SURYA MAJAPAHIT

SURYA MAJAPAHIT

 

SANG SAKA GULA KELAPA

Laman: 1 2

Telah Terbit on 18 Maret 2011 at 13:00  Comments (91)  

91 Komentar

  1. Lahan padepokan sudah penuh sesak untuk membuat bangunan baru dengan isi yang semakin padat. Sehingga, lalu lintas masuk ke padepokan untuk mengangkut bahan bangunan menjadi semakin macet, sehingga kadang agak sulit men”cantolkan” rontal. Sehingga perlu dipikirkan perluasan padepokan.

    Ijin memperluas padepokan sudah diberikan oleh Ki Buyut. Babad alas sudah dilakukan, sekarang dalam proses pembuatan gandok dan memindahkan sebagian isi padepokan yang lama ke padepokan yang baru. Secara bertahap naskah dalam bentuk teks akan dipindahkan ke padepokan baru, sehingga padepokan lama menjadi lebih longgar lagi.

    Wedaran selanjutnya di padepokan ini menunggu selesainya migrasi naskah teks ke tempatnya yang baru. Dengan demikian, sanak-kadang pelangisingosari kami mohon sabar. Sementara bisa cangkrukan di http://cersilindonesia.wordpress.com.

    Di sini, sementara dibuatkan gandok ini untuk menampung “sementara” naskah Ki Bayuaji dengan dongeng arkeologi, khususnya seri Surya Majapahit. Jika sudah tamat, dan gandok-gandok baru untuk wedaran baru belum siap, nanti akan dibuatkan gandok sementara lagi.

    Nuwun
    P. Satpam

    • Sugeng siang P.Satpam….

    • Sip Lah, kulo manut mawon

    • Sip DEH, kulo manut mawon

    • Sip Sip,kulo mawut manon

    • Sip PIT,kulo mawut manon

    • Weleh, Ki Ajar pak Satpam ngendikane arep tetirah, istirohat, rong minggu suwene lha kok malah negori wit2an nggawe gandhok anyar.
      Ananging ngatos-atos Lho Ki Ajar, menawi wit2an ingkang ditegor menika godhonge amba tur wonten gendhon-ipun, panjenengan kedah nyuwun palilah Ki Menggung KartOJ rumiyin.
      Kula inggih ndherek kemawon, sauger saged nguyub lan gegojegan kaliyan para kadhang sutresna.

  2. Nuwun
    Sugeng sonten

    Katur Aryå Panji Satriå Pamêdar,

    Matur sangêt kêsuwun, untuk kesekian kalinya Panjenengan, dan tentunya juga Ki Rakryan Mahésa Aréma menyediakan gandhok khusus buat saya, Gandhok “Surya Majapahit”, meskipun gandhok ini bersifat sementara yaitu untuk menampung naskah Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit sebelum dimasukkan ke gandoknya.

    Dan memang ini disebabkan karena lahan padepokan sudah crowded, penuh sesak, sehingga perlu babad alas Trik, untuk memperluas lahan padepokan.

    Tiada lain ucapan saya adalah matur nuwun yang tiada terhingga atas semua ini.

    Lha yang tengah berulang tahun itu Ki Rakryan Mahésa Aréma, jêbul yang dapêt hadiah ulang tahunnya kok saya, atau ini ‘berkatan’ ulang tahunnya Panjênêngané Ki Rakryan Mahésa Aréma.

    Nah pårå kadang sutrésnaning padépokan pêlangisingosari, månggå ditunggu babaran atau wêdaran Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit hingga paripurna, dan tentunya kita masih dapat bergojég-ria.

    Nuwun,

    cantrik bayuaji

    • last but not least, kula tengga CANDHAK-ipun.

      Sugeng dalu Ki Bayu.

  3. Nuwun

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-15 Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani. On 15 Maret 2011HLHLP 118
    Waosan kaping-16:

    GAJAH MADA [Parwa ka-1]
    Sang Bêkêl Bhayangkâri

    Mpu Mada adalah Gajah Mada, dia adalah seorang prajurit berpangkat rendah, seorang bêkêl dari Kesatuan Bhayangkâri, Pasukan Khusus Pengawal Pribadi Raja, Keluarga Raja dan Istana Majapahit, yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.

    Sangat disayangkan sejarah awal kehidupan Gajah Mada tidak jelas, tempat kelahiran, saat kelahiran dan masa kecilnya tidak diketahui dengan pasti, beberapa sejarahwan menulis Gajah Mada diperkirakan lahir pada tahun 1300 di lereng pegunungan Kawi – Arjuna, daerah yang kini dikenal sebagai kota Malang.
    Mungkin di Sengkaling? Dau? Siapa tahu?.

    Sejak kecil, Gajah Mada sudah menunjukkan kepribadian yang baik, kuat dan tangkas.

    Encarta Encylopedia, sebuah ensiklopedia digital multimedia, di bawah entri Biografi Gajah Mada, berani memperkirakan Gajah Mada lahir pada tahun 1290 M. Jadi, dia lahir lahir dan besar tatkala terjadi transisi antara kekuasaan Raden Wijaya kepada Jayanagara.

    Pembacaan atas tokoh Gajah Mada kerap dihubungkan dengan dimensi supranatural. Ini sulit dihindari, oleh sebab masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, memang menilai tinggi dimensi tersebut.

    Upaya penyingkapan jatidiri Gajah Mada hendaklah menghindari pencampur-adukan tersebut. Namun, pencampuran dengan dimensi religius tersebut paling tidak tetap dihargai sebagai upaya sebagian bangsa Indonesia untuk membanggakan tokohnya, terlebih Indonesia yang terus mencari figur untuk diteladani di masa “bellum omnium contra omnes” (Latin: perang semua melawan semua) sekarang ini.

    Juga ada pendapat bahwa Gajah Mada adalah keturunan Mongol. Ia terlahir selaku anak dari salah satu prajurit Mongol yang diam di Jawa dan menikah dengan perempuan Jawa.

    Argumentasi ini diambil oleh sebab di periode kelahiran Gajah Mada, wilayah Majapahit pernah diduduki atau paling tidak diserang oleh Dinasti Yuan yang keturuan Mongol tersebut.

    Namun, pendapat ini tidak memiliki bukti-bukti konkrit berupa inskripsi, prasasti, epik dan sejenisnya. Pararaton dan Nāgarakṛtāgama tidak pernah menyebut soal tersebut.

    Jelas sekali ada maksud tertentu dari pernyataan ini, seolah-olah hanya orang asinglah, bukan orang pribumi Nusantara atau Jawa asli yang dapat mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.

    Kecerdasannya telah menarik hati seorang patih Majapahit pada waktu itu yang kemudian mengangkatnya menjadi anak didiknya, Beranjak dewasa terus menanjak karirnya mulai sebagai Bêkêl Bhayangkâri (Kepala Pasukan Khusus Pengawal Pribadi Raja, Istana dan Keluarga Kerajaan).

    Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Ra Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Daha Kadiri.

    Gajah Mada mengandalkan intelijensi, keberanian, dan loyalitas dalam meraih mobilitas vertikalnya. Karirnya lanjutannya telah disebutkan adalah kepala pasukan Bhayangkâri, pasukan khusus pengawal Raja dan keluarganya.

    Raja yang menjadi junjungannya saat itu adalah Jayanagara yang berkuasa di Majapahit sejak 1309 sampai dengan 1328 M. Menjadi mungkin, Gajah Mada telah meniti karir militer sejak kekuasaan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, dan sedikit banyak memahami semangat kepemerintahannya.

    Dalam Désawarnana atau Nāgarakṛtāgama karya Prapanca yang ditemukan saat penyerangan Istana Tjakranagara di Pulau Lombok pada tahun 1894, dengan teks dalam huruf Bali. Pada bulan Juli 1978 ditemukan kembali di beberapa tempat di Bali: di Amlapura (Karang Asem), di Geria Pidada di Klungkung dan dua naskah lagi di Geria Carik Sideman.

    Terdapat informasi bahwa Gajah Mada merupakan patih dari Kerajaan Daha dan kemudian menjadi patih dari dua kerajaan, yakni Kerajaan Daha dan Kerajaan Janggala yang membuatnya kemudian masuk kedalam strata sosial lingkaran elit kekuasaan pada saat itu dan Gajah Mada digambarkan pula sebagai: “seorang yang mengesankan, berbicara dengan tajam atau tegas, jujur dan tulus ikhlas serta berpikiran sehat“.

    wira wicaksaneng naya matenggwan satya bhaktya prabhu
    wagmi wak apadu sarjjawopasama dhirotsahatan lalana

    [wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara,
    Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur,]

    Selanjutnya Mpu Prapanca melalui Pujasastra Nāgarakṛtāgama, menceritakan Gajah Mada dalam “pada-pada”-nya, sebagai berikut:

    wetan lor kuwu sang Gajah Mada patih ring tiktawilwadhita
    mantri wira wicaksaneng naya matenggwan satya bhaktya prabhu
    wagmi wak apadu sarjjawopasama dhirotsahatan lalana
    rajadhyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawartting jagat.

    (Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada,
    Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara,
    Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur,
    Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda Negara.)
    [Nāgarakṛtāgama XII (12) : 4].

    wwanten dharma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng lango
    simanugraha bhupati sang apatih Gajah Mada racananya nutama
    yekanung dinunung nareswara pasanggrahan ira pinened rinupaka
    andondok mahawan rikang trasungai andyusi capahan atirthasewana.

    (Tersebut tlatah dharma kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah,
    Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajah Mada, teratur rapi,
    Di situlah Baginda menempati pasanggrahan yang terhias sangat bergas,
    Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi-bakti.)
    [Nāgarakṛtāgama XIX (19) : 2]

    muwah ring sakabdesu-masaksi-nabhi
    ikang bali nathanya dussila nica
    dinon ing bala bhrasta sakweh winasa
    ares salwir ing dusta mangdoh wisata

    (Muwah ring sakabdesu-masaksi-nabhi [1253Ç]
    Sirna musuh di Sadeng, Keta diserang,
    Selama bertakhta, semua terserah,
    Kepada menteri bijak, Mada namanya.)
    [Nāgarakṛtāgama XLIX (49) : 3]

    enjing sri-natha warnnan mijil apupul aweh sewa ring bhrtya mantri
    aryyadinya ng marek mwang para patih atata ring witana n-palinggih
    ngka sang mantry apatih wira Gajah Mada marek sapranamyadarojar
    an wwanten rajakaryyolihulih nikanang dharyya haywa pramada.

    (Tersebut paginya Sri Naranata dihadap para menteri semua,
    Di muka para arya, lalu pepatih, duduk teratur di manguntur,
    Patih amangkubumi Gajah Mada tampil ke muka sambil berkata:
    “Baginda akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan.”)
    [Nāgarakṛtāgama LXIII (63) : 1]

    bgka ta sri-nrpati n-pareng marek amuspa saha tanaya dara sadara
    milw ang mantry apatih Gajah Mada makadi nika pada maso mahan marek
    mwang mantry akuwu ring paminggirathawa para ratu sahaneng digantara
    sampunyan pada bhakty amursita palinggihan ika tinitah yathakrama.

    (Berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca,
    Lalu para patih dipimpin Gajah Mada maju ke muka berdatang sembah,
    Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru,
    Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.)
    [Nāgarakṛtāgama LXV (65) : 2]

    ratryan sang mapatih Gajah Mada rikang dina muwah ahatur niwedya n-umarek
    stryanggeng soka tapel nirarjja tiheb ing bhujagakusuma rajasasrang awilet
    mantry aryyasuruhan pradesa milu len pra dapur ahatur niwedya n-angiring
    akweh lwir ni wawanya bhojana hanan plawa giri yasa mataya tanpapegetan.

    (Esoknya patih mangkubumi Gajah Mada sore-sore menghadap sambil menghaturkan,
    Kembang sesaji dibawa perempuan yang sedih di bawah nagasari dibelit rajasa,
    Menteri, arya, bupati, pembesar desa pun turut menghaturkan persajian,
    Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan)
    [Nāgarakṛtāgama LXVI (66) : 2]

    nrpathi n-umulih sangke simping wawang dating ing pura
    prihati tekap ing gring sang mantry adhimantri Gajah Mada
    rasika sahakari wrddhya ning wawawani ring dangu
    ri bali ri sadeng wyakty ny antuk nikanayaken musuh.

    (Sekembalinya dari Simping, segera masuk ke pura,
    Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering,
    Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa,
    Di pulau Bali serta kota Sadeng memusnahkan musuh.)
    [Nāgarakṛtāgama LXX (70) : 3]
    sampun rabdha pageh ny adeg nrpati ri yawadharani jayeng digantara
    ngkana sriphalatiktanagara siran siniwi mulahaken jagaddhita
    kirnnekang yasa kirti dharmma ginawe niran n anukani buddhi ning para
    mantri wipra bhujangga sang sama wineh wibhawa tumut akirti ring jagat

    (Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah digantara,
    Di Sripalatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia,
    Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang dan lega,
    Wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur.)
    [Nāgarakṛtāgama XVII (17) : 1]

    gong ning wiryya wibhuti kagraha tekap nrpati tuhutuhuttama prabhu
    lila nora kasangsayan ira n anamtami suka sakaharsa ning manah
    kanya sing rahajong ri janggala lawan ri kadiri pinilih sasambhawa
    astam tan kahanang sakeng parapurasing areja winawe dalem puri.

    (Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama,
    Lepas dari segala duka, mengeyam hidup penuh segala kenikmatan,
    Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri,
    Berkumpul di istana bersama yang tekumpulkan dari negara tetangga.)
    [Nāgarakṛtāgama XVII (17) : 2]

    salwa ning yawabhumi tulya nagari sasiki ri pangadeg naradhipa
    mewwiwu ng jana desa tulya kuwu ning bala mangideri kanta ning puri
    salwir ning paranusa tulya nika thaniwisaya pinahasukenaris
    lwir ndyana tikang wanadri sahananya jinajah ira tanpanangsaya.

    (Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda,
    Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura,
    Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan,
    Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya.)
    [Nāgarakṛtāgama XVII (17) : 3]

    Menurut Pararaton, Gajah Mada sebagai pemimpin pasukan khusus Bhayangkâri berhasil memadamkan Pemberontakan Ra Kuti, dan menyelamatkan Prabu Jayanegara (1309-1328) putra Raden Wijaya dari Dara Pethak.

    Selanjutnya di tahun 1319 ia diangkat sebagai Patih Kahuripan, dan dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Daha Kadiri.

    Pararaton memberikan tempat cukup banyak untuk menguraikan jasa-jasa Gajah Mada, antara lain:

    Gajah Mada yang menjadi kepala pasukan penjaga istana, pada waktu sedang giliran jaga, itu sebabnya mengiringi raja. Lama mereka ada di Badander.

    Seorang Pangalasan mohon diri pulang, tetapi tidak diizinkan oleh Gajah Mada, karena abdi yang mengiringi raja hanya sedikit, namun bersikeras untuk pulang. Ia ditusuk (dibunuh) oleh Gajah Mada, alasannya mungkin ia menyebarluaskan bahwa raja ada di rumah sesepuh Badander dan mungkin Kuti mengetahuinya).

    Selang sepekan kemudian, Gajah Mada pergi ke Majapahit. Setiba di Majapahit, Gajah Mada ditanyai oleh pejabat-pejabat tinggi negara, dimana raja berada, ia memberi tahu bahwa sudah dibunuh oleh pengikut Kuti.

    Semua yang diberitahu menangis. Berkatalah Gajah Mada, “Diamlah, kalian tidak ingin mengabdi Kuti.” Menjawablah yang diberi tahu, “Apa yang anda ucapkan itu, kan bukan junjungan kami.”

    Akhirnya Gajah Mada memberi tahu bahwa raja ada di Badander. Kemudian Gajah Mada bersepakat dengan menteri untuk membunuh Kuti; Kuti dibunuh dan mati.

    Setelah raja kembali, Gajah Mada tidak lagi menjabat kepala pasukan penjaga istana, dua bulan kemudian ia menikmati istirahat, (jabatan) dialihkan, ia menjadi patih di Kahuripan; ia menjadi patih selama dua tahun.

    Sang Arya Tilam, patih di Daha, meninggal, Gajah Mada menggantikannya, dijadikan patih di Daha, mengikuti Mahapatih sang Arya Tadah, yang mendukung Gajah Mada supaya dapat menjadi patih di Daha.’ [Pararaton 26]

    Istri Tanca mendesas-desuskan bahwa ia dicemari raja. Tanca ditantang oleh Gajah Mada. Kebetulan raja Jayanagara menderita bengkak dan tidak bisa pecah.

    Tanca disuruh mengiris (membedah), dan masuk ke peraduan. Ditusuk sekali-dua kali tidak mempan, raja dimohon melepaskan kesaktiannya (aji-ajinya). Raja melepaskannya di sampingnya, (Bisul) diiris/dibedah oleh Tanca dan mempan, sekaligus ditusuk oleh Tanca, wafatlah raja di peraduan.
    Tanca segera dibunuh oleh Gajah Mada, matilah Tanca.
    ‘ [Pararaton 27]

    Kemudian ada peristiwa Sadeng. Tadah, sang Mahapatih sakit dan sering tidak dapat menghadap, tetapi memaksakan diri untuk menghadap, mohon ke Duli Sang Ratu untuk membebaskannya dari jabatan Mahapatih, tidak disetujui oleh Bhre Kahuripan, sang Arya Tadah pulang, memanggil Gajah Mada, berbincang-bincang di ruang tengah.

    Gajah Mada diangkat menjadi Patih di Majapahit, Mahapatih, “saya akan membantu dalam kesulitanmu.” Jawab Gajah Mada, “ananda segan apabila menjadi patih sekarang. Apabila sudah dari Sadeng, mau menjadi patih, apabila dapat dimaafkan bila tak berhasil, ananda sanggup.” “Hai anakku, segala kesukaranmu akan kudampingi, segala kesulitanmu.”

    Maka besarlah hati Gajah Mada mendengar kesanggupan sang Arya Tadah……Datang dari Sadeng, ………Gajah Mada menjadi pemimpin umum, …….Gajah Mada, Mahapatih, tidak mau menikmati istirahat, Gajah Mada, “apabila Nusantara sudah tunduk, saya akan menikmati (hasilnya dengan) beristirahat, …….‘ [Pararaton 28]

    , ……..Maka Gajah Mada menikmati hasilnya. Sebelas tahun ia menjadi Mahapatih……Sang Patih Gajah Mada meninggal, ……Tiga tahun tidak ada yang menggantinya menjadi patih.‘ [Pararaton 29]

    Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Arya Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Dan menunjuk Patih Gajah Mada dari Kadiri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui, tetapi ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang memberontak terhadap Majapahit.

    Keta dan Sadeng pun akhirnya dapat ditaklukan. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1351) yang waktu itu telah memerintah Majapahit setelah terbunuhnya Jayanagara.

    Beberapa karya sastra maupun batu/lempengan bertulis yang sedikit banyak dapat memberi petunjuk tentang Gajah Mada, antara lain:

    Memadamkan Pemberontakan Ra Kuti

    Gajah Mada adalah seorang mahapatih kerajaan Majapahit yang didaulat oleh para ahli sejarah Indonesia sebagai seorang pemimpin yang telah berhasil menyatukan Nusantara.

    Sumber-sumber sejarah yang menjadi bukti akan hal ini banyak ditemukan di pelbagai tempat. Di antaranya di Trowulan, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dahulu pernah menjadi ibu kota kerajaan Majapahit.

    Kemudian di Pulau Sumbawa, di mana sebuah salinan kitab Nāgarakṛtāgama di temukan. Prasasti dan candi adalah peninggalan-peninggalan masa lalu yang menjadi bukti lain pernah jayanya kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada.

    Peristiwa pemberontakan yang paling berdarah pada masa pemerintahan Sri Jayanegara, raja kedua Majapahit. Pemberontakan yang dilakukan oleh Dharmaputra Winehsuka di bawah pimpinan Ra Kuti – rekan Gajah Mada dalam keprajuritan – sampai mampu melengserkan sang prabu Jayanegara dari singgasananya untuk sementara dan mengungsi ke pegunungan kapur utara, sebuah daerah yang diberi nama Bedander.

    Ra Kuti, Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Wedeng, dan Ra Yuyu pada mulanya adalah prajurit-prajurit pilihan dari kesatuan Dharmaputra yang dianggap berjasa kepada negara. Oleh karenanya sang prabu Jayanegara memberikan gelar kehormatan berupa Dharmaputra Pangalasan Winehsuka kepada kelima prajurit tersebut.

    Entah oleh sebab apa, mereka, dipimpin oleh Ra Kuti melakukan makar mengajak pimpinan pasukan Jala Rananggana untuk melakukan pemberontakan terhadap istana.

    Pada waktu itu Majapahit memiliki tiga kesatuan pasukan setingkat divisi yang dinamakan Jala Yudha, Jala Pati, dan Jala Rananggana. Masing-masing kesatuan dipimpin oleh perwira tinggi yang berpangkat tumenggung.

    Gajah Mada, pada waktu itu masih menjadi seorang prajurit berpangkat Bêkêl. Pangkat Bêkêl dalam keperajuritan pada saat itu setingkat lebih tinggi dari lurah prajurit, namun masih setingkat lebih rendah dari Senopati. Pangkat di atas senopati adalah tumenggung, yang merupakan pangkat tertinggi.
    Gajah Mada membawahi satu kesatuan pasukan yang bertugas menjaga keamanan istana, keselamatan raja dan keluarganya.

    Nama pasukan ini adalah Bhayangkâri. Jumlahnya tidak lebih dari 100 orang, namun pasukan Bhayangkâri ini adalah pasukan khusus yang memiliki kemampuan di atas rata-rata prajurit dari kesatuan mana pun.

    Informasi tentang adanya pemberontakan tersebut diperoleh dari seseorang yang memberitahu Gajah Mada akan adanya bahaya yang akan datang menyerang istana pada pagi hari. Tidak dijelaskan siapa dan atas motif apa seseorang tersebut memberikan informasi tersebut kepada Gajah Mada.

    Satu hal yang cukup jelas bahwa orang tersebut mengetahui rencana makar dan kapan waktu dilakukan makar tersebut menandakan bahwa informan tersebut memiliki hubungan yang cukup dekat dengan pihak pemberontak.

    Mendapatkan informasi tersebut Gajah Mada segera melakukan penggalangan dengan segenap jajaran têlik sandi yang dimiliki pasukannya, tidak ketinggalan terhadap têlik sandi pasukan kepatihan.

    Saat itu mahapatih masih dijabat oleh Arya Tadah, yang memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Gajah Mada.
    Gajah Mada juga melakukan langkah penggalangan kekuatan terhadap tiga kesatuan pasukan utama Majapahit dengan cara menghubungi masing-masing pimpinannya.

    Tidak mudah bagi seorang bêkêl untuk bisa melakukan hal ini karena ia harus bisa menemui para tumenggung yang berpangkat dua tingkat di atasnya. Namun, Arya Tadah yang tanggap akan adanya bahaya, telah membekali Gajah Mada dengan lencana kepatihan, sebuah tanda bahwa Gajah Mada mewakili dirinya dalam melaksanakan tugas tersebut.

    Dua dari tiga pimpinan pasukan berhasil dihubungi. Namun keduanya menyatakan sikap yang berlainan. Pasukan Jala Yudha bersikap mendukung istana, sedangkan pasukan Jala Pati memilih bersikap netral.

    Pimpinan pasukan Jala Rananggana tidak berhasil ditemui karena pada saat itu kesatuan pasukan tersebut telah mempersiapkan diri di suatu tempat yang cukup jauh dari istana untuk mengadakan serangan dadakan keesokan harinya.

    Yang selanjutnya terjadi adalah perang besar yang melibatkan ketiga kesatuan utama pasukan Majapahit. Akhirnya peperangan tersebut dimenangkan oleh pihak pemberontak, dan memaksa sang Prabu Jayanegara mengungsi ke luar istana dilindungi oleh segenap kekuatan pasukan Bhayangkâri.

    Namun, tidak seluruh anggota pasukan Bhayangkâri memihak raja. Hal ini tentu menyulitkan tindakan penyelamatan sang prabu karena setiap saat di mana saja, musuh dalam selimut bisa bertindak mencelakai sang prabu.

    Hal ini yang mendorong Gajah Mada melakukan tindakan penyelamatan yang rumit sampai membawa sang prabu ke Bedander, sebuah daerah di pegunungan kapur.

    Dengan kecerdikannya, memanfaatkan kekuatan dan jaringan yang dimiliki, akhirnya Gajah Mada berhasil mengembalikan sang prabu ke istana.
    Prabu Sri Jayanegara memang selamat dari kejaran Ra Kuti dan pengikut-pengikutnya.

    Atas jasanya memadamkan pemberontakan Kuti, Jayanagara menaikan status Gajah Mada dari sekadar bêkêlpasukan Bhayangkâri menjadi menteri wilayah (patih) dua daerah kekuasaan Majapahit: Daha dan kemudian, Jenggala.

    Posisi tersebut cukup berpengaruh mengingat dua wilayah tersebut diwenangi oleh putri Tribuwanattunggadewi (Daha) dan Dyah Wiyat (Jenggala), dua saudari tiri Jayanagara. Jayanagara sendiri belumlah memiliki putra laki-laki selaku penerus tahta.

    Bukti mengenai hal ini, seperti ditulis Heritage of Java, sebuah enskripsi bernama Walandit menceritakan gelar Gajah Mada dalam kekuasaan barunya itu adalah Pu Mada. Wilayah yang diwenangi kepatihan Gajah Mada adalah Jenggala-Kadiri yang meliputi Wurawan dan Madura.

    Loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara tidaklah tetap. Versi cerita seputar perubahan loyalitas tokoh ini pada rajanya, paling tidak ada tiga. Seluruhnya berorama motif pribadi.

    Pertama, loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara mengalami titik balik tatkala raja Jayanagara mengambil istri Gajah Mada selaku haremnya.

    Kedua, Kitab Pujasastra Nāgarakṛtāgama olahan Empu Prapanca menulis, perubahan loyalitas Gajah Mada akibat mulai jatuh hatinya Raja Jayanagara terhadap dua saudari tirinya: Tribuwanattunggadewi dan Dyah Wiyat. Empu Prapanca ini akrab dengan Gajah Mada sendiri.

    Ketiga, loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara berubah akibat kekhawatian Gajah Mada atas mulai berubahnya sikap raja terhadap Tribhuwanattunggadewi.

    Ketiga asumsi tersebut melatarbelakangi proses meninggalnya Raja Jayanagara tahun 1328, yakni sembilan tahun kemudian, ketika salah seorang Dharmaputra Pangalasan Winehsuka Ra Tanca yang telah diampuni dari kesalahan akibat terlibat dalam pemberontakan tersebut, melakukan tindakan yang sama sekali tidak terduga: meracun sang prabu sampai mengakibatkan wafatnya beliau, versi lain menyatakan bahwa Ra Tanca menusuk Sang Prabu dengan sebilah keris ketika Ra Tanca mengobati sakitnya Sang Prabu.

    Memadamkan Pemberontakan Sadeng

    Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Arya Tadah atau Mpu Krewes ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kadiri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui.

    Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit.

    Keta dan Sadeng, diceritakan bahwa kedua wilayah bagian Majapahit tersebut berniat memisahkan diri dari kerajaan Majapahit dan melakukan persiapan serius.

    Di antaranya adalah melakukan perekrutan besar-besaran terhadap warga sipil untuk dididik keprajuritan di tengah hutan Alas Larang. Tujuannya adalah memperkuat angkatan perang kedua wilayah tersebut, yang pada akhirnya akan dibenturkan terhadap kekuatan perang Majapahit.

    Gajah Mada berpendapat bahwa sebisa mungkin perang dengan Keta-Sadeng diselesaikan secara psikologis dengan mengadakan provokasi dan adu domba antar kekuatan internal Keta-Sadeng.

    Bahkan kalau perlu melakukan penculikan terhadap para pemimpin yang menggerakkan perang tersebut. Tujuan akhirnya adalah menyelesaikan konflik Keta-Sadeng dengan biaya kecil-kecilnya.

    Dilihat dari kekuatan gelar pasukan, kekuatan Keta-Sadeng bukanlah apa-apa dibanding dengan kekuatan pasukan Majapahit. Namun, dibalik kekuatan fisik pasukan segelar sepapan yang belum sebanding dengan pasukan Gajah Mada, Keta-Sadeng dilindungi oleh kesatria mumpuni yang sakti mandraguna. Ksatria ini adalah mantan pelindung Raden Wijaya, raja Majapahit yang pertama.

    Nama ksatria tersebut adalah Wirota Wiragati, terkenal dengan kesaktiannya memiliki ajian sirep, ajian panglimunan, dan kekuatan untuk mendatangkan kabut yang bisa menyulitkan daya penglihatan pasukan mana pun.

    Namun, dengan kecerdikan Gajah Mada yang disalurkan ke setiap unsur pasukan Bhayangkâri yang disusupkan sebagai têlik sandi ke wilayah Keta dan Sadeng, akhirnya tujuan Gajah Mada untuk mengakhiri perang Keta-Sadeng dengan biaya minimal akhirnya tercapai.

    Keta dan Sadeng pun akhirnya takluk. Setelah menuntaskan tugas pemadaman pemberontakan Keta-Sadeng, akhirnya Gajah Mada siap untuk didaulat menjadi mahapatih menggantikan Arya Tadah.

    Pada saat itu, Majapahit juga menjalin hubungan dengan kerajaan Swarnabhumi, di pulau Sumatra.
    Kedatangan raja Swarnabhumi – Adityawarman – ke Majapahit digambarkan menggunakan kapal perang berukuran besar yang belum ada tandingannya dari armada laut kerajaan Majapahit.

    Adityawarman sendiri adalah saudara sepupu mendiang prabu Sri Jayanegara, sekaligus sahabat yang cukup dekat dengan Gajah Mada.

    Penggambaran besarnya ukuran kapal perang dari Swarnabhumi agaknya dimaksudkan sebagai cikal bakal adopsi teknologi yang menjadikan besarnya armada angkatan laut Kerajaan Majapahit kelak ketika penyatuan Nusantara dimulai.

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  4. Nuwun

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-16. Gajah Mada. Sang Bêkêl Bhayangkâri (Parwa ka-1) On 18 Maret 2011 Surya Majapahit

    Waosan kaping-17:
    GAJAH MADA
    Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit — Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa

    Secara resmi Patih Gajah Mada diangkat oleh Ratu Thribhuwana Tunggadewi sebagai Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit pada tahun 1334. Jabatan tertinggi di pemerintahan kerajaan Majapahit setelah Sri Maharaja.

    Pada acara pelatikannya sebagai Patih Majapahit, Gajah Mada mengucapkan janji baktinya yang dikenal dengan Sumpah Palapa, sambil mengacungkan kerisnya bernama Surya Panuluh yang sebelumnya adalah milik Dyah Kertarajasa Jayawardhana, Pendiri Kerajaan dan Raja Pertama Majapahit.

    Sumpah Gajah Mada yang akhirnya kita kenal sebagai Sumpah Palapa adalah pengumuman resmi tentang program politik pemerintahan yang akan dijalankan oleh Patih Gajah Mada dibawah kepemimpinan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi.

    Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton yang sering diartikan bahwa “ia baru akan menikmati buah palapa” jika telah berhasil menaklukkan Nusantara, yang berbunyi,

    Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

    [Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin (merasakan) hidup mukti bersenang-senang (terlebih dahulu). Beliau Gajah Mada (berikrar): “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) menikmati hidup muktiku. Jika telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) menikmati hidup muktiku”].

    Catatan:

    Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, sering diterjemahkan sebagai Sumpah Palapa, yang diartikan dengan berbagai macam arti, antara lain:

    1).tidak memakan ‘buah palapa’.
    untuk ini tidak jelas apa yang dimaksud dengan “buah palapa”, juga tidak diperoleh penjelasan tentang bentuk, jenis “buah palapa” ini.

    2). tidak beristirahat;

    3). tidak berhenti berpuasa;

    4). tidak berhenti berpuasa mutih;

    a. Kata “palapa” ada yang mencoba-dekatkan dengan kata “plapah” (di salah satu los pasar Tulungagung, tempat orang jualan bumbu dapur disebut “plapah”).

    b. Palapa — dibaca pallappa — dalam Bahasa Madura adalah “bumbu masakan”, jadi artinya bumbu dapur atau rempah-rempah.

    Tan Ayun Amuktia Palapa” jika boleh diartikan “tak akan makan bumbu dapur”, atau makan nasi tanpa bumbu-bumbuan, itu sama maknanya dengan påså mutih.

    Dalam tradisi masyarakat Jawa, bila seseorang berkehendak untuk mencapai suatu cita-cita, biasanya dibarengi dengan “laku prihatin” atau “tirakat”, salah satu laku prihatin itu adalah påså mutih.

    Laku prihatin yang dikenal oleh masyarakat Jawa di antaranya: mutih, ngêruh, ngêbleng, pati gêni, ngêlowong, ngrowot, nganyêp, ngidang, ngêpêl, ngasrêp, sênin-kêmis, wungon, tapa jêjêg, lelono, kungkum, ngalong, dan ngêluweng

    Berikut nukilan apa yang disebut di atas dari “Javanism” dalam bahasa Jawa.

    Têmbung amukti palapa déning Mr. M. Yamin ditêgêsi ngaso (pensiun?). Sajak-sajaké pårå ahli sêjarah durung sapanêmu ngênani têgêse palapa utåwå “tan ayun amuktia palapa”. Ånå têmbung Jåwå sing cêdhak bangêt karo têmbung palapa, yåiku têmbung “plapah”.

    Manut bausastrå W.J.S. Poêrwådarmintå 1939 plapah ditêgêsi (ênggon-ênggonan) bumbu olah-olahan = bumbu pawon. Ênggon-ênggonan mau sajaké kalêbu Tulungagung.
    Awit ing Pasar Wagé Tulungagung ånå bango (los) sing ditulisi “plapah”.
    Têgêse bango mau kanggo wong dodolan plapah. Kamångkå nyatané los mau kanggo wong dodolan bumbu olah-olahan.

    Dudutanku “amukti palapa” daktêgêsi dhêdhaharan sing nganggo bumbu. Dadi sasuwéné Nusantårå durung manunggal karo Måjåpahit, Gajah Mada ora kêrså dhahar dhêdhaharan sing dibumboni.

    Ing bêbrayan Jåwå tirakat utåwå riyalat kåyå ngono kuwi jênêngé påså mutih. Yåiku mung dhahar sêgå putih, ora nganggo lawuh sing dibumboni.

    Nalikå kêlakon Nusantårå wis nyawiji karo Majapahit, Gajah Mada mêsthine yå lèrén anggoné påså mutih.

    Dengan demikian makna dari sumpah tan ayun amuktia palapa itu adalah, bahwa Gajah Mada demi kepentingan negaranya dalam upaya mempersatukan Nusantara di bawah naungan Negara Kesatuan Kerajaan Majapahit, dia rela tidak menikmati kesenangan hidup; yang diartikan tidak menikmati kenikmatan duniawi, dan lebih mengutamakan kepentingan negaranya di atas kepentingan pribadinya.

    Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, adalah bahwa setiap sang wruhing tattwa jñana yaitu orang yang berilmu, di dalam mencapai tujuan perjuangannya, dia harus melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin). Tidak menyibukkan diri pada kegiatan-kegiatan yang tak ada manfaatnya.

    Dari isi naskah ini dapat diketahui bahwa pada masa diangkatnya Gajah Mada, sebagian wilayah Nusantara yang disebutkan pada sumpahnya belum dikuasai Majapahit.

    Arti nama-nama tempat:
    •Gurun = Nusa Penida.
    •Seran = Seram.
    •Tañjung Pura = Kerajaan Tanjung Pura, Ketapang, Kalimantan Barat.
    •Haru = Sumatra Utara (ada kemungkinan merujuk kepada Karo).
    •Pahang = Pahang di Semenanjung Melayu.
    •Dompo = Kabupaten Dompu.
    •Bali = Bali.
    •Sunda = Kerajaan Sunda.
    •Palembang = Palembang atau Sriwijaya.
    •Tumasik = Singapura.

    Sumpah Palapa tersebut sangat menggemparkan para undangan yang hadir dalam pelantikan Gajah Mada sebagai patih Amangku bumi.

    Ra Kembar mengejek Gajah Mada sambil mencaci maki, undangan yang lain turut serta mengejek, Jabung Tarewes dan Lembu Peteng tertawa terpingkal pingkal.

    Gajah Mada yang merasa terhina akhirnya turun dari paseban menghadap kaki sang Ratu dan berkata bahwa hatinya sangat sedih dengan penghinaan tersebut.

    Akhirnya setelah acara tersebut Gajah Mada kemudian menyingkirkan Ra Kembar untuk membalaskan dendamnya karena mendahului mengepung Sadeng.

    Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa itu diucapkan dengan kesungguhan hati oleh Gajah Mada, oleh karena itu ia sangat marah ketika ditertawakan.

    Program politik yang dijalankan oleh Gajah Mada berbeda dengan yang dijalankan oleh Prabu Kertarajasa dan Prabu Jayanagara dimana dalam masa pemerintahan ke dua tokoh tersebut para menteri kebanyakan diambil dari orang orang yang terdekat yang dianggap berjasa oleh kedua tokoh tersebut.

    Dan ketika orang orang kepercayaan tersebut melakukan pemberontakan maka pemerintahan tersebut hanya disibukkan oleh pembasmian pemberontakan sehingga mereka tidak berkesempatan untuk menjalankan politik untuk mengembangkan wilayah kerajaan.

    Demikianlah Gajah Mada dalam menjalankan Politik Nusantaranya para pejabat-pejabat yang dahulu mengejek dan menertawakannya disingkirkan satu persatu.
    Ra Kembar dan Warak yang mengejeknya habis habisan kemudian disingkirkan.

    Dengan adanya Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, maka Gajah Mada bercita-cita mempersatukan wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Sehingga untuk mewujudkan sumpah tersebut, pasukan Majapahit yang dipimpin Gajah Mada dan dibantu oleh Adityawarman melakukan politik ekspansi/penyerangan keberbagai daerah dan berhasil.
    Atas jasanya Adityawarman diangkat menjadi Raja Melayu tahun 1347 untuk menanamkan pengaruh Majapahit di Sumatera.

    Walaupun ada sejumlah orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada berhasil menaklukkan Nusantara.

    Tahun 1339-1341, seluruh Nusantara bagian barat berturut-turut ditaklukkan oleh tentara angkatan laut Kerajaan Majapahit pimpinan Senapati Sarwajala Mpu Nala. Dimulai dengan Kerajaan Samudra Pasai, Jambi, Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Kemudian Langkasuka, Kelantan, Kedah, Selangor, lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya.

    Selanjutnya kapal-kapal perang Majapahit mendarat di Tanjungpura, menundukkan Sambas, Banjarmasin, Pasir, dan Kutai dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

    Dalam waktu 7 tahun setelah dikumandangkan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan pulau-pulau di sekitarnya sudah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

    Armada Angkatan Laut Kerajaan Majapahit dengan kekuatan 40.000 prajurit menjadi sesuatu kekuatan dahsyat tak ada tandingannya di Asia Tenggara ketika itu.

    Dengan demikian, Nusantara bagian barat sepenuhnya sudah bersatu di bawah kerajaan Majapahit, kecuali Kerajaan Sunda.

    Tahun 1343 Mahapatih Gajah Mada melakukan pembuktian sumpahnya, dibantu oleh Senapati Sarwajala Mpu Nala memimpin armada laut Majapahit dengan kekuatan 3.000 prajurit menuju wilayah timur Nusantara untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan yang bersikap dingin atau mencoba melepaskan diri.
    Kerajaan itu antara lain: Bedahulu (Bali), Lombok (1343),

    Bali sendiri bukanlah wilayah yang belum pernah diekspansi kerajaan Jawa sebelumnya. Kira-kira tahun 1284 M, Raja Kertanegara dari Singasari pernah melaklukannya. Ekspedisi Gajah Mada ke Bali ini juga dikenal sebagai Ekspedisi Bedahulu.

    Saat itu di Bali berkuasa raja Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten, sekurangnya sejak 1337 M. Raja Bali ini punya panglima perang perkasa bernama Amangkubumi Paranggrigis.

    Dalam melakukan kegiatannya, Panglima Paranggrigis punya seorang pembantu sakti bernama Kebo Iwa, asal desa Belahbatuh. Kebo Iwa inilah yang dinilai Majapahit perlu disingkirkan terlebih dulu guna melemahkan Bali.

    Sebelum mengekspansi Bali secara militer, Gajah Mada melakukan diplomasi terlebih dulu. Ratu Tribhuwanattungadewi menulis surat yang dibawa Gajah Mada, bahwa Majapahit hendak bersahabat dengan Bali.

    Tidak diceritakan apa yang kemudian terjadi, paling tidak, Amangkubumi Paranggrigis kemudian menggantikan posisi Kebo Iwa selaku orang kuat Bali.

    Paling tidak, Amangkubumi Paranggrigis ‘terpaksa’ turun tangan sendiri untuk memimpin posisi Bali atas Majapahit. Amangkubumi Paranggrigis mengumpulkan tokoh-tokoh untuk membahas sikap Bali atas Majapahit.

    Suara bulat dicapai, bahwa Bali tidak akan tunduk pada Majapahit. Tahun 1334 M, barulah Gajah Mada membawa ekspedisi militer ke Bali.

    Dalam ekspedisi tersebut, ikut serta Arya Damar (atau Adityawarman) yang saat itu memangku selaku panglima perang. Bali setelah serangan Majapahit, mengalami kekosongan kepemimpinan.

    Orang berpengaruh di Bali yang masih hidup saat itu adalah Patih Ulung. Namun, patih ini tidak mampu menguasai keadaan dan sebab itu ia bersama dua orang keluarganya yaitu Arya Pemacekan dan Arya Pemasekan datang menghadap Ratu Tribhuwanattungadewi untuk mengangkat wakil otoritas Majapahit di Bali.

    Tribhuwanattungadewi dan setelah rêmbugan dengan Gajah Mada mengangkat Sri Kresna Kepakisan (turunan Bali Aga) selaku wakil Sri Baginda Ratu Majapahit di Bali.

    Bali Aga adalah turunan Bali pegunungan, yang kerap dipisahkan dengan Bali Mula (orang Bali asli). Trik politik yang tetap berupaya memecah atau menyeimbangkan orang “dalam” dan orang “luar” Bali agar tetap tunduk pada Majapahit.

    Invasi ke kerajaan lainnya

    Di era yang sama pula, Gajah Mada memimpin upaya penaklukan Lombok. Seperti telah disebut, dalam Ekspedisi Bedahulu 1333-1334 M, Gajah Mada disertai dengan Arya Damar atau Adityawarman.
    Adityawarman ini kemudian diangkat selaku wakil Sang Ratu Majapahit di Sumatera (eks. Sriwijaya).

    Adityawarman semenjak kecil hidup di lingkungan keluarga Majapahit. Setelah penaklukan Gajah Mada, ia pun diangkat selaku vassal Majapahit yang berkedudukan di Jambi.
    Adityawarman masih merupakan saudara dari Jayanagara, raja Majapahit sebelumnya.

    Tatkala menjadi vassal Majapahit, Adityawarman memperluas cakupan wilayah Majapahit hingga ke barat, Minangkabau. Ia memerintah atas nama Majapahit.

    Penaklukan ini diteruskan hingga ke Kerajaan Samudra Pasai. Termasuk ke dalamnya, penaklukan Tumasik (Singapura), Bintan, Borneo (Kalimantan), termasuk Burni (Brunei).

    Proses penaklukan Gajah Mada juga diarahkan ke wilayah timur Nusantara. Wilayah yang ditaklukannya meliputi Logajah, Gurun, Seram, Hutankadali, Sasak, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Sumbawa Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Seram Ambon, Timor, dan Dompo.

    Seluruh wilayah timur Nusantara telah disatukan, termasuk Pulau Irian, Sanggir Talaud, Bahkan beberapa wilayah Filipina bagian selatan juga masuk ke dalam kekuasaan Majapahit.

    Pasukan kekuatan Majapahit tidak semuanya berasal dari pusat pemerintahan. Namun, hampir dua per-tiga justru berasal dari Kerajaan Melayu dan gabungan beberapa dari kerajaan di wilayah Jawa yang sudah mengakui kekuasaan Kerajaan Majapahit.

    Gugus Armada Angkatan Laut Majapahit

    Dalam ekspansi militer dalam rangka mewujudkan persatuan nusantara, Kerajaan Majapahit mengandalkan kekuatan maritimnya. Konon rahasia kekuatan laut Majapahit sejak jaman Gajah Mada ini dipegang Mpu Nala.

    Mpu Nala, Panglima Angkatan Laut Kerajaan Majapahit, dialah Senapati Sarwajala Mpu Nala. Dia seorang perwira tinggi berusia muda yang tandangé nggêgirisi. Cepat dan tuntas.

    Kepandaiannya bertempur di lautan tak pernah ada yang meragukannya, hingga negeri-negeri di Swarna Dwipa dan Dharma Sraya pun mengakui kehebatannya. Begitu juga Tumasek.

    Gajah Mada memiliki harapan besar kepada seorang Senopati Angkatan Lautnya Mpu Nala ini. Gajah Mada memiliki pendapatnya sendiri, jika wilayah Nusantara ingin tetap utuh, pasukan dan armada angkatan lautlah pemegang kuncinya.
    Air dan lautan, baginya, adalah pemersatu, bukan pemisah.

    Jika Majapahit bisa berjaya di lautan, berarti Majapahit akan memegang semuanya, hingga tak perlu cemas lagi jika pasukan tentara negeri Atap Langit datang kembali kelak. Gajah Mada harus selalu waspada terhadap mereka, dan itulah yang selalu menghantui batinnya selama ini.

    Bagaimanapun, seorang Khan Agung dari negeri Atap Langit itu pasti begitu murkanya karena pasukan yang dikirimnya ke Jawa Dwipa ini telah diperdaya oleh Raden Wijaya, penggagas berdirinya Negara Majapahit ini.

    Senapati Sarwajala Mpu Nala, Sang Panglima Angkatan Laut Kerajaan Majapahit menempatkan gugus kapal perang berjumlah beberapa puluh untuk menjaga lima titik penting perairan Nusantara.

    Armada Gugus Pertama bertugas di sebelah barat pulau Sumatera sebagai gugus kapal perang penjaga samudera Hindia di bawah pimpinan Senapati Sarwajala yang berasal dari Jawa Tengah;

    Armada Gugus Kedua kapal perang penjaga Laut Kidul atau sebelah selatan Pulau Jawa di bawah pimpinan seorang Senapati Sarwajala putra Bali;

    Armada Gugus Ketiga bertugas menjaga perairan selat Makasar dan wilayah Ternate, Tidore, dan Halmahera di bawah pimpinan seorang Senapati Sarwajala putra Makasar;

    Armada Gugus Keempat menjaga Selat Malaka dan Kepulauan Natuna di bawah pimpinan seorang Senapati Sarwajala dari Jawa Barat;

    Terakhir Armada Gugus Kelima menjaga Laut Jawa hingga ke arah timur sampai kepulauan rempah-rempah Maluku, armada Jawa ini mengibarkan bendera Majapahit Sang Saka Gula-Kelapa di tambah lagi bendera emas simbol istana Majapahit dipimpin oleh seorang Senapati Sarwajala berasal dari Jawa Timur.

    Setiap armada gugus kapal perang terdapat kapal bendera tempat kedudukan pimpinan senapati bagi semua kapal penyerang, kapal perbekalan, dan pelindung kapal bendera itu sendiri.

    Dari kelima armada Majapahit itu beban berat ialah menjaga perairan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan yang penuh perompak yang berpangkalan di sekitar wilayah Campa, Vietnam, dan Tiongkok.

    Armada Gugus Keempat yang menjaga Selat Malaka itu dibantu oleh armada pertama penjaga Samudera Hindia jika perompak melarikan diri ke barat laut menyusuri Selat Malaka.

    Begitu pula Armada Laut Kidul membantu Armada Jawa dalam menjaga keamanan kapal-kapal dagang pembawa rempah-rempah yang melalui Selat Sunda yang lebih aman menuju India dan Timur Tengah.

    Tugas lain Armada Laut Kidul adalah menjaga Selat Bali dan perairan selatan Nusa Tenggara, bahkan di sebelah selatan Pulau Bali terdapat galangan kapal-kapal Majapahit yang cukup besar.

    Armada Gugus Ketiga bertugas juga menjaga kapal penyusup dari wilayah Mindanao Filipina sekaligus menjaga kepulauan rempah-rempah Maluku jika kekuatan Armada Jawa sedang dipusatkan di perairan Jawa untuk mengawal sang Prabu Hayam Wuruk beranjangsana ke wilayah pesisir timur Pulau Jawa.

    Armada Jawa merupakan kekuatan terbesar Armada gugus kapal perang Majapahit karena tugasnya paling berat menjaga pusat kerajaan istana Majapahit sekaligus menguasai jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah Maluku yang dkuasai langsung oleh pemerintah pusat Majapahit.

    Persenjataan kapal-kapal perang Majapahit berupa meriam Jawa yang disebut cetbang. Konon Gajah Mada kecil pernah diasuh oleh tentara Mongol yang dikirim Kublai Khan menyerbu Jawa guna membalas penghinaan yang dilakukan oleh Prabu Kertanegara mencoreng-coreng wajah utusan Tiongkok yang menuntut agar Singasari tunduk di bawah kekuasaan Tiongkok.

    Gajah Mada diajarkan oleh pengasuhnya orang Mongol itu mengenai prinsip senjata api sederhana. Pandai besi yang mengecor meriam tersebut berada di Blambangan, dan cetbang adalah prduk dalam negeri Majapahit merupakan hasil karya dan penemuan Mahapatih Gajah Mada bersama Mpu Nala berkat belajar dari tentara Mongol atau Tartar yang menyerang kerajaan Singasari tersebut.

    Berita tentang mesin perang berupa meriam Jawa cetbang di atas belum dapat dikatakan akurat, sebelum ditemukan adanya bukti-bukti sejarah secara tertulis yang bersifat komprehnsif.

    Hanya satu buku Glimpse of World History tulisan Jawaharlal Nehru, yang menulis bahwa ada dugaan kuat ekspedisi kapal perang Kubilai Khan ke Jawa dengan maksud hendak menghukum Prabu Kertanegara, telah membawa pengaruh besar bagi perkembangan kemajuan teknologi persenjataan kapal-kapal perang Kerajaan Majapahit.

    Ekspedisi bersama dengan pasukan Raden Wijaya ketika berperang dengan pasukan Jayakatwang di perairan Laut Jawa, merupakan pengalaman baru bagi tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya berperang menggunakan senjata api.

    Adapun senjata api yang dimaksud adalah roket-roket kecil, seperti kembang api yang melesat ke udara dan meledak setelah sampai pada sasaran yang dituju, mirip pesta kembang api Tahun Baru Imlek Gong Xi Fat Cai, yang disebut cetbang.

    Dalam perkembangan selanjutnya Gajah Mada bersama Mpu Nala memanfaatkan dan mengembangkan teknologi senjata api tersebut, yakni berupa meriam-meriam penyulut “roket kembang api” hasil rampasan armada Kubilai Khan, untuk melengkapi persenjataan armada laut Majapahit.

    Semua jenis kapal perang Majapahit mulai dari kapal perbekalan hingga kapal bendera adalah kreasi jenius dari Mpu Nala yang sekaligus seorang Senapati Sarwajala yang mumpuni dan handal. Mpu Nala.

    Mpu Nala dalam membangun kekuatan laut yang tersohor kala itu, menciptakan kapal-kapal dari sejenis kayu raksasa yang hanya tumbuh di sebuah pulau yang dirahasiakan.

    Pohon raksasa dan cocok untuk dibuat kapal itulah yang membuat kapal-kapal Majapahit cukup besar ukurannya di masa itu.

    Setelah Gajah Mada dan Mpu Nala wafat maka kekuatan Majapahit pun berangsur lemah apalagi tatkala terjadi Perang Paregreg kapal-kapal Majapahit saling serang satu sama lain dan kehancuran tak terelakkan lagi bagi seluruh armada.

    Setelah Majapahit lemah hanya tersisa Armada Jawa yang menguasai perairan Laut Jawa dan jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah.

    Kemudian datanglah bangsa kulit putih yang tujuan utamanya ialah menguasai daerah penghasil rempah-rempah itu dengan modal kapal-kapal gesit dan lincah tidak terlalu besar ukurannya dibanding kapal Majapahit akan tetapi kapal asing itu bersenjata lebih unggul meriam yang bisa memuntahkan bola-bola besi dengan jarak tembak lebih jauh daripada kemampuan jarak tembak cetbang Majapahit.

    Keturunan Mpu Nala terus melanjutkan kepemimpinan militer Majapahit. Mpu Nala II tidak segemilang pendahulunya apalagi militer laut sudah demikian parah dalam melakukan tindak korupsi di wilayah kekuasaan masing-masing, sehingga rakyat tidak lagi menghormati kekuasaan pemerintahan pusat.
    Dan menurunkan wibawa Majapahit di kalangan kerajaan taklukannya.

    Di masa kehancuran itu Mpu Nala II tidak segemilang pendahulunya Mpu Nala I. Sehingga seperti yang terjadi kemudian, kekuatan laut yang tersohor di Nan Yang itu saling bertempur satu kapal dengan kapal yang lain.

    Salah satu kisah peperangan Empu Nala I:

    Tahun 1350, Senapati Sarwajala Mpu Nala mengadakan ekspedisi ke Nansarunai dengan menyamar sebagai nahkoda kapal dagang. Di Nansarunai ia memakai nama samaran Tuan Penayar dan bertemu dengan Raja Raden Anyan, bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas, serta Ratu Dara Gangsa Tulen.

    Senapati Sarwajala Mpu Nala sangat kagum melihat begitu banyak barang-barang terbuat dari emas murni, ketika ia dipersilakan untuk melihat-lihat perlengkapan pesta adat di ruangan tempat bermusyawarah.

    Yang sangat dikagumi oleh Senapati Sarwajala Mpu Nala, ialah sokoguru balai adat yang terbuat dari emas murni juga dimana dibagian atasnya bermotif patung manusia.

    Setelah kembali ke Majapahit, Senapati Sarwajala Mpu Nala berpendapat, untuk menundukkan Nansarunai, harus dicari kelemahan Raja Raden Anyan yang mempunyai kharisma kuat.

    Pada pelayaran berikutnya, Senapati Sarwajala Mpu Nala membawa serta seorang panglima perangnya yang bernama Demang Wiraja dengan memakai nama samaran Tuan Andringau, serta beberapa prajurit dari suku Kalang.

    Hasil pengamatan Demang Wiraja dilaporkan kepada Senapati Sarwajala Mpu Nala.
    Demikianlah pada awal tahun 1356, Senapati Sarwajala Mpu Nala datang lagi ke Nansarunai dengan membawa serta istrinya bernama Damayanti.

    Sewaktu kembali ke Majapahit, sengaja Senapati Sarwajala Mpu Nala membiarkankan isterinya tinggal di Nansarunai. Damayanti berwajah sangat cantik dan pribadinya menarik.

    Pada tahun 1356 itu, terjadi kemarau panjang, sehingga Raja Raden Anyan secara kebetulan bertemu dengan Damayanti di sumur yang khusus diperuntukkan bagi anggota keluarga kerajaan.

    Pertemuan pertama berlanjut dengan kedua dan demikian seterusnya, sehingga Damayanti melahirkan seorang anak perempuan, lau diberi nama Sekar Mekar.
    Pada awal tahun 1358, Senapati Sarwajala Mpu Nala datang ke Nansarunai dan menemukan isterinya sedang menimang seorang anak perempuan.

    Damayanti yang memakai nama samaran Samoni Batu, menerangkan bahwa anak yang ada dipangkuaanya itu adalah anak anak mereka berdua. Dan Senapati Sarwajala Mpu Nala percaya saja akan apa yang telah dikatakan oleh isterinya itu.

    Ketika kembali ke Majapahit, Damayanti beserta anaknya dibawa serta, ayau tinggal dipangkalan aramada laut Majapahit di Tuban.

    Beberapa bulan kemudian, Senapati Sarwajala Mpu Nala secara kebetulan mendengar isterinya bersenandung untuk menidurkan puterinya dimana syair-syairnya menyebutkan bahwa Sekar Mekar mempunyai ayah yang sebenarnya ialah Raja Raden Anyan.

    Bulan April 1358, datanglah prajurit-prajurit Majapahit, dibawah pimpinan Senapati Sarwajala Mpu Nala dan Demang Wiraja menyerang Nansarunai. Mereka membakar apa saja termasuk kapal-kapal yang ada di pelabuhan dan rumah-rumah penduduk.

    Serangan itu mendapat perlawanan gigih prajurit-prajurit Nansarunai walaupun mereka kurang terlatih.
    Menurut cerita, Ratu Dara Gangsa Tulen bersembunyi dipelepah kelapa gading bersenjata pisau dari besi kuning, bernama Lading Lansar Kuning.

    Ia banyak menimbulkan korban pada pihak musuh sebelum ia sendiri gugur. Raja Raden Anyan dalam keadaan terdesak lalu disembunyikan oleh para Patih dan Uria kedalam sebuah sumur tua yang sudah tidak berair lagi.

    Diatas kepalanya ditutup dengan sembilan buah gong besar, kemudian dirapikan dengan tanah dan rerumputan, agar tidak mudah diketahui musuh.

    Ketika keadaan sudah bisa dikuasai oleh pihak Majapahit, Senapati Sarwajala Mpu Nala memerintahkan Demang Wiraja untuk mencari Raden Anyan hidup atau mati. Atas petunjuk prajurit-prajurit suku Kalang yang terkenal mempunyai indera yang tajam, tempat persembunyian Raja Raden Anyan akhirnya dapat ditemukan.

    Raja Raden Anyan tewas kena tumbak Senapati Sarwajala Mpu Nala dengan lembing bertangkai panjang. Peristiwa hancurnya Nansarunai dalam perang tahun 1358 itu, terkenal dalam sejarah lisan suku Dayak Maanyan yang mereka sebut Nansarunai Usak Jawa.

    Dalam perang itu telah gugur pula seorang nahkoda kapal dagang Nansarunai yang terkenal berani mengarungi lautan luas bernama Jumulaha. Ia banyak bergaul dan bersahabat dengan pelaut-pelaut asal Bugis dan Bajau. Untuk mengenang persahabatan itu, maka puterinya yang lahir ketika ditinggalkan sedang berlayar, diberi nama berbau Bugis yaitu La Isomena.

    Prajurit-prajurit Majapahit yang gugur dalam perang tahun 1358 itu, diperabukan berikut persenjataan yang mereka miliki, didekat sungai Tabalong yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Tambak-Wasi.

    Tambak arti kuburan dan Wasi artinya besi dalam bahasa Maanyan kuno. Sehingga Tambak-Wasi artinya adalah kuburan yang mengandung unsur besi.

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Selamat malam Ki Bayu Aji.
      Apakah benar pada akhir hayatnya justru Pahlawan Gajah Mada terusir dari Jawa, dan saya juga pernah baca di majalah (lupa?) bahwa jazat Pahlawan Gajah Mada dimakamkan di Pulau Buton (penghasil aspal)?
      Adakah prasasti yang menguatkan itu?

      • Nuwun

        Sugêng énjang Ki Raharga,

        On 18 Maret 2011 at 23:11 Raharga said:
        Pahlawan Gajah Mada dimakamkan di Pulau Buton (penghasil aspal)?
        Adakah prasasti yang menguatkan itu?

        Ki Raharga,

        Semoga kesejahteraan senantiasa dilimpahkan Tuhan Yang Maha Kaya kepada Panjênêngan dan keluarga. Aamin.

        Sebagaimana asal usul, tanggal dan tempat kelahiran tokoh Mpu Mada atau Gajah Mada, maka tempat persemayaman terakhir beliau tidak diketahui dengan pasti.

        Banyak teori tentang tempat meninggalnya, dan pemakaman beliau, sebagaimana teori tempat kelahirannya.

        Dari sekian banyak sumber sejarah, belum ada bukti yang menjelaskan bahwa makam Gajah Mada terletak di Pulau Buton.

        Pararaton hanya menyebut tahun meninggalnya Gajah Mada yang ditandai dengan candra sengkala Langit Muka Mata Bulan yang dibaca sebagai tahun 1290Ç atau 1368M, sedangkan Pujasastra Nāgarakṛtāgama menyebutkan tahun kematian Sang Maha Patih Gajah Mada pada tahun 1286C atau 1364M.

        Dalam hal ini, berita dari Nāgarakṛtāgama lebih bisa dipercaya karena ditulis oleh Prapanca yang hidup sezaman dengan Gajah Mada.

        Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXI (71) : 1

        Try angin ina saka purwwa rasika n-papangkwaken i sabwat ing sabhuwana
        Pejah irikang sakabdha rasa tanwinasa naranatha mar salahasa

        (Try angin ina saka (1253Ç) beliau mulai memikul tanggung jawab, sakabdha rasa (1286Ç) beliau mangkat; Baginda gundah, terharu, bahkan putus asa,

        Berdasarkan Pujasastra Nāgarakṛtāgama tersebut maka Gajah Mada wafat pada tahun 1286C atau 1364M.

        Pujasastra Nāgarakṛtāgama tidak menyebutkan tempat pendharmaan atau wafatnya beliau.

        Kakawin Nāgarakṛtāgama Pupuh Pupuh XIX (19) : 2 hanya mengabarkan tempat istirah dan pesemadian Gajah Mada menjelang akhir hayatnya, yaitu di Madakaripura.

        Nāgarakṛtāgama Pupuh Pupuh XIX (19) : 2

        wwanten dharma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng lango
        simanugraha bhupati sang apatih gajahmada racananya nutama

        (Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah, Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajah Mada, teratur rapi,)

        Letak Madakaripura

        Masih di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, di kawasan wisata Gunung Bromo tidak jauh dari lautan pasir Bromo, hanya sekitar 45 menit ke arah Probolinggo (ke Utara).

        Ada satu tempat namanya Air Terjun Madakaripura, tepatnya terletak di desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo.

        Menurut penduduk setempat nama ini diambil dari cerita pada zaman dahulu, konon Patih Gajah Mada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di air tejun ini.

        Penduduk sekitar mengisahkan bahwa cerita ini didukung dengan adanya arca Gajah Mada di tempat parkir area tersebut. Padahal arca tersebut adalah arca modern buatan pematung abad ke 20, sekitar tahun 1980an.

        Logika alur ceritanya begini, lokasi air terjun desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo tersebut dinamakan Air Terjun Madakaripura, yang diduga tempat persinggahan terkahir Gajah Mada, sehingga dibuatlah patung “Gajah Mada” di sekitar tahun 1980an, jadi bukan karena adanya patung Gajah Mada lalu disebut Air Terjun Madakaripura.

        Dari segi sejarah, Madakaripura (yang air terjun) belum dapat dikatakan sebagai situs purba peninggalan Gajah Mada, karena belum ditemukan bukti-bukti sejarah yang konkrit berupa tamla prasasti, epik, rontal ataupun yang sejenis, yang menyebutkan bahwa Madakaripura (menurut Nāgarakṛtāgama) adalah Madakaripura (yang air terjun).

        Terlepas dari semua itu, sebagai tempat tujuan wisata, Air Terjun Madakaripura menyajikan pesona alam yang indah.

        Mungkin saja Sang Maha Patih Gajah Mada yang hampir seluruh hidupnya diabdikan pada negaranya, maka di hari-hari senja beliau, Sang Maha Patih Gajah Mada ingin menghibur diri dengan menikmati keindahan alam Bromo ini, seraya melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
        Hyang Wisesa Yang Maha Wikan. Tuhan Yang Maha Tahu.

        (Dongengnya nyaris lengkap. Mohon bersabar, dan tunggu dongeng selanjutnya tentang Mpu Mada ini).

        Nuwun

        cantrik bayuaji

        • Sekedar melengkapi:

          Jumat, 06 Agustus 2010
          GAJAH MADA LAHIR DI PULAU BUTON DAN LOKASI WAFATNYA ADA DALAM SEBUAH GUA DI KEPULAUAN WANGI-WANGI.
          GAJAH MADA LAHIR DI PULAU BUTON DAN LOKASI WAFATNYA ADA DALAM SEBUAH GUA DI KEPULAUAN WANGI-WANGI.
          Oleh : Ali Habiu *)

          Siapa itu Gajah Mada…??

          Leo Suryadinata mengakui, sejarah awal kehidupan Gajah Mada tidaklah begitu jelas. Namun, Encarta Encylopedia berani memperkirakan Gajah Mada lahir tahun 1290 M. Jadi, ia lahir dan besar tatkala terjadi transisi antara kekuasaan Raden Wijaya kepada Jayanagara. Pembacaan atas tokoh Gajah Mada kerap dihubungkan dengan dimensi supernatural. Ini sulit dihindari, oleh sebab masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, memang menilai tinggi dimensi tersebut. Berdasarkan petunjuk spiritual menyebutkan bahwa Gajah Mada merupakan anak pertama dari pasangan Si Jawangkati dengan Lailan Mangrani. Sijawangkati merupakan pembantu Si Malui dan adiknya bernama Si Baana dan sebagai manusia yang kedua datang di pulau Buton. Si Jawangkati dating ke pulau Buton menemani Si Malui dan Si Baana pada hari bulan sya’ban tahun 634 Hijriah dengan menumpangi behtera kapal bernama “Popanguna” berbenderakan Buncaha yakni bendera dengan motif warna kuning hitam selang-seling yang tak lain adalah bendera kerajaan asal leluhurnya dari daerah Bumbu negeri Melayu Pariaman. Pada akhir tahun 1236 M, Si Jawangkati beserta tuannya terdampar di sebelah utara timur laut Buton yakni “kamaru” dengan bentengnya bernama “Wonco”. Si Jawangkati dengan memimpin rombongan kecil berpamitan dengan Si Malui dan Si Baana untuk mencari daerah hunian baru dan setelah ditemukan hunian ini bernama “Wasuembu”. Setelah menemui tempat baru ini Si Jawangkati langsung membuat perkampungan serta benteng pertahanan bernama “Koncu” di Wabula. Tak lama berselang kedatangan Si Jawangkati di pulau Buton, maka datanglah serombongan para anak-anak bangsawan dari pulau Jawa. Anak-anak bangsawan tersebut tak lain adalah Raden Sibahtera, Raden Jutubun dan Lailan Mangrani yang merupakan anak-anak dari Raden Wijaya sebagai Raja Mataram sebelum gabung dengan Majapahit. Kedatangan ketiga anak-anak Raden Wijaya tersebut bukan tidak beralasan, mereka dating atas petunjuk ghaib yang diterima oleh dukun atau penasehat istana kerajaan Majapahit untuk memerintahkan anak-anak Raden Wijaya tersebut mencari suatu pulau yang terdapat di Wilayah Timur Nusantara bernama pulau Buton. Setelah menemui pulau Buton ketiga anak-anak Raden Wijaya diperintahkan untuk membangun Bandar perniagaan. Kedatangan putra putrid Raja Majapahit itu menggunakan dua Armada antara lain satu armada dipimpin oleh Raden Sibahtera dengan adiknya Lailan Mangrani disertai dengan 40 pengikutnya, sedangkan armada yang satu dipimpin oleh Raden Jutubun beserta 40 pengawalnya. Kedua armada tersebut masing-masing membawa bendera leluhurnya yang dipasang diburitan kapal dengan warna bendera merah putih dan bendera ini dinamai “dayialo”. Kedua armada ini setelah tiba di laut Buton selanjutnya disambut oleh Si Jawangkati dan Si Tamanajo di teluk Kalampa tempat kedua armada tersebut berlabuh. Tak lama berselang beberapa tahun kemudian setelah Raden Sibahtera telah dinobatkan menjadi Raja Pertama Buton dengan permaisurinya bernama gelar Wa Kaa Kaa atau nama aslinya Mussarafatul Izzati Al Fakhriy, maka kawinlah Si Jawangkati dengan Lailan Mangrani. Hasil dari perkawinan Sijawangkati dengan Putri Raden Wijaya di pulau Buton ini membuahkan 3 (tiga) orang anak, yakni 2 (dua) laki-laki dan 1 (satu) perempuan. Nah…, anak pertama Si Jawangkati bersama Lailan Mangrani ini adalah seorang bayi yang cukup besar dan berparas jelek dan diberi nama Gajah Mada. Mulai umur 3 tahun Gajah Mada ini memiliki kelebihan-kelebihan luar biasa baik secara kekuatan fisik maupun instinksi dan setelah usia mencapai 7 tahun maka dilatihlah oleh ayahnya ilmu kanukragan dan ilmu kesaktian. Perlu diketahui bahwa Si Jawangkati ini adalah seorang amat sakti dari asal keturunan para wali negeri melayu. Kemudian setelah ilmu kanukragan dan ilmu kesaktian telah diturunkan oleh ayahandanya kepada Gajah Mada, genap usia 15 tahun Gajah Mada di bawalah ke pulau Jawa oleh ibunya Lailan Mangrani untuk membantu Raden Wijaya dalam kesulitan melawan para pemberontak asal dari dalam lingkungan kerajaan Majapahit. Disanalah awal kisah Patih Gajah Mada dalam peranannya membantu neneknya sendiri yakni Raden Wijaya untuk memberantas para penjahat dalam lingkungan dalam kerajaan. Leo Suryadinata menulis, Gajah Mada mengandalkan intelijensi, keberanian, dan loyalitas dalam meraih mobilitas vertikalnya. Karirnya lanjutannya adalah kepala pasukan Bhayangkara, pasukan penjaga keamanan Raja dan keluarganya. Raja yang menjadi junjungannya saat itu adalah Jayanagara yang berkuasa di Majapahit sejak 1309-1328 M. Menjadi mungkin, Gajah Mada telah meniti karir militer sejak kekuasaan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, dan sedikit banyak memahami spirit pemerintahannya. Jayanagara ini adalah putra pasangan Raden Wijaya dengan seorang putri Sumatera (Jambi) bernama Dara Petak. Sebab itu, darah yang mengalir di tubuh Jayanagara bukanlah pure Jawa. Anggapan yang relatif rasis ini merupakan fenomena sebuah kancah politik hegemoni dalam kekuasaan aneka suku bangsa tatkala itu. Buktinya, pernah tahun 1316 M muncul pemberontakan Nambi yang menurut gimonca.com muncul akibat sentimen “darah” Jaya Nagara tersebut. Meski pemberontakan itu berhasil dipadamkan, seolah sesuatu yang laten (faktor rasisme) ‘menyala’ dalam politik Majapahit ini. Tatkala Gajah Mada jadi kepala pasukan Bhayangkara, meletus pemberontakan Ra Kuti, salah satu pejabat istana tahun 1319 M. Pemberontakan ini cukup menohok, oleh sebab si pemberontak mampu menduduki ibukota. Jayanagara berikut istri Raden Wijaya dan putrinya (Tribhuwanattungadewi, Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita) mengungsi ke Bedander. Selaku kepala pasukan keamanan, Gajah Mada memastikan keamanan raja dan keluarga. Setelah dinyatakan save, ia berbalik ke ibukota guna menyusun serangan balasan. Ia meneliti kesetiaan rakyat dan pejabat Majapahit kepada Raja Jaya Nagara dengan memunculkan isu keterbunuhan raja. Menurut anggapannya, raja dan sebagian besar pejabat Majapahit menyayangkan kematian raja dan membenci perilaku Ra Kuti. Atas dasar ini, Gajah Mada menyusun serangan balasan secara kemiliteran, dan berhasil membalik keadaan. Pemberontakan Kuti pun dipadamkan. Raja dan keluarganya kembali ke ibukota. Kebijakan Jayanagara ditopang oleh kemampuan politik Arya Tadah, mahapatih Majapahit. Fokus kebijakan raja dan mahapatih ini adalah stabilitas politik dalam negeri. Jadi, Majapahit belum lagi melakukan penaklukan ke pulau-pulau “luar” Jawa. Ini mengingat Gajah Mada belum memegang peran penting di dalam pembuatan keputusan politik level negara. Atas jasanya memadamkan pemberontakan Kuti, Jayanagara menaikan status Gajah Mada dari sekadar komandan pasukan Bhayangkara menjadi menteri wilayah (patih) dua daerah kekuasaan Majapahit: Daha dan kemudian, Jenggala. Posisi tersebut cukup berpengaruh mengingat dua wilayah tersebut diwenangi oleh putri Tribuwanattunggadewi (Daha) dan Dyah Wiyat (Jenggala), dua saudari tiri Jayanagara. Jayanagara sendiri belumlah memiliki putra laki-laki selaku penerus tahta. Bukti mengenai hal ini, seperti ditulis Heritage of Java, sebuah enskripsi bernama Walandit menceritakan gelar Gajah Mada dalam kekuasaan barunya itu adalah Pu Mada. Wilayah yang diwenangi kepatihan Gajah Mada adalah Jenggala-Kediri yang meliputi Wurawan dan Madura. Loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara tidaklah tetap. Versi cerita seputar perubahan loyalitas tokoh ini pada rajanya, paling tidak ada tiga. Seluruhnya berorama motif pribadi. Pertama, dari Charles Kimball yang menulis, loyalitas Gajah Mada terhadap Jaya Nagara mengalami titik balik tatkala raja mengambil istri Gajah Mada selaku haremnya. Kedua, Kitab Negara Kertagama olahan Empu Prapanca menulis, perubahan loyalitas Gajah Mada akibat mulai jatuh hatinya Raja Jayanagara terhadap dua saudari tirinya: Tribuwanattunggadewi dan Dyah Wiyat. Empu Prapanca ini akrab dengan Gajah Mada sendiri. Ketiga, novelis Langit Kresna Hariyadi, yang menulis loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara berubah akibat kekhawatian Gajah Mada atas mulai berubahnya sikap raja terhadap Tribhuwanattunggadewi. Ketiga asumsi tersebut melatarbelakangi proses meninggalnya Raja Jayanagara tahun 1328. Versi meninggalnya Jayanagara pun berlatar belakang loyalitas Gajah Mada pada Jayanagara. Versi Kimball menyatakan, Gajah Mada menskenario pembunuhan atas Jaya Nagara dengan memanfaatkan tangan Ra Tanca, tabib istana. Tanca dipaksa membunuh Jaya Nagara akibat suruhan Gajah Mada dalam suatu proses pembedahan atas diri raja. Versi ini didukung pula oleh pendapat Leo Suryadinata, yang juga menulis kekecewaan Gajah Mada akibat istrinya diambil oleh raja sebagai motif asasinasi. Setelah raja meninggal, Gajah Mada menuding Tanca ini telah membunuh raja dan ia pun dieksekusi mati olehnya sendiri. Peristiwa 1328 M ini menggambarkan rumitnya politik pada aras Palace Circle. Kepentingan pribadi berbaur dengan nasib dan masa depan suatu negara. Pada masa terbunuh dan digantinya Jayanagara ini, Odoric dari Pordonone, pendeta ordo Fransiskan dari Italia mengunjungi Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Setelah terbunuhnya Jayanagara, Gajah Mada berkeras Tribhuwanattunggadewi dijadikan ratu Majapahit. Belum ditemukan bukti yang cukup seputar alasan kekerasan hati Gajah Mada atas penunjukan ini. Namun, dari analisis ras, Gajah Mada mungkin khawatir singgasana akan jatuh pada Arya Damar, keturunan Raden Wijaya dari istri yang asal Jambi. Sementara, Tribhuwanattunggadewi adalah putri keturunan Raden Wijaya asli pulau Jawa. Mungkin saja, opini yang muncul saat itu adalah putra asli atau bukan. Atau, dimungkinkan pula, dengan beralihnya kekuasaan pada ratu ini, Gajah Mada lebih leluasa dalam mengambil tindakan. Konflik suksesi ini terbukti dengan baru dilantiknya Ratu Tribhuwanattunggadewi tahun 1329, sekurang-kurangnya menurut Charles Kimball. Pemimpin perempuan Majapahit ini berkuasa sejak 1329 hingga 1350 M. Pada fase ini, Majapahit memulai fase penaklukannya. Mahapatih Arya Tadah pensiun tahun 1329 M, dan praktis posisi tersebut jatuh ke tangan Gajah Mada. Tribhuwanattunggadewi sangat mendukung program-program Gajah Mada. Tahun 1331 M meletus pemberontakan Sadeng dan Keta, di wilayah timur Pulau Jawa. Gajah Mada mengirim ekspedisi militer ke sana dan berhasil memadamkan pemberontakan wilayah tersebut. Ra Kembar, salah satu bangsawan dan pejabat Majapahit berusaha menutup jalan pasukan Gajah Mada ke wilayah Sadeng, baik secara politik maupun militer.

          Dimana Gajah Mada Wafat….?

          Beberapa referensi menyebutkan bahwa Gajah mada wafat tahun 1364 M, akibat diasingkan dan dihianati oleh Hayam Wuruk sebagai suatu buntut peristiwa BUBAT dimana Gajah Mada di singkirkan ke wilayah Madakaripura dan hidup Gajah Mada di wilayah itu asketis (setabasri01.blogspot.com) Terdapat sejumlah tulisan yang menyebut bahwa ia menderita sakit ataupun dibunuh oleh Raja Hayam Wuruk (Rajasanagara) sendiri yang khawatir akan pengaruh politik Gajah Mada yang sedemikian kuat di Majapahit. Penaklukan Majapahit usai. Setelah tragedi Bubat ini, Hayam Wuruk mengarahkan politiknya ke arah stabilitas dalam negeri. Memang muncul beberapa pemberontakan di pulau “luar” seperti dari Palembang, yang minta bantuan Kekaisaran Cina untuk mengimbangi kuasa Majapahit. Namun, begitu pasukan Cina datang ke Palembang, wilayah itu sudah ditangani pasukan Majapahit dan ekspedisi Cina itu pun diluluhlantakkan. Dalam pandangan spiritual penulis Gajah Mada tidak dibunuh oleh Hayam Wuruk, namun dia begitu melihat sudah tak ada lagi kepercayaan dari sang Raja, dia menggunakan taktiknya untuk menghilangkan diri dari wilayah pengasingannya dengan diam-diam dia berangkat dengan membawa pasukan atau prajuritnya yang setia sampai mati sebanyak 40 orang berlayar menuju negeri asal kelahirannya yakni pulau Buton. Setelah melalui perjalanan panjang dari pulau Sumatera menuju pulau Buton Gajah Mada dan rombongan prajuritnya melewati kepulauan tukang besi yang sekarang dikenal dengan Wakatobi. Perlu diketahui bahwa Gajah Mada adalah seorang sakti mandraguna sebagaimana kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya Si Jawangkati sehingga dalam perjalannya pulau ke pulau Buton dia dituntun secara ghaib dan mendapatkan petunjuk-petunjuk spiritual. Oleh karena itu setelah melewati pulau Wangi-Wangi, Gajah Mada singgah dengan prajurit setianya sebentar disalah satu pulau kecil di bagian barat kepulauan Wangi-Wangi dengan memasang simbol-simbol disana. Pada saat rombongan Gajah Mada singgah di pulau ini dia disambut dengan baik oleh penghuni yang sudah lama mendiami pulau kecil ini diperkirakan pertengahan Abad XI yang tak lain adalah merupakan para hulubalang dan bajak laut (bajak laut tobelo). Para bajak laut di pulau ini terdiri dari sebagian besar adalah para prajurit Raja Khan yang berkuasa di Kamaru pertengahan abad IX dan sebagian asal Mingindanau, Papua, Tobelo, Lanun, Balangingi. Setelah beberapa saat Gajah Mada menyinggahi pulau kecil ini dalam pelariannya ke pulau Buton, akhirnya berdasarkan petunjuk ghaib, Gajah Mada memutuskan untuk wafat di pulau ini, sementara ke 40 prajurit setianya diperintahkan untuk melanjutkan perjalannya menuju pulau Buton dengan maksud agar kerahasiaan Maha Patih Gajah Mada yang amat sakti ini tetap terjaga. Gajah Mada akhirnya di pulau kecil sebelah barat wangi-wangi tersebut memutuskan untuk melakukan tapah brata didalam sebuah gua di wilayah Togo Mo’ori yang mana situasi gua tersebut didalamnya datar tembus ke laut dalam dan disanalah Maha Patih Gaja Mada meninggalkan alam maya padah ini dalam keadaan duduk bersemedi dengan salah satu bagian tangannya menggenggam cakram sebagai salah satu senjata andalannya. Bukti-bukti ontologisme dari salah seorang tua pertapa yang pernah menemukan Gajah Mada dalam gua ini pernah menkisahkan secara terbatas dalam kalangan keluarga tertentu di pulau wangi-wangi, karena ada rasa ketakutan luar biasa ketika melihat sosok orang tak bergerak dalam keadaan duduk bersemedi dalam sebuah bagian gua di pulau kecil tersebut. Selain itu bukti-bukti secara artifak sejarah yang belum terpublikasi dan hanya dikonsumsi dari kalangan metafisis penduduk salah satu desa yang terdapat di pulau wangi-wangi telah diriwayatkan oleh leluhurnya secara turun temurun adanya segumpal batu muncul kepermukaan laut ketika air laut surut dan batu ini dinamai batu Mada. Pengamatan secara spiritual setelah melalui pemantauan khusus secara metafisis, menunjukkan bahwa keberadaan batu Mada ini merupakan simbol yang sengaja dibuat oleh Gajah Mada, dimana dibawa batu tersebut diperkirakan merupakan penyimpangan sebuah selendang warna kuning yang konon dikisahkan sebagai selendang sakti.
          Sedangkan ke 40 orang prajurit setianya berlabuh di Batauga salah satu wilayah pulau Buton terdekat dari kepulauan wangi-wangi, dan merekapun setelah tiba di wilayah ini tidak begitu lama berselang kemudian mencari sebuah gua yang lebar dan luas. Dan di dalam gua inilah ke 40 orang prajurit setia Maha Patih Gajah Mada melakukan semedi berbulan-bulan sampai mereka semua meninggal secara bersamaan dan terkubur secara alamiah di dalam gua ini. Keberadaan Gua ini di Batauga di kenal dengan nama Gua Mada tepatnya terdapat di desa Masiri, kampung Mada di Batauga pulau Buton. Berdasarkan kisah konseptual, spiritual dan ontologisme riwayat Maha Patih Gajah Mada, maka postulat dapat disimpulkan bahwa Gajah Mada merupakan anak pertama dari Si Jawangkati dengan ibu bernama Lailan Mangrani yang tak lain adalah anak perempuan dari Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit. Si Jawangkati adalah salah seorang mia patamiana wolio yang pada zamannya dia memiliki kesaktian yang luar biasa dan disegani dikalangan penguasa pada saat itu. Masih diperlukan penelitian secara aksiologis untuk menguak tabir kisah Maha Patih Gaja Mada yang penuh dengan misterius selama ini oleh para ahli antropolog budaya, ahli ethnologis, ahli arkiologis dan ahli sejarah guna mendapatkan suatu naskah sejarah Indonesia yang benar sekaligus mengangkat harkat dan martabat orang-orang buton pada zamannya. ****

          *). Penulis adalah Ketua Umum Lembaga KABALI (bergerak sibidang pelestaran nilai-nilai tradisi, sejarah dan budaya Keraton Liya) .

          • Katur Ki Raharga,
            Wêngi………….
            Sansåyå nglangut, lingsir wêngi…………..

            Sugêng énjang

            [On 19 Maret 2011 at 15:38 Raharga said: Sekedar melengkapi: …………]

            Infonya menambah data dan informasi bagi peminat sejarah, khususnya sejarah Majapahit, dan lebih khusus lagi tokoh Gajah Mada, yang pada akhirnya semua yang dipaparkan tentang tokoh Gajah Mada ini masih memerlukan penelitian secara aksiologis, dengan lintas disiplin ilmu yang komprehensif untuk menguak kebenarannya.

            Banyak sekali cerita Gajah Mada, salah satu contoh “sejarah” Gajah Mada “versi” Ali Habiu yang Ketua Umum Lembaga KABALI ini. Namun bila kita telisik lebih jauh “sejarah” yang dipaparkan isinya banyak bernuansa mistis.

            Sekedar contoh, seperti tertulis pada naskah yang ditulis.

            1. “Berdasarkan petunjuk spiritual (cetak tebal dan cetak miring dari saya/Bayuaji) menyebutkan bahwa Gajah Mada merupakan anak pertama dari pasangan Si Jawangkati dengan Lailan Mangrani.”

            Pertanyaan:
            Siapa yang memberikan petunjuk spiritual, di mana, kapan, dalam wujud apa petunjuk itu. Dapatkah petunjuk itu dipertanggungjawabkan secara disiplin ilmu sejarah.

            2.batu Mada. Pengamatan secara spiritual setelah melalui pemantauan khusus secara metafisis (cetak tebal dan cetak miring dari saya/Bayuaji) menunjukkan bahwa keberadaan batu Mada ini merupakan simbol yang sengaja dibuat oleh Gajah Mada, dimana dibawa batu tersebut diperkirakan merupakan penyimpangan sebuah selendang warna kuning yang konon dikisahkan sebagai selendang sakti.

            Pertanyaan:
            Apa yang dimaksud pemantauan secara khusus, bagaimana caranya, apakah cara yang dipakai telah mengikuti kaidah-kaidah keilmuan sejarah.

            Di atas hanya dua contoh dari sekian pertanyaan yang muncul dari tuliasn Ali Habiu. Dan kita tahu bahwa sejarah masih dapat diperbarui atau direvisi, selama kajian terhadap penemuan-penemuan arkelogis, epik, dan sejenisnya yang menunjang masih terjadi. Sebagaimana telah berulang kali saya sampaikan bahwa Kebenaran sejarah bersifat hipotetik.

            Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta

            Nuwun

            cantrik bayuaji

    • Nyuwun pangapunten Ki Aryå Panji Satriå Pamêdar

      Cetakan di atas terlalu banyak bold atawa cetak tebal yang mengganggu.

      punåkawan.

      kertasipun mblobor mbokmenawi ki
      he he he …., kekirangan “tutup bold” sampun dipun tambah, lan kekathahen “buka bold” sampun dipun setip. sampun mboten blobor malih.

      • Matur nuwun Ki.

    • Sinaosa radi telat, kawula ngaturaken
      agunging panuwun katur Ki Bayuaji,
      prapteng wisma si Gembleh nenggo candhake.

      Sugeng dalu Ki Bayu.

  5. om Bayuaji, Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara kok ga ada ??

    • Nyi Dewi KZ

      Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
      On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
      https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

      Waosan kaping-14:
      KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

      sedangkan yang di:
      https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
      Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

      Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

      Nuwun

      Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

      cantrik bayuaji

      • hi hi ku nak buatin pdfnya kan waktu tu ku sdh izin om bayu, gak enak kalu loncat2, mana ku ga bisa jawa nya itu tu😛
        ku suka krn ada kandungan sejarahnya, lumayan la tuk nambah wawasan dikala kini fakta sejarah sering dibuat morat marit.
        ku coba cari deh
        trims yeee

      • om kalau yg ini ditaruh dimana om ko ga ada

        Dongeng sebelumnya:
        Waosan kaping-15 Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani. On 15 Maret 2011HLHLP 118

        • Ada kok Nyi di:

          https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

          (On 15 Maret 2011HLHLP 118)

          Semuanya sudah dipindah ke gandoknya.
          kesalahan sudah diperbaiki.
          Ngapunten, kemarin wira-wiri belum sepat pindah dongeng Ki Bayu

          • horeeee ketemuuu.. asikkkk, eh om Bayu kalo mau pdfnya ku kirim mintak emailnya
            trims
            Dewi

          • Nuwun,

            Nyi Dewi KZ

            Pesan Ki Bayuaji, beliau mengucapkan terima kasihnya atas upaya dan jerih-payah Nyi Dewi membuatkan versi pdf untuk Dongeng Arkeologi & Antropologi karya beliau, sehingga diharapkan semakin menyebar, tetapi demikian pesan beliau selanjutnya, beliau sudah merasa cukup dengan yang ada pada beliau sekarang ini, jadi Nyi Dewi tidak perlu bersusah-payah mengirimkan email ke beliau.
            Sekali lagi terima-kasih, dan sekarang Dongeng Arkeologi & Antropologi sudah punya cap merk. Cap merknya Nyi Dewi KZ. HIks….

            Matur kêsuwun
            Nuwun

            punåkawan

  6. Lho…..
    Komentar Anda sedang menunggu moderasi.

    Kêpribén kiyé…..

    Ngapunten Ki, nembe keasikan ndamel gandok lan boyongan rontal (teks) saking padepokan pelangisingosari dumateng padepokan enggal.
    lha terus pos satpam kosong,
    lha terus wonten pawongan ingkang pirso panjenengan ngasto rontal (isi dongeng), malah dipun wastani ngasto “BOM”. he he he …
    lha terus mboten angsal mlebet padepokan
    lha terus pawongan kala wau nembe lapor P. Satpam
    lha terus.., halah …, apa ta iki.

    Ngapunten….. (tangan ditelangkupkan diatas ubun-ubun sambil membungkuk)

    • Hiks….. salam hormat menjura Ki…

      Ya wis tak tåmpå sêmbah pangabêktimu ya nggèr Panji
      (Lha kok seperti main ketoprak, Nampaknya kita ada bakat main opera van singosari Ki)

      Ki Panji Satriå Pamêdar nih ada ada aja

      OPERA VAN SINGOSARI
      he he he …
      ide bagus tu
      Ki Bayu jadi dalangnya
      Pasti gayeng, ada Ki Tumenggung Kartojudo dan Yudha “Gundul” Pramana, Ki Rangga Widura, Ki Kompor “bara membara”, Ki Gembleh “lendut benter”, Ki Truno Podang, Ki Pandanalasan, dll.
      P. Satpam yang jadi tukang tepuk tangan dan ketawa. he he he …

      • Ssst. jadi SINDEN lanang pakDHE
        iso dhempet GITA dewi….he-25x

  7. Sugêng dalu

    Lanjutan SURYA MAJAPAHIT seri GAJAH MADA, Insya Allah akan diwedar.

  8. Wilujêng wêngi/i>

    Nampaknya Ki Bayuaji lagi sibuk dan asyik ngariung jeung batur lami. Mudah-mudahan beliau nggak lupa medar Dongeng Gajah Mada.

    Sampurasun

    • mboten menapa-menapa ki Puno
      gandok tidak kemana-mana kok
      masih setia menunggu.

  9. Hadu…..
    digawekke gandok ndik kene kok gak ana sing cangkrukan ta ya..?
    senenganne kok pada uwel-uwelan ndik gandok lawas.

    sabar nggih, mungkin dinten minggu nembe saget babad rontal malih.

    nuwun

    • Hiiiks, hawane ADEM cantrik2 do dhusel
      ki KOMPOR dHE,

      cari yang HANGAT2…katanya seh BEgitu,

      SELAMAT MALAM dHE,
      mangga RONda2 cantrik kancani keMANA pun
      pakdHE berLARI.

      • Ringan sama dijinjing
        kemanapun pak Satpam kita recokin

        • Sambil menyelam buang air…eh..minum air !

          • Setelah buang air, diminum sambil menyelam …
            Hiks

          • lebih enak,
            diselami dulu, baru
            disuruh minum airnya.

          • lebih enak,
            disulami dulu, baru
            minum air berSAMA2.

  10. Sugeng dalu Paklek Satpam
    Maaf, geser dikit dong
    Maaf, pinjem HP nya dong
    Xi xi xi xiiiiiii………..

    • SELAMAT PAGI PakDHE Satpam

      Maaf, GESER LAGI dong
      Maaf, pinjem DOMPET nya dong
      HI-HI-HI-HIIIIIIII……

  11. bleb…bleb…bleb…
    bbrrr…..bbrrr…..bbrrr….. (mengipas-ngipaskan rambut yang basah)

    ingak-inguk……

    Selamat pagi ki sanak

    P. Satpam masih istirahat nggih, dan nyilem lagi

    bleb…bleb…bleb…

    • bleb…bleb…bleb…
      bbrrr…..bbrrr…..bbrrr….. (mengibas-ngibaskan badan yang basah)

      tingak-tinguk……

      Selamat pagi ki sanak

      • Klêbus Ki…..

        Sugêng énjang

        • Lha injih Ki..nek nyilem kulo njih klebus..nek P Satpam kadhos Ontoseno sing klebus mung rambut-e……xixixi

          Sugeng enjing ugi….

  12. Nuwun
    Sugêng énjang ndungkap siyang

    Kulå, punåkawan katitipan rontal saking “om”nya Nyi Dewi KZ. hiks…. — Ki Bayuaji –:

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-17. Gajah Mada. (Parwa ka-2) Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Amangkubhumi Majapahit — Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa. 18 Maret 2011.

    Waosan kaping-18:
    GAJAH MADA [Parwa ka-3]

    SUMPAH TAN AYUN AMUKTIA PALAPA CIKAL BAKAL GAGASAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

    Dari sisi bentuk Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa adalah prosa. Sedangkan isinya mengandung pernyataan suci kepada Tuhan Yang Maha Esa yang diucapkan oleh Gajah Mada di hadapan ratu Majapahit Tribuwana Tunggadewi dengan disaksikan oleh para menteri dan pejabat-pejabat lainnya, yang substansinya:

    Gajah Mada demi kepentingan negaranya dalam upaya mempersatukan Nusantara di bawah naungan Negara Kesatuan Kerajaan Majapahit, dia rela tidak menikmati kesenangan hidup; yang diartikan tidak menikmati kenikmatan duniawi, dan lebih mengutamakan kepentingan negaranya di atas kepentingan pribadinya, baru mau melepaskannya apabila telah terkuasai Nusantara.

    Dari sisi nilai Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa mengandung pelbagai nilai: nilai kesatuan dan persatuan wilayah Nusantara, nilai historis, nilai keberanian, nilai percaya diri, nilai rasa memiliki kerajaan Majapahit yang besar dan berwibawa, nilai geopolitik, nilai sosial budaya, nilai filsafat, dsb.

    Dari sisi ideologi, Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa yang juga dikenal sebagai Sumpah Gajah Mada atau Sumpah Nusantara, memiliki ideologi kebhineka tunggal ikaan, artinya menuju pada ketunggalan keyakinan, ketunggalan ide, ketunggalan senasib dan sepenanggungan, dan ketunggalan ideologi akan tetapi tetap diberi ruang gerak kemerdekaan budaya bagi wilayah-wilayah negeri se Nusantara dalam mengembangkan kebahagiaan dan kesejahteraannya masing-masing, yang beragam-warna (berbhineka).

    Dari sisi energi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dianugerahi energi Ketuhanan Yang Maha Agung karena tanpa enerji tersebut tak mungkin Gajah Mada berani mencanangkan sumpah tersebut.

    Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa akan menjadi sangat menarik lagi apabila dikaji dengan pendekatan komunikasi. Pertanyaan-pertanyaan seperti: kepada siapa Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa diucapkan, dalam lingkungan apa (situasi, kondisi, iklim, dan suasana) Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dicanangkan, dengan sasaran apa dan siapa Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dideklarasikan, mengapa atau apa perlunya Gajah Mada mengumumkan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, dan manfaat apa yang mau dicapai adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab secara seksama. Betapapun Sumpah Gajah Mada itu kontekstual.

    Laksana pendahulunya, Sang Prabu Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa Sri Jnamasiwabajra Sang Kahngkaraneng Bhumi, yang mengantarkan Kerajaan Singasari kepuncak masa kejayaannya.

    Pujasastra Negarakertagama Pupuh 41 (5) mengabarkan:

    Kathakena muwah narendra krtanagaranghilangaken katungka kujana
    Manama cayaraja sirnna rikana sakabda bhujagosasiksaya pejah
    Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu
    Lewes mara bhayanya sangka rika dewamurti nira nguni kalaha nika
    .
    [Tersebut Sri Baginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat,
    Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Saka bhujagosasiksaya (1192),
    Tahun Saka nagasyabhawa (1197) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu,
    Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu sahaja].

    Serbuan ke Tanah Melayu yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu, sebagai sebuah operasi militer yang dilakukan Kerajaan Singasari di bawah perintah Raja Kertanagara pada tahun 1275-1293 terhadap Kerajaan Melayu Dharmasraya di Pulau Sumatera.

    Adalah Kertanegara, raja agung Singasari yang berjasa besar menghalau kekuatan asing untuk bercokol di bumi nusantara. Adalah sebuah nasionalisme yang tinggi. Prabu Kertanegara berniat memperluas daerah kekuasaan sampai ke luar Pulau Jawa.

    Negarakretagama pupuh 41 (5) menyebut pengiriman tentara oleh Kertanagara untuk menaklukkan Melayu pada tahun 1197Ç atau tahun 1275M.

    …Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu…
    [… Tahun Saka nagasyabhawa (1197Ç/1275M) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu,…]

    Menurut analisis para sejarawan, latar belakang pengiriman Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menghadang serbuan bangsa Mongol, yang pengaruh kekuasaannya telah meliputi hampir seluruh daratan Asia, termasuk kekaisaran Turki di Timur Tengah.

    Saat itu wilayah jajahan bangsa Mongol di bawah Kubilai Khan atau Dinasti Yuan sedang mengancam wilayah Asia Tenggara.
    Untuk itu, Kertanagara mencoba mendahuluinya dengan menguasai Sumatera sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut, dan tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk menggalang kekuatan di Nusantara di bawah satu kekuasaan Kerajaan Singasari.

    Semasa pemerintahan Kertanagara merupakan masa keemasan bagi kerajaan Singasari dan Kertanegara dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang bertekad ingin menyatukan wilayah Nusantara, salah satunya diwujudkan dalam ekspedisi Pamalayu.

    Prabu Kertanagaralah sang pencetus ide Cakrawala Mandala Nusantara, yang menjadi inspirasi bagi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada, yang kelak menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

    Gajah Mada mempunyai kesadaran penuh tentang kenegaraan dan batas-batas wilayah kerajaan Majapahit, mengingat Nusantara berada sebagai negara kepulauan yang diapit oleh dua benua yaitu Asia dan Australia, dan dua samudra besar Samudra Pasifik dan Laut Cina Selatan di Utara dan Timur Laut dan Lautan HIndias (Sêgårå Kidul) di Selatan dan di sebelah Barat.

    Dari kesadaran yang tinggi terhadap keberadaan Nusantara, Gajah Mada meletakkan dasar-dasar negara yang kokoh, sebagaimana terungkap dalam perundang-undangan Majapahit.

    Uraian singkat tersebut dimaksudkan untuk memberi gambaran bahwa kerajaan Majapahit khususnya ketika berada dalam penguasaan Gajah Mada telah berorientasi jauh ke depan, kalau istilah sekarang mempersiapkan diri sebagai negara yang modern, kuat, dan tangguh.

    Wilayah Nusantara Raya

    Yang menarik dipertanyakan adalah bagaimana cara menafsirkan wilayah-wilayah negeri yang disebut dalam Sewrat Pararaton dan Pujasastra Nāgarakṛtāgama.

    Pertanyaan ini muncul karena wilayah-wilayah yang disebut oleh Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa (dalam Serat Pararaton) hanya berjumlah sepuluh sedangkan yang disebut dalam Nāgarakṛtāgama sangat banyak sampai berjumlah 90 (terdiri dari Kawasan Melayu : 23, Kawasan Kalimantan : 22, Kawasan Hujung Medini : 14, Kawasan Timur Jawa : 16, dan Kawasan Timur lainnya : 15; ini belum termasuk Kawasan yang terdiri dari pulau-pulau lainnya.

    Ada dua negeri, yaitu Gurun dan Sunda, disebut dalam Serat Pararaton tetapi tidak disebut di dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama yang memuat 90 wilayah negeri itu. Sebaliknya banyak wilayah-wilayah negeri yang disebut di dalam Kitab Pujasastra Nāgarakṛtāgama yang berjumlah 90 negeri itu, tetapi tidak disebut di dalam Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa.
    Bagaimana menafsirkan kenyataan teks ini ?

    Serat Pararaton ditulis sesudah Kitab Nāgarakṛtāgama, yaitu tahun 1613 M. dalam arti semua wilayah Nusantara telah berada di dalam naungan dan wibawa Majapahit, namun tinggal hanya sepuluh wilayah negeri saja yang belum masuk ke dalam naungan dan wibawa Majapahit.

    Kalau begitu mungkinkah dapat diatafsirkan bahwa wilayah negeri yang sepuluh itu, merupakan negeri-negeri yang masih harus dipersatukan ke dalam Nusantara Raya?

    Artinya ke semua wilayah negeri sudah masuk ke dalam Nusantara sedang wilayah negeri yang berjumlah sepuluh itu memang perlu dinyatakan secara eksplisit dalam Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, sebagai wilayah negeri yang masih harus diperjuangkan supaya masuk ke Nusantara di bawah naungan dan wibawa Majapahit.

    Dari sini dapat ditafsirkan bahwa masyarakat pembaca sudah mengetahui wilayah-wilayah negeri Nusantara, namun bagi Gajah Mada belum puas rasanya kalau kesepuluh negeri tersebut belum masuk secara integratif ke dalam wilayah Nusantara Raya, oleh sebab itu Gajah Mada perlu mengeksplisitkan kesepuluh wilayah negeri tersebut ke dalam sumpahnya yang terkenal itu.

    Dengan kata lain terjadinya Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa disebabkan karena kesepuluh wilayah negeri tersebut dipandang masih belum sepenuhnya masuk berintegrasi ke dalam wilayah kawasan Nusantara Raya.

    Tafsir lain adalah bahwa wilayah-wilayah negeri seperti Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik adalah sekedar contoh saja dalam Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa untuk mewakili wilayah negeri Nusantara.

    Tidak seluruh wilayah negeri Nusantara disebut, mengingat terlampau banyak, sehingga terlampau panjang kalau diformat ke dalam sebuah sumpah seperti Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa.

    Dari keterangan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ketika Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dicanangkan oleh Patih Gajah Mada ketika itu, Majaphit telah memiliki wilayah negeri Nusantara yang luas, yaitu berjumlah 90 negeri, akan tetapi tinggal sepuluh wilayah negeri yang belum masuk ke dalam naungan wibawa Majapahit.

    Pada masa tahun-tahun tersebut situasi Nusantara sedang mengalami masa perpecahan antar suku bangsa, setiap daerah dan suku bangsa berperang satu sama lain, setiap daerah berdiri sendiri dan mempunyai kerajaan sendiri-sendiri. Tumasik (Singapura), Malaka, Kalimantan, Sumatera, Sunda, dan daerah-daerah lain di Nusantara berada dalam perpecahan dan peperangan.

    Barangkali ada sesuatu yang memprihatinkan dalam diri Gajah Mada melihat situasi sosial pada waktu itu, barangkali sudah lama tergerak dalam hatinya bahwa beliau punya mimpi untuk mempersatukan Nusantara dalam satu kerajaan yang berdaulat sehingga menjadi kekuatan yang disegani di wilayah Asia Tenggara.

    Situasi sosial politik yang sangat rentan dengan konflik pada masa itu, menjadikan suatu hal yang mustahil apabila bangsa-bangsa di Nusantara dipersatukan dalam satu wilayah yang berdaulat.

    Barangkali itulah yang membuat para pembesar lain menertawakan sumpah Gajah Mada. Ketika Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dicanangkan ada tantangan dari orang-orang sekitarnya.

    Jangan dikira bahwa ketika Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dicanangkan tidak ada tantangan dari orang-orang sekitarnya.

    Perhatikan kalimat berikutnya, seperti dikutib dari teks Serat Pararaton

    Sira sang mantri samalungguh ring panangkilan pepek. Sira Kembar apameleh, ring sira Gajah mada, anuli ingumanuman, sira Banyak kang amuluhi milu apameleh, sira Jabung Terewes, sira Lembu Peteng gumuyu. Tumurun sira Gajah mada matur ing talampakan bhatara ring Koripan, runtik sira katadahan kabuluhan denira arya Tadah. Akweh dosanira Kembar, sira Warak ingilangaken, tan ucapen sira Kembar, sami mati.

    (Mereka para menteri duduk di paseban lengkap. Ia Kembar mengemukakan hal-hal tidak baik kepada Gajah Mada, kemudian ia (Gajah Mada) dimaki-maki, Banyak yang menjadi penengah (malah ikut) menyampaikan hal-hal yang tidak baik, Jabung Tarewes mengomel, sedang Lembu Peteng tertawa. Turunlah Gajah Mada dan menghaturkan kata-kata di telapak bathara Koripan, marah dia mendapatkan celaan dari Arya Tadah. Banyak dosa Kembar, Warak dilenyapkan, demikian pula Kembar, mereka semua mati)

    Suatu khayalan ibarat orang yang sedang bangun tidur di waktu siang hari. Dalam alam berpikir logis pada masa itu, adalah suatu hal yang aneh bahwa Nusantara bisa dipersatukan, wilayah kelautan yang luas tentu membutuhkan angkatan laut yang kuat, sementara sarana transportasi belum sebaik sekarang ini.

    Wilayah Indonesia adalah wilayah yang dipenuhi laut, sangat berbeda dengan wilayah Asia Daratan, benua Eropa yang luas dan membentang, sehingga penaklukkan yang dilakukan para tokoh besar seperti Gengkhis Khan dari Mongol atau Alexander Agung dari Macedonia menjadi lebih cepat.

    Wilayah kelautan yang luas tentu sangat menyulitkan mobilitas pasukan Majapahit, apalagi kerajaan Majapahit pada waktu itu adalah sama dengan kerajaan lain di Nusantara, suatu kerajaan yang baru saja lahir, tentunya tidak mempunyai angkatan laut dan militer yang kuat.

    Apalagi di berbagai wilayah di luar Nusantara berdiri berbagai kerajaan asing seperti Siam (Thailand) Kerajaan Champa (Vietnam) dan Kekaisaran Tiongkok yang setiap saat pun bisa memperluas ekspansi ke dalam Nusantara.

    Suatu situasi sosial politik yang sangat rumit dan kompleks, pantas saja sumpah Gajah Mada ditertawakan oleh para bangsawan lain.

    Kutipan tersebut di atas, menengarai bahwa perjuangan mulai Gajah Mada untuk mempersatukan Nusantara Raya mengalami ancaman, tantangan, gangguan, dan hambatan tidak berbeda dengan perjuangan para pendiri bangsa ini ketika berjuang untuk mempersatukan bangsa Indonesia, ternyata mendapatkan rintangan-rintangan.

    Idealisme yang tidak terkalahkan

    Menghadapi semua tertawaan itu, apakah Gajah Mada surut dari tekadnya, tidak! Beliau memang dilahirkan sebagai seorang petarung dan pejuang sejati, pantang dirinya menyerah apabila sudah mempunyai tekad, walau tekad itu dirasakan sebuah mimpi, tapi dirinya yakin akan mampu membuktikannya.

    Suatu idealisme telah tertanam kuat dalam hatinya, idealisme yang tidak terkalahkan. Dan sumpah itu akhirnya beliau buktikan, satu persatu wilayah di Nusantara ditaklukkan dan dipersatukan dalam wilayah kerajaan Majapahit, dan Majapahit pun menjadi kekuatan yang disegani di kawasan Asia Tenggara, kerajaan Majapahit pun mencapai kejayaan dan kemakmuran.

    Gajah Mada tidak sekedar bermimpi tetapi juga membuktikan sumpahnya. Dan keberhasilan yang besar diraihnya adalah didasari suatu idealisme yang tidak terkalahkan. Hanya seorang saja beliau mampu menggerakkan suatu kekuatan dahsyat, yang mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan.
    Semua itu tidak mungkin terjadi andai Gajah Mada tidak mempunyai keyakinan yang kokoh, semangat pantang menyerah dan filosofi yang kuat.

    Idealisme dan ketegaran pribadinya menjadikan kewibawaan tersendiri di hadapan rakyatnya, sehingga beliau mampu menggerakkan rakyat dan para prajurit Majapahit menjadi kekuatan dahsyat yang mampu mempersatukan Nusantara.

    Satu hal yang membuktikan bahwa beliau mempunyai idealisme kokoh dan filosofi yang kuat serta kebersihan niat, adalah tekadnya yang tercucap: isun tan ayun amuktia palapa lamun durung huwus kalah nusantara .

    Artinya bahwa Gajah Mada demi kepentingan negaranya dalam upaya mempersatukan Nusantara di bawah naungan Negara Kesatuan Kerajaan Majapahit, dia rela tidak menikmati kesenangan hidup; yang diartikan tidak menikmati kenikmatan duniawi, dan lebih mengutamakan kepentingan negaranya di atas kepentingan pribadinya, sebelum Negara mencapai kejayaannya.

    Sungguh pribadi yang mengesankan. Memang beliau adalah berkualitas, keberadaannya menjadi fenomena yang aneh dan menarik serta sangat langka.

    Kalau kita berkaca di alam sekarang, barangkali tidak ada dan belum pernah ada tokoh sehebat Gajah Mada, pantas saja beliau berhasil mencapai sesuatu yang sangat mengagumkan, mengubah mimpi menjadi kenyataan.

    Memang dalam diri beliau tersimpan berbagai karakter emas yang sangat berbeda dengan para tokoh lain. Tetapi sosok itu memang pernah ada, dan yang sangat mengesankan adalah kepribadiannya yang emas, tidak gila harta dunia, mempunyai jiwa ksatria, ahli strategi, jenius, idealisme yang kokoh, filosofi yang kuat.

    Hikmah Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa

    Apakah Sumpah?: Arti kata “Sumpah” menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), adalah:

    1. pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dsb.);

    2. pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenar- annya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar;

    3. janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu).

    Ketiga pengertian tersebut di atas, baik secara sendiri-sendiri maupun secara keseluruhan dapat dipakai dalam konteks pengertian Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa.

    Pengertian tersebut berdimensi spiritual artinya tidak main-main. Oleh sebab itu tidak berlebihan, apabila dikatakan bahwa Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa itu sakral.

    Dalam perspektif sejarah Indonesia perjalanan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa hingga sekarang boleh dikata tidak mulus, disebabkan karena sesudah Majapahit tidak berfungsi secara optimal perjalanan sejarah berikutnya sampai dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dipernuhi dengan periode-periode sejarah yang tidak terpuji, seperti periode-periode Demak, Pajang, Mataram, dan pecahnya Mataram menjadi Yogyakarta dan Surakarta, di mana dalam periode-periode tersebut disibuki oleh konfrontasi budaya antara kaum tradisionalis yang diwakili oleh sisa-sisa kekuatan Majapahit dengan kaum pembaharu yang diwakili oleh kalangan Demak yang Islam, sementara itu dipercundangi oleh masuknya kekuatan VOC yang kemudian berubah menjadi penjajah.

    Tidak hanya itu, di kalangan lingkungan dalêm kraton Yogyakarta Solo terjadi peperangan yang kompleks, berupa perebutan kekuasaan di antara para bangsawan di kalangan kraton di tambah dengan campur tangannya Belanda untuk memecah belah dengan politik devide et imperanya.

    Tidak ayal lagi kalangan kerajaan-kerajaan Jawa tidak memiliki waktu yang baik untuk mengaktualisasikan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa Gajah Mada. Kalau dari kalangan bangsa Jawa sendiri tidak sempat memelihara Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa apalagi kalangan di luar Jawa (seberang Jawa)?

    Pada waktu Kemerdekaan Indonesia diproklamasi pada tangal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta, baru kebutuhan akan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia tampil mengemuka.

    Sejak waktu itu, lebih-lebih sekarang di mana terjadi salah penafsiran terhadap demokrasi beserta kebebasannya, Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dirasakan eksistensi dan perannya untuk menjaga kesinambungan sejarah bangsa Indonesia yang utuh dan menyeluruh.

    Seandainya tidak ada Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, boleh jadi Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dikoyak-koyak sendiri oleh suku-suku bangsa Nusantara yang merasa dirinya bisa memisahkan diri dengan pemahaman federalisme dan otonomi daerah yang berlebihan.

    Gagasan-gagasan memisahkan diri sungguh merupakan gagasan dari orang-orang yang tidak tahu diri dan tidak mengerti sejarah bangsanya, bahkan tidak tahu tentang jantraning alam (putaran zaman) Indonesia.

    Masa depan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa

    Bagaimana masa depan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa? Bagi orang yang mengerti Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa itu tidak hanya sakti, suci, dan membawa berkah, tetapi juga — dan ini justru yang teramat penting– mengandung amanat bagi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia untuk memelihara, mengembangkan, dan melestarikannya.

    Secara umum bangsa Indonesia yang majemuk itu sesungguhnya memiliki misi yang sama, karena bangsa-bangsa Nusantara hidup di atas landasan dasar yang sama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Wujudnya mereka hidup menggunakan jalan agama dan/atau jalan kebudayaan atau kedua-duanya, yang bersumber dari nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena Tuhan Yang Maha Esa itu mempunyai sifat hanya satu, yaitu yang baik-baik maka barang siapa memiliki sifat satu, ia di dalam dirinya bersemayam sifat Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Oleh karena rakyat dan bangsa Indonesia sudah dikaruniai fitrah yang sangat luhur, kenapa fitrah seperti itu tidak diaktualisasikan dan dikembangkan sebagai misi hidup manusia Indonesia?

    Secara rasional, spiritual, dan imajinatif misi hidup orang, komunitas, masyarakat, rakyat, dan bangsa Indonesia sesungguhnya sudah ada, terungkap dari dalam jati diri dan kepribadiannya masing-masing yang kalau dirumuskan secara plastis, berbunyi sebagai berikut: mêmayu hayuning bawånå (mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia).

    Jadi setiap orang Indonesia bahkan juga setiap orang di dunia wajib merealisasikan misi tersebut. Pendek kata bukan orang namanya kalau ia tidak memiliki kebiasaan untuk memberi, menyumbangkan, dan/atau melayani keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia.

    Dalam proyeksi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa posisi mêmayu hayuning bawånå sangat strategis, karena tanpa diberi energi Ketuhanan Yang Maha Esa dan mêmayu hayuning bawånå niscaya Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa tidak sakti, suci, dan membawa berkah, yang gejalanya dapat kita rasakan dengan munculnya aspirasi-aspirasi yang ingin membelot atau memisahkan diri dari NKRI atau mengubah NKRI menjadi negara-negara kecil yang tercerai-berai.

    Mereka yang tidak mengerti sesungguhnya hanya meniru-niru situasi dan pola negara lain, masing-masing daerah ingin berdiri sendiri seperti Uni Soviet yang sudah bercerai-berai, atau Yugoslavia yang terpecah-pecah ke negara-negara kecil.

    NKRI dicoba dirongrong oleh sejumlah orang yang ingin menyalurkan ambisi memisahkan diri, sesuatu yang rendah dan sempit itu?

    Sebagai sesama orang Indonesia yang menjunjung tinggi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa akan semakin sadar dalam kerukunan, solidaritas, serta kesatuan dan persatuan NKRI yang bersumber dari nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Meluhurkan Kebangsaan dan Kebudayaan Kita

    Setujukah kalau dikatakan bahwa bangsa kita memiliki kebudayaan yang luhur? Antara kebangsaan dan kebudayaan bisa pisah atau melekat tergantung dari situasi dan kondisi yang dihadapinya.

    Kalau sedang dalam kebaikan dan dalam kesadaran yang tinggi seseorang akan mengiyakan bahwa bangsa Indonesia itu memiliki budaya yang luhur, satu di antara misalnya karyênak tyasing sasåmå (membuat enak hati orang lain), dan contoh lainnya misalnya dari kutipan tembang Mijil terkenal:

    Dêdalané gunå lawan sêkti:

    kudu andhap asor,
    wani ngalah luhur wêkasané,
    tumungkulå yèn dipun dukani,
    bapang dèn simpangi,
    ånå catur mungkur

    (Jalan menuju ke kepandaian dan kejayaan,
    harus rendah hati,
    berani mengalah luhur pada akhirnya,
    tunduklah kalau kena marah,
    segala penghalang hendaknya dihindari,
    ada pembicaraan yang tidak baik hendaknya tidak didengar
    ).

    Banyak nilai-nilai luhur bangsa kita yang tersimpan dan terekam di dalam naskah-naskah dan sastra/budaya lisan. Setiap nilai luhur memiliki kadar perekat bangsa, bahkan juga memiliki kadar perekat kemanusiaan.

    Oleh sebab itu nilai-nilai luhur yang telah digali atau didhudhah dari naskah-naskah dan/atau sastra/budaya lisan, sebaiknya disebar luaskan melalui terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia tanpa melupakan teks aslinya.

    Menjadi tugas bagi para pejabat dan lembaga yang berwewenang menjaga keutuhan NKRI untuk menyebar luaskan nilai-nilai luhur tersebut ke seluruh orang-orang Nusantara, agar pergaulan kebhineka tunggal ikaan dapat terselenggara dengan baik di dalam pangkuan NKRI.

    Pergaulan semacam itu niscaya akan membawa pengertian tentang sifat, adat, perilaku, cara berfikir, dan sebagainya dari ke seluruh orang-orang Nusantara,

    Tantangan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa

    Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa tampil sebagai pernyataan dan tekad suci dari seorang Mahapatih Amangkubhumi yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan kerajaan Majapahit.

    Hubungan antara raja dan rakyat menurut tradisi Jawa sering digambarkan secara ideal sebagai loro-loroning atunggal (dua kekuatan yang manunggal) atau juga sering digambarkan sebagai manunggaling kawulå lan Gusti (manunggalnya rakyat dan raja).

    Hubungan seperti ini memang dalam kenyataan terjadi, di mana seorang raja tampil sebagai pemimpin yang wajib diteladani oleh rakyatnya. Rakyat diposisikan sebagai kawula yang diperankan senantiasa menurut kepada rajanya, akan tetapi sayangnya tidak merata untuk diperankan sebagai kekuatan produksi di bidang tugasnya masing-masing, misalnya pertanian, perikanan, perindustrian, dsb.

    Rakyat sebenarnya tidak mempunyai waktu luang yang memadai guna memikirkan filsafat (pandangan hidup), ideologi, ataupun pengetahuan-pengetahuan tinggi, karena waktunya habis untuk memikirkan hidupnya sehari-hari.

    Oleh sebab itu rakyat telah mempercayakan nasib hidupnya sepenuhnya kepada raja. Ini dihayatinya secara berkesadaran, sebab untuk apa melakukan kegiatan-kegiatan yang “aneh-aneh”, kalau tidak memiliki kekuatan yang sinergis untuk menjalankan sesuatu gagasan.

    Benar kalau dikatakan bahwa dalam konvensi budaya Jawa, rakyat adanya hanya narimå ing pandum (menerima nasib), lebih-lebih kalau seorang raja dimitoskan sebagai wakil Tuhan di dunia. Rakyat digambarkan dalam bahasa pewayangan sebagai binåndå sumånggå astå (diikat diberikan tangannya) dan tinigas sumånggå jånggå (dipenggal diberikan lehernya).

    Dalam konvensi budaya seperti itu dapat dipahami bahwa tenaga penggerak roda pemerintahan bersumber dari kalangan kerajaan. Raja beserta kroni-kroninya dipandang oleh rakyat sebagai orang-orang yang duduk di sebuah pentas berwibawa yang penuh dengan cahaya yang berkilau-kilauan. Ucapan Sabdo Panditå Ratu (Sabda seorang ratu tidak bisa ditarik), yang artinya sekali sesuatu sabda telah dikeluarkan oleh seorang raja mustahil dicabut kembali adalah kenyataan sehari-hari.

    Dari uraian tersebut dapat dibayangkan betapa Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa pasti diterima dengan penuh kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat “tempur” yang tinggi bagi rakyat yang mendengarkan, mengetahui, dan mengerti.

    Oleh sebab itu penyebar luasan ke seantero Nusantara tidak sulit diterima, karena sistem komunikasi yang efektif dilaksanakan dengan tradisi gêthok tular yang tentunya diperkuat oleh lembaran tertulis singkat seperti layaknya sebuah piagam.

    Dalam Serat Pararaton diceritakan ketika Gajah Mada di hadapan sang ratu dan disaksikan oleh para menteri dan pejabat lainnya mencanangkan sumpahnya sebagai pernyataan puncak tekad pengabdian yang dari seseorang yang menerima wisuda sebagai Patih Amangkubhumi, ternyata ada sejumlah pejabat tinggi yang melecehkan dan menertawakan, seperti yang dilakukan oleh Kembar, Jabung Tarewes, Lembu Peteng, Arya Warak, dan Banyak.

    Apa maknanya kalau dalam forum yang tertinggi di istana kerajaan Majapahit terjadi sikap yang terbuka seperti itu? Tentunya pembaca modern harap maklum, bahwa di dalam kerajaan Majapahit justru berlangsung tradisi pentas resmi yang demokratis.

    Untunglah sikap tidak terpuji dari pejabat-pejabat tersebut bisa diantisipasi dengan keperkasaan Gajah Mada. Arya Tadah kena marah sedangkan Kembar dan Warak mati terbunuh.

    Dari sini dapat disimpulkan bahwa sesuatu gagasan sekalipun tinggi mutunya tidak serta merta dengan mulus berhasil disosialisasikan di sekitarnya.

    Jêr basuki måwå béyå, artinya tidak ada kebahagiaan tanpa pengorbanan, dan ini berlaku universal. Meskipun Pararaton tidak menceritakan pelaksanaan dari Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa namun dari Pujasastra Nāgarakṛtāgama dapat diketahui bahwa melalui Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa terbentang luas wilayah negeri Nusantara yang berada di bawah panji-panji Majapahit.

    Pertanyaannya adalah bagaimana sekarang menjaga kelestarian-nya dalam wadah NKRI? Di atas telah diterangkan bahwa karena kerajaan-kerajaan di Nusantara sesudah Majapahit disibukkan dengan masuknya paham baru yang dipercundangi oleh masuknya VOC yang ternyata membawa penjajahan Belanda, maka nasib Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa nampaknya cat kapirêng, cat mbotên (kadang-kadang terdengar, kadang-kadang tidak).

    Kalau dirumuskan kesibukan-kesibukan tersebut berupa kesibukan politik yang melibatkan kesibukan kalangan elit. Yang jelas karena kesibukan politik, maka banyak kalangan atas termasuk raja-raja sedikit atau bahkan mungkin lupa memelihara pesan budaya berupa kesatuan dan persatuan Nusantara.

    Kesatuan dan persatuan Indonesia sebagai alat untuk mengusir penjajah Belanda yang menguasai hampir seluruh Nusantara ternyata ampuh untuk mengembalikan wilayah jajahan Belanda ke tangan rakyat dan bangsa Indonesia. Peristiwa pengusiran penjajah Belanda langsung atau tidak langsung, sadar atau tidak sadar harus dibaca sebagai realisasi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa yang sakti itu.

    Sekarang dapat diketahui dengan jelas, bahwa sejarah Indonesia paling tidak sejak zaman Majapahit berisi kisah-kisah tentang bersatu dan pecahnya Nusantara. Apabila kalangan atas hidupnya hanya disibukkan oleh urusan-urusan kekuasaan melulu dapat disimpulkan kesatuan dan persatuan pasti akan melemah.

    Dengan kata lain kuat dan lemahnya bahkan pekat dan pudarnya persatuan dan kesatuan di sebabkan karena tingkah polah golongan elit yang disibukkan dengan urusan-urusan politik yang tidak menentu itu.

    Segera tergambar bahwa kelemahan dari elit politik pada waktu itu adalah:

    a. Cepat terpukau kepada ajaran/ideologi/konsep yang datang dari luar, sampai-sampai mampu melepaskan dengan mudahnya ajaran/ideologi/konsepnya sendiri yang telah berurat berakar ke dalam lubuk hati rakyat dan bangsa Nusantara. Dengan kata lain ada kebiasaan yang tidak baik di kalangan elit bahwa mereka itu cepat bosan terhadap miliknya sendiri yang indah itu. Dengan kata lain kaum elit sedikit sekali yang setia terhadap ajaran/ideologi/konsepnya sendiri. Apakah sifat cepat bosan itu menjadi sifat umum dari umat manusia?

    b. Terasa tidak ada kebiasaan menerapkan sistem check and balance (kontrol keseimbangan) di antara raja dan kalangan elit di sekitarnya di satu pihak, serta antara kalangan kerajaan dan kalangan rakyat di lain pihak. Rakyat nampaknya hanya dianggap sebagai patung-patung yang tidak tahu apa-apa sedangkan kerajaan menganggap dirinya sebagai kalangan yang memiliki kekuasaan tertinggi tanpa kontrol.

    Sikap berlebihan seperti ini sesunngguhnya memberi peluang terhadap lahirnya gagasan-gagasan baru yang dianggapnya menjanjikan perubahan yang lebih baik, sekalipun dalam kenyataan tidak sesuai benar dengan jati diri dan kepribadian rakyat dan bangsa Nusantara yang telah lama memiliki resonansi Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Sikap yang berlebihan seperti ini juga memberi peluang kepada rakyat untuk berpandangan materialistis, sebab untuk apa bertinggi-tinggi memperjuangkan idealisme kalau tidak diperhatikan oleh para pemimpinnya ?

    Menghayati kehidupan zaman sekarangpun tantangan seperti itu tidak lepas bagitu saja. Sesungguhnya sama, hanya modusnya saja yang berbeda. Sama, karena tantangannya adalah kesibukan para elit bangsa Indonesia lebih banyak memikirkan capaian-capaian kekuasaan melalui jalan politik daripada membangun peradaban dan kebudayaan yang bersumber dari nilai-nilai luhur bangsa kita.

    Disamping itu cepat terpukau kepada pola pikir dan hasil iptek yang mutakhir khususnya yang datang terutama dari luar merupakan penyebab dari bangsa Indonesia kurang memikirkan masa depan dirinya sendiri.

    Kebutuhan bangsa terhadap pola pikir dan barang-barang iptek produk sendiri belum digalakkan. Sementara itu para pemimpin bangsa Indonesia pada umumnya seolah-olah tidak mau tahu bahwa bangsa Indonesia sesungguhnya masih menderita kebodohan, kemalasan, dan kemiskinan yang sesungguhnya sudah lama dirasakan.

    Apalagi ditambah dengan sifat-sifat selalu ingin memperoleh yang serba instant, dianggapnya praktis, namun cepat bosan, latah, dêmên nyar (senang yang serba baru). Hasil karya bangsa lain dianggapnya lebih unggul, tidak menyadari potensi bangsa sendiri dan enggan mengembangkannya.

    Kelemahan-kelemahan dan sifat-sifat yang tidak terpuji itu ternyata justru menjadi lahan yang empuk bagi kekuatan-kekuatan asing untuk memasarkan pemikiran-pemikiran baru dan produk-produk iptek baru mereka.

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    Amanah sudah disampaikan. Matur nuwun

    punåkawan

    • Matur nuwun Ki Puna, Ki Bayuaji, Ki Ajar Sengkaling dan tentu saja Ki P Satpam….

      • idem Ki Karto,
        cuma diimbuhi, nengga tuutug’ipun.

        • iyem ki Gembleh,

          cuma ditambahi…aYOO pak SATPAM
          wes wayahe keliling Padepokan2

          • item ki Gundul,

            cuma ditambahi…aYOO pakdhe
            cutinE sampe kapan…??!!

  13. Sugêng énjang

    • Sugeng enjang Ki Puna

  14. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-18. Gajah Mada. (Parwa ka-3) Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa cikal bakal gagasan NKRI

    Waosan kaping-19:
    GAJAH MADA [Parwa ka-4]

    PENGABDIAN DAN KEHIDUPAN GAJAH MADA

    Kaidah-kaidah Utama Pengabdian Gajah Mada

    Nusantara menyimpan begitu banyak khasanah budaya yang terangkum baik dalam ide, gagasan, dan wujudnya. Salah satunya adalah bahwa nenek moyang bangsa di Nusantara ini mempunyai beberapa pegangan untuk dipergunakan dalam memimpin masyarakatnya.

    Hampir seluruhnya pegangan tersebut sudah terkristalisasi dalam berbagai bentuk tembang dan juga nasihat, ular-ular, pituturpituduh dan wewaler — luhur.

    Beberapa hal yang pernah diwedar pada Dongeng Arkeologi & Antropologi adalah:

    1. Seri Pitutur – Pituduh dan Wewaler, terdapat 21 judul wedaran yang dapat dibaca di: https://pelangisingosari.wordpress.com/Seri Pitutur-Pituduh dan Wewaler/

    2. Seri Magawe Rahayu Magawe Kerta, dongeng Sang Prabu Siliwangi dalam Sang Hyang Siksa Kandang Karesyan dan Uga Wangsit Siliwangi (Wangsit Niskala Wastu Kancana Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji), dapat dibaca di: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-magawe-rahayu-magawe-kerta/

    Selain itu ada juga contoh perbuatan yang lain. Salah satunya adalah Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, seorang raja besar di Kerajaan Singasari, yang di masa pemerintahannya Singasari mencapai puncak kejayaannya, namun sebagai manusia biasa beliau juga tidak luput dari kesalahan, dan boleh jadi karena keslahannya itu, maka kerajaan Singasari yang beliau pimpin runtuh. Baca di https://pelangisingosari.wordpress.com/Seri sri-maharajadhiraja-krtanagara/.

    Demikian juga halnya yang tercatat dalam prasasti semasa Kerajaan Mataram Kuno, tentang moral seorang pejabat negara, dalam judul Pemerasan oleh Petugas Pajak yang digagalkan oleh Penegak Hukum, dapat dibaca di https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/3/

    Selengkapnya, silakan pårå kadang dapat berkunjung ke Gandhok Dongeng Arkeologi & Antropologi di https://pelangisingosari.wordpress.com/dongeng-arkeologi-antropologi/

    Tokoh Besar yang bernama Gajah Mada sangatlah fenomenal. Menarik untuk mempelajari kesuksesan seorang anak desa kebanyakan yang terbukti berhasil membentuk suatu negara besar yang teritorialnya diperkirakan lebih luas daripada NKRI sekarang ini.

    Rasa kagum ini sungguh tak terkatakan karena sang tokoh besar telah membuat sesuatu yang hampir mustahil dilakukan orang-orang pada zaman itu, bahkan pada zaman sekarang ini.

    Sejarah mencatat, ternyata suskes besar tokoh ini terletak pada kekuatannya dalam meyakini dan menjalankan prinsip-prinsip utama pengabdiannya.
    Gajah Mada pernah ngudåråså: ”Saya merasa diri saya sebagai sepotong kayu dalam gundukan kayu api unggun. Sepotong dari ratusan atau ribuan kayu di dalam api unggun yang menyala-nyala. Saya menyumbangkan sedikit kepada nyalanya api unggun itu, tetapi sebaliknya saya dimakan oleh api unggun itu. Dimakan api unggun itu”.

    Sebagai Mahapatih Negara sebesar Majapahit, Gajah Mada bekerja dengan cara-cara manajerial yang prima bekerja atas dasar prinsip, filsafat, dan nilai-nilai yang luhur; bervisi kuat serta mampu menerjemahkan menjadi misi yang jelas; ahli membuat strategi dan organisator yang ulung yang piawai menjalankan aksi program untuk mentransformasikan semua tujuan menjadi kenyataan.

    Gajah Mada bukanlah seorang utopis, tetapi seorang idealis yang bekerja keras sekuat tenaga mewujudkan idealismenya.

    Mpu Prapanca mengabadikan tokoh besar ini yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk negara, yang memiliki setidaknya lima belas sifat yaitu kaidah-kaidah utama pengabdian yang efektif.

    Prinsip-prinsip ini bersumber dari filsafat yang dipegang dan diyakininya.
    Tat twam ashi, Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”.

    Tat twam ashi, [Aku adalah engkau, ungkapan lainnya sama dengan Sirå yå Ingsun, Ingsun yå Sirå];

    Bhinneka tunggal ika, (Bhine ika tunggal ika) [berbeda-beda itu tetaplah satu jualah itu] {Ika (Jawa Kuno) = iku (bahasa Jawa yang dipakai sekarang)};

    Tan hana dharma mangrwa [tiada kesetiaan yang mendua];

    yang bersumber dari ajaran Mpu Tantular dan memberi inspirasi amat bermakna kepada beliau sehingga menjadi seorang tokoh besar.

    Suatu pandangan hidup yang mencerminkan spiritualitas Jawa yang bersifat holistic spirituality.

    Pandangan spiritualitas semesta ini mewarnai kehidupan Gajah Mada termasuk perilaku pengabdiannya sekaligus kepemimpinannya.

    Pandangan hidupnya membentuk Visi Trihita Wacana dan visi ini menjiwai “Kaidah-kaidah Utama Pengabdiannya”.

    Inti Trihita Wacana adalah terciptanya hidup harmoni, yaitu untuk mencapai jagaddhita dan moksa (keseimbanagn lahir dan batin), dalam kehidupan ini harus dilaksanakan keharmonisan antara:
    1. manusia dan Penciptanya;
    2. manusia dan alam;
    3. manusia dan manusia.

    Berdasarkan Pujasastra Nāgarakṛtāgama minimal diketahui ada lima belas prinsip “Kaidah-kaidah Utama Pengabdian Gajah Mada” mencerminkan keutuhan dan keseimbangan ketiga kecerdasan yang sekarang ini dikenal dengan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ)..

    Penghayatan dan pengamalan Trihita Wacana ini akan membentuk bahkan meningkatkan sebuah kualitas hidup.

    Secara garis besar kadiah pengabdian dan kepemimpinan tokoh besar ini dapat diklasifikasikan manjadi tiga dimensi: spiritual, moral dan manajerial.

    Namun beberapa penulis menambahkan tiga prinsip lagi sehingga menjadi delapanbelas prinsip, yang dibukukan dalam Pustaka Astadasa Kottamaning Prabu.
    Namun hal ini perlu dikritisi lebih lanjut jika ingin mengungkapkan kebenaran adanya pustaka ini.

    Terlepas dari perdebatan apakah lima belas atau delapan belas prinsip, tetapi kesemuanya ini adalah sebagai pitutur luhur, setidaknya menurut Nāgarakṛtāgama, merupakan garis-garis besar pengabdian Sang Maha Patih Gajah Mada yang diterapkannya di dalam menjalankan roda pemerintahan Majapahit.

    Astadasa Kottamaning Prabhu sering diterjemahkan sebagai Delapan Belas Rahasia Sukses Kepemimpinan, tentunya yang dimaksud adalah kepemimpinan Maha Patih Gajah Mada.

    Namun dari Pujasastra Nāgarakṛtāgama diketahui bahwa Gajah Mada adalah rajadhyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawartting jagat. (tangan kanan maharaja, yang menggerakkan roda pemerintahan). sehingga lebih tepat kalau diartikan sebagai Kaidah-kaidah Utama Pengabdian. Raja yang memerintah pada waktu itu adalah Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

    Mpu Prapanca dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama menyatakan: mantri wira wicaksaneng naya matenggwan satya bhaktya prabhu.wagmi wak apadu sarjjawopasama dhirotsaha tan lalana (menteri wira, bijaksana, bertanggung jawab penuh atas kepercayaan, setia bakti kepada Negara, fasih berbicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur).

    Kemudian: widnya, tan satrsna, masihi samasta bhuwana, gineng pratidina, dibyacitta, sumantr, anayaken musuh.

    Yang ditambahkan kemudian setelah yang limabelas adalah: ambek parama artha, waspada purwa wisesa, prasaja

    1. widjnya: bijaksana dan tenang dalam menghadapi persoalan yang sangat genting, serta mampu menciptakan ketentraman.

    2. mantriwira: wira (berani) bertindak tegas dalam membela kepentingan negara; wira (berani) bertindak tegas dalam membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan, bersedia mempertaruhkan raga dan jiwanya untuk kepentingan negara,

    3. wicaksaneng naya : bijaksana dalam segala tindakan, serta membina hubungan dengan semua pihak

    4. matenggwan: bertanggung jawab penuh atas kepercayaan dari rakyat dan negara yang di berikan kepadanya; menghormati dan memegang teguh kepercayaan itu, dan menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai kehormatan, dan bersedia merpertanggung-jawabkannya sebagai seorang abdi Negara.

    5. satya bhakti aprabhu: memiliki kesetiaan dan keikhlasan yang tinggi untuk berbakti kepada Negara, Nusa dan Bangsa.

    6. wagmiwak: mempunyai kepandaian berbicara dengan tutur kata yang sopan, serta serta mampu menggugah semangat rakyat; teguh mempertahankan pendirian dengan alasan dan keyakinan yang kuat.

    7. sarjjawa upasama: teguh tangkas, namun ramah dan rendah hati; sepi ing pamrih, sabar dalam menghadapi cobaan.

    8. dhirotsaha: bekerja dengan rajin dan bersungguh-sungguh, tak mengenal lelah, serta berhati teguh dan tekun bekerja, memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan negara.

    9. tan lalana: cerdik, jujur, tak pernah berputus asa, berupaya selalu menunjukkan kegembiraan di depan orang lain, meskipun dia sendiri berduka.

    10. tan satrsna: berdiri di atas semua golongan, tidak pilih kasih dan memihak terhadap salah satu golongan tertentu; mampu mengatasi segala paham golongan.

    11. masihi samasta bhuwana: mencintai alam semesta, menciptakan dan memelihara keseimbangan alam jagad raya, menyayangi seluruh isi alam semesta, memelihara dan bersahabat dengan penghuni jagad raya, mencintai dan dicintai rakyatnya.

    12. gineng pratidina: di dalam kesehariannya senantiasa berfikir, berkata dan bertindak mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan, selalu mengerjakan yang baik dan meninggalkan perbuatan buruk.

    13. dibyacitta: lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain; selalu berbaik hati dalam berhubungan dengan orang lain.

    14. sumantr: setia kepada hukum, tegas, jujur, bersih, dan berwibawa; ahli dalam bidang tugasnya sebagai abdi Negara.

    15. anayaken musuh: memusnahkan musuh, menyingkirkan ancaman, tantangan, gangguan, dan rintangan dengan gagah berani demi cita-cita luhur, untuk negara dan bangsanya.

    16. ambek parama artha: pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum.

    17. waspada purwa wisesa: selalu waspada dan mau melakukan mawas diri untuk melakukan perbaikan.

    18. prasaja: berpola hidup sederhana (aparigraha), menghindari kehidupan yang serba mewah (zuhud) dan gemerlapan.

    Kedelapan belas prinsip garis-garis besar pengabdian tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga dimensi:

    i. Dimensi spiritual terdiri dari 3 prinsip,
    ii. Dimensi moral terdiri dari 6 prinsip, dan
    iii. Dimensi manajerial terdiri 9 prinsip.

    i .Dimensi spiritual terdiri dari 3 prinsip,
    1. widjnya;
    2. tan lalana;
    3. prasaja.

    ii.Dimensi moral terdiri dari 6 prinsip :
    1. mantriwira;
    2. sarjawa upasama;
    3. tan Satrsna;
    4. sumantr;
    5. sih samasta bhuwana;
    6. gineng pratidina.

    iii.Dimensi manajerial terdiri dari 9 prinsip :
    1. matenggwan;
    2. satya bhaktya prabhu
    3. wagmi wak;
    4. wicaksaneng naya;
    5. dhirotsaha;
    6. dibyacitta;
    7. anayaken musuh;
    8. ambek parama arta;
    9. waspada purwa wisesa.

    Di balik kehidupan Rakryan Mahapatih Gajah Mada

    Membicarakan sejarah adalah sesuatu yang sangat menarik, khususnya cerita tentang kepahlawanan dari para pendahulu bangsa, seakan menjadi obat tersendiri di saat suasana kehidupan yang tidak menentu.

    Sejarah adalah kisah kehidupan masa lalu yang terpantul untuk menjadi cermin. Dalam sisi lain membaca kisah sejarah adalah seperti membuat diri kita masuk dalam kehidupan masa lalu dari para pendahulu.

    Seringkali bahkan sudah tidak asing lagi di telinga kita tentang kehebatan sosok Mahapatih Gajah Mada, yang kisah kehidupannya menjadi menu wajib pelajaran sejarah bagi anak sekolah.

    Barangkali sudah berpuluh kali kita membaca kisah sejarah Patih terkenal dari Kerajaan Majapahit ini, tapi mungkin selama ini apa yang kita baca baru menyentuh sisi permukaan, belumlah mencapai sisi nilai-nilai yang terpendam di balik semua itu.

    Setiap dari kita di jaman modern ini apalagi di tengah situasi kehidupan yang carut marut, di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang sedang dirundung berbagai masalah, kita pasti mendambakan kejayaan bangsa ini suatu saat nanti, memori kita dipaksa terbang menuju alam harapan dan keinginan bahwa semoga suatu saat nanti bangsa ini bisa menjadi bangkit dan mencapai kejayaan seperti kejayaan kerajaan Majapahit ratusan tahun silam.

    Mendambakan kehidupan kebangsaan yang damai, negara yang adil makmur penuh kesejahteraan dan kemakmuran, pastilah menjadi sesuatu yang menghiasi harapan dan keinginan kita suatu saat nanti, dalam diri kita dipenuhi harapan akan munculnya sosok tokoh baru, sosok pahlawan bangsa yang bisa membawa negeri ini kembali kepada kejayaan.

    Tetapi ada suatu hal yang terlupakan, kita mengharap ada seorang pemimpin yang lahir seperti Mahapatih Gajah Mada dan para tokoh hebat lainnya, tetapi diri kita terkadang lupa menggali nilai-nilai di balik kehidupan emas mereka, rahasia apa yang mereka miliki sehingga mereka bisa membawa perubahan besar dalam kehidupan bangsa.

    Ketika Mahapatih Gajah Mada menolak jabatan

    Tidak ada informasi dalam sumber sejarah yang tersedia saat pada awal kehidupannya, kecuali bahwa ia dilahirkan sebagai seorang biasa yang naik dalam awal karirnya menjadi Begelen atau setingkat kepala pasukan Bhayangkâri pada Raja Jayanagara (1309-1328) terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir Mada sedangkan nama Gajah Mada kemungkinan merupakan nama sejak menjabat sebagai patih.

    Menurut Pararaton, Gajah Mada sebagai Bêkêl Bhayangkâri yang berhasil memadamkan Pemberontakan Ra Kuti, dan menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328).

    Selanjutnya di tahun 1319 ia diangkat sebagai Patih Kahuripan, dan dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Daha Kadiri.

    Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Arya Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Dan menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui, tetapi ia ingin membuat jasa dahulu terhadap Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang memberontak terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya dapat ditaklukan. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1351) yang waktu itu telah memerintah Majapahit setelah terbunuhnya Jayanegara.

    Membaca kisah sejarah dari awal karir Mahapatih Gajah Mada membuat diri kita akan terkagum-kagum oleh karakter dan kepribadiannya. Memang beliau adalah sejak awal karir memang telah menunjukkan jatidiri bahwa kelak akan menjadi tokoh yang hebat.

    Betapa tidak, beliau berani menolak jabatan yang datang sendiri kepadanya. Jabatan Patih adalah jabatan yang tinggi dan superior dalam birokrasi kerajaan. Patih Arya Tadah adalah patih senior yang kekuasaannya sebagai orang kedua di kerajaan dan menjadi tangan kanan Sang Maha Prabu, suatu jabatan yang tinggi dalam hirarki kerajaaan Majapahit.

    Barangkali kalau dalam alam pemerintahan sekarang, jabatan Patih Arya Tadah adalah Perdana Menteri. Jabatan tinggi dalam kenegaraan, menjadi salah satu orang penting dalam suatu Negara.

    Yang sangat mengagumkan diri kita bahwa penolakan Gajah Mada kepada jabatan super bergengsi tersebut adalah idealisme dalam dirinya yang mau menerima jabatan tinggi tersebut setelah beliau berbuat jasa kepada Negara terlebih dahulu.

    Ada beberapa karakter kepribadian yang bisa kita tangkap dari peristiwa tersebut :
    1. idealisme kokoh sejak awal karir.
    2. harga diri yang tinggi.
    3. sifat ksatria.
    4. sosok yang tidak ambisius dan mudah tergoda oleh godaan duniawi.
    5. loyalitas tinggi kepada Negara dan keinginan yang besar untuk mengabdi kepada rakyat, Negara di atas kepentingan pribadinya.

    Sikap penolakan kepada suatu jabatan yang prestisius adalah menunjukkan idealisme dan filosofi yang sangat kuat berada dalam dirinya. Idealisme dan filosofi adalah kekuatan yang maha dahsyat, suatu kekuatan kasat mata, tidak terlihat tapi mampu menggerakkan dunia. Itulah hebatnya idealism dan filosofinya.

    Andai Gajah Mada bukan sosok yang mempunyai idealisme kokoh dan sebuah filosofi yang dalam, mungkin dengan cepat beliau akan menerima tawaran jabatan tersebut.

    Siapa tidak tergoda oleh jabatan tinggi pemerintahan. Tapi Gajah Mada berhasil menepis godaan dunia politik, dia mempunyai idealisme yang tinggi, harga diri yang kuat dalam diri beliau, yang tidak mau menerima jabatan sebelum beliau sebelum berhasil membuktikan kemampuannya.

    Beliau tidak mengobral janji banyak dan muluk-muluk, bahkan beliau tidak perlu sêsorah untuk mencari jabatan, justru jabatan itu datang sendiri kepada beliau, tetapi beliau tolak, karena harga diri, idealisme dan sifat ksatria dalam diri beliau yang tidak mau menerima jabatan kalau tidak mampu.

    Sungguh suatu sifat yang sangat terpuji dan hebat.
    Kita sering terkagum-kagum oleh para pejabat dari negeri asing yang mempunyai sifat ksatria, yang meletakkan jabatan karena merasa gagal dalam tugasnya, tetapi diri kita seakan telah lupa bahwa nenek moyang kita dahulu pun lebih hebat daripada mereka, sosok Gajah Mada yang mempunyai sifat ksatria, harga diri yang tinggi dan idealisme kokoh.

    Sungguh sangat berbeda dengan keadaan sekarang ini, banyak orang yang berlomba-lomba ingin dipilih untuk menjadi pejabat negara atau pejabat pemerintahan, sementara diri mereka belum menunjukkan kemampuannya yang nyata.

    Bahkan jauh hari sebelumnya mereka sudah mengobral janji muluk-muluk dan menebar pesona, janji perbaikan ekonomi dan macam-macam penawaran manis, seolah-olah hanya dialah di permukaan bumi ini yang “merasa terpanggil” dapat memakmurkan negeri. Konon begitulah alam demokrasi, demikian kata mereka sebagai suatu pembenaran atas sikap dan tingkah lakunya, seolah-olah ingin mereka katakan juga bahwa hal demikian itu merupakan panggilan nusa, bangsa dan negara, demi untuk kepentingan rakyat.

    Benarkah demikian?

    Tetapi yang terjadi kemudian mereka lupa, bahwa setelah terpilih menduduki jabatannya, menguaplah janji-janji manis mereka, yang ada kemudian di antara mereka justru membagi-bagi ‘kue kemenangan’ di antara mereka, seolah-olah merekalah pemilik tanah air ini dan merekalah yang paling berhak mengaturnya.
    Mereka tidak sadar bahwa jabatan itu adalah amanah.
    [Mohon dibaca di Gandhok HLHLP 105. On 18 Februari 2011 at 06:53 punakawan bayuaji said: PEMIMPIN & KEPEMIMPINAN]

    Dan yang paling spektakuler adalah tekad Sang Mahapatih Gajah Mada untuk tidak mau bermewah-mewah sebelum berhasil membuktikan sumpahnya.

    Sangat berbeda dengan keadaan sekarang, ketika rakyat bersusah payah untuk mempertahankan hidupnya yang memang sudah sangat susah, para petinggi negeri dan pangêmbating pråjå tega berlomba-lomba memperkaya diri dengan segala cara untuk meraih kemewahan duniawi, rumah mewah, mobil mewah dan berbagai fasilitas lain yang menggiurkan, sementara apa yang bisa dia berikan untuk Negara dan Rakyatnya?

    Ironisnya justru tindak korupsi seakan menjadi fenomena yang biasa di kalangan para punggawa negeri, dan menjadi sistem yang kalau perlu di’restu’i, bahkan dilakukan secara bersama-sama.

    Berbagai retorika indah dilontarkan, menebar pesona dengan berbagai teori yang diperdebatkan untuk memajukan negeri ini, tapi Gajah Mada tidak membutuhkan semua retorika itu, pilih aku menjadi pemimpinmu andai aku mampu mengembannya, pilih aku, angkatlah aku menjadi pejabat dan pemimpin kalian kalau aku bisa membuktikan kemampuanku, kalau aku tidak mampu jangan sekali-kali kalian memilih aku sebagai pemimpin.

    Itulah beliau, sisi emas di balik kehebatannya, rahasia beliau kenapa bisa membawa kerajaan Majapahit mencapai puncak kemakmuran dan kejayaan serta mengubah mimpi menjadi kenyataan. Dan memang sosok seperti beliau belum terlahir lagi di zaman sekarang, sosok yang hebat dengan segala kepribadiannya yang mengesankan.

    Dan memang sangat jauh beda kualiatasnya, maka tidak heran kalau tokoh seperti Gajah Mada sampai sehebat itu. Jiwa yang kokoh, sifat ksatria, harga diri yang tinggi, idealisme yang kokoh bercokol kuat dalam hatinya, sangat mengagumkan.

    Ramai orang mengejar jabatan, menawarkan berbagai progam dan agenda, tapi bagi Gajah Mada tidak memerlukan seribu janji, bahkan tidak perlu mencalonkan dirinya menjadi pejabat, apalagi sampai mengeluarkan uang banyak buat memuluskan ambisinya, cukup dengan satu kalimat, pilihlah aku jika aku mampu dan sudah berhasil menunjukkan kemampuanku, kalau aku tidak mampu segera lemparkan aku keluar karena aku tidak pantas menyandangnya.

    Barangkali andai sosok Gajah Mada terlahir lagi ke alam Indonesia modern ini, bisa jadi beliau akan menjadi tertawaan orang, menjadi sosok aneh yang aneh daripada yang lain, seorang politikus yang unik, tetapi itulah sosok Gajah Mada, sosok yang mempunyai filosofi yang tinggi, mempunyai loyalitas pengabdian yang tinggi kepada Negara.

    Beliau berkarir dalam politik diawali suatu filosofi bahwa dia mau mengabdikan diri kepada Negara, bukan mencari kekayaan duniawi dan jabatan bergengsi demi kebanggaan diri, andai beliau mencari prestise dan kekayaan duniawi, pastilah sudah menerima jabatan patih yang bergengsi di istana Majapahit, tetapi beliau menolaknya karena bukan kekayaan dan prestise yang beliau cari, tapi sebuah loyalitas dan kecintaan kepada Negara di atas kepentingan pribadi atau golongannya.

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  15. On 25 Maret 2011 at 08:02 cantrik bayuaji said:
    Komentar Anda sedang menunggu moderasi.

    Lho…..?!

  16. ————————-
    Sugêng dalu
    ————————-

    Rondha jelang tengah malam, dan mohon maaf Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit belum sempat diwedar, mudah-mudah dalam beberapa hari ini.

    Nuwun
    mewakili Ki Bayuaji,

    punåkawan

  17. —————————
    Sugêng énjang
    —————————

  18. Nuwun
    Sugêng énjang

    Setelah agak lama ‘menganggur’ sehubungan alasan tehnis komputer, maka Insya Allah Dongeng Arkeologi & Antropologi akan mengunjungi sanak kadang di “Surya Majapahit” sebelum kembali ke “khitah“nya di gandhok yang disiapkan oleh ‘Anggér’ Aryå Ki Panji Satriå Pamêdar (Baru 17 tahun, maka kita panggil saja Anggér Aryå; masih imut-imut).

    Berikut dongeng toêtoêgé:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-19. Gajah Mada. (Parwa ka-3). [On 25 Maret 2011 at 08:02 cantrik bayuaji said: Surya Majapahit]

    Catatan: Sebelum melanjutkan Dongeng Gajah Mada (Parwa ka-4 dst); berikut ini adalah dongeng Maharaja Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara, seorang raja yang muda belia yang menduduki tahta kencana kerajaan Majapahit di tahun 1350, dan bersma Mapapatih Sang Amangkubhumi mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Bagaimanapun kedua tokoh ini telah mengukir sejarah gemilang Indonesia Lama, yang bernama Majapahit.

    Waosan kaping-20:
    BHRE JIWANA HAYAM WURUK MAHARAJA SRI RAJASANEGARA (1350-1389) [Parwa ka-1]

    Hayam Wuruk adalah putera Tribhuwana Wijayatunggadewi, dilahirkan pada tahun 1334, yang konon bertepatan dengan gempa bumi di Pabanyupindah. Nama Hayam Wuruk berarti “ayam yang masih muda“. Hayam Wuruk naik takhta ketika berusia 16 tahun. Ia menikah dengan Paduka Sori (Parameswari).
    Pada 1350 M, Dyah Hayam Wuruk naik tahta Majapahit menggantikan ibunya, yaitu Ratu Tribuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhani.

    Sebelumnya, Hayam Wuruk berkedudukan sebagai rajakumara (raja muda) di Jiwana (Kahuripan). Kitab Pararaton menyebut tokoh ini setelah meninggal dengan sebutan Bhra Hyang Wekasing Sukha, sedangkan nama Hayam Wuruk waktu kecil menurut Pararaton ialah Raden Tetep.

    Cacatan:
    —. Tokoh yang berbeda yang menggunakan gelar Hyang Wekasing Sukha adalah putra mahkota Wikramawardhana (dalam Pararaton bergelar Bhra Hyang Wisesa Aji Wikrama. Nama aslinya adalah Raden Gagak Sali. Ibunya bernama Dyah Nertaja, adik Hayam Wuruk, yang menjabat sebagai Bhre Pajang. Sedangkan ayahnya bernama Raden Sumana yang menjabat sebagai Bhre Paguhan, bergelar Singhawardhana).
    Ibunda Hyang Wekasing Sukha adalah Kusumawardhani putri Hayam Wuruk yang lahir dari Padukasori. Dalam Nāgarakṛtāgama, Kusumawardhani dan Wikramawardhana diberitakan sudah menikah. Padahal waktu itu Hayam Wuruk baru berusia 31 tahun. Maka, dapat dipastikan kalau kedua sepupu tersebut telah dijodohkan sejak kecil. Dari perkawinan itulah, lahir putra mahkota bernama Rajasakusuma bergelar Hyang Wekasing Sukha, yang meninggal sebelum sempat menjadi raja.—

    Hayam Wuruk mempunyai dua orang anak yaitu Nagarawardani/Bhre Lasem yang lahir dari Paduka Sori dan Bhre Wirabumi yang lahir dari selir. Perkawinan Hayam Wuruk dengan Paduka Sori yang masih saudara sepupu putri dari Bhre Prameswara yaitu Raja Wijayarajasa dari Wengker terjadi tahun saka 1279 yaitu setelah kegagalan perkawinannya dengan Dyah Pitaloka yaitu Putri Raja Linggabuana dari kerajaan Pasundan.

    Pada tahun (1350-1389) Majapahit mencapai masa keemasannya yang berlangsung dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk yang bergelar Sri Rajasanagara didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Arya Wangsadhiraja Adityawarman dan Senapati Sarwajala Sang Arya Wira Mandalika Pu Nala atau Mpu Nala, kelak Tumenggung Amancanagara Nala, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kerajaan Majapahit sehingga pada masa tersebut Majapahit, karena daerah kekuasaannya hampir meliputi seluruh Nusantara. Majapahit berkembang sebagai kerajaan maritim sekaligus kerajaan agraris.

    Masa sebelumnya, kejayaan Majapahit baru mulai mendaki ke arah puncaknya. Pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwanattunggadewi (1328-1350 M), ibunda Hayam Wuruk, Majapatih Gajah Mada mulai melebarkan pengaruhnya ke luar Jawa, antara lain ke Bali. Penyerangan ke Bali dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dan saudara sang ratu dari daerah Minangkabau, yaitu Arya Wangsadhiraja Adityawarman.
    Pada waktu itu, Bali diperintah oleh Sri Asta Asura Ratna Bhumi Banten. Dia menurut uraian Nāgarakṛtāgama Pupuh XLIX (49) : 4 bertingkah laku jahat dan nista sehingga perlu dihancurkan.

    muwah ring sakabdesu-masaksi-nabhi
    ikang bali nathanya dussila nica
    dinon ing bala bhrasta sakweh winasa
    ares salwir ing dusta mangdoh wisata.

    (Tahun sakabdesu-masaksi-nabhi (1265),
    Raja Bali yang alpa dan rendah budi,
    Diperangi, tewas bersama balanya,
    Menjauh segala yang jahat, tenteram.)

    Menurut Pararaton, Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal pada masa pemerintahan Tribhuwanattunggadewi. Sumpah tersebut mampu dibuktikan dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk yang berada di puncak kemegahan Wilwatikta.

    Masa pemerintahan Hayam Wuruk dianggap masa kejayaan Majapahit karena tidak ada konflik internal ataupun eksternal dengan daerah-daerah lainnya, kecuali peristiwa Pasundan-Bubat (jika peristiwa ini pernah dianggap ada) di tahun 1357 M.

    Daerah-daerah di luar Pulau Jawa (Nusantara) banyak yang mengakui kebesaran Majapahit. Hal ini terlihat dengan dikirimkannya utusan setiap tahun ke istana Hayam Wuruk. Pengiriman utusan atau upeti ke Majapahit bukan akibat penyerangan atas daerah-daerah tersebut, melainkan karena perjalanan muhibah armada dagang Majapahit yang megah ke daerah-daerah. Mereka lalu mengagumi kebesaran Majapahit sehingga daerah-daerah rela mengirimkan upetinya.

    Pada jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, keraton Majapahit diperkirakan telah dipindahkan ke Trowulan (sekarang masuk wilayah Mojokerto). Trowulan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kecamatan ini terletak di bagian barat Kabupaten Mojokerto, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Jombang. Trowulan terletak di jalan negara yang menghubungkan Surabaya-Surakarta. Di kecamatan ini terdapat puluhan situs bangunan, arca, gerabah, dan pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit. Diduga kuat, pusat kerajaan berada di wilayah ini yang ditulis oleh Mpu Prapanca dalam kitab Kakawin Nāgarakṛtāgama dan dalam sebuah sumber Tionghoa dari abad ke-15.

    Pejabat-pejabat pada Masa Pemerintahan Hayam Wuruk

    Tahun 1360 Gayatri wafat, maka Tribhuwanattunggadewi pun turun tahta, dan menyerahkan kepada anaknya yaitu Hayam Wuruk, yang dilahirkan di tahun 1334 atas perkawinannya dengan Kertawardddhana. Hayam Wuruk memerintah dengan gelar Rajasanagara (1360-1369), dengan Gajah Mada sebagai patihnya.

    Nama-nama pejabat pemerintahan Majapahit pada zaman pemerintahan Raja Kertarajasa sesuai piagam Bendasari.

    1. Mahamentri Katrini
    •Rakryan Menteri i Hino: Dyah Iswara
    •Rakryan Menteri i Halu: Dyah Ipo
    •Rakryan Menteri i Sirikan: Dyah Kancing

    2. Sang Panca Wilwatika
    •Rakryan Patih Majapahit: Pu Gajah Mada
    •Rakryan Demung: Pu Alus
    •Rakryan Kanuruhan: Pu Bajil
    •Rakryan Rangga: Pu Roda
    •Rakryan Tumenggung: Pu Lembi Nata

    Dalam Rakryan Mantri ri Pakirakiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Amangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja, yang disebut Bhattara Saptaprabhu.

    Majapahit memiliki struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah selama perkembangan sejarahnya. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi. Sebagai kepala pemerintahan, raja atau ratu Majapahit bergelar Bhatara Prabhu (Bhre Prabhu) atau Sri Maharaja. Para anggota keluarga kerajaan diberi gelar Bhatara (Bhre) dari mandala tertentu, misalnya Bhre Kahuripan, Bhre Daha, Bhre Tumapel, dan sebagainya.

    Sesuai dengan keseimbangan gender, gelar Bhre Tumapel, Bhre Paguhan dan Bhre Wengker dijabat oleh pria, sedangkan gelar Bhre Lasem, Bhre Pajang dan Bhre Kabalan jatah untuk wanita. Adapun gelar Bhre Kahuripan dan Bhre Daha, sebagai daerah poros (axis region), boleh disandang pria atau wanita asalkan hubungan kerabatnya dekat dengan sang prabhu.

    Wilayah Kekuasaan Majapahit Jaman Pemerintahan Hayam Wuruk

    Di zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan perluasan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

    Menurut Kakawin Nāgarakṛtāgama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi hampir seluas wilayah Indonesia modern, termasuk daerah-daerah Sumatra di bagian barat dan di bagian timur Maluku serta sebagian Papua (Wanin), dan beberapa negara Asia Tenggara.

    Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Cina. Daerah-daerah diluar jawa yang dikuasai Majapahit pada jaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk seperti diuraikan dalam Nāgarakṛtāgama pupuh XIII (13) dan XIV (14):

    Pupuh XIII (13)

    [1].
    lwir ning nusa pranusa pramuka sakahawat ksoni ri malayu
    ning jambi mwang palembang karitang i teba len dharmasraya tumut
    kandis kahwas manangkabwa ri siyak i rokan kampar mwang i pane
    kampe harwathawe mandahiling i tumihang parlak muang i barat.

    (Terinci demi pulau negara bawahan, paling dulu Melayu:
    Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut
    juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak dan Padang.)

    [2].
    i lwas lawan samudra mwang i lamuri batan lampung mwang i barus
    yakadhinyang watek bhumi malayu satanan kapwamateh anut
    len tekang nusa tanjungnagara ri kapuhas lawan ri katingan
    sampit mwang kutalingga mwang i kuta waringin sambas mwang i lawai.

    (Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus
    Itulah terutama negara-negara Melayu yang telah tunduk,
    Negara-negara di pulau Tanjungnegara: Kapuas-Katingan
    Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut.)

    Pupuh XIV (14)

    [1].
    kadangdangan i landa len ei samedang tirem tan kasah
    ri sedu baruneng ri kalka saludung ri solot pasir
    baritw i sawaku muwah ri tabalung ri tanjung kute
    lawan ri malano makapramuka ta(ng) ri tanjungpuri.

    (Kadandangan, Landa Samadang dan Tirem tak terlupakan
    Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir,
    Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei,
    Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.)

    [2].
    ikang sakahawan pahang pramuka tang hujungmedhini
    ri lengkasuka len ri saimwang i kalantan i trenggano
    nasor pakamuwar dungun ri tumasik ri sanghyang hujung
    kelang keda jere ri kanjapiniran sanusapupul.

    (Di Hujung Medini Pahang yang disebut paling dahulu,
    Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu,
    Johor (Malaysia), Paka, Muar, Dungun, Tumasik di ujung semenanjung,
    Kelang serta Kedah, Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.)

    [3].
    sawetan ikanang tanah jawa muwah ya warnnanen
    ri balli makamukya tang badahulu mwang i lwagajah
    gurun makamuka sukun ri taliwang ri dompo sapi
    ri sanghyang api bhima seran i hutan kadalyapupul.

    (Di sebelah timur Jawa seperti yang berikut:
    Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah,
    Gurun serta Sukun, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo,
    Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.)

    [4].
    muwah tang i gurun sanusa mangaran ri lombok mirah
    lawan tikang i saksakadi nikalun kahajyan kabeh
    muwah tanah i bantayan pramuka bantayan len luwuk
    tekeng udamakatrayadhi nikanang sanusapupul.

    (Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah,
    Dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya,
    Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk,
    Sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk.)

    [5].
    ikang sakasanusanusa makasar butun banggawi
    kunir ggaliyao mwang i salaya sumba solot muar
    muwah tikang i wandan ambwan athawa maloko wwanin
    ri seran i timur makadi ning angeka nusatutur.

    (Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton, Banggawi,
    Kunir, Galian serta Salayar, Sumba, Solot, Muar,
    Lagi pula Wanda(n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin,
    Seran (Seram), Timor, dan beberapa lagi pulau-pulau lain.)

    1. Di Sumatra: Jambi, Palembang, Dharmasraya, Kandis, Kahwas, Siak, Rokan, Mandailing, Panai, Kampe, Haru, Temiang, Parlak, Samudra, Lamuri, Barus, Batan dan Lampung.

    2. Di Kalimantan: Kapuas, Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Singkawang, Tirem, Landa, Sedu, Barune, Sukadana, Seludung, Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjung Kutei dan Malano.

    3. Di Semenanjung Tanah Melayu: Pahang, Langkasuka, Kalantan, Saiwang, Nagir, Paka, Muar, Dungun, Tumasik (Singapura), Kelang, Kedah dan Jerai.

    4. Sebelah Timur Jawa : Bali, Badahulu, Lo Gajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Dompo, Sapi, Gunung api, Seram, Hutan kadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin (Irian/Papua), Seram dan Timor.

    Setelah menyimak data tersebut, Gajah Mada berhasil mewujudkan sumpahnya. Wilayah kekuasaan Majapahit hampir meliputi seluruh wilayah nusantara, bahkan Semenanjung Malaya juga berhasil dikuasai Majapahit kecuali kerajaan Pajajaran (Sunda) yang belum dikuasainya. Gajah Mada, seorang patih dan bupati Majapahit dari 1331 ke 1364, memperluas kekuasaan kekaisaran ke pulau sekitarnya.

    Pada tahun 1377, yaitu beberapa tahun sesudah kematian Gajah Mada, angkatan laut Majapahit menduduki Palembang, menaklukkan daerah terakhir kerajaan Sriwijaya.

    Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Bertram Johannes Otto Schrieke, “Kahuripan and Daha were the regions assigned to the most highly placed members of the royal family” (Ruler and Realm in Early Java, 1957). Jika anggota keluarga kerajaan cukup banyak, mandala diperluas menurut kebutuhan, misalnya Bhre Mataram, Bhre Matahun, Bhre Wirabhumi, dan sebagainya.

    Pejabat pemerintahan dibawah Raja yaitu Patih Amangkubumi bertugas memberi perintah dan arahan tentang jalannya pemerintahan di Negara bawahan atau daerah. Dalam Nāgarakṛtāgama disebutkan bahwa para patih Negara bawahan dan para pembesar lainnya berkumpul di Kepatihan Majapahit yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada.

    Di bawah raja Majapahit terdapat pula sejumlah raja daerah, yang disebut Paduka Bhattara. Mereka biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat raja dan bertugas dalam mengumpulkan penghasilan kerajaan, penyerahan upeti, dan pertahanan kerajaan di wilayahnya masing-masing.

    Dalam Prasasti Waringin Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit dibagi menjadi 14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre. Daerah-daerah bawahan tersebut yaitu:

    1. Daha oleh Bhre Daha yaitu Dyah Wijat Sri Rajadewi yang merupakan adik kandung dari Tribhuwana Tunggadewi ibu dari Raja Hayam Wuruk.
    2. Wengher oleh Raja Wijayarajasa
    3. Matahun oleh Raja Rajasawardhana
    4. Lasem oleh Bhre Lasem
    5. Pajang oleh Bhre Pajang Paguhan oleh Raja Singawardhana
    6. Kahuripan oleh Tribhuwana Tunggadewi yaitu ibu dari Raja Hayam Wuruk.
    7. Singasari oleh Raja Kertawardhana yaitu ayah dari Raja Hayam Wuruk.
    8. Mataram oleh Bhre Mataram yaitu Wikramawardhana yaitu keponakan dari Raja Hayam Wuruk.
    9. Wirabhumi oleh bhre Wirabhumi yaitu anak Raja Hayam Wuruk dari selir.
    10. Pawanuhan oleh puteri Surawardhani.
    11. Jagaraga.
    12. Kabalan.
    13. Singhapura.

    Lima daerah atau Propinsi menurut kiblat yaitu Utara, Timur, Selatan , Barat dan Pusat yang disebut Mancanegara masing masing diperintah oleh Juru Pangalasan atau Adipati yang bergelar Rakryan. Raja dan Juru Pengalasan adalah pembesar yang bertanggung jawab namun dalam pemerintahanya dikuasakan kepada Patih. Dalam pemerintahan dipusat segala urusan pemerintahan menjadi tanggung jawab Patih Amangkubumi yaitu Gajah Mada, Demung, Kanuruhan, Rangga dan Tumenggung.

    Lain halnya dengan pemerintahan di seberang lautan yang merupakan wilayah Majapahit, Raja-raja dan pembesar daerah bawahan berdaulat penuh, kewajiban utama daerah bawahan kepada Majapahit yaitu menyerahkan upeti tahunan dan menghadap Raja pada waktu yang ditetapkan sebagai tanda kesetiaan dan pengakuan terhadap kekuasaan Majapahit.

    Untuk mengawasi wilayah Majapahit yang begitu luas maka Majapahit memiliki armada lautan yang sangat besar dan ditakuti oleh negara Negara lainnya. Armada ini ditempatkan di Lautan Teduh (Pasifik) dan dipantai utara pulau Jawa. Dan juga berusaha menjalin persahabatan dengan negara-negara tetangga yang yang disebut Mitreka Satata, yang secara harafiah berarti “mitra dengan tatanan (aturan) yang sama“, yakni negara independen luar negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan sebagai bawahan dalam kekuatan Majapahit, namun sebagai negara sahabat atau sahabat sehaluan yang hidup berdampingan secara damai.

    Dalam Bilang Ekonomi & Perdagangan

    Dalam kehidupan ekonomi, kerajaan Majapahi masih mencerminkan sebagai negara agraris, karena aspek agraria lebih menonjol dibandingkan perdagangan antar pulau.
    Pemerintahan Majapahit selalu berusaha meningkatkan pertaniannya dengan memperbaiki atau memelihara tanggul sepanjang sungai untuk mencegah banjir dan di samping itu juga memperbaiki jalan-jalan jembatan untuk mempelancar lalu lintas perdagangan.

    Komoditi perdagangan Majapahit adalah beras dan rempah-rempah. Daerah-daerah pelabuhan seperti Canggu, Surabaya, Gresik, Sedayu, dan Tuban menjadi pusat perdagangan karena menampung barang dagangan berupa hasil bumi dari daerah pedalaman. Menurut catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga.

    Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata. Di bidang perdagangan walaupun tidak semenonjol kerajaan Sriwijaya, banyak pedagang Majapahit berperan sebagai pedagang perantara.

    Menurut berita dari Cina, Majapahit telah memperdagangkan garam, beras, lada, intan, cengkeh, pala, kayu cendana dan gading. Banyak pedagang Cina yang membeli barang-barang tersebut dari pedagang Majapahit. Majapahit selalu menjalankan politik bertetangga yang baik dengan kerajaan asing, seperti Kerajaan Cina, Ayodya (Siam), Champa, dan Kamboja.
    Hal itu terbukti sekitar tahun 1370-1381 Majapahit telah beberapa kali mengirim utusan persahabatan ke Cina.

    Hal itu diketahui dari berita kronik Cina dari Dinasti Ming. Hubungan persahabatan yang dijalin dengan negara tetangga itu sangat penting artinya bagi Kerajaan Majapahit. Khususnya dalam bidang perekonomian (pelayaran dan perdagangan) karena wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit terdiri atas pulau dan daerah kepulauan serta sebagai sumber barang dagangan yang sangat laku di pasaran pada saat itu.

    Barang dagangan yang dipasarkan antara lain beras, lada, gading, timah, besi, intan, ikan, cengkeh, pala, kapas dan kayu cendana. Dalam dunia perdagangan Kerajaan Majapahit memegang dua peranan yang sangat penting, yaitu sebagai kerajaan produsen dan sebagai kerajaan perantara.

    Dalam Bidang Keagamaan

    Sebagai kerajaan Hindu terbesar di Nusantara keamanan rakyat terjamin, dimana hukum serta keadilan ditegakkan dengan tidak pandang bulu. Dalam kehidupan beragama raja membentuk dewan khusus yaitu Dharmadhyaksa kasaiwan yang mengurus agama Syiwa Budha dan Dharmadhyaksa Kasogatan yang mengurus agama Budha keduanya dibantu oleh pejabat keagamaan yang disebut Dharma Upapatti yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.

    Banyaknya pejabat tersebut menunjukan keompleksnya permasalahan agama yang harus diatur. Dengan adanya pejabat keagamaan tersebut, kehidupan keagamaan Majapahit berjalan dengan baik, bahkan tercipta toleransi. Hal ini seperti apa yang diceritakan oleh Ma-Huan tahun 1413, bahwa masyarakat Majapahit di samping beragama Hindu, Budha juga ada yang beragama Islam, semuanya hidup dengan rukun.

    Dari berita Ma-Huan tersebut dapat diketahui bahwa pengaruh Islam sudah ada di kerajaan Majapahit.
    Kehidupan sosial yang penuh dengan toleransi juga dibuktikan melalui kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular yang di dalamnya ditemukan kalimat “BHINNEKA TUNGGAL IKA, TAN HANA DHARMA MANGRUA”.

    Dalam Nāgarakṛtāgama pupuh LXXXV (85) : 1, diuraikan bahwa tiap bulan Caitra (Maret-April) atau bulan pertama setiap tahun Raja Hayam Wuruk mengadakan pertemuan dengan para Menteri, perwira, pembantu baginda, kepala daerah, kepala desa dari luar kota untuk membahas tanggung jawab pemerintahan didaerahnya masing-masing.

    Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXXV (85): 1

    tanggal ning caitra tekang balagana mapulung rahy ahem apupul
    mantri mwang tanda len gusti sahana nguniweh wadwa haji tumut
    milw ang mantry akuwu mwang juru buyut athawa wwang ring parapuri
    astam sang ksatriya mwang wiku haji karuhun sakweh dwijawara.

    (Tanggal satu bulan Caitra bala tentara berkumpul bertemu muka,
    Menteri, perwira, para arya dan pembantu raja semua hadir,
    Kepala daerah, ketua desa, para tamu dari luar kota,
    Begitu pula para kesatria, pendeta dan brahmana utama.)

    Beberapa hasil karya semasa Prabu Hayam Wuruk bertahta di Majapahit:

    Beberapa hasil karya semasa Hayam Wuruk lainnya antara lain:
    •Pemeliharaan tempat-tempat penyeberangan melintasi sungai-sungai Solo dan Brantas;
    •Perbaikan bendungan Kali Konto (sebelah timur Kadiri);
    •Memperindah Candi untuk Tribhuwanattunggadewi di Panggih;
    •Perbaikan dan perluasan tempat suci Palah (Panataran);
    •Penyempurnaan Candi Jabung dekat Kraksaan (1354);
    •Membuat Candi Surawana dan Candi Tigawangi di dekat Kadiri (1365);
    •Membuat Candi Pari (dekat Porong) bercorak dari Campa di tahun 1371.

    Perjalanan Prabu Hayam Wuruk ke Daerah Daerah

    Menurut uraian Nāgarakṛtāgama, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk terdapat tahun-tahun penting yang berkenaan dengan kegiatan perjalanannya ke beberapa daerah di tlatah Jawa bagian timur.
    Dalam Negara Kertagama dikisahkan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke tempat pendharmaan leluhurnya di Singasari yang berada disekitar daerah Malang sekarang, salah satunya di dekat tempat pendharmaan Ken Arok.

    Ini menunjukkan bahwa walaupun bukan pusat pemerintahan namun Malang adalah kawasan yang disucikan karena merupakan tanah tempat pendharmaan para leluhur yang dipuja sebagai Dewa. Kunjungan ke Singasari merupakan puncak kunjungan Raja Hayam Wuruk, Kunjungannya merupakan wujud penghargaan Hayam Wuruk terhadap pendahulunya, yaitu Kertanegara, sebagai raja terakhir Singasari yang erat kaitannya dengan cikal bakal berdirinya kerajaan Majapahit.

    Dari pusat Majapahit (kini Trowulan) iringan berjalan ke timur hingga Baremi (dusun Bremi, Probolinggo). Dari Baremi iringan membelok ke selatan hingga Kamirahan yang diperkirakan ada di muara Kali Mujur, Lumajang.

    Selanjutnya mereka menyisir pantai selatan dan berhenti di Kutha Bacok. Di sana Hayam Wuruk sempat terpana melihat “karang kinasut ing ryyak asirasirat anghirib jawuh” (karang tersiram ombak yang berpancar seperti hujan). Gampang diduga, Kutha Bacok memang pantai Watu Ulo di selatan Jember. Sampai sekarang masih ada tempat bernama Gunung Bacok yang letaknya 3,5 km dari laut. Mengapa demikian jauh? Nampaknya garis pantai di desa pantai selatan itu maju 500 m dalam 100 tahun terakhir!

    Rombongan kemudian berjalan ke utara. Tiba di Patukangan mereka berkemah beberapa hari sebelum meneruskan perjalanan ke arah barat. Tempat perkemahannya diduga di sebelah barat dusun Tokengan, desa Peleyan, kurang lebih 4 km di sebelah barat Situbondo. Mereka menyisir pantai utara dan selewat Pasuruan membelok ke arah barat
    daya menuju Singasari.

    Di Singasari Hayam Wuruk mengambil jalan memutar melawan arah jarum jam. Ini bisa dimaklumi mengingat raja Majapahit itu penganut Siwa dan bukan pengikut Buddha. Raja melakukan ziarah ke makan para leluhurnya di Singasari (candi Singasari), Kagenengan (pendharmaan pendiri wangsa Rajasa), Jajagu (candi Jago, pendharmaan Wishnuwardhana) dan Kidhal (candi Kidal, pendharmaan Anusanatha/Anusapati). Di perjalanan kembali ke kraton, raja sempat mampir berziarah ke Jajawi (candi Jawi).

    Jarak tempuh iringan kerajaan kira-kira 700 km dan waktu yang mereka perlukan antara 2-3 bulan. Di medan datar diperkirakan kelajuan mereka sekira 30 km per hari! Pernah rombongan melewati medan yang sulit (saat dari Bondowoso menuruni lembah Sungai Sampean) sehingga dalam sehari hanya mampu melangkah belasan kilo. Pernah pula rombongan ngebut dan bisa melahap 40an kilometer sehari.

    Menurut uraian Nāgarakṛtāgama Hayam Wuruk dan rombongannya melakukan muhibah saebagai berikut:
    1.tahun 1353 mengadakan perjalanan ke daerah Pajang,

    2.tahun 1354 perjalanan ke pantai Lasem.

    3.tahun 1357 Hayam Wuruk mengadakan perjalanan menuju ke pantai selatan, dan di tahun yang sama terjadi peristiwa Pasundan-Bubat. Pada tahun itu juga, Laksmana Mpu Nala memimpin kunjungan muhibah armada Majapahit ke daerah Dompo.

    4.tahun 1359 Hayam Wuruk melakukan perjalanan ke Lamajang yang merupakan jelajahnya yang paling panjang. Perjalanan ke Lamajang inilah yang diuraikan secara panjang lebar dalam Nāgarakṛtāgama.

    5.tahun 1360 perjalanan ke Tarib dan Sampur.
    6.tahun 1361 perjalanan ke Rabut Palah (kompleks Candi Panataran), merupakan candi kerajaan Majapahit.

    7.tahun 1362 Hayam Wuruk memenuhi titah ibunya untuk mengadakan upacara sraddha bagi neneknya Rajapatni Gayatri. Merupakan upacara yang meriah dan diakhiri dengan meletakkan arca Prajñaparamita di Candi Prajñaparamitapuri di Bhayanglango.

    8.tahun 1363 Hayam Wuruk mengadakan perjalanan ke Simping (Sumberjati), meresmikan bangunan candi yang konon baru dipindahkan ke lokasi baru. Candi tersebut dibangun untuk memuliakan eyang Hayam Wuruk, yaitu Raden Wijaya (Krtarajasa Jayawarddhana).

    Catatan:
    Upacara sraddha:
    Upacara sraddha adalah upacara mengenang arwah seseorang yang meninggal, yang diduga dilakukan pertama kali oleh umat penganut agama asli Tanah Jawa yang kemudian diadaptasi oleh penganut Hindu semasa kerajaan Majapahit.

    Bentuk reminisensi upacara ini, masih ada sekarang dan disebut sadran atau sering kita sebut nyadran, yang lazim dilakukan oleh beberapa sumat Islam menjelang pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

    Pada setiap perjalanan tersebut Hayam Wuruk selalu dinyatakan oleh Mpu Prapanca melewati kampung-kampung, dan pesawahan penduduk. Dalam Nāgarakṛtāgama mengesankan bahwa kehidupan masyarakat Majapahit pada waktu itu sangat sejahtera, rakyat di desa-desa berdesak-desak di tepi jalan untuk menonton rombongan rajanya lewat.

    Di tempat-tempat penghentian dalam perjalanan tersebut Hayam Wuruk dan rombongannya selalu disambut dengan suka cita oleh penduduk setempat, makanan disediakan cukup berlimpah, dan bermacam hiburan yang ada dipertunjukkan kepada rombongan raja Hayam Wuruk.

    Rombongan sempat singgah di Madakaripura, tanah perdikan milik patih Gadjah Mada, dan Kambang Rawi, tanah perdikan milik Mpu Nala. Madakaripura di sini bukan air terjun di selatan Probolinggo yang kita kenal sekarang ini, tetapi sebuah desa yang kini diperkirakan di sekitar desa Rejosokidul, Pasuruan. Sedang kambang Rawi diduga terletak di sekitar dusun Rawan, Kecamatan Krenjengan, Probolinggo. Yang tidak kalah menarik, sejumlah belasan dari desa-desa yang didata Prapanca menjelma jadi makam keramat yang kerap diziarahi.

    Sisi-sisi Peradaban Masyarakat Majapahit

    Berdasarkan catatan musafir Cina bernama Ma Huan dapat diketahui bahwa kehidupan masyarakat dan perekonomian Majapahit masa itu relatif maju. Dia berkunjung ke Majapahit dalam masa akhir pemerintahan Hayam Wuruk. Catatan Ma Huan menguraikan antara lain sebagai berikut:

    Di Majapahit udaranya terus menerus panas, seperti musim panas di kita (Cina), panen padi dua kali setahun, padinya kecilkecil, berasnya berwarna putih. Di sana juga ada buah jarak dan karapodang (kuning), tetapi tidak ada tanaman gandum. Kerajaan itu menghasilkan kayu sepang, kayu cendana, intan, besi, buah pala, cabe merah panjang, tempurung penyu baik yang masih mentah ataupun yang sudah dimasak.

    Burungnya aneh-aneh, ada nun sebesar ayam dengan aneka wama merah, hijau dan sebagainya. Beo yang semuanya dapat diajari berbicara seperti orang, kakaktua, merak dan lainnya lagi. Hewan yang mengagumkan adalah kijang dan kera putih, ternaknya adalah babi, kambing, sapi, kuda, ayam, itik, keledai dan angsa.

    Buah-buahannya adalah bermacam-macam pisang, kelapa, tebu, delima, manggis, langsap, semangka dan sebagainya. Bunga penting adalah teratai.

    Penduduk di pantai utara di kotakota pelabuhan, seperti Gresik, Tuban, Surabaya, dan Canggu kebanyakan menjadi pedagang. Kota-kota pelabuhan tersebut banyak dikunjungi oleh pedagang asing yang berasal dari Arab, India, Asia Tenggara dan Cina.
    Ma Huan memberitakan bahwa di kota-kota pelabuhan tersebut banyak orang Cina dan Arab menetap dan berdagang di kota-kota tersebut.

    Selanjutnya, laporan Ma Huan menyatakan bahwa:
    ibukota Majapahit berpenduduk sekitar 200-300 keluarga. Suatu angka cukup besar untuk zaman itu. Penduduk telah memakai kain dan baju. Kaum lelaki berambut panjang yang diuraikan, sedangkan perempuannya bersanggul.

    Setiap laki-laki, mulai dari yang berumur tiga tahun ke atas, baik orang berada atau orang kebanyakan, mengenakan keris dengan pegangannya yang diukir indah-indah dan terbuat dan emas, cula badak, atau gading.

    Apabila bertengkar, mereka dengan cepat menyiapkan kerisnya. Pantangan bagi penduduk Jawa adalah memegang kepala orang lain karena merupakan penghinaan yang akan menimbulkan perkelahian berdarah.

    Mereka duduk di rumahnya tdak menggunakan bangku, tidur tanpa ranjang dan makan tanpa memakai sumpit. Baik laki-laki atau pun perempuan senang memakan sirih sepanjang hari.

    Jadi, kalau ada tamu yang datang disuguhkan bukannya teh, melainkan sinih dan pinang. Atas titah raja, orang Majapahit juga senang mengadakan pertandingan dengan menggunakan tombak bambu. Tetapi, apabila ada yang meninggal karena tertusuk tombak bambu itu, si pemenang wajib memberikan uang kepada keluar korban.

    Namun, kalau bulan terang terutama purnama, mereka senang bermain bersama dengan disertai nyanyian bergiliran antara kelompok-kelompok laki-laki dan perempuan.

    Kesenian yang populer adalah bentuk cerita Wayang Bêbêr, yaitu kisah wayang yang dilukiskan pada kai1i yang direntangkan (bêbêr) oleh sang dalang dan menceritakan adegan-adegan yang digambarkan tersebut.

    Para pedagang pribumi umumnya sangat kaya. Mereka suka membeli batu-batu perhiasan yang bermutu, seperti barang pecah belah dan porselin Cina dengan gambar bunga-bunga berwarna hijau. Mereka juga membeli minyak wangi, kain sutra dan kain yang berkualitas baik dengan motif hiasan ataupun yang polos. Pembayaran dilakukan dengan uang tembaga Cina dari dinasti apapun laku di Kerajaan Majapahit.

    Beberapa prasasti dan arca peninggalan Majapahit di kawasan puncak Gunung Semeru (Telaga Ranu Gumbolo) dan juga di Gunung Arjuna menunjukkan bahwa kawasan Gunung Bromo – Tengger – Semeru serta Gunung Arjuna adalah tempat bersemayam para Dewa dan hanya keturunan Raja yang boleh menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Bisa disimpulkan bahwa berbagai peninggalan tersebut merupakan rangkaian yang saling berhubungan walaupun terpisah oleh masa yang berbeda sepanjang 7 abad.

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji.

    • Ngaturaken agunging panuwun dhumateng Ki Bayu,
      setya tuhu ngrantos tutug-ipun.

      Nuwun, sugeng siyang.

  19. hore……..!!!

    “Aryå Ki Panji Satriå Pamêdar?”,😳

    he he he …., matur suwun Ki Bayu

  20. “Madakaripura di sini bukan air terjun di selatan Probolinggo”

    nuwun sewu,ki BAYUAJI ada donGGeng seputar lokasi
    Air Terjun Madakaripura, seTAU cantrik diSITU ada
    patung siGAJAH MADA.

    • Nuwun

      On 3 April 2011 at 08:38 yudha pramana said: “Madakaripura di sini bukan air terjun di selatan Probolinggo”………

      MADAKARIPURA

      Nāgarakṛtāgama Pupuh XIX (19): 2, mengabarkan:

      wwanten dharma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng lango
      simanugraha bhupati sang apatih gajahmada racananya nutama

      (Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah, Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajah Mada, teratur rapi,)

      Masih di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, berada di kawasan wisata Gunung Bromo tidak jauh dari lautan pasir Bromo, hanya sekitar 45 menit ke arah Probolinggo (ke Utara). Ada satu tempat namanya Air Terjun Madakaripura, tepatnya terletak di desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo.

      Menurut penduduk setempat nama ini diambil dari cerita pada zaman dahulu, konon Patih Gajah Mada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di air tejun ini. Penduduk sekitar mengisahkan bahwa cerita ini didukung dengan adanya arca Gajah Mada di tempat parkir area tersebut. Padahal arca tersebut adalah arca modern buatan pematung abad ke 20, sekitar tahun 1980an.

      Logika alur ceritanya begini, lokasi air terjun desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo tersebut dinamakan Air Terjun Madakaripura, yang diduga tempat persinggahan terkahir Gajah Mada, sehingga dibuatlah patung “Gajah Mada” di sekitar tahun 1980an, dengan perkataan lain patung “Gajah Mada” dibuat karena di tempat lokasi air terjun tersebut dinamakan Air Terjun Madakaripura, jadi bukan karena adanya patung Gajah Mada lalu disebut Air Terjun Madakaripura.

      Dari segi sejarah, Madakaripura (yang air terjun) belum dapat dikatakan sebagai situs purba peninggalan Gajah Mada, karena belum ditemukan bukti-bukti sejarah yang konkrit berupa tamla prasasti, epik, rontal ataupun yang sejenis, yang menyebutkan bahwa Madakaripura (menurut Nāgarakṛtāgama) adalah Madakaripura (yang air terjun).

      Temuan arkeologis yang mendekati dugaan Madakaripura (menurut Nāgarakṛtāgama) adalah sebuah desa yang kini diperkirakan di sekitar desa Rejosokidul, Pasuruan, lokasi inipun masih terus diteliti oleh rekan-rekan arkeolog.

      Terlepas dari semua itu, sebagai tempat tujuan wisata, Air Terjun Madakaripura (yang bukan menurut Nāgarakṛtāgama) menyajikan pesona alam yang indah.

      Boleh saja kita membayangkan bahwa di hari-hari senjanya Sang Maha Patih Gajah Mada yang hampir seluruh hidupnya diabdikan pada negaranya, menikmati hari-hari tuanya dengan menghibur diri (amukti palapa, yang tadinya bersumpah untuk tan ayun amuktia palapa) menikmati keindahan alam Bromo, seraya melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
      Hyang Wisesa Yang Maha Wikan. Tuhan Yang Maha Tahu.

      Demikian Ki. Matur nuwun.

      cantrik bayuaji

      • kagem ki BAYUAJI,

        matur nuwun…donGGeng sampun cantrik
        siMAK.

      • saya disumbar juga mendengar kisah gajah mada, katanya, Gajah Mada berasal dari sumbar, dengan banyak alasan, tapi hanya dua yg saya perhatikan, yaitu :
        1. Di Indonesia yg ada gajah hanya di sumatra, di jawa tidakada.
        2. Mada dari bahasa minang , yg artinya kurang lebih bandel, tidak ada dalam bahasa jawa kata mada.
        3. Yg bercerita kepada saya sambil menunjukan sebuah buku yg tebal tentang bukti Gajah Mada dari sumbar, tapi sayang saya tidak pinjam untuk dibaca waktu itu.

        Maaf hanya sekedar informasi

  21. Nuwun

    Katur Ki Bancak såhå sanak kadang pemerhati dongeng Sang Gajah Mada:

    Wilujêng énjang andungkap siyang

    [On 3 April 2011 at 13:27 bancak said: …….. saya di Sumbar (Sumatra Barat) juga mendengar kisah gajah mada, katanya, Gajah Mada berasal dari Sumbar……]

    [Sebagaimana juga On 19 Maret 2011 at 15:38 Raharga said: sekedar melengkapi bahwa Gajah Mada lahir di Pulau Buton dan lokasi wafatnya ad dalam sebuah gua di Kepulauan Wangi-Wangi].

    Pårå kadang,

    Berikut sekedar pembanding atau contoh, betapa sejarah itu melahirkan opini-opini, bahkan pertentangan:

    Dalam otobiografi Soeharto Presiden Kedua Republik Indonesia: ‘Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya’ yang disusun G Dwipayana, diceritakan bahwa Sukirah adalah ibunda Suharto, digambarkan oleh Suharto, Sukirah sebagai ibu muda yang sedang sulit memikirkan masalah-masalah rumah tangga.

    Proses kelahiran Suharto merupakan yang berat bagi Sukirah, sebelum Suharto (yang lahir 8 Juni 1921) berumur 40 hari, Sukirah harus menghadapi talak cerai suaminya Kertosudiro. Seorang mantri ulu-ulu.

    “Dongeng” lainnya menyebutkan bahwa Kertosudiro bukanlah ayah kandung Suharto. Banyak catatan beredar mengenai hal ini, bahkan pelontarnya tidak tanggung-tanggung seperti: Mantan Menteri Penerangan yang dekat dengan Suharto, Mashuri. Mashuri sendiri pernah membuat pernyataan yang menghebohkan bahwa Suharto adalah anak seorang pedagang keliling Cina yang cukup kaya raya.

    Namun ada juga yang berpendapat bahwa ayah kandung Suharto adalah kerabat Keraton Yogyakarta. Pada tahun 1974 pernah muncul pemberitaan yang menghebohkan dari sebuah majalah, sebuah liputan yang menurunkan kisah lama yang beredar bahwa Suharto adalah anak dari Padmodipuro, seorang bangsawan dari trah Hamengkubowono II. Suharto kecil yang umur 6 tahun dibuang ke desa dan disuruh diasuh oleh Kertosudiro.

    Hal ini kemudian dibantah keras oleh Suharto. Presdien Suharto mengadakan konferensi pers di Bina Graha bahwa liputan mengenai asal-usulnya dirinya yang anak bangsawan bisa saja merupakan tunggangan untuk melakukan subversif.

    Pårå kadang ingkang dahat kinurmatan

    Apa yang saya tulis tentang Soeharto Presiden Kedua Republik Indonesia, baru satu contoh dari sekian banyak contoh, betapa sejarah “orang-orang besar” memiliki bab-bab yang ‘samar’ dan multi interpretasi. mempunyai babakan yang memunculkan heterogenitas opini dan bahkan kontroversi,
    walaupun kejadian sejarah atas tokoh Suharto masih sangat terbilang baru (Abad XX atau XXI, di abad sekarang). Lalu bagaimana dengan dengan Gajah Mada, yang hidup di abad XIII. Jauh di masa lalu.

    Berkenaan dengan tokoh Gajah Mada, belum ada informasi berupa sumber sejarah yang tersedia saat pada awal kehidupannya demikian juga wafatnya, kecuali bahwa Gajah Mada dilahirkan sebagai seorang biasa yang naik dalam awal kariernya menjadi seorang bêkêl di masa raja Jayanegara (1309-1328).

    Terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir Mada sedangkan nama Gajah Mada kemungkinan merupakan nama sejak menjabat sebagai patih.

    Ada beberapa tempat selain yang disebutkan di atas, mengkalim bawa daerahnya merupakan tempat lahir dan atau tempat wafatnya Sang Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Mpu Mada, di antaranya:

    a. bahwa Gajah Mada lahir di Dataran Malang di gugusan pegunungan Kawi dan Arjuna;

    b. Gajah Mada lahir di Dataran tinggi sebuah desa di kaki Gunung Semeru yang bernama desa Maddha;

    c. Pada peristiwa Ekspedisi Pamalayu, Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Pethak dari Sumatra ke Jawa, Gajah Mada termasuk dalam rombongan tersebut yang bertugas untuk mengawal keselamatan putri raja mereka sekaligus sebagai duta dari Kerajaan Darmasraya. Atau malah Gajah Mada ditugaskan secara khusus untuk menjadi pengawal pribadi Dara Pethak. Yang akhirnya tinggal dan menetap di Majapahit mengikuti tuannya yang menjadi permaisuri raja Majapahit. Dengan informasi ini ingin disampaikan bahwa Gajah Mada lahir di Sumatra.

    d. Gajah Mada adalah keturunan Mongol. Ia terlahir selaku anak dari salah satu prajurit Mongol yang diam di Jawa dan menikah dengan perempuan Jawa. Argumentasi ini diambil oleh sebab di periode kelahiran Gajah Mada, wilayah Majapahit pernah diduduki atau paling tidak diserang oleh Dinasti Yuan yang keturuan Mongol tersebut.

    Asal-usul Gajah Mada masih sangat gelap, walaupun ada dugaan bahwa Gajah Mada dilahirkan daerah-daerah saya sebutkan di atas yang “mengklaim” dan menempatkan Sang Tokoh sebagai “putra daerah”-nya, dan ini sah-sah saja, sebagai upaya daerah tersebut untuk membanggakan tokoh putra-daerahnya, terlebih Indonesia yang terus mencari figur untuk diteladani di masa sekarang ini.

    Boleh jadi masing-masing daerah di setiap jengkal tanah-air yang sekarang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan lebih luas lagi Nusantara Jaya menyatakan sebagai tempat lahir juga tempat pendharmaan Sang Bêkêl Bhayangkâri, Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Mpu MadaSang Gajah Mada

    Pararaton hanya menyebut tahun meninggalnya Gajah Mada yang ditandai dengan candra sengkala Langit Muka Mata Bulan yang dibaca sebagai tahun 1290Ç atau 1368M, sedangkan Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXI (71) : 1 menyebutkan tahun kematian Sang Maha Patih Gajah Mada pada tahun 1286C atau 1364M.

    Try angin ina saka purwwa rasika n-papangkwaken i sabwat ing sabhuwana
    Pejah irikang sakabdha rasa tanwinasa naranatha mar salahasa

    (Try angin ina saka (1253Ç) beliau mulai memikul tanggung jawab, sakabdha rasa (1286Ç) beliau mangkat; Baginda gundah, terharu, bahkan putus asa,)

    Dalam hal ini, berita dari Nāgarakṛtāgama lebih bisa dipercaya karena ditulis oleh Prapanca yang hidup sezaman dengan Gajah Mada.

    Informasi mengenai asal-usul dan moktanya Sang Gajah Mada masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Sebagian sumber yang saya ambil baru sebatas pada tutur lisan, atau tembang kidung, rontal yang belum dapat dikatakan sebagai bukti sejarah yang benar, sebelum dapat ditunjukkan adanya bukti otentik bukti-bukti sejarah yang konkrit berupa tamla prasasti, epik, rontal ataupun yang sejenis, yang mendukung kebenarannya yang dapat mendukung klaim tersebut.

    Jadi menurut saya semua yang ada mengenai asal-usul dan moktanya Sang Gajah Mada masih merupakan analisis semata bukan data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, sehingga masih perlu dilakuan penelitian yang saksama. Sejarah termasuk sejarah Sang Gajah Mada ini masih dapat diperbarui atau direvisi, selama kajian terhadap penemuan-penemuan arkelogis, epik, dan sejenisnya yang menunjang masih terjadi. Sebagaimana telah berulang kali saya sampaikan bahwa Kebenaran sejarah bersifat hipotetik.

    Dongeng Gajah Mada selanjutnya akan lebih rinci pada episode Siapa Gajah Mada. Mohon sabar menunggu.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Saya do’akan semoga kelak ada arkeolog seperti Ki Bayuaji yang dapat menemukan data otentik tentang asal muasal Bapak Gajah Mada, tak mengapa kalo misalnya ternyata beliau itu keturunan bangsa Mongol sekalipun, asalkan jelas dan akurat data / informasinya.
      Nuwun.

      • Inggih Ki TruPod,
        supados cetha BOBOT, BIBIT, BEBETipun.
        Yen sampun cocok enggal dipundhut MANTU.

        he….he….he….
        sugeng dalu.

        • matur nuwun Ki Bayu pencerahannya

  22. yg jelas tu gajah mada lahir sama dukun branak, gak di klinik bersalin😛 hi hi

    • yg BELOM jelas tu gajah mada lahir ditungguI
      AYAHnya, kakek apa neneknya….!!

      • ana-ana wae Nyi DEWI…

        • Loh…..?????
          lha waktu itu Ki Menggung sedang
          KEMANA…..?????
          atau ada DIMANA…..?????

  23. Nuwun

    @ Ki Truno Podang
    Penelitian oleh Bapak-bapak arkeolog secara terus-menerus sedang dilakukan, bahkan informasi sekecil apapun.
    Pesan Ki Bayuaji, bila ada sanak kadang mendapatkan informasi tentang Gajah Mada, tentunya lebih baik lagi bila disertai data sejarah, silakan menghubungi:
    a. Museum Nasional (Museum Gajah) Jl Medan Merdeka Barat no 12 Jakarta Pusat 10110 phone (021) 3868172.
    b. ‎ Trowulan Archeological Museum, Jl. Raya Trowulan 13, Mojokerto.

    @ Nyi Dewi Kz
    Lha waktu lahirnya, dokter ahli kadungan yang ditunggu sedang mbaca cerita silat di Tirai Kasih, Nyi. HIks…..

    @ Ki Yudha Pramana dalah Ki Gembleh
    Lha Panjênêngan lagi tindak-tindak ke mana Ki?
    HIks…….

    Kagêm sanak kadang kulå:

    Sugêng dalu, nugi karahayon ingkang tansah pinanggih

    Nuwun

    punåkawan

  24. ……………..
    Sugêng énjang
    ………………..

    • Sugeng nembe tindakan kaliyan Wilujeng ki

      Wilujêng énjang

  25. Lêrês Ki nêmbé sarapan gatot & tiwul, lha minumnya ini yang rada-rada unik secangkir susu kambing plus jahe wangi. Lumayan…
    Punapa Ki Aryå Panji Satriå Pamêdar ngêrsaakên?.

  26. selamat SORE merambat surup…!!

  27. Sugêng dalu sanak kadang sutrésnaning padépokan pelangisingosari

    • Sugêng Enjang sanak kadang sutrésnaning
      padépokan pelangisingosari

      • Sugeng dalu malih sanak kadang
        sutresnaning padepokan pelangisingosari.

  28. selamat siang semuanya

  29. SIANG…..kadang PDLS,

    • SIANG…..kadang PDLS,

  30. ………………………
    Sugêng énjang
    ………………………

  31. Nuwun
    Sugêng siyang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT
    ———————————
    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-20: Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-1].

    Dongeng Waosan kaping-20 ini diwedar di gandhok sementara: Surya Majapahit [On 3 April 2011 at 07:16 cantrik bayuaji said:]
    ———————————

    Waosan kaping-21
    BHRE JIWANA HAYAM WURUK MAHARAJA SRI RAJASANEGARA (1350-1389) [Parwa ka-2]

    MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT

    [1]. PEREKONOMIAN KERAJAAN MAJAPAHIT [Bagian Pertama]

    Pertanian

    Dalam berbagai sumber yang tersedia tentang Majapahit, dapat diketahui bahwa kerajaan tersebut memang merupakan kerajaan yang bertumpu kepada aktivitas pertanian. Banyak prasasti yang membicarakan tentang penetapansima atau daerah perdikan, yaitu daerah yang dilarang dimasuki oleh para pejabat atau pegawai kerajaan yang dibayar oleh raja yang dikenal dengan sebutan mangilala drwya haji (pengelola kekayaan raja, maksudnya pejabat pemungut pajak negara).

    Berdasarkan nama-nama jabatan para pegawai kerajaan saja dapat diketahui bahwa kerajaan-kerajaan Jawa Kuno sejak zaman Mataram di Jawa Bagian Tengah hingga era Majapahit di Jawa Bagian Timur adalah kerajaan bercorak agraris.

    Jabatan-jabatan seperti:
    a. wilang thani (petugas pencacah penduduk desa),
    b. air haji (penjaga mata air milik raja),
    c. pulung padi (pemungut pajak padi),
    d. pangalasan (petugas kehutanan),
    e. pawdus (petugas peternakan kambing),
    f. pakbo (petugas peternakan kerbau),
    g. papuyuh (penangkap burung buyuh),
    h. patangkalan (petugas pencacah tanam-tanaman penting),
    menunjukkan bahwa pejabat-pejabat tersebut banyak bergerak di bidang agraris.

    Semua negara daerah di Jawa Bagian Timur itu sejatinya berada di sekitar pedalaman yang subur, di sekitar daerah aliran Sungai Brantas, yang bercabang ke Sungai Mas dan Sungai Porong, juga di lereng-lereng gunung, dan dataran persawahan yang luas membentang.

    Daerah Singasari yang jelas memiliki lahan aktivitas yang subur adalah Lamajang (Lumajang) di selatan Gunung Semeru, Kadiri dan Lwa di daerah aliran Sungai Brantas, dan Glang-Glang di wilayah Wurawan berada di sebelah barat Gunung Wilis.

    Adapun Singasari sendiri berada di dataran tinggi Malang yang subur untuk sawah dan bercocok tanam palawija, sayur mayur, dan buah-buahan hingga dewasa ini.

    Pada masa Majapahit sudah terdapat negara daerah yang berada di daerah pantai utara Jawa Bagian Timur selain di pedalamannya juga. Hal itu menunjukan bahwa hubungan Majapahit dengan daerah-daerah lain di luar Jawa semakin berkembang, perhatian Majapahit pada daerah luar Jawa meningkat karena berbagai argumen internal atau pun eksternal.
    Perhatian ke luar Jawa itu tentunya merupakan aktivitas maritim dengan berbagai sistemnya.

    Dalam hal kegiatan agraris penduduk Majapahit tetap melaksanakannya, walaupun menjelang keruntuhannya masyarakat Majapahit selalu terganggu oleh berbagai peperangan perebutan kekuasaan. Kedua aspek kehidupan itulah yang menunjukkan bahwa Majapahit memang mempunyai bukti-bukti sebagai kerajaan agraris dan selanjutnya adalah juga negara maritim, artinya Majapahit juga meluaskan cakrawala kekuasaannya tidak semata-mata di dalam Pulau Jawa, namun juga keluar Jawa.

    Setelah panen menjelang musim kemarau, Rajasanagara (Hayam Wuruk) mengadakan perjalanan ke daerah Jawa Timur yang menjadi inti wilayah Majapahit pada tahun-tahun tertentu dalam masa pemerintahannya.

    Pada setiap perjalanan tersebut Hayam Wuruk selalu dinyatakan oleh Mpu Prapanca melewati kampung-kampung, dan pesawahan penduduk. Dalam Nāgarakṛtāgama mengesankan bahwa kehidupan masyarakat Majapahit pada waktu itu sangat sejahtera, rakyat di desa-desa berdesak-desak di tepi jalan untuk menonton rombongan rajanya lewat.

    Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXXIV (84)

    [6]. ton tang parajana sarsok penuh ariweg tanpasela manonton
    pinggir nikanang lebuh ajajar tang sakata pinanggung
    dwaranapis awawa lwir dhwaya nguniweh panggung ika rinengga
    sok stry anwam atuha dudw ang mangebek umunggw ing bacingah atimbun.

    (Penuh berdesak sesak para penonton ribut berebut tempat,
    Di tepi jalan kereta dan pedati berjajar rapat memanjang,
    Tiap rumah mengibarkan bendera, dan panggung membujur sangat panjang,
    Penuh sesak perempuan tua muda, berjejal berimpit-impitan)

    [7]. buddhinya daradaran kapwa suka bangun wahuwahu manonton

    (Rindu sendu hatinya seperti baru pertama kali menonton,)

    Di tempat-tempat penghentian dalam perjalanan tersebut Hayam Wuruk dan rombongannya selalu disambut dengan suka cita oleh penduduk setempat, makanan disediakan cukup berlimpah, dan bermacam hiburan yang ada dipertunjukkan kepada rombongan raja Hayam Wuruk.

    Nāgarakṛtāgama Pupuh LIX (59)

    [4]. makapamekas ratha nrpati kirnna sapanta penuh
    pirang iwu kapwa sayudha tikang bhata mantry angiring.

    (Bagai penutup kereta Baginda serombongan besar,
    Diiringi beberapa ribu perwira dan para menteri.)

    [5]. tucapa tikang wwang ing lebuh atambak i tambing atip
    atetel ayo manganti ri halintanga sang nrpati
    daradara tang wadhu metu mareng lawang atry arebut
    hana kahuwan salampur i panas nika yarpalayu.

    (Tersebut orang yang rapat rampak menambak tepi jalan,
    Berjejal ribut menanti kereta Baginda berlintas,
    Tergopoh-gopoh perempuan ke pintu berebut tempat,
    Malahan ada yang lari telanjang terlepas sabuk kainnya.)

    [6]. ikanang adoh grhanya marebut kayukayw aruhur
    makaburayut ri pang nika raratuha manwam atob
    hana tirisan lirang ywa pinanek nika tanpanaha
    sahaja lali’n katon pijer anona juga ng kinire.

    (Yang jauh tempatnya, memanjat ke kayu berebut tinggi,
    Duduk berdesak-desak di dahan, tak pandang tua muda,
    Bahkan ada juga yang memanjat batang kelapa kuning,
    Lupa malu dilihat orang, karena tepekur memandang.

    [7]. ri dateng irang narendra kalasangka humung mabarung
    sahanan nikang wwang ing lebuh umendek ares mararem,

    (Gemuruh dengung gong menampung Sri Baginda raja datang,
    Terdiam duduk merunduk segenap orang di jalanan,

    Nāgarakṛtāgama Pupuh LXV (65)

    [6]. ndann angken dina salwir ing tapel asing lewih adhika niwedya don ika
    stri ning mantry upapatti wipra dinuman sakari nika duweg matunggalan
    wang sang ksatriya wandhawa nrepati mukya sira rinawehan sasambhawa
    len sangkeng warabhojanederider edran i sabala narendra ring sabha.

    (Setiap hari sajian makanan yang dipersembahkan dibagi-bagikan,
    Agar para wanita, menteri, pendeta dapat menyantap sekenyangnya,
    Tidak terlupakan para kesatria, arya dan para abdi di pura,
    Tak putus-putusnya makanan sedap dan nikmat diedarkan kepada bala tentara.)

    Nāgarakṛtāgama Pupuh LXVI (66)

    [1]. enjing rakwa kaping nem ing dina bhatara narapati sabhojanakrama marek
    mwang sang ksatriya sang padadhika penuh yasa bukubukuran rinembat asusun
    dharmmadhyaksa kaih sireki n-awawan banawa pada winarnna bawa kakidung
    gongnya lwir tuhu palwa gong bubar agenturan angiring aweh resep ning amulat.

    (Pada hari keenam pagi Sri Baginda bersiap mempersembahkan sajian,
    Pun para kesatria dan pembesar mempersembahkan rumah-rumahan yang dipikul, Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melukiskan kutipan kidung, Seperahu sungguh besar sekali, diiringi gong dan tambur mengguntur menggembirakan.)

    [2]. rakryan sang mapatih gajahmada rikang dina muwah ahatur niwedya n-umarek
    stryanggeng soka tapel nirarjja tiheb ing bhujagakusuma rajasasrang awilet
    mantry aryyasuruhan pradesa milu len pra dapur ahatur niwedya n-angiring
    akweh lwir ni wawanya bhojana hanan plawa giri yasa mataya tanpapegetan.

    (Esok harinya patih mangkubumi Gajah Mada sore-sore menghadap sambil menghaturkan,
    Sajian oleh perempuan sedih merintih di bawah nagasari dibelit rajasa,
    Menteri, arya, bupati, pembesar desa pun turut menghaturkan sajian,
    Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan….)

    [3]. atyadbhuta halep ni karyya naranatha wekas ing mahottama dahat
    apan ring dina sapta tanpegat tikang dhana wasana sabhojanaparimita
    lumre sang caturasrama pramuka sang dwija milu paramantry asangkya kasukan
    kahyunhyun juru samy amalwang atepat kapilarih ika lwir ambuh umili.

    (Sungguh-sungguh mengagumkan persembahan Baginda raja pada hari yang ketujuh, Beliau menebar harta, membagi-bagikan bahan pakaian dan hidangan makanan,
    Luas merata kepada empat asrama, dan terutama kepada para pendeta,
    Hidangan jamuan kepada pembesar, abdi dan niaga mengalir bagai air.)

    [4]. sarsok tekang aninghaninghali sakeng dasadik atetel atri tanpaligaran
    tingkah ning pasabhan lawan sang ahatur ttadah atiki tinonya n-asrang arebut
    sri-raja rikanang witana mangigel bini bini juga tang maninghali marek
    kapwalinggih atindih agelar angebek hana lali ring ulah kawongan amulat.

    (Sorak-sorai dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-desak,
    Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta para luhur,
    Sri Nata menari di balai witana khusus untuk para puteri dan para istri,
    Yang duduk rapat rapi berhimpit, ada yang termenung karena tercengang memandang.)

    [5]. sasing karyya maweha tusta rikanang parajana winangun nareswara huwus
    nang widw amancangah raketraket anganti sahana para gitada pratidina
    anyat bhata mapatrayuddha sahaja ng magelagelapan anggyat angdani paceh
    mukya ng dana ri salwir ing manasi tanpegat amuhara harsa ning sabhuwana.

    (Segala macam kesenangan yang menggembirakan hati rakyat diselenggarakan,
    Nyanyian, wayang, topeng silih berganti setiap hari dengan paduan suara,
    Tari perang prajurit, yang dahsyat berpukul-pukulan, menimbulkan gelak-tertawa, Terutama derma kepada orang yang menderita membangkitkan gembira rakyat.)

    Majapahit mengembangkan kegiatan agraris adalah hal yang sudah wajar, karena kerajaan itu berada di Pulau Jawa yang subur. Jika dicermati secara lebih mendalam, terdapat beberapa alasan konsepsual-religius yang agaknya dijadikan referensi oleh raja dan masyarakat Klasik sejak zaman Mataram hingga Kadiri mengembangkan kerajaan bercorak agraris.

    Alasan itu antara lain sebagai berikut:

    1. Konsepsi keagamaan: baik ajaran Hinduisme menyatakan bahwa daratan adalah tempat penting, tempat itu dinamakan Jambhudwipa, sebagai lokasi bermukimnya manusia. Dengan demikian kerajaan-kerajaan yang bercorak Hinduisme di Jawa lebih mementingkan ‘perhatian ke dalam’ dan tidak memperhatikan daerah-daerah di luar Jambhudipa (Jawadwipa).

    2. Dalam konsep makro kosmos Hinduisme dinyatakan bahwa di tengah Jambhudwipa terdapat Gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta dan axis mundi antara ketiga dunia (bhurloka, bhuwarloka, dan swarloka). Di bagian kaki gunung itu adalah tempat tinggal manusia, di lerengnya bermukim orang-orang suci dan para pertapa, dan di bagian puncak gunung Mahameru terdapat sorga atau kota-kota tempat bersemayamnya para dewa dinamakan Sudarsana.

    Maka dari itu banyak kerajaan yang bernafaskan Hinduisme selalu mendekatkan diri kepada gunung dan dan dataran tinggi yang dipercaya sebagai jelmaan dari Gunung Mahameru pusat alam semesta.

    Dalam konsep ini daerah tepian pantai, laut atau lautan dianggap daerah yang nista dan kotor, tempat tinggal roh-roh jahat, para raksasa, dan makhluk-makhluk rendah lainnya. Oleh karena itu perhatian kepada laut, pelayaran di laut dan menjelajah lautan bukan aktivitas yang disenangi oleh para pemeluk agama Hindu.

    3. Terdapat mitos Agastya yang menyatakan adanya larangan bagi para pendeta Hindu untuk berlayar menyeberangi lautan. Oleh karena dalam mitologinya Agastya dipercaya menghirup air laut sehingga kering (oleh karena itu dinamakan Rsi Kumbhayoni, arcanya selalu digambarkan berperut buncit), barulah Agastya berjalan kaki dari Jambhudwipa ke pulau-pulau lain di selatan India hingga ke Nusantara. Di Nusantara Agastya dipuja sebagai pendeta suci murid Siwa yang berjasa menyebarkan Hindu-Saiwa.

    Menurut Ma Huan dalam bukunya: bahwa di Majapahit panen padi terjadi dua kali dalam setahun; padinya kecil-kecil, putih. Di sana juga ada buah jarak kara pondang (kuning), menghasilkan kayu sapang, intan kayu cendana putih, buah pala, lombok (cili) panjang, baja dan tempurung penyu, baik yang mentah maupun yang sudah masak. Disana juga terdapat berbagai burung seperti burung nuri sebesar ayam, dengan warna merah, hijau dan sebagainya, beo yang dapat diajari berbicara, kakak tua, joan hijau merak dan lain-lain. Tidak lupa disana juga terdapat kijang dan kera putih. Berbagai binatang yang diternakkan oleh masyarakat sekitar adalah babi, kambing, sapi, kuda, ayam, itik, keledai dan angsa. Dan buah-buahan yang dibudidayakan adalah pisang-pisangan, kelapa, tebu, delima, teratai, manggis, semangka, langsap dan lain-lain.

    Sebagai Negara yang rakyatnya hidup dari hasil pertanian, maka pemerintahnya sangat memperhatikan sektor pertanian, seperti yang dijelaskan dalam

    Nāgarakṛtāgama, pupuh LXXXII (82) : 2

    sri-nathe singhasaryy anaruka ri sagada dharmmaparimita
    sri-nathe wengker ing surabana pasuruhan lawan tang i pajang
    buddhadhistana tekang rawa ri kapulungan mwang locanapura
    sri-nathe watsarikang tigawangi magawe tusteng parajana.

    (Sri Nata Singasari membuka ladang luas di daerah Sagala,
    Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang,
    Mendirikan perdikan Buda di Rawi, Locanapura, Kapulungan,
    Baginda sendiri membuka lahan Watsari di Tigawangi, untuk dijadikan ladang dan sawah).

    Catatan:
    Sri Nata Singasari (Kertawardhana).
    Sri Nata Wengker (Wijayarajasa).
    Baginda (Prabu Hayam Wuruk) sendiri.

    Keterangan lain yang berhubungan dengan pertanian diperoleh dari piagam Kandangan, 1350, memberitakan pembangunan bendungan di daerah Kusmawa oleh demungnya ialah untuk menyediakan perairan demi kepentingan pertanian. Kegiatan masyarakat pedesaan terpusat pada sektor pertanian dan peternakan. Hasil dari masyarakat ini digunakan untuk mencukupi makanan masyarakat desa, sebagian dibawa ke kota, dan kelebihannya di jual di pasar.

    Keterangan lain yang menceritakan pengelolaan pedesaan terdapat dalam Nāgarakṛtāgama, pupuh LXXXVIII (88) : 1, 2, 3, 4, dan 5 yaitu menekankan pembinaan desa demi kemajuan dan keselamatan masyarakat desa. Dianjurkan agar jembatan-jembatan dan jalan-jalan dibina sebaik-baiknya, ladang dan sawah dijaga kesuburannya dan digarap sebaik-baiknya.

    [1]. salwir ikang buyut wadana teki tanwawang umantuk amwit i dalem
    aryya ranadhikara dinulur nikadhipati ring enjing humarek
    aryya mahadhikara juru pancatanda pinakadi ring padelegan
    rowang ika n-padamwit i sedang nareswara siran tinangkil apupul.

    (Segenap ketua desa dan wadana tetap tinggal, paginya mereka, Dipimpin
    Arya Ranadikara menghadap Baginda minta diri di pura,
    Bersama Arya Mahadikara, kepala pancatanda dan padelegan,
    Sri Baginda duduk di atas takhta, dihadap para abdi dan pembesar.)

    [2].ngka n-pawuwus nareswara ri wengker ojar i parandyanadi wadana
    he kita haywa tan tuhu susatyabhakty asih aniwya natha ri haji
    sthitya kiteng kawesyan i singangdane hajenga ning pradesa ya gengen
    setu damargga wandira grhadi salwir ikanang sukirtti pahayun.

    (Berkatalah Sri nata Wengker di hadapan para pembesar dan wadana:
    “Wahai, tunjukkan cinta serta setya baktimu kepada Baginda raja,
    Cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu,
    jembatan, jalan raya, beringin, bangunan dan candi supaya dibina.”)

    [3]. mukya nikang gaga sawah asing tinandur ika wrddhya raksan ameren
    yawat ikang lemah pinakaramaken pageha tanpadadya waluna
    hetu nikang kulina tan atundung ng aparadesa yan pataruka
    nang pratigundalanya ya tuten ri gonga nikanang pradesa n-usiran.

    (Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah,
    Perhatikan tanah rakyat, jangan sampai jatuh di tangan petani besar,
    Agar penduduk jangan sampai terusir dan mengungsi ke desa tetangga,
    Tepati segala peraturan untuk membuat desa bertambah besar.)

    [4]. sri-krtawarddhaneswara hamaywani kagengan ing pradesa gawayen
    ndan wilangen mahanasa rika pramada nika ring pejah sasi sada
    milwa ta yomapeksa hana ning duratmaka makady anidra lawana
    wrddhya ni drwya sang prabhu phalanya sadhana niran rumaksa bhuwana.

    (Sri nata Kertawardhana setuju dengan anjuran memperbesar desa,
    Harap dicatat nama penjahat dan pelanggaran setiap akhir bulan,
    Bantu pemeriksaan tempat durjana, terutama pelanggar susila,
    Agar bertambah kekayaan Baginda demi kesejahteraan negara).

    [5]. sri-nrpa tiktawilwanagareswarangupasama n-sumanten amuwus
    sonya ngaranya rakwa kadadinya teki katekanya haywa wisama
    yan hana rajakaryya palawang makadi nika tan hana n-lewata
    yang pasegeh muwah wruh anaha swadeha nikasomya laksana gegen.

    (Kemudian bersabda Baginda nata Wilwatikta memberi anjuran:
    Para budiman yang berkunjung kemari, tidak boleh dihalang-halangi,
    Rajakarya, terutama bea-cukai, pelawang, supaya dilunasi,
    Jamuan kepada para tetamu budiman supaya diatur pantas).

    Dalam Undang-undang Kutara Manawa: 260-262 menjelaskan tentang pertanian dan peternakan, berbunyi:

    Barang siapa yang membakar padi di ladang, tidak pandang besar kecilnya, harus membayar padi lima kali lipat kepada pemiliknya, ditambah denda sebesar dua puluh ribu. Barang siapa mengurangi penghasilan makanan misalnya dnegan mempersempit sawah atau membiarkan terbengkalai segala apa yang dapat menghasilkan makanan, atau melalaikan binatang apa pun, kemudian hal tersebut diketahui orang banyak, orang yang demikian itu diperlakukan sebagai pencuri dan pidana mati. Barang siapa yang melarang saudaranya untuk turut mengerjakan tanah, dikenakan denda seratus enam puluh ribu oleh Sang Amawabhumi. Orang itu dikatakan: Atulak kadang warga.”

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur sanget sembah nuwun Ki Bayu

      • Nderek matur nuwun Ki Bayu…

        • ngiKUT matur nuwun Ki Bayu…

  32. Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, nembe saged sowan malih sakmeniko. Dongengipun Ki Bayuaji ingkang sampun numpuk badhe kulo waos mangke dalu mugi-mugi saged rampung.

    • Nuwun
      Sugêng dalu, sugêng rawuh Ki</i

      Radi dangu Ki Arga mbotên ngabyantårå. Nêmbé tindak ngayahi pakaryan Ki?.

      Mugi Ki Arga dalah sakulawargå tansah pinaringan kasugêngan, kasarasan, sih karahayon, kabêgjan, såhå pikantuk bêrkah, ridhå Gusti Ingkang Murbå Ing Waséså. Aamin.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

      • Sugeng dalu ugi Ki Bayuaji. Kasinggihan Ki, nembe kathah tugas wonten luar kota. Bibar saking Denpasar lajeng Semarang lajeng Bandung. Insya Allah mbenjing Rebo ngajeng dumugi Minggu dateng Jambi. Matur nuwun donganipun mugi-mugi Ki Bayu sakulawarga ugi tansah pinaringan kasugengan, kasarasan, sih karahayon, kabegjan, saha pikantuk berkah, ridha Gusti Ingkang Murba Ing Wasesa. Aamin.

  33. Sugêng ing madyå ratri

    Syukur mangayubagyå, ada gandhok baru NSSI.
    Biar rame, mohon izin untuk selanjutnya dongeng arkeologi & antropologi diwedar di Gandhok NSSI, agar sanak kadang tidak kêponthal-ponthal, mblayu kesana kemari. Cukup di satu gandhok saja.

    Insya Allah Dongeng Surya Majapahit akan terus diwedar, dan mohon doa restunya,dongeng akan berlajut ke Demak (latar belakang NSSI), Jepara, Pajang hingga Mataram Islam.
    Mekatên Ki Panji Satriå Pamêdar

    Nuwun
    untuk Ki Bayuaji

    punåkawan

    • Monggo Ki


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: