TTJG-04

<< kembali | lanjut >>

ttjg-04

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 7 Januari 2013 at 12:55  Comments (456)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/ttjg-04/trackback/

RSS feed for comments on this post.

456 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pasang kelir ah,
    Siapa tahu Dhalange mbeber wayang
    he he he …, monggo Pak Lik

    • lho…, lha kok wis ganti halaman?
      he he he …..

      • hadu….
        wis nguantuuuook buangeet…..
        Pak Dhalange gak dateng-dateng
        hmmmm
        bobo ah….

  2. hup, baru sampe dari tlatah LA (lenteng agung) hehe

    • Lenteng Agung?
      lah…., apakah Ki Sandikala ikutan demo?

  3. 429

  4. Ternyata kekhawatiran Ki Prasojo terbukti.

    Terlihat Putu Risang telah keluar dari rumah kediaman Ki Pasojo seniman perak itu. Sementara itu Putu Risang tidak menyadari ada beberapa pasang mata tengah mengawasinya.

    Antara Rumah Ki Prasojo dengan kediaman Mabujang memang tidak begitu jauh, namun Putu Risang masih juga tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang tengah menguntitnya sampai dikediaman Mabujang.

    “Sore ini aku akan berangkat meninggalkan Kotaraja”, berkata Putu Risang kepada Mabujang sambil bercerita bahwa urusannya di Kotaraja kediri ini sudah selesai.

    Demikianlah, ketika menjelang sore harinya terlihat Putu Risang tengah berkemas untuk melakukan perjalannya kembali, pulang ke Bumi Majapahit.

    Semilir angin sejuk telah membelai daun pepehonan di ujung timur gerbang batas kota Kediri. Gerumbul awan putih berarak melintasi cahaya matahari membuat wajah bumi sore menjadi redup teduh.

    Terlihat seorang pemuda diatas punggung kudanya tengah melintasi gerbang timur batas kota Kediri. Dialah Putu Risang yang telah menyelesaikan tugasnya menyampaikan sebuah pesan rahasia Raden Wijaya kepada Ratu Turuk Bali.

    Jalan tanah keras yang sering dilalui oleh para saudagar di sore itu nampaknya telah begitu sepi. Putu Risang masih belum juga menemui dan bersisipan dengan para pedagang yang biasanya datang dan pergi melewati jalan itu.

    “Pada waktu datang melewati jalan ini aku banyak menemui para saudagar berjalan dengan gerobak kudanya”, berkata Putu Risang dalam hati merasa ada sebuah kejanggalan.

    Ternyata Putu Risang tengah mempelajari ketajaman pranggaitanya. Mencoba memahami perasaan yang tiba-tiba saja muncul dipadu satukan dengan keadaan kasat mata lahiriahnya.

    Dan pranggaita Putu Risang ternyata mulai terbukti,
    Diawali dengan suara derap kuda dibelakangnya semakin lama semakin mendekat.

    “Berhenti !!”, terdengar suara bentakan.

    Putu Risang merasa bahwa suara itu memang ditujukan kepadanya karena tidak ada seorangpun di jalan itu selain dirinya.

    Terlihat Putu Risang membalikkan arah kudanya menghadap asal suara bentakan yang memintanya berhenti.

    Putu Risang melihat dihadapannya sekitar lima belas prajurit Kediri.
    “Kembalilah ke Kotaraja, kamu harus kami periksa”, berkata salah seorang dari mereka yang nampaknya menjadi pimpinan dari pasukan itu.

    “Apakah hamba telah melakukan sebuah kesalahan ?”, bertanya Putu Risang dengan suara datar.

    • bungkusan pertama, qiqiqiq

  5. “Tidak perlu banyak tanya, ikutlah dengan kami ke Kotaraja”, Berkata pemimpin itu dengan wajah beringas menakutkan.

    “Bagaimana bila aku tidak mau”, berkata Putu Risang masih dengan suara datar tidak merasa takut sedikitpun.

    “Kami akan mengikatmu, bahkan mungkin akan menyeretmu sampai kembali ke Kotaraja”, berkata pemimpin itu dengan suara mengancam.

    “Aku ingin tahu apakah prajurit Kediri dapat menyeretku”, berkata Putu Risang sambil menyentak tali kendali kudanya berputar dan dengan sebuah hentakan kakinya sang kuda tahu betul apa yang diinginkan majikannya itu.

    Lari kencang !!!

    Dan kuda Putu Risang sudah terbang berlari.

    Semua itu berlangsung dengan cepatnya diluar dugaan para prajurit Kediri itu.

    “Kejar !!”, berteriak sang pemimpim kepada para prajurit memberi perintah.

    Maka terjadilah kejar-kejaran antara Putu Risang didepan dengan para prajurit Kediri.

    Dan tanah keras itu seperti bergemuruh oleh tapak-tapak kaki kuda yang tengah saling memacu. Debu mengepul dibelakang kaki-kaki kuda mereka.

    Matahari yang mulai terbenam dan warna bumi yang sudah mulai guram membuat suasana adu pacu dijalan keras itu begitu mendebarkan.

    Terlihat kuda Putu Risang masih tetap didepan tidak tertandingi. Wajah anak muda itu begitu penuh semangat tidak merasa takut sama sekali bahkan terlihat begitu menikmati permainan adu pacu itu bersama para prajurit Kediri dibelakangnya.

    Namun tiba-tiba saja Putu Risang menarik kekang tali kendali kudanya.
    Seketika itu juga kudanya berhenti dengan cara kedua kaki didepan terangkat tinggi.

    Permainan apa yang ingin dilakukan oleh anak muda itu ???
    Perlakuan Putu Risang yang menghentikan kudanya secara mendadak memang tidak diperhitungkan oleh para prajurit dibelakangnya.

    Sialnya dua kuda prajurit Kediri nyaris menabrak kuda Putu Risang.
    Namun sebelum dua kuda itu menabraknya, Putu Risang telah melepaskan cambuknya dengan lecutan sendal pancingnya.

    Tar !!

    Tarr !!

    Terdengar dua kali suara lecutan berselang tipis seperti tidak ada jarak waktu diantaranya.

    • bungkusan kedua menjelang jumatan, hehehe

      • bungkusan ketiga nanti setelah sholat jum’at, he he he …
        dijebretnya nanti malam saja nggih

  6. Rupanya dua kali suara lecutan cambuk Putu Risang telah memakan dua orang korban, dua orang prajurit kediri langsung jatuh terlempar dari kudanya merasa terhantam dibagian dadanya dan langsung rebah ditanah tidak bergerak, pingsan !!

    Dan Putu Risang kembali menghentakkan kakinya diperut kudanya berlari kembali.

    “Kejar !!!”, kembali terdengar suara pemimpin prajurit lebih keras penuh kemarahan.

    Dan kembali suasana adu pacu kuda terjadi lagi. Kuda Putu Risang melesat begitu cepat dikejar oleh para prajurit berkuda dibelakangnya.
    Debu terlihat mengepul di belakang kaki-kaki kuda, kejar-kejaran itu masih terus berlangsung.

    Rambut dan pakaian atas Putu Risang terlihat berkibar ditiup angin bersama derap langkah kaki kuda yang berlari begitu kencang. Putu Risang nyaris tidak dapat terkejar, masih tetap berada terdepan diantara para prajurit Kediri yang seperti berlomba terus mengejarnya.

    Tiba-tiba saja Putu Risang melorot turun kebawah perut kudanya dengan sebelah tangan bergantung dengan tali pelana. Dan dibiarkannya kuda para prajurit Kediri dapat mengejar menghinggainya.

    Kejutan apa lagi yang ingin ditunjukkan oleh pemuda berani ini ???.
    Ternyata cara gila Putu Risang benar-benar mengejutkan para prajurit Kediri, sebuah tangan Putu Risang sambil memegang cambuk telah menjerat kaki seekor kuda prajurit Kediri didekatnya. Akibatnya kuda itu tergelincir jatuh bersama penumpangnya.

    Dan tiga ekor kuda mengalami nasib yang sama, berikut dengan tiga orang prajurit Kediri jatuh terlempar diatas tanah keras dengan cidera patah tulang, yang paling ringan hanya sedikit terkilir pada pergelangan kakinya. Naas salah satu dari mereka bahkan telah jatuh membentur sebuah batu keras, untungnya batu itu menghantam tulang rusuknya. Masih untung bukan kepalanya. Bayangkan !!!.

    Dan Putu Risang terlihat sudah duduk kembali diatas punggung kudanya. Membiarkan sisa prajurit Kediri mengepungnya dengan pedang panjang ditangan mereka.

    “Serangggg..!!!!”, terdengar suara pemimpin mereka seperti menggunung penuh kemurkaan.

    Namun cambuk Putu Risang telah bergerak lebih cepat lagi.
    Sebuah gerak melingkar cambuk itu telah menyabet pinggang seorang prajurit Kediri, langsung jatuh dari kudanya merintih kesakitan melihat kulit dagingnya terkelupas meneteskan banyak darah.
    Gerakan kedua,

    Sebuah gerak cambuk Putu Risang terlihat membelah langit dari atas kebawah menyentuh sisi samping seorang prajurit yang tidak sempat menghindar langsung merasakan sakit yang sangat seperti tersengat batang rotan yang menghantamnya begitu keras. Langsung seketika prajurit itu menjerit kesakitan berjumpalitan lepas dari punggung kudanya. Terlihat prajurit itu rebah di tanah kotor sambil meringis masih menahan rasa sakitnya.

    • cihuiiiiiiiii…..bungkusan ketiga, kwakakakak

    • Wah ………… selesai sudah jadi artis figuran,…. atau mungkin masih berlanjut ditangkap prajurit Kediri. Suwun Ki Dalang Kompor Arief Sandikala Sujana.

      • jangan kuatir Ki Prasojo.
        Peran besar masih menunggu pada saat pergolakan di Kediri oleh serangan tentara Yongki dkk, mungkin lho…..

    • Istirahat, baca komik sambil ngedit rontal yang sudah jatuh.
      ternyata masih cukup waktu, sehingga tidak perlu menunggu malam hari, sekarang rontal sudah dijebret, he he he ….

  7. Jebret….

    wah…, nanggung ni
    satu rontal agak panjang sudah cukup untuk menutup TTJG-04

    hmmmm ….
    monggo Pak Dhalang kalau belum capek, beberan wayang dimulai lagi, he he he ….

    tapi…, kalau capek ya sudah, besok saja.
    Risang juga mau istirahat, besok dini hari harus pergi nganglang lagi.

  8. Siiip….lewat sudah episode cameo maBujang

    • Itulah cekatannya Ki sandikala
      banyak nama-nama diambil dari nama cantrik di sini
      ada Putu Risang (Putut Risang), ada Ki Prasojo (Budi Prasojo), Ki Sandikala (namanya sendiri), dll, risang lupa, he he he ….

      • Ma Bu Jang, lakilaki tambun bermata lobak. Ginkang dan sinkang sempurna. Belum pernah kalah dan sebagian besar lawannya takluk oleh ajian teobeng. Ilmu inti saljunya dapat membuat lawannya membeku dalam balok es….. Suer mBah, freezer super…pembekuan dalam sepersekian detik.
        Bayangkan!!!

  9. masih setia menunggu kelanjutan cerinya kisandikala

  10. met malam kadank sedoyo, lagi malem mingguan sama sang permaisuri di pinggir rawa cipondoh, hehehe

    Dan hari ini kita jebret habis-habisan, setujuuu ???

  11. Gerakan Putu Risang yang ketiga benar-benar tidak kalah cemerlangnya, kali ini yang menjadi korban adalah seorang prajurit yang berada tepat dibelakang Putu Risang.

    Ternyata cambuk Putu Risang tidak langsung menyambar ke tubuh Prajurit itu, melainkan hanya menggetarkannya tepat di daun telinga kuda prajurit itu.

    Akibatnya memang tidak terpikirkan oleh siapapun, sebab tiba-tiba saja kuda itu meringkik kaget kesakitan kerena merasakan gendang telinganya seperti berdengung keras. Dan kuda itu telah seperti menjadi kuda gila berdiri diatas kedua kakinya. Dan prajurit penunggangnya langsung terlempar tidak dapat mengendalikannya lagi.

    “Cincang pemuda gila ini”, berkata pemimpin prajurit Kediri itu dengan darah sudah sampai keatas kepala begitu geramnya melihat satu persatu anak buahnya jatuh menjadi korban.

    Dan jumlah prajurit Kediri itu sudah dapat dihitung dengan jari, tersisa enam orang saja.

    Terlihat Putu Risang memutar perlahan kudanya hampir separuh lingkaran untuk melihat dan mewaspadai serangan yang mungkin datang secara tiba-tiba.

    “Tidak leluasa bertempur seorang diri diatas kuda”, berkata Putu Risang dalam hati langsung menerobos sebuah jalan yang terbuka keluar dari kepungan para prajurit berkuda.

    “Mari kita bertempur diatas tanah keras”, berkata Putu Risang yang sudah melompat dari punggung kudanya.

    Melihat itu enam orang prajurit itu sudah langsung ikut melompat dari punggungnya. Dan dengan pedang panjang telanjang mereka langsung mengurung Putu Risang.

    Tanpa perintah apapun dari pimpinan mereka, para prajurit itu sudah langsung menyerang Putu Risang.

    Dan ternyata Putu Risang bukan pemuda biasa, dirinya sudah lama digembleng oleh dua orang sakti, Mahesa Amping dan Empu Dangka.
    Bukan main geramnya ke enam prajurit itu yang merasa penasaran bahwa pemuda itu begitu alot sukar sekali ditundukkan.

    Putu Risang memang tidak langsung balas menyerang, tapi hanya mengandalkan kecepatannya bergerak melompat dan berhindar dari kepungan dan serangan para prajurit.

    Apa yang ada dalam pikiran Putu Risang ??

    Ternyata serangan para prajurit Kediri itu dianggapnya sebagai teman berlatih.

    Sebuah pikiran yang sangat nakal dari seorang Putu Risang. Padahal pedang tajam telanjang yang berseliweran disekitar tubuhnya sebuah hal yang sangat berbahaya.

    Kenakalan Putu Risang semakin menjadi-jadi manakala ujung cambuknya titis menyambar kulit pergelangan tangan pemimpin prajurit itu yang terlihat paling bernafsu untuk segera meringkus Putu Risang.

    • cihuiiiiiiiii…bungkusan ke empat !!!!!, hehehe

      nunggu perintah Putu(t) Risang, apakah sudah genab bagian ke empat ini untuk pindah ke gandhok selanjjutnya ?? qiqiqiqiq

      • hitungan Ki Sandikala kayaknya kudu satu halaman lagi, hehehe

        • hup…..
          baru datang dari nganglang

          setelah disapu dan dikumpulkan, ternyata masih terlalu pendek.
          cukup satu rontal pendek, syukur kala panjang, ditambah yang panjang, dan ditambah yang panjang lagi, he he he ….
          rontal 04 bisa dibundel, dan gandok 05 bisa dibuka

          monggo Pak Lik

  12. Pemimpin prajurit itu merasakan pergelangan tangannya sakit luar biasa seperti disengat kumbang api, dan tanpa disadarinya pedang yang tengah diayunkan kekepala Putu Risang terlepas begitu saja.

    Belum lagi pedang pemimpin prajurit itu jatuh ke tanah, dengan cepat ujung cambuk Putu Risang telah melibat dan menariknya.

    Dalam hitungan beberapa kedipan mata, pedang itu telah berpindah tangan, berada digenggaman tangan Putu Risang.

    Bukan main terperanjatnya hati pemimpin prajurit itu.

    Namun belum habis rasa terperanjatnya itu, pedang ditangan Putu Risang terlihat sudah mengancam ujung kulit leher pemimpin prajurit itu.

    “Perintahkan kepada semua anak buahmu untuk melempar senjata mereka”, berkata Putu Risang dengan sebuah kata yang keras mengancam.

    “Lemparkan senjata kalian”, berkata pemimpin prajurit itu langsung memerintah kepada semua anak buahnya dengan peluh sebesar jagung terlihat menetes penuh rasa takut yang sangat.

    Mendengar perintah pimpinanya itu, segera semua prajurit yang tersisa itu langsung melempar pedang digenggamannya ke tanah.

    “Perintahkan kepada semua anak buahmu naik ke atas kudanya kembali ke Kotaraja”, berkata kembali Putu Risang dengan ujung pedang masih menempel di kulit leher pemimpin prajurit itu.

    Maka tanpa perintah kedua kalinya dari Putu Risang, Pemimpin prajurit itu telah memerintahkan kepada anak buahnya sebagaimana yang dikatakan oleh Putu Risang.

    Penuh keraguan yang sangat para prajurit itu terlihat sudah berada diatas punggung kudanya dan segera pergi meninggalkan Putu Risang dan pimpinannya.

    “Sedikit bergerak pedang ini sudah akan menembus batang lehermu”, berkata Putu Risang dengan wajah dan suara penuh ancaman.

    “Kasihanilah aku”, berkata pemimpin itu dengan wajah penuh iba harap dan takut yang sangat tentunya.

    Melihat wajah pemimpin prajurit itu yang begitu sangat mengiba berharap belas kasih dari dirinya membuat Putu Risang tidak tega hati lagi.

    “pergilah”, berkata Putu Risang kepada pemimpin prajurit itu.

    Mendengar perkataan Putu Risang, pemimpin prajurit itu seperti mendapatkan kembali selembar nyawanya yang dipikir akan lepas dari tubuhnya.

    “Terima kasih, terima kasih”, berkata pemimpin prajurit itu membungkuk-bungkuk menjauhi ujung pedang dari kulit batang lehernya.

    Terlihat Putu Risang tersenyum sendiri melihat debu mengepul dibelakang kuda pemimpin prajurit itu yang sudah berlari menjauh kembali ke Kotaraja Kediri.

    • Matur suwun…

      langsung dibundel, dan insya Allah, tidak sampai setengah jam, bundelan sudah dipasang digandok, dan gandok TTJG-05 sudah bisa ditempati untuk menampung rontal yang jaruh dari Situ Cipondoh

    • Anjasmara menggiring bola melewati satu pemain lawan dan membaginya kepada Iswadi Idris, dan iswadi idris langsung menendang melambung ke tengah lawan dimana ada Roni Patinasarani didepan gawang dan……langsung dengan kaki kanannya Roni patinasaroni menendang bola, DAN LANGSUNG ………..JEBRETT….JEBRETTTT, JEBRETTTTTT

      hehehe, mari kita tunggu perjalanan Putu(t) risang di Gandhok barunya, qiqiqiqiqiq

      • monggo, gandok sudah siap

        • Ruaarbiassa….ternyata fragile sekalee pas midnigh….mmhh….hhmm…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: