TAPAK-TAPAK JEJAK GAJAH MADA

Iklan

Laman: 1 2

Telah Terbit on 19 Oktober 2012 at 00:01  Comments (12)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/tapak-tapak-jejak-gajah-mada/trackback/

RSS feed for comments on this post.

12 KomentarTinggalkan komentar

  1. Dinginnya malam ini

    Meski begitu, mengimbangi semangat Ki Dhalang “Kompor” Sandikala memaksa diri mencuri waktu dan mencari tumpangan untuk menuju ke padepokan untuk membangun Pendapa Padepokan Tatap-Tapak Jejak Gajah Mada.

    Lebih hebat dari siapa tu yang membuat Candi Prambanan dalam semalam, Risang membuat pendapa padepokan hanya dalam waktu kurang dari satu jam, he he he ……..

    Tapi…, selalu begitu ya, buat dan buka pendapa sendiri, buat dan buka gandok sendiri, he he he …..

    Selamat Malam
    Gandok TTJG-01 dibuka nanti sore saja ya, ngantuk……

    Monggo….., Risang bobo lagi

    • mantapppppppp……terima kasih Adimas Risang yang telah menyiapkan gandhok baru untuk kami……..

      Kamsia….
      kamsia…..
      (sambil membungkuk dan merangkapkan kedua tangan)

  2. Hadu……
    koneksi ngadat, mau edit pendapa tidak bisa
    oke-oke besok balik lagi

    • oke-oke
      tertunda sebentar
      sabar

  3. Pulau itu memang sangat jauh dari daratan yang terdekat, namun siapapun yang mengenal jalur pelayaran rahasia menuju pulau tempat kebun pala hidup di daratan Tanah Gurun, pasti akan singgah di pulau Tanah Wangi-wangi. Begitulah para pelaut menyebutnya. Sebuah pulau yang berbukit subur hijau dan berpantai landai, di pulau inilah para pelaut datang singgah untuk memenuhi perahu jungnya dengan bekal perjalanan mereka, terutama bekal air tawar yang memang begitu sangat dibutuhkan dalam perjalanan pelayaran yang jauh.

    Tuan Raja Jawa, begitulah semua warga penghuni pulau Tanah Wangi-wangi menyebut nama seorang tua yang sangat mereka hormati yang baru datang bersama keluarganya sekitar empat pekan yang lalu dan menetap di Pulau Tanah Wang-wangi.

    Siapakah Tuan Raja Jawa yang sangat dihormati oleh penghuni pulau Tanah Wangi-wangi itu ?

    Tuan Raja Jawa itu tidak lain adalah Ratu Anggabhaya yang datang mengungsi dari Jawadwipa bersama seluruh keluarga istana Singasari. Mereka mengungsi ketempat yang begitu jauh hanya untuk memberikan kesempatan putra harapan mereka yaitu Raden Sanggrama Wijaya dapat berjuang merebut kembali tanah hak mereka dari seorang penghianat perebut tahta singgasana, seorang saudara dan keluarga sendiri, Raja Jayakatwang yang saat itu telah mengukuhkan dirinya sebagai Maharaja Jawadwipa Raya berkedudukan di Kediri.

    Mereka para pengungsi keluarga istana Singasari itu datang ke Pulau Tanah Wangi-wangi diantar oleh seorang Senapati muda bernama Mahesa Amping, seorang Senapati muda yang berilmu tinggi yang sangat dekat dan sangat dipercaya oleh Raden Sanggrama Wijaya. Senapati Mahesa Amping juga telah membawa keluarga dan beberapa kerabatnya dari Balidwipa untuk tinggal dan menetap di pulau Tanah Wangi-wangi.

    Tuan Raja Jawa atau Ratu Anggabhaya diterima oleh para penghuni Pulau Tanah Wangi-wangi karena datang bersama seorang yang sangat begitu mereka hormati, yaitu Senapati Mahesa Amping yang pernah datang di Pulau Tanah Wangi-wangi bersama Kebo Arema sang Karaeng, putra mahkota pulau Tanah Wangi-wangi. Mahesa Amping dan Kebo Arema adalah pahlawan mereka yang telah membebaskan Pulau Tanah Wangi-wangi dari penguasa kejam, para perompak laut yang berkuasa dan menjajah penghuni pulau Tanah Wangi-wangi dalam kurun waktu yang cukup lama, menciptakan banyak derita dan kemalangan.

    Demikianlah, sejak saat itu ada dua keluarga baru yang tinggal di pulau Tanah Wangi-wangi, keluarga istana Singasari dari Jawadwipa dan keluarga Mahesa Amping dari Balidwipa.

    Sebagaimana dalam kisah sebelumnya, dimana Senapati Mahesa Amping mengawal rombongan keluarga istana Singasari menuju tanah pengungsian hanya di kawani seorang sahabatnya yang bernama Ki Sandikala. Ketika rombongan singgah di Balidwipa, Senapati Mahesa Amping tidak sampai hati bila harus meninggalkan Adityawarman, anak kandungnya sendiri serta kemenaknnya putra Raden Sanggarama Wijaya bernama Jayanagara untuk waktu yang cukup lama yang saat itu tinggal dan masih menetap di Padepokan Pamecutan, sebuah Padepokan yang dibangun dan didirikan bersama Empu Dangka.

    “Gajahmada dan ibunya juga harus kubawa serta”, berkata Mahesa Amping dalam hati ketika akhirnya juga memutuskan untuk membawa Gajahmada anak angkatnya bersama ibunya Nyi Nariratih ke pulau Tanah Wangi-wangi.

    • genk dalu kadang sedoyo, rontal perdana, hehehe

  4. Kadesipun gandok nembe libr semesteran nggih ?

    • wah…., ki glagah merah telat ni, sudah masuk lagi sekarang, malah sudah UTS, he he he ….

  5. mlebu gandok lagi sak critan kok wis ditinggal hehehe

  6. ttjg-02 tidak bisa di download ki,….
    jilid 01, 03, 04, 05 dan 06 tidak ada masalah…

    nuwun.

    • sudah sya perbaiki tautannya Ki Sukasrana, monggo dipun cobi malih.

      eh…, lama tidak hadir di padepokan, sehat saja to Ki.

    • Alhamdulillah tambah sing njogo, Wilujeng Ki Sukasrana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: