SUNdSS-20

sebelum >> | awal >> | lanjut >>

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 21 Mei 2010 at 00:01  Comments (102)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sundss-20/trackback/

RSS feed for comments on this post.

102 KomentarTinggalkan komentar

  1. 😛
    Sugeng enjang Ki Seno!

  2. Ki Seno bilang:
    P. Satpam tidak mau kalau buka gandok dan wedaran secara terpisah, capek… katanya, beliau maunya sekalian saja buka gandok dan wedaran rontal.
    Kulo kinten alasan Pak Satpam makes sense …..
    Apalagi kalau diwedar sekarang …. 😛
    Sugeng Mantu Ki Sena … sayang tidak bisa hadir …. ikut makan tumpeng …

  3. ampunnnnnnnnn, lagi-lagi gue ketinggalan sama Ki One

    • Hiks ….
      Habis kondangan di rumah Ki Seno, langsung absen …

  4. Selamat buat Ki Arema, semoga “gawe”nya bisa berjalan lebih lancar dari yang diharapkan…

    Ikut mendoakan agar arwah almarhum pak Gesang mendapatkan tempat yang layak disisiNYA dan agar keluarga yang ditinggal selalu tabah…

  5. ikut berdoa untuk kelancaran acara mantuan, semoga sukses

  6. Wah…. udah dibuka gandoknya.

    Cuman bisa nderek mangayubagyo aja Ki… mudah2an diberikan kelancaran.

  7. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Om Swastyastu,

    Nama tassa bhagavato arahato samma-sambuddhassa,

    Awignam astu namassidêm (Mugi linupútnå ing rêridhu).

    Pårå kadang padépokan,

    Nuwun

    Agak lama cantrik Bayuaji tidak sowan, satu dan lain hal cantrik Bayuaji tengah ber’samadhi’ di suatu tempat, tapi hal itu sudah berlalu. Atas izin Allah SWT, cantrik Bayuaji masih diberi kesempatan untuk menikmati ‘istirah’, dan atas izin Allah Sang Maha Pemilik Kehidupan, masa-masa ‘bertapa’ telah paripurna, pikantuk Sih Kanugrahaning Gusti kang Måhå Wikan, rahayu kang jinangkå, kasêmbadan sasêdyané hamungkasi, hayu nir sambékålå.

    Adalah rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Maha Pencipta.

    Dumatêng pårå kadang sêdåyå, utaminipun Ki Seno såhå Ki Gembleh (On 19 Mei 2010 at 20:45 gembleh Said: dan On 19 Mei 2010 at 22:10 gembleh Said), matur gunging panuwun atas doanya, dan matur nuwun juga kawigatosanipun.

    Khusus dumatêng Ki Mahesa Arema, cantrik Bayuaji ikut bergembira untuk perhelatan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Semoga Allah meridhai acara perhelatan itu dalam limpahan Kasih SayangNya yang tak terhingga.

    Sungguh berbahagia sekali lho Ki, apalagi nanti kalau sudah saatnya tiba, dapet momong putu, he he he… Setiap hari gojégan sama putu.

    Alhamdulillah, sampai saat ini, Allah memberi karunia momongan dua cucu yang imut-imut manis dan cakep kepada cantrik Bayuaji.

    Sekali lagi selamat. Ulemannya cantrik tunggu.

    Pårå kadang padépokan,

    Keparéng cantrik Bayuaji, marak paséban, unjuk atur:
    Cantrik Bayuaji ingin menyatakan bahwa di masa “reses” penulisan dongeng seolah terhenti.

    Sebenarnya tidak, ini hanya masalah pembacaan rontal kidung Pararaton yang sejak mulai diberitakan wafatnya “Sang Ardanariswari, karma amamadhangi” Kuntum Bunga dari Kaki Gunung Kawi nDedes, maka “cerita” SUNdSS pada beberapa jilid merupakan lakon carangan yang “keluar” dari pakem. Sang Begawan SH Mintardja telah begitu lihai meracik lakon demi lakon ‘mbanyu mili berkesinambungan, yang seolah tak pernah tamat.

    Pararaton, Nagarakretagama dan Prasasti Mula Malurung, serta naskah sejarah lainnya tidak mengabarkan secara rinci ‘kejadian-kejadian’ semasa pemerintahan Ranggawuni dan Mahisa Campaka, karena menurut kedua rontal itu dan dari peninggalan sejarah yang ditemukan, sejak Ranggawuni Wisnuwardhana naik tahta dengan pendamping Mahisa Campaka Ratu Anggabaya Batara Narasingha, hingga masa pemerintahan Kertanegara, Singosari “aman terkendali”. Adapun munculnya kisruh “golongan ilmu hitam” tidak pernah diberitakan. Meskipun Pararaton dan Nagarakretagama menyinggung sedikit tentang kekisruhan itu, tetapi ini hanya riak kecil di permukaan saja, dan tidak sampai menggoncang tahta sepasang ulang naga di satu sarang itu.

    Bukankah sejak Raggawuni naik tahta hingga masa Kertanagara, Singosari adalah negara yang gemah ripah loh jinawi. Justru di masa pemerintahan någhå roro salèng itu Bhumi Tumapel yang subur menggeliat, para warganya mentaati anggêr-anggêr lan pranatan pråjå termasuk membayar pajak. Hasil bumi, hingga hasil hutan, juga gading dan cula badak, diburu para vaniyaga dari negeri jauh (Cina; ingat Jalur Sutra).

    Kali Bengawan yang aliran derasnya dipecah dalam kanal-kanal yang bermuara di laut Jawa telah lama sekali dilalui perahu-perahu para pedagang yang pergi ke Ujung Galuh (muara Kali Mas, disebut juga Churabaya. Boleh jadi sekarang adalah Tanjung Perak Surabaya). Hal ini yang tidak disinggung oleh Ki SHM dalam SUNdSSnya.

    Pada masa-masa itulah Singosari mengalami Masa Keemasan. Bahkan Prabu Kertanegaralah pencetus ide cakrawala mandala nusantara. Walau tujuannya adalah untuk membendung pengaruh Kubilai Khan ke wilayah timur, namun konsep tersebut justru menjadi inspirasi bagi Sumpah Palapa Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada dan dewasa ini menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun sayang justru pada masa Kretanagara pula Singosari runtuh.

    Insya Allah. Pada saatnya cantrik Bayuaji akan mendongeng tentang ini.

    Pårå kadang,

    Bulan Februari 2010M yang baru lalu bertepatan dengan bulan Rabiulawal 1431H. Ketika bulan Rabiulawal tiba, ingatan kita tertuju kepada sosok manusia agung, manusia pilihan Tuhan, penuntun umat manusia dari alam kegelapan menuju alam bercahaya terang benderang. Rasulullah Muhammad SAW.

    Hari itu adalah hari istimewa, tanggal 12 Rabiulawal adalah hari bersejarah, karena pada hari itulah Manusia Agung nan Mulia Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan ke dunia, Rasul rahmatan lil ‘aalamiin, pembawa rahmat bagi seluruh alam. mengasihi seluruh alam, dan menyempurnakan akhlak yang mulia.

    Hari itu juga hari istimewa karena pada tanggal 12 Rabiulawal tahun ketigabelas kerasulan. Rasulullah, dan sahabat-sahabatnya tiba di Madinah al Munawwarah yang pada ketika itu disebut Yatsrib. Hijrah. Sebagai sejarah tonggak awal kebangkitan Islam.

    Dan pada tanggal 12 Rabiulawal itu pula Nabi Muhammad SAW wafat, setelah merampungkan tugas suci beliau.

    Inti dari perayaan Maulid Nabi bukan hanya kegembiraan atas kehadiran beliau dalam sejarah, tapi yang lebih penting dari semua itu adalah meneruskan perjuangan dan cita-cita beliau.

    Keteladan beliau, seperti pembelaan atas kaum lemah dan papa, pembebasan kaum tertindas, dan penegakan keadilan.

    Peringatan Maulid Rasulullah Muhammad SAW kita jadikan ajang introspeksi, bukan ajang menghibur diri. Kita introspeksi apa yang salah dengan sikap dan perilaku kita yang tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan Nabi Muhammad. Inilah makna hakiki dari Maulid Nabi Muhammad. Bukankah Rasulullah SAW adalah suri teladan yang baik?

    Firman Allah SWT:

    Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, ….. ” [QS. Al Ahzab (33):21]

    Pårå kadang,

    Tak lama sesudah peringatan hari istimewa itu, menjelang pertengahan bulan Mei ini, saudara-saudaraku umat Hindu Dharma memperingati Hari Raya Galungan. Hari yang merupakan peringatan atas terciptanya alam semesta beserta isinya dan kemenangan dharma melawan adharma.

    Umat Hindu melakukan persembahan kehadapan Sang Hyang Widi dan Dewa/Bhatara dengan segala manifestasinya sebagai tanda puji syukur atas rahmat Yang Maha Agung serta untuk keselamatan selanjutnya. Kemudian menyusul Hari Raya Kuningan. Pada hari itu sesaji dan persembahan atas turunnya kembali Sang Hyang Widi disertai oleh Dewata atau Pitara, mohon keselamatan dunia dengan segala isinya.

    Hampir bersamaan dengan itu, berdekatan dengan Hari Raya Galungan, saudara-saudaraku umat Kritiani memperingati Hari Kenaikan Yesus. Memperingatinya berarti mengingatkan manusia pada kematian. Dengan memaknai kenaikannya, implikasinya adalah bahwa manusia wajib mengimani eksistensi dan kehidupan roh, kehidupan abadi.
    Manusia tak boleh terbelenggu oleh kehidupan yang fana, menjadi budak kekuasaan, harta dan kesenangan duniawi yang sifatnya sementara ini.

    Memperingatinya berarti meneladaninya. Teladan yang semasa hidupnya memberi contoh sebagai raja sekaligus hamba yang melayani, bertanggung jawab, penuh cinta kasih, anti kekerasan dan tak segan berkorban.

    Kemudian tidak lama lagi tibalah Hari Tri Suci Waisak, peringatan yang dirayakan oleh saudara-saudaraku umat Budha, sebagai hari Buddha pada akhir bulan Mei ini, Hari Tri Suci Waisak merupakan hari kelahiran, hari mencapai penerangan sempurna dan hari parinibbana Sang Buddha, yang terjadi tepat pada malam Purnama Siddhi (menjelang akhir Mei). Ketiga peristiwa tersebut terjadi pada hari yang sama.

    Dengan peringatan Hari Tri Suci Waisak diharapkan umat meningkatkan keyakinan dan ketaqwaan dengan kedewasaan dan kebersihan batin dari lobha, dosa, moha, sifat-sifat egoistis, dan kekotoran batin lainnya yang selalu menimbulkan perpecahan, permusuhan, perkelahian, pembunuhan dan perilaku menyimpang lainnya. Kekotoran batin semacam inilah yang harus kita hapus dari dalam batin kita masing-masing, sebagai bekal hidup menuju perdamaian, kerukunan, ketentraman dan kesejahteraan lahir batin.

    Pada hari-hari yang cantrik Bayuaji sebutkan di atas, sebagai umat yang meyakini kebenaran ajaran agamanya. Umat manusia, siapapun dia. Hendaknya kembali memaknainya, menghayati kebenaran ajaran agamanya masing-masing dengan penuh keyakinan, umat berkumpul untuk menunjukkan penghormatan, perenungan diri, muhasabah (instropeksi, evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini,

    Pårå kadang padépokan,

    Cantrik Bayuaji ‘ujug-ujug’ koq menulis tentang peringatan Maulid Rasulullah SAW, kemudian Hari Raya Galungan, lalu Hari Kenaikan Yesus trus Hari Waisak.

    Ups, hampir terlewatkan, ada satu tanggal lagi yang tidak boleh kita lupa, tanggal 20 Mei 1908 adalah berdirinya Budi Utomo, suatu organisasi anak bangsa pribumi aseli yang berlandaskan nasionalisme, yang menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

    Lalu apa hubungannya dengan dongeng arkeologi & antropologi di padépokan ini. Apa maksuddé ?.

    Sebelum tiba pada episode selanjutnya dari DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI, berikut ini cantrik Bayuaji, mengajak pårå kadang padépokan yang mau dan peduli, untuk sejenak pada:

    sebuah renungan

    Pårå kadang padépokan,

    Setelah membaca rontal Kidung Pararaton tentang carut-marut dan kudeta yang anehnya selalu berdarah di tlatah Singosari abad 13 silam; kemudian berturut-turut menyimak “rontal-rontal” masa kini, cantrik Bayuaji merenung, selalu beginikah perjalanan sejarah bangsaku, hingga hari ini?

    Seprånå sapréne’, nêgari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal berupa kidung, babad, pujasastra, atau tamra prasasti.

    Dan juga di abad 21 ini seperti yang sering kita baca di “rontal-rontal” modern yang hampir seluruh halamannya sarat dengan tulisan udreg-udregan, adu kekuatan, pamer kekuasaan.

    Kita saksikan di televisi (di zamannya Ken Dedes, barang ini belum ada); setiap hari, kita “dipaksa” menonton acara tayangan pertengkaran, maki-maki, pengrusakan dan pembakaran fasilitas umum, perkelahian antar kampung, antar gang (maksudnya jalan kecil, tapi boleh juga disebut gank), saling bunuh, laku dan tindak anarkis. Pemaksaan kehendak.

    Hampir di setiap daerah, saat pemilihan kepala daerah selalu diwarnai dengan pertengkaran, permusuhan antar kubu. Kubu yang kalah tidak mau menerima kekalahannya, dan kubu yang menang, dalam suasana euforia yang berlebihan, merasa kubunyalah yang paling berhak, paling dipercaya untuk mengatur segalanya di daerah.

    Sering pula kita baca dan lihat bahwa ada golongan/partai/kelompok tertentu atau orang-perorang menyatakan bahwa dirinya, golongannya/partainya/kelompoknya adalah pihak yang paling benar, pihak yang paling berhak mengatur negeri {yang lainnya dianggapnya numpang (?)}.

    Setiap perbedaan pendapat selalu diselesaikan dengan pertengkaran. Papua, mBah Priok, adalah contoh yang lain.

    Tingkah laku para priyagung di gedung yang konon akan menyaingi Torre pendente di Pisa itu, tak kurang “mengerikan”.

    Kosa kata “bang**at”, atau kata-kata lain yang tak senonoh, begitu mudahnya kita dengar, yang seharusnya tidak pantas diucapkan oleh penyandang sebutan yang terhormat itu. Kita juga pernah nonton tayangan “olahraga tinju kelas bebas”, dari priyagung-priyagung di sela-sela sidang.

    Acara debat di layar kaca pun sering berebut kebenaran, hilang sudah unggah-ungguh, trapsilå subå sitå, sopan santun,…………………… daftar ini masih dapat ditambah dan diperpanjang…………….

    Belum lagi tayangan “sinetron” perkosaan, pembunuhan, mutilasi, pergaulan bebas, narkoba, penggusuran, perkelahian antar kampung/suku/golongan, bahkan pertikaian separtai pun pernah kita saksikan. Sekelompok orang merasa paling berhak memakai lambang partai X. Kelompok yang lain seolah tidak mau kalah, mereka membuat partai X tandingan.

    Alampun ikut “menangis”. Tanah longsor, gempa bumi, banjir di belahan bumi sini, tetapi di sisi lain tanah telah lama gersang, kering kerontang tak pernah disentuh hujan, bumi tak lagi ramah memberikan hasilnya pada manusia, dan tayangan “telenovela” ini tak pernah absen dari layar kaca kita.

    Pårå kadang padépokan,

    Kita sering disebut sebagai bangsa yang religius. Yang konon menjunjung tinggi norma-norma agama. Agama apapun itu.

    Namun, marilah kita tengok sisi lain untuk melihat kenyataan yang ironis dalam kehidupan bangsa yang religius itu. Semudah melihat maraknya kehidupan ritual keagamaan, dengan mudah pula kita bisa melihat banyak ajaran dan nilai-nilai mulia agama yang seolah-olah benda-benda asing yang tak begitu dikenal.

    Tengoklah. Kebohongan dan kemunafikan sedemikian dominannya hingga membuat orang-orang yang masih jujur menjadi terpinggirkan, kesepian dan rendah diri.

    Rasa malu yang menjadi ciri utama pemimpin dan panutan agung Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya, tergusur dari kehidupan oleh kepentingan-kepentingan terselubung dan ketamakan.

    Disiplin yang dididik agama seperti adzan pada waktunya, shalat pada watunya, haji pada waktunya, dan sebagainya, tidak sanggup mengubah perangai ngawur dan melecehkan waktu dalam kehidupan kaum beragama.

    Plakat-plakat bertuliskan dengan jelas an-nazhaafatu minal iimaan terjemahan pun jelas “kebersihan adalah bagian dari iman”, diejek oleh kekumuhan, tumpukan sampah, dan kekotoran hati di mana-mana.

    Kesungguhan yang diajarkan Al Qur’an dan dicontohkan Kanjeng Nabi, Rasulullah Muhammad SAW tidak juga mempengaruhi sifat dan tabiat malas dan suka mengambil jalan pintas.

    Di atas, korupsi merajalela. Sementara di bawah, nyolong dan jambret merebak di mana-mana.

    Jumlah orang miskin dan pengangguran seolah-olah berlomba dengan jumlah koruptor dan mereka yang naik haji setiap tahun.

    Nasib hukum juga tidak kalah mengenaskan. Tak perlulah kita capek terus bicara soal mafia peradilan dan banyaknya vonis hukum yang melukai sanubari publik untuk membuktikan buruknya kondisi penegakan hukum negeri ini.

    Penegak-penegak keadilan sering kali justru melecehkan keadilan. Penegak kebenaran justru sering kali berlaku tidak benar.

    Maniak kekuasaan menghinggapi mereka yang pantas dan yang tidak pantas. Mereka berebut kekuasaan seolah-olah kekuasaan merupakan baju all size yang patut dipakai oleh siapa saja yang kepingin, tidak peduli potongan dan bentuk badannya.

    Mereka yang merebut kekuasaan merasa itulah kebenaran dari Tuhan, merasa begitu dekat kepada Tuhan, merasa berhak mewakili Tuhan. Bahkan merasa diri mereka adalah Tuhan. naudzubillah summa naudzubillahimindzaliq
    Astagfirullahalazim,
    Astagfirullahalazim,
    Astagfirullahalazim.

    Tidak hanya sesama saudara sebangsa, tidak hanya sesama saudara seagama, bahkan sesama anggota organisasi tertentu yang satu, setiap hari tidak hanya berbeda pendapat, tapi juga bertikai, berebut kebenaran. Seolah-olah kebenaran hanya milik masing-masing. Pemutlakan kebenaran sendiri seolah-olah ingin melawan fitrah perbedaan.

    Kekerasan dan kebencian, bahkan keganasan, seolah-olah menantang tugas Rasulullah SAW: rahmatan lil ‘aalamiin, mengasihi seluruh alam, dan menyempurnakan akhlak yang mulia.
    Penghargaan kepada manusia yang dimuliakan Tuhan seperti sudah mulai sirna dari hati. Termasuk penghargaan kepada diri sendiri.

    Tidakkah hal ini juga pernah terjadi di abad-abad silam, seperti dikabarkan oleh Pararaton, dan rontal-rontal sejarah lainnya.

    Pårå kadang padépokan,

    Justru di tengah-tengah keadaan yang seperti ini. Umat manusia, sesuai dan menurut ajaran agama yang diyakininya, maka peringatan-peringatan Hari Maulid Nabiullah Muhammad SAW, Hari Raya Galungan, Hari Kenaikan Yesus, dan Hari Tri Suci Waisak itu menjadikan hari bagi umat manusia menurut keyakinan agama yang dianutnya, mendapatkan prinsip ajaran yang bernilai sebagai cahaya yang menerangi umat manusia demi melihat kebenaran dari alam kehidupan, demi memberikan rahmat, manfaat dan kemaslahatan yang sebenarnya dan sebesar-besarnya bagi alam semesta.

    Dan sebagai bangsa, peringatan Hari Kebangkitan Nasional pun, hendaknya membuat kita semakin mempererat persatuan. Kita adalah bangsa yang satu. Indonesia.

    Pårå kadang padépokan,

    Sejenak kita menerawang ke masa silam, untuk menjadikannya sebagai cermin di masa kini.

    Sejarah Tumapel yang kemudian bernama Singosari selalu diwarnai dengan pertumpahan darah. Tikaman keris ampuh buatan Empu Gandring oleh Ken Angrok di abad ke 13 berulang dalam nuansa dendam maupun hukum karma.

    Historie se repete, demikian pepatah Prancis, yang artinya sejarah selalu berulang.

    Dalam ranah perpolitikan para penguasa negeri ini setelah berbentuk republik, tergambar jelas bagaimana penguasa pengganti “menikam” kepada penguasa sebelumnya dengan “tikaman keris politik.”

    Apapun nama keris itu. Darah tertumpah di tahun 1965 hingga 1966. Sekian ratus ribu (sejuta, dua juta atau tiga juta?) nyawa hilang atau dihilangkan.

    Tigapuluhdua tahun kemudian, menorehkan sejarah serupa. Penguasa selanjutnya terpaksa lengser dalam latar demo massif mahasiswa dan membawanya ke sudut fait accompli persis yang dialami penguasa terdahulu. Api berkobar di kota-kota besar dan kembali sekian nyawa direnggut paksa, api berkobar dalam dendam dan amarah; kembali darah tertumpah di bulan Mei tahun 1998.
    Dan para penguasa negeri ini sesudahnya?

    Identifikasi “keris politik” dengan Keris Mpu Gandring itu bukanlah fiksi melainkan analogi, pelukisan pengetahuan melalui perbandingan guna memetik kemiripan dan kesetaraannya. Dan kesetaraan tematiknya ialah keduanya mewujudkan wahana kepolitikan bagi gapaian kepentingan mahkota kerajawian. Buhul kecocokannya adalah unsur keterpaksaan dan keteraniayaan Mpu Gandring untuk keris pesanan Ken Angrok maupun penguasa terdahulu untuk “keris politik” (pesanan?) penguasa kemudian.

    Hikmahnya adalah pembelajaran kebangsaan character building di mana antara tujuan dan cara pencapaiannya mesti konsisten dan runtut bermoral jangan asal sampai.

    Pesan ini penting bagi kaum muda, bagai para pemimpin bangsa masa kini, bagi para pemimpin masa depan negeri ini, juga penting dicamkan dalam masa-masa ketika banyak tokoh di masa kini saling rebut kedudukan politik, Entah para calon anggota parlemen (caleg), para calon presiden, para calon wakil presiden serta sekian banyak pihak.

    Haruskah akan selalu berulang “Pakuwon Tumapel” (baca: Republik Indonesia) selalu anyir becek darah yang tumpah.

    Mari kita catat:

    Sang Pandhita Budha Mahayana menjatuhkan, sepata samyå tan rahayu: “lah kang amalayoken anakingsun mogghå tan panutugå pamuktine matyå binahud angeris

    yang melarikan anakku tidak akan selamanya mengenyam kenikmatan, ia mati ditusuk keris ……..

    …. Mangkana wong Panawijen, hasata pangangsone. Moggha tan metuwa banyune beji iki

    demikian juga orang orang di Panawijen ini, tempat mereka mengambil air akan menjadi kering, dan tak akan ada lagi air yang keluar dari blumbang ini…

    Angrok anungklang duwung anyar bergagang cangkring wilahan berbintik kuning pamor biru di atas baja pilih tanding.

    Kutuk Sang Gusali Gandring dalam dendam amarah yang tertahan: “Kang amaten i ring sirå tembe kris iku, ….. oleh ratu pipitu tembe kris iku amaten i.”

    ….Kutuk keris itu meminta kematian demi kematian, ……darah tujuh raja para penguasa.”

    Siapa yang tewas akibat tusukan keris Gandring?
    1. Empu Gandring (si pembuat keris, bukan raja/ratu)
    2.Tunggul Ametung
    3. Kebo Idjo (perwira pasukan pengawal puri Tumapel, bukan raja/ratu)
    4. Ken Angrok
    5. Pangalasan Batil (abdi dalem, bukan raja/ratu)
    6. Anusapati

    Tohjaya mati ditusuk tombak pengusung tandunya di Katanglumbang, ketika melarikan diri dari Kota Singosari, tidak terbunuh oleh keris Gandring. Sejak itu Keris Gandring musnah.

    Pårå kadang,

    Adakah kutuk Sang Pandhita Budha Mahayana Sang Empu Purwa dan Sang Gusali Gandring masih “mandi” (ampuh?) hingga kini, kalau ya, dengan melihat siapa-siapa yang tewas akibat tusukan Keris Gandring di atas, maka berarti masih akan ada empat ratu/raja (penguasa) lagi yang harus mati” karena “tikaman keris”.

    Dari daftar itu, ternyata “hanya” enam orang yang terbunuh dengan Keris Mpu Gandring. Itu pun hanya satu keturunan dari Ken Arok yang dibunuh dengan Keris Mpu Gandring. Jika Ken Arok “dianggap” yang termasuk dalam daftar tujuh orang yang “terkutuk”, maka baru ada dua orang dari trah Ken Arok yang terbunuh dengan Keris Mpu Gandring.
    (1). Ken Arok dan (2). Anusapati)

    Sedangkan daftar lainnya bukanlah sanak kadang dari Ken Arok itu sendiri. Atau jika Tunggul Ametung dimasukkan ke dalam daftar [karena bunyi kutukan adalah tujuh raja penguasa. Dan Tunggul Ametung adalah penguasa. jadi baru tiga orang raja/penguasa yaitu (1). Tunggul Ametung; (2). Ken Arok dan (3). Anusapati]

    Nah, jika “tuah” kutukan Sang Mpu benar-benar manjur. Maka kita harus mulai menelusuri silsilah keluarga besar kita. Jangan-jangan masih termasuk dalam “trah” Ken Arok yang kita tahu “baru” satu orang keturunan dari Ken Arok yang terbunuh dengan keris itu. Atau paling tidak ada dua, jika Ken Arok termasuk di dalamnya, atau paling tidak baru tiga orang raja/penguasa.

    Atau jangan-jangan di antara kita masih ada hubungan darah dengan ‘oknum’ yang menculik, atau bahkan mendalangi penculikan atau ikut menculik, atau ikut mendiamkan terjadinya penculikan, atau ikut bersekongkol dengan tindak penculikan, atau ikut menyediakan sarana, waktu, kesempatan sehingga terjadinya tindak penculikan, atau mengetahui tetapi mendiamkan tindak penculikan Kembang Panawijen itu.

    Dengan demikian keturunannya terkena dampak dari kutukan sang Empu???

    Atau bisa jadi kutukan Sang Mpu tidak hanya termasuk dalam 7 orang keturunan Ken Arok, tapi 7 orang saja dan itu bisa siapa saja. Namun demikian kita tetap harus berhati-hati, karena keris itu belum lengkap memakan 7 nyawa manusia, alias masih ada yang harus menunggu giliran untuk mati terbunuh dengan Keris Mpu Gandring.

    Haruskah?????

    Atau kita berharap saja agar Mpu Gandring tidaklah “seampuh” legendanya, terbukti dengan gagalnya memenuhi tenggat waktu pembuatan keris pesanan Ken Arok.

    Cantrik Bayuaji tak hendak berpolemik tentang kutukan sang empu. Tetapi mari kita tengok, seperti telah disampaikan di atas, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

    Perjalanan sejarah selanjutnya, ada miripnya, akan tetapi aura perebutan kekuasaan tidak lagi dipengaruhi keris tetapi berupa bantuan asing di luar pihak yang bersengketa ataupun berupa budaya asing dari luar sebagai alat perebut kekuasaan. Kita dapat belajar adanya Pasukan Tartar Kubilai Khan dalam mengakhiri Kerajaan Kediri. Kejatuhan Majapahit dengan masuknya budaya luar. Perpecahan kerajaan Mataram, dengan bantuan kompeni. Dan perpecahan itu terus berlanjut.

    Betul kata Raja Solomo, bahwa tak ada kejadian baru di dunia ini. Kisah lama telah dipanggungkan lagi dengan ‘setting’ yang berbeda sesuai zamannya.
    Penyelesaian kemelut hanya dapat dilaksanakan dengan bertindak penuh kesadaran, membuang karakter bangsa yang tidak selaras dengan alam dan mengembangkan karakter bangsa yang selaras dengan alam. Dan itu merupakan perjuangan, merupakan jihad sebuah bangsa.

    Tetapi mengapa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh suasana yang selalu saja udreg-udregan rebutan kekuasaan, dan tidak hanya itu, tetapi juga suatu generasi yang haus darah, ingin menang sendiri, merasa paling benar, merasa paling berhak mengatur negeri, merasa paling mampu mengatur negeri, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki, tetapi ingin disebut manusia yang religius .

    Kita kilas-balik:

    1. Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga. Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua.

    2. Baginda Jåyåbåyå terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jåyåsåbå. Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertåjåyå, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

    3. Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara pårå kadang sêntånå sendiri. Golongan Rejasa melawan golongan Sinelir. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

    4. Sang Parbu Seminingrat dan Ratu Anngabaya Narasinghamurti laksana Indra Medawa, Nagha Roro Saleng sedikit mengalami masa ketenangan dalam pemerintahannya.

    5.Dalam tubuh kekuasaan Kertanegara yang kemudian naik tahta, meskipun diberitakan Singosari memasukim Zaman Keemasan, tetapi terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singosari, sehingga runtuhlah Singosari.

    6. Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

    Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa.

    Beliau, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin amukti palapa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) amukti palapa.

    Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada Mada (1364M)dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk(1389 M), Majapahit kerajaan pemersatu Nusantara kehilangan alas. Kerajaan Majapahit, pecah menjadi Kedaton Wetan dan Kedaton Kulon akibat sengketa keluarga yang saling berebut kekuasaan. Pertengkaran keluarga terjadi. Kelompok-kelompok pendukung dibentuk untuk saling menggalang kekuatan, bersengketa untuk merebut posisi kunci kekuasaan. Bau permusuhan dan saling curiga-mencurigai menebar di mana-mana di seluruh wilayah Majapahit, negeri menjadi tak terurus.

    Akhirnya, bisul ketegangan itu pecah, perang antar keturunan Hayam Wuruk tak terhindarkan. Perseteruan antara Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk) dan Wirabbhumi (putra Hayam Wuruk dari seorang selir) menyulut sebuah perang besar yang sangat merusak sendi-sendi Majapahit.
    Perang saudara, perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya yang menyedihkan terjadi, Perang Paregreg (1401-1406 M) inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

    Apa hasil perang? Majapahit kian melemah. Para pejabat kerajaan tak peduli lagi nasib negerinya. Alih-alih, mereka berlomba-lomba beraji mumpung. Korupsi merajalela, krisis multidimensi terjadi. Bertahun-tahun kondisi semacam itu terjadi dan dibiarkan terjadi. Lalu, beberapa dekade menjelang tahun 1500M, Majapahit, kerajaan pemersatu Nusantara, runtuh setelah berada di bumi Jawa Timur hampir 200 tahun. Babad Tanah Jawi mencatat tahun keruntuhan Majapahit itu dalam suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi” yaitu 1400Ç atau 1478M.

    7. Kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggånå dan garis keturunan Sekar Sedå Lepen. Haryå Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawåtå dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Haryå Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutåwijåyå, anak Sultan Hadiwijåyå dari Pajang.

    8.Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijåyå, yaitu Danang Sutåwijåyå atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.

    Benarkah Danang Sutåwijåyå adalah anak angkat Hadiwijåyå?
    Gosip yang beredar, dia adalah anak kandung Djoko Tingkir, jadi ya anak kandung Hadiwijåyå sendiri; dari permaisuri? Sejarah akan membuktikan kemudian.

    9. Setelah sultan ketiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyåkråkusumå, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin dalam di Bumi Pertiwi. Para keluarga sultan mendapat kedudukan sebagai sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada empat kesultanan yaitu : Hamengkubuwono, Yogyakarta. Pakubuwono, Solo. Paku Alam, Yogyakarta. dan Mangkunegoro, Solo.

    10. Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke. Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali. Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Tahun 1965, dengan nyawa yang hilang atau dihilangkan yang tak dapat dihitung dengan pasti, seratus ribu, sejuta, dua juta atau tiga juta (?); kemudian tampillah supersemar yang kontroversi, Soeharto menjadi Presiden Kedua.

    11. Soeharto, presiden yang kemudian memimpin Indonesia hingga 32 tahun lamanya, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur.

    12.Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Soeharto hingga Pemilu.

    13. Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan di tengah jalan karena intrik politik.

    14.Kemudian naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.

    15.Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat yang sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah Yudhoyono menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing-pesaingnya. Pemilu 2009 kembali memenangkan Yudhoyono untuk menjadi Presiden periode kedua. Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan Yudhoyono sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.

    Tak perluhlah diceritakan secara rinci tentang gonjang-ganjing sejak Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Gus Dur, dituduh ada skandal macam-macam sampai skandal memilik wil (memangku wanita cantik). Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR. Beberapa pihak berharap dapat menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah skandal penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Megawati, diterpa isu seputar bisnis keluarganya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.

    Yang terakhir adalah Yudhoyono (yudho=perang). Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekarang, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam. Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan Yudhoyono yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Skandal Bank Century.

    Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina para pemimpinnya dan merobek-robek hati nuraninya sendiri.

    Rakyat hanya bisa menjadi penonton sinetron telenovela panggung politik dan perseteruan para pemimpin mereka. Dan sebagai rakyat kita hanya bisa merenung.

    Lalu apa yang kita perbuat?

    Menonton saja?, hanyut dalam kisah sinetronnya?, nangis kalau ada yang sedih?, tertawa kalau lucu?, atau kita seperti Ki Witantra.

    Pada awal-awal masa pemerintahan Ken Arok, ketika Ki Wintantra merasa yakin bahwa adik seperguruannya Kebo Idjo tidak bersalah. Ia rela melepaskan jabatannya sebagai panglima tertinggi tentara kerajaan, sebagai salah satu dari tujuh pemimpin di Tumapel. Witantra pergi meninggalkan Tumapel. Witantra telah meninggalkan kota. Ia léngsér saking palênggahan, menyepi ke padukuhan asri, ngénggar-ngénggar pênggalih, tanpa dapat berbuat apa-apa.

    Mungkinklah ini juga bagian dari kutuk sang empu di abad 13 yang silam??????

    Keadaan inikah yang menjadikan tlatah Panawijen (sekali lagi agar dibaca: Republik Indonesia) menjadi tanah cengkar????

    Inikah kutuk Sang Pendeta Empu Purwa:

    …. Mangkana wong Panawijen, hasata pangangsone. Moggha tan metuwa banyune beji iki

    [“demikian juga orang orang di Panawijen ini, tempat mereka mengambil air akan menjadi kering, dan tak akan ada lagi air yang keluar dari blumbang ini…

    Berikut cantrik bayuaji cuplikan tembang ular-ular, ayo padha diudi.

    Bocah-bocah sirå pådhå guyubå lan rukunå dadiyå contoné bangså, lan pådhå rêkså-rinêkså dandanånå omah lan pêkaranganirå, idêp-idêp karo prihatin, supåyå énggal-énggal biså rampung, åjå rêbut kuwåså, ing têmbé yén wus rampung kanggo tinggalan bêbrayan pådhå ngênggoni, sak-anak lan putunirå.

    Déné yen kowé pada cêngkrahan, iku pangabêktinirå mung kandêg ånå ing dêdalan, …. susah lan bungah, suwargå lan nêråkå, bêgjå lan mulyå, iku mung ginawê déwé- déwé.

    Bisané pada makmur yén sirå kabéh pådhå akur guyub rukun. Bisané guyub rukun iku yén sirå pådhå sugih kawruh lan pêngalaman, bisané sugih pengalaman iku yén sirå sugih sêsrawungan, marang kåncå kang sugih pêngalaman.

    Mulå iku pådhå sêsanjan, nanging åjå gawé pakitunaning liyan, dipurih têmurunå anak lan putu anggoné pasêduluran, sêbab sêkå rêkså-rinêkså, têpå salirå.

    [Sumber : Buku We Yoga Dhi (ayo pådå diudi, yén digugu dadi Yoga kang Adhi)].

    Sebagai penutup ngudåråså ini, Cantrik bayuaji ingin katakan, bahwa Pesan agung dari Yang Mulia Utusan Tuhan, dan peringatan-peringatan hari-hari keagamaan, ternyata tidak juga membekas.

    Matur nuwun. Mohon dibukakan pintu maaf, bila di dalam ngudåråså ini ada kata atau kalimat yang kurang pantas, sehingga mengganggu pårå kadang. Kebenaran hanya berasal dari Tuhan. Kepareng cantrik Bayuaji madal pasilan.

    Om shanti shanti shanti om.

    Namo budaya.

    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Nuwun,

    Cantrik Bayuaji

    • Sugeng pinanggih malih Ki Bayuaji, dangu mboten rawuh…….Kulo kinten nembe tindakan tebih dhateng monconegari kados Ni Mirahpetak. Kulo tansah nenggo-nenggo dongeng panjenengan. Sugeng dalu…….

    • Sugeng rawuh Ki BayuA,
      Matur nuwun atas bahan renungan yang sangat dalam.
      Ada yang sedikit mengganggu di “kilas balik” bab-8, disitu Ki Bayu nyerat kalau Harya Penangsang sebagai Adipati Tuban, mungkin yang dimaksud Jipang Panolan ?
      Dari rontal yang pernah saya baca disebutkan bahwa penguasa Tuban adalah trah Adipati Ranggalawe dengan urutan sbb :
      1. Adipati Ranggalawe
      2. Adipati Aria Teja – I
      3. Adipati Aria Teja – II
      4. Adipati Aria Teja – III
      5. Adipati Wilatikta (ayahanda Raden Said yang berjuluk Brandal Lokajaya kemudian menjadi Kanjeng Sunan Kalijaga)
      Nyuwun duka menawi lepat atur kawula.

      Sugeng dalu Ki Bayuaji, nuwun.

      • On 21 Mei 2010 at 08:13 honggopati Said:

        ……….Menawi wonten Pararaton, tokoh “Mahisa Agni” puniko sinten…..

        On 21 Mei 2010 at 19:45 gembleh Said:

        Ada yang sedikit mengganggu di “kilas balik” bab-8, disitu Ki Bayu nyerat kalau Harya Penangsang sebagai Adipati Tuban, mungkin yang dimaksud Jipang Panolan ?

        Nuwun pårå kadang.

        Dumateng Ki Honggopati.

        Adalah merupakan kelihaian mendiang Ki SHM di dalam membabarkan semua kisah garapannya. Kisah yang benar-benar terjadi di masa lalu dengan tokoh-tokoh yang nyata-nyata ada, dipadu dengan tokoh-tokoh fiktif. Tentunya tentang “keberadaan” tokoh-tokoh fiktif ini hanya Ki SHMlah yang tahu.

        Mahisa Agni, Wiraprana, Kuda Sempana, Mahendra, Witantra [Panji Pati-Pati?], sedikit dari sekian banyak tokoh “ciptaan” Ki SHM. Tetapi tidak hanya “tokoh orang”, Ki SHMpun sering menyebut suatu “tempat” yang dalam pakem tidak dikenal, sebut saja Sagenggeng, Talrampak.

        Demikian juga ‘setting’ jarak dari satu ‘tempat’ ke tempat lain.

        Tumapel (Stasiun KA Tumapel) –– Panawijen (Polowijen) hanya berjarak ± 7 km saja. Naik motor kecepatan sdang, barangkali kurang dari 1 jam sudah sampai. Dalam cerita (waktu pembuatan bendungan baru di Padang Karautan) , jarak Tumapel — Padang Karautan – Panawijen ditempuh dalam waktu separo malam (± 6 jam).

        Tetapi demikianlah adanya. Justru menjadikan kisah yang ditulis oleh beliau menjadi “hidup”

        Bayak contoh lain, seperti:

        a. Komik dan strip komik
        •Serial Mahesa Rani karya Teguh Santosa yang dimuat di Majalah Hai, mengambil latar belakang pada masa keruntuhan Singosari hingga awal-awal karier Mada atau gajah Mada, adik seperguruan Lubdhaka, seorang rekan Mahesa Rani, hampir sebagian besar tokoh yang tampil adalah fiktif.
        • Komik/Cerita bergambar Imperium Majapahit, karya Jan Mintaraga.
        • Komik Majapahit karya RA Kosasih.
        • Strip komik Panji Koming karya Dwi Koendoro yang dimuat di surat kabar Kompas edisi Minggu, menceritakan kisah sehari-hari seorang warga Majapahit bernama Panji Koming. (Strip komik mengisahkan “kejadian” masa kini dengan setting zaman Majapahit, lucu, menggelitik, penuh dengan sindiran namun santun)

        b. Roman/novel sejarah
        Sandyakalaning Majapahit (1933), roman sejarah dengan setting masa keruntuhan Majapahit, karya Sanusi Pane.
        Kemelut di Majapahit, roman sejarah dengan setting masa kejayaan Majapahit, karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo.
        Zaman Gemilang (tahun ?/1950?), roman sejarah yang menceritakan akhir masa Singasari, masa Majapahit, dan berakhir pada intrik seputar terbunuhnya Jayanegara, karya Matu Mona / H. Palinduri.
        Dyah Pitaloka – Senja di Langit Majapahit (2005), roman karya Hermawan Aksan, yang menceritakan putri Sunda Dyah Pitaloka Citraresmi, dan Perang Bubat.
        Gajah Mada, romah sejarah yang menceritakan tentang kehidupan Sang Maha Patih Gajah Mada dan cita-citanya untuk mempersatukan Nusantara, dengan Sumpah Palapanya. karya Langit Kresna H.
        dan sudah barang tentu: karya Ki Begawan SH Mintardja Pelangi di Langit Singosari. Sepasang Ular Naga di Satu Sarang, dan masih banyak lagi.

        Dumateng KiGembleh.

        Matur nuwun Ki, leres nJenengan. Ki Haryo Penangsang bukan Adipati Tuban tetapi Adipati Jipang.

        Nuwun.

        cantrik Bayuaji

  8. Sagedipun namung ngaturaken panuwun dhumateng Ki Seno. Donga-dinonga rahayu lan tansah binerkahan dening Gusti. Dherek bingah Ki Seno. Matur nuwun.

  9. Walaikumsalam wr. wb.
    Matur nuwun ular-ular lan ulasanipun Ki Bayuaji.
    Nuwun sewu bade nderek pirso Ki:
    Menawi wonten Pararaton, tokoh “Mahisa Agni” puniko sinten ?
    Kok dereng nate mireng.

    Menawi maos PDLS ngantos SUNDss peran Mahisa Agni koq kados Singosari mboten muter yen mboten wonten Mahisa Agni. Nanging kok mboten nate dipun ulas wonten buku-buku sejarah?
    Nyuwun pencerahan.

    • Mahesa Agni namun tokoh khayalan … sama dengan Rangga Widura … Agung Sedayu … Panji Honggopati … dll.

      • yang asli hanya satu :

        Eyang Gembleh Hanyolowadi

        he….he….he……!

        • ..O..tak kiro hanyolongwadon..xixixi

  10. Sugeng enjang Ki Arema,
    nderek absen

  11. E lha ketiwasan, lali ora ngaturake pahargyan kagem Ki Seno.
    Nderek mangayubagyo Ki Acara pahrgyanipun. Mugi-mugi lancar lan pinaringan rachmat soho berkah saking allah. SWT. Amin

  12. Tumut mangayu bagya dumateng Ki Arema.
    Kewajiban orang tua terhadap anaknya ada tiga: TUTUR; UWUR; SEMBUR (menurut wejangan para pini sepuh)
    TUTUR: artinya nasehat. Dari kecil seorang anak dibiasakan diberi nasehat tentang yang boleh dan yang tidak boleh, yang baik dan yang buruk, yang sopan dan yang tidak sopan dlsb.
    UWUR: artinya modal. Anak sejak dini diberi modal kepandaian, disekolahkan, diikutkan dalam pengajian TPA, lahir dan batinnya disiapkan dalam menghadapi kehidupan dunia dan akhirot.
    SEMBUR: Artinya doa. Doa orang tua terhadap anaknya sangat berpengaruh dalam kehidupan anak dimasa mendatang. ingat bahwa ridhonya Alloh bersama dengan ridhonya orang tua, demikian kira2 bunyi sebuah hadist.
    Mohon maaf mau nyumbang saran tapi malah terdengar sumbang.
    Matur nuwun

    • Tambahan sediti

      TUTUR = ojo akeh-akeh
      UWUR = Sing uuuaaakkkeeehhhhhh
      SEMBUR = ojo sampe mandeg

      Hiks….

      • Semburat = muncrat !

  13. 8 hari lagi….!!!

    Cantrik ndherek mangayu bagya
    dumateng Ki Arema.

    • cantrik mengucapkan selamat buat
      putra ki AREMA :

      Lancar Ijab Qobul nikah, sukses
      acara ngunduh Mantu….!!!

      • @ki AREMA,

        nanggap WAYANG nopo Karawitan
        njih…..!!!

        hiks, cantriek nunggu KONdanGan

        • …dhos pundhi nek nanggap Ki Yupram ?

          • Hikss,

            ki Karto pilih rontal
            nopo koTAk BerKat-an,

  14. selamat pagi ki Arema, ikut mendoakan semoga dari perencanaan sampai pelaksanaan nanti, semua mendapat limpahan berkah dari Tuhan sehingga semua dapat berlangsung dengan lancar.

  15. pak SATPAM Padepokan :

    “buka gandok dan wedaran mau-nya
    babar pisan”

    gandok wes mbuka cantolan belum
    dipasang….!!!

    • pak SATPAM Padepokan :

      di-Ogrog-Egreg model apapun
      gak mungkin mempan…he-he-he

      “MeNdaL”

      • mending Cantrik nyerah pasrah
        “BonGkok-an”…..!!!

        sugeng rawuh pak SATPAM,

        • Nek nyerah mesti wae…mbongkok !

          • nyerah punopo menYEraH
            hiks-hiks,

  16. semoga acara nikahan putranya lancar dan tidak ada halangan ki seno.

  17. ngaturaken sugeng ngunduh manten….(statuse sampun meningkat dari nJagongi manten to nGunduhi manten)

    hiksss…koq durung ono sing ngunduh PA yo…opo wis kadaluwarso…xixixi

  18. Mudah2an gaweannya berhasil dengan baik dan selamat. Ikut bergembira….

  19. Nderek mangayubagyo Ki Arema. Mugi-mugi lancar anggenipun kagungan kerso mantu. Mugi-mugi temanten kekalih saget nglampahi gesang bebrayan ingkang langgeng tansah rukun kados mimi lan mintuno dumugi kaken-kaken ninen-ninen, Amin.

  20. Sugeng ndalu Ki Seno Ar, Kisanak sedoyo…
    ..apel malam !

    • ..O..nderek mangayu bagyo Ki Arema..sugeng ngunduh mantu….selamat berbahagia kagem temanten kekalih !

  21. Katur Ki Senopati Arema,

    Semoga hajat untuk menikahkan putra Ki Seno bisa belangsung lancar dengan ridhlo ALLAH SWT.
    Semoga acara2 pendukung hajatan tsb juga berjalan dengan lancar tidak kurang suatu apapun.

    Guyonan cantrik mBelink :
    Karena yang punya hajat adalah seorang priyagung yang bergelar Senopati Arema maka suasana di Kadipaten Ngalam terlihat sangat semarak. Sepanjang tepi jalan menuju Padhepokan Sengkaling penuh dengan umbul-umbul warna biru, warna khas perguruan AREMA.
    Para among tamu yang berderet dari ujung jalan sampai ke regol Padhepokan juga berkaus warna biru sambil mengibarkan kelebet dengan warna yang sama.
    Hampir saja terjadi keributan ketika rombongan priyagung yang berasal dari daerah dimana banyak terdapat ikan SURO dan BOYO datang hendak ikut nJagonGi manten. Lha gimana kaga’ jadi gempar wong para priyagung yang dipimpin Tumenggung Kartoyuda itu memakai kaus warna hijau komplit dengan atribut BONEK yang semarak.
    Beruntung sebelum terjadi keributan datang juga rombongan dari tanah Priangan yang berkaus biru dan bertuliskan laskar Viking. Ketua rombongan, Senopati Zacky F langsung berbicara :
    ” Harap tenang, para Bajul Ijo ini adalah saudara kami juga, benarkan Fren kita bersaudara ? pissss !”
    Akhirnya rombongan laskar Bajul Ijo dan laskar Viking dipersilahkan masuk untuk ikut mangayu bagya acara ngunduh mantu putra Ki Senopati Arema.

  22. suwun ki….
    rupanya ki arema sedang “ngunduh” tho..
    karena bebannya besar, waktunya jadi lama…
    cantrik dimohon sabar antri di belakang

    sugeng……..!!!

  23. Sugeng ndalu

    Ki Arema selamat ngunduh mantunya.
    Jangan lupa pesan kampanye BKKBN

    Kapan mau nikah ?
    Kapan mau punya anak ?
    Kapan mau punya anak lagi ?
    kapan mau punya anak-anak lagi?

    Terakhir kapan SUndss diwedar ?
    Gantian saya yang ngunduh kitab.

    Suwun

    • Kagem Ki Arema,

      Kapan mau mantu ?
      Kapan mau punya cucu ?
      kapan mau punya cicit lagi?
      Kapan mau dadi Eyang Buyut Los Sengkaling?

      Sinten sing giliran Wedar?
      Kapan Pak Satpam in the mood?
      Kapan wedar saban hari … hiksss

      • kapan2……

  24. Barusan pulang KonDangaN Manten,
    cantriek gak sempat nglanjutnooo
    BleDehaN…!!

    matur nuwun Eyang Gembleh sempat
    nglengkapi.

    oleh-oleh KonDangaN :
    parikan Kyai mbelink bab Ilat,
    Irung….LLn.

    Ilat mlebu Metu digawe liWat,
    Ilat loro arep diGanti Plat..!!

    cantrik njawab :
    Opo yo Iso diGawe nJilat…he-hee

    Kyai Mbelink lebih Mantap nJawab :
    Tetep Iso diGawe nJilat….hikss
    si Plat ra sido diPasang ning Ilat

    sugeng dalu Panembahan
    sugeng dalu kadang GSeta

    • hikss,

      ngapunten pak SATPAM….cantrik
      salah copoas,

      biasane komen Cantrik di CEKAL
      pak SATPAM.
      tumben malem ini dapat loooolos
      CeGataN.

      sugeng dalu ki SENO
      sugeng dalu pak SATPAM

      • salah COPas CantriK siap
        di-SAWAT rontal…!!!

        janji CantrIk gak bakal
        SinGit-an😀

        • nyaWat-e mesthi MalEm ini,

          seSuK cantrik AreP budhaal
          ning “KaraUt-an”

          • Sing ngatos2 nek sampun….karatan !

          • Tips :

            belah jeruk nipis
            kasig Garam….!!

            oleskan,

  25. KIDUNG RINDU BENGAWAN SOLO

    Matahari Pagi begitu indah, sinarnya mengusir kerajaan malam dari kegelapan yang dingin, mengundang ayam jantan berkokok, memanggil burung-burung kecil bernyanyi menyambut pagi . Tetes embun dingin d pucuk daun dan bunga terpancar matahari pagi bagai gadis-gadis molek perawan bermandi. Cahaya matahari pagi yang tersembul dari balik hutan kecil menembusi sela-sela cabang pohon dan dedaunan seperti pagar pedang cahaya putih berbaris, menari dalam keelokan tarian dewi pedang.

    Elok sekali suasana pagi disebuah Padepokan kecil , beberapa cantrik tengah menyapu halaman bersama. Wajah-wajah cerah menyapu pagi yang hangat, menyongsong hari menyambut kehidupan pagi.

    Adakah yang lain dipagi ini?, adalah wajah Gesang yang murung, tidak seperti hari-hari sebelumnya, wajahnya seperti menyimpan sebuah rahasia besar yang tidak bisa dipecahkan.

    Gesang adalah salah seorang cantrik dari Padepokan Orang bercambuk yang sekarang berubah menjadi Padepokan Singasari. Tidak banyak yang tahu dari mana ia berasal, yang jelas ia sudah lama tinggal di Padepokan ini.

    Dua hari yang lalu, tepatnya ketika Ki Arema, pimpinan Padepokan bersama beberapa cantri diantaranya adalah Kangmas Gembleh ini pamit untuk beberapa hari meninggalkan Padepokan karena urusan acara mantuan putra Ki Arema. Gesang mendapat tugas untuk membersihkan bilik kamar milik Ki Arema. Ketika ia membuka sebuah lemari di pinggir ranjang, matanya jatuh kesebuah kotak kayu di dalamnya. Sebuah kotak kayu yang ia kenal milik mendiang guru suci Kyai Grinsing sang Dewa obat. Wajah Kyai Grinsing yang penuh senyum inipun seperti tiba-tiba saja tergambar di pelupuk mata. Perasaan haru dan rindu bergejolak dalam hatinya. “maaf”, berkata Gesang didalam hati begitu hormat sepertinya peti kayu itu adalah bagian yang masih hidup dari manuasia yang sangat dicintai dan dihormati. Dua tangannya menyentuh peti kayu, perlahan Gesang membukanya. Ketika peti kayu terkuak, tidak ada apapun didalamnya selain sebuah benda. “sebuah rontal”, bisik Gesang dalam hati.

    Ada apa dibalik rahasia rontal itu???, ternyata sebuah kidung nyanyian misterius……..nantikan cerita selanjutnya oleh Kangmas Gembleh, silahkan Kangmas….mumpung yang punya gandok enggak ada (titip PAK SATPAM, katanya)

    • Wadoooooh, nyuwun ngapunten Adhimas, tadi malam saya ngantuk berat jadi kaga’ tau kalau dapat kehormatan untuk menyambung cerita Kidung Rindu Bengawan Solo untuk menghormati Sang Maestro yang berangkat memenuhi panggilanNYA.
      Sugeng Tindak Om Gesang……..

  26. KIDUNG RINDU BENGAWAN SOLO

    Perlahan Gesang membuka gulungan rontal. Perlahan Gesang membaca hurup dan kata yang ada didalam rontal itu. Ternyata sebuah tembang kidung pendek. Teringat Gesang kepada mendiang Kyai Grinsing yang sering menembangkan kidung ini. Suaranya yang halus mendayu-dayu menembang di tengah wayah sepi uwong, disaat mata begitu susah untuk dipejamkan. Tanpa terasa seperti hanyut dalam kerinduan, Gesang membaca bait demi bait, tidak terasa Gesang ikut menembangkannya sebagaimana Kyai Grinsing menembangnya :“BENGA………..WAN….SOOOO………………
    LO RIWAYAT…………MUINNNNNN”

    “Ruar biasa”, berkata Gesang dalam hati. Ia tidak lagi menembangkan kidung, tetapi matanya memperhatikan coretan tangan yang membentuk hurup demi hurup, ternyata ada yang aneh dari hurup-hurup yang tersusun menjadi bait dari kidung ini. Hurup-hurup itu tersusun begitu indah seperti gerakan orang berlaku olah kanuragan.
    Dengan tangan gemetar Gesang menggulung rontal itu. Dengan perlahan dan masih gemetar ia memasukkan kembali rontal kedalam peti kayu. Pintu lemaripun ditutupnya kembali.
    Sret-sret kedubrakkkkkkk, brenti dulu achhh
    BENGA…..WANSO………
    LOH RIWAYAT…….MUINNNNNNNN.

    • Selamat pagi Ki Arema dan para bebahu serta para kadang semua, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan lahir dan bathin OlehNYA amiiin. Turut berbela sungkawa atas meninggalnya Bpk. Gesang semoga Allah SWT memberikan RakhmatNya kepada beliau amiin. Untuk Ki Arema semoga lancar dan diberikan kemudahan dan kekuatan sehingga acara berjalan dengan lancar dan untuk Putra semoga menjadi keluarga yang Sakinah, waRokhmah dan Mawaddah Amiin. Salaam.

  27. Ikutan antri, Ki Seno.
    Ikutan berdoa : semoga hajatannya lancar tiada aral rintangan, kedua mempelai (putra & menantu) mendapat barokah dari Allah, swt. Amiin

  28. Sugeng enjang…
    ndherek mangayu bagya… Ki Seno…
    Semoga dalam pelakasanaan acara pernikahan dan ngundhuh mantu tidak ada aral rintangan…
    mugi Gusti amberkahi sedaya kulawarga…

  29. t.i.l.i.k..n.e.l.i.s.i.k..t.i.t.i.k..m.e.l.i.k

    • tik….titik…t.i.t.i.k

  30. 7 hari lagi….!!!

    Sebtu, 22 mei 2010,
    16.00 wektu Pdls…

    pak SATPAM belum ber
    minat WEDAR rontal,

    apa Cantrik pake Ogrog
    EgreG gaya “Scarface”

    • Hiksss,

      Tukang Ogrog Kerajaan Sebrang
      Lautan…..gaYa Al Cap-One,

      • Lagi turu … ora krungu …
        Sesuk yen aku wis tangi …. gogrok dewe …
        heerrrrrrrrrrrr heeerrrrrrrrrrrrrrrr

        • ki Rangga….mbok diWEdaR
          kemawon,

  31. ngaturaken sugeng mantu, mugi rahayu nir ing sambekala, ingkang temanten sageto lestantun kadyo mimi lan mituno, amien

  32. k.i…T.m.g…k.i…R.a.n.g.g.a

    w.e.d.a.r
    w.e.d.a.r
    w.e.d.a.r
    w.e.d.a.r
    w.e.d.a.r
    w.e.d.a.r

    w…e…d…a…rrrrrrrrrrr

    • ki

      ra

      ng

      ga

      ..

      ..

      ..

      ..

      we

      da

      rr

      w

      e

      d

      a

      r

      r

      r

      r

      hikss,

      • k

        i

        r

        a

        n

        g

        g

        a

        w

        e

        d

        a

        r

        w

        e

        d

        a

        r

        w

        e

        d

        a

        r

        Ngapunten ki SENO,
        Cantrik ngoyak2 ki Rangga.

    • Mungkin Ki Rangga perlu dibujuk dengan gaya Don Corleone meemberikan tawaran yang tak bisa ditolak kepada rekan bisnisnya ?

      he….he….he…..sugeng dalu Ki Tumenggung.

      • sugeng dalu Eyang Gembleh,

        mewakili ki YP,

  33. Sugeng dalu Ki Arema …….
    Sugeng dalu P. Satpam …….
    Kulo sowan namung badhe ngisi daftar hadir.

  34. KIDUNG RINDU BENGAWAN SOLO

    Seperti dikisahkan dimuka, Gesang tengah membersihkan halaman Padepokan. Sementara hati dan pikirannya selalu terpaku pada rontal yang ditemukannya di bilik Ki Arema. “Apakah Ki Arema pernah membacanya??”, Gesang bertanya-tanya didalam hatinya. “Haruskah aku menunggu Ki Arema dan menanyakan tentang kidung ini??”, lagi-lagi Gesang bertanya pada dirinya sendiri. Sementara bayangan coretan hurup demi hurup yang tersusun menjadi sebuah bait sepertinya terukir jelas didalam ingatannya. Gesang memang mempunyai bakat ingatan yang luar biasa, apapun yang dilihatnya, maka selamanya akan terpahat didalam ingatannya.

    Sementara itu matahari terus merayap, bersama beberapa cantrik, Gesang berangkat ke sawah yang sudah menguning. Seharian penuh menjaga padi dari nakalnya burung-burung pipit. Bunting padi serta kicau pipit sedikit melupakan resah hati Gesang. Ketika matahari jatuh bersembunyi dibalik hutan, gesang dan teman-temannya baru pulang.

    Malam menaburkan kekelamannya di atas Padepokan. Ki Pandanalas memasang lampu templok di pendapa, terlihat Ki Yudha Permana menyalakan lampu letik di dekat pintu regol. Dimana Ki Bayuaji ??, ternyata biliau tengah menggelar anyaman tikar dibangsal tengah, tempat biasa para cantrik ngedusel disiang hari bersiap-siap menerima rontal anyer, sementara bangsal inipun berganti fungsi disaat malam menjelang, sebagai tempat tidur, bergojek dan bersenda gurau.

    Angin semilir berbisik dan bercanda bersama gemerisik daun jamblang. Malam kali ini berteman purnama. Halaman padepokanpun seperti pagelaran yang terang temaram. Ketika kentong dara muluk berbunyi satu kali, Gesang menyelinap keluar dari pintu regol. “semua cantrik sudah pulas”, bisiknya dalam hati.

    Disebuah gumuk kecil, dihamparan rumput dan dipayungi cahaya purnama ada bayangan yang terus bergerak. Pada awalnya bergerak begitu lambat, semakin lama bergerak semakin cepat, bahkan begitu cepatnya seperti bayangan-bayangan tersamar menghilang dari pandangan. Lambat tapi pasti, bayangan itupun terlihat kembali, dan semakin jelas ketika tidak ada lagi gerakan. Ternyata sosok bayangan itu adalah Gesang. Ia tengah mengurai gerakan yang ditemuinya dari susunan hurup-hurup yang ditemuinya di bilik Ki Arema. Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Menjelang sepertiga malam, ketika suara kentongan dara muluk dipukul tiga kentongan, Gesang baru beranjak pulang ke Padepokan. Beberapa cantrik yang tidur di bangsal tengah masih tergolek pulas, Gesangpun menyelusup diantara tubuh Ki Honggopati dan Ki Sukasrana yang sama-sama meringkuk tidur kedinginan diatas anyaman tikar pandan. Ternyata dengkur Ki Honggopati (maaf Ki, namanya juga cerita asal mbelink)begitu keras, nyaris kedatangan Gesang tidak sedikitpun merubah suasana.”ternyata kalo cantrik lagi sakaw berat, tidurnya semakin pulas”, bisik Gesang sambil memejamkan matanya. Tidak lama kemudian, Gesangpun sudah tertidur pulas.

    • Lanjut………!!!!!!!
      terusin sampai tamat………..!!!!!!!
      jangan membikin sakauw kuadrat……..!!!!!!!

    • ciamik…..!!!!!!!

  35. Selamat malam ki sanak

    Sejak malam ini saya ditugasi oleh Ki Arema untuk menjaga kelangsungan wedaran SUNdSS.

    Baru saja Ki Arema kirim pesan untuk mempercepat wedaran SUNdSS-20. Meskipun sudah diajari, tetapi masih grutal-grutul. Mohon bersabar.

    P. Satpam

    • Sugeng dalu Pak Satpam, nderek nepangaken kula Cantrik ingkang remen gruthal grathul mBoten kados Ki Tumenggung YuPram ingkang remenanipun sluman slumun lan slonang slonong tuwin nyenggak nyenggek.
      he….he….he…..mBok ndang diwedhar to Pak Satpam.

      • pak SATPAM nduwe Alamat “ANYAR”

        he-he-he ben ra gampang disatroni
        punokawan…..!!!

        iki bener opo ApUs2-an,
        Aseli-Ne pak SATPAM ra
        TEgal-an, kleru “TegElan

        matur nuwun pak RW

        • nderek matur nuwun pak RW !

  36. Grotal Gratul ……….. ?????

  37. matur nuwun pak satpam…
    yo wis kembali ke gardu jaga..

  38. KIDUNG RINDU BENGAWAN SOLO ditunda, GANYEM DULU APEM RONTAL SUNDSS20.
    matur nuwun Pak Satpam, biasanya kalo tangan kapalan, mencet keybor bisa beruntun….mugi-mugi berentet ame SUNDSS 21 TERUUSSSSS SUNDSS22.
    MONGGO KISANAK GANYEM BARENG-BARENG

  39. Bingung…, bingung…, saya jadi bingung
    dititipi bukaan gandok dan wedaran rontal.
    lha kok cuma kunci doang yang dititipkan oleh Ki Arema
    Haadu……, nunggu ransum dari Ki Jogotirto katanya.
    Sabar….., katanya Ki Jogotirto juga sedang sibuk.
    Mudah-mudahan pada saatnya rontal bisa diwedar.

    Gandok SUNdSS-21 dibuka hari Senin tit…, wedaran nunggu kiriman ransum dari Ki Jogotirto.

    Nuwun
    P. Satpam

    • ha-lah pak SATPAM mulai AjIAn
      “PEnGEL*san”….!!

      • Janjine pak SATPAM mau Esuk,
        HaYooooo…..

        “BENGI-iki” pak SATPAM arep
        wedar 2 rontal…..!!!!

        • Pak Satpam sedang binguuung Ki Yudha. Kata orang kuno… kalau sedang bingung suruh ndhodok saja…. bingungnya akan hilang…

          • ha-ha-ha bener ki Arga,

            ndhodok pinggir kali,,,
            PROGO.

            sugeng dalu ki,
            pak SATPAM ono TAMU kok
            yo meneng Ae…ngambekk

          • Sugeng dalu ugi Ki Yudha…

  40. Bang Haji bilang :

    berikan-lah kesenangan pada
    Cantrik-Mentrik Padepokan,

    selagi-ne pak SATPAM bisa
    Meng-UsaHa-kaN….!!!

    • papan diGaRDu pak SATPAM :

      WEDAR dulu 2 Rontal,2 diSImpen
      di BAnGsal Padepokan…..!!!

      he-he-he….Mblayuu dhisik
      pak SATPAm arep nyawat SANdaL

      • SANdaL = SUN kalih dasa setunggal !

  41. Matur nuwun P. Satpam ……….

    • nYobo mlebu Gandok “AnYAr”
      tutul-anku malah error…!!

      nGAmbek….yo wes cantriek
      absen nGgo Se-minggu,

      nunggu tutulan di-dandaniii
      pak MONTIR,

      sugeng dalu kadang Pdls,

  42. Sugeng enjang Ki Seno, lan Pak Satpam.
    Sampun mendet rangsum, sekaliyan nenggo final champion.

  43. sugeng enjing
    matur nuwun sampun ngundhuh
    kanca nonton LC

  44. Selamat pagi ki sanak

    Hari pertama P. Satpam menampakkan diri di padepokan, setelah bekerja di balik layar.

    Pagi-pagi sudah melapor sambil “mecuca-mecucu”. “Ampun Ki, sanak-kadang PdLS nakal-nakal, saya digodain terus, disindir-sindir, dijawil-jawil sampai salah tingkah saya” katanya.

    hikss.., salahnya sendiri, lha wong sudah bilang kalau maunya hanya buka gandok sambil meletakkan rontal, kok iseng-iseng nulis wara-wara.

    Memang benar kata P. Satpam, sampai saat ini rontal 21 belum ada di bangsal pusaka, sehingga ki sanak semua harus bersabar.

    Monggo, sama-sama menunggu dengan sabar.
    Saya pamit lagi, semuanya akan diatur oleh P. Satpam.

    • Selamat pagi Ki Arema dan para bebahu serta para kadang, semoga kita selalu diberikan kesehatan lahir dan bathin olehNYA Amiin. Terimakasih atas rontalnya sekalian. Saya Menyampaikan Turut Berbela sungkawa atas berpulangnya mantan Ibu Negara RI Ainun Habibi, semoga almarhumah mendapat Rakhmat ALLAH SWT Amiin. Salaam.

    • Ndherekaken Ki,
      Nyuwun ngapunten sampun radi dangu mboten niliki gandok. Jebul Ki Arema nembe Kagungan Kerso.
      Tumut bingah lan ndedonga mugi sedaya saged kalampahan kanthi wilujeng. Kangge pinanganten sarimbit mugi dadosa brayat ingkang basuki, tentrem lan rahayu. Rukun kaya mimi lan mintuna.
      Dipun tenggo lho kiriman jadah lan wajik ipun Ki.
      Nuwun.

  45. Hiks …
    Pak Satpam yang baru training sehari sudah terjebak dalam JANJI YANG TAK BISA DIPENUHI
    Terpaksa mengikuti irama dan ilmu ngelesnya Ki Seno…
    Hiks meninggalkan ORDE BARU memang sukar kok!
    Tak mapan turu disit ………

    • Sugeng dalu Pak Satpam.

  46. selamet … selamet … selamet
    ora melu bingun koyo p Satpam … meski ngunduh terus nanging durung nate diwoco babarblas … he3 …

    nyuwunsewu ki Arema, jarang ngisi daftar hadir lan komen … moga2 aja nggak kena DO …

    maturnuwun kagem sedoyo rontal ingkang sampun tuwin badhe dipun wedar …

    salam

    • Menawi kulo sampun kinging RE

  47. Matur nuwun P Satpam.

  48. maturnuwun, baru bisa sambang gandhok sejak harijumat yang lalu.

    matur nuwun rontal-20 nya.

  49. sebelum ujian, mbaca rontal dulu…

    trims ki arema, ki ismoyo, ki pak satpam dan para bebahu padepokan.

    salam, kadang cantrik lan mentrik sedaya

  50. ohya kkalau mau beli ceritanya di mana ya ..??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: