SUNdSS-04

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 15 April 2010 at 00:01  Comments (74)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sundss-04/trackback/

RSS feed for comments on this post.

74 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hadir no TiiiTT

    • Hadir Nomer SIDJI TiiTT juga ….
      Sugeng sare Ki Seno!

  2. Dari Pada Rondha Sendiri sambil Nglamun! Lebih enak sms ke Ki Seno yang sedang mimpi.

    Sebagai seorang pecandu cersil Jawa, khususnya karya-2 SH Mintardja, saya masih suka blusukan ke padepokan ABDM secara diam-2. Tidak jarang pula saya mengulang rontal-2 yang pernah dibaca sebelumnya. Kenyataannya karya SHM yang satu ini memang boleh dibilang sebagai karya terbaik dari ratusan judul lainnya.
    Dari sejak jilid-2 awal, emosi pembaca sudah diombang-ambing dalam berbagai ketegangan, ketakutan, kelegaan dan sebagainya. Siapa yang tidak gregetan melihat Agung Sedayu ketika masih remaja? Siapa yang tidak jengkel melihat Sekar Mirah, yang mula-2 tampil sebagai cewek yang gemar mejeng dan memikat sana-sini (Sindati, Agung Sedayu dan Prastawa)? Siapa yang tidak pingin nempelengi Sindati dan gurunya yang sangat licik itu? Lantas siapa pula yang tidak sebel dan pingin nendang pantas Swandaru Geni?
    Kisah ABDM sendiri memiliki banyak kelebihan dari kisah-2 lain yang dimuat di padepokan PdLS maupun Gagakseta. Meskipun latarbelakang sejarahnya sudah dikenal baik oleh pembaca, namun tokoh-2 khayal yang dilibatkan dalam sejarah itu sendiri disajikan dalam kemasan yang khusus (ilmu yang ngedap-ngedapi), segar dan mengesankan.
    Meskipun ADBM tidak terlepas dari berbagai kekhilafan dan hal-2 yang kontroversial, namun bagi penggemar cerita silat Indonesia, hal tersebut tidak terlalu mengganggu sama sekali.
    Ini adalah salah satu factor dari sedikit banyaknya pengunjung ke padepokan ABDM. Disamping itu, panjangnya cerita dan availability dari rontal ADBM itu sendiri, mau atau tidak akan mengikat pengunjung untuk duduk diam, menteleng, menyimak, menikmati dan mondar mandir dalam kurun waktu yang tidak terbatas. Sementara itu, pengunjung PdLS dan Gagakseta adalah tamatan-2 AdBM, yang haus akan karya SHM lain, yang masih suka reuni, bergojeg, ngogrok-ogrok rontal dan nggodain mentrik baru …. (hiks…).
    Namun demikian, ada hal lain yang bisa dinikmati di kedua padepokan ini: keakraban, persaudaraan, dan tidak jarang pula hubungan dalam dunia maya ini seringkali diejawantahkan di dalam hubungan dalam dunia nyata.
    Oleh sebab itu, bagi sesepuh Padepokan, PdLS dan Gagakseta, harap tidak menjadi kecil hati melihat jumlah pengunjung yang belum sebanyak pengunjuk padepokan ABDM. Nanti akan ada waktunya, para tamatan ABDM angkatan muda akan berguru di PdLS dan Gagakseta.

    Bagi Ki Seno yang penting siap rapelan sebanyak mungkin ….. sebab akan ada banyak komentar yang memberi pengamatan yang akurat. hiks…

  3. Sugeng enjing Ki Arema,
    Sugeng enjing cantrik mentrik sedoyo….

  4. sugeng enjing ki Seno dan poro cantrik…
    hiksss.. Ki Seno agak ga pede ya?
    ga papa Ki…
    seperti tulisan ki Widura.. ADBM dan NSSI lebih banyak dikenal masyarakat dibanding karya SHM yang lain…
    apakah perlu padhepokan PdLS dan GS pasang iklan di padhepokan ADBM? supaya banyak cantrik baru ADBM juga mengenal PdLS gitu..
    hehehe…
    ndherek antri wedharan rontal..

  5. selamat pagi semua….!!!
    ADBM khan induk dari PDLS dan GGS,….

  6. Kalau ada data (mis. berupa grafik), maka data tsb perlu dievaluasi, dianalisa dan ditindaklanti.
    Menurut saya di Adbm dan Pdls ada yang lebih dibanding di Ggs. Tindak lanjutnya adalah ‘yang lebih’ itu ditambahkan ke Ggs, supaya trafik kunjungan di Ggs bertambah.
    Apa ‘yang lebih’ itu, monggo dirinci?

  7. Selamat pagi Ki Arema, Ki Widura dan Saudaraku semua.
    Kalau saya pribadi lebih memilih “Nagasasra & Sabukinten”.
    Mengapa? Alasannya adalah gaya bahasa masih orisinil dan alur cerita lebih jelas. Siapa tokoh sentral dan siapa peran pembantu.
    Setiap tokoh memiliki ciri khas yang jelas, unik dan masing-masing memiliki lawannya sendiri-sendiri.
    Sedangkan ADBM saya kagum sampai dengan Sidanti meninggal. selebihnya alur cerita menjadi kabur.
    Tetapi memang gaya bahasa SHM masih yang terbaik diantara pengarang yang lain.
    Sumonggo.

  8. Sugeng enjang, nyuwun pangpunten dangu mboten sowan Ki. Menawi saking pandangan kulo Ki, amargi namung padepokan ADBM langkung senior kemawon Ki, dari awal pengunjung telah berkenalan terlebih dahulu dengan padepokan ADBM sehingga enggan rasanya pindah rumah yang baru. Kebiasaan kita apabila sudah krasan disatu tempat rasanya malas pindah ketempat yang baru. kalau ada rumah yang baru hanya untuk ampiran sejenak. Namun apabila ditempat yang baru ada sesuatu yang lebih menarik ( sedikit beda dengan yang lama )mungkin cantrik mentrik tidak hanya mampir sejenak tapi akan membuat pergunjingan ( dalam arti yg positif )dan secara otomatis tersebar dari satu padepokan ke padepokan yang lain…

    Kulo piyambak sak tamatipun ADBM sampun mboten natos mampir . . lha nggih namung seneng ngogrok ogrok kitab .. Hiks. matur nuwun sugeng enjang.

  9. Selamat pagi ki sanak,
    Antri ikut apel pagi di alun-alun Singosari.
    Saya setuju sms dari ki Widuro, hanya sedikit numpangi:

    ADBM adalah cerita utama karangan alm. SH Mintardja, dan saya kira banyak diantara kita yang sewaktu masih kecil membaca cerita ini, baik ikut2an dari orang tua kita ataupun memang kita menyukainya.
    Karena panjangnya cerita ini yang waktu itu hanya terbit sebulan sekali, tidak jarang diantara kita yang belum sempat menamatkannya karena berbagai sebab, antara lain kerja di luar kota yang sangat sulit utk mendapatkan buku ADBM tsb.
    Ketika sebagian dari kita iseng-iseng sourcing di dunia maya kita bari ADBM dan ternyata komplit dari jilid awal sampai akhir walaupun tdk tamat, alangkah senangnya karena sebagian dari kita yang merindukan lanjutan cerita tsb bisa kesampaian. Sedangkan bagi yg generasi muda yg memang gemar membaca cerita silat ya .. tentu saja akan sangat senang sebab dengan membaca 397 seri yang rata2 80 halaman akan sangat memuaskan.
    Selanjutnya …..

  10. Menanggapi pertanyaan Ki Seno masalah grafik kunjungan, barangkali bisa dijelaskan sebagai berikut (lho koq bahasanya jadi formal) nuwun sewu lho:
    1. ADBM dilihat dari umurnya memang lebih lama dan lebih tua.
    2. ADBM adalah cerita yang paling panjang dimana terbit pertama kali bulan Oktober 1969 (kalau nggak salah) setiap bulan terbit satu buku. sedangkan buku terakhir adalah jilid ke 396 (berarti 396 bl atau 33 tahun) suatu prestasi yang sukara ditandingi oleh penulis yang lain. (barangkali perlu didaftarkan ke “Rekor MURI” nya Jaya Suprana.
    3. Dengan kurun waktu yang demikian lamanya tidak bisa dipungkiri bahwa paling penggemarnya sudah bertambah satu generasi (anak2 yang dulunya belum lahir, karena melihat orang tuanya membaca ADBM, maka ikut2an membaca.
    4. Karena lamanya buku tersebut beredar, maka para pembaca awal yang pasti sekarang sudah pada mapan secara usia, ekonomi, dan waktu pasti ingin bernostalgia dan mencari komunitas.
    5. ADBM dan PDLS penerbitnya berbeda, sementara ADBM secara rutin diterbitkan pula secara harian pada Harian Kedaulatan Rakyat, sehingga sebarannya makin luas.
    6. Untuk PDLS, semestinya penggemarnya bisa mendekati ADBM, karena waktu terbitnya hampir bersamaan waktu. Adakah media yang bisa dipakai untuk mengiklankan “PDLS” ?. Rasanya sulit, karena memang jumlah penggemarnya berbeda.
    7. Saran saya, frekwensi wedaran kitab mungkin bisa dipercepat. Konsekwensinya adalah durasi waktu terbitnya menjadi lebih pendek, tetapi saya yakin jumlah pengunjung akan lebih banyak setiap harinya.
    8. Saran lain adalah digabungnya gandok Gagakseta dan PDLS. Karena karangan SHM diluar ‘Nagasasara & Sabuk Inten”, ADBM dan PDLS tidak cukup terkenal, sehingga pengunjungnya juga bisa dipastikan tidak sebanyak ADBM.
    Nuwun sewu Ki Seno, Ki Arema dan Ki Ismoyo.

    • saya usul:

      – dibuat satu blog baru di wordpress khusus karya shm. misalnya sh-mintardja.wordpress.com atau mintardja-sh, atau apapun namanya terserah. yang penting mudah diingat
      – blog ini diisi dengan semua cover/judul karya-karya shm yang sudah/belum tuntas diterbitkan
      – tampilan di blog itu di-link ke masing-masing blog (mis: adbmcadangan, pelangisingosari, dll).
      – efek blog itu adalah muncul dalam pencarian melalui mbah google. baik pencarian yang dilakukan oleh pemula maupun yang sudah kenal. selain itu, ketika sudah masuk, browser dihadapkan kepada beraneka ragam karya shm.

      tksh.

  11. mau nulis kok yo ngantuk,lihat diatas ada
    ulasan bagus dari ki RANGGA widura…..!!!
    duren Padepokan Pdls.
    pamit comot ki WID,ulasan ki Rangga ora tak
    ubah sedikitpun….asli-amsli, cantrik hadir
    nunggu “BONUS” methungul-mechungul.

    On 15 April 2010 at 03:37 WIDURA Said:

    Dari Pada Rondha Sendiri sambil Nglamun! Lebih enak sms ke Ki Seno yang sedang mimpi.

    Sebagai seorang pecandu cersil Jawa, khususnya karya-2 SH Mintardja, saya masih suka blusukan ke padepokan ABDM secara diam-2. Tidak jarang pula saya mengulang rontal-2 yang pernah dibaca sebelumnya. Kenyataannya karya SHM yang satu ini memang boleh dibilang sebagai karya terbaik dari ratusan judul lainnya.
    Dari sejak jilid-2 awal, emosi pembaca sudah diombang-ambing dalam berbagai ketegangan, ketakutan, kelegaan dan sebagainya. Siapa yang tidak gregetan melihat Agung Sedayu ketika masih remaja? Siapa yang tidak jengkel melihat Sekar Mirah, yang mula-2 tampil sebagai cewek yang gemar mejeng dan memikat sana-sini (Sindati, Agung Sedayu dan Prastawa)? Siapa yang tidak pingin nempelengi Sindati dan gurunya yang sangat licik itu? Lantas siapa pula yang tidak sebel dan pingin nendang pantas Swandaru Geni?
    Kisah ABDM sendiri memiliki banyak kelebihan dari kisah-2 lain yang dimuat di padepokan PdLS maupun Gagakseta. Meskipun latarbelakang sejarahnya sudah dikenal baik oleh pembaca, namun tokoh-2 khayal yang dilibatkan dalam sejarah itu sendiri disajikan dalam kemasan yang khusus (ilmu yang ngedap-ngedapi), segar dan mengesankan.
    Meskipun ADBM tidak terlepas dari berbagai kekhilafan dan hal-2 yang kontroversial, namun bagi penggemar cerita silat Indonesia, hal tersebut tidak terlalu mengganggu sama sekali.
    Ini adalah salah satu factor dari sedikit banyaknya pengunjung ke padepokan ABDM. Disamping itu, panjangnya cerita dan availability dari rontal ADBM itu sendiri, mau atau tidak akan mengikat pengunjung untuk duduk diam, menteleng, menyimak, menikmati dan mondar mandir dalam kurun waktu yang tidak terbatas. Sementara itu, pengunjung PdLS dan Gagakseta adalah tamatan-2 AdBM, yang haus akan karya SHM lain, yang masih suka reuni, bergojeg, ngogrok-ogrok rontal dan nggodain mentrik baru …. (hiks…).
    Namun demikian, ada hal lain yang bisa dinikmati di kedua padepokan ini: keakraban, persaudaraan, dan tidak jarang pula hubungan dalam dunia maya ini seringkali diejawantahkan di dalam hubungan dalam dunia nyata.
    Oleh sebab itu, bagi sesepuh Padepokan, PdLS dan Gagakseta, harap tidak menjadi kecil hati melihat jumlah pengunjung yang belum sebanyak pengunjuk padepokan ABDM. Nanti akan ada waktunya, para tamatan ABDM angkatan muda akan berguru di PdLS dan Gagakseta.

    Bagi Ki Seno yang penting siap rapelan sebanyak mungkin ….. sebab akan ada banyak komentar yang memberi pengamatan yang akurat. hiks..hiks..hiks

    esuk-esuk sarapan pecel,…”BONUSe” ki RANGGA
    sing nyekel…(nyekel-pecel) ha-ha-ha-hi-hi hiks

  12. Sedang utk PdLS dan Gagakseta, mungkin karena cerita pendamping dari ki SHM memang akan kurang pembacanya. Yang akan berkunjung disini pasti para cantrik yg sangat haus akan cerita SHM dan benar2 SHM mania, istilah kerenya : APAPUN JUDUL CERITANYA asal karya SHM, BACA TERUS, walaupun nggak tamat juga.
    Seperti saya ada 2 cerita di Gagakseta yang sudah pernah saya baca sampai tamat, sehingga agak kurang semangat berburu kitabnya dibandingkan dengan cerita PdLS yang dahulu hanya sebagian kecil saja yang pernah saya baca sehingga rasa penasaran saya tentu saja akan lebih besar. Dan ini juga akan berpengaruh thd kunjungan ke padepokan, ada yang seolah-olah harus karena keinginan yg besar, ada yg sesempatnya saja, karena memang sudah pernah membaca hanya sekedar refresh saja.
    Kenapa kalau hari libur kok jumlah kunjungan menurun?
    Saya kira alasan klasik ki, hari libur adalah hari yg pas utk ngumpul dengan keluarga, sehingga acara nganter anak maupun anter istri adalah kegiatan rutin yang mungkin merupakan prioritas utama bagi kita, sehingga agak terlupa utk nengok ke padepokan.

    Ini hanya unek-unek ki, semoga ada bonus nya….he ..he

    salam,

  13. menurut saya tidaklah mengherankan apabila ADBM lebih banyak pengunjungnya dibanding PDLS.
    – ADBM dan Nagasastra Sabuk Inten merupakan Maskotnya SHM lebih dikenal dibanding judul2 lainnya. Padepokan ADBMers pada umumnya dikunjungi oleh yang pernah membaca ADBM baik dari bukunya maupun dari Harian Kedaulatan Rakyat. Dulu saya pernah sempat dikirimi guntingan koran ADBM oleh saudara saya yg tinggal di Yogyakarta,
    – Ketidak lengkapan koleksi buku ADBM membuat penggemarnya selalu mengunjungi padepokan, seperti dulu saya selalu mengunjungi KR untuk membaca ADBM.
    – Ada keterikatan batin ADBMers ditambah lagi dengan kesediaan anggota ADBMers yang mencoba melanjutkan ADBM, walaupun sadar itu bukan karya SHM, namun rasa penasaran thd perkembangan tokoh2nya, para cantrik tetap hadir di ADBM.
    – Model pengelolaan, kalo dulu ADBMcadangan hanya menerbitkan ADBM, sekarang banyak judul lain ikut diterbitkan, di ggs ada PDLS, MEP, TT, konsentrasi terpecah, akibatnya mungkin saja ada yang berkunjung 2 hari sekali sekalian downloadnya, kaarena mempunyai stok bacaan.

  14. sebenernya, tingkat kunjungan adbm yang tinggi itu dikarenakan harapan yang tinggi bahwa akan ada kelanjutan adbm dari alm. (semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya) sehingga adbm tidak hanya cukup sampai jilid 397.
    hiks…

  15. Mampir sebentar…

    Hikss…
    ternyata banyak juga yang sudah mengisi komen.
    Monggo…, monggo….,
    isi komen…, isi komen…
    Bonus sudah menanti….,
    tapi nanti malam ya, sepulang dari kebun.

    • hikss….😀

      • hikss… hikss…

        • Sugeng siang Ki Arema, ki YP, ki Wiek.
          Komen saya, semakin lama semakin sakaw.

  16. asyik .. nanti malam qt dapat bonus 5 jilid sekaligus

    • he he he… mode ngogrok2 On nggih kakakng Panji…

      Sekedar urun rembug.

      Terus terang, semula saya hanya tau karya SHM ya cuman NSSI dan ADBM, meskipun tidak tau juga kalo ternyata ADBM belum tamat (soalnya baca bukunya juga sepenggal-sepenggal). Taunya setelah nyantrik di padepokan ADBM🙂.

      Kalau dibandingkan alur cerita ADBM dengan karya SHM yang lain, bagi saya pribadi alur ADBM lebih menimbulkan rasa penasaran, jadi ada semacam ‘keharusan’ untuk nyadong lanjutan kitabnya. Sementara untuk kitab yang lain… perasaan semacam itu kok sepertinya tidak sebesar ketika menyimak ADBM… efeknya adalah… keterikatan untuk berkunjung ke gandok tidak setinggi waktu main di padepokan ADBM.

      Nyuwun ngapunten kalo ada pernyataan yang tidak pas di hati

      • Pundi tho rapelane …..
        Kok dereng dugi ..
        Tak mapan disik …. kueeseelll puuuooollll

        • Hiks….
          ngenteni nJenengan sare Ki.
          Lha wong iki isih neng kebun je.

          • Hiks….mangke nek Ki Rangga Widura sampun wungu….gantian Ki Senopati Arema sing sare….

            Sugeng sonten sedoyo..

        • waduh…. Ki Widura sudah ikutan ngogrok2…. mlayu ahhh…

  17. Sugeng siang.
    Selamat siang.
    Semua Saudaraku, apel siang.
    Mudah-mudahan bonus tidak hanya satu buku.

  18. selamat sore…
    hadir…

  19. Kalau menurut saya adalah ADBM diterbitkan ceritanya sangat panjang sekali sampai hampir 400 jilid. Kemudian selama itu dimuat di harian Kedaulatan Rakyat. Dengan diterbitkandi surat kabar maka banyak orang yang pada awalnya membaca satu dua terbitan akhirnya kecanduan, tetapi karena sangat panjangnya sampai tahunan banyak orang yang karena kesibukannya tidak sempat lagi untuk melanjutkan alur ceritanya. Dan ini membuat orang yang pernah membacanya masih penasaran.Pada waktu padepokan dibuka maka orang-orang yang dulunya belum selesai membacanya maka merasa mendapat kesempatan untuk melanjutkan ceritanya sampai tuntas (walaupun sampai sekarang cerita ADBM belum tuntas juga) Dan orang-orang ini sebaran umurnya darimulaikakek-kakek sampai mas-mas. Untuk cerita yang lain banyak orang yang sudah tuntas membacanya. Tetapi yang belum pernah membaca merasa males untuk memulai membacanya kecuali SHM mania. jadi tidak heran jika pengunjung ADBM lebih banyak dari PDLS dan Padepokan Gagak Seto.

  20. Menurut saya sebenarnya karya SHM yang paling apik adalah Naga Sasra Sabuk Inten tetapi karena dari dulu sudah katam dan ada kitabnya saya tidak usah buka di padepokan. Tetapiuntuk ADBM saya dulu baca dari kliping potongan harian KR kemudian dilanjut dengan membeli kitab yang setiap bulan baru terbit. Tetapi karena harus keluar jawa maka akhirnya kitab terputus koleksinya.Kemudian setiap kali ke Jakarta saya biasanya mampir ke rumah Om yang juga penggemar ADBM.Tetapi karena stl menikah sibuk dengan urusan anak (dari nyari duit sampai nemenin belajar) akhirnya ADBM terlupakan. Sampai suatu ketika aku temukan padepokan ADBM yang membuat rasa penasaran akan lanjutan ADBM terobati. Untuk cerita yang lain selain Agung Sedayu dan Maheso Jenar maka aku tidak terlalu antusias. Juga PDLS dan yang lain banyak yang sudah katam. Jadi untuk membacanya ya sambil lalu saja,kalau sempat.

  21. Masuk regol padhepokan, sepatu sendal berjejer dibawah tangga pendapa, nyumpetin sandal ditempat aman, melangkahi undakan tangga yang tidak begitu tinggi, lawang terbuka lebar, banyak cantrik ngedeprok, seperti kalo jumatan, ane cari tepat faporit (biasa, dipojok paling belakang, biar bisa sandaran gito looh).
    Ngomongin tentang Jumatan, gue pernah Jumatan di Bajarmasin, jamaahnya sedang2 saja, kenapa?? jumlah mesjid dan mayoritas islam seimbang. Sementara ketika nyasar di Balikpapan (nyasarnya kelamaan-sekitar 9 taonan)hampir di setiap mesjid penggemarnya meludak kayak nonton konser (sering sepatu ilang)kenapa???, jumlah mesjid terbatas……
    Laen lagi kalo Jumatan di Jakarta, setiap kampung bikin mesjid, setiap komplek punya mesjid, setiap aliran bikin mesjid, ternyata kalo dibikin grafik, variasi volume ada pada hari kerja dan hari libur, mesjid agung AL-deket Kantoran bejubel dihari kerja, sebaliknya mesjid Al-kampung, Al-komplek, sepi..enggak nembus empat shap (sory..enggak semua yang gue liat ini menjadi barometer, ternyata, Mesjid Sunda kelapa enggak kenal jam kerja, enggak kenal liburan ato jam kerja, pool habis setiap jumatan)
    Apa hubungannya Mesjid Jumatan dengan ADBM, PDLS dan GGS ????
    Ternyata enggak ada hubungannya, apalagi kalo dihubungkan dengan bentrokan SATPOLpp dan anak-anak kecil cabe rawit di KOJA tanjung-priok.
    (sori, asal ngetik, jangan diambil ati)

  22. Nuwun,

    Sugêng dalu. Berikut ini cantrik bayuaji urun rembug. Urun rembug ini tidak mengomentari sedikit atau banyaknya pårå kadang yang bergojég ke gandhok-gandhok.

    Disini cantrik bayuaji tidak hedak memberikan ulasan tentang sedikitnya kunjungan para kadang kepada Padepokan Pelangi Singosari dan Gagak Seta, dan analisis mengapa ADBM yang sudah tidak aktif, tetapi jumlah kunjungan masih banyak, sebagaimana disampaikan oleh Ki Seno.

    Cantrik bayuaji menelisik secara utuh alur cerita Si Agung Sedayu tokoh sentral Pasukan Pajang dan konco-konconya melawan Arya Penangsang, sebagai rentetan sejarah dari Demak-Pajang dan berdirinya Mataram.

    Sumonggo.

    1. Agung Sedayu digambarkan sebagai seorang pemuda yang sangat penakut. Kepenakutan Sedayu diceritakan hampir sebanyak 30 jilid pertama.

    Boleh dikata, moment kepenakutannya diceritakan detail lengkap dengan persaingannya dengan Sidanti, baik dalam olah kanuragan (terminologi lokal yang cocok pengganti ilmu silat) maupun kelak dalam cinta.

    2. Proses Agung Sedayu menemukan dirinya, mengatasi kepenakutannya diceritakan sangat detail dan lama, sehingga terkesan bertele-tele.

    Demikian juga prosesnya menempa diri, dari mulai diambil sebagai guru oleh Kiai Gringsing, tokoh utama lain cerita ini, sampai memasuki penempaan mendalam, membutuhkan panjang hingga 100 jilid pertama.

    3. Dibutuhkan lebih dari 200 jilid baru Kiai Gringsing mempercayakan Kitab Rahasianya untuk didalami oleh Agung Sedayu dan Swandaru adik seperguruannya.

    Itupun setelah Agung Sedayu memperdalam diri dengan menyempurnakan ilmu ayahnya dan mendalami Kitab Rahasia gurunya yang kedua (Jilid 100-200).

    4. Dari hanya mampu memainkan ilmu gerak yang biasa (nyaris sepanjang 50 jilid pertama), hingga kemudian mampu memainkan cambuk sebagai senjata utama (Jilid 51-100), sungguh banyak episode yang dilewati dengan menggunakan ilmu-ilmu itu.

    5. Baru pada jilid 100-200, nampaknya Kiai Gringsing mulai memberi kesempatan Agung Sedayu untuk mulai menggantikan tempatnya, dan puncaknya ketika dalam akhir jilid 200, bentrok dengan sesama tokoh sepuh yang sudah dinyatakan punah melalui benturan ilmu-ilmu ampuh yang dinyatakan lenyap, milik Eyang Windunata yang merupakan garis vertikal keturunan prabu terakhir Majapahit.

    6. Dalam proses olah kanuragan, Agung Sedayu memulai olah kanuragan dengan diajak dan dipermainkan gurunya. Dia dilatih untuk menghilangkan rasa penakutnya yang meskipun hilang akhirnya, tetapi kelembutannya dan ketidaktegasannya menghadapi dan menghukum orang jahat tidak pernah lepas hingga akhir cerita di jilid 390-an.

    7. Sebanyak 70 jilid, Agung Sedayu dan Swandaru mengikuti gurunya Kiai Gringsing untuk memperdalam ilmu dengan mengembara hingga ke Menoreh dan bahkan singgah ke Mataram yang mulai dibuka di akhir jilih 100-an.

    8. Episode paling menarik dari kedua tokoh seperguruan ini dikisahkan dalam episode kedua, Jalan Simpang.

    Swandaru selalu menilai diri terlalu tinggi karena Agung Sedayu selalu terluka melawan tokoh-tokoh sakti yang mulai rajin bermunculan di atas jilid 100.

    9. Puncak cerita dan menariknya cerita ini, ketika Swandaru yang suka meledak-ledak, emosional dan merasa dari kalangan atas, merasa sudah melampaui kehebatan kakak seperguruannya.

    Dalam pertarungan yang mengakhiri episode Jalan Simpang, Agung Sedayu mengajarkan bagaimana kematangan dan kedalaman mengalahkan Swandaru yang mengandalkan Tenaga fisiknya.

    Dalam perkelahian yang disadari betul oleh adik Swandaru, Sekar Mirah dan Istri Swandaru, Pandanwangi, bahwa Swandaru kalah jauh oleh Agung Sedayu karena berkali-kali mereka menyaksikan bagaimana Agung Sedayu berkembang menjadi raksasa olah kanuragan, Swandaru telak dikalahkan.

    10. Episode seudahnya adalah episode pengembaraan Glagah Putih, adik sepupu AGung Sedayu sekaligus muridnya. Sementara Agung Sedayu menempa istrinya dan juga menempa dirinya dengan kitab gurunya, Kiai Gringsing.

    Demikian maka ADBM layak dibaca dan juga layak dilanjutkan. Karena cerita ini menggantung pada bagian paling akhir.

    Analisis ini hanya iseng saja, sambil nunggu diwedarnya rontal SUNdSS 04, lalu SUNdSS 05 dan lalu SUNdSS 06, lalu …… lalu…… lalu….. dalam sakêdéping nêtrå. He he he he he.

    Syukron.

    Bahan dari: Agung Sedayu Tokoh Sentral AdBM (diolah seperlunya).

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Nenggo wedharing rontal sinambi ndongeng kemawon Ki Bayu, monggo…….kulo siap mirengaken.

  23. Pada kurun waktu th 70 sampai 80an di kota2 besar yang ada di Jawa Tengah, nama2 seperti Mahesa Jenar, Rara Wilis, Endang Widuri cukup populer. Namun nama tokoh yang lebih populer adalah Agung Sedayu dan Kiai Gringsing.
    Kaum muda yang saat itu sedang menuntut ilmu di Jogja, Surakarta, Semarang, Purwokerto lebih mengenal nama Agung Sedayu ketimbang Mahisa Agni, Panon Suka, Jlitheng, Panggiring, Pamot, Risang dan tokoh2 di buku karangan Mpu SHM yang lain.
    Pernah saya mendengar sekelompok pemuda yang sedang bergojeg antar mereka, salah seorang menyeletuk ;
    -“Tadi aku ketemu Agung Sedayu di Pingit lagi nyegat bis, katanya mau nyusul Glagah Putih yang minggat bareng Raden Rangga”-
    Nampak sekali bahwa dongeng ADBM pada kurun waktu itu benar2 mengakar di kehidupan para pemuda. Hal ini mungkin disebabkan karena dongeng tsb dimuat secara bersambung di harian KR.
    Saya sengaja mengulas peran para pemuda karena merekalah yang menjadi aset tersebarnya virus ADBM yang menggurita sampai tak lekang oleh jaman. Bukan berarti saya menafikan peran Angkatan Babe Gue yang pada awalnya menularkan virus ADBM tsb.
    Saat ini para pemuda tsb tentu sudah mulai memasuki masa ABG juga, tentu saja ada rasa ingin mengenang masa muda mereka (bahkan mungkin sangat besar dorongannya) dan mereka ini sudah menyebar ke segala penjuru. Saya yakin masih ada ribuan diantara mereka yang akan segera berbondong bondong mengunjungi padhepokan ADBM apabila ada yang memberitahu.
    Saya punya atasan yang selama ini saya anggap tidak mempunyai kegemaran membaca. Setelah bertahun tahun kami bekerja sama, suatu hari kami mengobrol tentang masa muda kami dan dia menyeletuk bahwa dulu suka baca Agung Sedayu, bahkan masih ingat perang tanding Kiai Gringsing versus Kakang Panji ! Saya terpana setengah tidak percaya, lalu saya ceritakan tentang padhepokan kita yang tercinta. Mulailah dia menjadi cantrik pasif yang setiap hari membaca ADBM, sampai akhirnya tagihan rekening HPnya membengkak (dia baca via HP) dan akhirnya saya beri unduhan dari bangsal pustaka saya.
    Mungkin hal yang saya ceritakan diatas itulah yang menjadikan padhepokan ADBM selalu dicari dan dikunjungi kembali, membaca sambil bernostalgia !
    Saya sendiri membaca PDLS sejak masih SD pada jilid2 awal ketika Mahisa Agni sedang mencari akar wregu putih dan memori itu sangat melekat di benak saya, akan tetapi masih kalah dengan kenangan kala membayangkan Agung Sedayu menggigil kedinginan dan ketakutan ketika akan ditinggal oleh Untara !
    Akan tetapi sebagai Die Hard saya mencintai semua padhepokan yang menyajikan karya almarhum Mpu SHM. Saya tetap ADBMers, PDLSers dan GaSeTers yang setia.

    Yakin 200 persen bahwa komen saya ini yang akan mendapat hadiah bonus wedharan rontal dari Ki Seno.

    He….he….he….
    Sugeng dalu Ki Seno
    Sugeng dalu para kadang sedaya….

  24. He he he… ternyata senang blusukan membawa berkah. matur nuwun Ki Arema, Ki Widura…

    Pamit rumiyin, badhe leyeh2….

  25. Hari ini KRINAN ….
    Masih malas melek tapi SUNdiSS-04 sudah muncul …
    Matur Suwun Ki Seno!

  26. We ladalah.
    Ki Rangga Widura, sampun dalu lho Ki, koq taksih rêmên blusukan. Dipun réncangi punåpå?.
    Matur nuwun Ki Seno, Ki Ismoyo, ugi Ki Widura.

    Sampun lingsir wêngi, ing dalu/énjang punikå. Sukrå (Jêmuwah) Wagé. Sugêng lék-lékan tirakatan malêm Jêmuwahan.
    Mugi-mugi sedåyå titah manggihi karahayon

  27. Rondha lagi ….
    Ya wis tak blusukan ke padukuhan sebelah …

    • Ki Widura blusukan kemana sih dicari2 kok tetap gak ketemu…

  28. Belum ketemu Ki Anusapati?
    Coba diperhatikan lagi komentar Ki Rangga Widura berikut:

    On 15 April 2010 at 03:37 Widura Said:

    Dari Pada Rondha Sendiri sambil Nglamun! Lebih enak sms ke Ki Seno yang sedang mimpi.

    Sebagai seorang pecandu cersil Jawa, khususnya karya-2 SH Mintardja, saya masih suka “blusukan”.

    • matur nuwun Ki Honggopati…karena kelamaan nyarinya tetap tidak ketemu akhirnya ditinggal tidur…

  29. Sugeng enjang Ki Arema.
    Matur nuwun, sampun ngunduh.
    Matur nuwun Ki Widura, tumut blusukan mendet kitab.

  30. Pancen ilmune SHM wis mrasuk neng slirane Ki Arema.
    Pancen pinter le nggawe penasaran.
    Nunggu bonus ternyata durung diwedar juga.
    mboten parenk duko lo Ki.

  31. Selamat pagi,
    Setelah blusukan ning “gembolane” ki rangga Widura, dan… ketemulah lontar 04.
    Suwun ki Arema.
    Salam buat kadang semua.

    • Ki Wiek,
      Gembolanku ono sing ilang …..
      Sinten ingkang mendet nJih?

      • Biasanipun Ki Tumenggung kaliyan ki Antrakj.
        hikks, blayu disik.

        • Gembolane kulo tarik…Ki Wid njundil je ?….jebul kliru….hiks..

  32. Setelah aku blusukan neng komen ne ki Wid, tak coba-coba blusukan ning SUNdiSeetSeet_05 dan ternyata :

    “Maaf,Maaf, tidak ada tulisan yang memenuhi kriteria Anda”.
    Wah, wah, koyone durung ono bonuse.
    Isih ketlisut yae…

    Punteun ki, bukan bermaksud apa-apa, cuma pengin …

  33. gembolan rontal SundSs-04 ki RANGGA Widura
    wis tak “COMOT”…..!!!

    matur nuwun ki SENO,
    selamat pagi Pdlser,

    • “BONUS-rontal-SundSs-05” cantrik-mentrik
      bisa nyruput setiap waktu,

      CANTOLAN-rontal sudah disiapkan….sayang
      kunci gandok di-hilang-kan pak SATPAM,

      hiks,tunggu perbaikan….”S**BAR”

      • Sebelum berangkat ke kebun rontal sudah (kadhung) dititipkan P. Satpam.
        P. Satpam mau dititipi, tetapi harus Tit… 00.01. Bukak gandok sekalian wedar rontal
        Hiks…
        Kalau tidak sabar juga, Nanti bakda Isya’

        • “Kalau tidak sabar juga, Nanti bakda Isya’”

          manawi mekaten, kula pilih boten sabar kemawon Ki…. he he he

      • Hiks…
        Kalau masih tidak mau sabar juga,
        cantrik ambil sendiri di gendhok

        Hiks…
        Kalau masih kurang mau sabar juga, “KEBANGeTEN-TueNAN”……hahahaha

        hiks…
        ra pareng duko ki,

  34. aku ya katut keblusuk ki sanak.
    ewasemono ya matur nuwun.

  35. kulo ndherek blusukan teng mriki menopo pikanthuk???

    Hikss….
    sampai juga di sini
    monggo…, gratis biaya pendaftaran kok.

  36. Sedulur,nang endi ya blusukane inyong njaluk weruh ya,suwun

  37. Di komenya ki Widura ki :
    On 15 April 2010 at 03:37 Widura Said:
    Dari Pada Rondha Sendiri sambil Nglamun! Lebih enak sms ke Ki Seno yang sedang mimpi.

    Sebagai seorang pecandu cersil Jawa, khususnya karya-2 SH Mintardja, saya masih suka “blusukan” ke padepokan ABDM secara diam-2.
    Pada kata blusukan warna coklat lontar tersimpan ki.
    Monggo

  38. ki SENO belum pulang dari tugas Cangkulan
    isih kerasan ning “KEBUN”,

    lagi panen ya ki…..??

    • Ssss..t ki seno lagi ber”KEBUN”
      ora pareng ngogrok-ogrok.

      • bisik-bisik khawatir ki SENO :

        ber”KEBUN” nopo ber”COCOK-TANAM” ki,
        nunggu COCOK……baru boleh ditanam

        hikss, mblayuuu

        • hikss, ikutan mblayuuu

          • Hiks..sakjane ditanam rumiyin…

        • Sakwise keblusuk neng gembolane Ki Widura, aku thingak-thinguk.
          Eee jebul kok ana sing ngajari bercocok tanam pohung.
          Yen ngono aku tak ndang mulih ah, melu bercocok tanam.

  39. sugeng sonten…
    sampun ndherek blusukan…
    matur nuwun Ki Seno..

  40. matur nuwun Ki Rangga,
    amargi panjenengan remen mBlusukan ngantos ketlusuben rontal 04.
    matur nuwun Ki Seno, lha bonuse pundi Ki ?

  41. Sugeng dalu Ki Arema.
    Sampun jam 20.30 koq bonus dereng wonten?

  42. Selamat malem Saudaraku semua.
    Mari sama-sama berdoa semoga Ki Arema longgar penggalih sehingga bonus segera diwedar.

  43. Sugeng ndalu…

    Laporan pandangan mata situasi terakhir gandok SUNdSS..

    Sepertinya mulai timbul keresahan akibat bonus belum diwedhar sampai saat ini, pukul 20.47 WLS (Waktu Laptop Saya). Semoga keresahan yang timbul tidak semakin berkembang ke arah yang tidak-tidak.

    Sekian laporan langsung gandok SUNdSS… Selamat bersabar…

    Tuku sate neng tengah pasar
    Jam semene kitab kok durung diwedhar

    Hikss…..

    • salah ki..
      sampun.

      • Njih Ki….

        sampun dipun unduh kok🙂

  44. meh ngulas…jebul wis diwedar…..rasido ah…
    suwun…nembe ngarapel niki

  45. menurut saya karena ADBM, ceritanya meninabobokan dimana kebaikan pada akhirnya mengalahkan kejahatan.. ada nuansa predictability….

    sementara pdls dan sundss lebih realistis, kadang kala kejahatan mengalhkan kebaikan, tidak ada nuansa kepastian yang memberikan ketenteraman, yang ada justru nuansa kecemasan inheren…

    ibarat film, adbm ada nuansa akan happy ending, sementara pdls dan sundss tidak

  46. hehe tambah lagi…
    kalo adbm pertarungannya fisik dan terbuka (sebagian besar)….

    kalo pdls dan sundss, pertarungannya lebih banyak mental, seperti fitnah, hasutan, agitasi, perang pencitraan di hadapan orang lain, dsb … memang nuansa ceritanya agak berat..
    cerita yg menghibur kan cerita yg ringan…

  47. trims ki arema, ki ismoyo dan para bebahu padepokan serta para sanak kadang sedaya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: