TTJG-01

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 19 Oktober 2012 at 18:00  Comments (165)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/ttjg-01/trackback/

RSS feed for comments on this post.

165 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Dibalik hutan Konjaran ini adalah padang Konjaran yang sangat luas dengan semak ilalang setinggi tubuh”, berkata salah seorang prajurit pemantau kepada Senapati Jaran Pekik.

    “Musuh dengan mudah bersembunyi dibalik malam dan padang ilalang”, berkata prajurit pemantau lainnya kepada Senapati Jaran Pekik.

    “Hari ini kita bermalam di bibir hutan ini, baru menjelang pagi kita lanjutkan perjalanan”, berkata Senapati Jaran Pekik membuat sebuah keputusan.

    Demikianlah Senapati Jaran Pekik memutuskan untuk bermalam di bibir hutan Konjaran ditempat yang terbuka agar pasukannya dapat segera melihat dari segala penjuru bilamana musuh tiba-tiba saja datang menyergap mereka.

    Maka diujung senja dibibir hutan Konjaran pasukan Kediri itu telah membangun gubuk-gubuk darurat dari kayu, ranting dan daun kering yang banyak mereka temui di sekitar hutan itu sekedar menghindari angin dingin malam.

    Akhirnya sang malam perlahan datang menyelimuti lengkung langit diatas bibir hutan Konjaran. Terlihat beberapa prajurit berkelompok dibeberapa tempat menyalakan api unggun mengisi malam yang dingin sambil berbincang hal-hal yang menyenangkan, mencoba melupakan sisa perjalanan mereka esok hari.

    “Mereka bermalam dibibir hutan Konjaran”, berkata seorang prajurit pemantau kepada Raden Wijaya.

    “Artinya ada kesempatan yang cukup untuk para prajurit kita yang baru datang dari Bandar Ujung Galuh untuk beristirahat”, berkata Raden Wijaya kepada prajurit pemantau itu sekaligus memerintahkan semua pasukannya untuk beristirahat di malam itu.

    Tidak seperti pasukan Kediri di bibir hutan Konjaran, pasukan Raden Wijaya tidak ada satupun yang berani membuat api unggun, juga membuat gubuk-gubuk darurat untuk melindungi mereka dari dinginnya embun malam. Mereka hanya berbaring beralaskan tanah kering dibawah lengkung langit malam. Tapi ternyata kerimbunan semak ilalang adalah tempat yang paling hangat dimalam hari. Mungkin itulah sebabnya banyak burung yang bermalam disekitar semak ilalang yang hangat.

    “Burung kecil itu merasa kakiku sebagai induk semangnya”, berkata seorang prajurit Singasari dalam hati sambil tersenyum yang melihat seeokor burung kecil menyusup rapat diujung kakinya.

    Demikianlah, dua pasukan ditempat yang berbeda tengah melepaskan rasa penatnya, berbaring memejamkan matanya mencoba melupakan rasa tegang dan kecemasan yang kadang selalu datang melintas dalam diri mereka, beberapa bayangan peperangan yang pernah mereka hadapi, juga bayangan peperangan yang akan mereka hadapi. Tapi semua itu langsung menghilang bersama rasa kantuk yang sangat merebut dan menyembunyikan semua pikiran mereka dibalik alam tidur, alam batas antara sadar dan terbangun diawal pagi, alam yang penuh misteri tak terjawab dengan akal indera. Dan yang pasti malam itu mereka sudah tertidur begitu nyenyaknya, bahkan ada yang tidur dipenuhi dengan banyak mimpi. Meski ada juga yang tertidur tanpa sebuah mimpipun. Celakanya ada beberapa orang yang tidak bisa tidur semalaman.

    Dan akhirnya sang pagi telah datang membangunkan tidur mereka.

    • weleh-weleh….baru ngelejap tidur….sudah ada di gandhok lain, haduh …wajik dari Ki Bancak ketinggalan di gandhok sebelah, hehehe

  2. Terlihat kesibukan diawal pagi di bibir hutan Konjaran dari beberapa prajurit Kediri yang bertugas di dapur umum menyiapkan makanan untuk para prajurit.

    Bau harum daging kijang ternyata benar-benar sangat menggoda dipagi itu. Ternyata beberapa prajurit yang semalaman tidak bisa tidur diam-diam menyelinap ketengah hutan Kanjoran. Hasilnya dua ekor kijang untuk tambahan sarapan pagi mereka.

    Senapati Jaran Pekik merasa ikut gembira melihat semangat prajuritnya yang terlihat telah kembali seperti sediakala sebagaimana semangat mereka ketika akan berangkat dari Kotaraja Kediri.Namun Senapati Jaran Pekik masih terus mengingatkan para prajuritnya untuk tetap waspada.

    “Mungkin saja musuh saat ini tengah mengintai kita, jangan sampai kejadian di hutan Simpang terulang lagi”, berkata Senapati Jaran Pekik kepada para perwiranya.

    Demikianlah, Senapati Jaran Pekik telah menugaskan beberapa prajuritnya untuk berganti berjaga disekeliling mereka, juga telah menugaskan beberapa prajurit pemantau didepan jalan yang akan dilewati oleh pasukannya.

    Namun ternyata semua kewaspadaan Senapati Jaran Pekik itu seperti sudah dapat dibaca oleh Raden Wijaya. Itulah sebabnya di pagi itu di padang Konjaran sepertinya tidak ada kegiatan apapun. Semua prajurit Singasari sudah diperintahkan sejak malam harinya untuk berada di persembunyiannya masing-masing.

    Maka ketika dua orang prajurit pemantau Kediri datang mengawasi keadaan di Padang Konjaran, mereka tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan.

    “Aku melihat sekelompok burung prenjak datang dan pergi di padang ilalang itu, sepertinya mereka tidak menemui apapun yang mengusik kehidupannya”, berkata seorang prajurit pemantau Kediri yang punya cara ketelitian yang tinggi mengamati setiap keadaan kepada kawannya.

    Ternyata prajurit itu tidak pernah terpikirkan bahwa para prajurit Singasari adalah orang-orang pilihan yang terlatih dalam segala medan penyamaran. Mereka sudah dilatih ketika dalam pendadaran sebagai prajurit sandi yang ulung, sebagai petarung yang hebat secara perorangan dan juga telah dilatih untuk dapat bersatu dengan alam hingga seperti senyap tak terlihat. Seperti itulah mereka bersembunyi disekitar padang Kanjoran, diam tak bergerak bersatu dengan alam padang ilalang. Maka tidaklah heran bila beberapa burung prenjak tidak terusik dengan kehadiran mereka seperti yang dilihat dan diamati seorang prajurit pemantau dari kediri yang terus mengawasi keadaan di padang Kanjoran.

    Sementara itu pagi sudah mulai terang tanah, matahari sudah mulai naik menghangatkan seisi bumi dan menerangi langit pagi yang cerah berawan putih bersama semilir angin yang sedikit menggoyangkan ujung-ujung daun dan ranting kecil di pucuk pohon kayu yang tumbuh rindang bertebar penuh memagari hutan Kanjoran.

    “Siapkan semua prajurit, kita segera berangkat”, berkata Senapati Jaran Pekik kepada seorang perwiranya.

    Maka saat itu juga perwira kepercayaan Senapati Jaran Pekik itu sudah memanggil seorang prajurit penghubung untuk memberitahukan seluruh prajurit untuk siap melanjutkan perjalanannya.

    • oke…oke…oke….
      satpam pun juga siap-siap lagi melanjutkan perjalanannya, he he he ….

      kamsia………………………….

    • hajar perbekalannya…. !!!
      eh… kok jadi emosi, … maklum ki, .. saya terlalu bersemangat, …
      hihihihi….

  3. Demikianlah, pada saat itu terlihat iring-iringan pasukan Kediri sudah tengah memasuki hutan Kanjoran. Mereka seperti kumpulan semut hitam yang masuk kemulut goa hitam menghilang didalam kerepatan hutan Kanjoran. Semakin masuk kedalam jalan dihadapan mereka semakin rapat terhalang semak belukar.

    Cukup lama pasukan segelar sepapan ini menyusuri hutan Kanjoran. Akhirnya mereka telah melihat cahaya sinar matahari semakin terang dihadapan mereka. Cahaya yang mulai merayap naik dipagi itu adalah cahaya sinar mentari yang menerangi padang Konjaran di muka hutan Konjaran.

    Benar, mereka sudah mulai keluar dari hutan Kanjoran dan telah berada ditepi padang Konjaran yang dipenuhi oleh semak ilalang setinggi tubuh manusia.

    “Kami sudah mengamati keadaan padang Konjaran sejak pagi, kami tidak menemukan apapun yang mencurigalkan”, berkata seorang prajurit pemantau kepada Senapati Jaran Pekik.

    “Teruskan perjalanan kita”, berkata Senapati Jaran Pekik kepada perwiranya.

    Maka terlihat iring-iringan pasukan itu terus berjalan menembus padang ilalang Kanjoran. Arah perjalanan mereka nampaknya lurus menuju ke hutan Galam. Semakin masuk kedalam padang ilalang Kanjoran, iring-iringan pasukan itu semakin tenggelam terhalang padang ilalang yang tinggi. Hanya sebagian kepala mereka saja yang dapat terlihat dari kejauhan. Sementara pasukan berkuda mereka masih dapat terlihat sebagian tubuhnya dipunggung kuda-kuda mereka.

    Akhirnya terlihat seluruh pasukan itu sudah tenggelam ditengah padang ilalang Konjaran.

    Hati Senapati Jaran Pekik dan hampir seluruh pasukannya itu memang cukup jerih dan berdebar membayangkan tiba-tiba saja pasukan musuh menyergap mereka dari tempat tersembunyi.

    Terlihat mata dan pendengaran mereka selalu mewaspadai dan terus bersiaga dengan segala apa yang mereka lihat dan dengar disepanjang perjalanan mereka di padang ilalang Konjaran.

    Meski hati mereka terus mewaspadai dan terus siaga dengan apa yang mereka lihat dan dengar sepanjang perjalalannya di padang ilalang Konjaran itu, tetap saja menjadi begitu terkejut seketika manakala pendengaran mereka telah mendengar suara dengung panah sanderan melintas diantara mereka.

    Belum sempat mereka untuk berbuat apapun, tiba-tiba saja beberapa kawan didekat mereka langsung rebah terkena sebuah anak panah yang telah menancap di tubuh mereka.

    “Pembidik gelap !”, berteriak Senapati Jaran Pekik memberi peringatan kepada prajuritnya ketika dilihatnya beberapa orang prajuritnya sudah termakan anak panah gelap yang tidak diketahui darimana datangnya melesat dari balik kelebatan ilalang.

    Belum habis suara Senapati Jaran Pekik, kembali beberapa prajuritnya sudah termakan anak panah gelap.

    Maka sebagian prajurit Kediri yang masih selamat secara naluri sudah langsung tiarap menyelamatkan dirinya masing-masing.

    Ternyata keadaan inilah yang ditunggu oleh Raden Wijaya dan pasukannya.

    • Tiaraaaaapppp….!!!!!!
      Apakah tidak ada satupun prajurit Kediri yang membawa perisai ?

      • he he he …..

        itulah namanya cerita Ki, biar seru……
        secara naluri dia tiarap, baru kemudian dia menyadari, lha kok bodoh sekali dia, lha punya perisai kok malah dipakai alas untuk tiarap, ha ha ha …..
        tetapi terlambat, dadanya, kakinya, perutnya, bokongnya atau yang lain kena panah, he he he ….
        selamat menjelang pagi

        • hehehe…….kebetulan jaman Singasari cuma terpikir bikin kemong gamelan….baru ada ide bikin perisai setelah kejadian di padang Konjaran ini….qiqiqiqiq (ilmu ngeles tingkat tinggi, hehehehe)

          • eh …lupa….Selamat pagi Ki Risang, tanggung kalo tidur gini hari bisa bablas subuhnya, hehehe. SELAMAT MENUNGGU SUBUH

          • sugeng sonten
            kamsiiaaa

  4. siipp………………
    betul….., inilah yang satpam tunggu-tunggu
    waktunya tiarap di atas kasur dibawah dua selimut tebal untuk mengurangi rasa dingin, he he he …..

    selamat malam….., sampai ketemu besok pagi
    semoga mimpi indah, he he he ……

    • Selamat malam pak satpam, selamat mimpi indah…..

  5. Terdengar suara dengung anak panah sanderan terdengar membelah udara padang ilalang Konjaran.

    Ternyata itulah tanda untuk lima ratus prajurit berkuda Singasari keluar dari persembunyiannya di hutan Galam langsung menuju lambung pasukan Kediri yang tengah bertiarap.

    Sungguh pemandangan yang sangat menggetarkan hati, lima ratus prajurit berkuda Singsari seperti air bah menghantam pasukan Kediri yang banyak belum sempat bangkit terhantam terjangan pasukan berkuda Singasari, sementara mereka yang dengan cepat bangkit berdiri sudah langsung merasakan tebasan pedang dari pasukan berkuda Singasari.

    Terjangan dan serangan itu datang begitu tiba-tiba, setengah dari pasukan Kediri itu sudah langsung susut berkurang.Lima ratus pasukan berkuda Singasari dengan begitu mudah leluasa membantai pasukan Kediri yang tidak siap dan tidak menduga akan mendapatkan serangan yang datang tiba-tiba itu layaknya air bandang menerjang dan menggulung apapun dihadapannya luruh lantak hancur terburai.

    “Hadang mereka !!”, berteriak Senapati Jaran Pekik memerintahkan pasukan berkudanya menghadang pasukan berkuda Singasari.

    Terlihat pasukan berkuda Kediri yang berada didepan pasukannya telah berbalik arah kebelakang mencoba membantu kawan-kawan mereka yang tersisa dan masih selamat mempertahankan dirinya dari serangan prajurit berkuda Singasari.

    Kembali sebuah kejutan baru tiba-tiba saja datang, entah dari mana tiba-tiba saja muncul sekitar seratus prajurit berkuda dari kiri kanan menusuk pasukan berkuda Kediri yang tengah berlari membantu kawan-kawan mereka dari pembantaian lima ratus pasukan berkuda Singasari.

    Ternyata sekitar seratus orang berkuda itu adalah para pembidik panah gelap yang bersembunyi yang telah mengikat dua pasang kaki kuda mereka agar tetap berbaring tidak terlihat terhalang lebat dan tingginya padang ilalang Konjaran. Dengan cepatnya mereka membuka ikatan kaki kuda mereka yang langsung segera berdiri dan dengan sekali hentakan kuda-kuda itu sudah berlari menerjang tiga ratus prajurit berkuda Kediri tepat ditengah mereka.

    Para prajurit berkuda Kediri tidak menyangka mendapat serangan mendadak dari arah samping kiri kanan mereka. Akibatnya beberapa orang prajurit berkuda Kediri itu sudah langsung terjungkal dan terlempar dari kudanya dengan tubuh terluka parah terkena tebasan pedang tajam para pasukan berkuda Singasari yang sudah langsung dapat menguasai medan pertempuran.

    Dalam waktu singkat, jumlah pasukan Kediri itu sudah kembali susut tajam berkurang menghadapi para prajurit Singasari yang memang sangat berani dan mempunyai banyak pengalaman bertempur disegala medan.

    “Kadal licik !”, berteriak memekik geram Senapati Jaran Pekik yang melihat semua serangan-serangan yang datang mendadak silih berganti menyurutkan jumlah pasukannya dan sudah berniat menghentakkan kudanya membantu prajuritnya.

    Namun Senapati Jaran Pekik tidak jadi menghentakkan perut kudanya ketika seorang penunggang kuda mendatanginya. Terlihat penunggang kuda itu tersenyum memandangnya.

    • ciyus….mi apa ?, berkata penunggang itu sambil tersenyum, he he he

  6. “Sebentar lagi pasukanmu akan tergulung”, berkata penunggang kuda itu setelah dekat dengan Senapati Jaran Pekik.

    “Ternyata tidak susah bertemu dengan seorang Senapati pecundang dari Tumapel”, berkata Senapati Jaran Pekik yang telah mengenal penunggang kuda dihadapannya itu sebagai Senapati Raden Wijaya dimana dirinya dulu pernah bertugas di istana Singasari sebagai prajurit kaki tangan dari kelompok Raja Jayakatwang.

    “Ternyata aku juga tidak perlu mendatangi Kotaraja Kediri hanya untuk mencari seorang penghianat”, balas menjawab Raden Wijaya yang juga telah mengenal Senapati Jaran Pekik sebagai salah seorang prajurit yang bertugas sangat lama di istana Singasari.

    “Aku hanya tidak menyangka, seorang bangsawan telah melakukan sebuah kelicikan dalam peperangannya. Membantai pasukanku di hutan Simpang, juga dengan licik menyergap pasukanku di padang ilalang Konjaran ini”, berkata Senapati Jaran Pekik sambil memicingkan matanya memandang Raden Wijaya dengan perasaan penuh kebencian.

    “Kalianlah yang mengajarkan kepadaku untuk melakukan hal yang sama, berbuat yang sama sebagaimana kalian memperdayakan kami di padang Kalimayit, memindahkan secara diam-diam pasukan besar kalian untuk melumpuhkan Kotaraja Singasari yang kosong tanpa prajurit”, berkata Raden Wijaya sambil tersenyum pahit.

    “Hari ini aku ingin memberi pengajaran kepadamu, sudah lama aku menyangsikan pangkat dan kehormatanmu sebagai seorang Senapati”, berkata Senapati jaran Pekik yang sudah turun dari kudanya menantang Raden Wijaya.

    Terlihat Raden Wijaya langsung ikut turun dari kudanya.

    “Mungkin aku mudah mengampuni seorang musuh, tapi tidak untuk seorang penghianat”, berkata Raden Wijaya yang sudah berhadapan dengan Senapati jaran Goyang.

    “Aku akan membawa kepalamu ke Kotaraja Kediri sebagai oleh-oleh perjalanan ini”, berkata Senapati Jaran Pekik sambil melepas pedangnya dari sarungnya.

    “Kamu tidak akan sempat kembali ke Kotaraja Kediri”, berkata Raden Wijaya yang ikut melepaskan pedangnya sekedar menunjukkan dirinya siap melayaninya.

    “Awas batang lehermu”, berkata Senapati Jaran Pekik yang sudah langsung menyerang Raden Wijaya dengan mengayunkan pedangnya kearah batang leher Raden Wijaya.

    Trang…… !!!!

    Dua pedang beradu ketika Raden Wijaya dengan sedikit merunduk dan mengayunkan pedangnya searah laju ayunan pedang Senapati Jaran pekik.

    Bukan main kagetnya Senapati Jaran Pekik merasakan sedikit tangannya kesemutan ketika pedang Raden Wijaya menyentuh pedangnya.

    Terlihat Raden Wijaya sedikit tersenyum, tidak langsung balas menyerang hanya menanti serangan berikutnya dari Senapati Jaran pekik.

    • cihuuuiiiiii
      selamat malam
      matur nuwun

      • met malam Ki Bancak, jangan kemana-mana….bentar lagi muncul satu rontal, hehehe

  7. Dari gebrakan pertama itu Raden Wijaya sudah dapat mengukur tingkat kemampuan lawannya itu.

    Dengan hati gusar kembali Senapati Jaran Pekik melakukan serangannya kembali kali ini dengan menusuk pedangnya kearah dada Raden Wijaya.

    Kali ini Raden Wijaya tidak menangkis serangan Senapati Jaran Pekik, hanya sedikit memiringkan badannya dan balas menyerang Senapati Jaran Pekik dengan mengayunkan pedangnya tegak lurus kearah pundak Senapati Jaran Pekik dengan kecepatan dan kekuatan yang tidak sepenuhnya sekedar menampakkan bahwa dirinya adalah lawan tanding yang sejajar.

    Tapi tetap saja Senapati Jaran Pekik merasakan serangan itu cukup berbahaya dengan langsung mundur selangkah dan kembali melakukan serangannya.

    Demikianlah, Raden Wijaya masih terus melayani permainan pedang Senapati Jaran Pekik yang masih belum menyadari bahwa sebenarnya Raden Wijaya dapat dengan mudah dapat menundukkannya. Bahkan dalam hati Senapati Jaran Pekik sudah ada anggapan bahwa dirinya ternyata sejajar dengan tingkat kemampuan Raden Wijaya dimana dalam beberapa serangan Raden Wijaya berpura-pura sangat sibuk dan kewalahan. Semakin yakinlah Senapati jaran Pekik akan dapat mengalahkan Raden Wijaya.

    Ketika melayani permainan ilmu pedang Senapati Jaran Pekik, mata Raden Wijaya kadang tidak lepas memperhatikan jalannya pertempuran para prajuritnya yang dilihatnya sudah menguasai medan pertempuran dimana semakin lama pasukan Kediri menjadi semakin surut berkurang.

    Sebagaimana yang dilihat oleh Raden Wijaya, pasukannya memang sudah hampir menguasai medan pertempuran dimana pasukan Kediri telah semakin surut,terutama ketika berhadapan dengan seorang yang bersenjata cambuk yang tidak lain adalah Senapati pemimpin tertinggi prajurit di Balidwipa yaitu Mahesa Amping yang mempunyai tataran tingkat ilmu yang sudah begitu sangat tinggi dan sempurna. Terlihat setiap kali Senapati Mahesa Amping melepaskan cambuknya, pasti akan jatuh korban seorang prajurit yang terlempar jatuh terbaring tidak mampu bangkit lagi merasakan tulang pahanya remuk atau tulang iganya patah-patah. Ternyata Senapati Mahesa Amping berusaha hanya untuk melumpuhkan mereka dan tidak bermaksud mengambil nyawanya.

    Disisi lain di medan pertempuran itu, terlihat seorang berjubah hitam berkali-kali melumpuhkan para prajurit Kediri hanya dengan sebuah tendangan dan pukulannya yang terlihat tidak begitu keras tapi lawannya sudah langsung pingsan tidak bergerak lagi. Siapa lagi orang berjubah hitam yang memang seorang yang sudah sangat mumpuni tingkat kesaktiannya kalau bukan Ki Sandikala. Melihat beberapa kawannya dengan begitu mudah dijatuhkan terjengkang langsung pingsan membuat para prajurit Kediri tidak berani mendekati Ki Sandikala. Namun tetap saja ada seorang prajurit Kediri yang tersasar berada didekatnya yang dengan mudahnya dapat dilumpuhkannya. Sebagaimana Senapati Mahesa Amping, Ki Sandikala juga dapat mengendalikan dirinya hanya membuat lawannya pingsan atau sekedar melumpuhkannya tidak mampu bangkit berdiri kembali.

    “Menyerahlah !”, berkata Ki Bancak kepada seorang prajurit Kediri yang senjatanya sudah terlepas dari genggemannya ketika beradu keras dengan pedang Ki bancak.

    “Aku menyerah”, berkata prajurit Kediri itu melihat dengan cepatnya pedang Ki bancak sudah menempel di kulit lehernya.

    • ternyata Ki Bancak punya ilmu simpenan juga yaaa, he he he

  8. Demikianlah, jalannya pertempuran kedua pasukan itu sudah dapat diperhitungkan. Jumlah prajurit Kediri sudah semakin menyusut dan mereka sudah terpecah terkepung oleh beberapa prajurit Singasari yang mampu menyesuaikan diri berbagi kekuatan terus menekan satu persatu prajurit Kediri yang sudah terkepung.

    “Aku sudah tidak punya lawan”, berkata Ki Sandikala kepada Mahesa Amping yang datang menghampirinya.

    “Biarlah prajurit Singasari menyelesaikan tugasnya”, berkata Mahesa Amping sambil memandang dua tiga orang prajurit Kediri yang masih terus melawan menghadapi kepungan banyak prajurit Singasari.

    “Mengapa kamu tidak mau menyerah ?”, berkata Ki Sukasrana membentak seorang prajurit Kediri sambil menempelkan ujung pedangnya dikulit leher orang itu.

    “Aku memilih mati daripada menyerah menjadi budak kalian seumur hidupku”, berkata prajurit kediri itu dengan mata memandang tajam seperti tidak merasa takut akan ancaman pedang Ki Sukasrana yang menempel di kulit lehernya.

    Plang…!!

    Ternyata Ki Sukasrana sudah tidak sabaran lagi langsung melecut telinga prajurit Kediri itu hanya dengan bidang datar pedang tipisnya, dan dengan hanya setengah kekuatan tenaganya, tentunya.

    Tapi prajurit Kediri itu seperti merasakan suara yang menggema dan rasa sakit yang sangat dekat dengan gendang telinganya, seketika itu juga prajurit itu sudah langsung jatuh pingsan.

    Terlihat Ki Sukasrana memanggil seorang prajurit Singasari untuk mengikat prajurit Kediri yang keras kepala itu.

    Kembali kepertempuran antara Raden Wijaya dan Senapati Jaran Pekik yang masih terus berlangsung dimana Raden Wijaya masih memberi angin kepada Senapati Jaran Pekik merasa tingkat kemampuan tataran ilmunya masih sejajar bahkan dapat mengalahkan Raden Wijaya.

    “Ternyata dugaanku benar, tingkat kemampuan anak bangsawan ini tidak lebih tinggi dariku”, berkata Senapati Jaran Pekik sambil terus melancarkan serangannya lebih gencar lagi.

    Namun dirinya berdegap kaget manakala beberapa orang terlihat mengelilinginya yang ternyata semuanya adalah prajurit Singasari. Sadarlah dirinya bahwa pasukannya sudah jatuh terkalahkan.

    “Aku akan membunuhmu”, berkata Senapati Jaran Pekik kepada Raden Wijaya sambil menerjang memutar pedangnya dengan sangat cepat sekali.

    “Jangan lari”, berkata Senapati Jaran Pekik yang melihat Raden Wijaya tiba-tiba saja melenting menjauh dan berdiri sambil bertolak pinggang.

    “Pasang telingamu baik-baik wahai Jaran Pekik”, berkata Raden Wijaya langsung memanggil nama Jaran Pekik tanpa sebutan senapati kepadanya.”Kamu belum pantas menyandang gelar Senapati, dibawah bendera Singasari kamu hanya layak setingkat prajurit Lurah”, berkata kembali Raden Wijaya sambil melempar pedangnya.

  9. Sugeng Ndalu….

    Lare ical wangsul dateng nggriya malih. Jebul ana dalang kondang lagi mbeber wayang tho… Kamsiaaa….

    Angslub malih.

    • lama nian tak bersua, sugenk ndalu Ki Tole

    • cari jejak ki sI_TolE ah…….

      eh…, ternyata hampir setahun absen, he he he …

      Dikirim pada 2011/12/28 pukul 18:25

      Sugeng ndalu…

      Lama tidak menyambangi padepokan, eh, Tole kok digigit ular. Apes temen tho yaaaa….

      Kamsiaaaa….

  10. “Aku tahu sebentar lagi kamu akan memberi isyarat agar seluruh prajuritmu datang membantumu”, berkata Senapati Jaran Pekik dengan maksud memalukan Raden Wijaya di hadapan semua prajuritnya. Dengan begitu masih ada kesempatan dirinya mengalahkan Raden Wijaya yang masih dianggapnya mempunyai tataran tingkat ilmu yang sejajar dengan dirinya.

    “Kamu salah Jaran Pekik, aku tidak akan meminta siapapun membantuku. Dan perlu kamu ketahui bahwa prajurit Singasari adalah para ksatria sejati yang tidak akan turun di arena pertempuran antara dua Senapati”, berkata Raden Wijaya dengan suara yang lantang.

    “kalau begitu jangan sesali pedang yang sudah kamu lepaskan”, berkata Senapati Jaran Pekik memekik dengan keras sambil menerjang berlari kearah Raden Wijaya mengangkat pedangnya tegak lurus diatas kepala siap membelah kepala Raden Wijaya.

    Terlihat Raden Wijaya masih bertolak pinggang manakala Senapati Jaran Pekik sudah semakin mendekatinya.

    Raden Wijaya masih tetap diam manakala Senapati jaran Pekik tengah mengayunkan pedangnya bermaksud membelah kepalanya.

    Bukan main kagetnya Senapati Jaran Pekik ketika pedangnya hanya berjarak satu jari dari kepala Raden Wijaya. Tiba-tiba saja dengan kecepatan yang tidak dapat terlihat oleh pandangan mata Senapati Jaran Pekik bahwa kedua tangan Raden Wijaya sudah menjepit pedang Senapati Jaran pekik menahan luncurannya.

    Bukan main kuatnya jepitan itu seperti melekat diantara kedua telapak tangan Raden Wijaya manakala dengan sekuat tenaga Senapati Jaran Pekik bermaksud menariknya.

    Mata Senapati Jaran Pekik seperti mendelik keluar tidak menyangka bahwa Raden Wijaya mempunyai kekuatan yang begitu hebat, merasakan jepitan tangan Raden Wijaya seperti sebuah dua bilah batu cadas hitam, begitu kuat menahan kekuatan tarikannya yang tidak bergeming sedikitpun.

    Puncak keterkejutan Senapati Jaran Pekik adalah manakala hanya dengan sedikit sentakan dari kedua tangan Raden Wijaya, pedang digenggamannya sudah berpindah tangan.

    Dan Senapati Jaran Pekik seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, entah dari mana dan dengan kecepatan yang tidak mampu dibacanya, tiba-tiba saja kedua pipinya merasakan tamparan yang begitu kerasnya nyaris merontokkan hampir seluruh gigi gerahamnya.

    Terlihat darah segar mengalir dari celah bibirnya yang ikut pecah terkena tamparan keras dari Raden Wijaya.

    “Hukuman yang terbaik dari manusia yang menjual darah saudaranya sendiri adalah menjadi budak hina seumur hidupmu”, berkata Raden Wijaya kepada Senapati Jaran Pekik yang baru sadar bahwa selama ini Raden Wijaya hanya memberi angin kepadanya berpura-pura setingkat kemampuan dengannya yang ternyata Raden Wijaya mempunyai kemampuan yang jauh melampaui orang biasa, bahkan lebih tinggi lagi.

    “Ikat orang ini”,berkata Raden Wijaya memanggil dua orang prajuritnya.

    • oentoek Ki ToLe yang baru datang sambangi Padepokan tercinta, hehehe

      • Waduh….. matur nuwun sanget Ki. Mugi2 saget sregep mampir padepokan malih🙂

        *Ngarep dibalang rontal sing luwih akeh… heheheh

  11. Demikianlah, pertempuran dua pasukan itu memang telah berakhir, terlihat beberapa prajurit Singasari tengah mengumpulkan para tawanan menjadi satu dalam keadaan tangan terikat dan penjagaan yang ketat. Sementara itu prajurit yang lainnya tengah memberikan perawatan beberapa orang yang terluka, kawan mereka sendiri dan beberapa prajurit Kediri yang terluka. Akhir dari sebuah peperangan memang sangat menggelikan, mereka yang membuat orang terluka, akhirnya mereka juga yang dengan suka rela penuh perhatian memberikan pertolongan merawat orang terluka itu, musuhnya sendiri.

    Terlihat Ki Sandikala dan Mahesa Amping berada diantara beberapa prajurit Singasari yang tengah merawat orang yang terluka. Pengalaman dan pengetahuan mereka tentang pengobatan memang sangat dibutuhkan. Dan mereka mengobati semua orang saat itu tanpa membedakan mana prajurit Singasari dan mana prajurit Kediri. Mereka diperlakukan dengan sama sebagai manusia sesama yang tengah membutuhkan pertolongan.

    Sementara itu matahari diatas Padang Konjaran sudah merayap menuruni kaki lengkung langit senjanya. Angin semilir berhembus lembut menyapu ujung-ujung ilalang.

    “Besok pagi kita harus menyempurnakan mereka yang telah menjadi korban di Padang Konjaran ini”, berkata Raden Wijaya kepada Gajah Pagon dan Ki Sukasrana yang berada didekatnya sambil memandang beberapa prajurit Singasari yang tengah mengumpulkan semua korban yang tewas dalam peperangan hari itu.

    “Sisi lain dari manisnya kemenangan peperangan adalah rasa pahit kegetiran dalam duka melihat beberapa orang yang pernah bersama kita menjadi korban peperangan itu sendiri”, berkata Ki Sukasrana yang melihat beberapa prajurit Singasari yang tewas menjadi korban peperangan hari itu.

    “Kita telah membeli harapan kita dengan harga yang cukup mahal, nyawa dan darah. Hari ini kalian berdua menjadi saksi ikrar hatiku untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan mereka. Aku berjanji akan menyebarkan kemakmuran dan kedamaian diatas tanah dimana darah mereka tumpahkan. Ingatkan aku ketika aku lupa menjadi Raja Angkara, ingatkan aku ketika masih ada kawula yang masih harus menahan lapar disaat istana pura berpesta pora, ingatkan aku ketika titah dan fatwaku timpang dan condong tidak membela kesucian dan kebenaran”, berkata Raden Wijaya dengan kesungguhan hati kepada Gajah Pagon dan Ki Sukasrana.

    Terlihat Gajah Pagon dan Ki Sukasrana dengan penuh hormat merangkapkan kedua tangannya.

    “Hari ini dan selamanya kami adalah sahabat tuanku yang akan terus menemani dalam suka dan duka. Hamba akan terus menjaga dan mengingatkan tuanku dengan suara yang mungkin pahit didengar, atau hamba mungkin dengan sangat terpaksa meluruskan dan mengingatkan tuanku dengan pedangku sendiri”, berkata Ki Sukasrana mewakili Gajah Pagon kepada Raden Wijaya.

    “Semoga pedangmu tepat diujung jantungku, seperti itulah seorang menjaga sahabatnya”, berkata Raden Wijaya sambil menepuk pundak Ki Sukasrana dan Gajah Pagon merasa terharu mempunyai sahabat setia seperti mereka berdua.

    Dan saat itu langit senja perlahan menyingkir menepi tergusur keremangan warna malam. Puluhan burung Prenjak turun menyelusup hilang kedalam kerepatan rumpun ilalang untuk menghabiskan seluruh malamnya dalam kehangatan padang ilalang Konjaran, hingga pagi datang menjelang.

  12. Semalam satpam mimpi apa ya?
    perasaan tidak mimpi apa-apa,tetapi…., kok padepokan diterjang banjir bandhang.
    hem….. segunung runtuhan rontal sudah menumpuk di padepokan
    hadu……
    satu…
    dua…
    tiga…
    empat….
    lima….
    enam……
    enam grobak harus satpam angkut dan ditata di sentong kanan

    he he he …., lumayan…..
    kamsia……..

    • hmmmmmm……..
      ternyata senthong kana nyaris penuh, tinggal tersisa untuk satu rontal lagi.
      satpam sudah siapkan gandok kedua, langsung buka jika satu rontal lagi sudah hatuh dari Situ Cipondoh.

      nuwun

      • ikut bantu melihatlah

        • ikut bantu ngepak
          suwun

  13. “Sebentar lagi kita sudah sampai di bandar ujung Galuh”, berkata Ki Bancak

    “Tinggal satu rontal lagi”, berkata Ki Sandikala dengan bertolak pinggang

    “Huss…!, kita bicara perjalanan apa bikin buku neech ?”, berkata Ki Sukasrana

    “Dua-duanyalah….”, berkata Mahesa Amping sambil melompat keatas punggung kudanya

    • nyindir nih yeeee, …. hehehehe, ….. !!!!

  14. masih belum ada tanda-tanda
    ya sudah balik lagi.

  15. Langit pagi diatas Padang Konjaran berawan kelabu seperti ikut berkabung ketika upacara penyempurnaan semua korban yang tewas dalam peperangan antara pasukan Kediri dan pasukan Singasari baru saja usai dilaksanakan. Terlihat beberapa orang berjalan menunduk penuh duka berpisah untuk selama-lamanya dengan kawan dan saudaranya yang hari itu telah kembali ke kampung halaman abadi, alam dimana semua yang hidup akan kembali kesana.

    “Kemana kira-kira kita akan membawa tawanan dan orang yang terluka itu”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya ketika mereka telah selesai melaksanakan upacara pemakaman.

    “Aku meminta persetujuan dan pendapat kalian, telah kuputuskan untuk saat ini membawa tawanan dan orang-orang yang terluka itu ke Bandar pelabuhan Ujung Galuh”, berkata Raden Wijaya meminta pertimbangan Mahesa Amping dan Ki Sandikala atas keputusannya itu.

    “Aku setuju, sebagian prajurit Singasari ada disana. Juga sebagai tempat yang paling dekat dari Padang Konjaran ini”, berkata Mahesa Amping memberikan pandangannya. “Mungkin Ki Sandikala punya pandangan yang lain”, berkata kembali Mahesa Amping mempersilahkan Ki Sandikala menyampaikan pandangannya.

    “Hamba sependapat dengan tuan Senapati Mahesa Amping. Bahkan menurut hamba Bandar pelabuhan Ujung Galuh adalah sebuah tempat yang baik untuk memulai harapan dan cita-cita dimasa depan, membangun kembali istana Tumapel di tanah baru sebagaimana yang dipikirkan oleh Ratu Anggabhaya bahwa ketika kita membuka jendela istana pura, mata kita tidak hanya memandang gunung, lembah dan hijaunya persawahan. Tapi kita juga dapat melihat dari jendela istana pura hamparan lautan biru yang luas sejauh mata memandang”, berkata Ki sandikala memberikan pandangannya. “Ketika di pulau Tanah Wangi-wangi, Ratu Anggabhaya banyak bercerita tentang cita-citanya membangun sebuah singgasana laut yang besar. Dan hamba melihat tanah di dekat Bandar pelabuhan Ujung Galuh adalah tanah yang baik membangun harapan itu”, berkata kembali Ki sandikala.

    “Mungkin Ki Sandikala punya pandangan tersendiri memilih Bandar pelabuhan Ujung Galuh”, berkata Mahesa Amping meminta kembali Ki Sandikala mengurai pandangannya.

    “Sebab tanah Ujung Galuh adalah pusat bumi”, berkata Ki Sandikala sambil tersenyum memandang Raden Wijaya dan Mahesa Amping.

    “Bagaimana Ki Sandikala dapat begitu yakin bahwa tanah Ujung Galuh adalah sebuah tanah pusat bumi ?”, bertanya Raden Wijaya penuh penasaran.

    “Tanah itu timbul dan tenggelam seiring perjalanan waktu tiga ratus tahun, pulau pasak bumi”, berkata Ki Sandikala dengan wajah penuh senyum.

    “Pulau pasak bumi, aku pernah mendengarnya dari seorang guru pendeta istana”, berkata Raden Wijaya penuh kegembiraan.

    “Raja Jayakatwang pasti juga pernah mendengar cerita yang sama, dan kita telah mendahuluinya menemukan pulau pasak bumi lewat jalannya, menghadang dua ribu pasukan Kediri yang akan menguasa Bandar pelabuhan Ujung Galuh. Tidak ada yang kebetulan didalam dunia ini”,berkata Ki Sandikala kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping dengan wajah dan senyumnya yang sareh.

    • yelah-yeleh dulu ach sambil nunggu Pak Satpam membangun gandhok baru, cihuiiiiiiiiiiiii

      • mengalir lancar, tanpa riak-riak yang berarti, …
        semoga air mengalir sampai jauuuuuhhhhh,…..

        wilujeng leyeh-leyeh ki, ….

      • Gandok pertama sudah disegel.
        Ternyata satu rontal kebanyakan, sehingga satpam potong sebagian dan dimasukkan ke TTJG-02.

        Gandok kedua sudah siap ditimbuni rontal lagi, he he he ….

        Bundel TTJG-02 juga sudah ditata rapi di tempatnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: