SST-17

<<kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 22 Juli 2012 at 00:01  Comments (31)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sst-17/trackback/

RSS feed for comments on this post.

31 KomentarTinggalkan komentar

  1. SST-17 sudah tersedia di tempatnya masing-masing

    Mohon maaf file djvu kali ini (dan mungkin seterusnya) lebih besar dari biaanya yang biasanya antara 1-2 MB amenjadi 4-5 MB, karena resolusi yang lebih besar dan satpam tidak sempat (punya waktu lebih) untuk mengecilkan file hasil scanningnya.

    mudah-mudahan hal ini tidak menjadikan sanak-kadang pelangisingosari menjadi kecewa.

    nuwun

    • matur nuwun.

      • kamsiiiaaa

        • kamsiiiaaa matur nuwun.

          • Hikss…..file-e gede soale gambare Risang gendut !😀
            ..nderek matur nuwun Paklik…

          • wah…, ya ora no
            iya nek Ki mBleh….

  2. sugeng siang sadaya

    • sugeng dalu sadaya

  3. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Dumatêng Sanak Kadang Padépokan Pêlangisingosari Ingkang Dahat Sinu Darsånå Ing Budi.

    Sabibaripun Sholat Tarawih lan Witir, salah satu doa yang dipanjatkan jamaah:

    Yaa Allah! Berikanlah kekuatan kepada kami, untuk menegakkan perintah-perintahMu, dan berikanlah kepada kami manisnya berdzikir mengingatMu.
    Berikanlah kepada kami kekuatan untuk menunaikan syukur kepadaMu, dengan kemuliaanMu.
    Dan jagalah kami dengan penjagaanMu dan perlindunganMu,
    Wahai Dzat Yang Maha Memperhatikan
    .

    Aamin.

    Insya Allah. Beberapa saat lagi, sehabis bertadarus di malam ini, Dongeng Arkeologi & Antropologi Mataram Danang Sutawijaya. Sêrat Wédhåtåmå, akan diwedar.
    Mohon maaf dongengnya agak melambat akhir-akhir ini.

    Nuwun

    Punakawan

    • Boten dados menopo , sing penting ono tutuge

      Sugeng dalu ,

      Matur nuwun .

    • Ditunggu….., dengan berdebar-debar

  4. Suwun .

    Ndalu .

  5. Nuwun
    Pamuji Rahayu. Mogi santi Jagad Nusantara

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
    DANANG SUTAWIJAYA
    — de Regering van Panembahan Senapati Ingalaga —

    SÊRAT WÉDHÅTÅMÅ – Bagian Pertama –

    — Sisipan Dongeng Tiga Tahun Pertama Panêmbahan Sénapati, Wong Agung ing Ngêksigåndå —

    Sêrat Wédhåtåmå (tulisan mengenai ajaran utama) adalah sebuah karya sastra Jawa Baru yang bisa digolongkan sebagai karya moralistis-didaktis yang sedikit dipengaruhi Islam.

    Karya ini secara formal dinyatakan sebagai yasan dalêm Kanjêng Gusti Pangéran Adipati Aryå (KGPAA) Mangkunagårå IV (1811-1881). Walaupun demikian ditengarai bahwa penulisnya bukanlah satu orang.

    Sêrat ini dianggap sebagai salah satu puncak estetika sastra Jawa abad ke-19 dan memiliki karakter mistik yang kuat. Bentuknya adalah tembang, yang biasa dipakai pada masa itu.

    Sêrat ini terdiri dari 100 pupuh (bait, canto) tembang macapat, yang dibagi dalam lima lagu, yaitu:
    • Pangkur (14 pupuh, I – XIV))
    • Sinom (18 pupuh, XV – XXXII)
    • Pocung (15 pupuh, XXXIII – XLVII)
    • Gambuh (35 pupuh, XLVIII – LXXXII)
    • Kinanthi (18 pupuh, LXXXIII – C)

    Isinya adalah merupakan falsafah kehidupan, seperti hidup bertenggang rasa, bagaimana menganut agama secara bijak, menjadi manusia seutuhnya, dan menjadi orang berwatak ksatria.

    Terdapat beberapa bagian yang dapat dianggap sebagai kritik terhadap konsep pengajaran Islam yang ortodoks, yang mencerminkan pergulatan budaya Jawa dengan gerakan ‘pemurnian’ Islam (gerakan Wahabi) yang marak pada masa itu.

    Tentang Danang Sutawijaya, kelak adalah Panêmbahan Sénåpati, Sêrat Wédhåtåmå dalam têmbang Sinom, sebagai berikut:

    Pupuh 1 (15) Sinom.

    // Nulådå laku utåmå,
    tumrapé wong Tanah Jawi,
    Wong Agung ing Ngèksigåndå,
    Panêmbahan Sénåpati,
    kêpati amarsudi,
    sudané håwå lan nêpsu,
    pinêsu tåpå bråtå,
    tanapi ing siyang ratri,
    amamangun karyênak tyasing sêsåmå.
    //

    // Teladanilah laku utama,
    Bagi kalangan manusia di Tanah Jawa (Nusantara Indonesia),
    orang besar dan terhormat di Ngèksigåndå (Mataram),
    dialah Panembahan Senopati,
    yang tekun,
    di dalam mengurangi dan mengendalikanhawa nafsu,
    prihatin melaksanakan prihatin laku bertapa,
    di siang serta di malam hari,
    yang selalu berkarya membuat tenteram hati dengan membangun kasih sayang dan membahagiakan sesama. //

    Panembahan Senapati adalah raja pertama Mataram Islam yang bergelar Panêmbahan Sênåpati Ing Ngalågå Ngabdurrahman Sayyidin Panåtågåmå Khalifatullah Tanah Jåwå.

    Dilihat dari gelarnya maka beliau itu sudah bisa menjadi pemenang atas diri sendiri dari ego kepemilikan pribadi yang diakui secara sepihak dan bermandikan cahaya Illahi yang penuh Rahman dan Rahim maka berhak menjadi khalifah di bumi ini dalam arti sudah menjadi wakil Tuhan di dalam menata agama dan negara.

    Ketika kita menjadi pemenang atas diri sendiri maka kita akan menggunakan nafsu muthmainah kita sebagai pemimpin dari segala nafsu kita, lalu apakah nafsu muthmainah itu?

    Nafsu yang ingin selalu dekat kepadaNya, hanya nafsu muthmainah yang mendengar panggilanNya sedangkan nafsu-nafsu lainnya hanya sibuk mengurusi keduniaan,

    Untuk siapa panggilan ini?
    Panggilan itu ditujukan kepada mereka yang terpuji atau umat yang menjunjung tinggi akhlak mulia serta mempraktekannya didalam kehidupannya sehari hari. Siapapun dia.

    Panembahan Senapati memberi contoh dalam olah rahså atau olah hati yang paling dalam, yang dimulai dari mengosongkan diri dari sifat kesombongan dan juga penyakit-penyakit hati lainnya, apabila kita bisa mengosongkan hati dari hal-hal yang bersifat keduniaan dan penyakitnya maka kita akan bisa mendengar suara kesejatian atau cerminan diri kita yang terbaik dari cahaya Illahi yang dipantulkan dengan sangat bening atau rahså sejati.

    Setiap orang punya bentuk rahså sejati, hanya berbeda-beda sesuai dengan karakter yang dimilikinya tapi pada hakekatnya sama yaitu bening tanpa cacat, cela dan noda, inilah cerminan sebaik-baiknya diri kita yang akan menjadi teladan pribadi untuk kita contoh dan ikuti, dan ini hanya bisa dirasakan dan dihayati bagi yang percaya.

    Apabila kita bisa mengikuti apa kehendak kesejatian itu, maka diri kita akan bersatu dengannya, dan menjadi diri sejati yang sebenarnya, siap untuk untuk menjadi mata, telinga, tangan, dan seluruh indera kita, maka inilah khalifah Allah yang sesungguhnya yang tanpa pengakuan dari pihak manapun, tapi sudah diakui olehNya.

    Khalifah Allah inilah yang berhak menjadi pemimpin atas agama dan masyarakat. Dalam Islam, pemimpin atas agama bisa berarti ulama, namun syarat-syarat syar’i menjadi ulama yang berupa hafal Al Qur’an beserta Al Hadits serta yang berkenaan dengan itu tidaklah cukup, karena bisa jadi iblis lebih mengetahui Al Qur’an dan Al Hadits serta lebih fasih hukum-hukum agama, daripada ulama.

    Tapi kita tahu, iblis bukanlah ulama, malahan menjadi musuh kita yang nyata, maka dari itu kebeningan hati serta terbebasnya diri dari segala kepentingan duniawi menjadi syarat mutlak bagi ulama supaya fatwa-fatwa yang dikeluarkan tidak terkotori nafsu-nafsunya sendiri dan sayangnya tidak semua ulama terbebas dari kotoran-kotoran hati dan dunia, bagaimana mau menghasilkan fatwa yang benar kalau petunjuk Allah terhalang oleh kekotoran hatinya sendiri, ini hanya analogi sederhana bagaimana pentingnya menjaga dan membersihkan hati secara terus menerus.

    Begitu pula analogi bagi pemimpin masyarakat yang benar atau pamong pråjå. Pamong itu sifatnya ngêmong atau melayani, dengan demikian, tidaklah tepat kalau pemimpin itu diistilahkan pemerintah, karena kesannya hanya bisa perintah, hanya menjadi “tukang perintah”, sedangkan pamong itu disamping melayani, dia juga bawahan dari masyarakat yang dipimpinnya itu.

    Pengabdian kepada rakyat bagi pamong adalah lebih utama, daripada pamrih atau imbalan (sêpi ing pamrih ramé ing gawé).

    Juga bukanlah seorang pemimpin bangsa jika dia adalah seorang pangrèh pråjå. Pangreh, dari kata dasar rèh, bisanya hanya menjadi “tukang rèh” atau tukang peras. Pangreh hanya sebagai penguasa tanah atau feodal sedangkan rakyat hanya dijadikan budak dari sang majikan, maka segala kebijakan hanya mengacu pada kesejahteraan si tuan penguasa, sedangkan kesejahteraan rakyatnya terabaikan.

    Di atas semua itu yang paling berbahaya adalah bila bersatunya pemimpin agama (ulama) dan pemimpin pemerintahan (umara) di dalam memperkosa rakyatnya dengan cara mengeluarkan fatwa-fatwa penuh nafsu dunia dengan disertai dalil-dalil penguat sebagai pembenaran tindakannya, dalam rangka nafsu politi.

    Di depan berbuat menguatkan dan melanggengkan kekuasaannya (ing ngarså ngumbar angkårå; di tengah-tengah memeras harta rakyat, dan menyelewengkan harta negara (ing madyå nglumpuké artå); menyengsarakan dan membelenggu kemerdekaan hak asasi rakyatnya supaya kemerdekaan berpikirnya rakyat, dengan membatasi semaksimal mungkin; diikuti dan bersama kroni-kroninya memperkaya diri sendiri (tut wuri mèlu nadahi).

    Tidaklah demikian yang dicontohkan oleh Panembahan Senapati. Dia adalah seorang pamong, yang dengan laku prihatin tåpå ngramé (bertapa di dalam keramaian, bertapa dengan menyibukkan diri di dalam mobah-mosiking jagad).

    Tidak bertapa dalam arti hanya duduk bersamadi di puncak-puncak gunung atau gua, menyepi, yang justru menjauh dari bêbrayan agêng, di sini Sang Panembahan dituntut bekerja tanpa pamrih membantu orang lain dengan segenap keikhlasan dan rasa syukur.

    Apabila kita ikhlas, sebagaimana dicontohkan Panembahan Senapati, maka segala kepemilikan kita sudah kita pasrahkan kepada Gusti Kang Agawé Urip, dalam arti rasa miliknya, di situlah kita berhasil mencapai “sugih tanpå båndå“, — tidak memiliki sesuatu, tetapi merasa telah memiliki sesuatu — maka segala langkah dan perbuatan kita akan serasa ringan tanpa beban.

    Kita akan menjadi manusia yang ringan tangan atau gemar menolong orang lain tanpa pamrih dan semua itu dilakukan dengan penuh rasa syukur apapun hasil yang kita peroleh, maka hikmah yang akan kita capai adalah sabar dan syukur di segala kondisi dan situasi serta gemar menolong terhadap orang lain tanpa pamrih.

    Tåpå ngramé itu pun dilakukan baik siang hari maupun malam hari, maka karenanya sepanjang hari nafsu kita akan terkendalikan seperti makan secukupnya dengan tidak berlebih-lebihan, serta membatasi diri dari perbuatan-perbuatan yang kurang berguna.

    Apabila kita sudah melakukan hal-hal tersebut maka kasih sayang Allah dalam hal ini adalah Rahman dan RahimNya akan memancar kepada kita untuk kita pantulkan kembali kepada sesama dalam bentuk perbuatan kita sehari-hari yang penuh kasih sayang dan cinta kasih dari Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    Itulah makna salah satu dari filosofi Panembahan Senopati, dan tentu saja dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada beliau pribadi selaku Pamong Kawulå Mataram. Leluhur bangsa ini.

    Pupuh 02 (16) Sinom

    // Samangsané pasamuwan,
    Mamangun martå martani,
    Sinambi ing sabên mångså,
    Kålå kalaning asêpi,
    Lêlånå tèki-tèki,
    Nggayuh géyonganing kayun,
    Kayungyun éninging tyas,
    Sanityaså pinrihatin,
    Puguh panggah cêgah dhahar lawan néndrå.
    //

    // Dalam setiap pertemuan,
    menciptakan kebahagiaan lahir batin dengan sikap tenang dan
    sabar, penuh kerendahan hati
    Sementara itu pada setiap kesempatan,
    di kala sepi atau di waktu luang,
    berkelana bertindak laku mengembara,
    Menggapai cita-cita sepenuh kalbu,
    yang didambakan bagi ketentraman batinnya.
    Hati yang senantiasa prihatin,
    bersungguh-sungguh mencegah makan dan tidur. //

    Dalam setiap kesempatan, didalam bergaul dengan siapa saja, ngêmbyah ing madyaning bêbrayan agung kita dituntut untuk membangun suatu sikap têpå-slirå, tahu diri terhadap lawan bicara kita (Samangsané pasamuan, mamangun martå martani).

    Untuk mewujudkan sikap tahu diri yang tepat dan bisa diterapkan kepada khalayak ramai maka kita harus selalu melakukan: refleksi (reflection), meditasi (meditation), berpikir (thinking), pertimbangan (consideration) dan perenungan (contemplation), mau dan mampu membaca tanda-tanda alam, di setiap kesempatan dan waktu, (sinambi ing sabên mångså, kålå kalaning asêpi).

    Kita dituntut untuk senantiasa berpikir akan kekuasaan Tuhan Yang Maha Tak Terbatas. KekuasanNya yang meliputi seluruh alam semesta, dan betapa kecilnya kita ini, kita tidak lebih hanya sepersekian titik debu di alam jagat raya ini.

    Dalam merenung, kita melihat kedalam diri kita, menembus ke dalam batin kita, mengingat dan menyebut Kebesaran NamaNya, dan yang demikian itu tidak cukup hanya dengan menyebut dan mengingat saja, dengan hitungan sekian kali sekian kali, tapi dengan niat didalam hati, meresapi makna dari namaNya, sesungguhnya Cahaya dari Nama-NamaNya itu ada dibalik ciptaanNya.

    Di dalam olah-laku itu, leluhur kita dahulu pergi ke alam terbuka untuk bisa lebih meresapi laku pikir dan perenungannya (lêlånå tèki-tèki), mungkin ini yang disebut laku-tåpå yang dikenal dengan berbagai nama sebutan. Di gua, di gunung, di tepian pantai atau di tempat-tempat sepi yang jarang dijamah manusia.

    Zaman sudah berubah. Dalam olah-laku-tåpå masa kini, mungkin cukup kita lakukan di dalam rumah kita sendiri. Di dalam ruang ‘pesemadian’ tergantung agama dan keyakinannya, seperti di: mushola, sanggar pamujan, sanggah pêmêrajan, sanggar pasêmadèn, atau tempat yang disediakan secara khusus untuk melakukan komunikasi dengan Yang Maha Agung; atau masih seperti sesepuh kita, pergi ke ‘ruang’ alam terbuka, di puncak gunung atau di tepi pantai, sambil mensyukuri keindahan pemandangan alam yang terbentang, ciptaan Sang Maha Sempurna.

    Didalam olah-laku itu, berbagai macam keinginan dapat kita panjatkan ke hadirat Tuhan, keinginan apa saja, cita-cita apa saja yang hendak digapai, boleh kita pohonkan (nggayuh gêyonganing kayun), namun semua itu harus kita labuhkan kepada Dia Yang Maha Berkehendak, karena hanya Dialah Yang Maha Tahu, dan hanya Dia Sang Maha Pemilik Alam Semesta ini.

    Dalam kehidupan sehari-hari, olah-laku hendaknya dibarengi dengan senantiasa menjaga hati untuk prihatin menahan hawa nafsu (sanityaså pinrihatin).

    Semua laku didalam menahan dan mengendalikan hawa nafsu itu harus dengan niat dan tekad yang kuat membatasi makan dan tidur (puguh panggah cêgah dhahar lawan néndrå).

    Membatasi makan itu bukan dengan menyiksa diri berpuasa sepanjang masa, dan bukan pula dengan makan sekenyang-kenyangnya, mumpung masih bisa makan?

    Membatasi makan itu maksudnya adalah makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang, seperti kita tahu bahwa apabila makan sampai kekenyangan maka itu tidak baik bagi kesehatan.

    Bukankah segala sesuatu bila dilakukan secara berlebihan justru menimbulkan berbagai macam penyakit di dalam tubuh kita? Dengan kata lain hendaklah makan secukupnya sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.

    Membatasi tidur, tidaklah bermaksud lèk-lèkan, berjaga sepanjang malam tanpa tujuan yang bermanfaat.

    Bangun di tengah malam, berniat laku-tåpå, kembali kita lakukan meditasi, refleksi diri, berpikir, dan merenung betapa Sang Maha Pemberi Anugrah, telah banyak memberikan kenikmatan kepada kita, namun bertanyalah kepada diri kita, apa yang telah kita berikan kepadaNya.

    Malam yang semakin larut, sampun langkung ing madyaning ratri, kapårå sampun tumapak ing wanci énjang. Malam sudah di duapertiga perjalanannya, Kita terjaga dari tidur lelap kita, bergegas bangun dari tempat peraduan, alangkah baiknya segera bersuci, endapkan seluruh rasa ke titik paling rendah dalam sanubari, dan mulailah bertanya-tanya tentang diri sendiri:

    untuk apa umurmu dihabiskan; untuk apa ilmu yang engkau peroleh; untuk apa badanmu digunakan, dan hartamu darimana engkau dapatkan dan kemana engkau belanjakan.

    Kepandaian, olah pikir yang diberikan olehNya untuk merancang segalanya, apakah engkau gunakan untuk merencanakan dan menyiasati dunia dan isinya, dan semata-mata hanya untuk kepentinganmu belaka?

    Tangan yang Tuhan beri sedikit kekuasaanNya untukmu, apakah engkau gunakan untuk menyengsarakan umat hamba-hamba Tuhan yang lain?

    Bukankah tangan anugrah Tuhan itu, dapat engkau ulurkan dengan belai kasih sayang bagi sesamamu. Bersyukurlah pula jika engkau mau dan mampu memberikan sebagian hartamu lewat tanganmu itu untuk mereka yang memerlukan bantuanmu.

    Mulut yang Dia beri wewenang atasmu, apakah engkau gunakan untuk menyebar fitnah dan kedengkian, sehingga kebohongan dapat engkau ubah menjadi kebenaran menurut seleramu.

    Alangkah indahnya bila mulut itu engkau gunakan untuk mengucapkan kata-kata indah, penuh dengan sopan-santun, unggah-ungguh, tåtå-kråmå, lemah-lembut yang menggembirakan sesamamu, yang tulus dari hati sanubarimu, atau menderas Kidung Suci Kalam Illahi.

    Kedua telinga yang seharusnya engkau gunakan mendengarkan suara merdu Sabda Langit, apakah kau gunakan untuk mendengar kersak-kersik berita sumbang, kemudian kau sebarkan lewat mulutmu sebagai fitnah, dan kabar dusta.

    Lebih baik, bila engkau gunakan kedua telingamu untuk menyerap lagu merdu Suara Langit, atau engkau dapat mendengar keluh-kesah kaum kerabatmu, dan engkau bergegas segera menolongnya.

    Hidungmu, apakah engkau gunakan untuk mengendus-endus borok tetanggamu, kemudian engkau sebarkan berita itu dengan keji ke tetangga-tetanggamu yang lain. Bukankah akan lebih baik jika hidung itu engkau mampukan mencium wangi parfum, kembang setaman sorgaloka.

    Kedua kakimu, engkau langkahkan kemana dan untuk apa. Apakah kedua kakimu engkau gunakan menginjak-injak orang-orang bawahanmu, bersamaan dengan itu pula engkau gunakan lidahmu untuk menjilat-jilat orang-orang di atasmu.

    Sungguh lebih berguna jika kedua kakimu engkau langkahkan mengunjungi sanak kadangmu yang tertimpa kesedihan, sembari engkau bawakan sesuatu yang berguna baginya, atau engkau datangi tempat engkau dapat bersimpuh, bertafakur, mengadukan hal-ihwal kepada Tuhanmu.

    Adakah engkau pada hari ini telah berbuat aniaya terhadap sesamamu, terhadap alam dan lingkungan sekitarmu. Apa yang telah engkau perbuatan terhadap makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhanmu?

    Adakah engkau memberikan sedikit kegembiraanmu kepada sesamamu, atau malah engkau berbuat keji terhadapnya.

    Harta yang engkau miliki, dari mana engkau dapatkan, dan bagaimana caramu mendapatkannya. Dengan kekuasaan pikir dan tanganmu apakah engkau tega mengurangi bahkan mungkin meniadakan hak-hak yang seharusnya dimiliki pihak lain, dan harta itu jatuh ke tanganmu.

    Apakah kekuasaan yang engkau miliki engkau gunakan untuk merampas harta sesamamu, merampok, mencuri, mengutil, menipu atau korupsi.

    Apakah harta yang Tuhan berikan kepadamu, telah engkau gunakan untuk menggembirakan sesamamu, kepada para titah Tuhan, atau malah engkau gunakan untuk menyengsarakan sesamamu. Dengan harta yang ada padamu engkau berbuat lalim terhadap bangsamu dan sesamamu.

    Berbagai hal yang dapat engkau lakukan. Kemudian nilailah dirimu sendiri.
    Adakah pikiran yang buruk.
    Adakah tutur kata yang salah ucap.
    Adakah tindakan yang tercela.

    Mohonlah ampun kepada Dia Yang Maha Pengampun.
    Mohonlah pengamanan yang kukuh atas imanmu,
    Mohonlah penyelamatan kepasrahan dirimu padaNya,
    Mohonlah agar kedua telingamu tidak menyadap kersak-kersik berita dusta,
    Mohonlah agar hidungmu tidak mencium aroma kebusukan.
    Mohonlah agar mulutmu tidak gemar menyulap kebohongan menjadi kebenaran dan menyebar fitnah.
    Mohonlah agar kedua tanganmu tidak mengambil hak orang lain.
    Mohonlah agar tangan-tangan yang engkau miliki dapat engkau gunakan untuk merengkuh hati orang lain dengan kasih sayang.
    Mohonlah agar kedua kakimu tidak melangkah ke jalan kedurhakaan.
    Mohonlah agar Dia Yang Maha Pemaaf, memberikan maaf kepadamu.

    Dan kepadaNya.
    Bermohonlah agar jangan Dia tinggalkan dirimu walau hanya sekejap.
    Mohonlah perlindungan kepadaNya, agar engkau terlindung dari para pendurhaka, terlindung dari kejahatan yang menembus bumi dan kejahatan yang keluar dari bumi; terlindung dari kejahatan yang naik ke langit dan kejahatan yang turun darinya; terlidung dari bencana pagi, siang, sore dan malam hari;
    terlindung dari para pendatang kecuali yang datang dengan segala kebaikan.

    Pupuh 3 (17) Sinom

    // Sabên méndrå saking wismå,
    Lêlånå lêladan sêpi,
    Ngingsêp sêpuhing supånå,
    Mrih pånå pranawèng kapti,
    Tis tising tyas marsudi,
    Mardawaning budyå tulus,
    Mêsu rèh kasudarman,
    Nèng têpining jalanidhi,
    Sruning bråtå kataman wahyu dyatmikå.
    //

    // Manakala pergi meninggalkan rumah,
    berkelana ke tempat yang sunyi,
    menyadap puncak ilmu sejati,
    agar jelas tercapai yang menjadi tujuan hidup.
    berbekalkan tekad dan dilandasi kelembutan hati yang selalu berusaha dengan tekun,
    mempertajam daya pikir serta menghayati cinta kasih,
    berada ditepinya samudra,
    kuatnya bertapa demi dapat menerima wahyu hidup yang sejati. //

    Setiap pengembaraan meninggalkan “rumah” (sabên mêndrå saking wismå), bermakna filosofi, sebagai penggambaran yakni ketika ruh meninggalkan badan wadag jasmani.

    Ruh? Apakah ruh itu?

    ånå toêtoêgé

    Punakawan

    • matur nuwun Ki
      sampun dangu ngantu antu
      akhirnya…………

  6. Nuwun
    Sehabis sholat Tarawih dan Witir, menjelang rtadarusan, satu cuplikan doa buat kita semua:

    Yaa Allah! Jadikanlah kami di antara orang-orang yang memohon ampunan, dan jadikanlah kami sebagai hamba-hambaMu yang sholeh dan setia; serta jadikanlah kami di antara Auliya’-Auliya’ Mu yang dekat di sisiMu, dengan kelembutanMu Wahai Dzat Yang Maha Lemah-Lembut, Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara semua pengasih.

    • Aamin……

  7. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Sugêng énjang. Sugêng pêpanggihan pårå kadang sâdåyå. Atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan, såhå sinu darsånå ing budi.

    Menjelang sahur di hari ke-6 (atau ke 7) Ramadhan 1433H, Punakawan tertarik menyimak Kitab-kitab Kuno Masuknya Islam ke Tanah Air Nusantara dari Perpustakaan Begawan Bayuaji.

    Pada Ramadhan 1431H, di padepokan pêlangisingosari tercinta kita ini, Begawan Bayuaji, pernah medar Dongeng Arkeologi & Antropologi Penyebaran Islam di Nusantara, diawali dengan dongeng Fatimah binti Maimun bin Hibatu’llah, muballighot pertama di Pulau Jawa, hingga Dongeng para anggota Wali Sångå.

    Berdasarkan temuan, para arkeolog mempercayai bahwa makam Fatimah binti Maimun bin Hibatu’llah adalah situs makam terkuno yang bercirikan Islam. Makam Fatimah binti Maimun bin Hibatu’llah ini berada tidak jauh dari sekian banyak makam tokoh Islam masa lalu di wilayah pantai utara Jawa Timur.

    Jika berkendara dari tol Surabaya, pårå kadang bisa keluar di tol Manyar – Gresik. Sekitar satu kilometer lagi ke arah Lamongan bisa dijumpai makam Fatimah ini. Di sisi kiri jalan ada papan besar bertuliskan Makam Fatimah binti Maimun.

    Berjalan 200 meter menelusuri jalan paving, terlihat kompleks makam yang ada di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, itu. Kondisi makam agak kurang terawat. Sebagian pagar kompleks makam yang terbangun dari batu bata, roboh. Beberapa makam kuno yang berada satu kompleks, batu nisannya patah.

    Situs makam kuno bertuliskan 475 H atau 1082 Mi, tetapi ada yang berpendapat tahun 495 H atau 1102 M.

    Tetapi benarkah Islam masuk ke Indonesia (Nusantara khususnya Tanah Jawa) pada tahun 1080an M?.

    Beberapa temuan arkeologis (meskipun bukan yang terbaru), dan berdasarkan catatan pengembaran pendeta-pendeta agama Budha dari Daratan Cina, salah satunya seperti terekam dalam Record, tulisan pendeta Buddha I Tsing dari Kanton, yakni tulisan yang menerangkan lokasi-lokasi persinggahan I Tsing dari Cina – Asia Tenggara – India. Pada tahun-tahun 674 sd 675 I Tsing belajar agama Budha di San Fo Tsi.

    Dalam buku kenangannya itu, I Tsing menceritakan bahwa sang peziarah Hui Ning memutuskan perjalanannya selama tiga tahun di pulau She Po (664 sd 667) untuk menterjemahkan sebuah sutra, dari mazhab Hinayana, mengenai Nirwana yang agung. Penterjemahannya dibantu seorang pakar Jawa yang bernama Janabhadra.

    Di She Po, dicacat olehnya, bahwa ada sebuah kerajaan bernama Ho Ling, yang diperintah oleh seorang Maharani bernama Si Mo, kerajaan digambarkan sebagai negara yang aman dan makmur, tanahnya subur, sawah-sawah menguning, perdagangan sangat ramai, dan ratu Si Mo memerintah kerajaannya dengan tegas dan adil.

    Diceritakan pula, sekitar tahun 670an M (kurang lebih tahun 674 M), telah datang ke Tanah She Po tersebut, serombongan pengembara bangsa Ta-shi (ada yang menyebutnya Ta-Che (perbedaan penyebutan hanya masalah logat saja), yang dipimpin oleh seorang raja (‘emir’), bernama Han-mi-mo-mi-ni.

    Para pengembara ini digambarkan datang ke Tanah She Po tanpa membawa senjata, karena mereka hanya bermaksud berdagang, mereka dihormati karena kebersihannya, disebutkan bahwa mereka mencuci muka sebanyak lima kali sehari, dan mandi paling tidak dua kali sehari.

    Dari catatan kronika Cina tersebut diketahui bahwa She Po adalah Pulau Jawa, Ho Ling adalah Kerajaan Kalingga, sedangkan San Fo Tsi diduga sebagi tempat pusat pendidikan agama Budha aliran Hinayana di Gunung Siguntang, di Kerajaan Sriwijaya Sumatra Selatan.

    Ta-shi adalah sebutan dari Bahasa Cina untuk bangsa-bangsa yang menghuni di wilayah Timur Tengah, tepatnya di Jazirah Arab, sedangkan “raja” atau “emir” ternyata seseorang pemimpin perjalanan (para musafir atau pengembara) yang juga merangkap sebagai ketua (imam). Mungkin yang dimaksud ketua di sini adalah imam sholat.

    Boleh dipastikan bahwa sebutan Han-mi-mo-mi-ni adalah ucapan Cina untuk Amirul Mu’minin, gelar resmi para khalifah Islam.

    Jika temuan arkeologis itu benar, maka tahun 674 M, berarti 42 tahun setelah wafatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Beliau wafat pada tahun 632 M, atau tahun ke-11 dari hijrah Beliau, sekitar tahun 51 H atau 52 H. Khalifah yang memerintah pada waktu itu adalah Yazid bin Mu’awiyah.

    Kalau begitu pertanyaannya: Kapan Pertama Kali Agama Islam masuk ke Indonesia (Nusantara)?

    Tunggu dongengnya. Insya Allah akan diwedar di gandhok ini. Itupun kalau diizinken sama Bapak Saipam, yang sudah “nglungsungi” jadi Risang.🙂

    Oh ya salam hormat saya kepada Ki Arema (yang sudah lama tidak mechungul) Ki Gembleh, Ki Bancak, Ki Haryo Mangkubumi, Ki Gundul, Ki Arga, Ki Ismoyo (kemana saja ki), Ki Kartoyuho, Ki DjodjosM (juga lama nggak menampakkan diri), Ki Truno (idem), Ki Sandikala (yang masih sregep dongeng Mahesa Amping), Ki Budi Prasojo, Ni Miss…. (sapa ya, lali), Ki …. yang di NZ, dll dll dll.dlllllll

    Wilujêng anindakakên ibadah ing warså Ramadhan 1433H puniki. Mugi sadåyå amal ibadah Panjênêngan, katampi dening Gusti Allah Ingkang Måhå Agung. Aamin.

    Nuwun

    Punakawan

    • matur suwun atas pencerahannya ki
      P. Satpam bajunya hilang saat dijemur, he he he …..

      • Nderek matur suwun atas pencerahannya ki Puna
        P. Satpam saat dijemur juga bisa ganti Batara…eh…Barata, he he he …..

        • Nderek matur suwun atas pencerahannya ki Puna,

          P. Satpam menghilangkan baju saat dijemur juga
          bisa he-he-hee…..heeeeee,

  8. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Doa hari ini:

    Yaa Allah! Janganlah Engkau hinakan kami karena perbuatan maksiat terhadapMu. Janganlah Engkau pukul kami dengan cambuk balasanMu. Jauhkanlah kami dari hal-hal yang dapat menyebabkan kemurkaanMu, dengan anugerah dan bantuanMu, Wahai Dzat Yang Maha Tinggi, puncak pengharapan orang-orang yang berpengharapan

    Aamin

    ———–

    Menjelang senja, dengan kegembiraan beberapa santri telah bersiap-siap di teras masjid, bebenah, ada yang menggelar tikar, menyusun piring-piring kertas dan gelas-gelas wadah penganan dan minuman. Santri perempuan sibuk di dapur pesantren menyiapkan minuman dan kue-kue. Ngabuburit

    NGABUBURIT

    Kata ngabuburit sekarang sudah menjadi istilah semua orang untuk menunggu waktu saatnya berbuka puasa. Sebenarnya dari manakah asal kata ngabuburit itu?

    Kata ngabuburit adalah suatu istilah dari Bahasa Sunda yang umum dipakai pada saat menjelang berbuka puasa.

    Sambil menunggu waktu berbuka biasanya kita isi dengan kegiatan yang menarik (fun) hanya sekedar untuk menghabiskan waktu.

    Kata dasar ngabuburit sendiri sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan puasa.

    Ngabuburit berasal dari kata burit, sebuah representasi waktu yang menunjukkan mulainya malam hari.

    Ngabuburit artinya mengisi waktu hingga burit (malam) tiba.

    Selain istilah burit Bahasa Sunda banyak kosakata yang merepresentasikan waktu seperti tengah peuting kira-kira pukul 00.00, isuk-isuk kira-kira pukul 06.00, tengah poé/lohor kira-kira pukul 12.00, ngampih laleur yang artinya waktunya lalat bubar kira-kira pukul 17.00.dan sebagainya, representasi waktu itu umumnya dihubungkan dengan kebiasaan mahluk atau alam

    Burit yang berarti sore. Ngabuburit berarti menunggu sore, dan tadinya tidak harus bulan puasa saja. Karena buka puasa dilakukan di sore hari (maghrib) maka akhirnya ngabuburit pun dipersempit artinya menjadi: menunggu saatnya buka puasa

    Sekarang ngabuburit juga sudah menjadi istilah baku dalam kosa kata Bahasa Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

    Selamat berngabuburit

    Nuwun

    Punakawan

    • Amin…..Amin…..Amin,

      • matur nuwun doa-nya ki Puna,

        • amiiin……amiiiin…….amiiiinnnn…….

          • Aamiin…aamiin…aamiin…..

  9. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Alhamdulillah tujuh hari sudah berpuasa

    Doa hari ini:

    Yaa Allah! Bantulah kami untuk melaksanakan puasa, dengan ibadah malamnya. Jauhkanlah kami dari kelalaian dan dosa-dosa. Dan berikanlah kepada kami dzikir berupa dzikir mengingat Engkau secara berkesinambungan, dengan taufiqMu, Wahai Dzat Maha Pemberi Petunjuk, berikanlah petunjuk kepada kami, agar kami tidak menjadi orang-orang yang sesat dan kesasar

    Aamin.

    Nuwun

    Punakawan

    • Aamiin……….

      • Aamiin……….Aamiin,

  10. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Alhamdulillah, puasa memasuki hari kedelapan:

    Yaa Allah! Berilah kami rejeki berupa kasih sayang terhadap anak-anak yatim dan saudara-saudara kami yang tak punya.

    Berilah pada kami kesempatan untuk berbagai kegembiraan dengan mereka, berupa harta yang Engkau titipkan padsa kami, dan penyebaran keselamatan.

    Wahai Yang Maha Mulia, berikanlah kepada kami waktu untuk dapat bergaul dengan orang-orang mulia, dengan kemuliaanMu.

    Lindungilah kami. Wahai Dzat Maha Pelindung, tempat berlindung orang-orang yang berharap

    Aamin.

    Nuwun

    Punakawan

    • Aamiin……………

      • amiiiiiinnnnn…………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: