SST-18

<<kembali | lanjut >>

Iklan

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 29 Juli 2012 at 00:01  Comments (38)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sst-18/trackback/

RSS feed for comments on this post.

38 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Alhamdulillah. Puasa di hari ke-9. Insya Allah:

    Yaa Allah! Wahai Dzat Yang Maha Luas RahmatNya. Sediakanlah untuk kami sebagian dari RahmatMu yang luas.

    Wahai Yang Maha Pemberi Petunjuk, berikanlah kepada kami petunjuk kepada ajaran-ajaranMu yang terang, dan bimbinglah kami menuju menuju keridhaanMu yang penuh dengan Cinta dan Kasih-SayangMu.

    Wahai Yang Maha Pemberi Karunia. Engkau harapan kami orang-orang yang merindukanMu.

    Aamin.

    • Aamiin…..aamiin…..aamii…….

      • n

        • Aamiin…..aamiin…..aamiin

  2. esuk esuk
    thengak thenguk
    theklak thekluk

    Sugeng enjang katur para kadang sedaya.

    • esuk esuk
      thengak thenguk…..thingak thinguk
      theklak thekluk…..manthuk-manthuk

      Sugeng enjang ugi ki Gembleh-e

      • Wah Ki Menggung rawuh,
        tumben ya kita bisa bersirobok di gandhok pada pagi hari.
        eh…kata bersirobok apa masih ada yang menggunakan dalam percakapan se hari2 ya…??

  3. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Yaa Allah! Jadikanlah kami di antara orang-orang yang bertawakkal kepadaMu, dan jadikanlah kami di antara orang-orang yang menang di sisiMu, dan jadikanlah kami di antara orang-orang yang dekat denganMu, dengan ihsanMu, Wahai Yang Maha Tujuan Hidup, tujuan hidup orang-orang yang ingin selalu dekat denganMu.

    Aamin.

    Nuwun

    Punakawan

    • ammiiiiiiiinnnnnnnn

      • aamiin…..aamiin…..aamiin…..

  4. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Alhamdulillah sudah memasuki sepertiga pertama Ramadhan 1433H.
    Sholat Tarawih dan Sholat Witir di malam ke-11 baru saja selesai ditunaikan:

    Maha Suci Allah Yang Maha Kudus

    Yaa Allah, sesungguhnya kami berlindung dengan ridhaMu dari kemarahanMu, dan kami berlindung dengan kesejahteraanMu dari siksaMu, dan kami berlindung kepadaMu dari kejahatan makhlukMu. Tak terhingga pujian kami kepadaMu sendiri, sebagaimana Engkau sanjung DiriMu. Aamin.

    Insya Allah. Dongeng Arkeologi & Antropologi Mataram Danang Sutåwijåyå. Episode Sêrat Wêdhåtåmå Bagian II, segera diwedar.

    Nuwun

    Punakawan

  5. Nuwun
    Pamuji Rahayu. Mogi santi Jagad Nusantara

    Sugêng enjang. Sugêng pêpanggihan pårå kadang sâdåyå.

    Atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan. Wanci sirêp laré Lingsir wêngi sumånggå énggal wungu.

    Mênawi Gusti Ingkang mBontên Naté Saré tansah maspadakên dumatêng pårå titah jalmå manungså ingkang tansah manêmbah lan nyênyuwun tanpâ kêndat marang Panjênêngan Ipun.

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
    DANANG SUTAWIJAYA
    — de Regering van Panembahan Senapati Ingalaga —

    SÊRAT WÉDHÅTÅMÅ – Bagian Kedua –
    — Sisipan Dongeng Tiga Tahun Pertama Panêmbahan Sénapati, Wong Agung ing Ngêksigåndå —

    Pupuh 3 (17) Sinom

    // Sabên méndrå saking wismå,
    Lêlånå lêladan sêpi,
    Ngingsêp sêpuhing supånå,
    Mrih pånå pranawèng kapti,
    Tis tising tyas marsudi,
    Mardawaning budyå tulus,
    Mêsu rèh kasudarman,
    Nèng têpining jalanidhi,
    Sruning bråtå kataman wahyu dyatmikå.
    //

    // Manakala pergi meninggalkan rumah,
    berkelana ke tempat yang sunyi,
    menyadap puncak ilmu sejati,
    agar jelas tercapai yang menjadi tujuan hidup.
    berbekalkan tekad dan dilandasi kelembutan hati yang selalu berusaha dengan tekun,
    mempertajam daya pikir serta menghayati cinta kasih,
    berada ditepinya samudra,
    kuatnya bertapa demi dapat menerima wahyu hidup yang sejati. //

    Setiap pengembaraan meninggalkan “rumah” (sabên mêndrå saking wismå), bermakna filosofi, sebagai penggambaran yakni ketika ruh meninggalkan badan wadag jasmani.

    Ruh? Apakah ruh itu?

    Tuhan bersabda, seperti yang disampaikan oleh KekasihNya Kanjeng Rasul Muhammad SAW, yang kemudian dibukukan pada lembaran-lembaran Al Qur’an dalam Surat Al Israa’ (17) ayat 85:

    Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.

    Ruh adalah jati diri kita sesungguhnya. Sedangkan wadag. Jasmani kita hanyalah jasad ‘tempat-tumpangan’ Ruh yang bersifat fana, sehingga keberadaannya terikat oleh dimensi ruang dan waktu, yang bisa rusak atau tua dan musnah di suatu waktu. Namun tidak demikian halnya dengan ruh. Ruh adalah abadi.

    Walaupun pengetahuan kita tentang Ruh itu hanya sedikit, sebagaimana disabdakan Tuhan, tetapi dengan mengenalnya dan mempelajarinya, adalah sesuatu yang sangat tidak terkira arti dan manfaatnya bagi kita, sebagai wujud syukur kita kepada Tuhan Sang Maha Pencipta, sehingga kita dapat merasakan kasih sayang dan karunia Tuhan yang tidak terhingga kepada kita. Dengan pemahaman ini seyogyanya kita terus menerus mengharapkan limpahan kasih sayang dan cintaNya dengan selalu mendekatkan diri kepadaNya.

    Ruh yang berasal dari Yang Maha Hidup meliputi segala sesuatu. Dan pada hakikatnya seluruh ciptaanNya tersebut “Hidup” karena tidaklah Dia menciptakan suatu makhluk melainkan ada padanya Ruh yang meliputinya.

    Dia adalah Dzat Pemberi Hidup dan menghidupkan semua ciptaanNya dengan Ruh Kehidupan. Ruh adalah inti kehidupan. Ruh adalah energi kekal.
    Batu yang kita anggap benda mati jika kita urai hingga bagian tekecil maka kita akan menjumpai fenomena bahwa sesungguhnya batu itupun ‘hidup’.

    Ruh adalah energi yang berasal langsung dari Tuhan. Sungguh Ruh energi yang luar biasa, dengan demikian maka Ruh adalah energi yang suci, karena berasal dari Yang Maha Suci.

    Ruh dan Raga. Sadumuk Bathuk, Sanyari Bumi

    Ruh energi suci itu perlahan-lahan terbungkus oleh sesuatu yang berat, dan semakin lama ruh itu semakin berat karena membawa sesuatu itu. Ruh telah menyatu dengan sesuatu, dan sesuatu itu adalah raga, dan:

    1. raga adalah tanah, [Qur’an Surat Huud (11) Ayat 61]; [Qur’an Surat Ruum (30) Ayat 20]; [Qur’an Surat Ali Imraan (3) Ayat 59]; [Qur’an Surat As Sajdah (32) Ayat 7].

    2. raga adalah tanah liat. [Qur’an Surat Ash Shaaffaat (37) Ayat 11].

    3. raga adalah saripati dari tanah. [Qur’an Surat Al Mu’minuun (23) Ayat 12].

    4. raga adalah tanah kering seperti tembikar. [Qur’an Surat Ar Rahmaan (55) Ayat 14].

    5. raga adalah tanah liat kering dari lumpur hitam. [Qur’an Surat Al Hijr (15) Ayat 26].

    6. dan beberapa ayat lain.

    Kepada raga itulah Ruh ‘dititipkan’

    Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (pada raga itu), dan telah meniupkan ke dalamnya ruhKu. [Qur’an Surat Al Hijr (15) Ayat 29].

    Pada awalnya Ruh yang suci sangatlah sulit menyesuaikan diri dengan raga berupa tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam itu.

    Sangatlah tidak mudah Ruh suci yang ‘putih’ indah itu menyesuaikan diri dengan raga yang hitam dan buruk.

    Ruh enggan untuk memasuki lumpur hitam itu, dia berusaha menerbangkan dirinya untuk kembali ke alamnya semula, kembali kepada Sang Maha Pencipta.

    Namun terjadilah benturan-benturan dan pertentangan-pertentangan yang saling tarik menarik antara ruh dan raga, gerakan-gerakan antara halus dan kasar, antara putih dan hitam, namun karena semakin kuatnya tarikan kohesi raga, yang begitu kuat ‘mencengkeram’ Ruh.

    Ruh semakin menyesuaikan dengan gerakan-gerakan raga, Ruh semakin dihisap masuk ke dalam raga.

    Lambat laun Ruh semakin terikat dan terpikat dengan raga tanah, dalam gesekan tarik menarik itu, Ruh ‘kalah’ dan terkurung oleh raga.

    Ruh sebagai inti kehidupan, sebagai energi hidup yang bersifat kekal, akhirnya harus hidup mendiami raga, karena Ruh harus hidup. Sunahtullah.

    Sabda Kun. Jadilah. Pada raga bersemayamlah Ruh. Jadilah dia manusia.

    Untuk hidup, Ruh memerlukan raga, karena tanpa Ruh, raga hanyalah seonggok tulang dan daging tak berharga yang akan berubah menjadi bangkai.

    Sungguh sangat luar biasa keberadaan Ruh dan Ruh inilah yang membuat manusia hidup dan bisa mempunyai nilai.

    Ruh harus menancapkan dirinya kuat-kuat ke dalam raga, dia membutuhkan raga, karena dia harus hidup, kalau tidak dia akan terbawa larut oleh gerakannya yang berusaha menerbangkan dirinya kembali ke asalnya.

    Ruh harus mempertahankan raga, mempertahankan tanah tempat ruh berpijak, tempat dia hidup. Hidupnya dengan tanah.

    Mempertahankan tanah berarti mencintai pergulatan dalam hidup, lupa untuk kembali ke alam yang penuh dengan kemesraan dan keindahan.

    Ruh telah bersatu dengan tanah, Ia mencintai tanah karena tanah adalah raganya, karena Ruh membutuhkan raga, untuk mempertahankan hidupnya. Ruh membutuhkan tanah. Ruh ada pada diri Manusia. Namun justru itulah manusia dapat mengolah dan memperoleh hasil dari tanah untuk mempertahankan hidupnya.

    Tanah dapat menumbuhkan apa saja, pålå kêpêndêm, pålå kêsimpar dan pålå gumantung hanyalah sebagian dari hasil jerih payah manusia, untuk mempertahankan hidupnya. Tanah memberikan kesuburan.

    Sering kali untuk mempertahanan hidup, memerlukan perjuangan yang sangat berat, bahkan dengan peperangan, saling bunuh-membunuh.
    Ruh semakin menyatu dengan tanah, seakan-akan tanahlah yang mengikatnya.

    Kesuburan tanah mengundang para penguasa negeri — yang pada hakekatnya dia juga ruh dan raga juga. Manusia —

    Sang penguasa berkehendak agar hasil dari kesuburan tanah adalah menjadi miliknya. Dimintanya asok bulu bekti glondhong pangareng-areng, peni-peni raja peni, guru bakal, guru dadi. Mereka harus mempersembahkan kepada para penguasa barang-barang indah, barang bakal, barang jadi, dari hasil yang mereka peroleh dari tanah. Direkayasa dengan sebutan indah: “Pajak untuk kesejahteraan”

    Beban hidup semakin bertambah. Untuk mempertahankan hidup semakin berat. Penguasa negeri semakin merajalela, selain pajak mereka mengenakan pula yang disebut pancasan. Luas-luas tanah mereka dikurangi, dan dengan pancasan ini penguasa negeri membayar utang-utangnya ke penguasa mancanegara yang datang dari seberang.

    mBalélå. Perang.
    Sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi takêr pati, pêcahing dådå, wutahing ludirå

    — Kening yang ditunjuk ujung jari, dan tanah yang hanya selebar telapak tangan, dibela sampai mati, pecahnya dada dan tumpahnya darah. —

    Bumi dan alam dan ruh kita sangatlah berharga, untuk itu harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Bahkan dengan kematian sekalipun.

    Demikianlah penggambaran khalifah bumi yang telah mengotori ruhnya dengan cela, padahal Ruh adalah energi suci yang pada awalnya tidak melakukan perbuatan yang tidak suci. Perbuatan yang menentang Sang Maha Suci.

    Dengan demikian Ruh telah terkotori, maka jika ingin Ruh tetap suci. Ruh tidak akan melakukan perbuatan yang membuat dirinya tidak suci, Menentang Tuhan. Ruh adalah suci yang jauh dari perbuatan yang menentang Tuhan.

    Bila ruh ingin suci dan kembali ke haribaan Sang Maha Suci, Ruh harus kembali suci atau disucikan, Syarat Ruh kembali ke asalnya, hendaknya Ruh tidak terikat dengan belenggu raga yang mengurungnya. Ruh harus melepaskan kepentingan-kepentingan raga dan dunianya.

    Bagaimana sifat Ruh didalam Manusia?

    Ruh adalah zat yang mempunyai energi dengan kecepatannya jauh diatas kecepatan cahaya. Kita mengetahui jika suatu zat mempunyai kecepatan diatas cahaya maka zat tersebut akan berlaku hukum fisika quantum.

    Karena ruh mengikuti hukum fisika quantum maka dalam ruh tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Ruh dapat menembus semua dimensi termasuk benda padat. Ruh dapat berpindah dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain tanpa melewati ruang. Ruh bersifat abadi.

    Selain itu Ruh bersifat sangat lembut dan halus. Dan sifat Ruh yang paling istimewa adalah jika Ruh menempati suatu benda mati maka hiduplah benda tersebut.

    Ruh adalah kekuatan Tuhan sesungguhnya yang ditempatkan dalam diri kita. Ruh menyatu dengan badan tapi bukan seperti menyatunya gula dengan air, akan tetapi Ruh menguasai badan sehingga badan hidup.

    Ruh dan badan masing-masing memiliki aturan dan hukum-hukum sendiri-sendiri dan karena keduanya berada pada manusia, antara hukum materi dan hukum nonmateri terjadi saling tarik dan saling menguasai.

    Pada sebagian orang karena sisi materinya lebih kuat maka hukum-hukum materi menguasai hukum nonmateri, sehingga yang menonjol dan berlaku pada orang tersebut adalah hukum-hukum materi.

    Jika Ruh menguasai akal pikiran maka akal pikiran akan menjurus kesempurnaan di dalam pandangan dan dapat menentukan suatu sikap atas dasar pertimbangan yang matang bagi perjalanan hidupnya.

    Begitulah adanya, jika Ruh singgah di telinga maka mendengarlah ia, manakala Ruh berkelebat melalui mata maka memandanglah ia, dan ketika Ruh bertamasya pada mulut maka berhamburanlah kata-kata yang punya mulut, pun bila Ruh menjalar pada tangan maka bergeraklah ia meraba dan mengusap, juga apabila Ruh mengalir pada kaki maka dapatlah melangkah tegap ataupun gontai.

    Begitu pula bila Ruh meliputi dan menguasai sel-sel yang bergerak ke seluruh peredaran darah maka tampaklah gerak hidup jasmani.

    Ruh adalah zat hidup jika Ruh diibaratkan cahaya yang terang benderang maka jasmani diibaratkan suatu tempat yang gelap gulita semisal ruangan. Padahal tidaklah akan tampak terang suatu cahaya bila ia tidak bertempat pada yang gelap gulita.

    Begitu pula keadaan gelap pekatnya jasmani dikatakan gelap gulita bila tidak ada sesuatu yang meneranginya. Demikianlah “Ruh” sebagai “Nur” penerang dalam kegelapan Jasmani.

    Ånå kidung rumêkså ing wêngi

    Dalam bait-bait Kidung Purwajati, Kanjeng Sunan Giri atau boleh jadi Kanjeng Sunan Kalijaga melantunkan kidung di tengah malam. Kidung yang atas kuasa dan kehendakNya, yang dipujikan dengan kesungguhan hati, bermohon kepada Allah perlindungan dan penjagaan agar terhindar dari segala macam malapetaka. Kidung yang membawa manusia dari alam gelap menuju alam cahaya. Ruh.

    Ånå kidung rumêkså ing wêngi. Kidung? Rumêkså ing wêngi? Kidung di tengah malam? Apa kidung di tengah malam itu?

    Ånå kidung rumêkså ing wêngi
    Têguh hayu luputå ing lårå
    Luputå bilahi kabèh
    Jin sétan datan purun
    Panêluhan tan ånå wani
    Miwah panggawé ålå
    Gunaning wong luput
    Gêni atêmahan tirtå
    Maling adoh tan ånå ngarah ing mami
    Gunå duduk pan sirnå
    Sakèhing lårå pan samyå bali
    Sakèh ngåmå pan sami mirudå
    Wêlas asih panduluné
    Sakèhing bråjå luput
    Kadi kapuk tibåning wêsi
    Sakèhing wiså tåwå
    Sato galak tutut
    Kayu aèng lêmah sangar
    Songing landhak guwaning
    Mong lêmah miring
    Myang pakiponing mêrak.

    …………………………….

    Kanjêng Sunan Giri, Kanjêng Sunan Kalijågå, kedua wali agung itu bermenung di tengah malam yang sepi, nglangut. tetapi beliau tidak melamun. Beliau ngêningå ciptå, mandêng pucuking grånå, madêp mantêp marang Kang Murbå Waséså, mêkêg babagan håwå sångå. Menghadirkan Allah dalam kalbu.

    Beliau menderas Ayat-ayat Kidung Suci maha karya Sang Maha Komposer Agung, yang tertulis dalam mushaf Al Qur’an.

    Kidung Suci yang dilantunkan di keheningan malam sepi, di tengah malam yang sahdu, memohon agar senantiasa teguh selamat terhindar dari segala macam penyakit (têguh hayu luputå ing lårå), terhindar dari segala malapetaka

    Berjaga agar jin, setan tidak mengganggu (jim sêtan datan purun); sihir, tenung santet tidak ada yang berani (panêluhan tan ånå wani), demikian juga dengan perbuatan jahat (miwah panggawé ålå).

    Guna-guna, sihir, tenung dan santet meleset (gunaning wong luput), bagaikan api terkena air (gêni atêmahan tirtå).

    Pencuri pun menjauh, tidak ada yang berani mendekat (maling adoh tan ånå ngarah ing mami).

    Guna-guna yang ditanam akan hilang (gunå duduk pan sirnå). Semua penyakit seketika kembali ke asalnya (Sakèhing lårå pan samyå bali).

    Hama-hama seketika menyingkir (Sakèh ngåmå pan sami mirudå). Yang nampak kemudian adalah rasa kasih sayang (Wêlas asih panduluné).

    Tidak ada satupun senjata yang mempan (Sakèhing bråjå luput), ia bagaikan kapuk jatuh di atas besi (Kadi kapuk tibå ing wêsi. Semua bisa dan racun menjadi tawar (Sakèhing wiså tåwå). Binatang buaspun jinak (Sato galak tutut).

    Kayu pepohonan yang aneh dan angker (kayu aèng lêmah sangar)
    Sarang landak, gua harimau, tanah cengkar (Songing landhak guwaning
    mong lêmah miring
    ), juga sarang burung merak sekalipun (myang pakiponing mêrak).
    ……………………….

    Pagupakaning warak sakalir
    nadyan arcå myang sêgårå asat
    têmahan rahayu kabèh
    Apan sarirå ayu
    Ingidêran kang widådari
    Rinêksa malaékat
    Lan sagung prå rasul
    Pinayungan ing Hyang Suksmå

    …………………………………..

    Kandang warak berikut penghuninya (Pagupakaning warak sakalir). Demikian juga, andaikata arcapada -dunia- menjadi lautan dan kemudian mengering sekalipun (Nadyan arcå myang sêgårå asat).

    Pada akhirnya keselamatanlah bagi semuanya (Têmahan rahayu kabèh). Dan juga keselamatan bagi diri-pribadi kita (Apan sarirå ayu), yang dikelilingi para bidadari (Ingidêran kang widådari), dan dijaga para malaikat (Rinêksa malaekat), serta para Nabi dan Rasul (Lan sagung prå rasul).

    Tuhan Yang Maha Gaib berkenan memberikan perlindungan. (Pinayungan ing Hyang Suksmå)

    Kesahduan malam sunyi, keserasian dan keselarasan di keheningan malam, betapa Maha Agung Sang Maha Pencipta. Kedua wali Allah itu kembali mengejahwantahkan tentang Ruh dalam tembang Dhandanggula dari Kidung Purwajati sebagai berikut:

    Sêdulur Papat Limå Pancêr

    Åna kidung akadang prêmati
    Among tuwuh ing kuwasånirå
    Nganakakên saciptané
    Kakang kawah puniku
    Kang rumêkså ing awak mami
    Anêkakakên sêdyå
    Pan kuwasanipun
    Adi ari-ari ikå
    Kang mayungi ing laku kuwasanèki
    Anêkakakên pangarah
    Ponang gêtih ing rahinå wêngi
    Angrowangi Allah kang kuwåså
    Andadêkakên karsané
    Pusêr kuwasanipun
    Nguyu-uyu sambåwå mami
    Nuruti ing panêdhå
    Kuwasanirèku
    Jangkêp kadang ingsung papat
    Kalimané pancêr wus dadi Sawiji
    Nunggal sawujud ing wang

    …………………………………….

    Kutembangkan kidung sêdulur yang merawat kita dengan hati-hati (Åna kidung akadang prêmati), yang memelihara berdasarkan kekuasaanNya (Among tuwuh ing kuwasånirå). Atas izinNya, apa pun yang dicipta terwujud (Nganakakên saciptané).

    Kakang Kawah (ketuban) yang menjaga badan ini (Kakang kawah puniku
    Kang rumêkså ing awak mami
    ), berkehendak dengan kuasaNya (Anêkakakên sêdyå. Pan kuwasanipun). Adi ari-ari yang memayungi perilaku menurut petunjukNya. Adi ari-ari ikå. Kang mayungi ing laku kuwasanèki. Anêkakakên pangarah)

    Ponang Gêtih di siang dan malam hari menjaga kehidupan atas titah Allah Yang Kuasa, guna mewujudkan RancanganNya. (Ponang gêtih ing rahinå wêngi. Angrowangi Allah kang kuwåså. Andadêkakên karsané)

    Pusêr. Pusat kekuasaan memberi perhatian dengan kesungguhan. Mengikuti ketentuanNya. KuasaNya. (Pusêr kuwasanipun. Nguyu-uyu sambåwå mami. Nuruti ing panêdhå. Kuwasanirèku )

    Maka, lengkaplah sedulur papat itu, dan kelimanya sebagai pancêr yang menyatu. Manunggal dalam perwujudanku. (Jangkêp kadang ingsung papat
    Kalimané pancêr wus dadi Sawiji. Nunggal sawujud ing wang
    )

    Dalam masyarakat Jawa, pemikiran dan pemahaman sêdulur papat limå pancêr mempunyai pengertian yang terus berkembang dari zaman pra-Islam hingga zaman Islam.

    Pengertian asalnya adalah penyelarasan antara Jagad Alit yaitu Manusia (mikrokosmos) dan Jagad Agêng yaitu Alam Semesta (makrokosmos).

    Sêdulur Papat yang ada di Jagad Agêng itu adalah empat kiblat yang ada yaitu Timur, Selatan, Barat dan Utara. Ditambah Limå Pancêr yaitu tengah diri Manusia sendiri.

    Sêdulur Papat yang berkaitan dengan Jagad Alit (manusia) adalah yang mengiringi kelahirannya. Mereka itu adalah kawah (air ketuban), ari-ari (plasenta), gêtih (darah) dan pusêr (tali plasenta). Sedangkan yang Kalimå Pancêrnya adalah diri si Jabang Bayi. Manusia itu sendiri.

    Pada lagon di atas, disebutkan bahwa sêdulur papat dalam makna Jagad Alit, yaitu Pêrmati, Kawah, Ari-ari, dan Ponang Gêtih yang umumnya disebut Rahså. Semua itu berpusat di Pusêr yaitu berpusat di Bayi. Jelasnya mereka berpusat di setiap manusia.

    Mengapa disebut Pêrmati, Kakang Kawah, Adi Ari-ari, dan Rahså?

    Pêrmati adalah ngopèni, ngêmong, bermakna menjaga dan memberikan perlindungan. Bila seorang ibu mengandung, dengan kesabaran yang tinggi, dari hari ke hari selalu berusaha memberikan perlindungan yang terbaik untuk janin yang dikandungnya. Sifat menjaga inilah, yang sering juga disebut sebagai Kaki Among.

    Perempuan yang hamil saat melahirkan, terlebih dahulu mengeluarkan Kawah (Air Ketuban) sebelum lahirnya si Jabang Bayi, dengan demikian Kawah adalah Sêdulur Tuwå yang disebut Kakang Kawah.

    Bila kawah sudah lancar keluar, kemudian disusul dengan ahirnya si Bayi, barulah kemudian Ari-ari. Karena itulah Ari-ari disebut sebagai Sêdulur Ênom atau Adi Ari-ari.

    Setiap ada wanita yang melahirkan, tentu saja juga mengeluarkan Rah (Gêtih=Darah) yang cukup banyak. Keluarnya Rah (Rahså) ini juga pada waktu akhir, maka dari itu Rahså itu juga dianggap Sêdulur Ênom, yang digambarkan sebagai seorang perempuan dengan sebutan Nini Among. Penutup proses kelahiran Manusia.

    Kaki Among, Nini Among Kakang Kawah, dan Adi Ari-ari, kesemuanya menyatu pada pusat yakni Pusêr (Tali pusat). Pusar ini dianggap pusatnya sedulur papat.

    Pupak Pusêr yang lazim terjadi ada usia tujuh hari (kadang-kadang lebih atau kurang, tidak menentu). Ini sebagai pusat bagi kelangsungan hidup si Jabang Bayi ketika masih dalam kandungan Sang Ibu.

    Adapun Sang Pancêr adalah Sang Jabang Bayi Manusia itu sendiri, maka menyatulah Sêdulur Papat Limå Pancêr.

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    Punakawan

    • Nyuwun pangapunten, ada yang salah tercetak dengan bold, yang seharusnya tercetak biasa.

      Biasanbya Dimas Risang nih yang bisa membetulken. 🙂

      • njih ki PUNA,

        kalopun itu bold belom dibenulkan mas Risang,
        “DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI” teteeeep
        di nanti toêtoêgé sama sanak kadang padepokan.

    • Matur nuwun dongengipun Ki Punakawan, kulo tenggo tutugipun.

  6. sugeng dalu kadang sadaya

    • sugeng dalu kadang sadaya
      sugeng nenggo tutuge
      matur nuwun Ki Puna II

  7. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Malam semakin sepi, dan lengang, sayup-sayup terdengar hamba-hamba Allah yang belum tidur, mereka tengah berjaga menderas Ayat-ayat Kidung Suci maha karya Sang Maha Komposer Agung, yang tertulis dalam mushaf Al Qur’an, berharap mendapat rahmat dan berkah keselamatan.

    Yaa Allah! Tanamkanlah kedalam diri kami kecintaan kepada perbuatan baik, dan tanamkanlah kedalam diri kami kebencian terhadap kemaksiatan dan kefasikan. Jauhkanlah dari kami kemurkaanMu dan api neraka, dengan pertolonganMu, Wahai Dzat Maha Penolong orang-orang yang mengharapkan pertolongan.

    Aamin.

    Nuwun
    Wilujeng dalu Ki Gundul, Ki Arga, Ki Bancak

    Semangkin malem, biasanya Ki Gembleh dan Dimas Risang, juga Ki Haryo Mangkubumi, menyambangi padepokan, lagi bertadarus ayake.
    Sumånggå.

    Punakawan

  8. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Doa hari ini:

    Yaa Allah! Hiasilah diri kami dengan penutup dan kesucian. Tutupilah diri kami dengan pakaian qana’ah dan kerelaan. Tempatkanlah kami di atas jalan keadilan dan sikap tulus. Amankanlah diri kami dari setiap yang kami takuti dengan penjagaanMu, Wahai Maha Penjaga orang-orang yang takut.

    Menu buka puasa hari ini, dan di setiap hari:

    Kesehatan, rahmat dan berkah Tuhan. Alhamdulillah

    Nuwun

    Punakawan

    • Amin……sugeng dalu ki PUNA, kadang padepokan sedaya

      • iki “huruf tebal”…..lha iki “huruf miring”

        kalo lupa nutup, bisa bikin amburadul…..he-hee-heee

        • he….he….he…..
          wedi diseneni pak Satpam.

  9. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Yaa Allah! Wahai Dzat Yang Maha Suci. Sucikanlah diri kami dari kekotoran dan keburukan. Berilah kesabaran kepada kami untuk menenima segala ketentuan. Wahai Dzat Maha Penentu.
    Berilah kemampuan kepada kami untuk bertaqwa. Izinkanlah kami untuk bergaul dengan orang-orang yang baik dengan pertolonganMu, Wahai Dzat Maha Penolong. Wahai Dambaan orang-orang miskin.
    Aamin.

    Nuwun

    Punakawan

    • Aamiin…………….

      • ammmmmiiiiiinnnnnn

        • Aamiin…aamiin…aamiin…

  10. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Alhamdulillah. Hari ke-14 Puasa Ramadhan 1433H tahun ini:

    Yaa Allah! Janganlah Engkau menghukum kami, jika kami lupa atau kami tersalah. Dan ampunilah kami dari kesalahan-kesalahan dan kebodohan.
    Janganlah Engkau jadikan diri kami sebagai sasaran bala’ dan malapetaka dengan kemuliaanMu, Wahai Dzat Maha Memiliki Segala Kebesaran dan Kemuliaan, bagi kaum Muslimin.

    Nuwun

    Punakawan

    • Aamiin……………

  11. Nuwun

    AYO NGGUYUUUUUUUUUUU…………….

    Adalah seorang koruptor terkenal dari Negara Yang Berbudaya Korupsi, akan dihukum mati (Undang-undang Anti Korupsi yang telah diamandemen oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah, yang salah satu pasalnya menyatakan bahwa koruptor harus dihukum mati).

    Tetapi karena Pemerintah dan Parlemen Sedunia sudah sepakat serta telah melakukan perjanjian tentang tata cara eksekusi hukuman mati bagi koruptor, maka terpidana mati boleh memilih dihukum di negara mana saja.

    Si Koruptor Terpidana Mati kemudian memilih untuk dihukum di salah satu negara di luar negeri, karena si Koruptor ini ngefans banget sama selebritis Negara Adi Daya, akhirnya dia memilih untuk dihukum mati di negara tersebut.

    Menuju ruang eksekutor, begitu pintu dibuka, ternyata di tempat itu sepi tidak ada seorangpun yang dijumpai.

    Bertanyalah dia kepada Sipir Penjara yang ada di situ:

    Bagaimana jalannnya ekeskusi di sini

    Terpidana Mati didudukkan di atas kursi berpaku selama satu jam, kemudian didudukkan lagi di atas kursi listrik selama satu jam, terakhir si Koruptor harus berdiri di tengah lapangan. lalu disiram dengan bahan bakar minyak dan disulut dengan api.”

    Si Koruptor ketakutan, sambil bisik-bisik kepada Sang Sipir:

    Kalo…. kalo…. gitu….” kata-katanya gemetar, “Saya…. saya… mau di salah satu Negara Adi Kaya saja

    Maka dibawalah Sang Koruptor ke Negara Adi Kaya.

    Di Ruang Eksekutor Negara Adi Kaya, dijumpai hal yang sama, bahwa:

    Terpidana Mati didudukkan di atas kursi berpaku selama satu jam, kemudian didudukkan lagi di atas kursi listrik selama satu jam, terakhir si Koruptor harus berdiri di tengah lapangan. lalu disiram dengan bahan bakar minyak dan disulut dengan api.”

    Karena kedengarannya sangat tidak menyenangkan, si Koruptor tadi pindah ke Ruang Eksekutor negara lain, mulai dari negara yang satu, kemudian ke negara yang lain.

    Tapi, perlakuan di sana sama semua seperti di Negara Adi Daya dan Negara Adi Kaya.

    Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Negara Yang Berbudaya Korupsi tersebut, siapa tahu perlakuannya lebih menyenangkan.

    Begitu pintu dibuka, dia kaget. Banyak sekali orang yang antri di sini, bahkan orang-orang dari negara lain ikut berdesak-desakan.

    Kalian akan diapain di sini?” dia bertanya kepada salah satu orang di tempat itu, yang sedang ikut antri.

    Dijelaskan oleh orang itu bahwa:

    Terpidana Mati didudukkan di atas kursi berpaku selama satu jam, kemudian didudukkan lagi di atas kursi listrik selama satu jam, terakhir si Koruptor harus berdiri di tengah lapangan. lalu disiram dengan bahan bakar minyak dan disulut dengan api.”

    Lho! Itu kan sama persis dengan negara-negara yang lain?!” si Koruptor nggak habis pikir.

    Tapi, kenapa orang yang antri lebih banyak ketimbang di neraka-negara lain?

    Mas, di sini pelayanannya amat sangat-sangat buruk; kursi pakunya nggak ada – tinggal pakunya saja karena kursinya sering diperebutkan para caleg dan para calon-calon bupati, walikota, gubernur, dan calon-calon lainnya.

    Kursi listriknya nggak bisa nyala karena listrik sering byar-pet, BBMnya juga nggak ada, sebab dilarang menggunakan BBM bersubsidi. Sedangkan BBM non subsidi, sangat mahal harganya, panitia nggak sanggup beli.” kata orang tadi.

    Lho Petugas Eksekutornya mana

    Petugasnya itu dulu anggota Parlemen, jadi dia cuman dateng, tanda tangan daftar hadir, langsung pergi ke tempat lain ….…

    Nuwun

    Selamat menanti saat berbuka puasa.

    Punakawan

    • Hua…..ha…..ha…..ha…..
      Saya tahu negeri yg dimaksud Ki Puna II,
      tapi setahu saya namanya Negeri yang Adiluhung,
      yang nyiurnya melambai disepanjang pantai,
      yang kupuja sepanjang masa,
      yang aman dan makmur to….?
      dan tanahnya amat subur serta punya semboyan :
      keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

      Negeri tsb memang baik sekali lho ki puna II,
      gunung emasnya dikasihkan ke tetangga,
      hutan belantaranya ditebangi untuk tetangga,
      minyaknya disedot buat tetangga,
      ikan2nya dibiarin dijaring oleh tetangga,
      masih kurang baik….?
      warganya dikirim buat mbantuin tetangga.

      Cuma kadang2 Ibu Pertiwi bersusah hati.

      • anak cucu pada lupa diri…..he-hee-heeee,

      • M.T.T. = mathuk thok ; ki Mbleh

  12. lho????

    • kenapa oooh kenapa…..??

  13. Oh………………………………………………………..

    Ibu Pertiwi sejak dulu kala selalu bersusah hati 😦 😦 😦

    Oh kenapa oooohhh kenapa ?????

  14. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Alhamdulillah, puasa hari ke-15 usai sudah, kini memasuki malam ke-16.

    Yaa Allah! Berikanlah kepada kami rejeki berupa ketaatan orang-orang yang khusyu’. Dan lapangkanlah dada kami dengan taubatnya orang-orang yang menyesal, dengan keamananMu, Wahai Dzat Maha Penjaga.

    Aamin.

    Nuwun

    Punakawan

    catatan:
    Masih di gandhok SST 18, gandhok SST 19 masih dikemuli brukut, nunggu sahur ?????

    • Aamiin….aamiin….aamiin…..

      • Aamiin….aamiin….aamiin…………………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: