TTJG-05

<< kembali | lanjut >>

TTJG-05

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 28 September 2013 at 23:01  Comments (189)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/ttjg-05/trackback/

RSS feed for comments on this post.

189 KomentarTinggalkan komentar

  1. Terlihat Putu Risang tengah mendaki sebuah bukit hijau, seperti seekor burung yang merdeka terlepas dari kurungan sangkarnya, Putu Risang begitu menikmati alam bebas setelah terkurung di perut bumi selama kurang lebih dua belas hari.

    Akhirnya Putu Risang terlihat sudah sampai diatas puncak bukit itu, agak sulit memang mencari kembali arah jalan awal dimana dirinya bertemu dengan keempat putra Nyi Pruti, awal dirinya terkurung disebuah goa bertemu dengan Ki Kumbara.

    Namun akhirnya Putu Risang dapat menemukannya, ke arah itulah kakinya melangkah.

    Sementara itu masih ditempat yang sama berlawanan arah dari langkah Putu Risang, terlihat seorang wanita tengah meronta menangis dipanggul diatas tubuh seorang lelaki, bersama mereka masih ada tiga orang lelaki lain yang terus berjalan beriring.

    Ternyata keempat lelaki yang tengah membawa wanita tawanannya itu adalah empat putra Nyi Pruti.

    “Lepaskan aku !!”, berteriak wanita itu meronta dan menangis.
    Tapi tidak ada sedikitpun rasa kasihan muncul diantara wajah empat lelaki itu, tetap saja wajah dingin tanpa perasaan yang terlihat diwajah mereka.

    “Lepaskan wanita tak berdosa itu”, berkata tiba-tiba seorang pemuda menghadang dihadapan mereka.

    Ternyata pemuda yang datang menghadang itu tidak lain adalah Putu Risang yang memang sengaja mencari keempat putra Nyi Pruti itu.

    “tawanan kita datang kembali”, berkata lelaki yang tengah memanggul seorang wanita sambil tertawa penuh gembira langsung melempar tubuh wanita yang tengah dipanggulnya.

    Kasihan wanita itu, terlihat meringis memegang pinggulnya yang nampaknya begitu keras terhantam sebuah batu besar.

    Melihat itu telah membuat Putu Risang menjadi sangat geram.

    “Manusia tidak beradab”, berkata Putu Risang penuh kebencian.

    Keempat lelaki berwajah dingin itu tidak berkata apapun, langsung bergeser mengepung Putu risang yang dikatakan sebagai tawanan mereka yang hilang.

    Langsung, keempat putra Nyi Pruti itu sudah langsung menerkam Putu Risangsecara bersamaan seperti berlomba saling mendahului.

    Gerak mereka begitu cepat, tapi untungnya Putu Risang bukan orang yang dulu lagi, dirinya telah mempelajari ilmu pusaka pertapa gunung Wilis, jauh lebih sempurna dibandingkan mereka.

    Terlihat Putu Risang sudah dapat melejit keluar dari kepungan mereka dengan gerak yang lebih gesit. Begitulah berulang-ulang mereka mencoba mengepung dan menangkap anak muda itu, tapi Putu Risang dengan mudah dapat lolos dari kepungan mereka.

    • hadir sambil bawa oleh-oleh, hehehe

  2. Sadarlah Putu Risang bahwa keempat Putra Nyi Pruti itu ternyata dasar kanuragan mereka masih jauh dari sempurna, mereka nampaknya hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan dirinya.

    Beberapa kali dalam sebuah benturan, Putu Risang mendapatkan kenyataan bahwa tataran kekuatan mereka sudah jauh tertinggal olehnya. Namun Putu Risang nampaknya belum yakin betul apakah tingkat tataran ilmu mereka sudah sampai pada puncaknya. Dan Putu Risang masih menjajakinya.

    Hingga akhirnya ketika keyakinannya timbul bahwa tingkat tataran ilmu mereka dibawah beberapa lapis dari dirinya, Putu Risang mulai dengan sebuah permainannya.

    Terlihat Putu Risang membiarkan dirnya tertangkap, dibiarkannya keempat orang berwajah dingin itu masing-masing telah mencekal kaki dan tangannya.

    “Bunda tidak akan memarahi kita bila tawanan ini kita santap, masih ada cadangan korban menjelang purnama nanti”, berkata salah satu diantara mereka.

    Namun bukan main kaget dan penasarannya mereka, tubuh Putu Risang terasa begitu alot tidak dapat dirobek sebagaimana mereka biasa merobek seekor kuda yang begitu kuat.

    Terlihat urat wajah keempat putra Nyi Pruti itu sudah semakin keras sebagai tanda telah mengerahkan segenap kekuatannya, namun tubuh Putu Risang tidak juga bergeming sedikitpun, masih utuh dengan kedua kaki dan tangan terentang diantara kedua tangan mereka.

    Dan akhirnya Putu Risang sudah menjadi bosan dengan permaianannya,maka dengan sebuah hentakan terlihat keempat orang lelaki itu seperti sebuah pohon tercabut dari akarnya, keempat orang itu seperti ditarik oleh sebuah tenaga yang begitu kuat.

    Secara bersamaan keempat tubuh lelaki kembar itu sudah tertarik kesatu tempat yang sama.

    Prakk !!!

    Empat kepala dengan kerasnya terbentur satu dengan yang lainnya. Sebuah benturan yang begitu sangat kuat dan sangat keras membuat tubuh keempat orang itu langsung lunglai seperti sebuah daun tidak bertulang, jatuh lemas tidak bergerak lagi.

    “Mati !!”, berkata Putu Risang dalam sambil memeriksa orang terakhir yang ternyata memang sudah tidak bernyawa lagi.

    “Aku telah membunuh keempat orang ini”, berkata Putu Risang dalam hati penuh penyesalan bahwa dirinya tidak mampu mengendalikan kekuatannya yang ternyata memang sudah menjadi jauh berlipat-lipat dari kekuatannya semula sebelum mempelajari ilmu pusaka pertapa Gunung Wilis itu.

    “Entah setan mana yang telah mengembalikan kekuatan dirimu, bahkan jauh lebih kuat”, berkata seseorang yang tiba-tiba saja terdengar melingking namun belum juga menampakkan dirinya dihadapan Putu Risang.

    “Nyi Pruti”, berkata Putu Risang dalam hati yang masih mengenali pemilik suara itu, namun belum melihat orangnya. Sebuah tanda pemilik suara itu mempunyai tingkat tataran ilmu yang sangat begitu tinggi.

  3. “Jangan merasa besar kepala dapat membunuh keempat putraku”, berkata Nyi Pruti yang sudah terlihat berjalan mendekati Putu Risang.

    Dan Putu Risang dapat melihat bahwa tidak sedikitpun ada wajah duka di diri Nyi Pruti melihat mayat keempat putranya itu. Hal itu saja sudah membuat bulu kudug Putu Risang merinding bahwa dihadapannya ini adalah seorang berhati sangat dingin, sudah dapat disamakan hatinya dengan hati seekor srigala, bahkan lebih lagi.

    “Dengar dengan telingamu, jantungmu akan kukeluarkan saat ini juga tanpa menanti datang bulan purnama”, berkata Nyi Pruti dengan mata begitu tajam menusuk dada.

    “Dengar juga nenek sihir, jantungku sangat pahit”, berkata Putu Risang tanpa rasa takut sedikitpun.

    “Ternyata diujung hidupmu masih juga dapat bergurau”, berkata Nyi Pruti masih dengan sikap dinginnya terlihat sudah memutar tongkat panjang ditangannya dengan beditu cepatnya.

    Melihat tongkat yang sudah berputar ditangan Nyi Pruti membuat Putu Risang segera bersiap diri telah melepas cambuk pendeknya penuh kesungguhan untuk menghadapi ilmu Nyi Pruti yang diperkirakan mempunyai tingkat tataran yang tinggi.

    Benar sekali seperti dugaannya, tiba-tiba saja tongkat Nyi Pruti sudah meluncur menyerang dirinya.

    Tapi Putu Risang bukan pemuda yang baru kemarin sore mengenal kanuragan, tapi Putu Risang adalah murid kesayangan dua orang mumpuni pada jamannya, yaitu Mahesa Amping dan Empu Dangka.

    Apalagi saat itu dirinya sudah mengenal dan mendalami ilmu pusaka pertapa gunung Wilis, maka genaplah diri Putu Risang pemuda yang tidak punya rasa gentar menghadapi siapapun, kali ini menghadapi Nyi Pruti yang memulai serangan dengan sebuah tusukan yang cepat dan deras mengancam lambungnya.

    Terlihat Putu Risang telah bergeser dua langkah sambil menggerakkan cambuknya melingkar.

    Bukan main terkejut dan geramnya Nyi Pruti bahwa Putu Risang dengan mudahnya keluar dari serangannya bahkan telah berbalas menyerang.

    Terlihat Nyi Pruti telah meloncat tinggi,begitu cepat sambil langsung meluncur mengejar dengan ujung tongkatnya nyaris mendekati kepala Putu Risang.

    Lagi-lagi Nyi Pruti menjadi begitu gusar bahwa pemuda itu dengan cepat bergerak menghindari ujung tongkatnya dan balas menyerang dirinya dengan sebuah lecutan ujung cambuk mengarah kakinya.

    Demikianlah, Nyi Pruti menjadi begitu sangat murka mendapatkan lawan yang masih muda itu tidak juga dapat ditundukkannya, bahkan telah merepotkannya dengan serangan baliknya yang tidak kalah cepat dan berbahayanya.

    Terlihat keduanya sudah langsung meningkatkan tataran ilmu mereka, dan pertempuran di celah lereng dua bukit itu menjadi begitu seru dan juga begitu sangat menegangkan.

    Dan angin deru senjata mereka sudah menjadi begitu berbahaya, telah dilambari tenaga sakti membuat pertempuran mereka semakin berjarak.

  4. Putaran angin tongkat Nyi Pruti dirasakan oleh Putu Risang begitu panas menyengat kulitnya, maka Putu Risang segera mengimbanginya dengan melontarkan hawa pukulan yang dingin membeku.

    Bukan main geramnya Nyi Pruti bahwa hawa panas pukulannya tidak membuat anak muda itu menyusut, bahkan terasa serangannya semakin deras menggulung seperti ombak samudra membumbung tinggi siap menghempas dan melemparnya.

    Putu Risang memang telah meningkatkan tataran ilmunya jauh dari yang diduganya membuat Nyi Pruti mulai kehabisan tenaga sibuk menghindar kesana kemari.

    Mereka memang punya dasar sumber ilmu tenaga sakti yang sama, tapi ternyata Putu Risang jauh lebih sempurna mendalami ilmu itu, dan tingkat kesempurnaan itu akhirnya telah terlihat jelas dimana Nyi Pruti merasa begitu sangat putus asa.

    “Kesurupan setan mana anak ini”, begitu ucapan Nyi Pruti dalam hati sambil melompat berhindar dari angin serangan cambuk Putu Risang yang melambarinya dengan kekuatan hawa panas.

    Inilah kehebatan dan kesempurnaan ilmu sakti yang dimiliki oleh Putu Risang, dimana dirinya dengan begitu mudah dapat merubah sumber kekuatan didalam dirinya, pada satu saat melambarinya dengan tenaga hawa panas, namun tiba-tiba saja tenaga serangannya berubah menjadi sebuah angin dingin yang begitu tajam membekukan darah. Hal inilah yang membuat Nyi Pruti menjadi semakin putus asa, tidak menyangka pemuda ini yang dikira semula begitu mudah dapat dilumpuhkan ternyata begitu alot, bahkan tragis berbalik nyaris dapat membunuhnya.

    Deg !! Degg !!

    Terdengar dua kali hentakan cambuk pendek Putu Risang kearah sekitar lima langkah dari tubuh Nyi Pruti.

    Dahsyat sekali hentakan cambuk itu, tidak menyangka sama sekali bahwa angin hentakan cambuk ditangan Putu Risang ternyata sudah masuk dalam area lawan tepat menembus dinding jantung Nyi Pruti yang sama sekali tidak menduganya.

    Dan angin hentakan cambuk itu nyasir seperti sebilah pedang tajam menusuk dingin menembus tepat didada kiri nenek berhati kejam itu.
    Dan wajah Nyi Pruti langsung kaku dengan mata terbelalak. Nyi Pruti memang telah mati penasaran. Nyawanya sudah langsung terbang meninggalkan tubuhnya yang jatuh rebah dibumi tergeletak kaku.

    Terlihat Putu Risang memandang Nyi Pruti dengan wajah penuh keheranan, perlahan mengangkat cambuknya tinggi-tinggi, masih dalam wajah keheranan tidak menyangka bahwa jangkauan ujung cambuknya telah begitu jauh dan begitu sangat mematikan.

    “Pencuri wanita itu memang sudah ditakdirkan harus mati oleh kekuatan ilmu yang dicurinya”, terdengar suara bergema dari segala penjuru tanpa diketahui dari mana sumbernya.

    Baru kali ini Putu Risang mendengar suara yang begitu berat menekan isi rongga dadanya, langsung seketika itu juga Putu Risang telah melambari kekuatan dirinya.

  5. Suara siapakah yang demikian bertenaga itu….??!

    • qiqiqiqiqiqq

      • Bisa dipastikan mBah gunung wiliskah?

  6. “Suara siapakah yang demikian bertenaga itu ?”, berkata Putu Risang dalam hati penuh kekhawatiran bakal mendapat lawan yang jauh lebih berat karena hanya lewat suaranya saja sudah begitu mendebarkan isi rongga dadanya.

    “Bagus, tataran ilmumu sudah mampu menahan ilmu ajian gelap ngamparku”, berkata kembali orang yang tidak juga menampakkan dirinya.

    “Siapakah gerangan tuan ?”, bertanya Putu Risang sambil mencoba mencari arah sumber suara itu.

    “Teruslah berlatih, agar ujung cambukmu tidak menjadi liar mencabut nyawa manusia”, berkata kembali orang itu.

    “Siapaka gerangan tuan ?”, bertanya kembali Putu Risang masih belum juga menemukan dari mana sumber suara itu.

    “Aku hanya pertapa dari Gunung Wilis, kurestui hari ini kamu menjadi pewaris tunggal ilmuku”, berkata kembali orang itu masih dengan suara bergema memantul diantara cadas-cadas bukit menjulang tinggi dicelah lereng itu.

    Terlihat Putu Risang merangkapkan kedua tangannya didepan dada sebagai sebuah penghormatan setelah sekian lama orang yang mengaku sebagai pertapa dari Gunung Wilis itu tidak juga menampakkan diri, mungkin sudah pergi dan tidak ada keinginan untuk bertatap muka dengannya.

    “Kasihan wanita itu”, berkata Putu Risang ketika matanya tertuju kepada seorang wanita yang sudah mulai dapat duduk bersandar disebuah batu besar, nampaknya rasa sakit akibat benturan itu sudah mulai berkurang.

    “Mari kuantar kamu kembali ketempat tinggalmu”, berkata Putu Risang kepada wanita itu.

    “Terima kasih”, berkata wanita itu yang merasa tidak takut kepada Putu Risang yang dilihatnya sebagai seorang pemuda biasa yang sangat santun.

    “Beristiratlah sebentar, sambil menunggu aku untuk menguburkan lima jenasah ini”, berkata Putu Risang merasa berdosa bila harus meninggalkan lima sosok tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.

    Demikianlah, dengan alat apa adanya terlihat Putu Risang sudah membuat sebuah lubang yang cukup dalam guna dapat mengubur kelima mayat itu dimana mereka ketika masih hidup begitu sangat buas dan kejam tanpa berkedip memangsa sesamanya, memangsa manusia !!

    “Mari kita berangkat”, berkata Putu Risang kepada wanita itu setelah menyelesaikan tugasnya mengubur mayat Nyi Putri dan keempat putranya.

    Ternyata padukuhan tempat tinggal wanita itu memang tidak terlalu jauh, ketika matahari terlihat sudah semakin senja, dalam warna buram udara yang bening teduh dengan penuh haru biru suka cita tangis air mata terdengar tangis wanita itu dan keluarganya.

    “Terima kasih anak muda”, berkata seorang lelaki yang ternyata ayah dari wanita itu

    “Menginaplah dirumah kami, hari sudah akan menjadi malam”, berkata ayah wanita itu menawarkan Putu Risang yang mengaku hanya sebagai seorang pengembara.

    • qiqiqiqiqiqq, cari udara segar dulu achh”, berkata sang pengembara, heheheh

  7. Mau ke pekiwan dulu ah…membersihkan keringat setelah menjalankan laku sepenginang di fitnes…eh….

  8. Sampun telas Ki, masih siap menerima kiriman lagi…..hadir no 96

    • nggih ki, tambah penasaran.
      cambuk Panaraga yg Risang punyai kok suaranya cuma cetek… cetek… gitu ya, kok gak bisa deg…,deg… spt punya Putu Risang ya.
      Kalah tenaga kali. he he he …..
      suwun

  9. Masih di sebuah padukuhan disaat pagi telah datang.

    Hari dipagi itu dalam warna cerah bertabur kehangatan sinar matahari dan suara angin semilir diujung juntai kunimg padi.

    Diujung jalan sebuah Padukuhan terlihat seorang pemuda tengah berjalan seorang diri, dan pemuda itu tidak lain adalah Putu Risang yang baru saja meninggalkan rumah seorang wanita yang telah diselamatkannya dari tangan keluarga Nyi Pruti.

    Berkat petunjuk beberapa orang tua di Padukuhan itu, akhirnya Putu Risang mendapat sebuah petunjuk arah yang paling cepat untuk sampai di Bumi Majapahit.

    Ketika dirinya menemui sebuah Kademangan yang cukup ramai, Putu Risang pun telah memutuskan untuk membeli seekor kuda agar perjalanannya menjadi lebih cepat lagi sampai di Bumi Majapahit.

    Demikianlah, dengan berkuda perjalanan Putu Risang menjadi lebih cepat lagi dan tidak begitu melelahkan.

    Seperti seekor elang muda tengah mengarungi padang perburuan baru, Putu Risang memacu kudanya mengarungi padang dan perbukitan hijau. Sebagaimana seorang pengembara yang berjalan disepanjang siang hari dan beristirahat sejenak di malam harinya yang terkadang hanya beratap langit dialam terbuka. Namun Putu Risang tidak pernah melewatkan waktunya untuk berlatih mengendalikan kekuatan yang ada didalam dirinya untuk mengukur sejauh mana lontaran yang dapat dihentakkannya lewat cambuknya atau lewat kaki dan tangannya sendiri.

    Dan pada akhirnya Putu Risang telah mendapatkan jalur perjalanannya kembali.

    “Hutan bukit cemara”, berkata Putu Risang sambil memacu kudanya mencoba mendekati kaki bukit Cemara itu.

    Ketika Putu Risang telah sampai diatas puncak bukit cemara matahari sudah bergeser sedikit dari puncaknya membelakangi punggung Putu Risang.

    “Selamat bertemu kembali sahabat muda”, berkata seseorang kepada Putu Risang.

    Bukan main terkejutnya Putu Risang bertemu kembali ditempat yang sama dengan seorang tua renta yang tidak lain adalah seorang yang mempunyai sebuah julukan, Kera sakti seribu bayangan. Seorang yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi, dan Putu Risang sudah pernah berhadapan dengannya, harus mengakui kehebatan jurus tangan kosong orang tua itu.

    “Selamat bertemu juga, wahai orang tua perkasa”, berkata Putu Risang dengan wajah penuh senyum.

    “Entah mengapa tangan ini terasa gatal-gatal ingin merebut cambuk pendekmu kembali”, berkata orang tua itu penuh sindiran untuk mengingatkan kembali Putu Risang dengan pertempurannya dengan orang tua itu dimana cambuk Putu Risang berhasil direbut oleh orang tua yang menamakan dirinya Kera sakti bertangan seribu.

    “Entah mengapa tanganku juga terasa gatal-gatal”, berkata pula Putu Risang sambil menggaruk-garukkan telapak tangannya yang tidak gatal.

    • masih ada Ki BP, hehe

      • masih ki, sedang ke pakiwan.

        • Maksudnnya Ki Dalang itu masih ada kiriman rontal lagi Gus Panji Risang…..begitu khan ki Dalang ?

  10. setelah komen 100, komen 101 tak isi dewe, he he he …
    sugeng sonten…………., eh…., kliru ding, wis dalu ya…

  11. Putu Risang tahu betul bahwa orang tua itu tidak ada maksud jahat kepadanya, hanya seorang tua yang sudah lama tidak menggunakan jurus-jurusnya dan merasa gembira menemukan kembali teman bertandingnya,hanya itu tidak lebih dan tidak kurang.

    “Pegang erat-erat cambuk ditanganmu”,berkata orang tua itu dengan sikap siap menyerang.

    Terlihat Putu Risang telah memutar cambuknya siap menerima serangan orang tua itu.

    Maka dalam waktu singkat telah terjadi pertempuran diantara mereka sebagaimana pernah mereka lakukan bersama, orang tua itu bertangan kosong selalu mencoba masuk menyerang dalam jarak dekat, sementara Putu Risang dengan cambuknya selalu mencari jarak serangnya.

    Dan sebagaimana sebelumnya, kedua orang itu sudah sepertinya sangat menikmati perkelahian mereka. Sepertinya mereka diam-diam telah sepakat untuk tidak menggunakan kekuatan tenaga cadangan, hanya sebatas kecepatan dan kelincahan bergerak.

    Namun lama kelamaan orang tua itu tersadar bahwa Putu Risang telah meningkat tataran ilmunya, telah bergerak lebih cepat dari sebelumnya beberapa hari yang telah lewat.

    Dan Putu Risang masih saja dapat melayani perlawanan orang tua itu yang telah meningkatkan tataran ilmunya selapis demi selapis.

    “Setan mana yang telah merubah kamu”, berkata orang tua itu merasa sangat penasaran melihat Putu Risang masih saja dapat melayaninya meski sudah puluhan jurus telah dikeluarkannya bahkan telah meningkatkan tataran kecepatan geraknya.

    “Aku bertemu setan tua di hutan bukit Cemara”, berkata Putu Risang sambil tertawa penuh kegembiraan melayani jurus-jurus maut orang tua itu.

    Hingga akhirnya ketika orang tua aneh itu telah meningkatkan puncak kemampuannya, namun Putu Risang masih dapat melebihi beberapa lapis tataran ilmunya.

    Maka diatas puncak bukit itu seperti ada sebuah tontonan yang sangat begitu menarik, terlihat orang tua aneh itu seperti seekor kera yang lari kesana kemari dikejar ujung cambuk majikannya.

    “Aku menyerah”, berkata orang tua aneh itu dengan nafas terputus-putus.

    “Aku juga sudah jemu bermain”, berkata Putu Risang sambil melibatkan cambuknya kembali melingkar dipinggangnya bersama sebuah senyum kegembiraan.

    “Aku seperti tidak berhadapan dengan anak muda yang pernah kurebut cambuknya”, berkata orang tua itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah sangat aneh penuh rasa penasaran.

    “Terima kasih telah meluangkan waktunya”, berkata Putu Risang sambil melompat keatas punggung kudanya.

    Masih sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal, orang tua itu masih melihat langkah kuda Putu Risang sebelum akhirnya menghilang di jalanan yang menurun.

    • ngelurusin badan dulu ach…., sambil membayangkan sebuah adu kekuatan antara menak koncar dan putu risang, tanpa duel, hanya menghancurkan sebuah batu besar dengan senjata masing masing,mirip kayak agung sedayu sama siapa ya ??? lupa namanya, yang jelas sorot mata agung sedayu dapat melumatkan bongkahan batu, hehehe

      • Sabungsari kah?

        • seratus buat Putu(t) Risang, hahahaha

  12. O…., ternyata Ki BP sudah tidak ada
    he he he …..

    Monggo Pak Dhalang, kalau mau meneruskan “beberan” wayangnya.

    malam masih belum terlalu larut.

  13. Ketika matahari telah jatuh dipenghujung senja, langkah kaki kuda Putu Risang sudah berada di jalan Padukuhan Maja. DanPutu Risang merasa jaraknya ke Bumi Majapahit sudah begitu sangat dekat, entah semakin mendekati bumi Majapahit ada sebuah debar dirasa.

    Debar perasaan rindu ??

    Entahlah, Putu Risang masih belum menyadari perasaan apa yang selalu timbul dihatinya membaur dengan keinginan bertemu dengan semua kerabat dekatnya di Bumi Majapahit dimana dirinya selama ini sangat begitu dekat.

    Wajah Endang Trinil masih saja terus terbayang diantara lintasan bayang-bayang wajah Mahesa Amping, Pendeta Gunakara, Nyi Nariratih dan ketiga bocah nakal yang selalu bersamanya seharian penuh di Bumi Majapahit.

    Memang ada debar yang beda ketika wajah Endang Trinil tiba-tiba saja melintas dalam pikirannya. Hingga akhirnya Putu Risang telah memasuki Bumi Majapahit ketika wajah malam telah tiba, dan getaran debar jantungnya seperti begitu kencang tak terkendalikan.

    Debar perasaan rindukah ??

    Dan Putu Risang sudah tidak memikirkan apapun selain kegembiraan hati mendapatkan dirinya telah kembali didepan pasanggrahan Mahesa Amping dan keluarganya.

    Temaram warna pelita malam bergantung diatas pendapa pasanggrahan ketika Putu Risang tengah mengikat tali kendali kudanya.

    “Putu Risang”, berkata seorang lelaki yang berwajah tampan yang tidak lain adalah Mahesa Amping berdiri menjenguk dirinya dibatas pagar pendapa Pasanggrahannya.

    Terlihat seorang tua mengikuti langkah Mahesa Amping yang ternyata adalah Pendeta Gunakara.

    “Senang dapat melihatmu kembali”, berkata Mahesa Amping sambil memeluk Putu Risang penuh kerinduan.

    “Doa kami selalu menyertaimu, wahai anak muda”, berkata Pendeta Gunakara dengan wajah penuh kegembiraan melihat kembalinya anak muda itu.

    “bawa kudamu kebelakang, setelah bersih-bersih aku ingin mendengar cerita perjalananmu”, berkata Mahesa Amping kepada Putu Risang.

    Ketika malam telah sudah larut bergelanjut , suasana di pendapa Pasanggrahan keluarga Mahesa Amping masih saja terlihat dipenuhi suara kegembiraan. Terdengar Putu Risang bercerita semua yang pernah dirasa dan ditemui di perjalanan tugas pertamanya menjadi seorang utusan rahasia raden Wijaya. Namun mengenai kitab pusaka pertapa Gunung Wilis telah dilewatkan oleh Putu Risang.

    “Pada suatu saat, aku akan bercerita kepada Tuanku Senapati Mahesa Amping”, berkata Putu Risang dalam hati berjanji untuk bercerita kepada gurunya sendiri Mahesa Amping tentang sebuah ilmu rahasia yang tidak sengaja didapat lewat Ki Kumbara didalam sebuah goa.

    • malam memang belum begitu larut, hehehe

      • betul… betul… betul … (dengan gaya Ipin dan Upin)

  14. Dan keesokan harinya, Mahesa Amping sudah membawa Putu Risang menghadap Raden Wijaya. Bukan main gembiranya Raden Wijaya mendapat berita bahwa pesannya telah sampai langsung kepada Ratu Turuk Bali.

    “Apapun keputusannya, aku sudah merasa tidak berdosa lagi sebagai seorang kemenakan”, berkata Raden Wijaya sambil menarik nafas panjang seperti tengah melihat sendiri wajah kegundahan Ratu Turuk Bali yang dapat dipahami memang sangat sulit berada dan berdiri di dua buah kubu yang sama-sama dicintainya, antara suami dan keluarganya. Antara pengabdian dan ketulusan cinta kasih keluarga yang pernah membesarkannya.

    “kami bermaksud hendak ke tanah lapang melihat kesiapan pasukan Ki Sandikala”, berkata mahesa Amping kepada Raden Wijaya memupus lamunannya tentang Ratu Turuk bali.

    “Tadinya aku akan mengajak dirimu bersama ke Benteng Tanah Ujung Galuh membicarakan beberapa kesepakatan antara kita dan Panglima besar pasukan Mongol”, berkata Raden Wijaya kepada mahesa Amping yang ditangkap oleh Putu Risang bahwa ternyata armada besar bangsa mongol itu sudah tiba di Bandar Tanah Ujung Galuh.

    Tapi Putu Risang tidak bertanya dan berkata apapun tentang pasukan Mongol itu, dia dan Mahesa Amping pagi itu hanya bicara mengenai tugasnya, begitulah arah pikiran Putu Risang.

    Demikianlah, Mahesa Amping bersama Putu Risang telah berjalan menuju tanah lapang melihat Ki Sandikala tengah menempa sebuah pasukan khusus, sebuah pasukan cadangan.

    Ternyata di tanah lapang Ki sandikala tidak sendiri mengawasi pasukannya yang tengah berlatih penuh semangat. Ditanah lapang itu mereka juga dapat menemui Manak Koncar, Menak Jingga serta Putut Prastawa ikut membantu Ki Sandikala.

    Ternyata mata Putu Risang juga melihat seorang gadis ada bersama mereka.

    Siapa lagi kalau bukan Endang Trinil ?

    Ketika Mahesa Amping tengah bercakap-cakap bersama Ki Sandikala, terlihat Endang Trinil datang mendekati Putu Risang yang tengah berdiri seorang diri.

    “Kapan Kakang Putu Risang datang ?”, bertanya Endang Trinil kepada Putu Risang ketika sudah dekat.

    “Kemarin malam”, berkata Putu Risang singkat dengan jantung terasa berdebar kencang, seperti ingin lari pergi menjauh.

    “Aku bosan berada di tanah lapang ini, apakah kakang bersedia mengantar aku ke Bandar Tanah Ujung Galuh ?”, berkata Endang Trinil kepada Putu Risang tidak mengetahui perasaan apa yang diderita didalam jantung anak muda itu.

    “Aku bersedia”, berkata Putu Risang sambil menganggukkankepalanya, sementara didalam pikirannya telah terjadi peperangan antara sebuah kegembiraan hati dan rasa kecut jalan bersama seorang gadis, seorang Endang Trinil.

    Bukan main senangnya hati Endang Trinil mendengar kesediaan Putu Risang itu.

    • malam memang belum pukul nul nul, tapi mata ini kok sudah melenggut, hehehe

      • lha ya tidur saja dulu Pak Lik
        besok bangun pagi, dan dongengannya diteruskan, he he he …..

        • We ladalah,
          Jebulnya Sang Adimas Putut Risang sedang jadi lakon ya.
          Lha lakonnya apa Dimas.

          Trus ketemu Endang Trinil……….
          He he he he he………………………………….
          Selamat selamat selamat Dimas

          Lanjutken Ki Sandikala al Kompor

          • he he he …..
            Ki Kompor memang oye…..

      • Omitohud

  15. Sampun ngadhep layar malih ki Dalang, hadir no117

  16. Terlihat Endang Trinil tengah menghampiri Ki Sandikala untuk meminta ijin darinya melihat-lihat suasana di Bandar Tanah Ujung Galuh.
    “Pamanku mengijinkannya”, berkata Endang Trinil kepada Putu Risang penuh kegembiraan.

    Ketika mereka akan berangkat, terlihat Mahesa Amping dan Ki Sandikala melambaikan tangan ke arah mereka sebagai tanda merestui dan berhati-hati selama di Tanah Ujung Galuh.

    Demikianlah kedua muda mudi itu telah berjalan beriring kearah Bandar Tanah Ujung Galuh.

    Dan kecanggungan demi kecanggungan seakan terus terkikis dihati Putu Risang lewat canda ceria Endang Trinil. Dan Putu Risang sudah dapat menapakkan kakinya di bumi, tidak terasa mengapung lagi. Dan setiap kata tidak terbata-bata lagi, tapi lancar seperti pena sang penyair dalam pengembaraan cintanya.

    Ketika mereka tiba di Padukuhan Ujung Galuh, terlihat beberapa prajurit bersama para pemuda di sebuah gardu ronda jaga.

    “Paman Sandikala mengatakan kepadaku bahwa prajurit asing yang saat ini singgah di bandar Tanah Ujung Galuh adalah orang-orang kasar, sering berbuat onar”, berkata Endang Trinil kepada Putu Risang.

    “Mungkin itulah sebabnya, Tuanku Senapati Raden Wijaya telah menempatkan beberapa prajuritnya untuk berjaga-jaga di Padukuhan Ujung Galuh”, berkata Putu Risang menanggapi perkataan Endang Trinil.

    “Tuanku Senapati Raden Wijaya mungkin tidak ingin terjadi hal yang dapat menyengsarakan para penduduk disini”, berkata kembali Endang Trinil.

    “hari ini Tuanku Senapati Raden Wijaya akan melakukan pembicaraan resmi dengan panglima besar pasukan asing itu”, berkata Putu Risang

    “Pastinya sebuah kesepakatan bersama untuk menghadapi penguasa Kotaraja Kediri”, berkata Endang Trinil menambahkan.

    “Sepertinya kamu tahu betul semua kejadian diatas Bumi Majapahit ini”, berkata Putu Risang kepada Endang Trinil.

    “Aku sering menguping pembicaraan pamanku”, berkata Rndang Trinil tersenyum sambil menutup bibirnya dengan sebuah tangannya.

    “Manisnya senyum itu”, berkata Putu Risang dalam hati sambil terus berjalan diatas tanah keras jalan padukuhan menuju Bandar Tanah Ujung Galuh.

    Akhirnya mereka telah sampai di Bandar Tanah Ujung Galuh. Dari sebuah dermaga kayu mereka berdiri telah melihat sekitar tiga belas perahu asing yang sangat besar. Ditepi pantai kearah muara kalimas mereka juga melihat begitu banyak barak-barak para prajurit asing.

    Terlihat juga di sepanjang jalan tepi bandar Ujung Galuh, ada beberapa prajurit asing yang tengah berjalan dan duduk duduk berkumpul didepan beberapa kedai. Suasana Bandar Ujung Galuh itu menjadi begitu ramai.

    • jeburrrrr….nyilem lagi ach, hehehe

  17. “Duhai anak manis, pasti kamu orang baru disini, karena beberapa malam aku tidak pernah melihat wajahmu. Tunjukkan padaku induk semangmu, agar aku bisa mampir nanti malam”, berkata seorang prajurit asing yang tiba-tiba saja berhenti didekat Endang Trinil dan Putu Risang. Bersamanya ada tiga orang prajurit asing lagi. Dari mulut mereka tercium aroma yang sangat menyengat, aroma minuman keras.

    Semula Putu Risang hendak menarik tangan Endang Trinil mengajaknya pergi menjauh dari orang-orang asing itu, tapi bukan main terperanjatnya Putu Risang melihat sikap Endang Trinil jauh diluar perkiraannya.

    Putu Risang melihat Endang Trinil tersenyum sambil menutup sedikit bibir kecilnya.

    “Mengapa harus menunggu nanti malam ?, terlalu lama”, berkata Endang Trinil dengan senyum sangat genit sekali.

    Keempat orang asing itu seperti mendapatkan gayung bersambut mendengar ucapan Endang Trinil. Maka tanpa berkata lagi seorang yang pertama menggoda itu sudah langsung menghampiri Endang Trinil.

    “Mari jalan-jalan bersamaku”, berkata orang asing itu sambil tangannya sudah mencekal sebelah tangan mungil Endang Trinil.

    Bukan main terperanjatnya Putu Risang melihat apa yang dilakukan Endang Trinil kepada orang asing itu.

    Putu Risang melihat tangan mungil Endang Trinil dengan begitu cepat berbalik mencekal pergelangan tangan orang asing yang besar dan kuat itu. Dan dengan sebuah hentakan, Endang Trinil telah menarik tangannya membuat orang asing itu terhuyung kedepan. Tidak hanya itu, sebuah kaki mungil Endang Trinil terlihat mengganjal sebuah kaki orang asing yang tengah terhuyung kedepan, maka akibatnya sangat parah sekali !!

    Jeburrrrrr !!!!

    Putu Risang melihat orang asing itu terhuyung dan terlempar diujung tepi dermaga e kayu, langsung tercebur ke air laut yang asin.

    “Siapa lagi yang berani mengajakku jalan-jalan ?”, berkata Endang Trinil masih dengan senyum manjanya kepada ketiga orang asing lainnya.

    Ketiga orang asing itu melihat dengan begitu mudahnya Endang Trinil menjatuhkan kawannya. Mereka adala para prajurit Mongol yang biasa berhadapan dengan banyak bahaya, tapi kali ini dihadapan mereka adalah seorang gadis manis !!.

    “Aku akan mengajakmu dengan paksa”, berkata seorang yang sudah menjadi sangat penasaran, menganggap apa yang diperbuat oleh Endang Trinil adalah sebuah kebetulan.

    “Aku tidak suka dipaksa”, berkata Endang Trinil dengan senyum manisnya bertolak pinggang.

    • “waooo….cewek gue jagoan juga cui “, berkata Putu(t) Risang dalam hati, qiqiqiiqq

  18. Sempai dilawan….

  19. Bukan main kagetnya orang itu ketika kedua tangannya hendak menangkap tubuh Endang Trinil, maka terlihat Endang Trinil malah maju dengan punggung nerendah melintang masuk ketubuh orang asing yang berperut tambur.

    Maka terlihat tubuh orang asing itu begitu ringan terangkat oleh tubuh mungil Endang Trinil.

    Mau tahu kejadian selanjutnya ??

    Dengan mudahnya pula Endang Trinil melempar tubuh orang asing itu seperti layaknya seorang buruh panggul melempar sekarung beras besar.

    Jeburrrrrr !!!

    Dan orang asing itu telah jatuh masuk kedalam air laut tidak jauh dari tepi dermaga kayu.

    “Siapa lagi yang masih ada keinginan untuk mengajakku jalan-jalan ?”, berkata kembali Endang Trinil masih dengan senyum manisnya dihadapan kedua orang asing yang masih berdiri mematung merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

    Tapi belum lagi kedua orang asing itu melakukan apapun, terlihat Putu Risang dengan kedua tangan merangkap didepan dada berkata kepada keduanya dengan bahasa yang santun.

    “maafkan bila kawanku ini telah menyusahkan kedua kawanmu, biarkanlah kami pergi”, berkata Putu Risang kepada kedua asing itu.

    Tapi ternyata kedua orang asing itu adalah para prajurit yang sangat mengutamakan kesetiaan kawan, mereka tidak melihat lagi bahwa Endang Trinil hanya seorang gadis. Dan mereka ingin sekali membuat sebuah pelajaran, ingin membuat sebuah perhitungan bahwa prajurit Mongol bukan orang sembarangan yang dengan begitu mudahnya dipermalukan.

    “Minggir !!”, berkata seorang diantaranya sambil mencengkeram tangannya diatas bahu Putu Risang

    “Haduh..!!, berkata Putu Risang seperti orang meringis menahan rasa sakit.

    Ternyata Putu Risang hanya berpura-pura sakit, sementara kedua tangannya telah berada diatas tangan orang itu. Dan dengan sedikit gerakan yang dilambari sedikit tenaga cadangan telah menarik tangan itu. Sebuah gerakan yang sederhana, tapi dirasakan oleh orang asing itu seperti sebuah tangan yang kuat telah menarik seluruh tubuhnya terhuyung terlempar masuk kedalam air laut.

    Jeburrrrrrr !!!!

    Kembali ada sebuah tubuh yang tercebur di pinggir dermaga kayu itu.

    Dan orang keempat dari prajurit asing itu tidak ingin nasibnya sama dengan ketiga kawannya, terlihat dengan cepat sudah melepas pedang panjangnya, sebuah pedang yang tidak hanya panjang, juga sangat besar dibandingkan dengan pedang yang ada di Jawadwipa saat itu.

    Namun belum lagi tangan itu mengayunkan pedang besarnya mengarah ke tubuh Putu Risang, sebuah bentakan yang keras telah membuat semua mata memandang kearah suara itu.

    “hentikan !!!”, terdengar suara yang begitu keras, berat dan berwibawa.

    • siapa pemilik suara yang berat berwibawa itu ????, hehehe

      • pasti si mata lobak…
        senopati Ma Bu Jang
        ngesot dah RIsang menghadapinya

  20. Wow…wow…. terbelalak Risang ketika melihat siapa yang muncul. Ternyata induk semangnya saat menjadi utusan menjumpai Ratu Turuk Bali.

    Jagoan Tatar yang seorang telik sandi jempolan yang telah menguasai secara utuh situasi di Kediri….

    • Mantabbbb

  21. Nampaknya Prajurit itu mengenal betul siapa pemilik suara itu, seorang prajurit perwira dengan rambut lurus hitam dibiarkan jatuh terurai diantara bahunya menambah keangkeran sikapnya. Tanpa perintah apapun prajurit itu sudah langsung menyarungkan kembali pedang besarnya dan sambil membungkuk penuh rasa takut berjalan pergi diikuti oleh ketiga kawannya yang sudah naik kedarat, masih dengan pakaian yang basah serta wajah kuyu berjalan membungkuk melewati prajurit perwira itu.

    “Tuan Magucin”, berkata Endang Trinil penuh hormat menyapa perwira itu yang memang sudah dikenalnya pernah bersama seiring sejalan bersama keluarga Ki Sandikala ketika dalam perjalanan mereka dari Lamajang menuju bumi Majapahit.

    “Terima kasih untuk tidak mencelakai prajurit kami”, berkata Magucin yang juga masih ingat kepada Endang Trinil.

    “Perkenalkan, ini kawanku”, berkata Endang Trinil memperkenalkan Putu Risang kepada Magucin.

    “Pemandangan di Bandar Tanah Ujung Galuh ini memang indah”, berkata Magucin dengan ramah.

    “Sayangnya ada empat burung gagak merusak suasana yang indah ini”, berkata Endang Trinil yang dibalas tawa oleh Magucin yang mengerti arah perkataan Endang Trinil.

    Akhirnya Endang Trinil dan Putu Risang pamit diri kepada Magucin untuk kembali ke Bumi Majapahit,

    “Sampaikan salamku kepada Ki Sandikala dan keluarganya”, berkata Magucin ketika Endang Trinil dan Putu Risang sudah berjalan belum begitu jauh.

    “Akan kusampaikan salamnya”, berkata Endang Trinil kepada Magucin.

    Demikianlah, Endang Trinil dan Putu Risang sudah berjalan meninggalkan arah Bandar Tanah Ujung Galuh menuju Bumi Majapahit. Dan bunga-bunga kuning ilalang yang tengah mekar disaat menjelang sore itu seperti iri melihat muda-mudi itu berjalan beriring dipenuhi canda ceria, penuh kegembiraan.

    “Terima kasih telah mengantar kemenakanku yang nakal ini”, berkata Ki Sandikala ketika Endang Trinil dan Putu Risang telah kembali di tanah lapang. Mereka masih melihat orang-orang yang masih terus berlatih meski hari sudah berada dipenghujung senja. Mereka juga sempat melihat Menak Koncar, Menak Jingga dan Putut Prastawa tengah memberikan beberapa petunjuk kepada beberapa orang.

    “Pekan depan disaat hari pasar, aku memintanya untuk mengantarku ke Padukuhan Maja”, berkata Endang Trinil kepada Ki Sandikala.

    “Pasti kamu memintanya dengan cara setengah memaksa”, berkata Ki Sandikala yang disambut wajah manja Endang Trinil. Sementara Putu Risang nampak sedikit tersenyum melihat keakraban paman dan kemenakannya itu.

    Akhirnya Putu Risang pamit diri kepada Endang Trinil dan Ki Sandikala untuk kembali ke Pasanggrahan Mahesa Amping.

  22. Lumayan….sarapan pagi….

  23. Ketika Putu Risang sudah memasuki halaman muka Pasanggraha Mahesa Amping, di pendapa sudah ada Nyi Nariratih seorang diri.

    “Bukankah Kamu keluar bersama Tuan Senapati ?”, bertanya Nyi Nariratih kepada Putu Risang.

    Putu Risang pun bercerita bahwa dirinya berpisah ditanah lapang dengan Mahesa Amping. Juga bercerita bersama Endang Trinil telah melihat-lihat keadaan Bandar Tanah Ujung Galuh.

    “Setahuku Tuanku Raden Wijaya tadi pagi mengajak Tuan Senapati bersama menerima tamu dari pasukan asing di Benteng Bandar Tanah Ujung Galuh”, berkata Putu Risang memberi Penjelasan.

    “Dimana Pendeta Gunakara ?”, bertanya Putu Risang yang tidak melihat keberadaan Pendeta Gunakara.

    “Sejak siang Pendeta Gunakara mengajak anak-anak, pasti disekitar tepi hutan Maja”, berkata Nyi Ratih kepada Putu Risang.

    Putu Risang tidak bertanya lagi, pikirannya langsung terbang ke sebuah tepi hutan membayangkan tiga lelaki kecil, Gajahmada, Adtyawarman dan Jayanagara tengah berlatih bersama Pendeta Gunakara.

    Dan tidak terasa senja pun sudah merayap diujung tepian bumi bermaksud untuk pergi sementara waktu untuk datang kembali keesokan harinya.

    Dan suasana pendapa Pasanggrahan Mahesa Amping telah menjadi ramai manakala tiga anak kecil, Gajahmada, Adutyawarman dan Jayanagara datang bersama Pendeta Gunakara.

    Sementara itu hari diatas pasanggrahan Mahesa Amping sudah mulai menjadi gelap malam, terlihat Putu Risang dan Pendeta Gunakara telah berada diatas pendapa itu.

    Akhirnya tidak lama berselang terlihat Mahesa Amping telah memasuki halaman muka Pasanggrahan. Setelah bersih-bersih diri, Mahesa Amping pun langsung bergabung di pendapa Pasanggrahannya.

    “Hari ini aku bersama Raden Wijaya telah melakukan perundingan dengan Panglima besar pasukan Mongol”, berkata mahesa Amping kepada Putu Risang dan Pendeta Gunakara.

    “Aku yakin bahwa Tuanku Raden Wijaya adalah seorang perunding yang hebat”, berkata pendeta Gunakara.

    “Tuanku Raden Wijaya telah menerima sebuah kesepakatan bahwa penyerangan ke Kotaraja Kediri dibagi dalam dua pasukan, pasukan pertama lewat jalan darat dipimpin dan dikendalikan oleh Tuanku Raden Wijaya. Sementara pasukan lainnya akan menyerang lewat sungai dipimpin langsung oleh Panglima besar mereka sendiri”, berkata Mahesa Amping bercerita tentang beberapa hasil perundingan mereka bersama Panglima besar pasukan Mongol yang saat ini sudah berada di bandar Tanah Ujung Galuh.

    “Kapan penyerangan itu dilakukan ?”, bertanya Pendeta Gunakara kepada Mahesa Amping.

    Terlihat Mahesa Amping tidak langsung menjawab, pandangannya terlihat kearah Putu Risang.

    • tinggal 2 purnama lagi ya Ki?

  24. “Dibulan purnama ke dua”, berkata Mesa Amping sambil menarik nafasnya dalam-dalam seperti tengah membayangkan sebuah peperangan yang begitu besar didepan matanya. Sebuah peperangan yang begitu hebat memporak-porandakan sebuah Kotaraja Kediri.

    Lain lagi yang ada dipikiran Putu Risang saat itu, mendengar kata bulan kedua purnama, pikiran Putu Risang langsung teringat kepada sebuah pesan yang disampiakan olehnya kepada Ratu Turuk Bali, sebuah pesan rahasia Raden Wijaya.

    “Sengaja Tuanku Raden Wijaya menunda penyerangannya, untuk memberi kesempatan Ratu Turuk Bali mengungsi”, berkata Putu Risang dalam hati mengingat kembali pesan rahasia itu.

    “Apakah ada kesepakatan lainnya ?”, bertanya Pendeta Gunakara kepada mahesa Amping.

    “Tuanku Raden Wijaya meminta dengan penuh kehormatan agar Raja Kediri tidak dibawa keluar dari Jawadwipa sebagai tawanan perang”, berkata Mahesa Amping.

    “Sebuah permintaan dari seorang pemimpin muda yang sangat mulia”, berkata Pendeta Gunakara memuji kemuliaan hati seorang Raden Wijaya.

    “Aku melihatnya sebagai sebuah kecerdikan dari Tuanku Raden Wijaya”, berkata Mahesa Amping sambil memandang kearah Pendeta Gunakara dan Putu Risang sambil tersenyum. Dilihatnya keduanya seperti tidak mengerti arah pembicaraannya.

    “Panglima besar itu menerima permintaan Tuanku Raden Wijaya. Namun aku yakin sekali sebagaimana keyakinan tuanku Raden Wijaya bahwa pada saatnya Panglima besar itu akan mengingkari persetujuannya itu”, berkata Mahesa Amping menyampaikan pemikirannya kepada Pendeta Gunakara dan Putu Risang yang masih juga terlihat belum mengerti kemana sebenarnya arah pemikiran Mahesa Amping.

    “Keingkaran Panglima besar pasukan Mongol itu sudah diperhitungkan oleh Tuanku raden Wijaya, itulah sebabnya jauh-jauh hari telah menugaskan Ki Sandikala untuk menyiapkan sebuah pasukan khusus”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum menatap Pendeta
    Gunakara dan Putu Risang yang nampaknya sudah dapat mengerti arah pembicaraan Mahesa Amping.

    “Sebuah rencana yang hebat”, berkata pendeta Gunakara.

    “Bersyukurlah bahwa bersama kita ternyata ada seorang pemikir ulung yang hebat, semua rencana itu adalah hasil pemikiran dari seorang Ki Sandikala”, berkata Mehesa Amping memberikan penjelasan bahwa pemikiran rencana besar itu adalah buah pikir dari Ki Sandikala.

    “Belakangan kuketahui bahwa orang tua yang sederhana itu ternyata punya garis darah Raja Erlangga, ditangannya sendiri berada sebuah benda Wahyu keraton, sebuah keris pusaka milik Raja Erlangga, keris Nagasasra yang sudah lama tidak terdengar lagi keberadaanya. Dan dengan penuh keikhlasan telah menyerahkan keris pusaka itu kepada Tuanku Raden Wijaya”, berkata kembali Mahesa Amping.

    Suasana diatas pendapa itupun seketika menjadi hening, nampaknya mereka telah berada didalam angan-angannya masing-masing.

    Apa yang ada dalam benak pikiran Putu Risang saat itu ?

    • apa yang ada dalam benak pikiran Putu(T) Risang saat itu ??, hehehe

      • apa ya…., sedang kecapekan naik bukit padang di Cianjur.
        he he he ..l.

  25. Ternyata pikiran Putu Risang jauh melayang terbang di Kotaraja Kediri, sebuah tempat yang belum lama itu disinggahi, sebuah kotaraja yang damai dipenuhi rumah-rumah besar yang elok disepanjang jalan Kotaraja. Dan Bayangan pikiran Putu Risang pun berganti kepada sebuah gambaran huru hara yang besar, sebuah peperangan besar melanda Kotaraja, tangis dan jeritan pilu terdengar dari mereka yang berduka, dan bayangan benak Putu Risang seperti melihat beberapa rumah di Kotaraja itu yang terbakar api besar menyisakan abu dan puing-puing kayu yang hangus terbakar.

    “Purnama kedua sudah tidak akan lama lagi”, berkata Mahesa Amping membuyarkan lamunan Putu Risang.

    Perkataan Mahesa Amping ternyata kembali membawa angan-angan Putu Risang kesebuah peperangan yang hebat antara dua pasukan yang berseteru bersama hiruk pikuk dan denting suara senjata beradu, juga suara rintihan menyayat hati beberapa prajurit yang terluka.

    “Aku berharap pada saat kami pergi ke medan pertempuran, Tuan Pendeta dapat menjaga keluarga kami di Bumi majapahit ini”, berkata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara.

    “Aku akan menjaganya sebagaimana menjaga keluargaku sendiri”, berkata Pendeta Gunakara.

    “Terimakasih”, berkata Mahesa Ampin ditujukan kepada Pendeta Gunakara.

    Kembali suasana diatas pendapa itu menjadi hening, masing-masing tengah mengembara dalam angan dan bayangan pikirannya sendiri-sendiri.

    “Ternyata aku tidak bisa bergeser sedikitpun dari garis hidupku sendiri, datang kesebuah peperangan demi peperangan. Namun peperanganku kali ini adalah sebuah perjuangan bangsa, perjuangan sebuah bangsa untuk meraih sebuah kedamaian abadi, kebanggaanku dalam peperangan itu bahwa aku ada bersama sebuah cita-cita membangun kemandirian bangsa, kesejahteraan bangsa”, berkata Mahesa Amping kemudian terdiam sejenak. “tahukah kalian apa yang telah membakar diriku sekembali dari perundingan dengan Panglima pasukan asing itu?”, berkata dan bertanya Mahesa Amping.

    Terlihat Putu Risang dan Pendeta Gunakara tidak menjawab, mereka tahu bahwa Mahesa Amping sendiri yang akan mejawab pertanyaannya itu.

    “Panglima besar pasukan itu meminta sebuah kesepakatan yang sangat berat sekali untuk diterima oleh Tuanku Raden Wijaya. Apakah permintaannya itu ?, tidak lain adalah sebuah permintaan yang harus disanggupi oleh Tuanku raden Wijaya bahwa kelak bila kemenangan berada dipihak mereka, Tuanku raden Wijaya sebagai penguasa baru di Jawadwipa harus tunduk patuh kepada kekuasaan besar Yang Dipertuan Agung Kaisar Kubilai Khan, setiap tahun harus menyampaikan barang upeti, serta memberi keamanan dan perlindungan kepada para pedagang mereka untuk masuk lebih jauh lagi ke nusa timur matahari, hingga ke tanah Gurun tempat tumbuhnya pala”, berkata Mahesa Amping. “Itulah yang membakar diriku, menghalalkan diriku ikut dalam peperangan ini”, berkata kembali Mahesa Amping.

    Kembali suasana diatas pendapa itu menjadi hening, masing-masing telah kembali dalam alam pikirannya sendiri. Sekali-sekali terdengar suara katak yang tercekik, mungkin setengah tubuhnya sudah berada dimulut seekor ular belang disebuah belukar semak-semak.

    • mau sholat dzuhur dulu achh….perang melawan waktu, hehehe

  26. Di sini azannya 11:50 tadi Ki

  27. Keheningan suasana awal malam diatas pendapa pasnggrahan Mahesa Amping kembali mencair ketika Putu Risang minta diri untuk pergi ke sebuah sungai kecil didekat persawahan Bumi Majapahit.

    “Aku ingin membangun pliridan di sungai kecil, pasti pliridan yang lama sudah rusak tergilas hujan. Besok paginya aku akan kembali kesana bersama Mahesa Muksa, Jayanagara dan Adityawarman. Mereka pasti senang melihat kubangan sudah dipenuhi banyak ikan yang terjebak”, berkata Putu Risang yang langsung berdiri pergi kebelakang untuk mengambil cangkul.

    “Semoga besok aku akan menikmati masakan pecak gabus yang nikmat”, berkata Pendeta Gunakara mengiringi langkah kaki Putu Risang yang tengah berjalan kearah pintu butulan.

    Dan malam nampaknya sudah menyelimuti bumi Majapahit disebuah sungai kecil dimana Putu Risang tengah membangun sebuah pliridan baru, sebuah gundukan tanah berlubang dimana air muncul memancur keatas. Air mancur yang segar itu akan memancing keinginan beberapa ikan yang langsung melompak dan terjebak disebuah kubangan tanah liat yang licin dan basah.

    “Siapa yang punya kecerdikan sebuah pliridan ini ?”, berkata Putu Risang dalam hati menatap bangunan pliridan yang baru saja diselesaikannya dengan senyum kepuasan berharap besok pagi akan melihat banyak ikan yang masuk terjebak dilubang jebakan itu.”yang pasti seorang ayah yang senang melihat anak-anaknya makan ikan dengan lahapnya”, berkata kembali Putu Risang dalam hati membayangkan kehidupannya nanti sebagai seorang kepala rumah tangga, yang tentu saja bayangan seorang istri dibenak Putu Risang saat itu pastilah seorang gadis manis pemilik senyum menawan itu, Endang Trinil, tentunya.

    Namun tiba-tiba saja pendengaran Putu Risang yang cukup terlatih terutama setelah mendalami ilmu rahasia pusaka pertapa Gunung Wilis itu telah mendengar sebuah langkah kaki.

    “Semula aku tidak yakin kamu akan datang kesungai kecil ini”, berkata seseorang pemilik langkah kaki itu ketika sudah dekat dengan diri Putu Risang.

    “kakang Menak Kuncar sengaja datang kesungai ini untuk menemui aku ?”, berkata Putu Risang kepada seorang lelaki yang ternyata adalah Menak Koncar, salah seorang putra Ki Sandikala.

    “Benar, aku memang datang kesungai kecil ini hanya untuk menemuimu”, berkata Menak Koncar dengan suara datar.

    “Mengapa tidak menunggu besok, aku tidak kemana-mana”, berkata Putu Risang dengan sikap penuh tanda tanya, belum dapat menduga apa kepentingan Menak Koncar menemui dirinya.

    “Aku ingin pembicaraan kita tidak diketahui oleh siapapun”, berkata Menak Koncar masih dengan suara yang sangat dingin dan datar.

    “Adakah sesuatu yang begitu penting harus dibicarakan kepadaku dimalam ini ?”, bertanya Putu Risang masih dalam penuh ketidak tahuan.

    “Pembicaraan kita berhubungan dengan Endang Trinil”, berkata Menak Koncar sambil menatap wajah Putu Risang dengan tatapan mata yang sangat tajam.

  28. “Ada apa dengan Endang Trinil ?”, bertanya Putu Risang dengan hati penuh rasa tanda tanya.

    “Aku ingin kamu menjawab pertanyaanku, bukan bertanya”, berkata Menak Koncar masih dengan suara yang datar dan dingin.

    “Aku akan mencoba menjawab pertanyaanmu”, berkata Putu Risang yang mulai tersinggung dengan sikap Menak Koncar yang dingin itu, apalagi ternyata pembicaraan itu berhubungan dengan Endang Trinil. Terlihat Putu Risang telah membawa dirinya kesosok sejatinya, seorang pemuda yang tidak pernah mengenal rasa takut.

    “Bagus, pertanyaan pertamaku adalah apakah kamu mencintai Endang Trinil”, bertanya Menak Koncar kepada Putu Risang, diam-diam mengakui sikap Putu Risang sangat jantan didepannya.

    Terlihat Putu Risang tidak langsung menjawab, merasa aneh bahwa dimalam sesepi ini Menak Koncar datang menemui dirinya hanya untuk menanyakan perasaan hatinya kepada Endang Trinil. Tapi dirinya tidak ingin membuat Menak Koncar terlalu lama mendapatkan jawaban darinya.

    “Aku memang mencintainya”, berkata Putu Risang singkat, ingin selekasnya mendengar apa tanggapan dari Menak Koncar tentang jawabannya itu.

    “Bagus, ternyata kamu cukup jantan menjawab pertanyaanku itu”, berkata Menak Koncar dengan senyum kecut.

    “Hanya sebuah pertanyaan ini sehingga Kakang Menak Koncar menemui diriku”, bertanya Putu Risang dengan sikap penuh kehati-hatian menduga-duga kemana arah tujuan Menak Koncar menemui dirinya dan bertanya mengenai perasaan hatinya.

    “Bukan hanya pertanyaan ini, aku sengaja datang menemuimu untuk mengatakan bahwa aku juga telah lama mencintainya”, berkata Menak Koncar kepada Putu Risang masih dengan tatapan mata yang tajam seperti menusuk langsung rongga dadanya.

    Terlihat Putu Risang terhentak perasaan hatinya, tidak menduga bahwa Menak Koncor ternyata punya perasaan yang sama dengannya, sama-sama mencintai seorang Endang Trinil. Tapi Putu Risang tidak ingin Menak Koncar mengetahui perasannya yang terguncang. Terlihat Putu Risang menarik nafas dalam-dalam.

    “Semua keputusan berada di tangan Endang Trinil”, berkata Putu Risang mencoba mengendalikan perasaan dirinya.

    “Endang Trinil sudah memutuskan, bahwa dirinya hanya mencintaimu”, berkata Menak Koncar langsung menyambung perkataan Putu Risang seperti sudah tahu apa yang dikatakan oleh Putu Risang.

    Terlihat Putu Risang agak terkejut, tidak menyangka bahwa Menak Koncar langsung berkata menyambut perkataannya, juga isi dari perkataan Menak Koncar ikut mempengaruhi perasaan hatinya.“Endang Trinil mencintaiku, memilih aku”, berkata Putu Risang dalam hati.

    “Keputusan ada ditanganmu, menjauhi Endang Trinil atau menerima tantanganku”, berkata Menak Koncar.

    • Hajar bleh…

      • Menak dilawan…

        • “ampunnn, ternyata susah mempertahankan gebetan”, berkata Putu(t) Risang dalam hati.
          kwakkakakakk

  29. “Aku menerima tantanganmu”, berkata Putu Risang dengan sikap lebih dingin dari sikap Menak Koncar merasa tidak takut dan gentar menerima tantangan dari Menak Koncar.

    “Ternyata aku berhadapan dengan seorang lelaki, kita bertanding sampai ada yang kalah menyerah. Siapapun yang kalah harus menerima keputusan, menjauhi Endang Trinil”, berkata Menak Koncar merasa begitu yakin dengan ilmu yang dimiliki.

    “Senjata kadang tidak bermata, apakah ada cara lain ?”, berkata Putu Risang meminta Menak Koncar mencari cara lain bukan dengan cara bertempur adu senjata.

    Tapi ucapan Putu Risang diterima lain, Menak Jingga menyangka Putu Risang meremehkannya menjadi takut terluka oleh senjata cambuknya.

    “Akakah kamu kira aku takut terluka oleh cambukmu”, berkata Menak Koncar dengan amarah merasa diremehkan.

    “Maksudku bukan itu”, berkata Putu Risang tidak menyangka perkataannya diterima lain oleh Menak Koncar. “Maksudku kita bertanding tanpa bertempur, tapi mengadu kekuatan lewat sebuah batu. Siapa yang dapat memecahkan lebih keras dengan senjatanya, dialah pemenangnya.

    Menak Koncar dapat mengerti adu kekuatan seperti apa yang dimaksud oleh Putu Risang, sebuah adu kekuatan memecahkan sebuah batu besar.

    Menak Koncar tidak langsung menjawab sebagaimana biasanya, tapi sekejab melirik kearah cambuk yang melilit dipinggang Putu Risang.

    “Aku pernah mendengar cerita bahwa cambuk Mahesa Amping mampu meleburkan sebuah batu menjadi abu. Tapi muridnya ini pasti belum sampai ke tataran gurunya, jangan-jangan belum dapat menghentakkan kekuatan tenaga cadangan, masih menggunakan kekuatan wadagnya”, berkata Menak Koncar dalam hati mencoba mengukur kekuatan lawannya, nanti.

    Berpikir seperti itu terlihat Menak Koncar sedikit tersenyum menatap kearah Putu Risang.

    “Baiklah, kita bertanding adu kekuatan memecahkan sebuah batu”, berkata Menak Koncar penuh percaya diri.

    “Kapan dimana kita melakukannya”, berkata Putu Risang dengan suara dan sikap tidak merasa gentar sedikitpun.

    “Besok malam adalah purnama penuh, kita bertemu disini dan mencari batu yang sama kuat dan sama besar”, berkata Menak Koncar masih dengan perasaan penuh percaya diri berkeyakinan dapat mengalahkan Putu Risang dengan senjata andalannya, sebuah cakra.

    Setelah berkata, terlihat Menak Koncar tanpa pamit lagi telah membalikkan badannya pergi meninggalkan Putu Risang diatas sungai kecil itu.

    Terlihat Putu Risang menarik nafas panjang sambil mengamati punggung dan langkah Menak Koncar yang akhirnya menghilang disebuah tikungan jalan.

    Sementara itu wajah sang malam sudah semakin menghitam.

  30. AS vs SS jilid 2

    • pas mantabbb, heheheh

  31. Terlihat Putu Risang telah meninggalkan pliridannya, sudah menjauhi sungai kecil berjalan menapaki sebuah pematang sawah. Tatapannya menyapu tangkai-tangkai ujung padi yang sudah bunting tapi belum menguning.

    Dan hari masih dibawah sepertiga malam ketika Putu Risang sampai di halaman pendapa Pasanggrahan Mahesa Amping.

    “Semua sudah tertidur”, berkata Putu Risang dalam hati sambil terus melangkah ke biliknya yang berada dibelakang bangunan utama Pasanggrahan.

    Lama Putu Risang tidak dapat memjamkan matanya diatas bale-bale tempat tidurnya. Hati dan pikiran anak muda itu masih saja membayangkan suasana saat adu kekuatan besok malam disungai kecil bersama Menak Koncar.

    Tapi rasa lelah yang sangat akhirnya perlahan telah meredupkan pikiran Putu Risang, terlihat anak muda itu sudah tertidur pulas, entah apa yang dimimpikan oleh anak muda itu didalam alam tidurnya.

    Hingga pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Putu Risang sudah membangunkan Gajahmada, Adtyawarman dan Jayanagara. Anak muda itu sepertinya telah melupakan pertemuannya dengan Menak Koncar, terlarut dalam suasana kegembiraan tiga anak lelaki kecil mengumpulkan ikan-ikan yang terjebak di lubang pliridan.

    Pagi itu mereka membawa begitu banyak ikan.

    Hingga mereka selesai sarapan pagi bersama di atas pendapa Pasanggrahan, Putu Risang tidak berkata apapun tentang pertemuannya dengan Menak Koncar, baik kepada Mahesa Amping maupun kepada Pendeta Gunakara.

    Barulah, ketika Mahesa Amping keluar Pasnggrahannya untuk bertemu dengan Raden Wijaya. Disaat berselang sedikit pendeta Gunakara telah mengajak ketiga anak-anak bermain dan berlatih.

    Dan di Pasanggrahan hanya tetinggal Nyi Nariratih dan Putu Risang.

    Disaat itulah hati dan perasaan Putu Risang terasa tidak dapat lagi menyimpan sebuah masalah yang dihadapinya. Akhirnya dengan berat hati Putu Risang menyampaikan persoalan yang mengisi dan bergelanjut di dalam pikiranya.

    “ternyata Menak Koncar juga mencintai Endang Trinil”, berkata Nyi Nariratih setelah mendengar penuturan Putu Risang tentang persoalan yang tengah dihadapinya.

    “Aku takut persoalan ini menjadi berkembang, aku takut bahwa persoalanku ini berkembang menjadi suatu yang dapat menimbulkan keretakan hubungan Tuanku Senapati dmahesa Amping dengan Ki Sandikala”, berkata Putu Risang menyampaikan kekhawatirannya.

    “Batasi persoalanmu sendiri agar tidak melebar dan berkembang. Kamu harus berani mempertahankan apa yang kamu ingin miliki, itulah jiwa seorang lelaki. Aku yakin kamu akan dapat menerima apapun yang terjadi, kalah atau menang”, berkata Nyi Nariratih mencoba menenangkan suasana hati Putu Risang.

  32. Dan hari itu sudah berada di penghujung akhir senja, terlihat wajah purnama pucat sudah bergelinding berdiri di ujung langit malam seperti tak sabar untuk segera meloncat diatas pucuk kerinduannya menyebarkan warna kegembiraan.

    Terang bulan purnama dihari kelima belas, seperti itulah diucapkan oleh hampir semua orang ketika wajah bulan purnama bulat penuh bergantung di lengkung langit malam.

    Dan sesosok bayangan telah berdiri diatas sebuah batu besar disebuah sungai kecil yang deras mengalir.

    Cahaya sinar bulan purnama menyapu wajah sosok bayangan itu, ternyata adalah wajah Putu Risang yang tengah berdiri dengan sabar menunggu kedatangan seseorang yang telah berjanji untuk bertemu di atas sungai kecil itu.

    “Ternyata kamu telah datang mendahuluiku”, berkata seseorang yang terlihat baru saja datang mendekati Putu Risang.

    “Sejak senja berakhir aku sudah datang”, berkata Putu Risang kepada orang itu yang ternyata adalah Menak Koncar.

    “Mari kita mencoba mencari batu yang sama besarnya”, berkata Menak Koncar dengan wajah penuh percaya diri mengajak Putu Risang mencari Batu Besar yang sama di sepanjang sungai kecil itu.

    Dan akhirnya mereka mendapatkan dua buah batu yang sama besarnya, berdekatan sebesar setengah tubuh seekor kerbau.

    Terlihat dua orang pemuda tengah menatap dua buah batu yang sama diatas sebuah sungai kecil di malam hari disaat bulan purnama menerangi alam sekitarnya.

    Namun ternyata mereka tidak hanya berdua, disebuah semak-semak belukar yang terhalang kegelapan, terlihat dua orang lelaki tengah memandang kearah Putu Risang dan Menak koncar.

    Siapakah dua orang lelaki itu ?

    Ternyata kedua orang itu adalah Mahesa Amping dan Ki sandikala.
    Ternyata Ni Nariratih tidak mampu untuk tidak bercerita tentang persoalan yang tengah dihadapi oleh Putu Risang. Dipihak lain, Endang Trinil juga dengan sangat berat hati bercerita tentang apa yang akan dilakukan oleh Menak Koncar dan Putu Risang diatas persaingan cintanya.

    “Siapa yang akan memulainya”, berkata Menak Koncar dengan suara penuh keyakinan.

    “Kupersilahkan kakang Menak Koncar untuk memulainya”, berkata Putu Risang kepada Menak Koncar tanpa merasa bahwa dihadapannya adalah seorang pesaingnya. Putu Risang sudah dapat menyesuaikan perasaannya, siap menerima apapun yang terjadi. Bahkan berharap bahwa persoalan itu akan cepat berlalu begitu saja.

    Terlihat Menak Koncar sudah memegang senjata andalannya, sebuah senjata cakra.

    Tanpa berkedip Putu Risang mengamati Menak Koncar berjalan perlahan mendekati batu besar.

  33. hitung-hitung delapan rontal lagi jilid 5 habis, bukan begitu pak satpam ??

    • belum tahu Pak Lik, ini Risang sedang jauh dr pc di rumah, sehingga belum bisa menyapu naskah ttjg ygsudah bercecerandi gandok.
      saat ini sedang di cengkareng menunggu pesawat terakhir ke sby
      besok pagi risang baru bisa menyapunya.

      • Selamat jalan Putu(t) Risang, semoga selalu diberi keselamatan dan bertemu dengan keluarga dirumah, soal endang Trinil jangan dipikirkan terlalu mendalam, heheheh

  34. Tanpa berkedip sedikitpun Putu Risang melihat Menak Koncar telah mengankat cakranya tinggi-tinggi.

    Duarrrr !!!!

    Terdengar suara ledakan yang keras begitu memekakkan gendang telinga siapapun yang mendengarnya berasal dari benturan yang sangat kuat dari sebuah cakra di tangan Menak Koncar yang menghantam batu besar dihadapannya.

    Dan tanpa berkedip Putu Risang melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa batu dihadapan Menak Koncar telah berubah menjadi lima bongkahan yang terbelah.

    “Sekarang giliranmu menunjukkan kekuatan cambukmu”, berkata Menak Koncar kepada Putu Risang penuh kebanggaan atas apa yang baru saja dilakukannya dan merasa begitu yakin bahwa cambuk Putu Risang tidak akan dapat melakukan yang sama.

    Maka terlihat Putu Risang berjalan perlahan mendekati sebuah batu besar yang lain diatas sungai kecil berbatu itu. Terlihat Putu Risang telah melepas cambuk pendeknya yang melilit di pinggangnya dan membiarkan ujung cambuk pendek itu jatuh mendekati air yang mengalir dibawah kaki Putu Risang.

    Namun tidak sebagaimana Menak Koncar yang mendekatkan jarak jangkau cakranya agar dapat tepat menyentuh batu besar dihadapannya.Putu Risang ternyata berbuat hal lain yang beda !!!

    Terlihat Menak Koncar mengerutkan keningnya melihat jarak jangkau Putu Risang yang menurut perhitungan sangat begitu jauh dibandingkan panjang cambuk pendek milik Putu Risang. Namun Menak Koncar tidak berkata apapun, diam dan tertawa dalam hati menganggap bahwa Putu Risang telah melakukan sebuah kebodohan.

    Tapi tidak dimata Mahesa Amping yang tengah mengamati mereka bersama Ki sandikala disebuah tempat tersembunyi.

    Terlihat Mahesa Amping menarik nafas dalam-dalam dengan mata tidak sedikitpun berkedip kearah berdirinya Putu Risang. Sebagai seorang yang sudah sangat mumpuni, Mahesa Amping tahu percis dan dapat mengukur tingkat tataran ilmu cambuk seseorang hanya dengan melihat seberapa jauh seseorang menempatkan dirinya dari jarak jangkau sasarannya.

    “Apakah Putu Risang sudah mencapai tataran setinggi itu ??”, bertanya Mahesa Amping dalam hati sendiri dan dengan hati berdebar penuh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “bagaimana anak itu berlatih hingga mampu sampai ditingkat itu dengan begitu pesatnya?”, berkata kembali Mahesa Amping dalam hati masih tanpa mata berkedip ingin melihat apa yang akan terjadi.

    Dan Mahesa Amping telah melihat Putu Risang dengan tegap berdiri jauh menghadap batu besar. Mahesa Amping dengan hati berdebar melihat anak muda itu telah menarik nafasnya dalam-dalam seakan ingin menghabiskan seluruh udara dibumi dan mengisinya masuk kerongga dadanya.

    Masih dengan hati berdebar, Mahesa Amping melihat Putu Risang mengangkat cambuk pendeknya perlahan keatas sehingga jurai ujung cambuknya jatuh dibelakang kepalanya.

    • amaziiing….PR….
      Mahesa Amping saja hampir tqak percaya…

      • mungkin suatu saat PR akan menyamai kehebatan AS, dapat meremas jantung lawan hanya dengan sebuah sorotan matanya, eh bahkan lebih lagi…..dapat dengan sedikit kedipan membuat setiap wanita langsung kepincut, hehehe

  35. mBah buyutnya Windujati….
    Apanya AS itu PR

  36. haduhh…malam begini rokok habis, kewarung dulu achhhh….semoga masih ada ysng buka, hehehe

    • Buka Gandhok sudah berjajar rontal yang siap dibaca…….hadir no 156 untuk menghabiskan menu pagi.

      • selamat pagi Ki BP, lagi siap2 mo ngantor dulu ach, biar jadi pegawai teladan, hehehe

  37. Mahesa Amping juga masih melihat Putu Risang tengah menghentakkan cambuk pendeknya dengan cara sendal pancing.
    Degg !!!!

    Telinga Mahesa Amping yang tajam meski dari kejauhan masih dapat mendengar suara hentakan berasal dari cambuk Putu Risang, begitu berat berisi.

    “Luar biasa”, berkata Mahesa Amping dalam hati seperti tidak menyangka bahwa tataran ilmu Putu Risang ternyata sudah setinggi itu.

    Sementara itu, Ki Sandikala didekat Mahesa Amping terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda mengagumi apa yang dilihatnya.

    Sebagaimana yang dilihat oleh Mahesa Amping dan Ki Sandikala, ternyata Menak Koncar terlihat berdiri mematung seperti tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.

    Ternyata Putu Risang telah memperlihatkan tataran ilmunya sendiri, hanya dengan sebuah hentakan sendal pancing dan dengan jarak jangkau ujung cambuk sekitar tiga langkah dari sasaran dan tanpa mnyentuhnya telah membuat sebongkah batu sebesar setengah tubuh kerbau terlihat runtuh menjadi abu yang bertebaran jatuh hanyut terbawa derasnya air.

    Terlihat Putu Risang masih berdiri menarik nafas panjang sejenak dan mengikat kembali cambuk pendeknya di lingkaran pinggangnya. Dan dengan penuh senyum memandang kearah Menak Koncar yang dilihatnya masih mematung terkesima dengan apa yang dilihatnya.

    “Bagaimana Kakang Menak Koncar, apakah pertandingan ini sudah selesai ?”, berkata Putu Risang kepada Menak Koncar.

    “Maafkan aku yang buta ini. Tidak melihat gunung tinggi didepan kelopak mata”, berkata Menak Koncar mengakui kemampuan ilmunya jauh dibawah Putu Risang.”Dan terima kasih telah memilih pertandingan dengan cara seperti ini, apa jadinya seandainya sasaran cambukmu diriku sendiri”, berkata kembali Menak Koncar masih berdiri ditempatnya.

    “Akulah yang seharusnya minta maaf, telah merebut hati Endang Trinil”, berkata Putu Risang mendekati Menak Koncar.

    “Tidak perlu minta maaf kepadaku, hari ini aku bangga bahwa ternyata Endang Trinil tidak salah pilih. Kamu memang orang yang tepat baginya”, berkata Menak Koncar sambil memegang bahu Putu Risang dengan hati dan jiwa penuh keikhlasan sebagaimana layaknya seorang kestria memegang janjinya.

    “Aku berharap semua yang telah kita perbuat dimalam ini akan berlalu, kita lupakan seperti tidak pernah terjadi apapun”, berkata Putu Risang ikut memegang bahu Menak Koncar.

    Dan tanpa dorongan apapun kedua pemuda itu terlihat sudah saling berpelukan, mereka seperti saling mengikhlaskan diri, sudah saling memaafkan satu dengan lainnya dan tidak ada lagi ganjalan apapun diantara mereka.

    Dan bulan diatas langit malam begitu damai temaram cahayanya meneduhkan hati.

    • hore……, akhirnya Putut (-t) Risang dapat Endang Trinil…..
      Sedang Putut Risang sendiri masih juga menjomblo….., he he he …..

      • promosi nih?

        • he he he ….., sama dengan Ki Bujang yang juga njomblo (bujang=jomblo?)

  38. Ciri khas pengembara….
    biasanya lajang

  39. Hari itu, masih tersisa duapuluh sembilan hari lagi menjelang purnama kedua.

    Dan dipagi itu Bumi Majapahit sudah begitu ramai dipenuhi banyak orang yang berlalu lalang. Ada sebagian orang pergi kesawah untuk memeriksa sawah-sawah mereka yang sudah mulai bunting padi hanya tinggal menunggu hari untuk di panen. Sementara beberapa orang sudah berkumpul di tanah lapang seperti hari sebelumnya untuk berlatih sebagai sebuah pasukan khusus. Begitulah pembagian tugas di bumi Majapahit yang mulai tumbuh, mereka tidak pernah melupakan pentingnya persediaan pangan yang cukup, tanpa itu sekuat apapun sebuah pasukan akan menjadi lemah bila persediaan pangan mereka tidak dipenuhi.

    Masih di Bumi Majapahit, tepatnya disebuah tepian sungai kecil berbatu, tiga anak kecil terlihat tengah bermain berlompat dari satu batu ke batu lainnya. Begitu gembiranya ketiganya melakukan itu. Sementara itu di tempat yang sama terlihat seorang tua duduk bersila diatas sebuah batu besar mengamati tingkah polah keriangan ketiga anak itu.

    Ketiga anak laki-laki itu tidak lain adalah Gajahmada, Jayanagara dan Adityawarman. Sementara orang tua yang tengah duduk bersila diatas batu besar disungai kecil itu ternyata adalah pendeta Gunakara.
    “Anak itu tumbuh melampaui anak seusianya”, berkata Pendeta Gunakara mengamati Gajahmada yang tengah berlari bersama Adityawarman dan Jayanagara.

    Ternyata pengamatan Pendeta Gunakara terhadap perkembangan tubuh Gajahmada tidak beralasan, meski usianya terpaut beberapa tahun dari Aditawarman dan Jayanagara, tubuh Gajahmada telah menyamai mereka, bahkan dalam perkembangan selanjutnya, Pendeta Gunakara merasa yakin bahwa Gajahmada akan melampaui mereka, lebih tinggi dan lebih besar dari ukuran lumrah orang kebanyakan.

    “Nyi Nariratih datang untuk menjemput mereka ?”, berkata Pendeta Gunakara tanpa menoleh sedikitpun menyapa seseorang yang tengah datang dibelakang dirinya mendekat, sementara matanya masih asyik mengamati ketiga anak lelaki yang penuh keriangan tanpa lelah sedikitpun berlompat dari satu batu ke batu lainnya tanpa terjatuh.

    “Terimakasih telah membimbing anak-anak berlatih ketahanan diri dan keseimbangan”, berkata seorang wanita yang sudah berada didekat Pendeta Gunakara yang ternyata memang Nyi Nariratih adanya.

    “Ketahanan dan keseimbangan mereka sudah sangat baik, saatnya untuk mengenal olah gerak kanuragan selagi tubuh mereka masih lentur”, berkata Pendeta Gunakara masih tanpa menoleh, masih terus mengamati ketiga anak-anak itu.

    “Kita harus meminta pertimbangan tuanku Senapati Mahesa Amping, garis perguruan mana yang akan diperkenalkan pertama kepada mereka bertiga”, berkata Pendeta Gunakara kepada Nyi Nariratih.

    “Benar, nanti malam kita bicarakan hal ini kepada Tuanku Senapati”, berkata Nyi Nariratih kepada Pendeta Gunakara

    Dan tidak terasa matahari pagi sudah mulai naik merayapi lengkung langit bumi.

    • Belajar sama PR aja

  40. “Ketika berada di Tanah Wangi-wangi, sedikit banyak mereka sudah diperkenalkan dasar olah kanuragan oleh Ratu Anggabhaya sendiri yang mempunyai garis perguruan dan akar yang sama denganku. Berdasar hal itu, akan lebih mudah bagi mereka lewat jalur perguruanku”, berkata Mahesa Amping disebuah malam diatas pendapa Pasanggrahannya bersama Ni Nariratih dan Pendeta Gunakara.

    “Siapakah yang akan membimbing mereka ?”, bertanya Nyi Nariratih kepada Mahesa Amping karena menurut pikiran dirinya bahwa tidak akan mungkin saat itu Mahesa Amping yang turun membimbing anak-anak itu, terutama dilihat dari kesibukan Mahesa Amping akhir-akhir ini.

    “Putu Risang adalah pembimbing yang baik buat mereka”, berkata Mahesa Amping kepada Nyi Nariratih dan pendeta Gunakara.

    Mendengar keputusan Mahesa Amping yang sangat dihormatinya itu, terlihat Nyi Nariratih menerimanya dengan sangat senang hati, menurutnya olah kanuragan dari garis perguruan mereka yang telah disempurnakan oleh Mahesa Amping sendiri adalah sebuah olah Kanuragan yang sangat hebat. Dan dirinya merasa terhormat bila Gajahmada putranya itu telah diwariskan oloh kanuragan dari garis perguruan Mahesa Amping.

    “Nanti aku sendiri yang meminta kepada Putu Risang untuk membimbing mereka setiap hari”, berkata Mahesa Amping kepada Nyi Nariratih dan pendeta Gunakara.

    “Kita tunggu Putu Risang pulang, saat ini mungkin masih merapikan pliridan disungai kecil”, berkata Nyi Nariratih kepada Mahesa Amping.

    Terlihat Mehesa Amping menarik nafas perlahan, Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Mahesa Amping yang teringat kejadian kemarin malam melihat langsung tataran ilmu Putu Risang. Mahesa Amping merasa yakin bahwa malam ini pasti Putu Risang tidak sekedar memperbaiki pliridan, tapi juga terus berlatih menempa dirinya.

    Sebagaimana yang diperkirakan oleh Mahesa Amping, ternyata Putu Risang benar-benar bukan sekedar memperbaiki pliridan, tapi dirinya terlihat tengah berlatih menempa kekuatan dan kecepatannya bergerak, mencoba mengukur dan mengendalikan perkembangan kekuatan dirinya agar dapat lebih mengenal kekuatannya sekaligus daya lontar yang mungkindapat dihentakkan lewat ujung cambuknya, tentunya.

    Akhirnya disaat hari sudah menjadi sepertiga malam, barulah terlihat Putu Risang menyelesaikan latihannya.

    Ketika Putu Risang tiba dihalaman pendapa Pasanggrahan, dilihatnya Mahesa Amping dan Pendeta Gunakara masih ada di atas pendapa.

    Ternyata mereka memang tengah menunggu dirinya.

    “Duduklah”, berkata Mahesa Amping kepada Putu Risang.

    Akhirnya Mahesa Amping langsung berkata kepada Putu Risang tentang rencana mereka meminta kesediaan Putu Risang membimbing langsung Gajahmada, Adityawarman dan Jayanagara dalam olah Kanuragan.

  41. Hadir no 166 sambil menghabiskan rangsum.

  42. Hup…!!!!
    ciat…ciat….ciat…
    jedheeer…. degg…. byurrr…..! he he he …

    beres deh….
    sudah tertata rapi, sudah sampai halaman halaman 67, kurang dekapan halaman lagi TTHG-05 sudah bisa dibendel dan buka gandok keenam.
    Mudah-mudahan Pak Dhalangnya bisa menyelesaikannya sebelum liburan akhir pekan.

    • Putu(T) Risang seperti kelewat semangat menyapu rontal, sampai lupa membuat gandhok ke empat, qiqiqiqiqqq

      hahaha, delapan apa dua lagi ??? , berkata Adityawarman dan Jayanagara serentak menghitung jumlah jurus bersama sambil tertawa melihat gurunya salah hitung, qiqiqiqiqqqq

      • lho…, yang mana to?
        sudah kok…, muhun dicek lagi
        he he he …., lupa Pak Lik.

        betul kok, sekarang baru halaman 69, kurang 6 halaman lagi (satu jilid Risang berisi 75 halaman).
        empat rontal yang panjangnya sama dengan rontal di bawah.

        monggo….

        • “betul betul betulll”, berkata Gajahmada sambil tertawa memegang perutnya yang terguncang saking gelinya melihat Jayanagara dan Adtyawarman salah hitung jurusnya mau cepat selesai pulang menikmati ikan petik bumbu palapa

          kekekekekekkkk !!!!, gajahmada atau Mahesa Muksa masih tertawa panjang

          qiqiqiqiqqqqq

  43. Dan pagi sepertinya datang begitu lambat, atau malam memang menjadi panjang.

    Pagi itu memang masih buta, masih gelap ketika Putu Risang masuk ke pakiwan untuk bersih-bersih diri, sengaja pagi itu tidak membangunkan Gajahmada dan dua kawannya Adityawarman dan Jayaraga.

    “Biarlah mereka tidur lebih lama”, berkata Putu Risang memutuskan untuk tidak membangunkan mereka bertiga , juga tidak mengajaknya seperti biasa ke sungai kecil untuk mengambil ikan yang terjebak di pliridan mereka.

    Demikianlah, seperti hari sebelumnya, Putu Risang dipagi buta itu sudah pergi melangkahkan kakinya ke sungai kecil diujung tepi hutan Maja.

    “Hari ini banyak ikan yang terjebak”, berkata Putu Risang penuh kegembiraan melihat banyak ikan yang masuk kedalam lubang perangkapnya. “Cukup untuk makan dua kali”, berkata Putu Risang sambil mengambil beberapa ikan dan langsung dimasukkan kedalam korang yang dibawa dari rumah.”Ikan petik besar”, berkata pula Putu Risang sambil mengambil ikan petik besar itu. Terbayang dimatanya wajah Gajahmada yang akan menikmati ikan petik itu dibumbui palapa. “Mahesa Muksa pasti senang sekali”, berkata kembali Putu Risang penuh kegembiraan membayangkan Gajahmada yang disebutnya Mahesa Muksa itu tengah menikmati ikan petik dibumbui palapa.

    “Pagi ini hasil tangkapanmu lumayan banyak”, berkata Pendeta Gunakara kepada Putu Risang yang baru saja melangkah naik tangga pendapa.

    “Penjaga sungai itu mungkin hari ini banyak berbelas kasih kepadaku”, berkata Putu Risang yang disambut tawa oleh Pendeta Gunakara.

    “Aku tidak melihat Tuanku Senapati”, berkata Putu Risang bertanya kepada Pendeta Gunakara tentang keberadaan Mahesa Amping yang dilihatnya tidak berada di pendapa pagi itu seperti biasanya.

    “Seorang prajurit baru saja datang, meminta Tuanku Senapati untuk datang ke Pasanggrahan Raden Wijaya”, berkata Pendeta Gunakara memberi penjelasan keberadaan Mahesa Amping.

    “Tangkapanmu banyak sekali”, berkata Nyi Nariratih kepada Putu Risang di dapur belakang tengah menunggu perapian melihat ikan yang dibawa oleh Putu Risang.

    Demikianlah, setelah bersih-bersuh diri di pakiwan, terlihat Putu Risang bergabung menemani Pendeta Gunakara yang sendirian di atas pendapa.

    “Pagi ini kamu akan membawa anak-anak ke tepi hutan ?”, berkata Pendeta Gunakara kepada Putu Risang.

    “Benar, aku akan membawa mereka kesana ditempat yang sama sebagaimana tuan Pendeta membawa dan melatih mereka selama ini”, berkata Putu Risang kepada Pendeta gunakara.

    “Sanggar terbuka membuat mereka tidak mudah lelah”, berkata Pendeta Gunakara kepada putu Risang menyetujui pilihan Putu Risang menjadikan tepi hutan sebagai sanggar terbuka.

  44. Demikianlah, pagi itu Putu Risang telah membawa Gajahmada, Adityawarman dan Jayanagara ke tepi hutan Maja.

    “Aku akan datang menyusul”, berkata Pendeta Gunakara melepas kepergian mereka.

    “Aku akan menyiapkan masakan yang enak untuk kalian”, berkata Nyi Nariratih diujung pagar pendapa melambaikan tangannya kepada mereka yang terlihat sudah melangkah di halaman muka.

    “Ikan Petik bumbu palapa, Bunda”, berkata Gajahmada penuh kemanjaan kepada ibundanya Nyi Nariratih.

    Terlihat Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara masih mengikuti langkah kaki mereka yang sudah melewati gerbang Gapura Pasanggrahan dan menghilang disebuah tikungan jalan setapak.

    “Anak itu telah melampaui anak seusianya dalam perkembangan tubuhnya”, berkata Pendeta Gunakara kepada Nyi Nariratih menanggapi perkembangan tubuh Gajahmada yang memang terlihat lebih besar dari anak-anak seusianya.

    “Sedah menyamai tubuh Adityawarman dan Jayanagara yang terpaut beberapa tahun darinya”, berkata Nyi Nariratih menggapi perkataan Pendeta Gunakara.

    “Sebentar lagi aku akan menyusul mereka ke tepi hutan Maja”, berkata Pendeta Gunakara menyampaikan niatnya untuk melihat hari pertama mereka berlatih dibawah bimbingan Putu Risang yang dipercaya oleh mahesa Amping dapat melakukannya dengan baik sebagaimana dirinya pernah membimbingnya bersama Empu Dangka di Balidwipa di Padepokan Pamecutan.

    “Aku akan kebelakang, menyiapkan makan siang kita”, berkata Nyi Nariratih kepada Pendeta Gunakara yang sudah duduk kembali di atas pendapa.

    Ketika Nyi Nariratih sudah tidak kelihatan lagi menghilang di balik pintu butulan, terlihat Pendeta Gunakara duduk bersimpuh diatas kau pendapa, matanya terlihat menerawang jauh menembus gerbang gapura Pasanggrahan.

    “Titisan Jamyang Dawa lama telah mulai tumbuh, dapatkah kiranya aku membawanya ke Wihara sebagai seorang Guru Besar kami kembali ?”, berkata Pendeta Gunakara merasa ragu dapat membawa Gajahmada kembali ke Wiharanya sesuai tugas yang diembankan kepadanya oleh paman-paman gurunya disebuah wihara di Tibet yang sangat jauh dari jawadwipa.

    “Masih banyak waktu untukku bersamanya menunggu saatnya tiba, aku akan selalu menjaganya sebagaimana aku menjaga Jamyang Dawa lama hingga diujung usianya”, berkata kembali Pendeta Gunakara membayangkan saat-saat akhir menjelang kematian guru besarnya itu yang mengatakan bahwa dirinya akan menitis kembali disebuah tempat yang jauh, disebuah nusa nirwana yang ternyata adalah nusa Dewata, Balidwipa. Dan Pendeta Gunakara telah menemukan titisan Guru besarnya itu terlahir dari seorang wanita bernama Nyi Nariratih, istri seorang pendeta muda bernama Darmayasa.

    “Tuanku Mahesa Amping pasti dengan ketinggian ilmunya telah menghilangkan tanda hitam di pundak anak itu, tapi tidak dimataku”, berkata kembali Pendeta Gunakara dalam hati mengingat awal pertama menemukan Gajahmada di Padepokan Pamecutan.

    • Jurus pertama dari kembangan ke lima, berkata Putu(t) Risang sambil memberi contoh sebuah gerakan

      ngopi dulu ach….., hehehe

  45. Sementara itu masih dibumi Majapahit di Pasanggrahan Raden Wijaya, terlihat Mahesa Amping sedang berbincang-bincang dengan pemimpin muda Bumi Majapahit itu, Raden Wijaya.

    “Dari beberapa Padepokan yang mendukung pergerakan kita hari ini sudah berdatangan bergabung di Bumi Majapahit ini. Tahukah kamu diantara meraka ada beberapa orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping dengan senyum penuh kegembiraan.

    Bukan main gembiranya Mahesa Amping mendapat berita bahwa ada beberapa cantrik dari Padepokan Bajra Seta ikut bergabung bersama mereka.

    Sebagaimana diketahui bahwa Padepokan Bajra Seta punya kenangan khusus buat mereka, karena Padepokan itulah yang telah membesarkan dirinya, Raden Wijaya dan Ranggalawe. Di Padepokan itulah mereka mengenal untuk pertama kali olah kanuragan. Di Padepokan itu pula mereka mulai belajar tentang nilai-nilai luhur kehidupan yang sebenarnya.

    Maka Raden Wijaya menyampaikan kepada Mahesa Amping bahwa beberapa orang dari Padepokan Bajra Seta saat itu telah berada di beberapa rumah tinggal yang khusus untuk kehadiran mereka.

    Dengan penuh kegembiraan hati, Mahesa Amping meminta ijin kepada Raden Wijaya untuk menemui mereka.

    “Aku tak sabar begitu rindu untuk segera melihat wajah mereka”, berkata Mahesa Amping mengungkapkan perasaan hatinya kepada Raden Wijaya.

    Terlihat Mahesa Amping sudah keluar dari Pasanggrahan Raden Wijaya diantar oleh seorang prajurit untuk menemui para cantrik Padepokan Bajra Seta disebuah tempat.

    Bukan main gembiranya hati Mahesa Amping ketika bertemu dengan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Ternyata dari Padepokan Bajra Seta itu telah mengirim seratus cantrik terbaiknya. Dan diantara mereka ada dua orang yang masih begitu sangat dikenalnya yang ternyata adalah Mahesa semu dan Muntilan.

    “Kakang Mahesa Semu”, berkata Mahesa Amping memeluk kakak seperguruannya itu penuh haru.

    “Gusti yang Maha Agun telah mempertemukan kita kembali”, berkata seorang lelaki setengah tua memandang kepadanya.

    “Paman Muntilan”, setengah berteriak Mahesa Amping memanggil dan memeluk orang itu.

    “Coba tebak, apakah kamu masih mengenalnya ?”, berkata Mahesa Semu kepada Mahesa Amping memperkenalkan seorang pemuda tanggung dihadapannya.

    “Kamu pasti Mahesa Darma”, berkata Mahesa Amping memeluk anak muda dihadapannya yang ternyata adalah Mahesa Darma, putra tunggal Mahesa Mukti.

    “Kalian bertiga ikutlah tinggal bersamaku”, berkata Mahesa Amping menawarkan ketiganya untuk tinggal bersama di Pasanggrahannya.

    “Ternyata kemenakan kecilku ini sudah punya sarang yang tetap”, berkata Muntilan yang ditanggapi dengan tawa dan senyum oleh Mahesa Amping.

    • ciatttt…….jurus kedua dari kembangan lima, qiqiqiqiqqqq

  46. Demikianlah, Mahesa Amping segera membawa Mahesa Semu, Muntilan dan Mahesa Darma ke Pasanggrahannya. Memperkenalkan ketiganya dengan Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara.

    Sementara itu di tepi hutan maja terlihat tiga anak lelaki tengah berlatih penuh semangat dibawah pengawasan seorang pemuda.
    Putu Risang, pemuda yang diminta oleh Mahesa Amping untuk membimbing Gajahmada, Adityawarman dan Jayanagara terlihat penuh senyum kebanggaan mengawasi gerak ketiga anak itu yang begitu luwes dan gesit.

    Putu Risang mengagumi gerakan mereka sudah begitu sempurna, ternyata selama di pulau Tanah Wangi-wangi ketiga anak itu telah dilatih langsung oleh seorang guru yang hebat yang tidak lain adalah Ratu Anggabhaya sendiri.

    “Aku hanya sedikit memberikan beberapa perubahan”, berkata Putu Risang dalam hati sambil melihat gerakan ketiga anak itu yang mempunyai satu garis perguruan yang sama dengannya, tapi terakhir bersama Mahesa Amping dan Empu Dangka telah lebih menyempurnakannya.

    “Mereka adalah anak-anak yang cerdas serta sangat tangkas, pada suatu saat aku yakin pasti mereka akan menjadi tiga orang yang hebat, tiga orang yang akan dapat mengukir sejarah yang panjang di bumi ini”, berkata Putu Risang merasa yakin ketiga anak bimbingannya itu pasti punya masa depan yang cemerlang dilihat dari sinar garis wajah mereka seperti memancarkan sinar, cahaya bathin yang hanya dimiliki oleh mereka yang punya bakat sebagai seorang pemimpin sejati.

    Terlihat Putu Risang tersenyum sendiri seperti melihat dirinya dimasa yang akan datang.

    “Setiap hari aku harus pergi ke sawah, makan siang bersama disaung bersama seorang istri dan anak-anak tercinta, hidup dan tinggal disebuah rumah sederhana”, berkata Putu Risang dalam hati membayangkan kehidupannya kelak nanti.

    Tapi tiba-tiba saja bayangan Putu Risang terasa terbanting manakala terbayang sebuah peperangan dihadapan matanya.

    “Mungkinkah suatu saat nanti akan datang sebuah bumi yang damai tanpa sebuah peperangan apapun?”, bertanya Putu Risang kepada dirinya sendiri.

    “Setiap manusia yang merasa mampu akan mencari dan berlomba merebut tahta singgasananya, selama itu pula tidak akan surut sebuah peperangan”, berkata kembali Putu Risang merenungi sebuah kehidupan.

    Hati dan pikiran Putu Risang akhirnya telah kembali di hari itu, ditepi hutan Maja.

    “Hari sudah menjadi begitu terik”, berkata Putu Risang dalam hati sambil melihat matahari yang sudah mulai merayap diatas puncaknya.

    “Kita sudahi dulu latihan ini, apakah kalian tidak lapar ?”, berkata Putu Risang kepada ketiga anak itu yang langsung dijawab dengan anggukan kepala bersamaan.

    “Ikan petik bumbu palapa olahan bunda seperti sudah tercium”, berkata Gajahmada sambil memegang perutnya yang memang terasa sangat lapar sambil berjalan dimuka.

    • ciatttt………..jurus ketiga kembangan kelima, hehehe

      “Gimana kakang Putu(t) Risang, sudah cukupkah untuk masuk ke gandhok baru ?”, berkata Gajahmada

      • blum cukup, harus pelajari satu rontal penutup lagi Tole (Gajahmada)
        he he he …

  47. hadir no 178. Ransum sudah habis Ki .

  48. selamat sore, kadank sedoyo

    libur panjang…..sayang enggak punya jaringan internet yg bisa dibawa-bawa, heheh

    tapi tetap bawa laptop sambil menyusuri bandung sekitarnya liburan sama mami, heheh

    • wah…, satu saja…please!!!

      Gandok 06 sudah disiapkan
      begitu rontal penutup datang (hanya kurang 1 halaman saja), atau satu rontal.

      Please…!!!

  49. Hadu….

    Pak Lik keburu berangkat
    Selamat jalan, semoga tidak ada halangan dalam libuarn ini, dan tidak lupa pulang ke rumah baik yang di Situ Cipondoh maupun yang di LA
    lebih khusus lagi (bagi kami), tidak lupa jalan menuju padepokan, he he he ….

    ya sudah, harus bersabar menunggu beliau pulang liburan
    Risang juga bisa liburan ni, ha ha ha ….

    suwun

  50. Hidup anak muda Indonesia !!!!!

    ikut bangga menjadi anak muda Indonesia
    yang telah mengalahkan Korea Selatan 3-2

    meskipun dengan jantung yang selalu berdegub keras
    tetapi akhirnya anak muda Indonesia (Garuda Muda) berhasil mengalahkan Korea Selatan

    hmmm…………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: