SST-20

<<kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 12 Agustus 2012 at 00:01  Comments (34)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sst-20/trackback/

RSS feed for comments on this post.

34 KomentarTinggalkan komentar

  1. hikss,

    siji reeekkkk…..

    • asiiiikkkkk, asiiiiiiiikkkkk………asiiiiikkkkk,

      • asyyyyiiiiiiiikkkkkkkkk
        nyusul

        • asyyyyiiiiiiiikkkkkkkkk
          nyusur

          • asyyyyiiiiiiikkkkkkkk
            nutul sithik.

  2. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Bertadarus di malam-malam i’tikaf. Insya Allah jelang sahur Hari ke-24 Ramadhan 1433H, berdoa dan berharap semakin meningkatnya derajad taqwa.

    Ya Allah, wahai Yang Maha Kasihnya Tak Terbatas, kami memohon kepadaMu di bulan Ramadhan ini segala sesuatu yang mendatangkan ridhaMu.

    Wahai Yang Maha Pemberi Perlindungan, kami memohon perlindungan kepadaMu dari segala yang dapat menimbulkan murkaMu, dan kami memohon kepadaMu taufik untuk menaatiMu dan tidak bermaksiat kepadaMu, wahai Yang Maha Dermawan bagi para pemohon. Aamin

    Nuwun

    Punakawan

    • Aamin…!

      • amiiieeennnn

        • Aamiin…….!

  3. Nuwun

    @ Ki Panji Satria Pamedar al P. Satpam al Risang

    Nyuwun sewu Ki,

    Saya kehilangan jejak Dongeng Arkeologi & Antropologi Dadang Sutawijaya de Regering van Panembahan Senapati Ingalaga sbb:

    Wedaran terakhir di gandhok Dongeng Arkeologi & Antropologi adalah: Waosan ka-8 Kanjeng Ratu Kidul, yang setelah itu dilanjutkan dengan: Tiga Tahun Pertama Senapati Seri 01, 02 dan 03.

    Saya mencoba mencari dan menelusuri Dongeng Arkeologi & Antropologi Tiga Tahun Pertama Senapati Seri 01, 02 dan 03.di gandhok ybs, dan juga di gandhok-gandok pelangisingosari lainnya, tapi belum mendapatkannya, kira-kira ndelik di mana ya.

    Ini sehubungan softcopy arsip dongeng ybs. raib digondol virus.

    Nuwun

    Punakawan

    • jan si Virus kendal temen…..heheee,

      belom tau kalo ki PUNA duwe ajian ambles bumi,
      digandOL ki PUNA mendelep baru rasa dia,

      HIKsss,

    • Ngapunten Ki Puna
      setelah saya “ubyeg” diseluruh sudut padepokan, dongeng Ki Bayuaji yang terakhir adalah seperti yang kami unggah di gandok yang sudah ada (waosan ka 8 wedaran ka 8).

      tulisan tersebut diunggah di gandok SST-02

      Dikirim pada 2012/03/13 pukul 07:46

      Nuwun
      Sugêng énjang

      DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM

      DANANG SUTÅWIJÅYÅ
      — de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå —

      Waosan kaping-8. Wedaran kaping-08
      KANJÊNG RATU KIDUL

      ANALISIS SEJARAH
      ……………………………>>>

      kelanjutan 3 rontal tersebut sepertinya belum pernah diunggah di padepokan ini.

      beliau masih sempat menuliskan komen tanggal 23 Maret, setelah itu beliau “menyembunyikan diri”.
      Kabar terakhir, informasi dari Ki Puna, beliau masygul karena tulisan yang diunggah disini dibajak orang yang tidak bertangung jawab.

      nuwun

      • @ Ki Panji Satria Pamedar al P. Satpam al Risang,

        Matur nuwun Ki, saya coba telusuri, mungkin hardcopynya ada di perpustakaan Ki Begawan Bayuaji, mudah-mudahan dapet, dan Insya Allah, saya unggah di gandhok ini.

        ……………….

        @ Ki Gundul

        Aji-ajian gedruk-gedruk bumi, blas…. blas…. ambles kadya Antareja Bima Putra, Ki.🙂

        ………………………..

        @ Sanak Kadang Muslim, Padepokan Pelangisingosari:

        Sugeng enjang, sugeng angrahabi dahar sahur dinten kaping-26.
        Mugi sadaya ibadah saum saha ibadah sanesipun ing wulan Ramadhan 1433H katampi dening Gusti Allah. Aamin.

        Nuwun

        Punakawan

  4. sugeng sonten
    sanak kadang sedoyo

  5. Nuwun
    Pamuji Rahayu,

    Alhamdulillah, tadarus baru saja usai, dan jelang sahur Hari ke-26. Insya Allah:

    Ya Allah, wahai Yang Maha Mencintai, mohon jadikanlah kami di bulan Ramadhan ini pencinta para kekasihMu, dan pembenci para musuhMu.

    Wahai Yang Maha Penjaga hati para Nabi, wahai Yang Membolak-balikkan hati manusia, mohon Engkau teguhkan hati kami pada agamaMu, mohon Engkau izinkan kami mengikuti sunnah penutup para nabiMu, Muhammad Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam.

    Ya Allah, wahai Yang Maha Menghargai, mohon Engkau jadikan usaha kami di bulan Ramadhan ini untuk dihargai dan disyukuri.

    Wahai Yang Maha Pengampun, mohon Engkau ampuni dosa-dosa kami,

    Wahai Yang Maha Penghitung Amal, mohon Engkau terima amal-amal kebaikan kami. dan mohon Engkau hapus amal-amal kejelekan kami.

    Wahai Yang Maha Lebih Mendengar dari setiap yang mendengar.

    Aamin.

    Nuwun

    Punakawan

    • Aamiin……………

      • ammmiiiiinnn

  6. Antri nomer satu lagi …… he he heee

    Alhamdullillah…..
    Kemana saja Pak De selama ini?
    tidak mudik lagi kah lebaran ini?

    • Nganglang Jagad … ngger!!!

      • wah…, enak no…..

        • he’eh…..koyo wedo..eh..dewo !😀

  7. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Setelah lewat tengah malam, dengan kegembiraan beberapa santri putra telah bersiap-siap di ruang utama masjid, bebenah, merapikan permadani, menyusun rehal-rehal di beberapa tempat, dan meletakkan mushaf Al Qur’an di atasnya, dan beberapa santri perempuan sibuk di dapur pesantren menyiapkan minuman dan kue-kue.

    Jelang saat sahur Hari ke-27 Ramadhan 1433H ini. Insya Allah, para santri telah menghatamkan pembacaan Kitab Suci Al Qur’an.

    …..

    Yaa Allah! Wahai Yang Maha Pembuka Rahmat, wahai Yang Maha Pemberi Karunia, wahai Yang Maha Melapangkan, wahai Yang Maha Meninggikan, wahai Yang Maha Menghargai, wahai Yang Maha Memelihara, wahai Yang Maha Pemberi Kemuliaan, wahai Yang Maha Menetapkan, wahai Yang Maha Menguasai Segala Kekuasaan, wahai Yang Maha Memiliki Segala Kebesaran dan Kemuliaan.

    Yaa Allah! Mohon berikan kepada kami keutamaan Malam Kemuliaan, Malam Yang Lebih Baik daripada Seribu Bulan. Lailat al Qadr.

    Yaa Allah! Mohon Engkau ubah perkara-perkara kami yang sulit menjadi mudah. Tiada sesuatu itu sulit tanpa Engkau jadikan ia sulit, dan tiada sesuatu itu mudah tanpa Engkau jadikan ia mudah, tiada daya dan upaya kecuali dariMu.

    Ya Allah! sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai permohonan maaf, maka mohon maafkanlah kami, Mohon Engkau hapuskan dosa-dosa dan kesalahan kami,

    Wahai Yang Maha Pengasih, Wahai Yang Maha Penyayang terhadap hamba- hambanya yang saleh. Aamin.

    Nuwun

    Punakawan

  8. Nuwun
    Pamuji Rahayu. Mogi santi Jagad Nusantara

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
    DANANG SUTAWIJAYA
    — de Regering van Panembahan Senapati Ingalaga —

    SÊRAT WÉDHÅTÅMÅ – Bagian Keempat 01
    — Sisipan Dongeng Tiga Tahun Pertama Panêmbahan Sénapati, Wong Agung ing Ngêksigåndå —

    Sugêng enjang. Sugêng pêpanggihan pårå kadang sâdåyå. Atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan.

    Wanci lingsir wêngi sumånggå énggal wungu.

    Mênawi Gusti Ingkang mBontên Naté Saré tansah maspadakên dumatêng pårå titah jalmå manungså ingkang tansah manêmbah lan nyênyuwun tanpâ kêndat marang Panjênêngan Ipun.

    Rinêngkuh déning wêngi kang sumuk
    mamring tanpå lintang lan rêmbulan
    pêtêng dhêdhêt lêlimêngan
    Konjuk Ngarså Dalêm Pangéran Gusti Ingkang Sêjati
    kawulå nyuwun sih pangapurå
    lêbur sâdåyå doså
    luputå saking sâdåyå panggodhå
    tuwin tinêbihnå saking sâdåyå panandhang cintråkå

    Aamin.

    Sêdulur Papat Limå Pancêr
    (lanjutan Sêrat Wédhåtåmå Bagian Ketiga. SST-19 On 7 Agustus 2012 at 02:36 Punakawan said):

    Pupuh 3 (17) Sinom

    // Sabên méndrå saking wismå,
    Lêlånå lêladan sêpi,
    Ngingsêp sêpuhing supånå,
    Mrih pånå pranawèng kapti,
    Tis tising tyas marsudi,
    Mardawaning budyå tulus,
    Mêsu rèh kasudarman,
    Nèng têpining jalanidhi,
    Sruning bråtå kataman wahyu dyatmikå.
    //

    // Manakala pergi meninggalkan rumah,
    berkelana ke tempat yang sunyi,
    menyadap puncak ilmu sejati,
    agar jelas tercapai yang menjadi tujuan hidup.
    berbekalkan tekad dan dilandasi kelembutan hati yang selalu berusaha dengan tekun,
    mempertajam daya pikir serta menghayati cinta kasih,
    berada ditepinya samudra,
    kuatnya bertapa demi dapat menerima wahyu hidup yang sejati. //

    Sabên méndrå saking wismå, setiap ruh keluar dari tubuh dapat diartikan sukma yang keluar, merågå sukmå atau dengan makna yang lebih tinggi yaitu menjadikan ruh sebagai badan dari badan kasar kita (pamoring kawulå gusti) atau warångkå manjing curigå (sarung yang masuk ke bilah keris).

    Ini memang tidak bisa terjadi pada keris sebenarnya, tapi secara filosofi keris itu adalah bermakna wutuh, tangguh, sêpuh.

    Wutuh adalah tanpa cacat, sebab kalau cacat maka akan mengurangi estetika dari keris itu sendiri, seperti kalau akhlak kita cacat maka akan berdampak pada perilaku kita yang cacat juga.

    Tangguh adalah jaman pembuatannya seperti tangguh Medang, Kadiri, Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Tuban dan sebagainya, keris yang bertangguh Majapahit tentu berbeda dengan keris yang bertangguh Mataram, maka tangguh ini bermakna identitas diri yang tidak meniru apapun, sebagai jati diri, ciri diri sendiri.

    Sepuh itu adalah tua, bermakna ampuh, semakin tua keris itu maka dipastikan akan semakin mempunyai nilai yang lebih.

    Sepuhnya keris dengan sepuhnya diri kita adalah, carilah bagian mana dari diri kita yang paling sepuh, maka bisa dipastikan ruh kitalah yang jauh lebih tua daripada jasad kita, semakin kita menyelami samudera ruhani kita maka kita akan semakin “tua” ilmunya dan semakin merasa tidak mengerti apa-apa.

    Maka pamoring kawulå gusti itu adalah sudah berkesadaran ruhani dan menjadikan kebutuhan ruhani di atas kebutuhan jasmani.

    Setelah kesadaran ruhani berada di atas kesadaran jasmani (méndrå saking wismå) maka akan menemui suatu keadaan suwung sejati (lêlånå lêladan sêpi).

    Suwung atau kosong disini adalah keadaan tidak ada cahaya. Di alam suwung itu tidak ada suara, tidak ada siapa-siapa, tidak ada arah. tidak gelap dan tidak terang, tidak ada warna apalagi benda-benda,

    Råså nålå kang sirå sêdyå,
    Sêmang-sêmang tan gåwå padhang,
    Piwulang tåmå ginulang,
    Sinung nupiksi wêrdi kang nyåtå,
    Tan bakal sisip susup ing surup.

    Rupå-rupå rêrupan kang kasat nétrå,
    Ånå gåndå tan tinanpå ing grånå,
    Ånå swårå tan tinåmpa ing karnå,
    Kêkêranè alam suwung asêpi,
    Pirang-pirang wadi kang tan kawêdènan,
    Karånå kasêngkêr ing Widhi.

    Wikanånå kang anyåtå,
    Anulådå kang utåmå,
    Makarti tami nugråhå katampi,
    Piwulang aji tinêmu mêsthi.

    Yang ada hanyalah keheningan yang mendalam, yang ada hanya (sêjatiné ora ånå åpå-åpå, kêjåbå sing kåndhå, sêjatiné ora ånå åpå-åpå sing ånå kuwi dudu åpå-åpå); kalau yang berkata itu tidak ada maka bagaimana mungkin bisa berkata “tidak ada apa-apa”, maka inilah yang dinamakan kesaksian paripurna yang tidak hanya sebatas iku-ikutan.

    Memasuki alam suwung adalah sebuah kenikmatan tersendiri yang akan berlanjut dengan råså kasmaran untuk pencarian jati diri.

    Boleh dikatakan dari alam suwung itulah kita semua berasal. Dan dari alam suwung itulah, seorang memulai sebuah pencarian.

    Pencarian untuk memahami dirinya sendiri sehingga nantinya akan dapat berjumpa dengan Gusti Kang Murbå Ing Dumadi, Sang Sangkan Paraning Dumadi. Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia Yang Maha Awal Yang Maha Akhir.

    Setelah bersaksi dialam suwung sêjati maka kita akan dengan mudah mempelajari ilmu apapun secara mendalam, menimba ilmu (ngingsêp sêpuhing supånå), maka kosongkanlah seluruh pikiran dan hati, agar ilmu yang dipelajari akan dengan mudah merasuk ke dalam diri.

    Apa yang menjadi sebab ketika datang rasa malas untuk belajar, boleh jadi karena kita bosan, atau kita membencinya.

    Mengapa kita bosan atau tidak suka terhafap sesuatu? Tetapi mengapa di sisi lain kita menyukai sesuatu yang lain?

    Itu karena ego yang menguasai diri kita. Ego yang menghalangi kita untuk menyukai sesuatu, tetapi ego kita pula yang mengajak menyukai sesuatu yang lain.

    Demikian juga, pikiran dan hati harus dikosongkan, tetapi bukan karen alasan benci atau malas. Ibarat kita hendak mengisi sebuah jun dengan air bersih, sedangkan di dalam jun masih penuh dengan air, tentulah air yang kita isikan ke dalam jun akan tumpah.

    Pengosongan dalam pikir dan hati dimaksud agar terhindar dari anasir buruk, pengaruh yang tidak baik yang akan ikut mempengaruhi laku kita.

    Maka dengan pengosongan hati dan pikir, semuanya kita labuhkan kepada Yang Maha Memiliki, maka ego yang bersifat mengakui apa yang kita cintai menjadi milik kita sendiri dan menjadikan pihak lain yang mengakui milik kita menjadi musuh besar kita, dan ini akan berbeda apabila arti cinta itu membebaskan, membebaskan orang yang kita cintai untuk memilih apa yang menjadi pilihannya yang terbaik dan yang terbaik tentu di tangan Yang Maha Baik.

    Maka apabila kita melabuhkan segala pikiran kita kepada Yang Maha Penyantun, Sang Pemilik Cinta, dengan mengosongkan seluruh indra kita dari ego pribadi maka tidak ada lagi kebencian, yang ada hanya Cinta.

    Kosong adalah Suwung. Méndrå saking wismå, adalah keluar dari wilayah alam jasmani masuk menggapai alam sadar ruhani.

    ‘Pesona’ suwung memang sangat luar biasa, itulah sebabnya kenapa akal kita tidak mampu untuk menjangkau apalagi menceriterakan suwung. Begitu luar biasanya sehingga akal kita tidak akan mampu menuliskannya.

    Ingat!. Apa yang dipikirkan oleh Kanjeng Nabi Musa as, saat melihat pertanda Tajalli Illahi di Bukit Sinai.

    Dia, Nabi Musa yang ingin melihat Tuhannya:

    Dan tatkala Musa datang untuk munajat dengan Kami pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah diriMu kepadaku agar aku dapat melihatMu.”

    Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya sebagai sediakala niscaya kamu dapat melihatKu.”

    Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.

    Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepadaMu dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

    [Qur’an Surat Al A’raaf (7) Ayat 143].

    Dan dalam Al Qur’an Surat An Nisa (4) Ayat 164, Allah SWT berfirman:

    Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.

    Musa jatuh tersungkur tidak sadarkan diri. Itulah momentum puncak kesadaran atau ekstase seorang hamba Tuhan dalam mengarungi pengalaman spiritual.

    Ekstase adalah puncak kesadaran ruh manusia di atas kesadaran fisik, otak dan kesadaran jiwa. Saat seseorang bisa mengalami ekstase, di situlah kebenaran ditampakkan dan kondisi pikiran dan jiwa kita terasa “suwung” dan kemudian menerima petunjuk langsung dariNya.

    Suwung adalah sebuah pengalaman mistis, spiritual yang berada pada puncak intuisi yang efektif dan transendental. Ini hanya bisa dialami apabila seseorang itu menggeser alam kesadarannya dari yang indrawi menuju kesadaran semesta alam.

    Dalam suwung itulah, dunia inderawi ditinggalkan dan digantikan oleh yang lain, sehingga mencapai pada satu titik keseimbangan semua dimensi di Jagad Raya.

    Perjalanan menuju suwung dapat dijelaskan sebagai perjalanan melalui lembah-lembah sebagai berikut:

    I. Lembah Pencarian.

    Ada perasaan mencekam yang muncul akibat interaksi dengan sesama makhluk yang dapat menimbulkan berbagai masalah, berbagai macam persoalan, berbagai ujian dan beban hidup, yang menimbulkan kegentaran dan ketakutan.

    Namun sering manusia enggan melepaskan bebannya itu ke dalam jiwanya, karena berbagai alasan, antara lain keluhan, rasa jengkel, rasa dendam, dan rasa gelisah, yang sengaja dipeliharanya,

    Manusia pun sering lupa. Lupa dan bahkan melarikan dirinya dari kenyataan hidup yang dihadapinya, lari menuju ke lembah-lembah dan bukit kegelapan.

    Hanya kesadaranyalah yang membuat Manusia lari ke Lembah Pencarian, mencari jati dirinya, ketika ada getar gelombang kerinduan untuk mencari unsur-unsur kekuatan dan kekusaan yang bersembunyi pada dirinya. Padanya di alam kesadaran dari sanalah dia berasal (Sangkan Dumadi).

    Dia Yang Maha Tersembunyi. Manusia harus meninggalkan segala yang tampak berharga dan memandang segala miliknya sebagai tak berarti apa-apa untuk mencariNya, dan menemukanNya.

    Bila manusia yakin bahwa ia tak memiliki suatu apa, ia masih harus melepaskan dirinya dari segala yang ada. Manusia tidak gamang lagi, karena dia telah mendapatkan Dia Yang Dicari Dia Yang Maha Tersembunyi, Dia Yang Maha Nyata.

    Dia Yang Maha Tersembunyi Yang Dibutuhkan. Kemudian hatinya pun akan diselamatkan dari kehancuran dan ia akan melihat cahaya suci Keagungan Yang Maha Tak Terbatas dan hasrat-hasratnya yang sejati akan dilipatgandakan menjadi tak terhingga.

    Dari sinilah manusia mulai sadar bahwa ada Kekuasaan Yang Maha Ada di atasnya, dan kepada Yang Dibutuhkan, manusia menggantungkan seluruh masalah yang dihadapinya, dan hanya kepadaNyalah manusia berharap.

    Siapa yang masuk ke sini akan dipenuhi kerinduan yang meluap-luap. Rindu kepada Yang Dibutuhkan, sehingga ia akan mengabdikan sepenuh dirinya dalam usaha pencarian yang dilambangkan oleh lembah ini.

    Ia akan mendapatkan kesegaran jiwa, dan tak ada lagi yang menjadi soal baginya selain mengejar tujuannya yang sejati. Maka ia pun tak akan takut lagi pada berbagai masalah, berbagai macam persoalan, berbagai ujian dan beban hidup, yang menimbulkan kegentaran. Semua itu tiada lagi.

    Dia Yang Dicari adalah ora ånå åpå-åpå, kêjåbå sing jumênêng kalawan pribadi. Tiada sesuatu apapun selain Aku; dan karena manusia telah menyerahkan menggantungkan segalanya untukNya, maka dia pun mengakui bahwa dirinya hanyalah kawulaning Gusti. dirinya hanyalah Abdullah (= Hamba Allah).

    II. Lembah Cinta dan Kemesraan.

    Ketika kerinduan semakin meluap setelah pencariannya, maka yang ada adalah Cinta Sejati. Cinta sejati yang tak mengenal pikiran-pikiran yang menyusul kemudian. Cinta Sejati dan yang lain tak ada lagi.

    Cinta Sejati tak berurusan dengan akal pikiran insani. Dari penglihatan mata batin, zarrah-zarrah dari dunia yang kelihatan ini akan tersingkap. Cinta Sejati tidak memandang segalanya dengan mata pikiran biasa, maka bila demikian halnya, tak akan pernah mengerti betapa perlunya mencinta. Hanya manusia yang telah teruji dan bebas yang dapat merasakan ini. Ia yang menempuh perjalanan ini mempunya seribu hati.

    Manusia pun harus rela meninggalkan nalar demi cintanya kepada Yang Dicari, Sang Maha Mencintai.

    Tatkala kerinduan kepada Sang Maha Mencintai semakin menjadi-jadi, keserasian dan persenyawaan itu terjadi dengan begitu saja. Kedekatan yang amat sangat dekat, sehingga dikatakan:

    dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya
    [Qur’an Surat Qaaf (50) Ayat 16],

    Gusti iku “dumunung” ånå atining manungså kang bêcik, mulå diarani Gusti iku bagusing ati.

    [Tuhan “berada” di dalam hati manusia yang baik, oleh sebab itu maka Dia disebut Gusti yaitu bagusing ati].

    Gusti iku “dumunung” ånå jênêng sirå pribadi, kêtêmune lamun sirå tansah éling marang Pângéranirå.

    [Tuhan “ada di dalam” diri pribadimu sendiri, dapat engkau temukan jika engkau senantiasa ingat kepadaNya].

    “Wêruh” marang Pângéran iku atêgês wis “wêruh” marang awaké dhéwé, lamun durung wêruh awaké dhéwé, tangéh lamun wêruh marang Pângéran.

    [“Mengerti” Tuhan berarti sudah “mengerti” diri sendiri, jika belum “mengerti” jati diri, mustahil akan “mengerti” Tuhan].

    Sing såpå “nyumurupi” Dating Pângéran iku atêgês nyumurupi awaké dhéwé. Déné kang durung mikani awaké dhéwé durung mikani Dating Pângéran.

    [Siapa yang “mengerti” Dzat Tuhan berarti “mengerti” dirinya sendiri. Sedangkan bagi yang belum “memahami” jati dirinya sendiri maka tidak akan “mengerti” Dzat Tuhan].

    Bila sampai pada ambang pengertian, dan berjalan dengan hati-hati melalui jalan rahasia menuju Sang Maha Wujud Yang Maha Penuh Rahasia dengan hati-hati.

    Untuk mengenal diri sendiri orang harus menghayati sekian banyak gelombang kehidupan. Tetapi ketika harus mengenal Dia Sang Maha Wujud dari Dia sendiri dan bukan dari diri siapa-siapa Dialah yang membukakan jalan menuju padaNya, bukan pengetahuan manusia.

    Pengetahuan tentang Dia tak tersedia di pintu orang-orang yang pandai menyusun kata. Pengetahuan dan kebodohan di sini sama, karena keduanya tak dapat menjelaskan maupun melukiskan.

    Pendapat orang-orang tentang ini hanya timbul dalam angan-angan mereka; dan aneh tentunya untuk mencoba mengambil kesimpulan dari apa yang mereka katakan: baik atau buruk, apa yang mereka katakan itu hanya berasal dari diri mereka
    sendiri.

    Sedang Dia Yang Maha Rahasia di atas segala pengetahuan dan di luar segala bukti, dan tak satu pun yang dapat menggambarkan Keagungan Suci diriNya.

    Kepada Diai itulah, dan pada saat rasa butuhnya begitu menguat maka ia dapatkan kemesraan dengan Dia secara total.

    Namun,

    Pângéran iku mawujud, nanging wêwujudan iku dudu Pângéran.

    [Tuhan itu Wujud namun “perwujudannya” bukan Tuhan].

    dan dengan demikian,

    Pângéran iku adoh tanpå wangênan, cêdhak tanpå sénggolan.

    [Tuhan itu berada jauh namun tiada jarak, dekat tetapi tidak bersentuhan].

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    Punakawan

    • Matur nuwun Ki Puna II.

  9. Walaupun saya kadang2 dan sering NGGEMBLEHI,
    namun di lubuk hati yang paling dalam selalu
    berteriak

    “Merdeka…..Merdeka…..Merdeka….!!!!”

  10. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Alhamduliilah, pagi yang cerah sekali. Hari ini hari ke-28 Ramadhan 1433H. Insya Allah

    Ya Allah, Wahai Yang Maha Sempurna, mohon sempurnakanlah bagi kami di bulan Ramadhan ini dengan amalan-amalan kebaikan.

    Wahai Yang Maha Memiliki Segala Kemuliaan, mohon muliakanlah kami di bulan Ramadhan ini dengan memahami setiap masalah yang kami hadapi, dengan terkabulnya semua permohonan.

    Wahai Yang Maha Dekat. Mohon dekatkanlah kami dengan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kami kepadaMu.

    Wahai Yang Tak Tersibukkan oleh permohonan orang-orang yang memohon.

    Aamin.

    Nuwun

    Punakawan

    • amiiinnnn……amiiiiinnnn…..amiiinnnn

  11. Nuwun

    Pagi tadi Punakawan mengikuti Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 1945; saat hening cipta, kepala tertunduk, mata terpejam, tapi yang bersliwêran di pelupuk mata adalah: korupsi…. korupsi, dan para koruptor dihukum ringan….korupsi, para koruptor dihukum ringan dan koruptor mendapatkan remisi

    Sejenak Punakawan termenung, ingat bagaimana vonis pengadilan yang dijatuhkan bagi koruptor yang “nggak jelas”, dan itupun masih dapat remisi.

    Begini hasil permenungannya:

    Seorang nenek-nenek dituduh mencuri sandal jepit seharga Rp. 50.000,00 milik seorang kaya.

    Oleh pemilik sandal, sang nenek dilaporkan ke Pejabat Kepolisian, yang selanjutnya diproses di pengadilan negeri.

    Oleh Hakim Pengadilan Negeri sang nenek divonis tiga bulan penjara.

    Lalu bagaimana pula dengan seorang seorang koruptor yang mengkorupsi uang suatu proyek negara sebesar Rp. 50 Milyar.

    Mengapa hanya dihukum lima tahun penjara, dipotong masa tahanan, dan mendapatkan remisi pula?

    Bukankah seharusnya logika perhitungannya adalah begini:

    a. Rp 50.000,00 dihukum tiga bulan

    b. Rp. 50.000.000.000,00 seharusnya dihukum:
    50.000.000.000,00 dibagi 50.000,00 dikalikan dengan 3, kemudian dibagi 12 hasilnya: 250.000 tahun (Duaratuslimapuluhribu) Tahun penjara.

    atau logika perhitungannya dibalik:

    a. bila Rp. 50.000.000.000,00 dihukum lima tahun

    b. maka Rp. 50.000,00 seharusnya dihukum:
    50.000,00 dibagi 50.000.000.000,00 dikalikan dengan 3, kemudian dikali 30 (hari), kali 24 (jam), kali 360 (detik) hasilnya: 0,7776 Detik Penjara

    Ah sudahlah, perhitungan ini jangan terlalu diambil hati. ……Apalagi bener-bener dipikirin dan diimplementasikan. Bisa-bisa negara kita yang masuk kategori ‘negara berpemerintahan gagal’ ini bisa tambah runyam!

    Betul?????

    Uittt…, Punakawan sedang mengheningkan cipta, Di sebelah kiri Punakawan seorang ibu berseragam veteran (berarti beliau adalah seorang veteran penjuang), sesenggukan, terdengar di sela-sela isaknya ia berbisik:

    Oh Pahlawan-pahlawan sahabat-sahabatku, aku mohon maaf, aku merasa tak sanggup lagi melanjutkan cita-cita perjuanganmu yang luhur itu. Tanganku yang sudah semakin rapuh tak mampu mencegah tangan-tangan kuasa yang mengambil hak-hak negeri ini. Maafkan aku.

    Punakawan berseru:

    MERDEKA……MERDEKA…… MERDEKA

    Nuwun

    Punakawan

  12. Nuwun
    Pamuji Rahayu

    Alhamdulilllah, sholat-sholat di malam Ramadhan, Tarawih dan Witir, telah usai, demikian juga halnya pada hari ini, jelang sahur hari ke-29. Malam dan hari terakhir Ramadhan 1433H. Insya Allah:

    Yaa Allah! Wahai Yang Maha Pemberi Rahmat, mohon Engkau limpahkan rahmat kasih sayangMu kepada kami.

    Wahai Yang Maha Pemberi Taufiq, mohon Engkau anugerahkan taufiqMu kepada kami dan dalam penjagaanMu.

    Wahai Yang Maha Suci, mohon Engkau bersih sucikan hati kami dari noda-noda syirik dan fitnah.

    Wahai Yang Maha Pengasih terhadap hamba-hambaNya yang mu’min.

    Ya Allah, Wahai Yang Maha Mengabulkan, mohon Engkau kabulkan seluruh ibadah kami di bulan Ramadhan tahun ini, berkah RidhaMu dan ridha Rasul KekasihMu Muhammad Rasulullah junjungan kami.

    Wahai Yang Maha Penyayang terhadap hamba-hambaNya yang muttaqin.

    Segala puja dan puji hanya untukMu ya Allah.
    Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    Aamin.

    Katur Sanak Kadang,

    Semoga Allah SWT berkenan mempertemukan kita di Ramadhan 1434H yang akan datang. Insya Allah.

    …………………………………………….

    Ketika Ramadhan di ujung pandangan.
    kudekati lalu kusapa dia, hendak kemana?
    dengan lembut ia berkata: Aku harus pergi, jauh sekali dan sangat lama………….
    Sampaikan pesanku untuk para mukmin, Syawal tiba,
    ajaklah sabar dan syukur temani hari-harimu,
    peluklah istiqomah saat kelelahan perjalananmu menggapai taqwa,
    bersandarlah pada tawadhu saat kesombongan menyerang,
    mintalah nasihat pada Al Qur’an dan Al Hadits di setiap masalah yang engkau dihadapi.
    Sampaikan juga salam dan terimakasihku kepada siapa saja telah menyambutku dengan suka cita-cita.
    Katakan padanya, kelak aku akan menyambutnya di surga melalui pintu Ar Rayyan.
    Selamat tinggal, mohonlah pada Rabbmu, agar Dia pertemukan dirimu denganku di tahun depan. Aamin.

    Nuwun

    Punakawan

    • amin…..amin….amin ya Robilalamin
      kabukanlah doa kami ya ALLAH

  13. Segenap bebahu Padepokan Pelangi Singosari mengucapkan Selamat Idul Fitri 1433 H.
    Semoga puasa dan ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT.
    Mohon maaf apabila ada wedaran dan tulisan yang kurang berkenan di hati sanak kadang semua.

    nuwun
    Ki Arema, Satpam, Ki Ismoyo, Ki “Kompor” Sandikala

    catatan:
    Satpam mulai menjalani ritual mudik sore ini jam 15.00. Insya Allah akan kembali tanggal 22-08-2012.
    Mohon doa restu agar selamat dan lancar dalam perjalan mudik kali ini.

    • sugeng MUDIK pak Satpam,

      kagem kadang padepokan PDLS, selamat Hari Raya Idul Fitri
      1433 H,mohon maaf lahir dan batin.
      “bunga melati semerbak mewangi, cantri hadir Oiiiiiii……”

  14. Di hari yang fitri ini saya memohon maaf lahir dan batin kepada semua kadang Padepokan’
    Selamat Iedul Fitrie 1433 H.
    “bunga teratai mekar di mBlumbangan, selamat lebaran”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: