melihat gentong wadasan konon seperti melihat kampung surga.

    Kesadaran sufisme wadasan, menjadi titik awal bagi kaji ulang dalam memaknai jihad fi sabilillah. Di sini Residen Servatius bermain. Ia belokkan arah perjuangan para santri sebagai wujud kebangkitan nasional menjadi arah pergerakan kebudayaan berbasis sufisme wadasan.

    Ini bisa disimak dari beberapa khotbah Jum’at Kliwon tanggal 21 November 1818 tiga hari setelah eksekusi mati Ki Bagus Serit dan Nariem — hampir di seluruh masjid Cerbon dan Indramayu. Khotbah itu alirkan pesan utama Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin.

    Pesan kultural bahwa inti dari jihad akbar bukan pada perlawanan terhadap penguasa dan kekuasaannya, tetapi pada upaya memakmurkan masjid yang bermakna meningkatkan iman, dengan amalan-amalan saleh dan memberdayakan kaum duafa.

    Ada bendera berwana Merah Putih Sang Getah Getih yang dikibarkan oleh Santri Kedondong Cerbon itu. Pesan dari Pesantren Kedondong Cerbon itu sebagai pemantik jiwa Kebangkitan Nasional.

    Selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Selamat beraktivitas kerja di esok hari.

    Sumber:
    1. PH van dr Kemp, “De Cheribonsche Ounlsten van 1818, Naar oorpronkelijke Stukken”
    2. Tandi Skober: “ Nairem Bukan Boedi Oetomo”

    Nuwun

    Punakawan

    • Matur nuwun Ki Puna II,
      selalu menunggu lanjutannya.

      • Matur nuwun Ki Puna II,
        menunggu selalu lanjutannya.

        • Matur nuwun Ki Puna II,
          lanjutannya menunggu selalu.

  6. SUGENG DALU KADANG PADEPOKAN SADAYA

  7. SUGENG DALU KADANG PADEPOKAN SADAYA

  8. “SUGENG DALU KADANG PADEPOKAN SADAYA”

  9. Sugeng siang ….

  10. Nuwun

    Sugeng dalu

    Para wali tempo dulu sebagai mubaligh penyebar Agama Islam di Nusantara, khususnya di Jawadwipa, dalam metode dakwahnya, Beliau menggunakan media seni dan budaya lokal, semisal wayang kulit, tetembang, kekidungan dan sejenisnya.

    Salah satu contohnya adalah dengan tembang atau kekidungan sebagai berikut :

    Sluku-sluku bathok
    Bathoke ela-elo
    Si Rama menyang Solo
    Oleh-olehe payung motha
    Mak jenthit lolo lobah
    Wong mati ora obah
    Yen obah medeni bocah
    Yen urip goleka dhuwit.

    Makna apa yang ingin disampaikan oleh Wali Allah, Sang Penyambung Lidah Nabi ini.

    Dongengnya menyusul.

    Nuwun

    Punakawan

    • Monggo…..
      Enggal dipun wedhar Ki Punakawan.

      • ndherek me”mangga”kan.

  11. Pak Satpam………

    anak2e Mak Laron kalah karo Kebo abang klambi niru.
    ning jagone njenengan malah luwih payah je……!!!!

    he….he….he….
    sugeng dalu.

    • he he he …
      namanya balapan, kadang menang kadang kalah
      gak apa-apa wis
      sebenarnya satpam harapkan dia menang, supaya ramai, setiap kali muncul juara baru.

  12. Eh…, lupa

    Ngapunten, karena kesibukan (wah gaya rek), satpam tidak sempat edit rontal SST-13, libur dulu ya…., he he he …😛

    • Den Mas Risang, laghi sibuk bangeeet ya???

    • Hadu….
      lupa tidak pakai baju, habis dari gagakseta gak lepas baju dulu
      ngapunten…….

  13. Nuwun
    Sugeng sonten

    SLUKU-SLUKU BATHOK

    Sluku-sluku bathok
    Bathoke ela-elo
    Si Rama menyang Sala
    Oleh-olehe payung motha
    Mak jenthit lolo lobah
    Wong mati ora obah
    Yen obah medeni bocah
    Yen urip goleka dhuwit.

    Agak sulit untuk melacak siapa yang menciptakan tembang dolanan bocah Sluku-sluku bathok ini.

    Sebagaimana halnya dengan tembang-tembang dolanan bocah lainnya, seperti: Jélungan, Jamuran, Gêndi-gêrit, Jor, Gulå-ganti, Cublak-cublak suwêng, dan ilir-ilir , ada yang berpendapat, bahwa tembang Sluku-sluku bathok ini diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Akan tetapi mengingat bahwa di antara para wali, Kanjeng Sunan Girilah yang terkenal sebagai seorang pendidik yang gemar menciptakan têmbang dolanan laré maka besar dugaan bahwa tembang tersebut adalah ciptaan beliau.

    Jika tidak, yang pasti adalah bahwa tembang tersebut adalah ciptaan pada jaman wali. Apakah benar ciptaan Sunan Kalijaga atau gubahan bersama dengan Sunan Giri, tidaklah perlu dipermasalahkan.

    Sedikit gambaran, bahwa di kompleks cungkup makam Kanjeng Sunan Giri, di atas para-para masih terdapat seperangkat gamelan yang kondisinya masih bagus. Berdasarkan tarikh, diketahui usia gamelan tersebut dibuat pada akhir abad 14 M.

    Sangat disayangkan juga bahwa referensi tertulis beberapa tembang di atas, sulit didapat. Pengetahuan kita tentang tembang-tembang tadi hanya berdasarkan gethok-tular secara lisan dari mulut ke telinga pendengar kemudian mengalir begitu saja dari generasi ke generasi.

    Dari pelacakan yang dilakukan dari pondok ke pondok, dari pesantren ke pesantren, khususnya pesantren-pesantren pesisir Pantai Utara Jawa, tembang sluku-sluku bathok ini masih dilagukan dengan berbagai versi, terutama ketika di era tahun i960an sampai tahun 1970an.

    Dari sekian versi, salah satu versi yang cukup dikenal adalah versi penjawaan dari Bahasa Arab, sebagai berikut:

    1. Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo

    Konon kalimat ini adalah penjawaan dari kalimat Bahasa Arab: Usluk fa usluka bathnaka, bathnaka ila Allah.

    Masuk masuklah bathinmu kepada Allah semata; di dalam batinmu hanya ada Allah.

    “Tafsir” lainnya adalah Ghuslu Ghuslu Bathnaka… (sucikanlah batinmu).

    Entah mana yang benar, yang jelas, kita juga tahu bahwa ketika seseorang berdzikir melafadzkan kalimat tauhid Laa ilaa ha illallah, atau kalimat toyibah lainnya; jari-jemarinya berhitung dan kepalanya digeleng-gelengkan ke kanan dan ke kiri.

    Tepat sekali dengan penggambaran bathok kelapa yang ela-elo (geleng-geleng). Boleh jadi bathok tempurung kelapa, yang secara filosofi dan bentuknya mirip kepala manusia?

    2. Si Rama menyang sala, dari kata Sharimi Yasluka.

    Petik dan ambillah satu jalan masuk.

    Tentunya yang dimaksud adalah jalan kebahagiaan dan keselamatan, melalui beragama secara benar, berislam secara benar.

    3. Oleh-olehe payung motha, dari kata Laailaha illaallah hayun wal mauta,

    Esakanlah Allahmu selama hidupmu hingga maut menjemputmu.

    Payung motha adalah payung yang biasanya digunakan untuk mengiringi keranda jenazah.

    4. Mak jenthit lolo lobah, boleh jadi kalimat ini berasal dari kalimat mandzalik muqarabah yang bermakna maka siapa yang dekat (kepada Allah).

    Mak jenthit adalah suatu ekspresi begitu mudahnya Izrail, Sang Malaikat Penyabut Nyawa melaksanakan perintah Allah untuk menyabut nyawa manusia. Ini juga menandakan bahwa hidup manusia itu sangatlah singkat, dan mudah bagi Allah untuk mencabutnya bila Dia menghendakinya.

    5. Wong mati ora obah, hayun wal mauta innalillah, Sesungguhnya hidupku dan matiku adalah milik Allah.

    6. Yen obah medeni bocah, dari kata mahabbatan mahrajuhu taubah. Kecintaan yang menuju pada taubat.

    7. Yen urip goleka dhuwit, dari kata yasrifu innal khalaqna insana min dhafiq.

    Sesungguhnya manusia diciptakan dari air yang memancar.

    Bukankah surah Ath Thaariq (86 : 5 dan 6), menyatakan:

    Fal yandhuril insaanu mimma khuliqa, khuliqa mim maa’in daafiqin.

    Maka perhatikan manusia dari apa ia diciptakan, ia diciptakan dari air yang memancar.

    Sanak Kadang. Demikian sepnjang pemahaman dari tembang Sluku-sluku bathok yang sempat terekam dalam penelusuran saya. Begitukah? Atau ada yang punya “tafsir’ lain.

    Sumangga, terpulang kepada Sanak Kadang semua.

    Nuwun

    Punakawan

    • Matur nuwuN kI pUNA ii,
      nengga dongeng atawa penjlentrehan selanjutnya.

      sugeng dallu.

      • Sluku-sluku bathok
        Bathoke ela-elo
        Si Rama menyang Sala
        Oleh-olehe payung motha
        Mak jenthit lolo lobah
        Wong mati ora obah
        Yen obah medeni bocah
        Yen urip goleka dhuwit.

        sinambi nembang sluku2 bathok
        cantrik mencoba nyusup ning gandok SST-12

        HikSS, tumben belom diBUKA mas Risang
        kenapa eehh kenapa….?? 100X

  14. ENAM TAHUN SUDAH

    umpamane cah sekolah, nganti wis lulus SD,
    apa ish kudu ngenteni nganti lulus SMA to…..????

    Katur para sedulur ing Tlatah Lendhut Benter,
    mugia tansah pinaringan sabar, tawakal lan sumarah.

    GUSTI ORA SARE

    • cantrik dherek prihatin,

      Katur para sedulur ing Tlatah Lendhut Benter,
      mugia tansah pinaringan sabar, tawakal lan sumarah.

      GUSTI ORA SARE

      • satpam njih nderek prihatin

        Katur para sedulur ing Tlatah Lendhut Benter,
        mugia tansah pinaringan sabar, tawakal lan sumarah.

        gek enggal dipun lunasi ganti ruginipun

        GUSTI ORA SARE

  15. Gusti Ora Saré

    Gusti Ora Saré, Gusti tansah midangêtaké panjêlihé pårå kawulå kang nandhang påpå cintråkå.

    Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan selalu mendengar (as Sami’), melihat (al Basir) dan mengetahui (al Alim) semua penderitaan, keluh kesah dan permohonan kita. Betapapun berat persoalan yang menghimpit, Tuhan tidak pernah berpaling sedikitpun dari hamba-hambaNya.

    Gusti Ora Sare. ya Gusti sedikitpun tidak pernah mengantuk apalagi tidur

    • Aamiin Ki Puna II.

      • Amiiiin….

  16. Sugeng ndalu poro kadang sedoyo

    Cublak-cublak suweng ,

    Suwenge ting gerantel ,

    Mambu ketundhung gudel ,

    Mak gempo lera-lero ,

    Sopo ngguyu ndhelikake ,

    Sir sirpong dhele kopong ( gosong ? ) ,

    Sir sirpong dhele kopong ( gosong ? ) .

    Nuwun .

  17. Nuwun
    Sugeng dalu, wilujeng malem Jum’atan

    Menelusuri jejak sejarah Awal Kebangkitan Mataram Panembahan Senapati, ternyata mengalami hambatan, itulah sebabnya Dongeng Arkeologi & Antropologi Mataram Danang Sutawijaya — de Regering van Panembahan Senapati Ingalaga —, sudah agak lama tersendat sejak Ki Begawan Bayuaji lengser saking kedaton.

    Masalahnya adalah, bahwa acuan atau sumber penulisan yang digunakan Ki Begawan raib entah kemana. Padahal sumber tersebut dapat dikatakan sebagai sumber otentik. Sebut saja Serat Babad Tanah Jawi, Serat Kandha, dan Serat Wedhatama.

    Punakawan hanya berharap, dalam waktu dekat(atas kebaikan seorang sanak kadang dekat), dapat saya peroleh buku-buku tersebut. Dismaping masih harus blusukan ke situs-situs Sang Panembahan.

    Mohon doa restunya.

    Nuwun

    Punakawan

    • Setya tuhu ngrantos dongen tutugipun Ki Puna II.

      • Sugeng dalu ki Gembleh

  18. gandok SST-12……kenapa belom dibuka mas RISANG ??

    • kunci hiLANG…..ato mas RISANG cape nganglang…!!!!

      • he he he …..
        tiga minggu ini betul-betul melelahkan, satpam tidak sempat editing rontal sst-12
        ngapunten njih…., kapan ada waktu longgar satpam mulai editing lagi.

        • siip, pak Satpam……sing pentiL jaga kesehatan,

          • kacian si CUCU kakek KARTO 3 dina ditinggal
            nganglang,

  19. Wah jebul SST-12 durung dijithet ngglethak karo udud ah ……..

  20. Whadhuh koq isih digembok gandhok SST-12 , opo kuncine ilang ??

    • ilang menghilang ki Haryo….pergi tanpa pesan
      datang kembali tanpa bawa buntelan jajan,

      • Godhong gedhang nopo godhong jati ?????????

  21. Mengeklik kunci gandhok 012,
    hanya kata maaf yang kudapatkan.

    duh….duh…..pak Satpam
    ora krasa apa pancen tega
    mBok mBalung janur, paring usada
    mring kang nandhang wuyung rontal.

    • 4 malam ku absen jaga padepokan
      kunci gandok kutitipkan pada-muu

      dengan satu alasan, satu pesanan
      bukaLAH gandok setelah ki gundul
      datang bertandang…!!??

    • Balung Panggang iku kuthane

      bingung mas Risang nunggu lanjutane

  22. Nuwun

    Sugeng dalu, wilujeng malem Jum’atan

    Setya tuhu kadidene Ki Gembleh, Ki Haryo Mangkubumi, Ki Gundul.
    We ladalah Adimas Risang lagi bingung apa bingung?

    Alhamdulillah, kita masih dipertemukan Allah dengan bulan Rajab, kemudian tak lama lagi Insya Allah bulan Sya’ban dan kemudian Ramadhan.

    Mengikuti tradisi yang baik, maka di padepokan Ki Begawan Bayuaji diadakan acara menyambut Rajab dan Sya’ban serta menyongsong Bulan Suci Ramadhan.

    Punakawan ikut berdoa semoga sanak kadang senantiasa dalam berkah dan lindungan Allah SWT, dan dapat menjumpai Ramadhan tahun ini, dalam kedaan sehat wal afiat.
    Bulan yang senantiasa kita nanti-nantikan kedatangannya.

    Marhaban ya Ramadhan.

    Ya Allah, berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan Ramadhan.Aamin.

    Nuwun

    Punakawan

  23. Godhong wora-wari-bang nggo tamba panas,
    Senthong rolas durung bisa dienggo kipas-kipas.

    Mas Risang…….mbok ndang dibukak to…..
    mengko tak kandakno pak Satpam lho…..!!!!!

    • Pak Satpam didhelikke Mas Risang

      Lha Mas-e Risang lagi nganglang , njur tiada berita …………

      • berita dari kawan :

        mas Risang lagi kasmaran……hiKss,

        • haiyah…..mosok kudu takon marang
          rumput yang bergoyang..?

          • Goyang Kerawang ?????????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: